• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIK

2.2 Kerangka Teoretis

2.2.3 Teori Pemertahanan Bahasa

Pemertahanan bahasa (language maintenance) berkaitan erat dengan pergeseran bahasa (language shifting) dan kematian bahasa (language dead) dalam penggunaan bahasa suatu masyarakat. Bahasa yang bertahan hidup dalam tekanan bahasa lain memerlukan penutur bahasa yang secara kontinyu menuturkan bahasanya walaupun dalam tekanan bahasa lain. Misalnya, tekanan bahasa nasional terhadap bahasa etnik dan bahasa asing terhadap bahasa nasional

sekalkigus terhadap bahasa etnik. Keadaan itu merupakan suatu kondisi yang terukur berkaitan dengan keberlangsungan penuturan bahasa di suatu tempat, baik secara psikologis maupun kultural. Berkaitan dengan pemertahanan dan pergeseran bahasa tersebut, Fishman (1972:76) menyatakan berikut ini.

The study of language maintenance and language shif is concerned with the relationship between chanage (or stability) in language usage patterns, on the one hand, and ongoing psychological, cultural or cultural processes, on the other hand, in populations that utilize more than one speech variety for intra-group or for inter-group purposes. That languages (or language varieties) sometimes displace each other, among some speakers, particularly in certain interpersonal or system-wide interactions, has long aroused curiosity and comment.

Berdasarkan pendapat di atas, studi tentang pemertahanan bahasa dan pergeseran bahasa bersangkutan dengan hubungan antara perubahan (atau stabilitas) dalam pola penggunaan bahasa, di satu sisi, dan berkelanjutan dengan proses psikologis, budaya atau proses budaya, di sisi lain, pada populasi yang memanfaatkan lebih dari satu penutur untuk intrakelompok atau untuk tujuan antarkelompok. Dominasi kelompok terhadap penggunaan bahasa memunculkan bahasa yang dominan dan bahasa minoritas dalam masyarakat. Menurut Tasaku (2005:66), bahasa minoritas digunakan dalam kehidupan tradisional, bersifat kedaerahan, dalam keluarga, informal, intim, kerahasiaan, dan digunakan dalam kegiatan agama. Sebaliknya, bahasa dominan digunakan dalam kehidupan modern, bersifat nasional, diluar keluarga (dalam masyarakat), formal, tidak

intim, kekuasaan, untuk non-kerahasiaan, dan digunakan untuk kepentingan sekuler.

Bahasa dominan dan bahasa minoritas tidak hanya disebabkan oleh intensitas penuturan yang terus-menerus melainkan juga oleh pengaruh sosial dan ekonomi penutur bahasa. Hal itu diungkapkan oleh Yaron (2009:50) berikut ini.

Fishman predicted that the economicand social integration of the second and third generation of immigrant families will necessarily lead to the growing importance of the majority language in most activity domains, until finally the background language will become limited to the domestic domain. The third generation, whose peer language was the majority language, would then in most cases shift to that language and abandon the immigrant language once they set up their own households. Bilingualism in the context of immigration into urban centres is therefore unstable.

Berdasarkan pendapat di atas, Fishman (1999) melakukan analisis berbasis domain peran bahasa dalam konteks multibahasa. Analisis didasarkan pada penelitian pemertahanan bahasa imigran di pusat-pusat perkotaan. meramalkan bahwa ekonomi dan integrasi sosial dari generasi kedua dan ketiga dari keluarga imigran tentu akan menyebabkan semakin pentingnya bahasa mayoritas di sebagian besar Kegiatan domain, sampai akhirnya bahasa latar belakang akan menjadi terbatas ke ranah domestik. Generasi ketiga, yang sebaya bahasa adalah bahasa mayoritas, akan kemudian dalam banyak kasus beralih ke bahasa itu dan meninggalkan bahasa imigran setelah mereka mendirikan rumah tangga mereka sendiri. bilingualisme di konteks imigrasi ke pusat perkotaan karena itu tidak stabil.

Penggunaan bahasa yang kontinyu dalam konteks pemertahanan bahasa di berbagai ranah bahasa menjadi aspek penting. Menurut Siregar, dkk. (1998:51), konsep penggunaan bahasa mencakup analisis penggunaan bahasa dalam ranah keluarga, hubungan peran dalam sistem kekerabatan, dan peristiwa bahasa.Ranah bahasa dapat diklasifikasi atas beberapa ranah. Schmidt dan Rohr dalam Pride dan Holmes (1972:82) membagi ranah menjadi sembilan ranah, yaitu rumah, arena bermain dan jalan, sekolah, gereja, sastra, media massa, kemeliteran, pengadilan, dan administrasi pemerintahan.

Sementara itu, Siregar, dkk. (1998:51–52) membagi ranah bahasa atas tiga ranah. Pertama, ranah penggunaan bahasa dalam lingkungan penggunaan peran yang dikenal sebagai ranah keluarga, seperti suami dan istri, orang tua dan anak, serta anak-anak. Ranah keluarga ini mencakup abstraksi dari hubungan yang terdapat di antara hubungan peran keluarga, pokok pembicaraan, dan lingkungan penggunaan bahasa. Kedua, penggunaan bahasa dalam hubungan peran kekerabatan, seperti penggunaan bahasa dalam hubungan kekerabatan suami/istri, ayah/anak, ibu/anak, anak/ibu, anak/anak, hubungan keluarga tersebut dengan teman atau kerabat. Ketiga, penggunaan bahasa dalam situasi sosiolinguistik yang mengacu pada bentuk peristiwa bahasa. Ranah ini menunjukkan jenis situasi penggunaan bahasa sedangkan peristiwa bahasa dibatasi sebagai persilangan tindak ujaran, lingkungan, dan waktu tertentu. Peristiwa bahasa antara lain bercakap-cakap, marah-marah, bersenda gurau, berdiskusi, dan bermusyawarah.

Penggunaan bahasa pada ranah bahasa sebagaimana dijelaskan di atas ditentukan oleh penutur bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, penutur yang sering

bepergian dan melakukan pertukaran budaya berpengaruh terhadap pemertahanan bahasa. Di dalam konteks ini, Yaron (2009:50) berpendapat berikut ini.

But in the age of globalisation, frequent travel and cultural exchange with the country of origin, and the accessibility of media in the form of satellite broadcasts, films, and computer-mediated communication (chat rooms, websites and email), the survival prospects of linguistic-cultural diasporas – communities whose culture is not necessarily determined entirely by their geographical location but rather by their maintenance of traditions through a network of contacts –are arguably higher.

Berdasarkan pendapat di atas, era globalisasi yang salah satunya ditandai oleh perkembangan teknologi berdampak pada mobilisasi pen utur bahasa.

Penutur bahasa etnik sering bepergian dan melakukan pertukaran budaya. Bahkan, aksesibilitas media dalam bentuk siaran satelit, film, dan komunikasi melalui komputer (chat room, situs web dan email), memberi prospek kelangsungan hidup linguistik -diaspora budaya –masyarakat yang budayanya tidak selalu ditentukan sepenuhnya oleh lokasi geografis mereka melainkan dengan pemertahanan mereka tradisi melalui jaringan kontak- bisa dibilang lebih tinggi. Dengan demikian, pemertahanan bahasa tidak hanya ditentukan oleh kontak bahasa pada ranah bahasa secara geografis, melainkan juga ditentukan oleh kedekatan dan keseringan penutur bahasa bepergian dengan menggunaan perangkat teknologi modern.

Dari pemaparan pemertahanan bahasa yang berkaitan erat dengan pergeseran dan kematian bahasa ini pada akhirnya ditentukan oleh keaktifan dan kepasifan penutur bahasa. Menurut Siregar dkk. (1998:14), pemertahanan bahasa

dibedakan atas pemertahanan bahasa pasif dan pemertahanan bahasa aktif.

Pemertahanan bahasa pasif merupakan ciri masyarakat bahasa di dalamnya terdapat nilai dan sikap yang tumpang tindih. Anggota masyarakat tidak menggunakan bahasa etniknya secara teratur sesuai dengan fungsi bahasa etnik sebagai lambang identitas keetnikannya. Sebaliknya, pemertahanan bahasa yang aktif memiliki hubungan yang harmonis antara satu bahasa dengan bahasa yang lain dengan konteks sosial pemakaian bahasa tersebut. Anggota masyarakat dapat membedakan bahasa untuk melambangkan dua atau bebetapa jenis nilai, sikap, dan perilaku bahasa yang tidak tumpang tindih.