• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Varney, manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah kebidanan yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, ketrampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada pasien (Sulistyawati, 2013).

b) Tujuh langkah Manajemen Kebidanan yaitu : 1) Langkah 1 Pengkajian

Pengkajian yaitu pengumpulan data dasar. Pada langkah ini dilakukan pengumpulan informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien (Barus, 2018).

Menanyakan identitas menurut Walyani, 2015 yang meliputi: a) Nama istri/suami

Mengetahui nama klien dan suami berguna untuk memperlancar komunikasi dalam asuhan sehingga tidak terlihat kaku dan lebih akrab.

b) Umur

Umur perlu diketahui guna mengetahui apakah klien dalam kehamilan yang berisiko atau tidak. Usia dibawah 16 tahun dan diatas 35 tahun merupakan umur-umur yang berisiko tinggi untuk hamil.umur yang baik untuk kehamilan maupun persalinan adalah 19-25 tahun.

c) Suku/bangsa/etnis/keturunan

Ras, etnis, dan keturunan harus diidentifikasi dalam rangka memberikan perawatan yang peka budaya kepada klien dan mengidentifikasi wanita atau keluarga yang memiliki kondisi resesif otosom dengan insiden yang tinggi populasi tertentu. Jika kondisi yang demikian diidentifikasi, wanita tersebut diwajibkan menjalani skrining genetik.

d) Agama

Tanyakan pilihan agama klien dan berbagai praktek terkait agama yang harus diobsevasi. Informasi ini dapat menuntun sesuatu diskusi tentang pentingnya agama dalam kehidupan klien, tradisi keagamaan dalm kehamilan dan kelahiran, perasaan tentang jenis kelamin tenaga kesehatan pada beberapa kasus, penggunaan produk darah.

e) Pendidikan

Tanyakan pendidikan tertinggi yang klien tamatkan juga minat, hobi, dan tujuan jangka panjang. Informasi membantu klinisi memahami klien sebagai individu dan memberi gambaran kemampuan baca tulisnya.

f) Pekerjaan

Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui apakah klien berada dalam keadaan utuh dan untuk mengkaji potensi kelahiran, prematur dan terhadap bahaya lingkungan kerja, yang dapat merusak janin.

g) Alamat

Alamat rumah klien perlu diketahui bidan untuk lebih memudahakan saat pertolongsn persalinan dan untuk mengetahui jarak rumah dengan tempat rujukan.

h) No. RMK( Nomor Rekam Medik)

Nomer rekam medik biasanya dgunakan dirumah sakit, puskesmas, atau klinik.

2) Menganamnesa pasien (data subyektif)

Data subyektif adala dta yang di dapatkan dari kien sebagai suatu pendapat terhadap suatu kejadin (Yuliani dkk, 2017)

a) Keluhan utama

Ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang kefasilitas pelayanan kesehatan. Misalnya keluhan utamanya adalah karena ia ingin memeriksakan kembali kesehatannya setelah persalinan (Sulistyawati, 2009).

b) Riwayat menstruasi

Data ini memang tidak secara langsung berhubungandengan masa nifas, namun dari data yang kita peroleh kita akan mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya. Beberapa data yang harus kita peroleh dari riwayat menstruasi antara lain sebagai berikut:

(1) Menarche

Menarche adalah usia pertama kali mengalami menstruasi. Wanita indonesia pada umumnya mengalami menarche sekitar 12 sampai 16 tahun (Sulistyawati, 2009).

(2) Siklus

Siklus adalah jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya, dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari (Sulistyawati, 2009). (3) Volume

Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi yang dikeluarkan. Kadang kita akan kesuliatan untuk mendapatkan data yang falid. Sebagai acuan biasanya kita gunakan kriteria banyak, sedang, dan sedikit. Namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dengan beberpa pertanyaan pendukung, misalnya sampai beberapa kali mengganti pembalut dalam sehari (Sulistyawati, 2009).

(4) Lamanya

Lamanya haid yang normal adalah kurang lebih 7 hari. Apabila sudah mencapai 15 hari berrti sudah abnormal dan kemungkinan adanya gangguan ataupun penyakit yang mempengaruhinya (Walyani, 2015)

(5) Disminore

Nyeri haid perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah klien menderitanya atau tidak ditiap haidnya. Nyeri haid juga menjadi tanda bahwa kontraksi uterus klien begitu hebat sehingga menimbulkan nyeri haid (Walyani, 2015).

c) Riwayat hamil sekarang menurut Walyani, (2015) adalah : (1) HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir)

Bidan ingin mengetahui tanggal hari pertama dari menstruasi terakhir klien untuk memperkirakan kapan kira-kira sang bayi akan dilahirkan.

(2) HPL (Hari Perkiraan Lahir)

EDD (Estimated Date of delivery) ditentukan dengan perhitungan internasional menurut hukum Naegele. Perhitungan dilakukan dengan menambahkan 9 bulan dan 7 hari pada hari pertama haid terakhir (HPHT) atau dengan mengurangi bulan dengan 3, kemudian menambahkan 7 hari dan 1 tahun.

(3) Kehamilan yang ke-

Jumlah kehamiln ibu perlu ditanyakan karena terdapatnya perbedaan perawatan antara ibu yang baru pertam hamil dengan ibu yang sudah beberapa kali hamil, apabila ibu tersebu baru pertama kali hamil otomatis perlu perhatian ekstra pada kehamilannya.

(4) Keluhan - keluhan menurut Walyani, (2015) adalah: (a) Trimester I

Tanyakan kepada klien apakah ada masalah pada kehamilan trimester I, masalah - masalah tersebut misalnya hipremesis gravidarum, anemia, dan lain lain.

(b) Trimester II

Tanyakan kepada klien masalah apa yang pernah ia rasakan pada trimester II kehamilan pada kehamilan sebelumnya. Hal ini untuk sebagai faktor persiapan apabila kehamilan yang sekarang akan terjadi hal seperti lagi.

(c) Trimester III

Tanyakan kepada klien masalah apa yang pernah ia rasakan pada trimeseter III kehamilan pada kehamilan sebelumnya. Hal ini untuk sebagai faktor persiapan apabila kehamilan yang sekarng akan terjadi hal seperti itu lagi.

(5) ANC (Antenatal Care) (a) Trimeseter I

Tanyakan kepada klien asuhan kehamilan apa saja yang pernah ia dapatkan selama kehamilan trimester I. (b) Trimester II

Tanyakan kepada klien asuhan apa yang pernah ia dapatkan pada trimeseter II kehamilan sebelumnya dan tanyakan bagaimana pengaruhnya terhadap kehamilan. Apabila baik, bidan bisa memberikan lagi asuhan kehamilan tersebut pada kehamilan sekarang.

(c) Trimester III

Tanyakan kepada klien asuhan apa yang pernah ia dapatkan pada trimeseter III kehamilan sebelumnya dan tanyakan bagaimana pengaruhnya terhadap kehamilan. Apabila baik bidan bisa memberikan lagi asuhan kehamilan tersebut pada kehamilan sekarang.

(6) Penyuluhan yang didapat

Penyuluhan apa yang pernah didapat klien perluditanyakan untuk mengetahui pengetahuan apa saja yang kira-kira telah didapat klien dan berguna bagi kehamilan.

(7) Imunisasi TT (Tetanus Toxoid)

Tanyakan kepada klien apakah sudah pernah mendapatkan imunisasi TT. Apabila belum, bidan bisa memberikannya. Imunisasi tetanus toxoid diperlukan untuk melindungi bayi terhadap penyakit tetanus neonatorum, imunisasi dapat dilakukan pada trimester I atau II pada kehamilan 3-5 bulan dengan interval minimal 4 minggu. Lakukan penyuntikan secara IM (Intramuscular) dengan dosis 0,5 ml (Walyani, 2015)

d) Riwayat penyakit

(1) Penyakit yang diderita sekarang

Tanyakan kepada klien penyakit apa yang sedang diderita sekarang. Tanyakan bagaimana urutan kronologis dari tanda-tanda dan klasifikasi dari setiap tanda penyakit tersebut. Hal ini di[erlukan untuk menentukan bagaimana asuhan berikutnya (Walyani, 2015).

(2) Riwayat penyakit sistemik

Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai penandan (warning) akan adanya penyukit masa hamil. Adanya perubahan fisik dan fisiologis pada masa hamil yang melibatkan seluruh sistem dalam tubuh akan mempengaruhi organ yang mengalami gangguan. Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu kita ketahui adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit seperti jantung, diabetes militus (DM), ginjal, hipertensi (hipotensi) (Sulistyawati, 2009).

(3) Riwayat kesehatan keluarga (a) Penyakit menular

Tanyakan kepada klien apakah mempunyai keluarga yang saat ini sedang menderita penyakit menular. Apabila klien mempunyai penyakit keluarga yang sedang menderita penyakit menular, sebaiknya bidan menyarankan kepada kliennya untuk hindari secara

langsung atau tidak langsung bersentuhan fisik atau mendekati keluarga tersebut untuk sementara waktu agar tidak menular pada ibu hamil dan janinnya. Berikan pengertian kepada keluarga yang sedang sakit tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman (Walyani, 2015).

(b) Penyakit keturunan/genetic

Tanyakan kepada klien apakah mempunyai penyakit keturunan. Hal ini diperlukan apakah isi janin kemungkinan akan menderita penyakit tersebut atau tidak, hal ini bisa dilakukan dengan cara membut daftar penyakit apa saja yang pernah diderita oleh keluarga klien yang dapat diturunkan (penyakit genetik, misalnya hemofili, TD dan sebagainya). Biasanya dibuat dalam silsilah keluarga atau pohon keluarga (Walyani, 2015). (4) Riwayat operasi

Riwayat penyakit atau kelainan ginekologi serta pengobatannya dapat memberi keterangan penting, terutama operasi yang pernah di alami (Marni, 2014).

e) Riwayat perkawinan (1) Menikah

Tanyakan status klien, apakahsekarang sudah menikah atau belum menikah. Hal ini penting untuk mengetahui status

kehamilan tersebut apakah dari hasil pernikahan yang resmi atau hasil dari kehamilan yang tidak diinginkan. Status pernikahan bisa berpengaruh bisa berpengaruh pada psikologis ibunya pada saat hamil.

(2) Usia saat menikah

Tanyakan kepada klien pada usia berapamenikah. Hal ini diperlukan karena apabila mengatakan bahwa ia menikah diusia muda sedangkan klien pada saat kunjungan awal ketempat bidan tersebut sudah tak lagi muda dan kehamilannya adalah yang pertama, pada kemunginan bahwa kehamilan saat ini adalah kehamilan yang sangat diharapkan. Hal ini akan berpengaruh bagaimana asuhan kehamilannya.

(3) Lama pernikahannya

Tanyakan kepada klien sudah berapa lama menikah. Apabila klien mengatakan bahwa telah lama menikah dan baru saja bisa mempunyai keturunan, kemungkinan kehamilannya saat ini adalah kehamilan yang sangat diharapkan (Walyani, 2015).

f) Riwayat keluarga berencana (1) Metode

Tanyakan pada klien metode KB apa yang selama ini yang digunakan.

Tanyakan kepada klien berapa lama yang telah menggunakan alat kontrasepsi tersebut.

(2) Masalah

Tanyakan kepada klien ia mempunyai masalah saat menggunakan alat kontrasepsi tersebut. Apabila klien mengatakan bahwa kehamilannya saat ini dikarenakan kegagalan kerja alat kontrasepsi, berikan pandangan-pandangan klien terhadap alat kontrasepsi lain (Walyani, 2015).

g) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu (1) Jumlah kehamilan (Gravida/G)

Jumlah kehamilan ditanyakan untuk mengetahui seberapa besar pengalaman klien tentang kehamilan. Apabila klien mengatakan bahwa saat ini adalah kehamilan yang pertama, maka bidan harus secara maksimal memberikan pengetahuan kpada klien tentang bagaimana merawat kehamilannya dengan maksimal.

(2) Jumlah anak yang hidup (L)

Untuk mengetahui pernah tidaknya klien mengalami keguguran, apabila pernah maka pada kehamilan berikutnya akan berisiko mengalami keguguran kembali. Serta apabila jumlah anak yang hidup hanya sedikit dari

kehamilan yang banyak, berarti kehamilannya saat ini adalah kehamilan yang sangat diinginkan.

(3) Jumlah kehamilan premature (P)

Untuk mengidentifikasi apabila pernah mengalami kelahiran premature sebelumnya maka dapat menimbulkan resiko persalinan premature berikutnya.

(4) Jumlah keguguran (A)

Tanyakan kepada klien apakah dia pernah keguguran atau tidak. Sebab apabila pernah mengalami keguguran dalam riwayat persalinan sebelumnya akan berisiko untuk mengalami keguguran pada kehamilan berikutnya (keguguran berulang).

(5) Persalinan dengan tindakan (SC/Vakum/Forsep)

Catat kelahiran terdahulu, apakah pervaginam, melalui bedah sesar, dibantu forsep atau vakum. Jika wanita pada kelahiran terdahulu menjalani bedah sesar, untuk kehamilan saat ini mungkin dia melahirkan pervaginam. Keputusan ini biasanya bergantung kepada lokasi insisi di uterus, kemampuan unit persalinan dirumah sakit untuk berespon segera ruptur uterus terjadi, dan keinginan calon ibu.

Tanyakan kepada klien apakah pernah mengalami perdarahan pasca persalinan sebelumnya. Perdarahan antepartum atai intrapartum misalnya placenta previa, solisio placenta, retensio placenta, atonia uteri, ruptu uteri, dan lain-lain cenderung dapat berulangpada kehamilan berikutnya.

(7) Kehamilan dengan tekanan darah tinggi

Pertanyaan ini perlu ditanyakan untuk mendiagnosis apakah klien berisiko mengalami preeklamsia/eklamsia yang tanda dan gejalanya merupakan tingginya tekanan tensi darah klien saat hamil. Kehamilan dengan eklampsia perlu mendapatkan perawatan yang intensif.

(8) Berat bayi <2500 atau 4000 gram

Berat lahir sangat penting untuk mengidentifikasi apakah bayi kecil untuk masa kehamilan (BBMK), suatu kondisi yang biasanya berulang. Apanila persalinan pervaginam, berat lahir mencerminkan bahwa bayi dengan ukuran terterntu berhasil memotong pelvis maternal.

(9) Masalah lain

Setiap komplikasi yang terkait dengan kehamilan harus diketahui sehingga dapat dilakukan antisipasi terhadap komplikasi berulang. Sebagai contoh, kehamilan ektopik cenderung berulang. Kondisi lain yang cenderung berulang adakah anomali kongenital, diabetes gestasional,

dan lainnya. Apabila kondisi-kondisi ini dilaporkan, sedapat mungkin dapatkan salinan catatan medis (Walyani, 2015).

h) Pola kebiasaan sehari-hari (1) Nutrisi

Tanyakan kepada klien, apa jenis makanan yang biasa ia makan. Anjurkan klien mengkonsumsi makan yang mengandung zat bezi (150mb besi sulfat, 300mg besi glukonat), asam folat (0,4-0,8 mg/hari), kalori (ibu hamil umur 23-50 tahun perlu kalori sekitar 2300kkal), protein (74gr/hari), vitamin, dan garam mineral (kalsium, fosfor, magnesium, seng, yodium) (Walyani, 2015).

(2) Eliminasi

(a) BAB (Buang Air Besar)

Tanyakan kepada klien, apakah BABnya teratur. Apabila klien mengatakan terlalu sering, bisa dicurigai klien mengalami diare sebaliknya apabila klien mengatakan terlalu jarang BAB, bisa dicurigai mengalami konstipasi. Normalnya feses bewarna kuning, kecoklatan, coklat muda.

(b) BAK (Buang Air Kecil)

Tanyakan kepada klien seberapa sering ia berkemih dalam sehari. Apabila klien mengalami kesulitan berkemih maka bidan harus dapat mengambil tindakan,

misalnya memasang kateter.warna urine klien normalnya urine bewarna bening. Apabila klien mengatakan bahwa warna urinenya keruh bisa dicurigai klien menderita DM (Walyani, 2015).

(3) Aktivitas

Tanyakan bagaimana pola aktivitas klien, beri anjuran kepada klien untuk menghindari mengangkat beban berat, kelelahan, latian yang berlebihan dan olahraga berat. Anjurkan klien untuk melakukan senam hamil. Aktivitas harus dibatasi didapatkan penyukit karena dapat mengakibatkan persalinan prematur, KPD, dan sebagainya (Walyani, 2015).

(4) Istirahat (a) Tidur siang

Kebiasaan tidur siang perlu ditanyakan, tidur siang menguntungkan yang baik untuk kesehatan. Apabila ternyata klien tidak terbiasa tidur siang, anjurkan klien untuk mencoba dan membiasakannya.

(b) Tidur malam

Pola tidur malam perlu ditanyakan wanita hamil tidak boleh kurang tidur, apabila tidur malam jangan kurang dari 8 jam (Walyani, 2015).

(5) Seksualitas

Masalah hubungan seksual merupakan kebutuhan biologis yang tidak dapat, tawar, tetapi perlu diperhitungkan bagi mereka yang hamil, kehamilan bukan merupakan halangan untuk melakukan hubungan seksual. Pada kehamilan tua sekitar 14 hari menjelang persalinan perlu dihindari hubungan seksual karena dapat membahayakan yaitu kurang higienis, ketuban pecah dini dan persalinan bisa terangsang karena sperma mengandung prostaglandin (Walyani, 2015).

(6) Personal hygiene

Tanyakan kepada klien seberapa sering ia mandi. Mandi diperlukan untuk menjaga kebersihan atau hygine terutama perawatan kulit, karena fungsi ekskresi dan keringat bertambah.

Tanyakan kepada klien, seberapa sering ia mengganti pakaiannya. Pakaian yang digunakan harus longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut (Walyani, 2015).

(7) Psikologi budaya

Tradisi yang mempengaruhi kehamilan, hal ini perlu ditanyakan karena bangsa indonesia mempunyai beranekaragam suku bangsa yang tentunya dari tiap suku

bangsa tersebut mempunyai tradisi yang dikhususkan bagi wanita saat hamil. Kebiasaan yang merugikan, hal ini mempunyai kebiasaan yang berbeda beda dari berbagai macam-macam kebiasaan yang dimiliki manusia, tentunya ada yang mempunyai dampak yang positif dan negative (Walyani, 2015).

(8) Penggunaan obat-obatan

Hal ini perlu ditanyakan karena minuman keras/obat terlarang tersebut langsung dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan janin, dan menimbulkan kelahiran dengan berat badan lahir rendah bahkan dapat menimbulkan cacat bawaan atau kelainan pertumbuhan dan perkembangan mental. Sehingga, apabila ternyata klien melakukan hal-hal tersebut, bidan harus secara tegas mengingatkan klien harus menghentikan kebiasaan buruk tersebut (Walyani, 2015).

3) Pemeriksaan fisik (Data Objektif)

Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang bidan lakukan secara berurutan (Walyani, 2015)

a) Status generalis (1) Keadaan umum

Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan akan bidan laporkan dengan kriteria :

(2) Kesadaran

Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, bidan dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan coma (pasien tidak dalam keadaan sadar). (Walyani, 2015).

(3) Tanda vital

(a) Tekanan darah

Tekanan darah normalnya 100-120/60-80 mmHg, tekanan darah memiliki 2 komponen yaitu sistolik dan diastolik. Pada waktu ventrikel berkontraksi, darah akan dipompakan keseluruh tubuh. Keadaan ini ini disebut sistolik, dan tekanan aliran darah pada saat itu disebut tekanan sistolik. Pada saat ventrikel rileks, darah dari atrium masuk ke ventrikel, tekanan aliran darah pada waktu ventrikel sedang rileks disebut tekanan darah diastolik (Sulistyawati, 2009)

(b) Nadi

Frekuensi denyut nadi dihitung dalam 1 menit, normalnya 60-100x/menit (Walyani, 2015)

(c) Pernapasan

Yang dinilai pada pemeriksaan pernafasan adalah : tipe pernafasan, frekuensi, kedalaman, dan suara nafas. Respirasi normal disebut eupnea (laki-laki : 12-20x/menit, perempuan : 16-20x/menit) (Walyani, 2015) (d) Suhu

Suhu normal adalah 36,5-37,5ºC, biasanya pemeriksaan suhu tubuh pada mulut, aksila, dan rectal (Walyani, 2015)

b) Pemeriksaan sistematis (1) Kepala

(a) Rambut : warna, kebersihan, mudah rontok atau tidak (b) Telinga : kebersihan, gangguan pendengaran

(c) Mata :konjungtiva, sklera, kebersihan, kelainan, gangguan penglihatan (rabun jauh/dekat). (d) Hidung : kebersihan, polip, alergi debu.

(e) Mulut

Bibir : warna, integritas jaringan ( lembab, kering, atau pecah-pecah).

lidah : warna, kebersihan. Gigi : kebersihan, karies. Gangguan pada mulut.

(f) Leher : Pembesaran kelenjar limfe dan Parotitis. (g) Dada : Bentuk, Simestris/tidak

Payudara : Bentuk, Gangguan, ASI, Keadaan putting, Kebersihan, Bentuk BH. Gangguan pernapasan (auskultasi).

(h) Perut : Bentuk, Striae, Linea, Kontraksi uterus, TFU (i) Ekstremitas

Atas : Gangguan/kelainan, Bentuk. Bawah : Bentuk, Odema, Varises

(j) Genital :Kebersihan, Pengeluaran pervaginam, Keadaan luka jahitan, Tanda-tanda infeksi vagina.

(k) Anus : Haemoroid, Kebersihan c) Data penunjang

Laboratorium : Kadar Hb, Kadar Leukosit, Golongan darah (Sulistyawati, 2009)

2) Langkah II Interpretasi Data

Langkah dua yaitu interpretasi data dasar. Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang

telah dikumpulkan diinterpretasikan seingga dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik (Barus, 2018).

a) Diagnosa Kebidanan

Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh profesi bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenui standar nomenklatur (tata nama) diagnose kebidanan (Yuliani dkk, 2017).

Diagnosa: Ny.X G2P1A0 Umur 28 Tahun Hamil 32 Minggu, janin tunggal, hidup intra uteri, letak memanjang, punggung kanan, presentasi kepala, bagian terbawah janin belum masuk panggul.

Data dasar: Data subyektif:

(1) Ibu mengatakan bernama Ny.X umur 28 tahun.

(2) Ibu mengatakan pernah melahirkan x kali dan belum pernah keguguran.

(3) Ibu mengatakan hari pertama haid terakhir tanggal 1 januari 2017.

Data obyektif: Tanda-tanda vital:

(1) Tekanan darah: antara 110/70 mmHg sampai 140/90 mmHg. (2) Pengukuran suhu: suhu 36,5oC sampai 37,5oC.

b) Masalah

Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah “masalah” dan “diagnosis”. Kedua istilah tersebut dipakai karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya (Barus, 2018).

3) Langkah III Diagnosa Potensial

Langkah III yaitu identifikasi diagnosis atau masalah potensial. Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap bila diagnosis/masalah potensial ini terjadi. pada langkah ini penting sekali melakukan asuhan yang aman (Barus, 2018).

4) Langkah IV Tindakan Segera

Langkah IV yaitu mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera. Pada langkah ini mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/atau untuk dikonsultasikan atau ditanganai bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses

manajemen kebidanan. Beberapa data mungkin mengindikasikan situasi yang gawat ketika bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu dan anak. Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam majemen asuhan klien (Barus, 2018).

5) Langkah V Rencana Tindakan

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh berdasarkan langkah sebelumnya. Semua perencanaan yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan yang tepat, meliputi pengetahuan, teori yang up to date, perawatan berdasarkan bukti (evidence based

care), serta divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang

diinginkan dan tidak diinginkan oleh pasien. Dalam menyusun perencanaan sebaiknya pasien dilibatkan, karena pada akhirnya pengambilan keputusan dalam melaksanakan rencana asuhan yang harus disetujui oleh pasien (Barus, 2018)

Untuk menghindari perencanaan asuhan yang tidak terarah, maka dibuat terlebih dahulu pola pikir sebagai berikut :

a) Tentukan tujuan tindakan yang akan dilakukan, meliputi sasaran dan target hasil yang akan dicapai.

b) Tentukan rencana tindakan sesuai dengan masalah dan tujuan yang akan dicapai.

Berikut adalah beberapa contoh perencanaan yang dapat ditentukan sesuai dengan kondisi pasien.

a) Evaluasi rencana terus menerus

(1) Waspada adanya tanda bahaya kehamilan. (2) Pengukuran tanda vital.

(3) Pengeluaran per vagina (waspada perdarahan). (4) Proses adaptasi psikologis pasien dan suami. (5) Asupan cairan dan makanan.

(6) Kemampuan dan kemauan pasien untuk berperan dalam perawatan kehamilannya.

b) Gangguan rasa ketidaknyamanan selama hamil (1) Sering buang air kecil.

(2) Nyeri di punggung. (3) Kaki varises dan pegel. (4) Keputihan.

(5) Sesak nafas.

(6) Mual mual sampai muntah. (7) Sering bersendawa.

(8) Panas perut (heartburn). (9) Jantung berdebar debar. (10) Susah buang air besar. c) Mengatasi cemas

(2) Libatkan keluarga dalam mengkaji penyebab cemas dan alternatif penanganannya.

(3) Berikan dukungan mental dan spiritual kepada pasiendan keluarga.

(4) Fasilitasi kebutuhan pasien yang berkaitan dengan penyebab cemas dengan menjadi teman sekaligus pendengar yang baik, menjadi konselor, dan lakukan pendekatan yang bersifat spiritual.

(5) Memberikan pendidikan kesehatan.

(6) Memfasilitasi menjadi orang tua dengan melakukan beberapa hal berikut.: Berikan dukungan dan keyakinan pada pasangan akan kemampuan mereka sebagai orangtua, Upaya untuk belajar merawat bayi yang selama ini telah dilakukan sudah cukup bagus, Perlu persiapan mental dan material karena anak adalah suatu anugrah sekaligus amanah yang harus dirawat sebaik baiknya, Dengan adanya anak akan merubah beberapa pola dan kebiasaan sehari hari, misalnya waktu istirahat, perhatian terhadap pasangan, komunikasi, tuntutan dan tanggung jawab sebagai orangtua sebagai pendidik bagi anak (Sulistyawati, 2009).

6) Langkah VI Implementasi

Dokumen terkait