BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Hasil Penelitian
Sebelum menghitung tingkat efisensi perbankan syariah di Indonesia, Malaysia dan Pakistan, terlebih dahulu menentukan variabel input dan output yang digunakan. Dalam penelitian ini, variabel input yang digunakan diantaranya DPK, Aset Tetap, dan Biaya tenaga Kerja. Untuk variabel outputnya adalah Total pembiyaan dan Pendapatan Operasional Lainnya. Untuk hasil statistik deskriptif variabel yang digunakan dalam penelitian ini, dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif Variabel Perbankan Syariah Di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan Periode 2014-2018 (Dalam
Jutaan US Dollar)
Variabel Mean Max Min Std. Dev
Biaya Tenaga Kerja 39,517 125,335 0,964 37,117 Dana Pihak Ketiga 8.669,412 34.609,37 3,377 9.784,046 Aset Tetap 238,959 1.566,979 1,119 382,256 Total Pembiayaan 8.761,291 40.812,18 35,234 12.280,02 Pendapatan Operasional Lainnya 124,184 759,719 6,689 204,634
Sumber: Website resmi masing-masing bank syariah, data diolah peneliti dengan menggunakan kurs US Dollar 08 Juli 2020
Berdasarkan tabel 4.1 diatas, nilai standar deviasi untuk setiap variabel yang digunakan dalam penelitian ini cukup tinggi. Hal ini berarti nilai variabel-variabel tersebut dari perbankan syariah di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan pada periode 2014-2018 bervariasi. Dari tabel diatas dapat dilihat untuk biaya tenaga kerja memiliki nilai rata-rata sebesar U$D 39,517 juta. Kemudian nilai tertinggi dan terendahnya masing-masing U$D 125,335 juta dan U$D 0,964 juta. Untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) rata-ratanya adalah U$D 8.669,412 juta. Selanjutnya untuk nilai tertinggi dan
terendahnya masing-masing sebesar U$D 34.609,37 juta dan U$D 3,377 juta. Kemudian untuk Aset Tetap nilai rata-ratanya sebesar U$D 238,959 juta, sedangkan untuk nilai tertingginya sebesar U$D 1.566,979 juta dan nilai terendahnya adalah U$D 1,119 juta. Sementara itu, Total Pembiayaan memiliki rata-rata sebesar U$D 8.761,291 juta. Kemudian nilai tertingginya sebesar U$D 40.812,18 juta dan nilai terendahnya sebesar U$D 35,234 juta. Selanjutnya, untuk Pendapatan Operasional Lainnya memiliki nilai rata-rata sebesar U$D 124,184 juta. Kemudian untuk nilai tertinggi dan terendahnya masing-masing sebesar U$D 759,719 juta dan U$D 6,689 juta.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat terlihat bahwa nilai Biaya tenaga Kerja, DPK, Aset Tetap, Total Pembiayaan dan Pendapatan Operasional Lainnya di Indonesia, Malaysia, dan pakistan pada periode 2014-2018 sangat bervariasi. Hal ini terlihat dari nilai standar deviasi yang tinggi dari masing-masing variabel. Selain itu juga terlihat dari nilai maksimum dan minimum yang rentang atau jaraknya cukup jauh antara satu dengan yang lain. Variasi tersebut disebabkan karena perbedaan mata uang di setiap negara, meskipun telah disamakan dengan menggunkan mata uang Dolar Amerika. Untuk nilai rata-rata setiap variabel menunjukkan angka yang masih wajar. Penjelasan lebih lanjut untuk setiap variabel yang digunakan adalah sebagai berikut.
a. Biaya Tenaga Kerja
Grafik 4.1 Pergerakan Biaya Tenaga Kerja Perbankan Syariah di Indonesia, Malaysia dan Pakistan periode 2014-2018 (Dalam
Jutaan US Dollar)
Sumber: Website resmi masing-masing bank syariah, data diolah peneliti dengan menggunakan kurs US dollar 08 Juli 2020
Keterangan:
BSM: Bank Syariah mandiri BMI: Bank Muamalat Indonesia CIM IB: CIMB Islamic Berhad MIB: Maybank Islamic Berhad MBL: Meezan Bank Limited
DIB: Dubai Islamic Bank Pakistan Limited
Berdasarkan grafik 4.2 diatas, terlihat bahwa pergerakan Biaya Tenaga Kerja di Indonesia, malaysia, dan pakistan selama 2014-2018 sangat bervarisi. Jumlah Biaya Tenaga Kerja tertinggi adalah pada Bank Mandiri Syariah pada tahun 2018. Sementara itu, untuk yang terendah adalah Dubai Islamic Bank Pakistan Limited pada tahun 2014. Dari grafik tersebut juga terlihat bahwa Biaya Tenaga Kerja Perbankan Syariah di
0 50 100 150
BSM BMI MIB CIMB IB MBL DIB
Biaya Tenaga Kerja
Indonesia, Malaysia dan pakistan relatif meningkat setiap tahun kecuali CIMB Islamic Berhad dan Dubai Islamic Bank Pakistan Limited.
Menurut (Kustanti, 2016) biaya tenaga kerja yang tinggi akan menyebabkan semakin tingginya beban operasional. Hal tersebut dapat menyebabkan turunnya laba operasional yang diperoleh oleh bank, sehingga dengan turunnya laba operasional bank dapat mengakibatkan alokasi laba yang disetor untuk modal tambahan yang disalurkan dalam bentuk pembiayaan juga akan berkurang. Untuk itu, biaya tenaga kerja perlu diperhatikan dalam efiensi.
b. Dana Pihak Ketiga
Grafik 4.2 Pergerakan Dana Pihak Ketiga Perbankan Syariah di Indonesia, Malaysia dan Pakistan periode 2014-2018 (Dalam
Jutaan US Dollar)
Sumber: Website resmi masing-masing bank syariah, data diolah peneliti dengan menggunakan kurs US dollar 08 Juli 2020 0 10000 20000 30000 40000
BSM BMI MIB CIMB IB MBL DIB
Dana Pihak Ketiga
Berdasarkan grafik diatas, terlihat bahwa pergerakan Dana Pihak Ketiga perbankan syariah di Indonesia, Malaysia, dan pakistan pada tahun 2014-2018 cukup bervariasi. Adapun Dana Pihak Ketiga tertinggi yaitu pada Maybank Islamic berhad pada tahun 2018. Kemudian untuk yang terendah adalah Bank Meezan Bank Limited pada tahun 2016. Berdasarkan grafik diatas, terlihat bahwa perkembangan Dana pihak Ketiga perbankan syariah di Malaysia lebih tinggi dari pada di Indonesia dan pakistan.
Menurut (Fauzan, 2017), semakin banyak dana yang dapat dikumpulkan oleh bank maka akan semakin banyak pula dana yang dapat disalurkan. Sehingga dapat meningkatkan keuntungan guna keberlangsungan kegiatan operasional bank untuk kedepannya. Untuk itu, bank dituntut untuk melakukan pengelolaan dana secara efektif dan efisien agar memperoleh keuntungan yang optimal.
c. Aset Tetap
Grafik 4.3 Pergerakan Aset Tetap Perbankan Syariah di Indonesia, Malaysia dan Pakistan periode 2014-2018 (Dalam
Jutaan US Dollar)
Sumber: Website resmi masing-masing bank syariah, data diolah peneliti dengan menggunakan kurs US dollar 08 Juli 2020
Berdasarkan grafik diatas, terlihat bahwa jumlah Aset tetap tertinggi adalah Maybank Islamic Berhad pada tahun 2017. Sedangkan untuk jumlah Aset tetap terendah adalah pada Dubai Islamic Bank Pakistan Limited pada tahun 2016. Dari grafik diatas juga terlihat bahwa Aset Tetap perbankan syariah di Indonesia, malaysia, dan pakistan pada tahun 2014-2018 cenderung meningkat kecuali pada Dubai Islamic Bank Limited pakistan yang lebih fluktuatif.
Menurut (Budiman, 2014), aset tetap yang tinggi berpengaruh negatif terhadap laba perusahaan. Dimana semakin banyaknya aktiva tetap maka akan semakin tinggi biaya
0 500 1000 1500 2000
BSM BMI MIB CIMB IB MBL DIB
Aset Tetap
depresiasi yang dikeluarkan sehingga akan menurunkan laba perusahaan. Dengan demikian, bank harus dapat mengelola aset tetap agar digunakan secara optimal.
d. Total Pembiayaan
Grafik 4.4 Pergerakan Total Pembiayaan Perbankan Syariah di Indonesia, Malaysia dan Pakistan periode 2014-2018 (Dalam
Jutaan US Dollar)
Sumber: Website resmi masing-masing bank syariah, data diolah peneliti dengan menggunakan kurs US dollar 08 Juli 2020
Berdasarkan grafik diatas, terlihat bahwa Total Pembiayaan bank syariah di negara Malaysia cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia dan Pakistan. Adapun untuk Total Pembiayaan yang tertinggi diperoleh oleh bank Maybank Islamic Bank pada tahun 2018. Sedangkan yang terendah adalah bank Dubai Islamic Bank Pakistan Limited pada tahun 2014.
Menurut (Haq, 2015), apabila bank dapat menegelola berbagai macam pembiayaan dengan baik, maka akan sangat mempengaruhi profitabilitas yang dimiliki suatu bank. Karena
0 10000 20000 30000 40000 50000
BSM BMI MIB CIMB IB MBL DIB
Total Pembiayaan
besarnya pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan pembiayaan bank dapat menjadi indikator dalam meningkatkan laba bank itu sendiri. Untuk itu, pembiayaan menjadi hal penting dalam efisiensi.
e. Pendapatan Operasional Lainnya
Grafik 4.5 Pergerakan Pendapatan Operasional Lainnya Perbankan Syariah di Indonesia, Malaysia dan Pakistan periode
2014-2018 (Dalam Jutaan US Dollar)
Sumber: Website resmi masing-masing bank syariah, data diolah peneliti dengan menggunakan kurs US dollar 08 Juli 2020
Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa Pendapatan Operasional Lainnya bank syariah di Indonesia, malaysia dan pakistan cukup bervariasi. Dimana diantara enam bank syariah diatas yang memiliki rata-rata tertinggi adalah bank CIMB Islamic Berhad. Pendapatan Operasional lainnya bank syariah tertinggi diperoleh oleh bank CIMB Islamic Berhad pada tahun 2017. Sedangkan untuk yang terendah adalah bank Dubai islamic Bank Pakistan Berhad pada tahun 2014.
0 200 400 600 800
BSM BMI MIB CIMB IB MBL DIB
Pendapatan Operasional Lainnya
Menurut (Massie, 2014), apabila Fee based income yang merupakan bagian dari pendapatan operasional perbankan meningkat, maka secara otomatis pendapatan operasional pun akan meningkat. Jika pendapatan operasional meningkat maka profitabilitas bank juga akan meningkat. Untuk itu, bank harus dapat meningkatkan pendapatan operasional lainnya dengan memanfaatkan teknologi agar bisa beroperasi secara efisien. 2. Hasil Analisis Efisiensi dengan Data Envelopment Analysis
a. Tingkat Efisiensi Bank Umum Syariah di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan
Berdasarkan data tahunan BUS di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan yang menjadi objek penelitian pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2018, diperoleh hasil perhitungan tingkat efisiensi dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA) menggunakan asumsi CRS (Constant Return Scale), asumsi VRS (Variabel Return Scale), dan Scale Efficiency.
Berdasarkan pendekatan asumsi CRS, bank yang mencapai efisiensi optimum lebih sedikit dibandingkan dengan yang tidak efisien. Atau dengan kata lain lebih mudah memperoleh bank tidak efisien dari pada yang efisien. Sedangkan dengan menggunakan pendekatan asumsi VRS, jumlah bank yang efisien lebih banyak dibandingkan dengan jumlah bank yang tidak efisien. Untuk lebih mudah melihat perbedaan efisiensi
dengan menggukan dua asumsi tersebut, dapat dilihat pada tabel 4.2.
Berdasarkan tabel 4.2, jumlah bank umum syariah di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan yang mempunyai tingkat efisiensi terendah (berdasarkan asumsi CRS) terjadi pada tahun 2015, dimana hanya 2 dari 6 BUS dalam penelitian ini yang mencapai tingkat efisiensi optimum. Sedangkan jumlah bank yang mencapai tingkat efisiensi optimum terbanyak terjadi pada tahun 2016.
Adapun untuk pendekatan dengan asumsi VRS, jumlah BUS di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan yang memiliki tingkat efisiensi terendah terjadi pada tahun 2015 dan 2017 dimana hanya 4 dari 6 BUS yang mencapai tingkat efisiensi optimum. Lalu, jumlah bank yang mencapai tingkat efisiensi optimum terbanyak terjadi pada tahun 2018.
Tabel 4.2 BUS di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan yang mencapai Efisiensi Optimum dengan Metode DEA Periode Kode Bank CRS* Jumlah bank Periode Kode Bank VRS* Jumlah bank 2014 1,2,4,6 4 2014 1,2,4,5,6 5 2015 1,4 2 2015 1,2,4,6 4 2016 2,3,4,5,6 5 2016 2,3,4,5,6 5 2017 2,3,4,5 4 2017 2,3,4,5 4 2018 1,3,4,6 4 2018 1,2,3,4,5,6 6 Sumber: Data diolah oleh peneliti
Keterangan*:
1: Bank Syariah Mandiri 2: Bank Muamalat Indonesia 3: Maybank Islamic Berhad 4: CIMB Islamic Berhad 5: Meezan Bank Limited
6: Dubai Islamic Bank Pakistan Limited
Berdasarkan tabel diatas, peneliti membuat rata-rata untuk BUS di Indonesia, Malaysia, dn Pakistan selama periode penelitian. Berikut hasil olah data rata-rata tingkat efisiensi BUS di Indonesia, malaysia, dan pakistan dengan asumsi CRS, VRS, Scale Efficiency:
Tabel 4.3 Tingkat Efisiensi Bank Umum Syariah di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan
Bank CRS VRS
Scale Efficiency Bank Syariah Mandiri 99,42% 99,62% 99,80% Bank Muamalat
Indonesia 96,30% 100,00% 96,30%
Maybank Islamic Berhad 97,89% 97,96% 99,93% CIMB Islamic Berhad 100,00% 100,00% 100,00% Meezan Bank Limited 75,04% 94,84% 79,12% DIB Pakistan Limited 94,07% 97,28% 96,70%
Average 93,79% 98,28% 95,31%
Sumber: Data diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa hanya ada satu bank yang mencapai tingkat efisiensi optimum dengan menggunakan asumsi CRS dan scale, sedangkan dengan
menggunakan asumsi VRS terdapat 2 bank yang mencapai tingkat efisiensi optimum. Adapun bank yang memiliki tingkat efisiensi yang rendah adalah Meezan Bank Limited, dimana tingkat efisiensi dengan asumsi CRS sebesar 75,04%,VRS sebesar 94,84% dan scale sebesar 79,12%.
Tabel 4.4 Tingkat Efisiensi di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan Negara CRS VRS Scale Efficiency Indonesia 97,86% 99,81% 98,05% Malaysia 98,95% 98,98% 99,96% Pakistan 84,56% 96,06% 87,91%
Sumber: Data diolah oleh peneliti
Dari tabel diatas, dapat terlihat bahwa rata-rata tingkat efisiensi perbankan syariah di Malaysia dan Indonesia lebih tinggi dari pada tingkat efisiensi perbankan syariah di Pakistan. Tingkat efisiensi di Malaysia paling tinggi dengan asumsi CRS dan Scale yaitu sebesar 98,95% dan 99,96%, sedangkan untuk asumsi VRS mecapai efisiensi sebesar 98,98%. Kemudian, tingkat efisiensi di Indonesia lebih tinggi dengan asumsi VRS yaitu 99,81%, dan untuk asumsi CRS dan Scale masing-masing sebesar 97,86% dan 98,05%. Sedangkan tingkat efisiensi perbankan syariah di Pakistan untuk asumsi CRS hanya mencapai 84,56%, dan untuk asumsi VRS dan scale masing-masing sebesar 96,06% dan 87,91%.
Grafik 4.6 Tingkat Efisiensi Rata-rata BUS di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan Asumsi CRS,VRS, dan Scale Efficiency
Sumber: Data Diolah oleh Peneliti
Berdasarkan grafik diatas, tingkat efisiensi yang dimiliki oleh bank umum syariah dalam penelitian ini hampir sama. Akan tetapi, hanya ada satu bank yang mencapai tingkat efisiensi optimum dengan asumsi CRS,VRS, dan Scale yaitu CIMB Islamic Berhad. Berdasarkan hasil perhitungan efisiensi, asumsi VRS mendapatkan nilai rata-rata efisiensi lebih tinggi dari asumsi CRS, maka dari itu peneliti menggunakan hasil asumsi VRS sebagai objek penelitian.
Berikut ini pembahasan mengenai hasil pengukuran tingkat efisiensi BUS di Indonesia, Malaysia, dan Pakistan secara individu dengan pendekatan intermediasi menggunakan model BCC dengan asumsi VRS (Variabel Return Scale).
0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00% 90,00% 100,00%
BSM BMI MIB CIMB IB Meezan DIB Average CRS VRS Scale Efficiency
1) Bank Syariah Mandiri
Berikut ini hasil olah data rata-rata tingkat efisiensi dengan asumsi VRS (Variabel Return Scale) Bank Syariah Mandiri.
Tabel 4.5 Nilai Efisiensi Asumsi VRS Bank Syariah Mandiri (%)
Periode Nilai Efisiensi
2014 100.00 2015 100.00 2016 99.81 2017 99.29 2018 100.00 Total 498.10 Rata-rata 99.62
Sumber: DEA Frontier, data diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel diatas, dapat terlihat bahwa pergerakan tingkat efisiensi Bank Syariah Mandiri selama periode penelitian ini mengalami fluktuasi turun dan naik. Bank Syariah Mandiri mencapai tingkat efisiensi yang optimum pada tahun 2014 dan 2015. Namun mengalami penurunan pada tahun 2016 sebesar 0,19% dengan tingkat efisiensi sebesar 99,81%. Begitu juga dengan tahun 2017, mengalami penurunan sebesar 0,25% dari tahun 2016 dengan tingkat efisiensi sebesar 99,29%. Pada tahun 2018, Bank Syariah Mandiri kembali mencapai tingkat efisiensi yang optimum.
Pergerakan tingkat rata-rata efisiensi Bank Syariah Mandiri selama periode penelitian ini dapat dilihat pada grafik 4.7. Berdasarkan grafik 4.7 terlihat bahwa pergerakan tingkat efisiensi Bank Syariah Mandiri (BSM) mengalami fluktuasi turun dan naik. Pada tahun 2014 dan 2015 mencapai efisiensi yang optimum, kemuadian pada tahun 2016 dan 2017 mengalami penurunan, lalu meningkat kembali pada tahun 2018.
Grafik 4.7 Pergerakan Rata-rata Tahunan Efisiensi Asumsi VRS Bank Mandiri Syariah (BSM)
Sumber: DEA Frontier, data diolah oleh peneliti
Selanjutnya, akan dijelaskan mengenai keadaan inefisiensi Bank Syariah mandiri (BSM) pada tahun 2017.
100% 100% 99,81% 99,29% 100% 98,8% 99,0% 99,2% 99,4% 99,6% 99,8% 100,0% 100,2% 2014 2015 2016 2017 2018 Efi si ens i
Tingkat Efisiensi Asumsi VRS Bank Syariah Mandiri (BSM)
Tabel 4.6 Target Efisiensi BSM 2017 Efficiency Variable Actual Target To
Gain Achiev ed Bank Syariah Mandiri 2017 (99,29%) BTK 1,599,262 1,587,908 0,72% 99,28% DPK 77,966,205 77,412,685 0,72% 99,28% Aset Tetap 881,504 667,913 31,98% 68,02% Total Pembiay aan 57,977,439 57,977,439 0,00% 100,00 % Pendapat an Operasio nal lainnya 943,252 969,999 2,76% 97,24%
Sumber: DEA Frontier Asumsi VRS, data diolah peneliti Berdasarkan tabel diatas, Bank mandiri Syariah pada tahun 2017 mengalami inefisiensi terendah yaitu sebesar 99,29% dibandingkan dengan tahun lainnya pada periode penelitian ini. Semua variabel input mengalami inefisien, dan terdapat satu variabel output yang inefisien yaitu Pendapatan Operasional Lainnya. Beban Tenaga Kerja atau BTK tingkat efisiensinya hanya mencapai 99,28% dan untuk mencapai nilai efisiensi optimum, perlu dilakukan perbaikan dengan cara menurunkannya sebesar 0,72%. Implementasi anggaran untuk BTK cukup tinggi yaitu sebesar Rp1,599,262 juta. Hal ini mengindikasikan telah terjadi pemborosan dalam BTK,
dimana hanya dengan Rp1,587,908 juta saja, BTK sudah bisa mencapai efisiensi yang optimum.
Pada variabel DPK yang juga mengalami inefisiensi, dengan nilai 99,28%, maka dari itu diperlukan perbaikan pada variabel DPK dengan cara menurunkan sebesar 0,72%. Hal ini mengindikasikan DPK yang dihimpun oleh Bank Syariah Mandiri melebihi target dan tidak disertai dengan penyaluran kepada nasabah pihak ketiga sehingga tidak bisa mencapai efisiensi secara optimum. Implementasi DPK yang dihimpun mencapai Rp77,966,205 juta, sedangkan target yang disarankan agar mencapai efisiensi optimum adalah sebesar Rp77,412,685 juta.
Pencapaian efisiensi pada variabel aset tetap hanya mencapai 68,02% dan untuk mencapai nilai efisiensi optimum, perlu dilakukan perbaikan dengan cara menurunkannya sebesar 31,98%. Aset tetap yang dimiliki oleh Bank Syariah Mandiri mencapai Rp881,504 juta. Aset tetap ini juga mengalami pemborosan, karena hanya dengan Rp667,913 juta saja, variabel aset tetap sudah dapat mencapai nilai efisiensi yang optimum.
Variabel output yaitu Pendapatan Operasional Lainnya juga mengalami inefisiensi dengan nilai 97,24%, maka dari itu diperlukan perbaikan pada variabel Pendapatan
Operasional Lainnya dengan cara menaikkan sebesar 2,76%. Hal ini mengindikasikan pendapatan operasional lainnya masih kurang dari target yang seharusnya dicapai oleh Bank Syariah Mandiri. Implementasi pendapatan lainnya hanya mencapai Rp943,252 juta saja, oleh karena itu Bank Syariah Mandiri harus menaikkan pendapatan operasional lainnya menjadi Rp969,999 juta, agar dapar mencapai efisiensi yang optimum.
2) Bank Muamalat Indonesia
Berikut adalah hasil olah data rata-rata tingkat efisiensi dengan asumsi VRS (Variabel Return Scale) pada Bank Muamalat Indonesia:
Tabel 4.7 Nilai Efisiensi Asumsi VRS Bank Muamalat Indonesia (%)
Periode Nilai Efisiensi
2014 100.00 2015 100.00 2016 100.00 2017 100.00 2018 100.00 Total 500.00 Rata-rata 100.00
Sumber: DEA Frontier, data diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel diatas, tingkat efisiensi pada Bank Muamalat Indonesia mencapai nilai optimum dari tahun 2014 sampai tahun 2018. Pergerakan tingkat rata-rata
efisiensi Bank Muamalat Indonesia selama periode penelitian ini dapat dilihat pada grafik 4.8. Berdasarkan grafik 4.8, terlihat bahwa pergerakan tingkat efisiensi Bank Muamalat Indonesia menunjukan konsistensi terhadap tingkat efisiensi yang optimal.
Grafik 4.8 Pergerakan Rata-rata Tahunan Efisiensi Asumsi VRS Bank Muamalat Indonesia (BMI)
Sumber: DEA Frontier, data diolah oleh peneliti
Dengan optimumnya tingkat efisiensi Bank Muamalat Indonesia tidak terdapat variabel yang menunjukan pemborosan ataupun variabel yang kurang dari target untuk mencapai tingkat efisiensi yang optimum.
100% 100% 100% 100% 100% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 2014 2015 2016 2017 2018 Ef isi ensi
Tingkat Efisiensi Asumsi VRS Bank Muamalat Indonesia (BMI)
Tabel 4.8 Target Efisiensi Bank Muamalat Indonesia 2017
Efficiency Variable Actual Target To
Gain Achieved Bank Muamalat Indonesia 2017 (100,00%) BTK 802,493 802,493 0,00% 100,00% DPK 52,587,640 52,587,640 0,00% 100,00% Aset Tetap 2,653,439 2,653,439 0,00% 100,00% Total Pembiayaan 39,964,561 39,964,561 0,00% 100,00% Pendapatan Operasional lainnya 476,126 476,126 0,00% 100,00%
Sumber: DEA Frontier asumsi VRS, data diolah oleh peneliti 3) Maybank Islamic Berhad
Berikut adalah hasil olah data rata-rata tingkat efisiensi dengan asumsi VRS (Variabel Return Scale) Maybank Islamic Berhad:
Tabel 4.9 Nilai Efisiensi Asumsi VRS Maybank Islamic Berhad (%)
Periode Nilai Efisiensi
2014 93.93 2015 95.86 2016 100.00 2017 100.00 2018 100.00 Total 489.78 Rata-rata 97.96
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa pada tahun 2014 dan 2015 Maybank Islamic Berhad adalah inefisien. Dimana pada tahun 2014 Maybank Islamic Berhad memperoleh nilai efisiensi sebesar 93,93% , kemudian pada tahun 2015 nilai efisiensinya sebesar 95,86%. Selanjutnya pada tahun 2016, 2017, dan 2018 Maybank Islamic Berhad memperoleh tingkat efisiensi yang optimum yaitu sebesar 100%.
Pergerakan rata-rata tingkat efisiensi Maybank Islamic Berhad selama periode penelitian ini dapat dilihat pada grafik 4.9. dari grafik tersebut terlihat bahwa tingkat efisiensi Maybank islamic Berhad mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Dan memperoleh efisiensi yang optimum selama 3 tahun terakhir pada periode penelitian ini.
Grafik 4.9 Pergerakan Rata-rata Tahunan Efisiensi Asumsi VRS Maybank Islamic Berhad
Sumber:DEA Frontier, data diolah oleh peneliti 93,93% 95,86% 100% 100% 100% 90,00% 91,00% 92,00% 93,00% 94,00% 95,00% 96,00% 97,00% 98,00% 99,00% 100,00% 101,00% 2014 2015 2016 2017 2018 Efi si ens i
Tingkat Efisiensi Asumsi VRS Maybank Islamic Berhad
Selanjutnya, akan dijelaskan mengenai keadaan inefisiensi Maybank Islamic Berhad pada tahun 2014.
Tabel 4.10 Target Efisiensi Maybank Islamic Berhad 2014 Efficiency Variable Actual Target To
Gain Achieved Maybank Islamic Berhad 2014 (93,93%) BTK 40 38 5,26% 94,74% DPK 99,695 93,644 6,46% 93,54% Aset Tetap 2,525 2,372 6,45% 93,55% Total Pembiayaan 107,729 107,729 0,00% 100,00% Pendapatan Operasional lainnya 384 406 5,42% 94,58% Sumber:DEA Frontier asumsi VRS, data diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel diatas, Maybank Islamic Berhad mengalami inefisiensi paling rendah pada tahun 2014 yaitu sebesar 93,93%. Seluruh variabel input mengalami inefisiensi, sedangkan untuk variabel output terdapat satu variabel yang tidak efisien. Biaya Tenaga Kerja (BTK) tingkat efisiensinya adalah sebesar 94,74%, dan untuk mencapai tingkat efisiensi yang optimum perlu dilakukan perbaikan dengan menguranginya sebesar 5,26%. Implementasi untuk BTK adalah sebesar RM40 juta, padahal hanya dengan RM38 juta saja, variabel BTK sudah dapat mencapai efisiensi yang optimum.
Begitu pula dengan DPK yang juga mengalami inefisiensi, dengan nilai 93.54%, maka dari itu diperlukan perbaikan pada variabel DPK dengan cara menurunkan sebesar 6,46%. Hal ini mengindikasikan DPK yang dihimpun oleh Maybank Islamic Berhad melebihi target dan tidak disertai dengan penyaluran kepada nasabah pihak ketiga sehingga tidak bisa mencapai efisiensi secara optimum. Implementasi DPK yang dihimpun mencapai RM99,695 juta, sedangkan target yang disarankan agar mencapai efisiensi optimum adalah sebesar RM93,644 juta. Adapun pencapaian efisiensi pada variabel aset tetap mencapai 93,55% dan untuk mencapai nilai efisiensi optimum, perlu dilakukan perbaikan dengan cara menurunkannya sebesar 6,45%. Aset tetap yang dimiliki oleh Maybank Islamic Berhad mencapai RM2,252 juta. Aset tetap ini juga mengalami pemborosan, karena hanya dengan Rp25RM2,372 juta saja, variabel aset tetap sudah dapat mencapai nilai efisiensi yang optimum.
Kemudian, untuk variabel output yaitu pendapatan operasional lainnya juga mengalami inefisiensi dengan nilai 94,58%, maka dari itu diperlukan perbaikan pada variabel pendapatan lainnya dengan cara menaikkan sebesar 5,42%. Hal ini mengindikasikan pendapatan lainnya masih kurang
dari target yang seharusnya dicapai oleh Maybank Islamic Berhad. Implementasi pendapatan lainnya hanya mencapai RM384 juta saja, oleh karena itu BNI Syariah harus menaikkan pendapatan lainnya menjadi RM406 juta, agar dapar mencapai efisiensi yang optimum.
4) CIMB Islamic Berhad
Berikut ini adalah hasil olah data rata-rata tingkat efisiensi dengan asumsi VRS (Variabel Return Scale) Bank CIMB Islamic Berhad:
Tabel 4.11 Nilai Efisiensi Asumsi VRS CIMB Islamic Berhad (%)
Periode Nilai Efisiensi
2014 100.00 2015 100.00 2016 100.00 2017 100.00 2018 100.00 Total 500.00 Rata-rata 100.00
Sumber:DEA Frontier, data diolah oleh peneliti
Berdasarkan tabel di atas, tingkat efisiensi pada Bank CIMB Islamic Berhad mencapai nilai optimum dari tahun 2014 sampai tahun 2018. Pergerakan tingkat rata-rata efisiensi Bank CIMB Islamic Berhad selama periode penelitian ini dapat dilihat pada grafik 4.10. Berdasarkan grafik tersebut, terlihat bahwa pergerakan tingkat efisiensi
bank CIMB Islamic Berhad menunjukan konsistensi terhadap tingkat efisiensi yang optimal.