BAB II TINJAUAN PUSTAKA
17. Teori Bekerjanya Hukum
Pada hakekatnya hukum adalah sebagai sistem, maka untuk dapat memahaminya perlu menggunakan pendekatan sistem (Esmi Warassih, 2005 : 30). Pengertian hukum sebagai sistem hukum dikemukakan oleh Lawrence M. Friedman, bahwa keberhasilan penegakan hukum selalu mensyaratkan berfungsinya semua komponen sistem hukum. Sistem hukum dalam pandangan Friedmen terdiri dari tiga komponen, yaitu:
a. Komponen struktur hukum (legal structure)
Struktur hukum (legal structure) merupakan batang tubuh, kerangka,
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
To begin whit, the legal system has the structure of legal system consist of elements of the kind the number and size of court;their
jurisdiction…structure. Also means how the legislstive is organized.
Wahat procedures he police department follow, and go on.strukture in a way is a kind of cross section of the legal system. A kind of photograph, with free the action (Lawrence M.Friedman, 1984 :7).
Peranan aparatur penegakan hukum juga tidak kalah pentingnya dalam menentukan tingkat keberhasilan penegakan suatu peraturan perundangan, baik buruknya aparatur penegakan hukum dapat menentukan pula baik buruknya suatu penegakan peraturan perundangan. Suatu peraturan perundang-undangan yang baik terkadang tidak dapat ditegakkan secara baik, apabila yang menegakan peraturan perundangan tersebut adalah aparatur penegakan hukum yang tidak baik atau cakap. Dan hal tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya rendahnya tingkat pemahaman dari aparatur penegak hukum terhadap substansi atau peraturan perundangan (M.Syamsudin, 2009: 53).
Diberlakukannya suatu peraturan perundang-undangan yang mempunyai maksud dan tujuan baik belum tentu memberikan suatu manfaat yang nyata bagi masyarakat, apabila tidak ditegakkan secara konsisten dan bertanggung jawab aturan-aturan hukum yang ada didalamnya. Karena suatu peraturan perundangan-undangan pada dasarnya adalah rangkaian kalimat yang tidak akan memberikan makna tanpa adanya mekanisme penegakan hukum yang jelas dan pelaksanaan yang konsisten dari aparatur penegak hukumnya. Salah satu masalah utama yang sulit diatasi di Indonesia sampai saat ini adalah masalah penegakan hukum yang konsisten dan bertanggung jawab dari para aparatur penegakan hukum yang telah dikemukakan sebelumnya.
b. Komponen substansi hukum (legal substance)
Substansi hukum (legal substance) aturan-aturan dan norma-norma
commit to user
perilaku dari para pelaku yang diamati di dalam sistem. Pemahaman
tentang substansi hukum adalah sebagai berikut:…”Another aspect of the
legal system is its substance. By this means the actual rules, norms behavioral pattens of the people inside the system….the strees here is on
living law not just rules in law goods.” (Lawrence M.Friedman, 1984 :7).
Aspek lain dari sistem hukum adalah substansinya. Yang dimaksud dengan substansi adalah aturan, norma, dan pola prilaku nyata manusia
yang berada dalam sistem itu. Jadi substansi hukum (legal substance)
menyangkut peraturan perundang-undangan yang berlaku yang memiliki kekuatan yang mengikat dan menjadi pedoman bagi aparat penegak hukum.
Substansi atau materi dari suatu produk peraturan perundangan merupakan faktor yang cukup penting untuk diperhatikan dalam penegakan hukum, tanpa substansi atau materi yang baik dari suatu peraturan perundangan rasanya sangat sulit bagi aparatur penegak hukum untuk dapat menegakkan peraturan perundangan secara baik pula, dan hal tersebut sangat ditentukan atau dipengaruhi ketika proses penyusunan suatu peraturan perundangan dilakukan. Suatu produk peraturan perundangan dapat dikatakan baik apabila hal-hal yang diatur dalam peraturan perundangan tersebut dirumuskan secara jelas, tegas, sistematis dan mudah untuk dimengerti oleh semua pihak, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda bagi setiap orang (subjek hukum) yang membaca peraturan perundangan tersebut (M.Syamsudin, 2009: 53).
c. Komponen budaya hukum (legal culture)
Menurut Lawrence M. Friedman mengemukakan tentang budaya
hukum bahwa…”The third component of legal system of legal culture. By
this we mean people’s attitudes toward law and the legal system their bilief, in other word, is the eliminate of social though and social force
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
which determines how law is used avended and afused” (Lawrence
M.Friedman, 1984 :7).
Budaya hukum (legal culture) merupakan sikap manusia (termasuk
budaya hukum aparat penegak hukumnya) terhadap hukum dan sistem hukum. Sebaik apapun penataan struktur hukum untuk menjalankan aturan hukum yang ditetapkan dan sebaik apapun kualitas substansi hukum yang dibuat, tanpa didukung oleh budaya hukum oleh orang-orang yang terlibat dalam system dan masyarakat maka penegakan hukum tidak akan berjalan dengan efektif (M.Syamsudin, 2009: 53).
Terkait dengan budaya hukum, Lawrence M. Friedman membedakan menjadi dua bagian, yaitu:
1) Budaya hukum eksternal (external legal culture)
2) Budaya hukum internal (internal legal culture)
Budaya hukum eksternal adalah budaya hukum dari masyarakat secara umum sedangkan budaya hukum internal adalah budaya hukum dari kelompok orang-orang yang mempunyai profesi di bidang hukum seperti hakim, birokrat dan lain-lainya. Menurut Friedman, kekuatan-kekuatan sosial secara terus menerus mempengaruhi sistem hukum, kadang-kadang ia merusak, memperbarui, memperkuat, atau memilih untuk lebih menampilkan segi-segi tertentu. Dalam melihat hukum sebagai suatu sistem yang terdiri dari unsur-unsur sebagaimana dikemukakan oleh Lawrence M. Friedman yaitu struktur, substansi dan kultur atau budaya, dimana unsur-unsur yang satu dengan yang lainya saling mempengaruhi dalam bekerjanya hukum pada kehidupan sehari-hari. Perubahan-perubahan sosial yang serba cepat dan perkembangannya yang tidak sama dalam kebudayaan, mengakibatkan ketidakmampuan banyak individu untuk menyesuaikan diri, mengakibatkan timbulnya disharmoni, konflik-konflik eksternal dan internal, juga terjadinya disorganisasi dalam
commit to user
masyarakat dalam diri pribadi. Perbuatan-perbuatan ini berupa penyimpangan dari pola-pola umum yang berlaku.
Ketiga komponen ini sangat berpengaruh dalam penegakan hukum. Jika salah satu komponen saja tidak berfungsi dengan baik maka dapat dipastikan penegakan hukum dalam masyarakat akan menjadi lemah. Selanjutnya Friedman mengatakan bahwa unsur sistem hukum tidak terdiri dari struktur dan substansi, masih diperlukan unsur ketiga yaitu budaya hukum (M.Syamsudin, 2009: 53).
Dalam perkembangannya, Friedman menambahkan pula komponen
yang ke-empat, yang disebut komponen dampak hukum (legal impact).
Dengan komponen dampak hukum ini yang dimaksudkan adalah dampak dari suatu keputusan hukum yang menjadi objek kajian peneliti. Berkaitan dengan
budaya hukum (legal culture) ini, menurut Roger Cotterrell, konsep budaya
hukum itu menjelaskan keanekaragaman ide tentang hukum yang dalam berbagai masyarakat dan posisinya dalam tatanan sosial. Ide-ide ini menjelaskan tentang praktik-praktik hukum, sikap warga negara terhadap hukum dan kemauan dengan ketidakmauannya untuk mengajukan perkara, dan signifikasi hukum yang relative, dalam menjelaskan pemikiran dan prilaku yang lebih luas di luar praktik dan bentuk diskursus khusus yang terkait dengan lembaga hukum. Dengan demikian, variasi budaya hukum mungkin mampu menjelaskan banyak tentang perbedaan-perbedaan cara dimana lembaga hukum yang nampak sama dapat berfungsi pada masyarakat yang berbeda.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user