BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Penelitian
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, peneliti memperoleh temuan data tentang inovasi pembelajaran pendidikan agama Islam pada program akselerasi di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang. Adapun teknik yang digunakan peneliti dalam menggali informasi yaitu dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan penelitian mengenai inovasi pembelajaran pendidikan agama Islam pada program akselerasi di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang sebagai berikut:
1. Pelaksanaan pembelajaran PAI pada program akselerasi di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang
Sebelum membahas pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam pada program akselerasi di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, perlu diketahui identifikasi peserta didik yang diterima pada program percepatan belajar harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Akademis
1) Nilai Akhir (NA) rata-rata 8,00 ke-atas
2) Tes kemampuan akademik sekurang-kurangnya 8,00
3) Nilai raport rata-rata seluruh mata pelajaran tidak kurang dari 8,00 (Raport).
b. Psikologis
Memiliki kemampuan intelektual umum IQ ≥ 130
c. Informasi data subyektif (dari diri sendiri, teman, orang tua, dan guru). d. Kesehatan fisik, ditunjukkan dengan surat keterangan sehat dari dokter. e. Pernyataan tertulis kesediaan peserta didik mengikuti program akselerasi (memenuhi hak dan kewajiban) dengan persetujuan orang tua.2
Penjelasan tambahan dari Bapak Heru Suyana, S.Pd selaku Manager Akselerasi mengenai syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi peserta didik pada program akselerasi yaitu:
2 Dokumentasi penyelenggaraan program akselerasi/cerdas istimewa SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, h. 11.
“Dari awal kita adakan sosialisasi ke sekolah tentang program CI (Cerdas Istimewa), Setelah sosialisasi baru kita adakan pendaftaran, kalau dulu seleksinya yang pertama adalah surat keterangan dari sekolah yang menyatakan peserta didik tersebut masuk 5 besar di sekolah itu, kemudian nilai raport minimal 83 rata-rata, setelah itu diadakan TPA (Tes Potensi Akademik), TPA sebetulnya kan dia lulus SMP (Materi SMP) tapi ketika itu materi yang di teskan yaitu materi kelas X, Setelah TPA kemudian tes IQ , IQ disarankan itu yang ≥130, kemudian wawancara, wawancara untuk menggali antara motivasi anak dan orang tua, yang diwawancara ini kadang-kadang anaknya mau tapi orang tuanya tidak support dan sebaliknya. Jadi ketika diwawancara inilah kami menemukan aspek-aspek dari orang tua pun dari anaknya, Baru yang terakhir penyaringan dinyatakan lulus atau tidaknya masuk program akselerasi”.3
Program percepatan (Acceleration) yaitu program pelayanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa dengan menyelesaikan program pendidikan dalam jangka waktu yang lebih singkat dibanding dengan temanya yang di kelas reguler.4
Latar belakang didirikannya program akselerasi yaitu karena penyelenggaraan pendidikan yang klasikal-massal yang berorientasi kepada kuantitas memiliki kelemahan tidak terakomodasinya kebutuhan individu peserta didik yang memiliki bakat dan kecerdasan diatas rata-rata kelompok peserta didik normal.5 Sebagaimana yang dikatakan oleh Wakil Kepala SMA Negeri 11 Kab. Tangerang (Bapak Jaenul Abidin, MM), yaitu:
“Latar belakang didirikannya program akselerasi di sekolah ini yaitu untuk mengakomodir peserta didik yang memiliki kecerdasan istimewa atau kecerdasan di atas rata-rata dengan IQ ≥ 130”.6
3 Wawancara dengan Bapak Heru Suyana, S.Pd selaku Manager Akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Senin 16 Desember 2019 di ruang Wakil Kepala Sekolah jam 11.56.
4 Dokumentasi penyelenggaraan program akselerasi/cerdas istimewa SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, h. 6.
5 Dokumentasi penyelenggaraan program akselerasi/cerdas istimewa SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, h. 1.
6 Wawancara dengan Bapak Jaenul Abidin, MM., selaku Wakil Kepala SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Senin 16 Desember 2019 di ruang Wakil Kepala Sekolah jam 11.07.
Diselenggarakannya sebuah program atau kegiatan pasti memiliki suatu tujuan. Adapun tujuan diadakannya program akselerasi di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang sebagaimana yang dikatakan oleh Kepala Sekolah dalam wawancara yaitu:
“Tujuan diselenggarakannya program akselerasi yaitu: Pertama, melayani kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan bakat dan kecerdasannya. Kedua, efesiensi waktu tempuh belajar. Ketiga, memberi penguatan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan di atas rata-rata sebagai bentuk penghargaan”.7
Selain itu dari data yang didapatkan oleh peneliti di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang didirikannya program akselerasi memiliki beberapa tujuan, tujuan tersebut terbagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
a. Memenuhi kebutuhan peserta didik yang memenuhi karakteristik spesifik dari segi perkembangan kognitif, psikomotor dan afektif. b. Memenuhi hak asasi peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan
bagi dirinya sendiri.
c. Memenuhi kebutuhan aktualisasi diri peserta didik. 2. Tujuan Khusus
a. Memberikan penghargaan kepada peserta didik untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara lebih cepat sesuai dengan potensi dirinya.
b. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran peserta didik.
c. Memacu mutu peserta didik untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosionalnya secara berimbang.8
7 Wawancara dengan Bapak Drs. H. Junaedi, MM selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Selasa 07 Januari 2020 di ruang Kepala Sekolah SMA Negeri 11 Kab. Tangerang jam 10.56.
8 Dokumentasi penyelenggaraan program akselerasi/cerdas istimewa SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, h. 8-9.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses interaksi antara guru, murid, dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar.9 Proses pembelajaran akselerasi merupakan suatu proses internalisasi pengetahuan dalam diri individu. Aktivitas belajar akan berlangsung efektif apabila seseorang yang belajar berada dalam keadaan positif dan bebas dari tertekan.10
Pelaksanaan pembelajaran PAI pada program akselerasi di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan pembelajaran PAI di kelas reguler. Sebagaimana wawancara dengan Kepala SMA Negeri 11 Kab. Tangerang:
“Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran PAI pada program akselerasi dengan di kelas reguler sama saja, yang membedakan hanya RPP dan waktu pembelajarannya lebih cepat dari yang reguler dan bisa diselesaikan dalam waktu 2 tahun”.11
Selain itu juga penambahan penjelasan dari guru PAI program akselerasi sebagai berikut:
“Pelaksanaan pembelajaran PAI pada program akselerasi sebetulnya sama saja dengan di kelas reguler. Adapun metode yang digunakan pada kelas akselerasi bervariasi dan peserta didik bisa cepat merespon pelajaran. Yang membedakannya yaitu waktu, kalau di kelas reguler 1 semester ditempuh dalam waktu 6 bulan, sedangkan di kelas akselerasi 1 semester bisa ditempuh hanya dengan waktu 4 bulan, jadi lebih cepatlah. Selain itu semuanya sama.”12
Tetapi yang menjadi perbedaan mendasar dari kelas akselerasi dengan kelas reguler terletak pada efektivitas dan efesiensi dengan cara
9 Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencaa, 2013), h. 19.
10 Iif Khoiru Ahmadi, Hendro Ari Setyono, dan Sofan Amri, Pembelajaran Akselerasi: Analisis Teori dan Praktik Serta Pengaruhnya Terhadap Mekanisme Pembelajaran dalam Kelas Akselerasi, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya, 2011), h. 4.
11 Wawancara dengan Bapak Drs. H. Junaedi, MM selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Selasa 07 Januari 2020 di ruang Kepala Sekolah SMA Negeri 11 Kab. Tangerang jam 10.56.
12 Wawancara dengan Bapak H. Zaenal Arifin selaku Guru PAI kelas akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Selasa 07 Januari 2020 di depan ruang Lab. Komputer SMA Negeri 11 Kab. Tangerang jam 13.47.
memilih materi yang dianggap esensial dan non-esensial. Seperti yang dikatakan dalam wawancara oleh Manager Akselerasi (Bapak Heru Suyana, S.Pd) sebagai berikut:
“Pada dasarnya pelaksanaan pembelajaran PAI pada program akselerasi sama saja. Karena disitu ada pemadatan waktu dari 3 tahun menjadi 2 tahun, jadi kalau di kelas reguler kan sistemnya semester (6 semester), sedangkan kalau di CI (Program Akselerasi) secara teoritis dia 6 semester juga, tapi dalam realnya dia menjajah perbulan jadi 1 semester yang seharusnya 6 bulan, ini menjadi 4 bulan. Otomatis karena ini waktunya dipadatkan pembelajaran menjadi lebih singkat, karena mereka berkebutuhan khusus 2,5% itu kalau misalkan ada pembelajaran ya boleh dikata diloncat dari C1 sampai C6. Kalau C1 bahasa kasarnya bisa dibaca sendiri secara global, jadi semua aspek itu tidak harus dijelaskan secara lengkap di kelas itu, mungkin hanya dari C3-C4-C5-C6, C1 cukup membaca sendiri”.13
Gambar 4.1: Kegiatan Belajar Mengajar PAI Kelas Akselerasi
13 Wawancara dengan Bapak Heru Suyana, S.Pd selaku Manager Akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Senin 16 Desember 2019 di ruang Wakil Kepala Sekolah jam 11.56.
Pembelajaran pendidikan agama Islam pada kelas X Akselerasi dilaksanakan setiap 1 minggu sekali, 3 jam/pertemuan. Menurut hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti selama melakukan penelitian di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, secara umum kegiatan pembelajaran kelas akselerasi dilakukan melalui 3 tahapan diantaranya yaitu:
Kegiatan pendahuluan,
Kegiatan pendahuluan atau membuka pelajaran yang dilakukan guru pada kelas akselerasi, diantaranya meliputi:
a) Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmallah dan berdoa
b) Menyiapkan peserta didik secara fisik dan mental c) Memotivasi siswa
d) Menyampaikan Apersepsi
e) Menyampaikan tujuan pembelajaran f) Menyampaikan cakupan materi Kegiatan inti
Berikut hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan inti sebagai berikut: a) Membahas materi
b) Konsolidasi pembelajaran c) Pembentukan sikap dan perilaku
Kegiatan akhir dan tindak lanjut pembelajaran.
Sedangkan pada kegiatan akhir atau penutup dapat dilakukan dengan pemberian tugas dan post test.14
Dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam pada kelas X Akselerasi ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar, misalnya pada materi wakaf kegiatan pembelajarannya mencakup beberapa tahapan, yaitu:
a. Pembukaan
Gambar 4.2: Membuka pelajaran
b. Menyampaikan Apersepsi
c. Guru menyampaikan materi
Gambar 4.4: Guru menyampaikan materi
d. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
Gambar 4.6: Siswa bertanya kepada guru
e. Guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik
Gambar 4.7: Guru menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan
f. Penutup
Gambar 4.8: Kegiatan penutup pembelajaran
Dari beberapa tahap yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam di kelas X Akselerasi dalam penyampaian materinya sudah baik, walaupun tidak menggunakan media IT tetapi proses pembelajaran tetap berlangsung menyenangkan dan tidak membosankan, bahkan memudahkan peserta didik memahami materi terkait. Dalam penyampaian materi guru selalu mengaitkan materi dengan kejadian yang ada dikehidupan sehari-hari, menerapkan konsep materi pembelajaran pada kehidupan, memberikan contoh-contoh riil, dan mengaitkan dengan salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat). Sedangkan dalam kegiatan penutup murid-murid diberikan beberapa tugas mandiri terkait materi yang telah disampaikan ataupun materi yang tidak dibahas di kelas. Sebagaimana wawancara dengan guru pendidikan agama Islam (Bapak H. Zaenal Arifin):
“Proses pembelajaran pada program akselerasi yaitu menjelaskan masalah KI-KD, menjelaskan target materi, dan setiap materi diujikan bisa 2 materi baru diujikan atau bisa 1 materi langsung diujikan jadi fleksibel. Metode yang biasa digunakan pada kelas akselerasi pun
bervariasi, diantaranya: metode penayangan video, metode cerita, metode tanya jawab, menjelaskan secara logis, memberikan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari, struktural, dsb”.15
Adapun penjelasan tambahan dari Ketua Kelas X Akselerasi (Rizky Adi) dalam wawancara yaitu:
“Dalam pelaksanaan pembelajaran PAI guru menyampaikan pembelajarannya dengan metode yang bervariatif dan asyik, sehingga memudahkan siswa untuk lebih mengerti dan tidak merasa jenuh atau bosan”.16
Sistem belajar mengajar dan pengelolaan pada kelas akselerasi memiliki perbedaan secara substansial dengan kelas biasa terutama menyangkut:
1) Sistem Belajar
Sistem belajar yang dipergunakan dalam kelas akselerasi merupakan sistem belajar inovatif-kondusif yang dengan sendirinya mampu menumbuhkan kreatifitas peserta didiknya.
2) Waktu Belajar
Waktu belajar pada kelas akselerasi tidak hanya terikat pada waktu sekolah, tetapi mereka dapat melakukannya di luar jam-jam sekolah, terutama kegiatan praktikum.
3) Target Kurikulum
Target kurikulum yang berlaku dalam kelas akselerasi adalah sistem paket. Sehingga mereka bisa menyelesaikan studinya lebih cepat dari kelas reguler.
15 Wawancara dengan Bapak H. Zaenal Arifin selaku Guru PAI kelas akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Selasa 07 Januari 2020 di depan ruang Lab. Komputer SMA Negeri 11 Kab. Tangerang jam 13.47.
16 Wawancara dengan Rizky Adi selaku Ketua Kelas Program Akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Selasa 07 Januari 2020 di kelas X CI jam 11.35.
4) Sarana Prasarana
Sebagai kelas yang diidentikkan dengan model kelas masa depan, maka segala fasilitas yang memungkinkan untuk menunjang keberhasilan KBM sebisa mungkin diupayakan.
5) Tenaga Pengajar (Guru).
Sebagai kelas yang notaben kecerdasan siswanya berada di atas rata-rata (Superior), maka semua tenaga pengajarnya berstandar kelayakan, baik kualitas personal (kompetensi, profesionalitas, efektivitas, maupun leadership). 17
Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Manager Akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang sebagai berikut:
“Pembelajarannya dari waktu sudah berbeda kan, pembelajarannya itu tadi ada beberapa aspek pembelajaran yang harus disederhanakan, bahkan bisa dilakukan secara mandiri oleh siswa, demikian dalam soal pun itu tingkat kesulitannya akan sedikit berbeda. Kurikulum yang digunakan sedikit berbeda, tetap mengunakan K13 yang dipercepat atau sistem SKS”.
Jika dilihat dari hasil pengamatan peneliti ketika turun kelapangan, selain perbedaan yang sudah dijelaskan di atas, masih ada beberapa perbedaan lain antara kelas akselerasi dengan kelas reguler, yaitu:
a. Naik kelas setiap 8 bulan
Karena waktu belajarnya dipercepat, siswa di kelas akselerasi berganti semester tiap 4 bulan sekali dan naik kelas setiap 8 bulan. Hal ini berbeda dengan kelas reguler yang harus menghabiskan waktu 6 bulan untuk 1 semester, dan naik kelas setiap satu tahun sekali.
b. Hanya ada untuk anak IPA
17 Iif Khoiru Ahmadi, Hendro Ari Setyono, dan Sofan Amri, Pembelajaran Akselerasi: Analisis Teori dan Praktik Serta Pengaruhnya Terhadap Mekanisme Pembelajaran dalam Kelas Akselerasi, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya, 2011), h. v-vi.
Biasanya di kelas reguler memiliki 2 atau 3 jurusan, seperti IPA, IPS, dan Bahasa. Tetapi berbeda dengan kelas akselerasi, kelas akselerasi hanya diperuntukkan bagi peminatan IPA saja.
c. Jumlah siswanya sedikit
Menjadi siswa di kelas akselerasi berarti menjadi siswa terpilih, dari ratusan siswa yang ada di sekolah tersebut hanya segelintir orang saja yang bisa lolos/ masuk di kelas akselerasi. Seperti data yang didapatkan oleh peneliti di kelas akselerasi paling hanya diisi oleh 24 orang (rata-rata), bahkan pernah hanya 6 orang saja. Berbeda dengan kelas reguler yang bisa diisi oleh 38-42 siswa per kelas.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Manager Akselerasi dalam wawancara yaitu :
“Peserta didik yang diterima pada program akselerasi sekitar 20-24, tapi pernah juga terjadi hanya 6 orang, angkatan ke-1 terjaring 17, angkatan ke-2: 6, angkatan ke-3: 22, angkatan ke-4: 17, angkatan ke-5: 14, angkatan ke-6: 26, angkatan ke-7: 23, angkatan ke-8: 24”.18
2. Inovasi pembelajaran PAI pada program akselerasi di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang
Dengan tingkat tuntutan dan kecepatan yang tinggi, guru akselerasi dituntut untuk mampu terus mengembangkan berbagai inovasi dan kreatifitas dalam proses pembelajaran.19 Inovasi pendidikan secara sederhana dapat dimaknai sebagai inovasi dalam bidang pendidikan. Menurut Ibrahim, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang baik berupa hasil, yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah pendidikan.
18 Wawancara dengan Bapak Heru Suyana, S.Pd selaku Manager Akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Senin 16 Desember 2019 di ruang Wakil Kepala Sekolah jam 11.56.
19 Iif Khoiru Ahmadi, Hendro Ari Setyono, dan Sofan Amri, Pembelajaran Akselerasi: Analisis Teori dan Praktik Serta Pengaruhnya Terhadap Mekanisme Pembelajaran dalam Kelas Akselerasi, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya, 2011), h. 73.
Dengan demikian inovasi diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan atau pembelajaran, ini berarti bahwa inovasi apapun yang tidak dapat meningkatkan kualitas pendidikan/pembelajaran tidak patut untuk diadopsi, dan dalam konteks ini peran guru akan sangat menentukan dalam adopsi inovasi pada proses pembelajaran. Oleh karena itu, dalam menyikapi suatu inovasi, diperlukan suatu pemahaman yang baik tentang substansi inovasinya itu sendiri, hal ini dimaksudkan agar inovasi dapat benar-benar memberi nilai tambah bagi kehidupan.
Inovasi didalam proses pembelajaran PAI pada program akselerasi sebagaimana yang dikatakan oleh Guru PAI (Bapak H. Zaenal Arifin) dalam wawancara yaitu sebagai berikut:
“Kalau melihat kearah sana sangat tinggi prestasinya terutama saya lebih fokus kepada: pertama, mengadakan klinik al-Qur’an (karena masih banyak peserta didik yang belum bisa membaca al-Qur’an). Kedua, menciptakan praktek dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, mengimplementasikan pembelajaran PAI berbasis MI (Multiple Intelligences).”20
Selain itu juga Kepala SMA Negeri 11 Kab. Tangerang (Bapak Drs. H.
Junaedi, MM) dalam wawancara menyatakan:
“Inovasi ini kami serahkan kepada masing-masing guru mata pelajaran yang tentu saja memiliki keragaman satu dengan yang lain berbeda. Inovasi pembelajaran pada program akselerasi diantaranya: pertama, mereka ditugaskan membuat pemetaan pembelajaran, kedua, membuat video pembelajaran untuk presentasi”.21
Hal yang dapat diidentifikasikan dalam inovasi pembelajaran pendidikan agama Islam pada program akselerasi di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang diantaranya sebagai berikut:
20 Wawancara dengan Bapak H. Zaenal Arifin selaku Guru PAI kelas akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Selasa 07 Januari 2020 di depan ruang Lab. Komputer SMA Negeri 11 Kab. Tangerang jam 13.47.
21 Wawancara dengan Bapak Drs. H. Junaedi, MM selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Selasa 07 Januari 2020 di ruang kepala sekolah SMA Negeri 11 Kab. Tangerang jam 10.56.
1) Mengadakan klinik al-Qur’an (karena masih banyak peserta didik yang belum bisa membaca al-Qur’an),
2) Menciptakan praktek dalam kehidupan sehari-hari,
3) Mengimplementasikan pembelajaran PAI berbasis MI (Multiple Intelligences),
4) Membuat pemetaan pembelajaran,
5) Membuat video pembelajaran untuk presentasi.
Inovasi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan pencapaian semua hasil belajar dan mengakomodasi sebanyak-banyaknya perbedaan peserta didik. Dengan demikian implementasi pembelajarannya berpusat pada siswa dan memberikan peluang siswa mengalami sendiri.
Selain itu jika dilihat dari RPP, maka guru PAI harus melakukan akselerasi RPP dari 3 tahun menjadi 2 tahun yang telah direncanakan pelaksanaan pembelajaran PAI untuk 2 tahun di kelas akselerasi. Sehingga diharapkan dengan perencanaan akselerasi pembelajaran PAI yang baik, maka proses akselerasi pembelajaran PAI diperoleh hasil yang optimal sesuai KKM PAI pada program akselerasi minimal 80,00.
RPP PAI 3 Tahun SK 3 Tahun KD 3 Tahun SK 2 Tahun KD 2 Tahun RPP Akselerasi 2 Tahun Pembelajaran PAI Akselerasi
3. Pembelajaran PAI pada program akselerasi di SMA Negeri 11 Kab. Tangerang dapat dilaksanakan secara optimal
Program percepatan (Acceleration) yaitu program pelayanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa dengan menyelesaikan program pendidikan dalam jangka waktu yang lebih singkat dibanding dengan temanya yang di kelas reguler.22
Kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman ajaran agama Islam dari peserta didik, disamping untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi juga sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial. Tujuan pendidikan agama Islam bukanlah semata-mata untuk memenuhi kebutuhan intelektual saja, melainkan segi penghayatan juga pengalaman serta pengaplikasiannya dalam kehidupan dan sekaligus menjadi pegangan hidup.23
Program akselerasi yaitu program percepatan yang notabennya menekankan pada penguasaan kognitif, walaupun demikian pembelajaran pada program akselerasi tetap berjalan optimal sebagaimana mestinya terkhusus pada pembelajaran pendidikan agama Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Guru PAI kelas akselerasi yaitu:
“Iya, pembelajaran pendidikan agama Islam pada program akselerasi dapat terlaksana secara optimal. Alhamdulillah selama ini banyakan yang optimal dan maksimal, karena sesuai dengan waktu yang efisien.”24
Adapun penjelasan tambahan dari Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum (Bapak Jaenul Abidin, MM) mengenai pelaksanaan pembelajaran PAI program akselerasi, sebagai berikut:
22 Dokumentasi penyelenggaraan program akselerasi/cerdas istimewa SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, h. 6.
23 Ibid., h. 20.
24 Wawancara dengan Bapak H. Zaenal Arifin selaku Guru PAI kelas akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Selasa 07 Januari 2020 di depan ruang Lab. Komputer SMA Negeri 11 Kab. Tangerang jam 13.47.
“Iya itu adalah salah satu masalah dia ya, karena kita lebih mengutamakan kepada kognitif tadi maka kadang-kadang seseorang anak yang cerdas istimewa itu biasanya mempunyai attitude yang kurang baik, kadang-kadang kita harus memahami pola mereka, tapi tidak semua seperti itu. Awalnya setelah kita terapkan sistem yang berbeda ternyata anak CI itu mempunyai kompetensi dibidang spiritual, mereka setelah dibina dengan baik kecerdasan spiritual mereka juga meningkat, Cuma memang kecerdasan emosional biasanya orang yang memiliki tingkat IQ di atas rata-rata itu emosionalnya sangat rentan, tapi ketika kita ubah pola atau paradigma mereka dalam belajar mereka memiliki kecerdasan spiritual yang ternyata sama dengan kelas-kelas yang lain dan sekarang kalau guru masuk ke kelas akselerasi itu mereka juga mengucapkan salam, cium tangan, senyum dan sebagainya, artinya mereka sudah terpolarisasi dengan baik”.25
Adapun pernyataan dari peserta didik program akselerasi (Nida Salsabila) yaitu:
“Iya bisa optimal, karena menurut saya guru-guru yang mengajar di kelas CI (program akselerasi) ini mengetahui kompetensi dari masing-masing peserta didiknya dan cara menyampaikan materinya juga enak gak terlalu bikin kita setres juga. Bahkan saya jadi lebih mengerti, karena guru menjelaskan materi sambil dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari”.26
Selain itu ada juga penambahan pernyataan dari peserta didik program akselerasi (Rizky Adi) yaitu:
“Iya pembelajaran PAI dapat dilaksanakan secara optimal, karena guru menyampaikan pembelajarannya dengan metode yang bervariatif dan asyik, sehingga memudahkan siswa untuk lebih mengerti dan tidak merasa jenuh atau bosan”.27
25 Wawancara dengan Bapak Jaenul Abidin, MM., selaku Wakil Kepala SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Senin 16 Desember 2019 di ruang Wakil Kepala Sekolah jam 11.07.
26 Wawancara dengan Nida Salsabila selaku peserta didik program akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Selasa 07 Januari 2020 di kelas X CI jam 11.20.
27 Wawancara dengan Rizky Adi selaku Ketua Kelas Program Akselerasi SMA Negeri 11 Kab. Tangerang, Selasa 07 Januari 2020 di kelas X CI jam 11.35.