• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Teori Ketenagakerjaan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Teori Ketenagakerjaan

A. Pengertian Umum dan Konsep

Badan Pusat Statistik mendefinisikan tenaga kerja (manpower) sebagai seluruh penduduk dalam usia kerja (15 tahun keatas) yang berpotensi memproduksi barang dan jasa. Pada dasarnya tenaga kerja dikelompokan menjadi:

1) Angkatan Kerja

Angkatan kerja dapat dijelaskan dengan definisi yaitu angkatan kerja adalah jumlah tenaga kerja yang terdapat dalam suatu perekonomian pada suatu waktu tertentu.

2) Bukan Angkatan Kerja

Penduduk yang dikategorikan bukan angkatan kerja adalah penduduk berusia 10 tahun keatas yang selama seminggu hanya berskeolah, mengurus rumah tangga dan sebagainya dan tidak melakukan kegiatan yang dapat dikategorikan bekerja, sementara tidak bekerja atau mencari kerja, oleh sebab itu kelompok ini sering dinamakan potential labor force. (Sukirno, 2013)

BPS (Badan Pusat Statistik) membagi tenaga kerja (employed) dalam kategori sebagai berikut:

1) Tenaga kerja penuh (full employed), adalah tenaga kerja yang mempunyai

jumlah jam kerja > 35 jam dalam seminggu dengan hasil kerja tertentu sesuai dengan uraian tugas.

2) Tenaga kerja tidak penuh atau setengah pengangguran (under employed),

11

3) Tenaga kerja yang belum bekerja atau sementara tidak bekerja

(unemployed), adalah tenaga kerja dengan jam kerja 0 > 1 jam perminggu.

Tenaga kerja secara definitif tidak bisa disamakan dengan penyerapan tenaga kerja karena didalam tenaga kerja masih terdapat kategori penduduk yang belum bekerja atau sementara tidak bekerja. Hal ini diperkuat oleh Sudarsono (2007) yang mengungkapkan bahwa penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah angkatan kerja yang sudah bekerja di satu daerah. Penyerapan tenaga kerja dapat diartikan juga sebagai lapangan pekerjaan yang sudah terisi dan tercermin dalam banyaknya jumlah penduduk yang sudah bekerja. Penelitian ini lebih menekankan pada penyerapan tenaga kerja itu sendiri dari pada tenaga kerja secara umum.

B. Permintaan Tenaga Kerja

Menurut Aris Ananta (2008) permintaan tenaga kerja sebagai sebuah daftar berbagai alternatif kombinasi tenaga kerja dengan input lainnya yang tersedia yang berhubungan dengan tingkat gaji, sedangkan menurut Sudarsono (2009) permintaan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan atau instansi tertentu. Biasanya permintaan tenaga kerja ini dipengaruhi oleh perubahan tingkat upah dan perubahan faktor-faktor lain yang mempengaruhi permintaan hasil produksi, antara lain naik turunnya permintaan pasar akan hasil produksi dari perusahaan yang bersangkutan, tercermin melalui besarnya volume produksi dan harga barang-barang modal yaitu nilai mesin atau alat yang digunakan dalam proses produksi. Permintaan pengusaha atas tenaga kerja berlainan dengan permintaan konsumen terhadap barang dan jasa.

Permintaan dalam konteks ekonomi diartikan sebagai jumlah maksimum barang atau jasa yang ingin dibeli pembeli pada berbagai kemungkinan harga dalam jangka waktu tertentu (Sudarsono, 1990). Dalam hubungan Sejauh menyangkut tenaga kerja, permintaan tenaga kerja adalah hubungan antara tingkat upah dan jumlah pekerja yang diharapkan oleh majikan untuk dipekerjakan. Oleh karena itu, permintaan tenaga kerja dapat didefinisikan

12 sebagai jumlah pekerja yang dipekerjakan oleh pengusaha pada berbagai tingkat upah yang mungkin dalam jangka panjang. Jumlah waktu tertentu.

Gambar 2. 1 Pasar Tenaga Kerja

Kurva penawaran dan permintaan tenaga kerja pada gambar diatas mewakili jumlah tenaga kerja yang ingin ditawarakan oleh rumah tangga dan jumlah tenaga kerja yang ingin diperkerjakan pada tiap tingkat upah tertentu (Case and Fair, 2007).

Konsumen membeli barang karena barang itu memberikan kepuasan (utility) kepada konsumen tersebut. Akan tetapi pengusaha mempekerjakan seseorang itu membantu memproduksikan barang atau jasa untuk dijual kepada masyarakat. Dengan kata lain, permintaan pengusaha terhadap tenaga kerja tergantung dari pertambahan permintaan masyarakat terhadap barang yang diproduksinya. Permintaan tenaga kerja yang seperti ini disebut derived demand. Dalam proses produksi, tenaga kerja memperoleh pendapatan sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukannya, yaitu berwujud upah, sehingga pengertian permintaan tenaga kerja dapat diartikan sebagai jumlah tenaga kerja yang diminta oleh pengusaha pada berbagai tingkat upah.

Permintaan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan atau terserap oleh perusahaan atau instansi tertentu. Menurut Sumarsono, faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan tenaga kerja adalah:

13

1) Perubahan tingkat upah

Perubahan tingkat upah akan mempengaruhi tinggi rendahnya biaya produksi perusahaan. Naiknya tingkat upah akan menaikkan biaya produksi perusahaan selanjutnya akan meningkatkan pula harga per unit produksi.

Biasanya para konsumen akan memberikan respon yang cepat apabila terjadi kenaikan harga barang, yaitu mengurangi monsumsi atau bahkan tidak membeli sama sekali. Akibatnya banyak hasil produksi yang tidak terjual dan terpaksa produsen mengurangi jumlah produksinya. Turunnya target produksi mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan. Penurunan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan karena pengaruh turunnya skala produksi disebut dengan efek skala produksi atau scale effect.

Apabila upah naik dengan asumsi harga dari barang-barang modal lainnya tidak berubah, maka pengusaha ada yang lebih suka menggunakan teknologi padat modal untuk proses produksinya dan menggantikan kebutuhan akan tenaga kerja dengan kebutuhan akan barang-barang modal seperti mesin dan lain-lain. Penurunan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan karena adanya penggantian atau penambahan penggunaan mesin-mesin disebut efek substitusi tenaga kerja atau substitution effect.

2) Perubahan permintaan hasil akhir produksi oleh konsumen

Apabila permintaan akan hasil produksi perusahaan meningkat, perusahaan cenderung untuk menambah kapasitas produksinya, untuk maksud tersebut perusahaan akan menambah penggunaan tenaga kerjanya

3) Harga barang modal turun

Apabila harga barang modal turun maka biaya produksi turun dan tentunya mengakibatkan harga jual barang per unit ikut turun. Pada keadaan ini perusahaan akan cenderung meningkatkan produksinya karena

14 permintaan hasil produksi bertambah besar, akibatnya permintaan tenaga kerja meningkat pula.

C. Teori Ketenagakerjaan

Terdapat beberapa teori penting dalam kaitannya dengan masalah ketenagakerjaan. Adapun teori-teori tersebut antara lain:

1. Teori Klasik Adam Smith (1776)

Dalam hal ini teori klasik Adam Smith juga melihat bahwa alokasi sumber daya manusia yang efektif adalah pemula pertumbuhan ekonomi. Setelah ekonomi tumbuh, akumulasi modal (fisik) baru mukai dibutuhkan untuk menjaga agar ekonomi tumbuh. Dengan kata lain, alokasi sumber daya manusuia yang efektif merupakan syarat perlu (necessary condition) bagi pertumbuhan ekonomi.

2. Teori Malthus (1798)

Thomas Robert Malthus mengungkapkan bahwa manusia berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia berkembang sesuai dengan deret ukur, sedangkan produksi makanan hanya meningkat sesuai dengan deret hitung.

Malthus juga berpendapat bahwa jumlah penduduk yang tinggi pasti mengakibatkan turunnya produksi perkepala dan satusatunya cara untuk menghindari hal tersebut adalah melakukan kontrol atau pengawasan pertumbuhan penduduk. Beberapa jalan keluar yang ditawarkan oleh Malthus adala dengan menunda usia perkawinan dan mengurangi jumlah anak. Jika hal ini tidak dilakukan maka pengurangan penduduk akan diselesaikan secara alamiah antara lain akan timbul perang, epidemi, kekurangan pangan dan sebagainya.

15 Keynes berpendapat bahwa dalam kenyataan pasar tenaga kerja tidak bekerja sesuai dengan pandangan klasik. Dimanapun para pekerja mempunyai semacam serikat kerja (labor union) yang akan berusaha memperjuangkan kepentingan buruh dari penurunan tingkat upah. Kalaupun tingkat upah diturunkan tetapi kemungkinan ini dinilai keynes kecil sekali, tingkat pendapatan masyarakat tentu akan turun. Turunnya pendapatan sebagian anggota masyarakat akan menyebabkan turunnya daya beli masyarakat, yang pada gilirannya akan menyebabkan konsumsi secara keseluruhan berkurang. Berkurangnya daya beli masyarakat akan mendorong turunnya hargaharga.

Jika harga-harga turun, maka kurva nilai produktivitas marjinal labor (marginal value of productivity of labor) yang dijadikan sebagai patokan oleh pengusaha dalam mempekerjakan labor akan turun. Jika penurunan harga tidak begitu besar maka kurva nilai produktivitas hanya turun sedikit. Meskipun demikian jumlah tenaga yang bertambah tetap saja lebih kecil dari jumlah tenaga kerja yang ditawarkan. Labih parah lagi jika harga-harga truun drastis, ini menyebabkan kurva nilai produktivitas marjinal labor turun drastis pula dan jumlah tenaga kerja yang tertampung menjadi semakin kecil dan pengangguran menjadi semakin luas.

4. Teori Harrord-Domar (1939 & 1947)

Dalam teori Harrord-Domar ini merupakan pengembangan dari teori hasil analisis Keynes mengenai kegiatan ekonomi dan permasalaha ketenagakerjaan. Menurutnya teori Keynes kurang memperhatikan masalah ekonomi jangka panjang. Dalam Teori Harrord-Domar ini menganilisis syarat yang diperlukan agar ekonomi bias tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang.

Menurut teori ini investasi tidak hanya menciptakan permintaan, akan tetapi juga memperbesar kapasitas produksi. Kapasitas produksi yang membesar membutuhkan permintaan yang lebih besar pula agar produksi

16 tidak menurun. Jika kapasitas yang membesar tidak diikuti dengan permintaan yang besar, surplus akan muncul dan disusul penurunan jumlah produksi.

Gambar 2. 2 Kurva Fungsi Produksi Harrord-Domar

Dalam kurva fungsi Harrord-Domar dijelaskan bahwa tingkat modal dan tenaga kerja hanya akan menghasilkan tingkat output tertentu sehimgga kurvanya membentuk huruf L, dalam hal ini untuk menghasilkan output sebesar Q2 dibutuhkan modal dan tingkat tenaga kerja di tingkat L1 dan K2.

Fungsi persamaan Harrord-Domar:

∆𝑌

𝑌 =

𝑠 𝑘

Dari fungsi persaaman diatas dapat adalah fungsi persmaan yang sederhana atau lebih tepatnya versi sederhana dari fungsi persamaan Harrord-Domar yang terkenal, dimana dapat diartikan tingkat pertumbuhan GDP (∆𝑌 𝑌⁄ ) ditentukan secara serentak oleh rasio tabungan nasional(s), serta rasio modal-output nasional(k). pengertian persamaan diatas cukup sederhana dimana agar bias pertumbuhan perekonomian itu dapat tumbuh

17 dengan pesat, maka setiap perkenomoian harus menabung dan menginvestasikan sebanyak mungkin dari GDP-nya.

5. Teori Ester Boserup (1965)

Boserup percaya bahwa pertumbuhan penduduk sebenarnya telah menyebabkan penggunaan sistem pertanian yang lebih intensif di masyarakat. Meningkatkan output sektor pertanian. Boserup juga percaya bahwa pertumbuhan penduduk mengarah pada pilihan sistem teknologi Tingkat pertanian lebih tinggi. Dengan kata lain, inovasi (teknologi) diutamakan. Hanya ketika populasi lebih besar, inovasi dapat menguntungkan. Boserup percaya bahwa inovasi dapat meningkatkan output pekerja, tetapi hanya jika jumlah pekerja banyak. Pertumbuhan penduduk justru mendorong diterapkannya inovasi-inovasi baru (teknologi) (Mulyadi, 2003).

Dalam keseluruhan teori tenaga kerja dan pertumbuhan yang mendominasi sebagian besar teori pembangunan pada 1950-an dan 1960-an dan awal 1980-an, ekonomi sisi penawaran disebut ekonomi sisi penawaran, yang berfokus pada kebijakan yang meningkatkan output nasional melalui akumulasi modal. Karena model ini menghubungkan tingkat kesempatan kerja dengan tingkat pertumbuhan GNP, yaitu memaksimalkan pertumbuhan GNP dan kesempatan kerja melalui pemaksimalan lapangan kerja. Tingkat tabungan dan tingkat investasi

18

Dokumen terkait