• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS PROGRAM DANA PENGUATAN MODAL LEMBAGA USAHA EKONOMI PERDESAAN (DPM-LUEP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEKTIVITAS PROGRAM DANA PENGUATAN MODAL LEMBAGA USAHA EKONOMI PERDESAAN (DPM-LUEP)"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS PROGRAM DANA PENGUATAN MODAL LEMBAGA USAHA EKONOMI PERDESAAN (DPM-LUEP)

(Kasus Petani Padi Pandan Wangi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur)

Oleh:

KHRISNA PRATAMA A14304082

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

(2)

RINGKASAN

KHRISNA PRATAMA. Efektivitas Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan (DPM-LUEP) (Kasus Petani Padi Pandan Wangi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur). Di bawah bimbingan MUHAMMAD FIRDAUS.

DPM-LUEP yang diberlakukan tahun 2003 berusaha meminimisasi fluktuasi harga gabah di tingkat petani. Program DPM-LUEP bertujuan agar harga gabah yang diterima petani tidak pernah berada pada level di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Kebijakan kenaikan HPP yang telah ditetapkan tanggal 1 April 2007 melalui Inpres No.3 Tahun 2007 diharapkan juga dapat mempengaruhi tingkat pendapatan petani.

Pembelian gabah oleh LUEP dengan harga minimal sama dengan HPP diharapkan dapat menjadi insentif petani agar tetap berproduksi. Efektivitas LUEP juga akan meningkatkan pendapatan petani ketika kondisi panen raya. Efektivitas ini diukur dari sejauhmana dampak DPM-LUEP terhadap stabilitas harga petani sehingga tidak jatuh di bawah HPP pada saat terjadi panen raya. Alokasi DPM-LUEP Tahun 2007 untuk pembelian gabah/beras sebesar Rp 232,43 milyar. Untuk Propinsi Jawa Barat sendiri dialokasikan dana sebesar Rp 24,03 milyar. Terdapat 15 kabupaten dan satu kota di Jawa Barat yang mendapatkan program DPM-LUEP. Namun diantara tiap kabupaten/kota tersebut, belum semua kecamatan yang sudah mendapatkan program ini. Penting untuk diketahui apakah kecamatan yang sudah mendapat program DPM-LUEP dapat memberikan jaminan kestabilan harga gabah yang lebih baik dibandingkan kecamatan yang belum mendapatkan program DPM-LUEP.

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektivitas program DPM-LUEP terhadap stabilitas harga gabah di tingkat petani di Propinsi Jawa Barat; menganalisis dampak kebijakan program DPM-LUEP terhadap tingkat pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP. Penelitian dilakukan di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat berdasarkan pertimbangan bahwa, Kecamatan Warungkondang merupakan salah satu kecamatan yang mendapat program DPM-LUEP.

Tujuan pertama dijawab dengan membandingkan perkembangan harga yang diterima petani di kecamatan yang mendapat DPM-LUEP dan yang tidak mendapat program (with and without project). Selanjutnya secara statistika akan dilakukan uji stasioneritas terhadap series harga di kedua lokasi tersebut dan uji tanda serta uji t untuk melihat signifikansi perbedaan harga yang diterima petani di kedua lokasi. Tujuan selanjutnya dijawab dengan menganalisis harga dan

(3)

pendapatan yang diterima petani antara yang menjual gabahnya ke LUEP dan yang tidak serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat pendapatan petani padi dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Tujuan terakhir dijawab dengan menggunakan metode regresi logistik (Binary Logistic Regression) dalam menduga faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP.

Harga rata-rata GKP pada bulan April sampai Oktober tahun 2007 di lokasi program DPM-LUEP sebesar Rp 2.292, sedangkan harga rata-rata gabah di lokasi non-program sebesar Rp 2.246. Hal ini menunjukkan harga rata-rata GKP di kecamatan yang mendapat program DPM-LUEP lebih tinggi daripada di kecamatan yang tidak mendapatkan program. . Pengamatan terhadap harga GKP di kecamatan yang ada DPM-LUEP menunjukkan bahwa berdasarkan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) terlihat disparitas harga tersebut stasioner. Sementara pengamatan terhadap harga GKP di kecamatan yang tidak ada DPM-LUEP menunjukkan disparitas harga yang tidak stasioner. Uji tanda terhadap perbedaan harga GKP antara kecamatan yang ada DPM-LUEP dan tidak ada menghasilkan nilai Z-hitung sebesar 3,402. Karena Z-hitung ini lebih dari Zα

(1,645), maka disimpulkan bahwa median harga GKP di kecamatan penerima DPM-LUEP memang secara statistik lebih tinggi dari median harga GKP di kecamatan non-LUEP. Uji t menghasilkan nilai t-hitung sebesar 1,35 dengan P-value sebesar 0,184. Hal ini menunjukkan bahwa harga rata-rata GKP tidak berbeda secara signifikan antara kecamatan yang ada DPM-LUEP dengan yang tidak ada DPM-LUEP.

Harga yang diterima oleh petani yang menjual ke LUEP rata-rata sebesar Rp 2.907 per Kg dan harga yang diterima petani yang tidak menjual ke LUEP rata-rata sebesar Rp 2.663 per Kg. Pendapatan petani yang menjual ke LUEP lebih besar dari pada pendapatan petani yang tidak menjual ke LUEP. Pendapatan petani yang menjual ke LUEP rata-rata sebesar Rp 11.710.355 dan pendapatan petani yang tidak menjual ke LUEP Rp 9.499.682. Pendapatan hanya dipengaruhi secara nyata oleh hasil produksi dan biaya saprodi pada taraf lima persen, sedangkan variabel lain tidak berpengaruh nyata. Sedangkan untuk variabel dummy LUEP berpengaruh nyata pada taraf lima persen yang menunjukkan hal terpenting bahwa ada perbedaan pendapatan yang nyata antara petani yang menjual gabahnya ke LUEP dan yang tidak menjual gabahnya ke LUEP.

Variabel yang secara nyata mempengaruhi keputusan petani menjual gabah ke LUEP yaitu variabel harga yang diterima. Identifikasi dapat dilihat dari nilai P-value variabel tersebut. Nilai P-value variabel harga sebesar 0,031 atau lebih kecil dari lima persen. Sedangkan variabel tingkat pendidikan, kepemilikan lahan, serta hasil produksi tidak secara nyata mempengaruhi keputusan petani menjual gabah ke LUEP karena nilai P-value lebih besar dari lima persen. Perbedaan harga lebih tinggi yang dapat diberikan oleh LUEP mendorong petani untuk menjual gabahnya ke LUEP.

(4)

EFEKTIVITAS PROGRAM DANA PENGUATAN MODAL LEMBAGA USAHA EKONOMI PERDESAAN (DPM-LUEP)

(Kasus Petani Padi Pandan Wangi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur)

Oleh:

KHRISNA PRATAMA A14304082

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

(5)

Judul Skripsi : EFEKTIVITAS PROGRAM DANA PENGUATAN MODAL LEMBAGA USAHA EKONOMI PERDESAAN (DPM-LUEP)

(Kasus Petani Padi Pandan Wangi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur)

Nama : Khrisna Pratama

NRP : A14304082 Menyetujui, Dosen Pembimbing Muhammad Firdaus, Ph.D NIP. 132 158 758 Mengetahui,

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019

(6)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “EFEKTIVITAS PROGRAM DANA PENGUATAN MODAL LEMBAGA USAHA EKONOMI PERDESAAN (DPM-LUEP) (Kasus Petani Padi Pandan Wangi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur)” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, April 2008

Khrisna Pratama A14304082

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Khrisna Pratama, dilahirkan pada 21 September 1986 di Tangerang sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Agus Priyana dan Anih Sumiati. Pada tahun 1998 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Parapat Tangerang. Penulis menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SLTPN 9 Tangerang pada tahun 2001 dan menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMAN 2 Tangerang pada tahun 2004. Penulis aktif di beberapa organisasi seperti MPK dan OSIS serta kegiatan ekstra kurikuler.

Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) tahun 2004. Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada program studi Ekonomi Pertanian Sumberdaya (EPS), jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian.

Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian (MISETA) pada tahun 2005/2006, Pers Kampus Gema Almamater IPB (GA) pada tahun 2005-2007, serta aktif dalam beberapa kegiatan kepanitian. Selain itu, penulis juga menjadi asisten dosen dalam mata kuliah ekonomi umum selama tiga semester pada tahun 2007-2008.

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang menciptakan segala keajaiban di muka bumi. Diantaranya terdapat kekayaan alam yang sangat potensial, sehingga mampu membantu keberlanjutan hidup manusia dalam berkreasi dan berkarya di alam semesta. Shalawat serta salam kepada Muhammad SAW semoga selalu mengalir sehingga keberkahan selalu disisi beliau.

Sebuah kebanggaan bagi penulis ketika membuat skripsi yang berjudul “Efektivitas Program Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan (DPM-LUEP) (Kasus Petani Padi Pandan Wangi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur)”. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi persyaratan penyelesaian Program Sarjana pada Fakultas Pertanian, Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis senantiasa menerima setiap saran dan kritik yang membangun guna menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini berguna dan bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, April 2008

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan serta kerjasama dalam penyusunan skripsi ini terutama kepada :

1. Bapak Muhammad Firdaus, Ph.D selaku dosen pembimbing skripsi dan pembimbing akademik atas bimbingan, saran, kritik, dan perhatiannya selama proses perkuliahan dan penyusunan skripsi.

2. Bapak Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec selaku dosen penguji utama dan Ibu Dra. Yusalina, M.Si selaku dosen penguji wakil departemen yang telah bersedia untuk menguji penulis, serta atas saran, masukan dan perbaikannya dalam penyusunan skripsi ini.

3. Mamah, Papah, dan Ucal serta semua keluarga besar yang selalu mendoakan, menyemangati, mendukung, serta membantu secara moral dan materil.

4. Owin (My Everything) terima kasih buat semuanya. Teman-teman yang banyak membantu, mendukung dan peduli: Yudi, Deli, Pipih, Aji Pafet, Pamz, Maya, Risti, Ade, Mayang, Zae, Ella, Tita, Aghiez, Ngkong, Evie, Toto, Sari, Mba Pini, Teh Fitri, Erfan, Deasy, Ricky, Morin, Asti, Wulan, Ucie, Ave, Irna, Achy, Etha, Santi, Kostan ACC, Kostan Maharani, serta rekan-rekan EPS 41 seluruhnya. “It feels great to have friends who care and believe in you”.

5. Segenap Dosen dan staf pada Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, LPPM IPB, dan Bagian Sarana Produksi, Biro Ekonomi Pemda Jabar.

6. Bapak Mahpudin, Bapak Beni, Ibu Reni, Bapak Kustana serta Neng dan Ipay yang banyak membantu selama penulis turun lapang.

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 6 1.3 Tujuan Penelitian ... 10 1.4 Kegunaan Penelitian ... 11

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Program DPM-LUEP ... 12

2.2 Maksud dan Tujuan Program DPM-LUEP ... 14

2.3 Sasaran Program DPM-LUEP ... 14

2.4 Indikator Kinerja DPM-LUEP ... 16

2.5 Kinerja DPM-LUEP Tahun 2003-2006 ... 17

2.6 Tinjauan Beberapa Studi Terdahulu ... 20

2.6.1 Studi Mengenai Kebijakan Harga Dasar dan HPP ... 21

2.6.2 Studi Mengenai Dampak Suatu Program Terhadap Pendapatan ... 24

III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Teoritis... 28

3.1.1 Teori Harga Dasar ... 28

3.1.2 Teori Pendapatan... 30

3.2 Kerangka Operasional... 31

IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 37

4.2 Jenis dan Sumber Data ... 37

4.3 Metode Pengambilan Sampel... 38

4.4 Metode Analisis Data ... 39

4.4.1 Identifikasi Efektivitas Program DPM-LUEP Terhadap Stabilitas Harga Gabah ... 39

4.4.2 Analisis Dampak Kebijakan Program DPM-LUEP Terhadap Tingkat Pendapatan Petani ... 42

4.4.3 Pengujian Hipotesis ... 45

4.4.4 Model Pendugaan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Menjual ke LUEP ... 46

(11)

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN DAN RESPONDEN

5.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian ... 49

5.2 Karakteristik Responden ... 53

5.2.1 Umur Responden ... 53

5.2.2 Tingkat Pendidikan Responden ... 54

5.2.3 Luas Lahan Garapan Responden ... 54

5.3 Gambaran Umum LUEP Mulya Kencana, Desa Sukamulya, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ... 55

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Perkembangan Harga Gabah dan Beras di Propinsi Jawa Barat.... 59

6.2 Efektivitas Program DPM-LUEP Terhadap Stabilitas Harga ... 61

6.2.1 Efektivitas Program DPM-LUEP Terhadap Stabilitas Harga GKP ... 62

6.2.2 Efektivitas Program DPM-LUEP Terhadap Stabilitas Harga GKG ... 64

6.2.3 Efektivitas Program DPM-LUEP Terhadap Stabilitas Harga Beras... 65

6.3 Dampak Kebijakan Program DPM-LUEP Terhadap Tingkat Pendapatan Petani Padi Pandan Wangi... 66

6.3.1 Harga yang Diterima dan Pendapatan Petani Padi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat ... 67

6.3.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat ... 69

6.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Dalam Menjual Gabahnya ke LUEP ... 74

VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan ... 78

7.2 Saran... 79

DAFTAR PUSTAKA ... 80

LAMPIRAN... 82

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Teks Halaman

1. Perkembangan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) di

Indonesia Berdasarkan Inpres No. 3 Tahun 2007 ... 3 2. Perkembangan Jumlah Lokasi Pelaksana LUEP, di Indonesia

Tahun 2003-2007 ... 4 3. Perubahan Harga Gabah dan Input Usahatani Padi

Sebelum dan Sesudah Kenaikan Harga BBM 2005 ... 9 4. Perkembangan Jumlah Alokasi, Pencairan, dan Sisa DPM

di Indonesia Tahun 2003-2006 ... 19 5. Perkembangan Jumlah Pengembalian dan Tunggakan DPM

oleh LUEP di Indonesia Tahun 2003-3006 ... 19 6. Ringkasan Sumber Data dan Metode Penelitian yang Digunakan 38 7. Jumlah Petani Responden Berdasarkan Tingkat Umur ... 53 8. Jumlah Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 54 9. Jumlah Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan ... 55 10. Uji Stasioneritas Disparitas Harga Gabah (Produsen)

dengan Beras (Konsumen) di Propinsi Jawa Barat,

April s.d. Oktober 2007 ... 63 11. Harga Diterima dan Pendapatan Petani Padi

Pandan Wangi yang Menjual ke LUEP dan Tidak

di Kabupaten Cianjur Tahun 2007 ... 68 12. Hasil Pendugaan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan

Petani di Kabupaten Cianjur Tahun 2007 ... 70 13. Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Keputusan Petani Menjual Gabah Ke LUEP di

Kabupaten Cianjur Tahun 2007 ... 75

(13)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Halaman

1. Disparitas Harga Gabah dan Harga Beras Eceran di

Jawa Barat, 2004-2005 ... 7 2. Penetapan Harga Minimum (Harga Dasar) ... 29 3. Alur Kerangka Pemikiran ... 36 4. Perkembangan Harga GKP di Jawa Barat,

April s.d. Oktober 2007 ... 59 5. Perkembangan Harga GKG di Jawa Barat,

April s.d. Oktober 2007 ... 60 6. Perkembangan Harga Beras di Jawa Barat,

April s.d. Oktober 2007 ... 61 7. Perkembangan Harga GKP di Kecamatan DPM-LUEP dan

Non-DPM-LUEP di Jawa Barat, April s.d. Oktober 2007 ... 62 8. Perkembangan Harga GKG di Kecamatan DPM-LUEP dan

Non-DPM-LUEP di Jawa Barat, April s.d. Oktober 2007 ... 64 9. Perkembangan Harga Beras di Kecamatan DPM-LUEP dan

Non-DPM-LUEP di Jawa Barat, April s.d. Oktober 2007 ... 66

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Teks Halaman

1. Perkembangan Harga Gabah dan Beras di Kecamatan

Program DPM-LUEP, Propinsi Jawa Barat Tahun 2007 ... 82 2. Perkembangan Harga Gabah dan Beras di Kecamatan Non

Program DPM-LUEP, Propinsi Jawa Barat Tahun 2007 ... 83 3. Hasil Output Minitab Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Pendapatan Petani Padi Pandan Wangi ... 84 4. Hasil Output Minitab Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Keputusan Petani Menjual Gabah ke LUEP ... 85 5. Hasil Output Minitab Uji t ... 86 6. Hasil Output Eviews Uji Stasioneritas ... 87 7. Disparitas Harga Beras dan Gabah di Kecamatan LUEP,

Jawa Barat April-Oktober 2007 ... 88 8. Disparitas Harga Beras dan Gabah di Kecamatan Non-LUEP,

Jawa Barat April-Oktober 2007 ... 88 9. Kuisioner Penelitian Efektivitas Program DPM-LUEP ... 89 10. Kuisioner Efektivitas Program DPM-LUEP Terhadap

Peningkatan Pendapatan Petani ... 92

(15)

EFEKTIVITAS PROGRAM DANA PENGUATAN MODAL LEMBAGA USAHA EKONOMI PERDESAAN (DPM-LUEP)

(Kasus Petani Padi Pandan Wangi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur)

Oleh:

KHRISNA PRATAMA A14304082

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

(16)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sektor pertanian memegang peranan yang sangat besar dalam pertumbuhan perekonomian nasional. Pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan produktivitas usahatani. Sektor pertanian memberikan kontribusi dalam hal peningkatan pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja serta memperluas pasar dalam negeri dan luar negeri melalui pertanian yang tangguh.

Salah satu hasil dari produk pertanian adalah gabah yang kemudian dapat dijadikan sebagai beras. Beras merupakan komoditas pangan bagi kelangsungan hidup rakyat Indonesia. Menurut Amang dan Sawit (1999), pembangunan sub sektor pangan khususnya padi, sebelum krisis, telah mampu mengurangi jumlah orang miskin secara signifikan di pedesaan Jawa. Peningkatan pendapatan pada komoditas tersebut telah menarik sektor lain untuk berkembang di desa.

Kebutuhan akan beras sebagai makanan pokok terus meningkat seiring semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Pemerintah sudah berusaha untuk meningkatkan produksi beras nasional agar dapat menjamin ketersediaan akan beras. Upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nasional akan beras adalah dengan dilakukan kegiatan seperti pemeliharaan kapasitas sumber daya lahan dan perairan, perluasan lahan untuk produksi, peningkatan intensitas tanam, peningkatan produktivitas tanaman serta penekanan kehilangan hasil.

Petani merupakan salah satu pelaku terkait yang berperan dalam meningkatkan produksi. Petani seharusnya mendapatkan perhatian terutama dari

(17)

pemerintah. Pada perkembangannya petani selalu menjadi pihak yang dirugikan, hal ini ditunjukan dengan biaya produksi yang tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan harga jual hasil panen yang tinggi sehingga pendapatan petani tidak meningkat atau bahkan tidak cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Pada saat panen raya pendapatan petani justru semakin turun karena harga jual yang semakin rendah.

Pada masa Orde Baru, untuk melindungi petani padi dari turunnya harga padi pada saat panen raya, pemerintah menetapkan kebijakan harga dasar gabah. Kebijakan harga dasar gabah (HDG) mewajibkan pemerintah membeli kelebihan suplai beras pada saat ditetapkannya harga dasar ketika panen raya. Begitu juga pada saat masa reformasi saat ini, pemerintah menetapkan Harga gabah Pembelian Pemerintah (HPP). HPP yang ditetapkan melalui Inpres No. 2 Tahun 2005 telah dilaksanakan sekitar dua tahun sejak Maret 2005. Sebagaimana diketahui, HPP tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal tersebut terlihat bahwa pemberlakuan HPP bersamaan dengan penetapan kenaikan harga BBM.

Perubahan HDG menjadi HPP sangat mendasar karena dengan kebijakan HPP, pemerintah tidak lagi berkewajiban dan bertanggung jawab secara formal dan juridis untuk menjamin harga dasar gabah pada tingkat harga tertentu. Kebijakan HPP bukan menjamin harga dasar gabah minimum di tingkat petani sebagaimana lazimnya pada konsep kebijakan HDG. Dengan kebijakan HPP Pemerintah tidak wajib membeli gabah dari petani.

Hingga saat ini, Inpres No. 2 Tahun 2005 mengandung beberapa perubahan mendasar dibanding rancangan sebelumnya. Perubahan mendasar

(18)

tersebut memuat tentang penetapan harga pembelian untuk gabah kering panen dan rasionalisasi struktur harga antara Gabah Kering Panen (GKP), Gabah Kering Giling (GKG) dan beras. Kedua hal tersebut mengandung pengertian agar kebijakan HPP lebih efektif dalam mengangkat harga gabah petani.

Melalui Inpres No. 3 Tahun 2007 pada tanggal 1 April, pemerintah telah menetapkan kebijakan kenaikan HPP, yang semula Rp 1.730,00 per kilogram GKG naik menjadi Rp 2000,00 per kilogram GKG. Tabel 1 memperlihatkan perkembangan harga pembelian pemerintah (HPP) dua tahun terakhir.

Tabel 1. Perkembangan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) di Indonesia Berdasarkan Inpres No. 3 Tahun 2007

HPP

Jenis 2005 2006 2007

Gabah Kering Panen Rp 1.330 Rp 1.730 Rp 2.000 Gabah Kering Giling Rp 1.765 Rp 2.280 Rp 2.575

Beras Rp 2.790 Rp 3.550 Rp 4.000

Sumber : Departemen Pertanian (2007)

Pemerintah selain menetapkan kebijakan HPP juga memberikan Dana Penguat Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) untuk menolong petani, kegiatan ini dilakukan oleh Departemen Pertanian dalam rangka stabilisasi harga gabah terutama pada saat panen raya. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pemberian dana talangan kepada LUEP untuk meningkatkan kemampuannya dalam membeli gabah/beras petani, dengan harga yang wajar dan mengacu pada HPP.1 Berdasarkan program ini diharapkan petani dapat menjual gabahnya ke LUEP sesuai dengan HPP yang ditetapkan sehingga kebijakan HPP dapat efektif.

1 http://www.deptan.go.id/HomePageBBKP/pdp/luep/profil_LUEP.htm.29 Agustus 2007.

(19)

LUEP merupakan Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan yang didirikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk menstabilkan harga beras agar tidak merugikan petani padi. LUEP merupakan lembaga pedesaan seperti KUD, koperasi tani, gabungan kelompok tani atau kelompok tani yang bertugas menampung hasil panen dari petani-petani padi di daerah tersebut. LUEP sangat diperlukan petani padi karena pada umumnya petani padi tidak mampu menjual gabah pada harga yang wajar. Lembaga ini sangat penting untuk meningkatkan posisi tawar petani dan melindungi petani dari penjual-penjual besar.

Tabel 2. Perkembangan Jumlah Lokasi Pelaksana LUEP di Indonesia Tahun 2003-2007

Tahun Jumlah Propinsi Jumlah Kabupaten Jumlah LUEP Pencairan

APBN (Rp.000) 2003 15 121 1.149 159.743.887 2004 19 145 1.332 160.791.799 2005 19 125 842 89.931.420 2006 25 175 1.583 225.732.064 2007*) 27 - 319 265.524.000

Sumber : Departemen Pertanian (2008)

Keterangan : *) Jumlah kabupaten dan LUEP tahun 2007 berdasarkan laporan yang masuk per Agustus 2007

Kegiatan DPM-LUEP telah berlangsung sejak tahun 2003 dan telah memasuki tahun keenam. Pada tahun 2003 dan 2004, penggunaan DPM hanya untuk membeli gabah atau beras petani, namun sejak tahun 2005 ditambah komoditas jagung dan komoditas kedelai sejak tahun 2007. Tabel 2 menunjukkan perkembangan jumlah lokasi pelaksana DPM-LUEP selama tahun 2003-2007. Terlihat bahwa jumlah propinsi, jumlah kabupaten, dan jumlah LUEP yang mendapatkan DPM cenderung meningkat setiap tahun sesuai dengan alokasi APBN yang semakin meningkat. Penurunan jumlah kabupaten dan LUEP yang

(20)

mendapat DPM terjadi pada tahun 2005. Hal ini disebabkan alokasi dari APBN yang lebih sedikit pada tahun 2005 dibandingkan tahun sebelumnya.

Stabilisasi harga gabah hasil panen petani pada saat panen raya merupakan aspek yang sangat penting dan menentukan pendapatan dan ketahanan pangan petani padi. Peningkatan pembelian gabah oleh LUEP dengan harga yang tinggi diharapkan dapat mempengaruhi harga gabah di wilayah, serta menggerakkan agribisnis perberasan secara keseluruhan. Pengalaman beberapa propinsi yang telah melaksanakan program LUEP menunjukkan bahwa dana talangan ini efektif untuk menjaga stabilitas harga gabah pada harga yang wajar. Berdasarkan keberhasilan beberapa daerah tersebut, Komisi III DPR-RI mendukung usulan Departemen Pertanian untuk pendanaan kegiatan ini dari APBN, melalui dana penguatan modal (DPM) LUEP.

Program DPM-LUEP bertujuan agar pada saat panen raya petani dapat menjual gabahnya dengan harga yang stabil atau sesuai dengan HPP. Selain itu, meningkatnya kemampuan kelembagaan petani dalam berorganisasi dan mengembangkan usaha bersama untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya merupakan sasaran dari program ini. Dengan demikian perlu diketahui apakah dengan adanya LUEP harga gabah di tingkat petani dapat stabil dan mengacu pada HPP yang ditetapkan. Selain itu apakah dengan adanya program ini pendapatan petani dapat meningkat sehingga kesejahteraan petani dapat terjamin.

Jawa Barat adalah daerah penghasil beras terbesar di Indonesia, dengan produksi beras yang dihasilkan mencapai 20 persen dari total produksi nasional (BPS, 2006). Propinsi Jawa Barat sebagai sentra produksi padi terbesar di Indonesia memperoleh dana DPM-LUEP setiap tahunnya. Namun, sampai saat ini

(21)

program DPM-LUEP belum dilaksanakan di seluruh kecamatan di Jawa Barat. Oleh karena itu penting untuk diketahui efektivitas program ini dalam menolong harga gabah petani di tiap kecamatan yang mendapat DPM-LUEP dibandingkan dengan kecamatan yang belum mendapatkan DPM-LUEP dan apakah LUEP dikatakan sudah dapat membantu petani dengan menstabilkan harga gabah yang diterima.

Disamping itu, petani padi di Kabupaten Cianjur Propinsi Jawa Barat diduga sangat sensitif dari adanya perubahan kebijakan HPP tersebut sehingga peranan DPM-LUEP sangat dibutuhkan. Kabupaten Cianjur merupakan salah satu sentra produksi padi yang memasok sekitar tujuh persen kebutuhan padi di pulau Jawa pada tahun 2005 dan memiliki beras dengan ciri khas tersendiri (BPS, 2006). Dengan demikian penelitian ini akan mengambil kasus dampak dari program DPM-LUEP terhadap tingkat pendapatan petani padi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

1.2. Perumusan Masalah

Kondisi perberasan di Indonesia saat ini masih menghadapi banyak masalah, salah satunya menyangkut kesejahteraan petani. Sebagai pelaku utama sektor pertanian, kesejahteraan petani masih belum menjadi prioritas. Pada saat panen raya, harga gabah seringkali turun sampai di bawah harga dasar bahkan sampai titik terendah sehingga merugikan petani. Sebaliknya pada musim paceklik, produksi yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan sehingga harga gabah meningkat dan tidak terjangkau oleh petani yang tidak lagi memiliki produksi gabah.

(22)

Petani seharusnya mendapatkan perhatian dari pemerintah. Seringkali petani selalu menjadi pihak yang dirugikan, hal ini ditunjukan dengan biaya produksi yang tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan harga jual hasil panen yang tinggi sehingga pendapatan petani tidak meningkat atau bahkan tidak cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari karena, selain untuk biaya produksi selanjutnya petani juga perlu memikirkan keberlangsungan hidupnya.

Berbagai instrumen untuk meningkatkan pendapatan petani telah dijalankan oleh pemerintah seperti subsidi terhadap input pertanian, perbaikan sistem penyimpanan, pemberian bantuan kredit, namun pada kenyataannya belum sepenuhnya mampu meningkatkan pendapatan petani padi. Hal ini disebabkan relatif rendahnya harga gabah yang diterima petani padi terhadap harga komoditi lain bahkan terhadap harga beras sendiri.

Bulan Ha rg a 25 20 15 10 5 0 3500 3000 2500 2000 1500 1000 Variable Disparitas GKP (Pro dusen) Beras (Konsumen)

Gambar 1. Disparitas Harga Gabah dan Harga Beras Eceran di Jawa Barat, 2004-2005

Sumber: Badan Pusat Statistik (2005)

(23)

Permasalahan tingginya disparitas antara harga di tingkat petani dengan harga di tingkat konsumen di Propinsi Jawa Barat ditunjukkan oleh grafik pada Gambar 1. Sepanjang tahun 2004 sampai dengan 2005, secara nominal disparitas tersebut semakin menyolok dan menunjukkan tren yang meningkat. Hal ini mengindikasikan secara relatif harga yang diterima petani masih rendah.

DPM-LUEP yang diberlakukan tahun 2003 berusaha meminimisasi fluktuasi harga gabah di tingkat petani. Program DPM-LUEP bertujuan agar harga gabah yang diterima petani tidak pernah berada pada level di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Kebijakan kenaikan HPP yang telah ditetapkan tanggal 1 April 2007 melalui Inpres No.3 Tahun 2007 diharapkan juga dapat mempengaruhi tingkat pendapatan petani.

Pembelian gabah oleh LUEP dengan harga minimal sama dengan HPP diharapkan dapat menjadi insentif petani agar tetap berproduksi. Efektivitas LUEP juga akan meningkatkan pendapatan petani ketika kondisi panen raya. Efektivitas ini diukur dari sejauhmana dampak DPM-LUEP terhadap stabilitas harga petani sehingga tidak jatuh di bawah HPP pada saat terjadi panen raya. Namun yang menjadi permasalahan adalah kenaikan HPP juga diikuti dengan kenaikan biaya produksi pertanian. Hal ini dapat dilihat dari data perubahan harga gabah dan input usahatani padi sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM 2005.

Selain efektivitasnya dalam menjaga kestabilan harga gabah di tingkat petani, DPM-LUEP juga diharapkan dapat memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan petani. Apakah dengan adanya program ini pendapatan petani dapat meningkat ?, sehingga kesejahteraan petani juga meningkat.

(24)

Tabel 3. Perubahan Harga Gabah dan Input Usahatani Padi Sebelum dan Sesudah Kenaikan Harga BBM di Indonesia Tahun 2005

Uraian Satuan Sebelum Sesudah Perubahan % Perubahan Benih Rp/kg 3.000 3.300 300 10,00

Pupuk Rp/kg 3.480 3.980 500 14,37

Pestisida Rp/liter 200.000 236.000 36.000 18,00 Traktor Rp/ha 350.000 430.000 80.000 22,86 Pompa air Rp/ha 120.000 150.000 30.000 25,00

Mesin rontongan Rp/ha 530.000 604.000 74.000 13,96 Upah TK Rp/HOK 16.500 20.000 3.500 21,21

Gabah Rp/kg 1.150 1.300 150 13,04

Sumber : Analisis Kebijakan Pertanian, Volume 3 No.3, September 2005

Alokasi DPM-LUEP tingkat nasional Tahun 2007 untuk pembelian gabah/beras sebesar Rp 299,93 milyar. Untuk Propinsi Jawa Barat sendiri dialokasikan dana sebesar Rp 24,03 milyar. Terdapat 15 kabupaten dan satu kota di Jawa Barat yang mendapatkan program DPM-LUEP. Namun diantara tiap kabupaten/kota tersebut, belum semua kecamatan yang sudah mendapatkan program ini. Penting untuk diketahui apakah kecamatan yang sudah mendapat program DPM-LUEP dapat memberikan jaminan kestabilan harga gabah yang lebih baik dibandingkan kecamatan yang belum mendapatkan program DPM-LUEP.

Kabupaten Cianjur merupakan salah satu kabupaten yang mendapat program DPM-LUEP. Terdapat empat kecamatan yang mendapat DPM-LUEP di Kabupaten Cianjur yaitu Kecamatan Cibeber, Karang Tengah, Warungkondang, dan Ciranjang. Kebijakan kenaikan HPP yang telah ditetapkan tanggal 1 April 2007 melalui Inpres No.3 Tahun 2007 serta program DPM-LUEP yang dapat mendukung efektivitas HPP mempengaruhi tingkat pendapatan petani padi di

(25)

Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur sebagai salah satu kecamatan yang mendapat program DPM-LUEP.

Efektivitas program DPM-LUEP terhadap stabilitas harga dan pendapatan petani tentunya dipengaruhi oleh keinginan petani untuk menjual gabahnya ke LUEP. Dengan pembelian gabah petani oleh LUEP maka tujuan dari program ini dapat dicapai. Masih banyaknya petani yang menjual gabahnya ke tengkulak tentunya membuat LUEP harus mampu memberikan insentif yang lebih baik agar petani bersedia untuk menjual gabahnya kepada lembaga ini.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apakah program DPM-LUEP dapat menjaga stabilitas harga gabah di tingkat

petani di Propinsi Jawa Barat?

2. Apakah program DPM-LUEP dapat meningkatkan pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat?

3. Apa saja yang mempengaruhi keputusan petani menjual gabahnya ke LUEP?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Menganalisis efektivitas program DPM-LUEP terhadap stabilitas harga gabah

di tingkat petani di Propinsi Jawa Barat.

2. Menganalisis dampak program DPM-LUEP terhadap tingkat pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat.

3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP.

(26)

1.4. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan agar dapat memberi informasi dan pemahaman kepada pembaca mengenai efektivitas program DPM-LUEP terhadap stabilitas harga gabah dan pendapatan petani. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi penulis untuk melatih kemampuan berpikir, mengkaji dan menulis suatu permasalahan serta memberikan solusinya.

(27)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Program DPM-LUEP

Salah satu instrumen yang digunakan pemerintah untuk menjaga fairness tingkat harga gabah dan beras yang terjadi adalah dengan memberikan bantuan modal bagi usaha perdesaan untuk membeli gabah/beras dari petani. Pada Tahun Anggaran 2003, Departemen Pertanian dengan dukungan Komisi III DPR-RI, telah mengembangkan kegiatan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) untuk melakukan pembelian gabah/beras petani pada saat panen raya. Melalui penguatan modal ini, kemampuan LUEP untuk membeli gabah/beras petani dengan harga yang wajar menjadi meningkat. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang signifikan bagi upaya stabilisasi harga gabah di tingkat petani. Selanjutnya, melalui pelaksanaan kegiatan ini diharapkan pula dapat meningkatkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, wilayah, dan nasional.

Dana Penguatan Modal untuk Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk membantu petani memperoleh harga sesuai HPP. Melalui kegiatan ini pemerintah mengalokasikan sejumlah dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai dana talangan kepada LUEP untuk membeli gabah petani pada saat panen raya minimal sesuai HPP. Kegiatan DPM-LUEP telah dilaksanakan sejak tahun 2003 dengan anggaran Rp 162,19 milyar yang disalurkan kepada 1.149 LUEP di 15 propinsi, tahun 2004 sebesar Rp 161,55 milyar bagi 1.328 LUEP di 19 propinsi, tahun 2005 sebesar Rp

(28)

99,92 milyar bagi 841 LUEP di 19 propinsi, tahun 2006 sebesar Rp 238,50 milyar di 25 propinsi dan tahun 2007 sebesar 299,93 milyar di 27 propinsi.

Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan yang memperoleh DPM, dapat berbentuk gabungan kelompok tani (Gapoktan), koperasi, koperasi tani (Koptan), Koperasi Unit Desa (KUD), lumbung pangan, dan pengusaha penggilingan padi yang bergerak dalam pengolahan, penyimpanan, maupun pemasaran gabah. Manfaat dari diterimanya DPM-LUEP tidak boleh berhenti sampai pada penguatan modal, tetapi harus diteruskan kepada petani berupa pembelian gabah pada waktu yang tepat dan harga yang lebih baik. Penggunaan DPM oleh LUEP harus memenuhi “Lima Tepat” yakni :

1. Tepat Pemanfaatan: DPM-LUEP hanya dapat dimanfaatkan untuk pembelian gabah dari petani – bukan untuk keperluan lain.

2. Tepat Sasaran: pembelian dengan dana DPM harus langsung kepada petani/kelompok tani – bukan dari pedagang atau pihak lain.

3. Tepat Waktu: LUEP bertanggungjawab dalam pembelian gabah/beras ke petani pada saat harga jatuh, terutama pada panen raya dan mengembalikan dana talangan tepat pada waktunya.

4. Tepat Harga: Pembelian gabah petani oleh LUEP pada harga sesuai dengan kontrak dan mengacu kepada HDPP.

5. Tepat Jumlah: LUEP menggunakan DPM minimal sesuai dengan kontrak. Diharapkan dapat menggunakan secara berulang-ulang untuk membeli gabah dan mengembalikan dana tersebut dalam jumlah yang utuh.

(29)

2.2. Maksud dan Tujuan Program DPM-LUEP

Maksud penyelenggaraan kegiatan DPM-LUEP sebagai berikut:

a. Menjaga stabilitas harga gabah/beras, jagung dan kedelai produksi petani agar tidak jatuh pada saat panen raya

b. Memfasilitasi pengembangan ekonomi di pedesaan melalui usaha pembelian, pengolahan dan pemasaran gabah/beras, jagung, dan kedelai ; c. Memperkuat kelembagaan petani sebagai sarana kerjasama untuk

meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

Untuk mencapai maksud tersebut, maka tujuan penyelenggaraan kegiatan DPM-LUEP adalah:

a. Melakukan pembelian gabah/beras petani dengan harga serendah-rendahnya sesuai HPP, dan pembelian jagung serta kedelai sesuai harga referensi daerah;

b. Meningkatkan kemampuan para pelaku usaha pertanian di pedesaan dalam mengakses modal untuk mengembangkan usaha di bidang pembelian, pengolahan dan pemasaran gabah/beras, jagung atau kedelai;

c. Mengembangkan kelembagaan petani dalam berorganisasi dan usaha bersama yang lebih komersil.

2.3. Sasaran Program DPM-LUEP Sasaran DPM-LUEP terdiri dari: a. Sasaran Umum:

(30)

(1) Terlaksananya pembelian gabah/beras, jagung, dan kedelai oleh LUEP serendah-rendahnya sesuai HPP untuk gabah/beras atau harga referensi daerah untuk jagung dan kedelai;

(2) Meningkatnya kemampuan permodalan unit usaha milik kelompoktani/ gapoktan, Koptan, atau KUD untuk mengembangkan usaha di bidang pembelian, pengolahan dan pemasaran beras/gabah, jagung atau kedelai;

(3) Meningkatnya kemampuan kelembagaan petani dalam berorganisasi dan mengembangkan usaha bersama untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

b. Sasaran Kegiatan:

(1) Petani dalam poktan yang tergabung dalam Gapoktan atau petani anggota Koptan atau KUD;

(2) Penerima DPM, adalah LUEP yang dapat berbentuk unit usaha dalam Gapoktan, Koptan atau KUD untuk membeli gabah/beras, jagung, atau kedelai petani dalam poktan; serta mengembalikan DPM secara tepat waktu dan jumlah;

(3) Propinsi pelaksana kegiatan DPM-LUEP yaitu: (a) padi di 27 propinsi sentra produksi padi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan,

(31)

Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Papua; (b) jagung di 9 propinsi sentra produksi yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Gorontalo; serta (c) kedelai di 4 sentra produksi di propinsi yaitu Jambi, Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

2.4. Indikator Kinerja DPM-LUEP

Untuk mengukur nilai keberhasilan kegiatan ini, digunakan beberapa indikator kinerja, yaitu:

a. Indikator Output:

Volume pembelian gabah/beras oleh LUEP meningkat minimal sebesar alokasi dana yang diterima, dan waktu pengembalian lunas tepat waktu. Dalam pelaksanaannya indikator output diukur melalui:

• Pencairan DPM oleh LUEP tepat waktu, jumlah, dan sasaran;

• Pemanfaatan DPM untuk pembelian gabah/beras petani sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah;

• Putaran DPM untuk pembelian gabah/beras oleh LUEP minimal satu kali ; • Pengembalian DPM tepat waktu dan tepat jumlah.

b. Indikator Outcome:

Harga yang diterima petani daerah sentra produksi semakin baik dan usaha LUEP di pedesaan semakin berkembang. Dalam pelaksanaannya indikator outcome diukur melalui:

• Harga yang diterima petani padi di wilayah sasaran kegiatan DPM-LUEP dibandingkan Harga Dasar Pembelian oleh Pemerintah (HDPP).

(32)

• Meningkatnya aktivitas penjualan dan pemasaran LUEP. c. Indikator Benefit:

Harga gabah/beras semakin stabil dan agribisnis perberasan semakin berkembang. Dalam pelaksanaannya lebih ditekankan pada harga gabah/ beras yang terkendali di wilayah sasaran kegiatan DPM-LUEP.

d. Indikator Dampak:

Pendapatan petani padi meningkat yang dapat memantapkan ketahanan pangan wilayah.

2.5. Kinerja DPM-LUEP Tahun 2003-2006

Kegiatan DPM-LUEP tahun 2003 di 15 propinsi: NAD, Sumut, Sumbar, Sumsel, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, Sulsel, Kalbar dan Kalsel meliputi 121 kab, 1.148 LUEP, dan ± 11.480 petani. Alokasi APBN sebesar Rp 162.190 juta, pencairan sebesar Rp 159.744 juta (98%), pembelian sebesar Rp 600.983 juta (376% dari nilai yg dicairkan), penjualan sebesar Rp 531.019 juta (88% dari nilai pembelian) serta pengembalian sebesar Rp 150.054 juta (93,93% dari nilai pencairan).

Pelaksanaan DPM-LUEP tahun 2004 di 19 propinsi: NAD, Sumut, Sumbar, Sumsel, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, DI. Yogya, Jatim, Bali, NTB, Sulsel, Kalbar, Kalsel, Jambi, NTT, Sulteng dan Gorontalo. Meliputi 145 kab, 1.327 LUEP, dan ± 12.780 petani. Alokasi APBN sejumlah Rp 161.550 juta, pencairan senilai Rp 157.545 (97% dari alokasi), pembelian sejumlah Rp 624.954 juta (397% dari nilai yg dicairkan), penjualan sejumlah Rp 603.079 juta (97%

(33)

dari nilai pembelian), serta pengembalian sejumlah Rp 144.988 juta (92,03% dari nilai pencairan).

Kegiatan DPM-LUEP tahun 2005 di 19 propinsi: NAD, Sumut, Sumbar, Sumsel, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, Sulsel, Kalbar, Kalsel, Jambi, NTT, Sulteng dan Gorontalo meliputi 125 kab, 842 LUEP, dan ± 8.920 petani. Alokasi APBN sebesar Rp 99.921 juta, pencairan sebesar Rp 89.932 juta (90%), pembelian sebesar Rp 304.867 juta (339% dari nilai yg dicairkan), penjualan sebesar Rp 301.818 juta (99% dari nilai pembelian) serta pengembalian pada sebesar Rp 88.083 juta (97,95% dari nilai pencairan).

Pelaksanaan DPM-LUEP tahun 2006 di 25 propinsi: Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, Jambi, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Papua. Meliputi 175 kab, 1.583 LUEP, dan ± 15.150 petani. Alokasi APBN sejumlah Rp 239.195 juta, pencairan senilai Rp 225.732 (94% dari alokasi), pembelian sejumlah Rp 1.440.170 juta (638% dari nilai yg dicairkan), penjualan sejumlah Rp 1.598.589 juta (111% dari nilai pembelian), serta pengembalian sejumlah Rp 218.197 juta (96,66% dari nilai pencairan).

Kegiatan DPM-LUEP dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 dapat dikatakan cukup berhasil. Perkembangan kegiatan DPM-LUEP dari tahun 2003 sampai tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5. Secara umum persentase pencairan DPM oleh LUEP dari tahun 2003-2006 telah mencapai lebih

(34)

94 persen dari alokasi DPM. Sisa DPM di propinsi dari tahun 2003-2006 hanya sekitar 4,24 persen dari alokasi DPM. Selain itu, pengembalian dari tahun 2003-2006 sampai dengan akhir maret 2007 telah mencapai lebih 93 persen dari nilai pencairan.

Tabel 4. Perkembangan Jumlah Alokasi, Pencairan, dan Sisa DPM di Indonesia Tahun 2003-2006

Penyediaan, Pencairan, dan Sisa DPM yang tidak Dicairkan Pencairan DPM oleh

LUEP Sisa DPM di Propinsi Tahun Alokasi DPM (Rp.000) (Rp.000) % (Rp.000) % 2003 162.189.645 159.743.887 98,49 2.445.758 1,51 2004 161.549.825 160.791.799 99,53 758.026 0,47 2005 99.920.448 89.931.420 90,00 9.989.027 10,00 2006 239.195.229 225.732.064 94,37 13.463.165 5,63 Jumlah 662.855.147 636.199.170 94,78 26.655.971 4,24 Sumber : Departemen Pertanian (2008)

Selanjutnya diharapkan kegiatan ini dapat melibatkan semaksimal mungkin peran pemerintah daerah, swasta dan masyarakat. Peranan masing-masing pihak dibutuhkan dalam rangka membangun ketahanan pangan wilayah yang berbasis pada pengembangan sistem dan usaha agribisnis perberasan yang efisien, dan berkelanjutan.

Tabel 5. Perkembangan Jumlah Pengembalian dan Tunggakan DPM oleh LUEP di Indonesia Tahun 2003-3006

Pengembalian DPM Tunggakan DPM Tahun Pencairan (Rp.000) (Rp.000) % (Rp.000) % 2003 159.743.887 150.054.737 93,93 9.689.151 6,07 2004 160.791.799 153.542.278 95,49 7.249.521 4,51 2005 89.931.420 88.083.477 97,95 1.847.944 2,05 2006 225.732.064 218.197.501 96,66 7.534.563 3,34 Jumlah 636.199.170 609.877.992 95.86 26.321.179 4,14 Sumber : Departemen Pertanian (2008)

(35)

Evaluasi Tim Teknis Pusat mengidentifikasi beberapa kendala di lapangan antara lain: (1) masih ada penggunaan DPM-LUEP untuk pembelian di luar ketentuan; (2) Pencairan selalu terlambat; (3) pelaporan Form A, B dan C terlambat dan tidak lengkap; (4) belum ada penyelesaian tunggakan pengembalian tahun 2003 dan tahun 2004; serta (5) belum ditemukannya sistem pengembalian ke daerah yang tidak bertentangan dengan perundangan yang berlaku. Indikator pencapaian kegiatan ini dengan sasaran terkendalinya harga gabah petani sesuai HPP telah dicapai dengan indikator kinerja harga gabah stabil. Namun sasaran menguatnya lembaga usaha ekonomi pedesaan dan menguatnya posisi daerah dalam ketahanan pangan belum tercapai.

Masalah utama kegiatan DPM-LUEP setelah lima tahun berjalan adalah pencairan dana yang belum tepat waktu, karena pencairan dana masih menggunakan mekanisme APBN. Perdagangan beras antar daerah dan antar pulau belum berjalan seperti yang diharapkan, walaupun kebijakan pemerintah untuk melarang impor beras sudah dikeluarkan sampai dengan 31 Desember 2005. Kendala lain yang masih dirasakan adalah pemasaran oleh LUEP yang secara nasional masih tergantung pada DOLOG dan ke pasar umum yang pada saat itu diketahui situasinya stagnan.

Pelaksanaan DPM LUEP telah berjalan sejak tahun 2003 dengan tujuan membantu LUEP untuk dapat menolong petani. Perkembangan pelaksanaan DPM LUEP hingga tahun 2006 mengalami peningkatan jumlah propinsi dan kabupaten penerima dari 15 propinsi di 121 kabupaten menjadi 25 propinsi di 175 kabupaten penerima.

(36)

2.6. Tinjauan Beberapa Studi Terdahulu

Penelitian terdahulu mengenai program DPM-LUEP belum banyak dilakukan. Namun penelitian tentang kebijakan HPP atau harga dasar gabah serta tingkat pendapatan petani telah banyak dilakukan. Beberapa studi terdahulu yang terkait dengan permasalahan yang akan dibahas akan diuraikan seperti di bawah ini.

2.6.1. Studi Mengenai Kebijakan Harga Dasar dan HPP

Penelitian mengenai dampak kebijakan harga gabah terhadap produksi padi di pulau Jawa dilakukan oleh Dohana (2006). Dalam penelitian tersebut menggunakan model persamaan simultan untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi di pulau Jawa, kemudian melakukan simulasi historis (1984-2004) guna menganalisis dampak kebijakan terhadap produksi padi. Data diolah menggunakan SAS v6.12.

Hasil analisis menunjukkan bahwa harga dasar gabah, harga pupuk urea, dan luas areal panen padi tahun sebelumnya berpengaruh nyata terhadap luas areal panen padi. Respon luas areal panen padi di pulau Jawa pada jangka pendek inelastis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sedangkan pada jangka panjang luas areal panen padi lebih elastis terhadap perubahan harga dasar gabah, harga pupuk urea, dan luas areal panen padi tahun sebelumnya. Produktivitas padi dipengaruhi secara signifikan oleh harga dasar gabah, harga pupuk urea, jumlah penggunaan pupuk kimia, curah hujan, dan produktivitas padi tahun sebelumnya. Respon produktivitas padi terhadap faktor-faktor di atas adalah inelastis baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang kecuali perubahan produktivitas

(37)

padi tahun sebelumnya yang direspon lebih elastis dalam jangka panjang oleh produktivitas padi.

Hasil simulasi menunjukan bahwa kebijakan harga dasar gabah berdampak positif terhadap produksi padi di pulau Jawa. Namun perlu pertimbangan simulasi Harga Pupuk Urea (HPU), dan Harga Beras Eceran di Indonesia (HBEI) sebelum penetapan harga dasar gabah. Hasil simulasi peningkatan harga pupuk urea menunjukan terjadi peningkatan harga gabah dan penurunan produksi padi di pulau Jawa. Sedangkan peningkatan harga dasar gabah dan harga pupuk urea secara bersama-sama mendorong peningkatan produksi. Harga beras eceran di Indonesia (HBEI) mewakili pengaruh harga beras impor terhadap perilaku produksi padi di pulau Jawa. Hasil simulasi peningkatan HBEI menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produksi padi di Indonesia.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abdul (1989) tentang efektivitas pelaksanaan harga dasar gabah di propinsi Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan harga dasar gabah di wilayah penelitian (kabupaten Pinrang dan Bone) selama tahun pengadaan 1997/1998 berjalan efektif. Demikian pula kebijakan harga dasar gabah ditinjau dari sisi stabilitas harga selama tahun 1984,1985, dan 1986 di seluruh propinsi Sulawesi Selatan cukup efektif. Beberapa faktor yang secara nyata berpengaruh terhadap harga gabah di tingkat usahatani Sulawesi Selatan adalah jumlah produksi gabah, jumlah KUD yang beroperasi, jumlah pengadaan DOLOG, harga eceran beras kualitas medium di pasaran kota Ujung Pandang.

Faktor-faktor yang secara nyata berpengaruh terhadap tingkat harga jual gabah petani di Sulawesi Selatan adalah volume penjualan gabah oleh petani,

(38)

jarak lokasi petani dari KUD, kualitas gabah yang dijual oleh petani. Usaha para petani di lokasi penelitian dalam meningkatkan kualitas gabahnya sebelum dijual ternyata telah memberikan nilai tambah yang cukup berarti. Demikian pula KUD yang membeli gabah dari petani pada berbagai peningkatan kualitas kering giling (GKG) turut memperoleh nilai tambah (NTA dan NTR) untuk setiap kilogram gabah yang dijual ke DOLOG. Tinggi rendahnya nilai tambah yang diperoleh KUD sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya harga jual gabah petani, besar kecilnya isentif harga yang diberikan BULOG serta besarnya biaya di dalam merawat gabah.

Dalam penelitiannya, Ritongga (2004) menganalisis efektivitas dari kebijakan harga dasar beras. Pada dasarnya, kebijakan tata niaga beras ditunjukkan untuk mengatur keseimbangan antara pasokan dan permintaan beras agar tercapai peningkatan pendapatan petani, semakin meningkatnya peranan KUD, dan terjaminnya keberlanjutan pasokan beras. Masalah pemberlakuan harga dasar beras diduga kurang efektif, tambahan pula subsidi pupuk dihapuskan yang berakibat petani semakin terpuruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kebijakan harga dasar gabah atau beras cukup efektif bagi produsen dan konsumen, faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan beras. Untuk menganalisis jawaban permasalahan, disusunlah suatu model ekonometrika permintaan dan penawaran beras dalam bentuk persamaan simultan.

Kebijakan peningkatan harga dasar gabah atau beras memang telah meningkatkan kesejahteraan petani di satu pihak. Namun di lain pihak, diikuti oleh meningkatnya harga beras eceran, yang telah mengakibatkan menurunnya

(39)

kesejahteraan konsumen. Secara keseluruhan kebijakan tersebut telah menurunkan agregasi tingkat kesejahteraan rakyat.

Pendapatan petani bersih per hektar dari usaha tanaman padi sawah di Bekasi tercatat lebih tinggi dibandingkan pendapatan petani di Karawang. Standar kemiskinan tidak terlalu berbeda yaitu kurang dari 0,8 hektar. Kebijakan harga dasar gabah atau beras apabila tidak atau kurang didukung implementasinya yang ketat di lapangan seperti adanya kelembagaan operasi yang baru, maka fenomena peningkatan kesejahteraan rakyat yang diharapkan tidak akan terwujud, sebaliknya kondisi sosial ekonomi petani semakin terpuruk.

Penelitian mengenai Evaluasi Pelaksanaan HPP Gabah juga telah diteliti oleh Pantjar Simatupang, Sudi Mardianto, Ketut Kariyasa, dan M. Maulana (2005). HPP yang ditetapkan melalui Inpres No. 2 Tahun 2005, sudah dilaksanakan sekitar lima bulan (sejak Maret 2005), sehingga sudah waktunya untuk dievaluasi. Kajian ini dilaksanakan dengan memadukan data empiris dari lapang (kasus di Propinsi Jawa Timur dan Sulawesi Selatan) dengan data pemantauan BPS, data pasar domestik dan pasar internasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa HPP gabah yang ditetapkan melalu Inpres No. 2 Tahun 2005 dapat terlaksana secara efektif dan berjalan relatif stabil.

2.6.2. Studi Mengenai Dampak Suatu Program Terhadap Pendapatan Petani

Analisis tingkat pendapatan petani padi organik dan padi anorganik berdasarkan status kepemilikan lahan yang dilakukan Marhamah (2007) di Kelurahan Situgede Kota Bogor menunjukkan petani dengan status pemilik memiliki pendapatan lebih tinggi dibandingkan petani dengan status bagi hasil. Selain itu jumlah pendapatan bersih yang diterima petani padi organik lebih tinggi

(40)

dibandingkan dengan yang diterima oleh petani padi anorganik. Penelitian yang dilakukan ini membandingkan tingkat produktivitas dan tingkat pendapatan dari padi organik dan padi anorganik berdasarkan status kepemilikan lahan. Alat analisis data yang dilakukan meliputi analisis produktivitas, analisis pendapatan usahatani dan analisis faktor adopsi dengan menggunakan AHP (Analytic Hierarchy Process)

Petani dengan status sebagai penggarap pada usahatani padi organik mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan status pemilik. Hal ini disebabkan oleh adanya pemeliharaan yang lebih intensif dari petani bagi hasil dibandingkan petani pemilik. Pada usahatani padi anorganik, petani pemilik mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi usahatani padi organik menunjukkan bahwa tujuan utama yang ingin dicapai dalam menjalankan usahatani padi organik adalah meningkatkan pendapatan usahatani. Tujuan adopsi padi organik yang ingin dicapai adalah menghasilkan pangan yang sehat, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan produktivitas. Faktor prioritas yang mempengaruhi adopsi usahatani padi organik adalah cirri pribadi petani. Prioritas selanjutnya adalah faktor luar usahatani, informasi teknologi dan kondisi usahatani.

Dirmansyah (2004) melakukan penelitian tentang tingkat pendapatan petani lahan kering di lokasi program PIDRA di Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Dari analisis pendapatan usahatani petani program PIDRA, nilai R/C rasio petani program lebih besar daripada petani non program (3,62 / 3,47). Pendapatan bersih petani program PIDRA lebih besar daripada petani non program. Dari analisis

(41)

faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani program, secara statistik program PIDRA tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani di lokasi program. Artinya perbedaan pendapatan petani program PIDRA dengan petani non PIDRA tidak jauh berbeda. Di sisi lain adanya program ini cukup efektif dalam usaha meningkatkan pendapatan petani yang bermukim di lahan kering.

Dalam studinya, Nasution (2003) menganalisis perbandingan pendapatan dan efisiensi usahatani padi program PTT dengan petani non-PTT di Kabupaten Karawang. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) menganalisis pendapatan usahatani, produktivitas usahatani yang dilakukan oleh petani program dibandingkan dengan petani non-program, (2) menganalisis keefektifan program dilihat dari peranannya dalam meningkatkan produksi petani dan (3) menganalisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi yang dilakukan petani program dibandingkan dengan petani non-program. Analisis yang digunakan yaitu analisis efisiensi dan pendapatan usahatani serta analisis incremental net benefit.

Produktivitas tanaman per hektar petani program lebih besar dibandingkan petani non program, akan tetapi perbedaan produktivitas yang diperoleh relatif kecil dan pendapatan rata-rata per hektar yang diperoleh petani non program lebih tinggi dibandingkan dengan petani program. Meskipun demikian dilihat dari segi pengeluaran biaya tunai dan baya total, maka biaya yang dikeluarkan petani program lebih rendah diabndingkan petani non-program. Hal ini terjadi karena petani program PTT melakukan masa tanam serentak yang dapat mengurangi resiko hama, pemberantasan hama secara bersama sehingga mengurangi biaya tunai.

(42)

Dilihat dari R/C rasio, usahatani petani program maupun non-program masih menguntungkan untuk diusahakan, akan tetapi nilai R/C petani program lebih tinggi dibandingkan petani non-program. Hasil ini menunjukkan bahwa dari segi analisis pendapatan, petani program lebih efisien dibandingkan dengan petani non-program. Berdasarkan analisis incremental net benefit yang dilakukan, nilai B-C yang diperoleh petani program dengan ikut serta dalam program PTT lebih besar daripada nol, akan tetapi kentungan tambahan per hektar yang diperoleh relatif kecil.

Penelitian yang dilakukan oleh Sumiati pada tahun 2003 mencoba mengkaji dampak dari program Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) di Kabupaten Cianjur Jawa Barat terhadap pendapatan petani. Kesimpulan yang dihasilkan adalah program SLPHT dapat meningkatkan pendapatan petani. Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani dapat dilihat bahwa untuk petani non SLPHT penerimaan totalnya lebih besar daripada penerimaan total petani SLPHT. Nilai RC rasio petani SLPHT lebih besar daripada petani Non SLPHT (3,24 / 2,54). Hal tersebut menunjkkan bahwa usahatani petani SLPHT lebih efisien daripada petani Non SLPHT.

Berbeda dengan beberapa tinjauan studi terdahulu yang telah diuraikan, penelitian ini secara khusus bertujuan untuk menganalisis efektivitas dari program DPM-LUEP terhadap stabilitas harga gabah di propinsi Jawa Barat. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak dari adanya program ini terhadap pendapatan petani. Kasus yang diambil adalah pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang, Propinsi Jawa Barat. Penelitian yang memiliki tujuan seperti ini belum pernah dilakukan sebelumnya.

(43)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Teoritis 3.1.1. Teori Harga Dasar

Pada waktu panen, penawaran beras atau gabah cenderung melimpah sehingga harganya merosot. Bahkan pada tingkat harga tertentu membuat petani menjadi rugi. Keadaan ini akan membuat petani enggan menanam padi dan beralih pada tanaman lain yang lebih menguntungkan. Hal ini akan menggangu stabilitas nasional. Oleh karena itu, perlu upaya untuk mempertahankan tingkat harga yang layak baik bagi produsen maupun konsumen. Tingkat harga dapat dikatakan layak apabila harga tersebut dapat memberikan insentif bagi petani untuk tetap berproduksi dan masih dalam batas jangkauan daya beli konsumen.

Upaya yang ditempuh pemerintah dalam menangani kasus ini adalah menetapkan harga minimum (harga dasar atau price floor) untuk komoditi gabah dan beras. Tujuan dari penetapan harga minimum ini adalah untuk melindungi petani dengan menetapkan harga yang layak sehingga mereka tetap memproduksi gabah atau beras. Mekanisme pelaksanaan kebijakan harga minimum ini dapat di terangkan dengan bantuan Gambar 2.

Pada Gambar 2 dapat ditunjukkan bahwa jika tidak ada campur tangan pemerintah maka harga keseimbangan berada pada P0 dan jumlah yang

diperdagangkan sebesar Q0.. Pemerintah menetapkan harga minimum untuk

melindungi petani. Ini akan dilakukan pemerintah jika harga keseimbangan yang terjadi di pasar kurang menguntungkan bagi petani. Oleh karena itu, agar sasaran

(44)

pemerintah dapat tercapai seharusnya harga minimum ditetapkan di atas harga keseimbangan. Harga produk C B A P1 D Harga minimum P0 0 Qb Q0 Qa Jumlah produksi

Gambar 2. Penetapan Harga Minimum (Harga Dasar) Sumber : Pengantar Mikroekonomi, Lipsey 1995

Apabila harga minimum telah ditetapkan misalnya sebesar P1 maka akan terjadi excess supply (Qa – Qb). Apabila keadaan ini dibiarkan maka harga akan turun sehingga pemerintah perlu turun tangan untuk membeli excess supply tersebut. Dalam prakteknya kegiatan ini dilakukan pemerintah melaui BULOG beserta DOLOG dan SUB-DOLOG serta LUEP. Pada waktu panen raya, BULOG melakukan operasi pasar untuk mengamankan harga dasar gabah atau beras yang dibeli tersebut disimpan di gudang-gudang milik pemerintah. Masuknya pemerintah ke pasar untuk membeli harga gabah atau beras membuat kurva permintaan menjadi patah (C-B-A-D). Pada waktu paceklik komoditi ini akan di jual ke pasar dalam bentuk beras.

(45)

3.1.2 Teori Pendapatan

Menurut Badan Pusat Statistik (2005), pendapatan dan penerimaan keluarga adalah seluruh pendapatan dan penerimaan yang diterima oleh seluruh anggota rumah tangga ekonomi. Pendapatan itu sendiri terdiri dari :

1. Pendapatan dari upah atau gaji yang mencakup upah atau gaji yang diterima oleh seluruh anggota rumah tangga ekonomi yang bekerja sebagai buruh sebagai imbalan bagi pekerjaan yang dilakukan untuk suatu perusahaan atau majikan atau instansi tersebut baik uang maupun barang dan jasa.

2. Pendapatan dari hasil usaha seluruh anggota keluarga yang berupa pendapatan kotor, yaitu selisih nilai jual barang dan jasa yang diproduksi dengan biaya produksi.

3. Pendapatan lainnya yaitu, pendapatan di luar upah hasil gaji yang menyangkut usaha lain dari (a) Perkiraan sewa rumah milik sendiri (b) bunga, deviden, royalti, paten sewa/kontrak, lahan, rumah, gedung, bangunan, peralatan, dan lain-lain, (c) buah hasil usaha (hasil usaha sampingan), (d) pensiunan dan klaim asuransi jiwa, (e) kiriman dari famili/pihak lain secara rutin, ikatan dinas, beasiswa dan sebagainya.

Pendapatan kotor usahatani (gross farm income) didefinisikan sebagai nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Pengeluaran total usahatani (total farm expenses), didefinisikan sebagai nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan di dalam produksi, tetapi tidak termasuk tenaga kerja keluarga petani. Pengeluaran usahatani mencakup pengeluaran tunai dan tidak tunai. Selisih antara pendapatan

(46)

kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani disebut pendapatan bersih usahatani (Soekartawi,dkk 1986).

Menurut teori ekonomi, secara matematis pendapatan dapat dirumuskan sebagai berikut.

Pendapatan = penerimaan - pengeluaran

Penerimaan yang diperoleh petani dihitung dari hasil perkalian antara harga produk dengan jumlah produksi. Pengeluaran meliputi biaya variabel dan biaya tetap. Hal ini secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

Pengeluaran = biaya variabel + biaya tetap

Biaya variabel meliputi biaya pengadaan benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, sewa alat mesin pertanian dan lain-lain. Sedangkan biaya tetap meliputi pajak bumi dan bangunan dari lahan yang diusahakan, iuran irigasi teknis, sewa lahan dan lain-lain.

3.2. Kerangka Operasional

Salah satu tujuan dari program revitalisasi pertanian adalah peningkatan kesejahteraan petani melaui aspek pendapatan. Di sisi lain, pengeluaran pemerintah cukup besar dalam memberikan subsidi bahan bakar. Untuk itu, pemerintah berupaya mengurangi subsidi BBM agar APBN tidak mengalami defisit yang cukup besar. Kebijakan pengurangan subsidi BBM tersebut memicu kenaikan harga BBM sehingga menyebabkan kenaikan harga barang lain seperti harga pangan, harga input pertanian dan lain-lain.

Demi mengimbangi kenaikan harga-harga input pertanian, pemerintah memberlakukan kebijakan kenaikan HPP agar pendapatan petani tetap stabil.

(47)

Adanya kebijakan HPP tersebut masih diragukan belum efektif dalam meningkatkan pendapatan petani. Agar kebijakan HPP dapat terlaksana secara efektif, pemerintah melaksanakan program DPM-LUEP. Pemberian dana penguatan modal terhadap LUEP ini diharapkan dapat membantu lembaga ini dalam membeli gabah petani mengacu pada HPP yang telah ditetapkan.

Berdasarkan hal di atas penelitian ini berupaya menjawab beberapa tujuan yaitu menganalisis efektivitas program DPM-LUEP terhadap stabilitas harga gabah dengan mengidentifikasi perbedaan harga gabah yang diterima petani antara kecamatan yang mendapat program DPM-LUEP dan yang tidak di Propinsi Jawa Barat. Sehingga dapat diketahui apakah dengan adanya program DPM-LUEP dapat menolong harga gabah petani di tiap kecamatan. Kecamatan yang diteliti adalah kecamatan-kecamatan penerima DPM-LUEP dan bukan penerima DPM-LUEP yang berada di enam kabupaten produsen beras di Jawa Barat. Enam kabupaten tersebut adalah Bandung, Cianjur, Garut, Cirebon, Karawang, dan Subang. Terdapat 19 kecamatan yang mendapat DPM-LUEP dan 18 kecamatan yang tidak mendapat DPM-LUEP.

Hipotesis yang dapat dikemukakan adalah keberadaan LUEP efektif dalam menolong harga petani, yaitu harga jual gabah oleh petani tidak jatuh di bawah harga referensi yaitu HPP pada saat terjadi panen raya serta harga di kecamatan yang mendapat DPM-LUEP lebih tinggi dari kecamatan yang tidak mendapat program. Terdapat dua metode yang digunakan untuk membuktikan hipotesis tersebut. Pendekatan pertama adalah membandingkan perkembangan harga yang diterima petani di kecamatan yang mendapat DPM-LUEP dan yang tidak mendapat program (with and without project). Selanjutnya secara statistika akan

(48)

dilakukan uji stasioneritas terhadap series harga di kedua lokasi tersebut dengan bantuan software Eviews 4.1 dan uji tanda serta uji T untuk melihat signifikansi perbedaan harga yang diterima petani di kedua lokasi menggunakan software Minitab 14.

Tujuan selanjutnya akan menganalisis dampak kebijakan program DPM-LUEP terhadap tingkat pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Untuk menjawab tujuan ini maka dianalisis harga dan pendapatan yang diterima petani antara yang menjual gabahnya ke LUEP dan yang tidak serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dengan demikian dapat dilihat apakah dengan menjual gabahnya ke LUEP mengacu pada HPP maka pendapatan petani berbeda secara signifikan dengan petani yang tidak menjual gabahnya ke LUEP serta program DPM-LUEP dapat dikatakan berjalan efektif.

Analisis harga dan pendapatan yang diterima petani bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendapatan antara petani yang menjual gabahnya ke LUEP dengan petani yang menjual ke non-LUEP. Dalam hal perbedaan pendapatan antara petani yang menjual ke LUEP dan menjual ke non-LUEP, faktor lain selain LUEP memang dianggap ceteris paribus. Berdasarkan hal ini bisa saja tingginya pendapatan petani yang mendapatkan DPM-LUEP bukan karena LUEP-nya tetapi karena faktor lain seperti produktivitas yang tinggi dan biaya yang lebih rendah. Namun dalam penelitian ini diasumsikan bahwa perbedaan pendapatan tersebut disebabkan terutama karena perbedaan harga yang diterima petani antara yang menjual ke LUEP dan tidak, yang dalam hal ini LUEP diduga berperan langsung.

(49)

Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang diformulasikan model ekonometrika pendapatan petani padi yang merupakan persamaan linear berganda. Kemudian dilakukan metode OLS (Ordinary Least Square) untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani padi dengan software Minitab 14. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi pendapatan petani adalah tingkat pendidikan (tahun), keikutsertaan dalam kelompok tani, luas lahan, hasil produksi, biaya tenaga kerja, biaya saprodi, harga jual, dan keputusan petani menjual gabahnya ke LUEP atau non-LUEP. Selanjutnya dilakukan uji hipotesis apakah LUEP berpengaruh nyata terhadap tingkat pendapatan petani padi pada taraf nyata lima persen serta memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan.

Tujuan terakhir dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi petani dalam menjual gabahnya ke LUEP. Untuk menjawab tujuan ini digunakan metode regresi logistik (Binary Logistic Regression) dalam menduga faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP adalah tingkat pendidikan, hasil produksi, status kepemilikan lahan dan harga yang diterima.

Hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah :

1. Harga gabah di kecamatan program DPM-LUEP di atas HPP dan lebih tinggi secara rata-rata dari harga di kecamatan non program serta berbeda secara signifikan pada taraf nyata lima persen.

(50)

2. Harga yang diterima dan pendapatan petani yang menjual ke LUEP lebih tinggi dari petani yang menjual ke non LUEP. Dengan asumsi faktor lain selain harga yang diterima dari LUEP dianggap ceteris paribus.

3. Dummy apakah menjual ke LUEP atau tidak memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan petani dan berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95 persen.

4. Faktor yang secara nyata mempengaruhi keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP adalah harga yang diterima.

(51)

Kebijakan kenaikan HPP bertujuan menstabilkan harga gabah dan meningkatkan pendapatan petani

Program DPM-LUEP mendukung efektivitas kebijakan kenaikan HPP

Efektivitas DPM-LUEP terhadap stabilitas harga dan perbedaan harga gabah petani antara kecamatan yang mendapat DPM-LUEP dan yang tidak

DPM-LUEP efektif dalam stabilitas harga gabah dan harga di kecamatan penerima DPM-LUEP di atas HPP serta lebih tinggi dari kecamatan yang tidak mendapat DPM-LUEP

Perubahan pendapatan petani

Faktor yang diduga mempengaruhi pendapatan

Pendapatan petani yang menjual ke LUEP berbeda nyata dengan yang tidak menjual ke LUEP Keputusan petani menjual gabahnya ke LUEP Faktor-faktor yang mempengaruhi Keputusan petani menjual gabahnya ke LUEP

Efektivitas program DPM-LUEP

Gambar 3. Alur Kerangka Pemikiran Operasional

Gambar

Gambar 1. Disparitas Harga Gabah dan Harga Beras Eceran di Jawa  Barat, 2004-2005
Gambar 3. Alur Kerangka Pemikiran Operasional
Tabel 6.  Ringkasan Sumber Data dan Metode Penelitian yang Digunakan  Tujuan
Tabel 7. Jumlah Petani Responden Berdasarkan Tingkat Umur
+6

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala karunia, nikmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

Ada beberapa perbedaan pada sistem ini dibandingkan jika perusahaan menerapkan sistem rekrutmen tradisional, namun perbedaan tersebut bukanlah suatu masalah karena perusahaan

pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik lebih tinggi secara signifikan daripada siswa yang memperoleh pembelajaran

I ni bagi saya adalah petanda PAS akan menemui 'ajalnya' setelah terjebak dengan 'pakatan ahzab' bersama dengan Parti Keadilan Rakyat (PKR) dan DAP untuk menjatuhkan Kerajaan

Khaled berulangkali menjelaskan bahwa penggantian secara halus dan lebih-lebih jika dilakukan secara kasar, kekuasaan atau otoritas Tuhan (Author) oleh Pembaca

Sosis merupakan produk olahan daging yang digiling dan dihaluskan, dicampur bumbu kemudian diaduk dengan lemak hingga tercampur rata dengan proses kuring

NO JENIS PENGADAA N PERKIRAAN BIAYA (RP,-) LOKASI PEKERJAAN KEGIATAN JENIS BELANJA LELANG / SELEKSI PENUNJUKAN LANGSUNG / PENGADAAN LANGSUNG PEMBELIAN SECARA ELEKTRONIK

Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) pengembangan modul berbasis pendekatan JAS pada materi Gerakan Bumi dan Bulan yang terintegrasi Budaya Jawa dilakukan