• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

C. Teori Pengkajian Teks

Todorov dalam Introduction a la Litterature Fantastique

mengemukakan bahwa fantasi merupakan sastra yang menyajikan peristiwa-peristiwa yang berada di antara kutub natural dan supranatural. Pertautan antara dunia natural dan supranatural dalam cerita inilah yang dimaksud Todorov sebagai sastra fantastik. Dalam buku The Fantastic a Structural

Approach to a Literary Genre berikut definisi fiksi fantastis:

In a world which is indeed our world, the one we know....there occurs an event which cannot be explained by the laws of this same familiar world. The person who experiences the event must opt for one of two possible solutions: either he is the victim of an illusion of the senses, of a product of the imagination-- and the laws of the world then remain what they are; or else the event has indeed taken place, it is an integral part of reality--but then this reality is controlled by laws unknown to us

(Todorov, 1975: 25).

Todorov membedakan fantastis dari dua modus, uncanny dan

marvelous. Dalam uncanny, peristiwa yang sulit dipahami merupakan

kejadian yang lampau dan pernah terjadi, sehingga membentuk semacam ilusi. Hal-hal aneh tersebut tidak menimbulkan kebimbangan maupun rasa takut. Hukum realis tetap utuh, karena dapat menjelaskan gejala yang dilukiskan secara natural sesuai realitas yang terjadi. Sedangkan marvelous,

cerita melibatkan gejala yang tidak atau belum pernah terjadi, sehingga hukum alam yang baru harus dibuat untuk memperhitungkan gejala (supranatural) tersebut. Marvelous mengarah pada waktu yang akan datang, dalam arti masih merupakan imajinasi.

Di antara beberapa tokoh barat pengemuka teori fantastik, seperti J.R.R. Toelkien, Rosemary Jakson dan Ann Swinfen, Todorovlah

commit to user

merupakan tokoh yang paling terkenal melahirkan teori ini. Todorov mengklasifikasikan genre fantastik menjadi beberapa subgenre (Risnawati, 2010: 13). Berikut diagram yang menggambarkan klasifikasi tersebut (Th. Sri Rahayu Prihatmi, 1999: 6).

Tabel 1

Pembagian subgenre dalam genre fantastik

(pure)

Fantastic

Para fantastis membutuhkan pemenuhan tiga kondisi. Pertama, teks harus mewajibkan pembaca untuk mempertimbangkan dunia karakter sebagai dunia orang hidup serta ragu-ragu antara penjelasan alam atau supranatural. Kedua, keraguan ini mungkin juga dialami oleh sebuah karakter, sehingga peran pembaca adalah mengidentifikasikan dirinya dengan karakter. Ketiga, pembaca harus mengambil sikap tertentu yang berkaitan dengan teks. (http://www.unc.edu/~bardsley/ghosts/todorov.html). Setiap menghadapi sebuah rekaan peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal, selalu ada tiga kemungkinan yang kita hadapi. (1) Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan realitas orang yang mengalami gangguan jiwa, dalam hal ini tidak ada pelanggaran hukum terhadap realitas sehari-hari, (2) Hukum alam sehari-hari dijungkirbalikkan karena cerita hendak menyampaikan hukum alam lain yang luput dari jangkauan logika biasa, (3) Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan lukisan yang tersamar dunia nyata, alias metafora. Uncanny Fantastic-uncanny Fantastic-marvelous marvelous

commit to user

Teori Todorov memperlihatkan sebuah cerita dapat digolongkan ke dalam kategori cerita atau tidak berdasarkan ciri struktur yang dimilikinya. Berikut ini merupakan uraian aspek-aspek yang merupakan bagian dalam kajian fantastik.

1) Motif, tema fantastik, dan dekor realis.

Secara umum, cerita fantastik ditandai oleh motif dominan dan tema utama fantastik. Kesan riil menuntut alur sebab-akibat yang ketat. Cerita fantastik menyajikan rangkaian peristiwa yang sederhana tetapi kausalitasnya kuat. (Apsanti Djokosujatno, 2005: 52 57).

Motif bukan hanya sekedar berfungsi sebagai pelengkap atau disisipkan begitu saja. Bagi pembaca, kebanyakan motif merupakan sebab langsung yang menimbulkan kesan fantastik. Motif dan tema dalam sebuah cerita memang tidak pernah berdiri sendiri, serta dalam keadaan terpisah seringkali tidak dapat menimbulkan kesan fantastik yang relatif kuat atau tidak menimbulkan kesan fantastik sedikit pun.

Motif atau tema, agar menimbulkan kesan fantastik membutuhkan sejumlah atribut atau detil, seperti deskripsi khusus. Deskripsi khusus tersebut dapat dilihat melalui dekor realis (setting). Aspek ini dibangun dari tema-tema realis dan unsur-unsur cerita lain seperti tokoh, peristiwa, ruang, dan waktu yang ditata dan disajikan dengan uraian atau detil yang memadai untuk memberikan kesan riil. 2) Tokoh, ruang, dan waktu dalam cerita fantastik

Tokoh dalam cerita fantastik biasanya mengisi peran-peran tertentu. Tokoh yang mendengar cerita tentang suatu peristiwa yang

commit to user

dialami tokoh lain, sebagai korban peristiwa fantastik. Tokoh yang menyaksikan dan mengalami peristiwa supranatural (tetapi tidak percaya meskipun merasa ketakutan), sebagai penutur. Tokoh yang percaya hal-hal supranatural dan yang tidak percaya dalam cerita fantastik, biasanya dipertentangkan. Tokoh yang mengalami gangguan psikis juga sangat sering ditemukan dalam genre fantastik, dan biasanya merupakan tokoh utama (Apsanti Djokosujatno, 2005: 59 60).

Ruang selain membangun dunia riil, juga berfungsi untuk menciptakaan kesan seram. Ruang fantastik adalah ruang yang terpencil dan terpisah dari dunia ramai. Cerita fantastik memerlukan dekor realis untuk menguatkan kesan fantastik pada peristiwa yang tiba-tiba muncul dan menghentikan alur yang jernih. Cerita fantastik Barat, selalu memanfaatkan semua kemungkinan dari persilangan, paralelisme maupun kelenyapan waktu. Keragaman tema waktu ini tidak terlalu dimanfaatkan oleh para pengarang Indonesia, yang tidak terbiasa memikirkan pentingnya waktu dalam kehidupan (Apsanti Djokosujatno, 2005: 59 63).

3) Narator dalam cerita fantastik

Tokoh utama dalam cerita fantastik, umumnya erat berkaitan dengan masalah penuturan cerita. Biasanya dialah yang memegang peran sebagai penutur (pencerita atau narator). Sebagai penutur

commit to user

menyampaikan pengalaman orang lain. Ada pula cerita fantastik yang -an.

sebuah peristiwa. Pembaca akan percaya sepenuhnya bahwa penutur adalah penutur yang berakal sehat, dan yang dikatakannya adalah suatu kebenaran. Seringkali tokoh pencerita tersebut menceritakan langsung pengalaman fantastiknya kepada tokoh-tokoh lain dalam cerita. Bentuk penuturan seperti itu juga merupakan usaha untuk menampilkan kesan realis yang meyakinkan (Apsanti Djokosujatno, 2005: 63 65).

2. Konsep Hipnotis

pakan kata dasar artinya dewa tidur dalam legenda Yunani. Istilah

sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Dr. James Braid, peneliti ilmu hipnotis yang berasal dari Inggris pada abad ke-19 Masehi. Bila dilihat dari

Hypnotist dalam bahasa Inggris berarti orang

benda, dan bukan kata sifat (http://banyubiru3prast.wordpress.com/about).

Hypnosis sebenarnya tidak benar-benar membuat seseorang dalam

kondisi tidur, walaupun dalam beberapa kasus terutama dalam hypnosis

commit to user

II I

III IV

adalah di mana kondisi suyet (obyek) berpindah dari kondisi sadar ke kondisi bawah sadar.

Hipnotis kini marak digunakan sebagai salah satu alternatif penyelesaian masalah, mulai dari masalah hiburan, kesehatan, hingga masalah pengasuhan anak. Dalam dunia hipnosis, kuadran kesadaran dan kemampuan bukanlah suatu hal yang asing. Sebenarnya, kuadaran kesadaran manusia dapat digambarkan sebagai berikut (Aqila Smart, 2010: 15).

Gambar 1

Kuadran Kesadaran Manusia

Competence

Incompetence

Pada kuadran tersebut dapat diketahui bahwa pada tataran tertentu manusia mengalami titik kesadaran dan kemampuan. Posisi ini dapat diketahui sebagai berikut.

a. Un-consious incompetence (tidak sadar dan tidak bisa) ini merupakan

posisi paling bawah

b. Consious incompetence (dengan kesadaran penuh tidak bisa)

c. Consious competence (bisa dengan kesadaran penuh)

d. Unconsious competence (tanpa sadar bisa melakukan)

Melalui hipnotis, pemberdayaan diri dapat dilakukan. Secara medik dan fisik, para dokter membagi tingkat kesadaran pikiran otak manusia menjadi dua, yakni pikiran sadar (concious) dan tak sadar (unconcious). Di

Concious Un-Concious

commit to user

dalam pikiran manusia terdapat frekuensi gelombang. Pola frekuensi gelombang aktivitas adalah hasil rekaman EEG (Elektro Encephalo Graph) atau perangkat elektronik pengukur pulsa otak manusia terhadap sampel tipial. Frekuensi gelombang otak manusia terbagi atas beberapa kategori, yaitu sebagai berikut (Aqila Smart, 2010: 18 19).

Tabel 2

Frekuensi gelombang otak manusia

Spektrum Rangkum frekuensi Gelombang Aktivitas Otak Manusia

Kondisi Situasi Mental Nama

Gelombang Frekuensi

(Hertz) Sadar

Ekstrem

Konsentrasi tinggi luar biasa,

pengerahan energi luar biasa Gamma Tinggi 42.0 45.0 Sadar Hiper

Hasrat, konsentrasi tinggi, fokus, ekstasi tinggi,

pengerahan energi

Gamma 30.0 42.0

Sadar Super Anksietas atau gelisah, ekstasi

atau keterangsangan Beta tinggi 18.0 30.0 Sadar Tinggi Berpikir, persepsi, konsentrasi,

kognisi, aktivitas mental Beta tinggi 15.0 18.0 Sadar Penuh

Bangun, kesadaran penuh akan badan dan lingkungan, produksi strontonin meningkat

Alpha SMR 12.0 15.00 Sadar

Rendah

Relaksasi, pra-tidur, gerbang

akses ke pikiran bawah sadar Alpha 8.0 12.0

Antara sadar dan tidak

sadar

Emosi, pengalaman emosional, kreativitas, meditasi dalam, mengantuk, tidur bermimpi, terhipnosis, trance, produksi

catecholamin meningkat vital

untuk memori atau ingatan dan pembelajaran

Theta 4.0 8.0

Tak sadar penuh

Instrinsik atau naluri, tidur tanpa mimpi, tidur nyenyak,

pingsan

Delta 1.0 4.0 Sekarat Koma berat, mati suri Delta rendah 0.1 1.0

Mati Mati nol 0

Dokumen terkait