DAFTAR SINGKATAN
B. Teori, Konsep dan Metode 1 Teor
1.3. Applied Theory
1.3.3. Teori Nuances Mahad
Mahadi mengawali uraian teori nuances dengan mengatakan, manusia adalah makhluk sosial (human being). Hubungan manusia dengan manusia agar kepentingan tidak saling bertubrukan, harus diatur oleh hukum. Mulanya bisa berupa norma-norma kebiasaan, norma agama, adat istiadat dan lain sebagainya. Kemudian meningkat menjadi norma hukum.
Tiap-tiap manusia mungkin mempunyai kebiasaan, adat istiadat, norma agama dan norma hukum. Bahkan norma hukumnya sendiri berbeda dengan norma hukum yang digunakan orang lain, berbeda dari bangsa lain, karena berbeda sistem hukumnya. Akan tetapi karena ada hubungan, ada relasi antara kelompok masyarakat yang satu dengan masyarakat lain yang berbeda pada norma hukum yang dianutnya, berbeda sistem hukumnya, maka kemungkinan akan terjadi ketidak sesuaian. Mungkin akan terjadi perbenturan. Perbenturan itu bila dibiarkan dapat menimbulkan stagnasi. Terhenti pada satu titik buntu. Kebuntuan itu tidak boleh dibiarkan. Tidak boleh didiamkan. Jalan buntu itu harus dibuka, harus ditetas satu demi satu. Mulai dari celah kecil sampai ada ruang besar untuk dapat dimasuki dan ditemukan jalan baru guna penyelesaiannya. Dicarikan titik temunya. Dibuang titik-titik perbedaan, dicari titik-titik persamaan. Ditemukan nuansanya (nuances). Nuansa bermakna suatu titik temu yang samar- samar akan perbedaan dan samar-samar akan persamaan. Tidak benar-
benar berbeda dan tidak benar-benar sama. Kedua kutub yang berbeda, masing-masing bergerak, kemudian bertemu ditengah. Titik tengah itulah yang oleh Mahadi disebutnya sebagai “Nuances”.82 Teori
Mahadi ini mirip dengan teori harmonisasi hukum.
Jika digambarkan dalam bentuk garis grafis, teori nuances dari Mahadi ini dapat dilukiskan dalam skema sebagai berikut :
Skema 6 Teori Nuances Mahadi A1 C B1
A A2 B2 B
A3 B3
Nuances
A = Sistem hukum A (Varian A1, A2, A3) B = Sistem hukum B (Varian B1, B2, B3) C = Nuances (pertemuan berbagai sistem hukum)
Alur pemikiran teori yang kami gunakan dalam disertasi ini dapat kami tuangkan dalam skema sebagai berikut :
82 Mahadi, Falsafah Hukum Suatu Pengantar , Citra Aditya Bakti, Bandung,
1989, hal. 24. Lihat juga Mahadi, Suatu Perbandingan Antara Penelitia n Masa Lampau Dengan Sistem Metode Penelitian Dewasa Ini Dalam Menemukan Asas-Asas Hukum, Makalah, Kuliah pada Pembinaan Tenaga Peneliti Hukum, BPHN, Jakarta, 1980, hal. 52.
2. Konsep
Konsep dimaknai sebagai, definisi khusus yang diberikan atas sesuatu yang diintegrasikan melalui proses abstraksi yakni menghilangkan atau memisahkan aspek realitas tertentu dari unit-unit mental yang beragam kemudian menjadi entitas mental baru yang dipakai sebagai unit tunggal pemikiran. 83
Istilah transplantasi atau pencangkokan yang digunakan dalam disertasi ini adalah istilah yang lazim digunakan dalam ilmu kedokteran atau pertanian. Istilah transplantasi jantung, pencangkokan tanaman durian atau rambutan adalah istilah yang kerap kali kita jumpai dalam literatur ilmu kedokteran dan pertanian. Konsep transplantasi hukum sebenarnya tidak jauh berbeda pemaknaannya dengan transplantasi jantung atau pencangkokan rambutan, yaitu mengambil jantung dari tubuh seseorang (dari luar) untuk dipasangkan pada tubuh orang lain yang memerlukan jantung tersebut. Tingkat keperluannya sesuai analisis dan diagnosis dokter menurut ilmu kedokteran. Begitulah konsep transplantasi hukum ini jika dihubungkan dengan obyek studi ilmu hukum. Konsep transplantasi hukum dimaknai sebagai kebijakan suatu negara untuk mengambil hukum asing yang berasal dari negara lain untuk dijadikan sebagai hukum di negara sendiri. Sama halnya dengan pencangkokan jantung, tubuhnya sudah ada, maka dalam transplantasi hukum, struktur dan kulturnya sudah ada, substansi hukumnya yang akan dicangkokkan.
Transplantasi dilakukan dengan berbagai cara ; dengan sadar atau tanpa disadari, bergulir dalam jarum jam sejarah yang panjang pada kasus transplantasi Undang-undang Hak Cipta diawali dari
Auteurswet 1912 sampai dengan Undang-undang No. 19 Tahun 2002,
83 Terminologi konsep berasal dari bahasa Inggris “concept”. Istilah konsep
dapat diurutkan dari bahasa Latin “conceptus” dari akar kata “consipere” yang berarti memahami, menerima, menangkap, merupakan gabungan dari kata “con” artinya bersama dan “capere” artinya menangkap atau menjinakkan. Oleh karena itu kata
“konsep” memiliki banyak makna. Akan tetapi secara umum dapat difahami bahwa
konsep adalah pemaknaan yang dirumuskan secara abstrak atas suatu fenomena yang mewakili dari entitas-entitas tertentu yang kemudian menjadi pemahaman yang dapat
diterima secara universal. Dalam terminologi ilmu hukum, konsep tentang “mati” berbeda dengan konsep “mati” menurut terminologi ilmu kedokteran. Concept an idea or a pr inciple that is connected with sth abstr act, the concept of social class, concepts such as civilization and gover nment. He ca nt gr osp the basic, concepts of mathematics the concept that ever yone should have equality of oppor tunity. Lebih lanjut lihat A.S. Hornby, Oxford Advanced Learner's Dictionary of Current English, University Press Oxford, New York, 2000, hal. 265. Lihat juga Johnny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Nor matif, Bayumedia Publishing, Malang, 2008, hal. 387.
undang-undang disebut terakhir ini disusun merujuk pada persetujuan TRIPs 1994.
Dalam konteks tranplantasi hukum Internasional ke dalam hukum nasional, konsep transplantasi dimaknai sama dengan konsep transformasi hukum Internasional ke dalam hukum nasional khususnya dalam perjanjian internasional yang termasuk dalam katagori law making, yakni keharusan suatu negara untuk menterjemahkan ke dalam peraturan perundang-undangan nasionalnya, terhadap perjanjian Interrnasional yang telah diikutinya.
Keharusannya semacam ini akan membawa dampak terhadap penyusunan Undang-undang Hak Cipta Nasional. Dampak yang sangat mendasar adalah terjadi pergeseran nilai-nilai ideologis-filosofis Pancasila sebagai grundnorm, nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Indonesia yang merupakan the original paradicmatic values of Indonesian cultural and society yang di dalamnya memuat tata nilai atau sekumpulan asas-asas hukum. Konsep tentang pergeseran nilai, dimaknai sebagai bergesernya pilihan-pilihan tata nilai dalam penyusuan norma hukum hak cipta nasional yang semula bertolak dari ideologi-filosofis Pancasila sebagai grundnorm, akan tetapi dalam proses legislasi berujung pada norma konkrit yang tercerabut dari landasan ideologis-filosofis Pancasila dan lepas dari sosio-kultural masyarakat Indonesia. Bergeser dari nilai ideologi Pancasila ke nilai ideologi liberal-kapitalis. Bergeser dari nilai sosial-kultural masyarakat Indonesia ke nilai-nilai masyarakat Barat. Bergeser dari nilai komunal ke nilai individualis dan seterusnya. Bergeser dalam arti meninggalkan nilai-nilai yang sudah lama dianut atau nilai yang seharusnya dianut digantikan nilai baru, jadi dibedakan dengan perubahan. Kalau perubahan, langkah-langkah perubahan itu bertolak dari nilai lama atau nilai yang ada, secara perlahan-lahan mengadopsi nilai yang baru tanpa mengenyampingkan nilai yang lama.
Oleh karena terjadi pergeseran-pergeseran nilai seperti diuraikan di atas, ketika Undang-undang Hak Cipta itu diterapkan terjadi penolakan, baik penolakan secara aktif maupun pasif. Kesemua itu berujung pada tingkat efektivitas penegakan hukum yang lemah. Konsep efektivitas penegakan hukum dimaknai sebagai tingkatan tinggi rendahnya kesadaran hukum masyarakat. Kesadaran hukum masyarakat dapat diukur dari tingkat pengetahuan masyarakat terhadap norma hukum itu sendiri dan tingkat kepatuhannya terhadap norma hukum itu, sedangkan tingkat kepatuhan hukum dapat diukur dari tingkat keberterimaan dan penolakan masyarakat terhadap norma hukum itu.
Pilihan terhadap transplantasi hukum sebagai pilihan politik negara dalam penyusunan hukum nasional, bukanlah pilihan yang bebas. Pilihan itu didasari pada pengaruh eksternal dan internal. Secara eksternal pengaruh globalisasi telah membawa dampak pada pilihan politik hukum. Hukum yang telah selesai untuk dioperasionalkan, juga membawa dampak terhadap masyarakat sebagai pihak yang terkena dari pemberlakuan norma hukum itu.
Perlindungan hak cipta karya sinematografi misalnya, tidak hanya dilindungi di Indonesia atau dibatasi pada tempat hak cipta itu dilahirkan, akan tetapi di seluruh jagat raya.
Konsep hukum asing dalam disertasi ini tidak merujuk pada pendefinisian menurut hukum perdata internasional ataupun hukum internasional publik. Hukum asing yang dimaksudkan dalam disertasi ini adalah hukum yang bersumber dari kebudayaan asing, peradaban asing, dasar filosofis dan ideologi asing, sebaliknya yang dimaksud dengan hukum nasional adalah hukum yang dalam proses pembuatannya bersumber dari kebudayaan nasional, peradaban masyarakat Indonesia, dasar filosofis dan ideologi Negara Republik Indonesia atau dalam istilah lain adalah hukum yang bersumber dari the original paradigmatic values of Indonesian culture and society.
3. Metode