• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1.2 Teori Pendapatan

Menurut Badan Pusat Statistik (2005), pendapatan dan penerimaan keluarga adalah seluruh pendapatan dan penerimaan yang diterima oleh seluruh anggota rumah tangga ekonomi. Pendapatan itu sendiri terdiri dari :

1. Pendapatan dari upah atau gaji yang mencakup upah atau gaji yang diterima oleh seluruh anggota rumah tangga ekonomi yang bekerja sebagai buruh sebagai imbalan bagi pekerjaan yang dilakukan untuk suatu perusahaan atau majikan atau instansi tersebut baik uang maupun barang dan jasa.

2. Pendapatan dari hasil usaha seluruh anggota keluarga yang berupa pendapatan kotor, yaitu selisih nilai jual barang dan jasa yang diproduksi dengan biaya produksi.

3. Pendapatan lainnya yaitu, pendapatan di luar upah hasil gaji yang menyangkut usaha lain dari (a) Perkiraan sewa rumah milik sendiri (b) bunga, deviden, royalti, paten sewa/kontrak, lahan, rumah, gedung, bangunan, peralatan, dan lain-lain, (c) buah hasil usaha (hasil usaha sampingan), (d) pensiunan dan klaim asuransi jiwa, (e) kiriman dari famili/pihak lain secara rutin, ikatan dinas, beasiswa dan sebagainya.

Pendapatan kotor usahatani (gross farm income) didefinisikan sebagai nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Pengeluaran total usahatani (total farm expenses), didefinisikan sebagai nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan di dalam produksi, tetapi tidak termasuk tenaga kerja keluarga petani. Pengeluaran usahatani mencakup pengeluaran tunai dan tidak tunai. Selisih antara pendapatan

kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani disebut pendapatan bersih usahatani (Soekartawi,dkk 1986).

Menurut teori ekonomi, secara matematis pendapatan dapat dirumuskan sebagai berikut.

Pendapatan = penerimaan - pengeluaran

Penerimaan yang diperoleh petani dihitung dari hasil perkalian antara harga produk dengan jumlah produksi. Pengeluaran meliputi biaya variabel dan biaya tetap. Hal ini secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

Pengeluaran = biaya variabel + biaya tetap

Biaya variabel meliputi biaya pengadaan benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, sewa alat mesin pertanian dan lain-lain. Sedangkan biaya tetap meliputi pajak bumi dan bangunan dari lahan yang diusahakan, iuran irigasi teknis, sewa lahan dan lain-lain.

3.2. Kerangka Operasional

Salah satu tujuan dari program revitalisasi pertanian adalah peningkatan kesejahteraan petani melaui aspek pendapatan. Di sisi lain, pengeluaran pemerintah cukup besar dalam memberikan subsidi bahan bakar. Untuk itu, pemerintah berupaya mengurangi subsidi BBM agar APBN tidak mengalami defisit yang cukup besar. Kebijakan pengurangan subsidi BBM tersebut memicu kenaikan harga BBM sehingga menyebabkan kenaikan harga barang lain seperti harga pangan, harga input pertanian dan lain-lain.

Demi mengimbangi kenaikan harga-harga input pertanian, pemerintah memberlakukan kebijakan kenaikan HPP agar pendapatan petani tetap stabil.

Adanya kebijakan HPP tersebut masih diragukan belum efektif dalam meningkatkan pendapatan petani. Agar kebijakan HPP dapat terlaksana secara efektif, pemerintah melaksanakan program DPM-LUEP. Pemberian dana penguatan modal terhadap LUEP ini diharapkan dapat membantu lembaga ini dalam membeli gabah petani mengacu pada HPP yang telah ditetapkan.

Berdasarkan hal di atas penelitian ini berupaya menjawab beberapa tujuan yaitu menganalisis efektivitas program DPM-LUEP terhadap stabilitas harga gabah dengan mengidentifikasi perbedaan harga gabah yang diterima petani antara kecamatan yang mendapat program DPM-LUEP dan yang tidak di Propinsi Jawa Barat. Sehingga dapat diketahui apakah dengan adanya program DPM-LUEP dapat menolong harga gabah petani di tiap kecamatan. Kecamatan yang diteliti adalah kecamatan-kecamatan penerima DPM-LUEP dan bukan penerima DPM-LUEP yang berada di enam kabupaten produsen beras di Jawa Barat. Enam kabupaten tersebut adalah Bandung, Cianjur, Garut, Cirebon, Karawang, dan Subang. Terdapat 19 kecamatan yang mendapat DPM-LUEP dan 18 kecamatan yang tidak mendapat DPM-LUEP.

Hipotesis yang dapat dikemukakan adalah keberadaan LUEP efektif dalam menolong harga petani, yaitu harga jual gabah oleh petani tidak jatuh di bawah harga referensi yaitu HPP pada saat terjadi panen raya serta harga di kecamatan yang mendapat DPM-LUEP lebih tinggi dari kecamatan yang tidak mendapat program. Terdapat dua metode yang digunakan untuk membuktikan hipotesis tersebut. Pendekatan pertama adalah membandingkan perkembangan harga yang diterima petani di kecamatan yang mendapat DPM-LUEP dan yang tidak mendapat program (with and without project). Selanjutnya secara statistika akan

dilakukan uji stasioneritas terhadap series harga di kedua lokasi tersebut dengan bantuan software Eviews 4.1 dan uji tanda serta uji T untuk melihat signifikansi perbedaan harga yang diterima petani di kedua lokasi menggunakan software Minitab 14.

Tujuan selanjutnya akan menganalisis dampak kebijakan program DPM-LUEP terhadap tingkat pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Untuk menjawab tujuan ini maka dianalisis harga dan pendapatan yang diterima petani antara yang menjual gabahnya ke LUEP dan yang tidak serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dengan demikian dapat dilihat apakah dengan menjual gabahnya ke LUEP mengacu pada HPP maka pendapatan petani berbeda secara signifikan dengan petani yang tidak menjual gabahnya ke LUEP serta program DPM-LUEP dapat dikatakan berjalan efektif.

Analisis harga dan pendapatan yang diterima petani bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendapatan antara petani yang menjual gabahnya ke LUEP dengan petani yang menjual ke non-LUEP. Dalam hal perbedaan pendapatan antara petani yang menjual ke LUEP dan menjual ke non-LUEP, faktor lain selain LUEP memang dianggap ceteris paribus. Berdasarkan hal ini bisa saja tingginya pendapatan petani yang mendapatkan DPM-LUEP bukan karena LUEP-nya tetapi karena faktor lain seperti produktivitas yang tinggi dan biaya yang lebih rendah. Namun dalam penelitian ini diasumsikan bahwa perbedaan pendapatan tersebut disebabkan terutama karena perbedaan harga yang diterima petani antara yang menjual ke LUEP dan tidak, yang dalam hal ini LUEP diduga berperan langsung.

Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang diformulasikan model ekonometrika pendapatan petani padi yang merupakan persamaan linear berganda. Kemudian dilakukan metode OLS (Ordinary Least Square) untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani padi dengan software Minitab 14. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi pendapatan petani adalah tingkat pendidikan (tahun), keikutsertaan dalam kelompok tani, luas lahan, hasil produksi, biaya tenaga kerja, biaya saprodi, harga jual, dan keputusan petani menjual gabahnya ke LUEP atau non-LUEP. Selanjutnya dilakukan uji hipotesis apakah LUEP berpengaruh nyata terhadap tingkat pendapatan petani padi pada taraf nyata lima persen serta memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan.

Tujuan terakhir dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi petani dalam menjual gabahnya ke LUEP. Untuk menjawab tujuan ini digunakan metode regresi logistik (Binary Logistic Regression) dalam menduga faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP adalah tingkat pendidikan, hasil produksi, status kepemilikan lahan dan harga yang diterima.

Hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah :

1. Harga gabah di kecamatan program DPM-LUEP di atas HPP dan lebih tinggi secara rata-rata dari harga di kecamatan non program serta berbeda secara signifikan pada taraf nyata lima persen.

2. Harga yang diterima dan pendapatan petani yang menjual ke LUEP lebih tinggi dari petani yang menjual ke non LUEP. Dengan asumsi faktor lain selain harga yang diterima dari LUEP dianggap ceteris paribus.

3. Dummy apakah menjual ke LUEP atau tidak memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan petani dan berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95 persen.

4. Faktor yang secara nyata mempengaruhi keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP adalah harga yang diterima.

Kebijakan kenaikan HPP bertujuan menstabilkan harga gabah dan meningkatkan pendapatan petani

Program DPM-LUEP mendukung efektivitas kebijakan kenaikan HPP

Efektivitas DPM-LUEP terhadap stabilitas harga dan perbedaan harga gabah petani antara kecamatan yang mendapat DPM-LUEP dan yang tidak

DPM-LUEP efektif dalam stabilitas harga gabah dan harga di kecamatan penerima DPM-LUEP di atas HPP serta lebih tinggi dari kecamatan yang tidak mendapat DPM-LUEP

Perubahan pendapatan petani

Faktor yang diduga mempengaruhi pendapatan

Pendapatan petani yang menjual ke LUEP berbeda nyata dengan yang tidak menjual ke LUEP Keputusan petani menjual gabahnya ke LUEP Faktor-faktor yang mempengaruhi Keputusan petani menjual gabahnya ke LUEP

Efektivitas program DPM-LUEP

Gambar 3. Alur Kerangka Pemikiran Operasional

Dokumen terkait