• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Manajemen Pendidikan Salafi di Lombok

3. Tenaga Pendidik ( ustadz) Sebagai Murabbi

Dalam kajian pendidikan Islam, terminologi “pendidik” seringkali disepadankan dengan ustadz, murabbi, mu’allim, mu’addib dan mursyid.431 Menurut Muhaimin Istilah ustadz, murabbi, mu’allim, mu’addib dan mursyid memiliki karakteristik dan titik tekan yang berbeda–beda dalam kegiatan pendidikan Islam.432 Untuk mempertegas makna tersebut akan dijabarkan pada tabel berikut ini.

Tabel 3.1.Karakteristik Pendidik

No Pendidik Karateristik

1 Ustadz Orang yang memiliki komitmen, profesionalitas, dedikasi untuk mengembangkan pendidikan Islam yang bermutu secara berkesinambungan

2 Mu’allim

Orang yang menguasai ilmu serta mampu mengembangkan secara teoritis dan praktis untuk ditransfer untuk diinternalisasi dan dilaksnakan dalam kehidupan sehari-hari.

3 Murabbi

Orang yang mendidik agar mampu berkreasi untuk mengatur dan memelihara hasil kreasinya agar tidak meninbulkan malapetaka, bagi dirinya, masyarakat dan lingkungan sekitaranya.

4 Mursyid Orang yang mampu menjadi pusat tauladan, panutan dan konsultan bagi peserta didiknya.

5 Mudarris Orang yang memiliki sensitivitas intlektual dan memperbaharui informasi serta memiliki keahlian untuk

429Hirjanpandi, Wawancara, di Lenek, tanggal 22 Januari 2022.

430Saparudin, Berkembang di Tengah Resistensi Refroduksi Apparatus Ideologi dalam Pendidikan Salafi,125.

431Abdul Mujib , Yusup Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta:Prenada Media group, 2006), 71.

432Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam; di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi,(Jakarta: Rajawali Press,2005),50.

168

merncerdaskan peserta didik, memberantas kebodohan, melatih keterampilan sesuai bakat, minat dan keamampuannya.

6 Mu’addib Orang yang mampu menyiapkan peserta didik menjadi orang yang bertanggungjawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa yang akan datang Mengacu pada tabel di atas, tugas seorang pendidik433 sangat berat, dalam menjalankan tugasnya tidak hanya melibatkan kemampuan kognitif semata, juga kemampuan afektif dan psikimotorik, untuk membentuk manusia yang memilki keseimbangan antara kognitif dan moral.

Guru merupakan tenaga pendidik, pembimbing, pelatih dan pemimpin yang dapat mendesain pembelajaran menjadi menarik, aman, nyaman dan kondusif di kelas, sehingga proses belajar mengajar menjadi efektif.434 Tugas seorang guru disamping transfer ilmu pengetuan juga yang utama adalah pembentukan moral santri yang dilandasai oleh nilai dasar keagamaan yang dilandasi pemahaman para sala>fus sh>ali>h.435 Agar mereka lebih siap menghadapi tantangan kehidupan di era modernitas.

Menurut Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang guru dan Dosen.

Pasal 1 ayat 1 menjelaskan bahwa, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama sebagai pendidik, mengajar, mengarahkan, membimbing, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.436

433Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik harus memiliki prinsip keguruan berupa;

1. Kesedian untuk mergajar, mengarahkan dan membimbing peserta didik. 2. Membangkitkan semangat dan gairah pesrta didik. 3. Menumbuhkan bakat dan minat pesrta didik. 4. Mengatur proses belajar mengajar. 5. Memperhatikan setiap perubahan yang akan mempengaruhi proses belajar mengajar. 6. Menjalin hubungan yang manusiawi dalam proses belajar mengajar. Roestiyah NK, Masalah –Masalah Ilmu Keguruan, (Jakarta:Bumi Aksara,1991),86.

434Martinis A. Yamin, Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia, (Jakarta:GP Press, 2007), 110.

435 Ziaul ilmi, Wawancara, di Lenek, tanggal 22 Januari 2022.

436Undang Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,

169

Kesuksesan kegiatan belajar mengajar di lingkungan Pondok Pesantren sangat ditentukan oleh keberadaan seorang guru. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan visi misi Pondok Pesantren.437 Oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogis, kompetensi spiritual dan kompetensi sosial.438 Sehingga dia dapat mengembangkan potensi secara maksimal dan menanamkan nilai ajaran Islam kepada santri/santriwati.

Untuk menjamin kompetnsi keilmuan seorang guru, proses rekrutmen guru dilakukan dengan sangat selektif. Agar memenuhi standar kualifikasi keilmuan yang diharapkan, semua pelamar diseleksi dengan ketentuan yang telah ditetapkan seperti ideologi keagamaan, kompetensi pedagogis, komitmen untuk mengikuti tata tertib Pondok Pesantren. Untuk guru yang akan mengampu mata pelajaran keagamaan atau mata pelajaran manhaj akan diprioritaskan pada alumni LIPIA Jakarta dan Arab Saudi (Univ. Madinah, Univ. Ibnu Su’ud).439

Menjadi guru di Pondok Pesantren dituntut tidak hanya berperan sebagai pendidik semata lebih jauh dari itu adalah sebagai penjaga moral (murabbi) dengan tugas menanamkan nilai-nilai moral keagamaan pada santri/santriwati, oleh karena itu seorang murabbi harus menempatkan siswa, tidak hanya sebagai murid, tetapi juga sebagai partner untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penguatan pesan dakwah Salafi.440

437Visi Pondok Pesantren As-sunah Bagiknya; Mewujudkan generasi tangguh dan utuh dengan berwawasan agama, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan pada ajaran agama Islam yang benar dan murni. Dan Visi Pondok Pesantren Teladan Imam Syafi’i, Membangun generasi yang shalih dan sahlihah yang berakidah lurus dan berahlak mulia yang unggul dalam ilmu tahfidz dan syar,i serta mahir dalam bahasa dan teknologi yang sesuai dengan jenjangnya masing-masing.

438 Martinis A. Yamin, Sertifikasi Profesi Keguruan di,39.

439 Zia Safroni Wawancara, di Lenek, tanggal 22 Januari 2022.

440Suyatno, Sekolah Islam terpadu, Filsadat,Ideologi, dan tren Baru Pendidikan Islam di Indonesia,Jurnal Pendidikan Islam,Volume II,Nomor 2 Desember 2013,369.

170

Tenaga pendidik di Pondok Pesantren as-Sunnah Bagik Nyake berjumlah 370 orang pada semua jenjang.441 Pondok Pesantren Ma’had Islah Bina al-Ummah berjumlah 97 Orang442 dan Pondok Pesantren Teladan Imam Syafi’i (TIS) berjumlah 31 orang.443 Semua tenaga pendidik di lingkungan Pondok Pesantren Salafi di samping berperan untuk melakukan transfer pengetahuan, yang lebih penting dari itu untuk penanaman dan pembentukan moralitas (adab) peserta didik. Dalam tradisi keilmuan Pondok Pesantren, adab diletakkan di atas ilmu pengetahuan. Sehingga dalam setiap aktivitas pendidikan diorientasikan pada penguatan adab, agar mampu melahirkan peserta didik yang memiliki pengetahuan yang berbasis pada adab atau moralitas.444 Guru memiliki kontribusi yang paling besar dalam menentukan keberhasil kegiatan belajar mengajar. Tugas guru tidak hanya sebatas untuk transfer ilmu pengetahuan juga sebagai teladan dalam pembentukan karakter dan moralitas santri/santriwati.

Guru di Pondok Pesantren merupakan para pengabdi untuk membantu mengembangkan pendidikan Islam dan pembentukan moralitas peserta didik.

Untuk meningkatkan kualitas kesadaran dan loyalitas tenga pendidik, pembinaan kepada para tenaga pendidik yang dilakukan setiap bulannya, merupakan upaya untuk membentuk kesabaran dan keikhlasan dalam membimbing, mendidik peserta didik di lingkungan Pondok Pesantren Salafi.

Dengan penuh keikhlasan akan terbangun rasa tanggungjawab terhadap tugas atau amanah yang diberikan.445 Profesi sebagai guru telah dianggap sebagai panggilan keimanan, bahwa sebagai seorang guru merupakan panggilan jiwa dan kewajiban dari agama yang harus di emban oleh setiap

441 Zia Safroni, Wawancara, Tanggal 22 Januari 2022.

442 Lalu Ahmad Nazri, Wawancara, di aikmel, tanggal, 20 Januari 2022..

443Abdullah Hadi, Wawancara, di Tanjung KLU, tanggal, 26 Januari 2022.

444Imam Al-Gazali, Minhajul Abidin Wasiat Imam Ghazali, terj. Zakaria Adham, (Jakarta:

Darul Ulum Press,2014),4.

445Zakaria, Wawancara, di Kembang Kerang Daya, tanggal 22 Januari 2002.

171

umat Islam.446 Oleh karena itu guru-guru di Pondok Pesantren Salafi menjadikan niat ikhlas dan semangat untuk menyebarkan ideologi Salafi sebagai pendorong pengabdiannya. Dengan semangat yang seperti ini, telah menjadikan seorang guru tetap memiliki motivasi tinggi walaupun dengan honor seadanya.

Untuk mengevaluasi kegiatan Pondok Pesantren dan berbagai persoalan yang dihadapi, rapat evaluasi yang dilakukan oleh mudir, dengan melibatkan seluruh kepala sekolah dan wakil kepala sekolah yang dilaksanakan secara berkala pada setiap akhir pekan. Rapat ini dikhususkan untuk membahas berbagai masalah yang dihadapi dan mencari jalan keluarnya, sehingga setiap masalah harus diselesaikan secepatnya.447 Untuk menunjang efektivitas pembelajaraan di lingkungan Pondok Pesantren.

Kegiatan dauroh atau rapat paripurna yang dilaksanakan secara berkala pada setip bulannya. Pertemuan ini dihadiri oleh semua tenaga pendidik di masing-masing Pondok Pesantren Salafi. Program bulanan ini lebih pada kajian keagamaan ideologi Salafi yang dipimpin oleh mudir Pondok Pesantren.448 Kajian bulanan lebih kepada penguatan pemahaman dan pengamalan keagamaan berdasarkan pada manhaj Salafi kepada semua tenaga pendidik, agar dalam menjalani kehidupan sehari-hari tetap berpegang teguh pada amalan amalan para S}ha>lafus S}ha>lih.

Untuk memaksimalkan pembinaan dan pelayanan santri/santriwati di lingkungan Pondok Pesantren, pembagian job description dilakukan dengan baik dan evaluasi secara berkala. Guru yang ditugaskan sebagai kesantrian dan pembina asrama akan menangani para santri di asrama mulai dari program kajian dan semua kegiatan di asrama. Pembina tahfidz al-Qur’an akan mengatur jadwal tahfidz al-Qur’an, muroja>’ah } dan pembentukan

446Imam Suprayogo, Quo Vadis Madrasah, Gagasan, Aksi, dan Solusi Pembangunan Madrasah (Yogyakarta: Hikayat, 2007),10.

447Agus Kusnandi, Wawancara, Tanggal, 22 Januari 2022.

448 Faizun Husni, Wawancara, di Aikmel, tanggal 22 Januari 2022.

172

koordinator tahfidz al-Qur’an di setiap kelompok. Di lembaga pendidikan formal di komandoi oleh seorang kepala sekolah dibantu wakil kepala sekolah, guru dan wali kelas dalam menjalankan kegiatan pembelajaran.449 Guru dibentuk menjadi satu kesatuan dalam menjalankan tugas dan fungsi masing-masing di lingkungan Pondok Pesantren. Koordinasi dan komunikasi antar guru dan pembina dalam setiap persoalan yang dihadapi merupakan kunci kesuksesan dalam melakukan pembinaan di asrama dan di sekolah.

Dalam konteks pendidikan Islam guru merupakan role model yang akan di gugu dan ditiru oleh santri/santriwati. Guru memiliki peran yang sentral dalam pembentukan sikap dan karakter santri/santriwati. Bangsa Indonesia tidak kekurangan orang yang pintar, hanya saja masih kurang ikon keteledanan untuk dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan.

Guru sebagai sumber keteladanan dalam kegiatan pendidikan, dia merupakan figur yang cukup di hormati untuk ditiru. Seiring intraksi guru dengan siswa dikelas dan asrama, terbentuk ikatan emosional diantara keduanya yang menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan pendidikan Islam Salafi di Lombok.450 Perluasan jaringan keilmuan Salafi di Lombok yang menyebar lewat masjid kemudian disemai pada lembaga pendidikan sebagai wadah pembentukan kader dakwah, telah membentuk komunitas Salafi dengan ekspresi keagamaan dan tampilan pakaian yang berbeda dengan masyarakat Lombok maenstream.

Keteladanan dari seorang guru sangat dibutuhkan sekarang ini, dalam rangka pembentukan sikap dan penanaman nilai-nilai keagamaan kepada santri/santriwati. Penetrasi budaya Barat telah menggeser paradigma keagamaan dan karakter santri/santriwati di Lombok. Oleh karena itu dakwah

449Agus Kusnandi, Wawancara, di Lenek,tanggal 22 Januari 2022..

450Anggi Apriansyah, Imajinasi Problematika,Kompleksitas Wajah Pendidikan Indonesia, (Yogyakarta:Tanda Baca, 2021),245.

173

bil hal dari guru akan lebih efektif dalam membentuk dan mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan kepada para Santri.

Seiring dengan laju modernitas, tugas guru semakin mengalami perluasan. Hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya tuntutan dan perkembangan zaman yang harus di respon oleh lembaga pendidikan Islam.

Jackson dan Parker menjelaskan bahwa tugas seorang guru tidak hanya membentuk santri/santriwati menjadi muslim yang taat dan dan menjadi warga negara yang baik, disamping itu juga dapat merespon perkembangan modernitas yang terus berdialektika dengan realitas kehidupan.451