TINJAUAN PUSTAKA
D. Teori Keynes dan Pasca Keynes
Menurut Keynes, karena upah bergerak lamban, maka sistem kapitalisme tidak akan secara otomatis menuju kepada keseimbangan penggunaan tenaga kerja secara penuh (full-employment equilibrium). Akibat yang ditimbulkan justru sebaliknya (equilibrium underemployment) yang dapat diperbaiki melalui kebijakan fiskal atau moneter untuk meningkatkan permintaan agregat. Aliran Pasca Keynes memperluas Teori Keynes menjadi teori ouput dan kesempatan kerja dalam jangka panjang, yang menganalisis fluktuasi jangka pendek untuk mengetahui adanya perkembangan jangka panjang. Apabila jumlah penduduk bertambah, maka pendapatan perkapita akan berkurang, kecuali bila pendapatan riil juga bertambah.
Selanjutnya bila angkatan kerja berkembang, maka output harus bertambah juga untuk mempertahankan kesempatan kerja penuh. Bila terjadi investasi, maka pendapatan riil juga harus bertambah pula untuk mencegah terjadinya kapasitas yang menganggur (idle capacity) Adisasmita (dalam Tapparan, 2020:69).
Kenaikan investasi dan pendapatan ini disebut multiplier K. Multiplier ini memperlihatkan hubungan yang tepat, berkat adanya kecenderungan berkonsumsi, antara pekerjaan agregat dan pendapatan agregat dengan tingkat investasi (Jhingan, 2016:134). Rumusnya ialah ΔY = KΔI, dan 1-1/K mewakili kecenderungan marginal
24
mengkonsumsi. Jadi pengali K = 1/1- MPC. Karena kecenderungan marginal berkonsumsi turun, berkat adanya kenaikan pendapatan, maka diperlukan suntikan investasi dengan dosis besar guna memperoleh tingkat pendapatan dan pekerjaan yang lebih tinggi dalam perekonomian.
2.2 Infrastruktur
2.2.1 Pengertian Infrastruktur
Infrastruktur (infrastructure) menurut Oxford Dictionaries (dalam Mulyo et al, 2018:1) adalah struktur fisik dan organisasi dasar seperti bangunan, jalan, pasokan energi yang diperlukan untuk beroperasinya masyarakat dan institusi. Dari defenisi ini infrastruktur dibagi dalam 7 kelompok yaitu:
1. Transportasi (jalan raya, jembatan)
2. Pelayanan transportasi (bandara, pelabuhan, terminal) 3. Pengairan (saluran air, sistem pengairan, bendungan) 4. Pengelolaan limbah
5. Bangunan 6. Komunikasi
7. Distribusi produksi energi listrik dan lain-lain.
Infrastruktur merupakan input penting bagi kegiatan produksi dan dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi dalam berbagai cara baik secara langsung maupun tidak langsung. Infrastruktur tidak hanya merupakan kegiatan produksi yang akan menciptakan kegiatan produksi yang akan menciptakan output, namun keberadaan infrastruktur juga mempengaruhi efisiensi dan kelancaran kegiatan ekonomi di
sektor-sektor lainnya (Pranessy et al, 2017:53). Stone (dalam Lestari dan Suhadak, 2019:100) mendefenisikan infrastruktur sebagai fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-pelayanan lainnya untuk memfasilitasi tujuan-tujuan ekonomi dan sosial. Pada dasarnya, infrastruktur memiliki arti yang berbeda-beda tergantung dari konteksnya namun demikian, umumnya infrastruktur ini dipahami sebagai suatu produk fisik seperti : jalan, jaringan air bersih, instalasi listrik, sarana pendidikan dan sarana kesehatan yang terkait dengan infrastruktur sipil dan perkotaan (Amri, 2014:441).
Baldwin (dalam Fikriah dan Wulandari 2015:17) menjelaskan bahwa infrastruktur memiliki beberapa karakteristik, yaitu :
1. Aset yang memilik bentuk fisik dalam jangka panjang, penciptaan aset ini memerlukan cukup periode persiapan pembangunan.
2. Struktur aset mampu memperlancar aliran barang dan jasa dan tanpa aset akan terjadi gangguan aliran dalam persediaan barang dan jasa.
3. Aset penting karena berfungsi sebagai barang komplementer (pelengkap) terhadap barang dan jasa dalam faktor produksi.
Sistem infrastruktur seperti transportasi, listrik, air, telekomunikasi dan lainnya mempunyai peran penting dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Permintaan untuk infrastruktur akan terus berkembang secara signifikan dalam beberapa dekade ke depan, didorong
26
oleh faktor-faktor utama perubahan seperti pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, perubahan iklim, dan urbanisasi (Sembanyang, 2011:17).
2.2.2 Jenis-Jenis Infrastruktur
Menurut Maqin (2011:11) pada dasarnya infrastruktur pembangunan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Infrastruktur ekonomi yaitu infrastruktur fisik baik yang digunakan dalam proses produksi maupun yang dimanfaatkan oleh masyarakat, meliputi semua prasarana umum seperti tenaga listrik, telekomunikasi, perhubungan, irigasi, air bersih serta pembuangan limbah
2. Infrastruktur sosial yaitu prasarana sosial seperti kesehatan dan pendidikan.
Fasilitas infrastruktur bukan hanya berfungsi melayani berbagai kepentingan umum tetapi juga memegang peranan penting pada kegiatan-kegiatan swasta di bidang ekonomi. Kebutuhan prasarana merupakan pilihan (preference), dimana tidak ada standar umum untuk menentukan berapa besarnya fasilitas yang tepat di suatu daerah ataupopulasi. Edwin (dalam Ritonga, 2017:80) menguraikan prasarana umum terdiridari kategori-kategori dalam fasilitas pelayanan dan fasilitas produksi. Fasilitas pelayanan meliputi kategori-kategori sebagai berikut:
1. Pendidikan, berupa SD, SMP, SMA dan perpustakaan umum.
2. Kesehatan, berupa rumah sakit, rumah perawatan, fasilitas pemeriksaan oleh dokter keliling, fasilitas perawatan gigi dengan mobil keliling, fasilitas kesehatan mental dengan mobil keliling, rumah yatim piatu, perawatan penderita gangguan emosi, perawatan pecandu alkohol dan obat bius,
perawatan penderita cacat fisik dan mental, rumah buta dan tuli, serta mobil ambulans.
3. Transportasi, berupa jaringan rel kereta api, bandar udara dan fasilitas yang berkaitan, jalan raya dan jembatan di dalam kota dan antarkota serta terminal penumpang.
4. Kehakiman, berupa fasilitas penegakan hukum dan penjara.
5. Rekreasi, berupa fasilitas rekreasi masyarakat dan olahraga.
Sedangkan fasilitas produksi meliputi kategori-kategori:
1. Energi, berupa listrik dari PLN, PLTU, PLTA
2. Pemadam kebakaran, berupa stasiun pemadam kebakaran, mobil pemadam kebakaran, sistem komunikasi, suplai air dan penyimpanan air
3. Sampah padat, berupa fasilitas pengumpulan dan peralatan sampah padat dan lokasi pembuangannya
4. Telekomunikasi, berupa televisi kabel, televisi udara, telepon kabel dan kesiagaan menghadapi bencana alam
5. Air limbah, berupa waduk dan sistem saluran air limbah, sistem pengolahan dan pembuangannya. Air bersih, berupa sistem suplai untuk masyarakat, fasilitas penyimpanan, pengolahan dan penyalurannya, lokasi sumur dan tangki air di bawah tanah.
2.2.3 Manfaat Infrastruktur
Canning dan Pedroni (dalam Atmaja dan Mahalli, 2015:3) menyatakan bahwa infrastruktur memiliki sifat eksternalitas. Berbagai infrastruktur seperti jalan, pendidikan, kesehatan memiliki sifat eksternalitas positif. Memberikan dukungan
28
bahwa fasilitas yang diberikan oleh berbagai infrastruktur merupakan eksternalitas positif yang dapat meningkatkan produktivitas semua input dalam proses produksi.
Investasi infrastruktur secara langsung mempengaruhi pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk membangun potensi produktif suatu negara dan meningkatkan pendapatan per kapita adalah dengan meningkatkan kapasitas produksi barang, hal ini tidak hanya mengacu pada penyediaan pabrik dan mesin, tetapi juga untuk jalan raya, rel kereta api, saluran listrik, pipa air, sekolah, dan rumah sakit (Srinivasu dan Rao, 2013:81).
Karena begitu besarnya aspek infrastruktur itu, maka begitu banyak pula manfaatnya, terutama dalam menopang pembangunan ekonomi dan sosial suatu negara (Mulyo et al, 2018:2). Ada beberapa manfaat infrastruktur diantaranya:
1. Meningkatkan konektivitas antarwilayah suatu negara 2. Meningkatkan produktivitas suatu wilayah atau negara 3. Meningkatkan efisiensi dalam alokasi sumber daya
4. Mempercepat pemerataan pembangunan suatu wilayah atau negara 5. Mendorong investasi baru yang masuk ke wilayah atau negara tersebut
Sebaliknya, ketidaktersediaan infrastruktur yang memadai akan berdampak buruk bagi suatu wilayah atau negara seperti: rendahnya kualitas hidup, kesulitan dalam pemberantasan kemiskinan, serta menurunkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing. Oleh karena itu, setiap negara berupaya untuk terus menambah ketersediaan infrastruktur dalam rangka percepatan pembangunan, baik pembangunan ekonomi maupun sosial untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya lebih sejahtera.
2.2.5 Infrastruktur Jalan
Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas yang berada di permukaan tanah, diatas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan atau air, serta di atas permukaan air kecuali jalan kereta api dan jalan kabel (Ms Yanti et al, 2019:75). Jalan merupakan infrastruktur yang sangat dibutuhkan bagi transportasi darat. Fungsi jalan adalah sebagai penghubung satu wilayah dengan wilayah lainnya. Jalan merupakan infrastruktur yang paling berperan dalam perekonomian nasional (Amri, 2014:442).
Di dalam laporan statistik Sumatera Utara (2017:436) jalan merupakan prasarana pengangkutan yang penting untuk memperlancar dan mendorong kegiatan perekonomian. Makin meningkatnya usaha pembangunan menuntut pula peningkatan pembangunan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain.
Sejauh ini, infrastruktur transportasi adalah tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pengurangan kemiskinan. Infrastruktur jalan diperlukan untuk menghubungkan semua pertumbuhan ekonomi dan mencapai distribusi yang lebih baik dan lebih luas dari pertumbuhan manfaat ekonomi. Secara khusus, membangun jaringan jalan merupakan prasyarat untuk pengembangan kegiatan ekonomi dan penghubung di daerah yang sulit dijangkau. Jalan juga menghubungkan masyarakat di pedesaan ke arus utama ekonomi, sehingga dapat meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkat kondisi hidup (Sembanyang 2011:15).
30
Menurut laporan statistik transportasi Indonesia (2016:11) jalan terbagi menjadi tiga jenis jalan, yaitu:
a. Jalan nasional merupakan jalan arteri dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis nasional serta jalan tol
b. Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota kabupaten/kota dan jalan strategis provinsi
c. Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk pada jalan nasional dan jalan provinsi yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
2.2.6 Infrastruktur Kesehatan
World Health Organization (WHO) dalam Todaro dan Smith (2011:479) mendefenisikan kesehatan sebagai suatu keadaan yang benar-benar sejahtera secara fisik, mental, dan sosial serta bukan hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan.
Sedangkan sistem kesehatan adalah semua aktivitas yang tujuan utamanya meningkatkan, memulihkan dan mempertahankan kesehatan. Sistem kesehatan mencakup komponen kementerian dan dinas kesehatan masyarakat, rumah sakit dan klinik serta dokter dan paramedis.
Kesehatan juga merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia, tanpa kesehatan masyarakat tidak dapat menghasilkan suatu produktivitas bagi daerahnya.
Kegiatan ekonomi suatu negara akan berjalan jika ada jaminan kesehatan bagi setiap penduduknya. Terkait dengan Teori human capital bahwa modal manusia berperan signifikan, bahkan lebih penting daripada faktor teknologi dalam memacu pertumbuhan ekonomi (Setiawan dalam Pranessy et al, 2012:59).
Menurut statistik infrastruktur (2014:19) sarana kesehatan dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Rumah Sakit adalah sarana kesehatan atau bangunan tempat untuk melayani penderita yang sakit untuk berobat rawat jalan atau rawat inap yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat dan tenaga ahli kesehatan lainnya.
2. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang mempunyai fungsi utama sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Sarana kesehatan sangat dibutuhkan, karena untuk melaksanakan suatu kegiatan baik ekonomi maupun sosial dibutuhkan kondisi tubuh yang sehat dengan demikian fasilitas kesehatan sangat dibutuhkan (Pranessy et al, 2012:56). Pelayanan kesehatan melalui rumah sakit dan puskesmas serta pelayanan kesehatan lainnya diharapkan meningkatkan mutu kesehatan yang menjangkau seluruh masyarakat untuk mewujudkan pembangunan kesehatan yang merata.
32
2.2.7 Pengeluaran Pemerintah
2.2.7.1 Pengertian Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran pemerintah adalah pengeluaran (perbelanjaan) pemerintah terhadap barang-barang modal, barang konsumsi dan jasa-jasa (Sukirno dalam Safitri, 2016:69). Pengeluaran pemerintah terhadap barang dan jasa termasuk tenaga kerja yakni sebagai injeksi yang menciptakan pendapatan perusahaan dan rumah tangga melalui kontribusinya terhadap permintaan agregat (Hasyim, 2017:31). Pengeluaran pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam proyek-proyek yang mengacu pada pertumbuhan ekonomi, pemerataan pendapatan, peningkatan kesejahteraan, dan program yang menyentuh langsung kawasan yang terbelakang.
Peran aktif pemerintah daerah diharapkan berperan aktif dalam mengelola dan mengembangkan sektor publik dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah (Pratama dan Utama 2019:659).
Peran pemerintah sangatlah penting untuk mengatur jalannya perekonomian agar tercipta stabilitas pada sistem perekonomian. Secara umum peranan dan fungsi pemerintah dalam perekonomian dapat di klasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Fungsi alokasi: Fungsi alokasi berkaitan dengan proses mengalokasikan sumber daya secara menyeluruh untuk memproduksi barang-barang yang merupakan barang swasta maupun barang publik.
2. Fungsi distribusi: Fungsi distribusi berkaitan dengan proses pendistribusian sumber daya bagi masyarakat dengan persamaan kesejahteraan dan distribusi pendapatan.
3. Fungsi stabilisasi: Fungsi sosialisasi berkaitan dengan proses menjaga kestabilan. Bertujuan untuk menpertahankan atau menstabilkan tingkat pengangguran, stabilitas harga, stabilitas tingkat inflasi, dan stabilitas pertumbuhan ekonomi.
2.2.7.2 Teori Pengeluaran Pemerintah A. Teori Mikro
Pengeluaran pemerintah adalah untuk menganalisis faktor-faktor yangmempengaruhi permintaan barang publik dan faktor-faktor yang mempengaruhi tersedianya barang publik. Permintaan dan penawaran untuk publik menentukan banyaknya barang publik yang akan disediakan oleh pemerintah melalui anggaran belanja. Belanja publik tersebut akhirnya akan menimbulkan permintaan akan barang lain (Basri dan Mulyadi dalam Safitri, 2016:69). Secara Teori Mikro, pengeluaran pemerintah dapat dirumuskan sebagai berikut:
Ui = f (G,X) Keterangan:
G = vektor dari barang publik X = vektor barang swasta i = individu
U = fungsi utilitas B. Teori Musgrave
Pengeluaran pemerintah untuk sektor publik bersifat elastis terhadap pertumbuhan ekonomi. Semakin banyak pengeluaran pemerintah untuk sektor publik semakin banyak barang publik yang tersedia untuk masyarakat (Ladung, 2018:21).
34
Pada tahap awal, persentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar karena pemerintah harus menyediakan fasilitas dan pelayanan seperti pendidikan, kesehatan dan transportasi. Pada tahap menengah, investasi pemerintah dan peranan swasta juga semakin besar. Kemudian pada tahap selanjutnya, aktivitas pemerintah beralih dari pnyediaan prasarana ke pengeluaran untuk aktivitas sosial.