• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.3 Teori Motivasi

II.3.3 Teori Kepuasan

Kepuasan merupakan sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai

pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi

kerja. Kepuasan kerja dapat dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan

kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan dalam pekerjaan adalah kepuasan

kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan memperoleh pujian hasil kerja,

penempatan, perlakuan, peralatan, dan suasana lingkungan kerja yang baik.

Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih

mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun balas jasa itu penting.

Pada teori kepuasan ini didukung juga oleh para pakar seperti Taylor yang

berbicara bahwa motivasi kerja hanya dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan kerja

baik secara biologis maupun psikologis. Yaitu bagaimana mempertahankan hidupnya.

Selain itu juga Teori Hirarki Kebutuhan (Need Hirarchi) dari Abraham Maslow yang

menyatakan bahwa motivasi kerja ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dan

kepuasan kerja baik secara biologis maupun psikologis, baik yang berupa materi

maupun non-materi.

Secara garis besar teori jenjang kebutuhan dari Maslow dari yang rendah ke

yang paling tinggi yang menyatakan bahwa manusia tidak pernah merasa puas,

karena kepuasannya bersifat sangat relatif maka disusunlah hirarki kebutuhan sebagai

berikut:

1. Kebutuhan pokok manusia sehari-hari misalnya kebutuhan untuk makan, minum,

pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan fisik lainnya (physical need). Kebutuhan

ini merupakan kebutuhan tingkat terendah, apabila sudah terpenuhi maka diikuti

oleh hirarki kebutuhan yang lainnya.

2. Kebutuhan untuk memperoleh keselamatan, keselamatan, keamanan, jaminan

atau perlindungan dari yang membayangkan kelangsungan hidup dan kehidupan

dengan segala aspeknya (safety need).

3. Kebutuhan untuk disukai dan menyukai, disenangi dan menyenangi, dicintai dan

mencintai, kebutuhan untuk bergaul, berkelompok, bermasyarakat, berbangsa

dan bernegara, menjadi anggota kelompok pergaulan yang lebih besar (esteem

4. Kebutuhan untuk memperoleh kebanggaan, keagungan, kekaguman, dan

kemasyuran sebagai seorang yang mampu dan berhasil mewujudkan potensi

bakatnya dengan hasil prestasi yang luar biasa (the need for self actualization).

Kebutuhan tersebut sering terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari melalui

bentuk sikap dan prilaku bagaimana menjalankan aktivitas kehidupannya

(Zainun, 1997).

5. Kebutuhan untuk memperoleh kehormatan, pujian, penghargaan, dan pengakuan

(esteem need).

Pengertian lain dikemukakan oleh Locke dalam Wahyuddin (2000), kepuasan

kerja adalah suatu keadaan emosional yang menyenangkan atau positif, sebagai

akibat dari pengalaman atau penilaian kerja seseorang. Kemudian dilanjutkannya

dengan mengatakan bahwa kepuasan kerja adalah suatu akibat dari persepsi tentang

bagaimana baiknya pekerjaan memberikan sesuatu yang berarti.

Feldman dalam Wahyuddin (2000), yang mengetengahkan lima dimensi

kepuasan kerja yang penting, yaitu:

1. Kompensasi;

2. Karir atau kesempatan untuk promosi jabatan;

3. Pekerjaan itu sendiri;

4. Penyelia atau supervisor; dan

II.3.3.1. Teori Keseimbangan (Equity Theory)

Teori ini dikembangkan oleh Adam. Adapun komponen dari teori ini adalah

input, outcome, comparison person, dan equity-in-equity. Wexley dan Yukl dalam

Mangkunegara (2001), menyatakan bahwa “input is anything of value that an

employee perceivess that he contributes to his job”. Input adalah semua nilai yang

diterima karyawan yang dapat menunjang pelaksanaan kerja, seperti pendidikan,

pengalaman, skill, usaha, peralatan pribadi, jumlah jam kerja “outcome is anything of

value that the employee perceives he obtains from the job”. Outcome adalah semua

nilai yang diperoleh dan dirasakan pegawai, seperti upah, keuntungan tambahan,

status simbol, pengenalan kembali (recognition), kesempatan untuk berkembang,

berprestasi dan mengekspresikan diri. Sedangkan “comparison person may be

someone in the same organization, someone in a different organization, or even the

person himself in a previous job”. Comparisaon person adalah seorang karyawan

dalam organisasi yang sama, seorang pegawai dalam organisasi yang berbeda atau

dirinya sendiri dalam pekerjaan sebelumnya.

Menurut teori ini puas atau tidak puasnya karyawan merupakan hasil dari

membandingkan antara input-out come dirinya dengan perbandingan input-out come

karyawan lain (comparison person). Jadi jika perbandingan tersebut dirasakan

seimbang (equity) maka karyawan tersebut akan merasa puas. Tetapi, apabila terjadi

over compensation inequity (ketidakseimbangan yang menguntungkan dirinya) dan,

karyawan lain yang menjadi pembanding), maka karyawan tersebut tidak akan

merasa puas.

II.3.3.2. Teori Pemenuhan Kebutuhan (Need Fullfillment Theory)

Menurut teori ini, kepuasan kerja karyawan bergantung pada terpenuhi atau

tidaknya kebutuhan karyawan. Karyawan akan merasa puas apabila ia mendapatkan

apa yang dibutuhkannya. Makin besar kebutuhan karyawan terpenuhi, makin puas

pula karyawan tersebut, begitu pula sebaliknya apabila kebutuhan tidak terpenuhi,

karyawan itu akan merasa tidak puas.

II.3.3.3. Teori Pandangan Kelompok Sosial (Sosial Reference Group Theory)

Menurut teori ini, kepuasan kerja karyawan bukanlah bergantung pada

pemenuhan kebutuhan saja, tetapi sangat bergantung pada pandangan dan pendapat

kelompok yang oleh para karyawan dianggap sebagai kelompok acuan. Kelompok

acuan tersebut oleh karyawan dijadikan tolok ukur untuk menilai dirinya ataupun

lingkungannya. Jadi karyawan akan merasa puas, apabila hasil kerjanya sesuai

dengan kelompok acuan.

II.3.3.4. Teori Existence, Relatedness, Growth (ERG) dari Alderfer

Teori ERG, merupakan refleksi dari tiga dasar kebutuhan, yaitu:

1. Existence needs, kebutuhan ini berhubungan dengan fisik dari eksistensi

karyawan, seperti makan, minum, pakaian, bernafas, gaji, keamanan, kondisi

kerja.

2. Relatedness needs, kebutuhan interpersonal, yaitu kepuasan dalam berinteraksi

3. Growth needs, kebutuhan untuk mengembangkan dan meningkatkan pribadi, hal

ini berhubungan dengan kemampuan dan kecakapan karyawan.

Daftar dari kebutuhan menurut Alderfer dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Teori ERG kurang menekankan pada susunan hierarki. Karyawan dapat

memuaskan lebih dari satu kebutuhan dalam waktu yang bersamaan.

Kepuasan terhadap suatu kebutuhan dapat menggambarkan peningkatan

kepada kebutuhan yang lebih tinggi.

b. Perubahan orientasi merupakan kegagalan dari kebutuhan yang lebih tinggi

dapat menunjukkan regresi dengan penambahan pada tingkat kebutuhan yang

lebih rendah.

Dokumen terkait