• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Tinjauan Beberapa Studi Terdahulu

Penelitian terdahulu mengenai program DPM-LUEP belum banyak dilakukan. Namun penelitian tentang kebijakan HPP atau harga dasar gabah serta tingkat pendapatan petani telah banyak dilakukan. Beberapa studi terdahulu yang terkait dengan permasalahan yang akan dibahas akan diuraikan seperti di bawah ini.

2.6.1. Studi Mengenai Kebijakan Harga Dasar dan HPP

Penelitian mengenai dampak kebijakan harga gabah terhadap produksi padi di pulau Jawa dilakukan oleh Dohana (2006). Dalam penelitian tersebut menggunakan model persamaan simultan untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi di pulau Jawa, kemudian melakukan simulasi historis (1984-2004) guna menganalisis dampak kebijakan terhadap produksi padi. Data diolah menggunakan SAS v6.12.

Hasil analisis menunjukkan bahwa harga dasar gabah, harga pupuk urea, dan luas areal panen padi tahun sebelumnya berpengaruh nyata terhadap luas areal panen padi. Respon luas areal panen padi di pulau Jawa pada jangka pendek inelastis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sedangkan pada jangka panjang luas areal panen padi lebih elastis terhadap perubahan harga dasar gabah, harga pupuk urea, dan luas areal panen padi tahun sebelumnya. Produktivitas padi dipengaruhi secara signifikan oleh harga dasar gabah, harga pupuk urea, jumlah penggunaan pupuk kimia, curah hujan, dan produktivitas padi tahun sebelumnya. Respon produktivitas padi terhadap faktor-faktor di atas adalah inelastis baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang kecuali perubahan produktivitas

padi tahun sebelumnya yang direspon lebih elastis dalam jangka panjang oleh produktivitas padi.

Hasil simulasi menunjukan bahwa kebijakan harga dasar gabah berdampak positif terhadap produksi padi di pulau Jawa. Namun perlu pertimbangan simulasi Harga Pupuk Urea (HPU), dan Harga Beras Eceran di Indonesia (HBEI) sebelum penetapan harga dasar gabah. Hasil simulasi peningkatan harga pupuk urea menunjukan terjadi peningkatan harga gabah dan penurunan produksi padi di pulau Jawa. Sedangkan peningkatan harga dasar gabah dan harga pupuk urea secara bersama-sama mendorong peningkatan produksi. Harga beras eceran di Indonesia (HBEI) mewakili pengaruh harga beras impor terhadap perilaku produksi padi di pulau Jawa. Hasil simulasi peningkatan HBEI menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produksi padi di Indonesia.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abdul (1989) tentang efektivitas pelaksanaan harga dasar gabah di propinsi Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan harga dasar gabah di wilayah penelitian (kabupaten Pinrang dan Bone) selama tahun pengadaan 1997/1998 berjalan efektif. Demikian pula kebijakan harga dasar gabah ditinjau dari sisi stabilitas harga selama tahun 1984,1985, dan 1986 di seluruh propinsi Sulawesi Selatan cukup efektif. Beberapa faktor yang secara nyata berpengaruh terhadap harga gabah di tingkat usahatani Sulawesi Selatan adalah jumlah produksi gabah, jumlah KUD yang beroperasi, jumlah pengadaan DOLOG, harga eceran beras kualitas medium di pasaran kota Ujung Pandang.

Faktor-faktor yang secara nyata berpengaruh terhadap tingkat harga jual gabah petani di Sulawesi Selatan adalah volume penjualan gabah oleh petani,

jarak lokasi petani dari KUD, kualitas gabah yang dijual oleh petani. Usaha para petani di lokasi penelitian dalam meningkatkan kualitas gabahnya sebelum dijual ternyata telah memberikan nilai tambah yang cukup berarti. Demikian pula KUD yang membeli gabah dari petani pada berbagai peningkatan kualitas kering giling (GKG) turut memperoleh nilai tambah (NTA dan NTR) untuk setiap kilogram gabah yang dijual ke DOLOG. Tinggi rendahnya nilai tambah yang diperoleh KUD sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya harga jual gabah petani, besar kecilnya isentif harga yang diberikan BULOG serta besarnya biaya di dalam merawat gabah.

Dalam penelitiannya, Ritongga (2004) menganalisis efektivitas dari kebijakan harga dasar beras. Pada dasarnya, kebijakan tata niaga beras ditunjukkan untuk mengatur keseimbangan antara pasokan dan permintaan beras agar tercapai peningkatan pendapatan petani, semakin meningkatnya peranan KUD, dan terjaminnya keberlanjutan pasokan beras. Masalah pemberlakuan harga dasar beras diduga kurang efektif, tambahan pula subsidi pupuk dihapuskan yang berakibat petani semakin terpuruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kebijakan harga dasar gabah atau beras cukup efektif bagi produsen dan konsumen, faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan beras. Untuk menganalisis jawaban permasalahan, disusunlah suatu model ekonometrika permintaan dan penawaran beras dalam bentuk persamaan simultan.

Kebijakan peningkatan harga dasar gabah atau beras memang telah meningkatkan kesejahteraan petani di satu pihak. Namun di lain pihak, diikuti oleh meningkatnya harga beras eceran, yang telah mengakibatkan menurunnya

kesejahteraan konsumen. Secara keseluruhan kebijakan tersebut telah menurunkan agregasi tingkat kesejahteraan rakyat.

Pendapatan petani bersih per hektar dari usaha tanaman padi sawah di Bekasi tercatat lebih tinggi dibandingkan pendapatan petani di Karawang. Standar kemiskinan tidak terlalu berbeda yaitu kurang dari 0,8 hektar. Kebijakan harga dasar gabah atau beras apabila tidak atau kurang didukung implementasinya yang ketat di lapangan seperti adanya kelembagaan operasi yang baru, maka fenomena peningkatan kesejahteraan rakyat yang diharapkan tidak akan terwujud, sebaliknya kondisi sosial ekonomi petani semakin terpuruk.

Penelitian mengenai Evaluasi Pelaksanaan HPP Gabah juga telah diteliti oleh Pantjar Simatupang, Sudi Mardianto, Ketut Kariyasa, dan M. Maulana (2005). HPP yang ditetapkan melalui Inpres No. 2 Tahun 2005, sudah dilaksanakan sekitar lima bulan (sejak Maret 2005), sehingga sudah waktunya untuk dievaluasi. Kajian ini dilaksanakan dengan memadukan data empiris dari lapang (kasus di Propinsi Jawa Timur dan Sulawesi Selatan) dengan data pemantauan BPS, data pasar domestik dan pasar internasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa HPP gabah yang ditetapkan melalu Inpres No. 2 Tahun 2005 dapat terlaksana secara efektif dan berjalan relatif stabil.

2.6.2. Studi Mengenai Dampak Suatu Program Terhadap Pendapatan Petani

Analisis tingkat pendapatan petani padi organik dan padi anorganik berdasarkan status kepemilikan lahan yang dilakukan Marhamah (2007) di Kelurahan Situgede Kota Bogor menunjukkan petani dengan status pemilik memiliki pendapatan lebih tinggi dibandingkan petani dengan status bagi hasil. Selain itu jumlah pendapatan bersih yang diterima petani padi organik lebih tinggi

dibandingkan dengan yang diterima oleh petani padi anorganik. Penelitian yang dilakukan ini membandingkan tingkat produktivitas dan tingkat pendapatan dari padi organik dan padi anorganik berdasarkan status kepemilikan lahan. Alat analisis data yang dilakukan meliputi analisis produktivitas, analisis pendapatan usahatani dan analisis faktor adopsi dengan menggunakan AHP (Analytic Hierarchy Process)

Petani dengan status sebagai penggarap pada usahatani padi organik mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan status pemilik. Hal ini disebabkan oleh adanya pemeliharaan yang lebih intensif dari petani bagi hasil dibandingkan petani pemilik. Pada usahatani padi anorganik, petani pemilik mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi usahatani padi organik menunjukkan bahwa tujuan utama yang ingin dicapai dalam menjalankan usahatani padi organik adalah meningkatkan pendapatan usahatani. Tujuan adopsi padi organik yang ingin dicapai adalah menghasilkan pangan yang sehat, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan produktivitas. Faktor prioritas yang mempengaruhi adopsi usahatani padi organik adalah cirri pribadi petani. Prioritas selanjutnya adalah faktor luar usahatani, informasi teknologi dan kondisi usahatani.

Dirmansyah (2004) melakukan penelitian tentang tingkat pendapatan petani lahan kering di lokasi program PIDRA di Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Dari analisis pendapatan usahatani petani program PIDRA, nilai R/C rasio petani program lebih besar daripada petani non program (3,62 / 3,47). Pendapatan bersih petani program PIDRA lebih besar daripada petani non program. Dari analisis

faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani program, secara statistik program PIDRA tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani di lokasi program. Artinya perbedaan pendapatan petani program PIDRA dengan petani non PIDRA tidak jauh berbeda. Di sisi lain adanya program ini cukup efektif dalam usaha meningkatkan pendapatan petani yang bermukim di lahan kering.

Dalam studinya, Nasution (2003) menganalisis perbandingan pendapatan dan efisiensi usahatani padi program PTT dengan petani non-PTT di Kabupaten Karawang. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) menganalisis pendapatan usahatani, produktivitas usahatani yang dilakukan oleh petani program dibandingkan dengan petani non-program, (2) menganalisis keefektifan program dilihat dari peranannya dalam meningkatkan produksi petani dan (3) menganalisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi yang dilakukan petani program dibandingkan dengan petani non-program. Analisis yang digunakan yaitu analisis efisiensi dan pendapatan usahatani serta analisis incremental net benefit.

Produktivitas tanaman per hektar petani program lebih besar dibandingkan petani non program, akan tetapi perbedaan produktivitas yang diperoleh relatif kecil dan pendapatan rata-rata per hektar yang diperoleh petani non program lebih tinggi dibandingkan dengan petani program. Meskipun demikian dilihat dari segi pengeluaran biaya tunai dan baya total, maka biaya yang dikeluarkan petani program lebih rendah diabndingkan petani non-program. Hal ini terjadi karena petani program PTT melakukan masa tanam serentak yang dapat mengurangi resiko hama, pemberantasan hama secara bersama sehingga mengurangi biaya tunai.

Dilihat dari R/C rasio, usahatani petani program maupun non-program masih menguntungkan untuk diusahakan, akan tetapi nilai R/C petani program lebih tinggi dibandingkan petani non-program. Hasil ini menunjukkan bahwa dari segi analisis pendapatan, petani program lebih efisien dibandingkan dengan petani non-program. Berdasarkan analisis incremental net benefit yang dilakukan, nilai B-C yang diperoleh petani program dengan ikut serta dalam program PTT lebih besar daripada nol, akan tetapi kentungan tambahan per hektar yang diperoleh relatif kecil.

Penelitian yang dilakukan oleh Sumiati pada tahun 2003 mencoba mengkaji dampak dari program Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) di Kabupaten Cianjur Jawa Barat terhadap pendapatan petani. Kesimpulan yang dihasilkan adalah program SLPHT dapat meningkatkan pendapatan petani. Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani dapat dilihat bahwa untuk petani non SLPHT penerimaan totalnya lebih besar daripada penerimaan total petani SLPHT. Nilai RC rasio petani SLPHT lebih besar daripada petani Non SLPHT (3,24 / 2,54). Hal tersebut menunjkkan bahwa usahatani petani SLPHT lebih efisien daripada petani Non SLPHT.

Berbeda dengan beberapa tinjauan studi terdahulu yang telah diuraikan, penelitian ini secara khusus bertujuan untuk menganalisis efektivitas dari program DPM-LUEP terhadap stabilitas harga gabah di propinsi Jawa Barat. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak dari adanya program ini terhadap pendapatan petani. Kasus yang diambil adalah pendapatan petani padi di Kecamatan Warungkondang, Propinsi Jawa Barat. Penelitian yang memiliki tujuan seperti ini belum pernah dilakukan sebelumnya.

Dokumen terkait