TINJAUAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI
1) Teori George C.Edwards III (1980)
Dalam pandangan Edwards III, implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variabel, yakni komunikasi, sumberdaya, disposisi, struktur birokrasi. Keempat variabel tersebut juga saling berhubungan satu sama lain.
1. Komunikasi
Keberhasilan implementasi kebijakan mensyaratkan agar implementator mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target group) sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran.
commit to user
Faktor Penentu Implementasi menurut Edward III Komunikasi
Sumberdaya
Implementasi
Disposisi
Struktur Birokrasi
Sumber : Edwards III, 1980: 148 dalam Indiahono,D (2009:33) 2. Sumber daya
Apabila isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konstiten, dan implementator kekurangan sumber daya untuk melaksanakan makan implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumber daya bisa berwujud SDM, yakni kompetensi implentator, dan sumber daya finansial. Sumberdaya adalah faktor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumberdaya, kebijakan hanya tinggl di kertas menjadi dokumen saja.
3. Disposisi
Dispososi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki leh kompetitor seoerti komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Apabila implementator
commit to user
memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kbijakan dengan baik seperti apa yang yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor mrmiliki sikap atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.
4. Struktur birokrasi
Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadp implementasi kebijakan. Salah satu dari aspek struktur yang terpenting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur operasi yang standar (SOP). SOP menjadi pedoman penting bagi setiap implementator untuk bertindak. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung memperlemah pengawasan dan menimbulkan red-tape yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks. Ini menyebabkan aktivitas organisasi tidak fleksibel.
2)Teori Merilee S. Grindle (1980)
Keberhasilan implementasi menurut Grindle dalam Indiahono,D (2009:31) dipengaruhi oleh dua variabel besar yakni :
1. Variabel isi kebijakan
a)Sejauh mana kepentingan kelompok sasaran termuat dalam isi kebijakan
commit to user
c)Sejauh mana perubahan yang diinginkan dari sebuah kebijakan
d)Apakah letak sebuah program sudah tepat
e)Apakah sebuah kebijakan telah menyebutkan implemntatornya dengan rinci
f) Apakah sebuah program didukung sumberdaya yang memadai
2. Variabel lingkungan implementasi
a)Sebarapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan
b)Krakter institusi dan rezim yang sedang berkuasa c)Tingkat kepatuhan dan responsivitas kelompok sasaran. Implementasi sebagai Proses Politik dan Administrasi
Tujuan yang dicapai?
Program Aksi dan Protes individu yang didesain
dan didanai
Mengukur Keberhasilan
Tujuan Kebijakan Implementasi Kebijakan dipengaruhi
oleh :
a. Isi Kebijakan
1. Kepentingan kelompok sasaran 2. Tipe manfaat
3. Derajad perubahan yang diinginkan
4. Letak pengambilan keputusan 5. Pelaksanaan program
6. Sumberdaya yang dilibatkan b. Lingkunagn implementasi
1. Kekuasaan, kepentingan dan stratei actor yang terlibat 2. Karakteristik lembaga dan
penguasa
3. Kepatuhan dan daya tanggaap
Program yang dilaksankan sesuai rencana Hasil Kebijakan : a. Dampak pada masyarakat, kelopmpok dan individu b. Perubahan dan penerimaan masyarakat
commit to user
3) Teori Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn (1975)
Model implementasi kebijakan menurut van Meter dan Van Horn dalam Indiahono,D (2009:40)
Disposisi implementor adalah mencakup 3 hal yang penting yakni
a) Respon implementor terhadap kebijakan yang akan mempengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan b) Kognisi yakni pemahamannya terhadap kebijakan
c) Intensitas disposisi implementor yakni preferensi nilai yang dimiliki oleh implementor
Ukuran dan tujuan kebijakan
Komunikasi antar organisasi dankegiatan pelaksanaann
Sumber daya
Karakteristik badan
pelaksana Disposisi pelaksana
Lingkungan ekonomi social politik
Kinerja implementasi
commit to user
4) Teori Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier (1983) variabel-variabel yang mempengaruhi proses implementasi
Sumber : dalam Wahab, Solichin Abdul, 2004:81 Mudah atau tidaknya masalah dikendalikan :
1. Kesulitan teknis
2. Keragaman perilaku kelompok sasaran
3. Prosentase kelompok sasaran disbanding jumlah populasi 4. Ruang lingkup perubahan
Tahap-tahap dalam proses implementasi (VARIABEL TERGANTUNG)
Output kebijakan kepatuhan terhadap dampak nyata dampak output perbaikan
Dari badan-badan kelompok sasaran output kebijakan kebijakan sebagaiana mendasar Variable diluar kebijaksanaan yang mempengaruhi proses implementasi :
1. Kondisi sosio ekonomi dan teknologi 2. Dukungan public
3. Sikap dan sumber-sumber yang dimiliki kelompok pemilih 4. Dukungan dari pejabat atasan 5. Komitmen dan keterampilan
kepemimpinan pejabat-pejabat Kemampuan kebijaksanaan untuk
menstrukturkan proses implementasi :
1. Kejelasan dan konstitensi tujuan 2. Digunakannya teori kausal yang memadai 3. Ketepatan alokasi sumber daya 4. Keterpaduan hireakidalam dan antara
lembaga pelaksana
5. Aturan-aturan keputusan dan badan pelaksana
commit to user 2) Konsep Outsourcing
a) Definisi Konsep
1. Perusahaan Pengguna (user)
Adalah perusahaan yang memiliki pekerjaan dan memerlukan jasa perusahaan lain untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya. 2. Perusahaan Pemborong
Adalah perusahaan yang mengerjakan pekerjaan perusahaan lain. Dalam menjalankan kegiatannya, perusahaan pemborong memiliki hubungan kerja dengan pekerja, sedangkan hubungan antara perusahaan pengguna dan pemborong hanyalah terkait dengan pekerjaan yang diborongkan tersebut.
3. Perusahaan Penyedia Tenaga Kerja
Adalah perusahaan yang menyediakan pekerja untuk bekerja pada perusahaan pengguna.diperusahaan penyedia tenaga kerja, tenaga kerja menjalankan tugas-tugas yang diberikan perusahaan pengguna, sedangkan system pembayaran upah dilakukan oleh perusahaan pemberi kerja kepada perusahaan penyedia tenaga kerja, lalu perusahaan penyedia membayar upah kepada para tenaga kerja.
4. Tenaga Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
commit to user (dalam Nurachmad ST, Much 2009:13)
5. Outsourcing pekerjaan yaitu perjanjian pemborongan pekerjaan (perusahaan pemborong)
6. Outsourcing pekerja tidak dapat diterapkan perjanjian pemborongan kerja karena yang dialihkan adalah tugas tenaga kerjanya. Maksudnya, bagian fungsi-fungsi tersebut dari perusahaan dikerjakan oleh pekerja dari luar perusahaan, dimana pekerja tersebut terikat hubungan dengan perusahaan outsourcing yang kegiatan usahanya adalah menyediakan jasa tenaa kerja. (biasanya meliputi cleaning service, tenaga keamanan)
7. Tenaga kerja outsourcing adalah tenaga kerja yang dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memproduksi atau melaksanakan suatu pekerjaan pada perusahaan tersebut, yang diperoleh melalui perusahaan penyedia tenaga kerja. Misalnya seorang tenaga kerja yang bernama A melamar kepada perusahaan outsourcing perusahaan X. Kemudian dari perusahaan X ia dikirimkan ke perusahaan Y, yaitu perusahaan pengguna tenaga kerja outsourcing untuk bekerja sebagai tenaga administrasi. Meskipun ia bekerja di perusahaan dan melaksanakan tugas untuk perusahaan Y, A tetap berstatus sebagai tenaga kerja perusahaan X. Dengan demikian dapat diketahui bahwa perusahaan Y tidak mempunyai hubungan kerja dengan secara langsung dengan tenaga kerja yang bekerja
commit to user
padanya, hubungannya hanya melalui perusahaan penyedia tenaga kerja outsourcing.
b) Kerja Permanen atau Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT)
Kerja permanen adalah hubungan kerja yang tidak ditetapkan jangka waktunya. Menurut Pasal 50 UU No. 13 Tahun 2003, hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja/buruh, dari redaksi pasal ini dapat diambil pengertian, pertama unsur utama pembentuk hubungan kerja adalah perjanjian kerja atau dengan kata lain syarat agar dapat dikatakan adanya hubungan kerja adalah adanya perjanjian kerja. Dengan demikian untuk mengetahui pola hubungan kerja yang ada harusnya merujuk pada perjanjian kerja, termasuk mengenai jangka waktu perjanjian. Pasal 56 ayat (1) UUK menyebutkan bahwa Perjanjian kerja dapat dibuat untuk waktu tertentu atau untuk waktu tidak tertentu. Membaca Pasal ini saja akan menimbulkan penafsiran bahwa ada kebebasan para pihak untuk membuat perjanjian kerja apakah berupa PKWTT atau PKWT, padahal sesungguhnya tidaklah demikian oleh karena dalam pasal-pasal berikutnya dapat ditemukan bahwa ternyata ada kondisi dan syarat yang ditentukan agar suatu hubungan kerja dapat dilakukansecara permanen maupun berjangka waktu. Hubungan kerja permanen dilakukan apabila:
§ Pekerjaan yang sifatnya terus menerus dan tidak terputus-putus; § Pekerjaan tidak dibatasi waktu;
commit to user
§ Pekerjaan itu merupakan bagian dari suatu proses produksi dalamsatu perusahaan atau pekerjaan yang bukan musiman.
Sedangkan pekerjaan yang bukan musiman adalah
§ Pekerjaan yang tidak tergantung cuaca atau suatu kondisi tertentu.(Penjelasan Pasal 59 ayat (2) UU 13 TAhun 2003).
§ Selain itu PKWTT juga dapat terjadi apabila dalam suatu hubungan kerja tidakmencantumkan jangka waktu dalam PKWT maka secara otomatis hubungan kerja itu menjadi PKWTT.
§ Dalam Pasal 57 ayat (2) yang menyatakan bahwa:
“perjanjian kerja untuk waktu tertentu (istilah UU adalah PKWT) yang dibuat tidak tertulis dinyatakan sebagai perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu.”
c) Tenaga kerja Kontrak
Definisi Contracting/kontrak dalam Indrajit, R.E dan Djokopranoto, R (2006:35) adalah bentuk penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga yang paling sederhana dan merupakan bentuk yang paling lama. Biasanya ini menyangkut kegiatan yang sederhana atau jenis layanan tingkat rendah, seperti pembersihan kantor, pemeliharaan rumput, dan halaman/kebun. Selain bersifat sederhana dapat juga yang sifatnya dapat dihitung volume pekerjaannya. Langkah ini adalah langkah jangka pendek, hanya mempunyai arti taktis. Langkah ini juga bukan merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengambil posisi dalam pasar, tetapi sekedar mencari praktis saja. Oleh
commit to user
karena sifat pekerjaan yang sangat sederhana maka pemilihan pemberi jasa bukan merupakan masalah serius, dengan latihan sebentar dapat melakukan pekerjaan tersebut.
Pekerjaan kontrak adalah hubungan kerja berdasarkan perjanjian kerja untuk melakukan pekerjaan tertentu dan dalam waktu tertentu. Mengapa dikatakan demikian oleh karena dalam hubungan kerja ini jenis pekerjaan dan jangka waktu pekerjaan memang telah ditentukan secara khusus dalam UU. Jenis pekerjaan yang dapat di PKWT menurut Pasal 59 ayat (1) ditentukan menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu yang dalam hal ini ditentukan yaitu:
a) Pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;
b) Pekerjaaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun;
c) Pekerjaan yang bersifat musiman; atau
d) Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.
Selain itu dalam Penjelasan Pasal 59 ayat (2) menyebutkan bahwa suatu pekerjaan yang dikategorikan sebagai pekerjaan yang bersifat tetap (pekerjaan yang terus menerus, tidak terputus-putus, tidak dibatasi waktu, dan merupakan bagian dari suatu proses produksi) dapat masuk dalam kategori pekerjaan musiman apabila tergantung cuaca atau pekerjaan itu dibutuhkan karena adanya suatu kondisi tertentu sehingga dapat menjadi objek PKWT. Ketentuan dalam Pasal 59 ayat (1) dan (2) ini akan menjadi kabur manakala dikaitkan
commit to user
dengan Pasal 56 ayat (2) yang menentukan bahwa PKWT adalah Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang didasarkan atas :
a) Jangka waktu; atau
b) Selesainya suatu pekerjaan tertentu.
Kekaburan yang timbul adalah bahwa dari pasal 56 ayat (2) PKWT dapat dibuat berdasarkan jangka waktu ataupun berdasarkan pada selesainya pekerjaan itu. Jika PKWT dapat dibuat berdasarkan jangka waktu maka yang kemudian terjadi adalah PKWT diterapkan pada jenis pekerjaan yang bukan dikategorikan dalam Pasal 59 ayat (1) dan (2) di atas, akibatnya di lapangan dapat ditemukan adanya praktek PKWT yang menyimpang di mana pekerja dengan status pekerja kontrak juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh para pekerja/buruh dengan status PKWTT/permanen.
Secara singkat gambaran konsep tenaga kerja kontrak sebagai berikut : Gambar 2.1
User menghubungi beberapa vendor dan menawarkan ke vendor dengan pihak user memberi HPS (harga perkiraan sementara ). Baik lewat tender/penunjukkan langsung Vendor/penyedia tenaga kerja yang ditunjuk menjadi rekanan
Perusahaan pengguna (user) membutuhkan jasa tenaga cleaning service untuk 4 gedung dan user memberikan rincian harga per lantai, kaca, ruangan, dll. (ada volume pekerkerjaan) Vendor merekrut tenaga kerja untuk bekerja di PT. PLN sebagai cleaning service Tenaga kerja kontrak
commit to user
Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa tenaga kerja kontrak merupakan tenaga kerja yang statusnya bekerja untuk vendor dan oleh vendor dipekerjakan di perusahaan pengguna ( PT. PLN) sebagai cleaning service, yang sebelumnya sudah terjadi kesepakatan antara perusahaan pengguna dengan vendor mengenai volume pekerjaan dan kesepakatan harga. Dan masalah gaji/jumlah tenaga kerja menjadi tanggung jawab vendor.
d) Outsourcing
Istilah outsourcing berasal dari kata ”out” dan ”source” yang berarti sumber dari luar (pihak ketiga) untuk bertanggung jawab terhadap proses atau jasa yang sebelumnya dilakukan oleh perusahaan. Bisa juga didefinisikan sebagai membeli barang atau jasa yang sebelumnya disediakan secara internal (Swink, 1999; Smith et al, 1996; Lankford and Parsa, 1999; Elmuti and kathwala,2000; dalam Franceschini et al.,2003).
Outsourcing dalam Indrajit, R.E dan Djokopranoto, R (2006:35) adalah penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja perusahaan yang professional dan berkelas dunia. Oleh karena itu, pemilihan pemberi jasa merupakan hal yang sangat vital. Diperlukan pemberi jasa yang menspesialisasikan dirinya pada jenis pekerjaan atau aktivitas yang akan diserahkan. Dengan demikian diharapkan bahwa kompetensi utamanya juga berada dijenis pekerjaan tersebut. Disertai pengendalian yang tepat. Pemberi jasa diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.
commit to user
Di dalam Undang-Undang tidak menyebutkan secara tegas mengenai istilah outsourcing. Tetapi pengertian outsourcing dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 64 Undang-Undang ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, yang isinya menyatakan bahwa outsourcing adalah suatu perjanjian kerja yang dibuat antara pengusaha dengan tenaga kerja, dimana perusahaan tersebut dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis. Dalam Małgorzata Koszewska Autex Research Journal, Vol. 4, No4, December 2007 sebagai berikut :
“In the literal sense, outsourcing denotes utilisation of external resources. It occurs when the execution of tasks, functions and processes hitherto fulfilled in-house is commissioned to an external provider specialising in a given area on the basis of long-term co-operation”.
Outsourcing adalah sebuah pola kerja dengan cara mendelegasikan operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis/kerja pada pihak lain di luar perusahaan yang menjadi penyedia jasa outsourcing. Dengan demikian dalam
outsourcing terjadi pendelegasian tugas dari perusahaan pemberi kerja pada perusahaan lain selaku penerima kerja untuk melakukan suatu pekerjaan yang diperlukan perusahaan pemberi. Atau dengan kata lain outsourcing atau alih daya merupakan proses pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk ke perusahaan lain diluar perusahaan induk. Perusahaan diluar perusahaan induk bisa berupa vendor, koperasi ataupun instansi lain yang diatur dalam suatu kesepakatan tertentu. Outsourcing dalam regulasi ketenagakerjaan bisa hanya mencakup tenaga kerja pada proses pendukung
commit to user
(non--core business unit) atau secara praktek semua lini kerja bisa dialihkan sebagai unit outsourcing. (Sumber : “Seputar Tentang Tenaga outsourcing”,( http://malangnet.wordpress.com)
Tetapi outsourcing tidak sekedar mengontrakkan secara biasa, tetapi jauh melebihi itu. Maurice F. Greaver II dalam Indrajit, R.E dan Djokopranoto, R (2006:2) memberikan definisi outsourcing sebagai berikut :
“ Outsourcing is the act of transferring some of a company’s recurring internal activities and decision rights to outside provider, as set forth in a contract. Because the activities are recurring and a contract is used, outsourcing goes beyond the use of consultants. As a matter of practise, not only are the activities transferred, but the factor of production and decision rights often are, too. Factors of production are the resources that make the activities occur and include people, facilities, equipment, technology, and the other asset. Decision rights are the responsibility for making decisions over certain elements of the activities transferred.”
Menurut Shreeveport Management Consultancy dalam Indrajit, R.E dan Djokopranoto, R (2006:2), outsourcing adalah
“ The transfer to a third party of the continuous management responsibility for the provision of a service governed by a service level agreement “ .
Menurut Ángel García-Crespo, Ricardo Colomo-Palacios, Juan Miguel Gómez-Berbís, Myriam Mencke. 2009. Dalam International Journal of Management Innovation Systems seperti berikut ini :
“Outsourcing has been applied in sectors such as manufacturing, cleaning, security, catering, transportation, maintenance engineering, finance and accounting, personnel administration, travel services, and information and communication technology (ICT)”.
commit to user
Outsourcing dapat diterapkan disektor manufacturing, cleaning service, security, catering, transportasi, operator mesin, keuangan, staff administrasi, pelayanan service, dan teknologi komunikasi. Untuk outsourcing dapat dibedakan menjadi 3 kategori yaitu outsourcing pekerjaan, outsourcing pekerja/personel, dan tenaga kerja outsourcing. Untuk sektor cleaning service, catering dan security itu masuk dalam kategori outsourcing pekerja (perosel).
Dari berbagai pengertian diatas maka dapat ditarik suatu definisi operasional mengenai outsourcing yaitu suatu bentuk perjanjian kerja antara perusahaan pengguna jasa dengan perusahaan penyedia jasa, dimana perusahaan pengguna jasa meminta kepada perusahaan penyedia jasa untuk menyediakan tenaga kerja yang diperlukan untuk bekerja di perusahaan pengguna jasa dengan membayar sejumlah uang dan upah atau gaji tetap dibayarkan oleh perusahaan penyedia jasa. Pengertian outsourcing yang digunakan oleh peneliti yaitu memborongkan atau mendelegasikan satu bagian atau beberapa bagian dari kegiatan perusahaan kepada perusahaan penyedia jasa eksternal. Misal perjanjian kerja antara perusahaan A sebagai pengguna jasa dengan perusahaan B sebagai penyedia jasa, dimana perusahaan A meminta kepada perusahaan B untuk menyediakan tenaga kerja yang diperlukan untuk bekerja di perusahaan A dengan membayar sejumlah uang dan upah atau gaji tetap dibayarkan oleh perusahaan B.
commit to user
Secara singkat Gambaran konsep outsourcing
Gambar 2.2
e) Kontrak jasa
Kontrak jasa yaitu pemberian pekerjaan atau penyerahan pekerjaan tertentu kepada pihak ketiga, di luar perusahaannya sendiri, dengan persyaratan dan pembayaran tertentu telah lama sekali dikenal, jauh sebelum konsep outsourcing diperkenalkan. Kesamaan antara kontrak jasa dengan
outsourcing yaitu : 1) keduanya merupakan penyerahan atau pemberian
Perusahaan pengguna (user). Membutuhkan 10 tenaga kerja untuk mengisi posisi sebagai staff administrasi. Dan user memberikan criteria tenaga kerja yang diinginkan.
Setelah proses negosiasi selesai, pihak vendor yang ditunjuk menjadi rekanan kemudian menyediakan 10 tenaga kerja (staff administrasi). Disini ada transfer sumber daya manusia
Perusahaan pengguna (user) menghubungi para vendor untuk menyediakan tenaga kerja staff administrasi. Dengan bernegosiasi mengenai masalah harga per orang.
Tenaga kerja (staff administrasi) statusnya sebagai tenaga kerja
outsourcing milik vendor A dan
bekerja di perusahaan pengguna (user).
commit to user
pekerjaan pada pihak ketiga di luar organisasi perusahaan sendiri, 2) bahwa pemberian pekerjaan tersebut disertai dengan syarat pembayaran dan syarat-syarat lain, 3) bahwa keduanya mempunyai batasan yang jelas mengenai pekerjaan apa yang diberikan, dan 4) keduanya mempunyai batas waktu tertentu.
Tabel 2.1
Perbedaan pokok antara kontrak jasa dengan outsourcing.
NO Kontrak jasa Outsourcing
1 Mempunyai tujuan sekedar menyelesaikan pekerjaan tertentu
Mempunyai tujuan strategis jangka panjang
2 Sekedar menyerahkan tugas pada tugas pihak ketiga
Ingin menyerahkan pada pihak lain yang lebih profesional
3 Mungkin tidak dapat/tidak sempat mengerjakan sendiri
Ingin berkonsentrasi pada bisnis utama 4 Hubungan pemberi kerja
dengan kontraktor jangka pendek
Hubungan bersifat jangka panjang
5 Umumnya tidak menyangkut transfer sumber daya manusia
Sering kali disertai dengan transfer sumber daya manuasia
6 Hubungan pemberi kerja dengan kontraktor sekedar hubungan kerja biasa
Hubungan pemberi kerja dengan kontraktor berkembang menjadi hubungan kemitraan bisnis
7 Tujuan lebih bersifat jangka pendek
Jangka panjang 8 Umumnya tidak menyangkut
transfer peralatan atau asset perusahaab
Sering kali disertai dengan transfer peralatan atau perusahaan
commit to user f) Ketentuan outsourcing di Indonesia
Pelaksanaan strategi outsourcing di Indonesia diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 pasal 64,65,dan 66. Pasal 64 merupakan dasar diperbolehkannya strategi outsourcing, pasal 65 tentang teknis pelaksanaan outsourcing dan pasal 66 mengenai persyaratan yang harus dipenuhi perusahaan penyedia jasa (agen). Berikut bunyi pasal-pasal tersebut.
Pasal 59
1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu :
a) pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya; b) pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu
yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun; c) pekerjaan yang bersifat musiman; atau
d) pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.
2) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap.
3) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dapat diperpanjang atau diperbaharui.
4) Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya
commit to user
boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.
5) Pengusaha yang bermaksud memperpanjang perjanjian kerja waktu tertentu tersebut, paling lama 7 (tujuh) hari sebelum perjanjian kerja waktu tertentu berakhir telah memberitahukan maksudnya secara tertulis kepada pekerja/buruh yang bersangkutan.
6) Pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat diadakan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu yang lama, pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu ini hanya boleh dilakukan 1 (satu) kali dan paling lama 2 (dua) tahun.
7) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) maka demi hukum menjadi perjanjian kerja