URAIAN TEORITIS
2.2 Perdagangan Internasional
2.2.2 Teori Perdagangan Internasional
a. Merkantilisme
Dalam perdagangan internasional terdapat beberapa aliran pemikiran, dimulai dari aliran pemikiran yang dikenal sebagai aliran merkantilisme. Aliran merkantilisme ini merupakan suatu kelompok aturan yang merupakan pencerminan cita-cita atau ideologi kapitalisme komersil. Kebijakan ekonomi ini pernah dianjurakan dan dilaksanakan oleh sekelompok negarawan Eropa pada abad keenambelas dan tujuhbelas. Salah satu penganjur teori ini adalah Thomas Mun (Hady, 2004: 24).
Merkantilisme mempunyai pokok-pokok ajarannya didalam menjalankan perekonomiannya. Pokok-pokok ajaran Merkantilisme adalah sebagai berikut :
1. Kemakmuran akan di peroleh dengan pemilikan emas dan perak sebanyak mungkin. 2. Surplus neraca perdagangan dengan ekspor lebih besar dari impor.
3. Penurunan bea masuk untuk bahan mentah agar harganya murah.
4. Melarang emigrasi ke luar negeri agar jumlah buruh melimpah dan upah buruh murah.
Mariani Pelly : Analisis Kausalitas Dan Kointegrasi Pertumbuhan Ekonomi Dengan Ekspor Indonesia, 2010.
5. Memperluas (ekspansi) daerah pemasaran. Banyak negara Eropa yang mencari negeri jajahan, Inggris, Belanda, Prancis, Spanyol, Portugis, dll.
6. Menurut ajaran merkantilisme, kemajuan ekonomi suatu negara tergantung pada bagaimana pengelolahan hubungan ekonomi dengan negara lain, terutama dalam hal perdagangan.
b. Teori Keunggulan Mutlak (Absolute Advantage Theory)
Teori keunggulan mutlak dari Adam Smith ini sering disebut teori murni perdagangan internasional. Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa suatu negara akan memperoleh perdagangan internasional (gains of trade) karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak (absolute advantage), serta mengimpor barang jika negara tersebut memiliki ketidakunggulan mutlak (absolute disadvantage).
Teori absolute advantage ini didasarkan kepada beberapa asumsi pokok antara lain sebagai berikut (Hady, 2004: 29) :
1. Faktor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja. 2. Kualitas barang yang diproduksi kedua negara sama. 3. Pertukaran dilakukan secara barter atau tanpa uang. 4. Biaya transport diabaikan.
Kelemahan teori Adam Smith :
Perdagangan internasional terjadi dan menguntungkan kedua negara bila masing-masing negara memiliki keunggulan mutlak yang berbeda. Dengan demikian, bila hanya satu negara yang memiliki keunggulan mutlak untuk kedua jenis produk, maka tidak akan terjadi
Mariani Pelly : Analisis Kausalitas Dan Kointegrasi Pertumbuhan Ekonomi Dengan Ekspor Indonesia, 2010.
perdagangan internasional yang menguntungkan. Hal ini merupakan kelemahan dari teori absolute advantage Adam Smith.
c. Teori Keunggulan Komparatif (comparative advantage)
David Ricardo mengemukakan teori comparative advantage (keunggulan komparatif) sebagai berikut :
1. Cost Comparative Advantage (Labor Efficiency)
Teori David Ricardo didasarkan pada nilai tenaga kerja yang menyatakan bahwa nilai atau harga suatu produk ditentukan oleh jumlah waktu atau jam kerja yang diperlukan untuk memproduksinya.
Menurut teori cost comparative advantage, suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana negara tersebut dapat berproduksi relatif lebih efisien serta mengimpor barang dimana negara tersebut berproduksi relatif/tidak efisien.
Dengan adanya spesialisasi pada masing-masing negara berdasarkan cost comparative advantage (labor efficiency), maka akan terjadi penghematan hari kerja. Penghematan hari kerja ini tentunya akan meningkatkan jumlah produksi kedua negara tersebut.
2. Production Comparative Advantage (Labor Productivity)
Berdasarkan analisis production comparative advantage atau labor productivity dapat dikatakan sebagai berikut :
Suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana negara tersebut dapat
Mariani Pelly : Analisis Kausalitas Dan Kointegrasi Pertumbuhan Ekonomi Dengan Ekspor Indonesia, 2010.
berproduksi relatif lebih produktif serta mengimpor barang dimana negara tersebut berproduksi relatif kurang/tidak produktif.
Akhirnya dapat disimpulkan sebagai berikut. Menurut teori comparative advantage dari David Ricardo, perdagangan internasional dari dua negara tetap terjadi walaupun hanya satu negara yang memiliki keunggulan mutlak, dengan masing-masing negara tersebut memiliki perbedaan dalam labor efficiency (cost comparative advantage) dan atau labor productivity (production comparative advantage).
Kelemahan dari Teori comparative advantage :
1. Teori ini menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat terjadi karena adanya perbedaan fungsi faktor produksi (tenaga kerja). Perbedaan fungsi ini menimbulkan terjadinya perbedaan produktifitas (production comparative advantage) ataupun perbedaan efisiensi (cost comparative advantage). Akibatnya, terjadilah perbedaan harga barang yang sejenis diantara dua negara.
2. Jika fungsi faktor produksi (tenaga kerja) sama atau produktifitas dan efisiensi di kedua negara sama, maka tentu tidak akan terjadi perdagangan internasional karena harga barang yang sejenis akan menjadi sama di kedua negara tersebut.
3. Pada kenyataannya, walaupun fungsi faktor produksi (produktifitas dan efisiensi) sama diantara kedua negara, ternyata harga barang yang sejenis dapat berbeda, sehingga dapat terjadi perdagangan internasional. Dalam hal ini teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa terjadi perbedaan harga untuk barang/produk sejenis walaupun fungsi faktor produksi (produktifitas dan efisiensi) sama di kedua negara.
Mariani Pelly : Analisis Kausalitas Dan Kointegrasi Pertumbuhan Ekonomi Dengan Ekspor Indonesia, 2010. a. Pengertian Ekspor
Ekspor adalah upaya melakukan penjualan komoditi yang kita miliki kepada bangsa lain atau negara asing sesuai dengan ketentuan pemerintah dengan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing, serta melakukan komunikasi dengan bahasa asing (Amir, 2004: 1).
Jadi hasil yang diperoleh dari kegiatan mengekspor adalah berupa nilai sejumlah uang dalam valuta asing atau biasa disebut dengan istilah devisa yang juga merupakan salah satu sumber pemasukan negara. Yang dimaksud dengan ekspor adalah kegiatan perdagangan yang memberikan rangsangan guna menumbuhkan permintaan dalam negeri yang menyebabkan timbulnya industi-industri pabrik besar, bersamaan dengan struktur politik yang stabil dan lembaga sosial yang efisien (Todaro, 2000: 167).
Ekspor merupakan salah satu sektor perekonomian yang memegang peranan penting melalui perluasan pasar antara beberapa negara dimana dapat mengadakan perluasan pasar dalam sektor industri, sehingga mendorong dalam sektor industri lain, selanjutnya mendorong sektor lainnya dan perekonomian.
b. Peran Sektor Ekspor
Berdasarkan definisi-definisi ekspor diatas maka dapat disimpulkan bahwa peranan sektor ekspor antara lain, yaitu:
1. Memperluas pasar diseberang lautan bagi barang-barang tertentu. Seperti yang telah ditekankan oleh para ahli ekonomi klasik, suatu industri dapat tumbuh dengan cepat jika industri itu dapat menjual hasilnya diseberang lautan dari pada hanya dipasar dalam negeri yang sempit.
Mariani Pelly : Analisis Kausalitas Dan Kointegrasi Pertumbuhan Ekonomi Dengan Ekspor Indonesia, 2010.
2. Ekspor menciptakan permintaan efektif yang baru. Akibatnya barang-barang dipasr dalam negeri mencari inovasi yang ditujukan untuk menaikkan produktifitas.
3. Perluasan kegiatan ekspor mempermudah pembangunan, karena industri tertentu tumbuh tanpa membutuhkan investasi dalam kapital sosial sebanyak yang dibutuhkan seandainya barang-barang tersebut akan dijual di dalam negeri, misalnya karena sempitnya pasar dalam negeri akibat tingkat pendapatan riil yang rendah atau hubungan transportasi yang memadai.
Dengan demikian selain menambah peningkatan produksi barang untuk dikirim keluar negeri, ekspor juga menambah permintaan dalam negeri, sehingga secara tidak langsung permintaan luar negeri mempengaruhi industri dalam negeri untuk menggunakan faktor produksinya, misalnya modal dan juga menggunakan metode produksi yang lebih murah dan efisien sehingga harga dan mutu dapat bersaing dipasar internasional.
c. Aneka Cara Ekspor
Dalam melaksanakan ekspor ke luar negeri dapat ditempuh beberapa cara antara lain sebagai berikut :
1. Ekspor Biasa
Dalam hal ini barang dikirim ke luar negeri sesuai dengan peraturan umum yang berlaku, yang ditujukan kepada pembeli di luar negeri untuk memenuhi suatu transaksi yang sebelumnya sudah diadakan dengan importir di luar negeri.
Mariani Pelly : Analisis Kausalitas Dan Kointegrasi Pertumbuhan Ekonomi Dengan Ekspor Indonesia, 2010.
Yang dimaksud dengan barter adalah pengiriman barang-barang ke luar negeri untuk ditukarkan langsung dengan barang yang dibutuhkan dalam negeri. Dalam hal ini pengiriman barang, tidak menerima pembayaran dalam mata uang asing, tapi dalam bentuk barang yang dapat di jualdi dalam negeri untuk mendapatkan kembali pembayaran dalam mata uang rupiah.
3. Konsinyasi
Yang dimaksud dengan konsinyasi adalah pengiriman barang ke luar negeri untuk di jual sedangkan hasil penjualannya diperlakukan sama dengan hasil ekspor biasa, di dalam hal pengiriman barang sebagai barang konsinyasi belum ada pembeli yang tertentu di luar negeri.
Cara penjualan di luar negeri ini dapat dilaksanakan dengan penjualan di pasar bebas, atau juga mungkin dengan mengikutsertakan barang tersebut di dalam pelelangan atau yang biasa disebut juga pada “commodities exchange”.
4. Pacaege-Deal
Dalam rangka memperluas pasaran hasil bumi kita terutama dengan negara-negara sosialis, pemerintah adakalanya mengadakan perjanjian perdagangan (trade agreement) denga salah satu negara. Pada perjanjian ditetapkan sejumlah barang tertentu akan diekspor ke negara itu dan sebaliknya dari negara itu akan diimpor sejumlah jenis barang yang dihasilkan di negara tersebut dan yang kiranya kita butuhkan. Pada prinsipnya semacam barter, namun terdiri dari berbagai aneka komoditi.
Mariani Pelly : Analisis Kausalitas Dan Kointegrasi Pertumbuhan Ekonomi Dengan Ekspor Indonesia, 2010. 5. Penyeludupan (Smuggling)
Setiap usaha yang bertujuan memindahkan kekayaan dari satu negara ke negara lain tanpa memenuhi ketentuan yang berlaku dapat dianggap sebagai usaha penyeludupan atau smuggling. Bahaya dari setiap penyeludupan terletak adanya pelarian kekayaan ke luar negeri (assets flight) tanpa mendapatkan suatu kompensasi. Hal ini berarti suatu pengurasan atas kekayaan negara dan masyarakat.
d. Kebijakan Ekspor
Kebijakan ekspor diartikan sebagai berbagai tindakan dan peraturan yang dikeluarkan pemerintah, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang akan mempengaruhi struktur, komposisi, dan arah transaksi serta kelancaran usaha untuk peningkatan devisa ekspor suatu negara.
Kebijakan ekspor dikelompokkan menjadi dua macam kebijakan, yaitu:
1. Kebijakan Ekspor Dalam Negeri
• Kebijakan perpajakan dalam bentuk pembebasan, keringanan, pengembalian pajak ataupun pengenaan pajak ekspor untuk barang-barang ekspor tertentu. Cth: Pajak ekspor atas CPO.
• Fasilitas kredit perbankan yang murah untuk mendorong peningkatan ekspor barang-barang tertentu.
• Penerapan prosedur ekspor yang relatif murah.
• Pemberian subsidi ekspor, seperti pemberian sertifikat ekspor.
Mariani Pelly : Analisis Kausalitas Dan Kointegrasi Pertumbuhan Ekonomi Dengan Ekspor Indonesia, 2010.
• Pembentukan kelembagaan seperti bounded warehouse (Kawasan Berikat Nusantara), bounded island Batam, export processing zone, dan lain-lain.
• Larangan/pembatasan ekspor, misalnya larangan ekspor CPO (Crude Palm Oil) oleh Menperindag.
2. Kebijakan Ekspor di Luar Negeri
• Pembentukan International Trade Promotion Centre (ITPC) di berbagai negara, seperti di Jepang (Tokyo), Eropa, AS, dan lain-lain.
• Pemanfaatan General System of Preferency atau GSP, yaitu fasilitas keringanan bea masuk yang di berikan negara-negara industri untuk barang manufaktur yang berasal dari negara yang sedang berkembang seperti Indonesia sebagai salah satu hasil UNCTAD (United Nation Conference on Trade and Development).
• Menjadi anggota Commodity Association of Producer, seperti OPEC dan lain-lain.
• Menjadi anggota Commodity Agreement between Producer abd Comsumer, seperti ICO (International Coffe Organization), MFA (Multifibre Agreement), dan lain-lain.
2.2.4 Impor
a. Pengertian Impor
Impor adalah pengiriman barang dagangan dari luar negeri ke pelabuhan di seluruh wilayah Indonesia kecuali wilayah bebas yang dianggap luar negeri, yang bersifat komersial
Mariani Pelly : Analisis Kausalitas Dan Kointegrasi Pertumbuhan Ekonomi Dengan Ekspor Indonesia, 2010.
maupun bukan komersial. Barang-barang luar negeri yang diolah dan diperbaiki di dalam negeri dicatat sebagai barang impor meskipun barang olahan tersebut akan kembali ke luar negeri.
Pengertian impor secara yuridis menurut UU No.10 Tahun 1995 Pasal 2 Ayat (1), yaitu pada saat barang memasuki Daerah Pabean dan menetapkan saat barang tersebut wajib Bea Masuk serta merupakan dasar yuridis bagi Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan pengawasan.
b. Kebijakan Impor
Kebijakan perdagangan internasional di bidang impor diartikan sebagai berbagai tindakan dan peraturan yang dikeluarkan pemerintah, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang akan mempengaruhi struktur, komposisi, dan kelancaran usaha untuk melindungi/mendorong pertumbuhan industri dalam negeri dan penghematan devisa.
Kebijakan impor dikelompokkan menjadi dua macam kebijakan, yaitu:
a. Kebijakan Tariff Barrier (TB) dalam bentuk bea masuk terdiri atas sebagai berikut:
1. Pembebasan bae masuk/tarif rendah adalah antara 0% sampai dengan 5% :
Dikenakan untuk bahan kebutuhan pokok dan vital, seperti beras, mesin-mesin vital, alat-alat militer/pertahanan/keamanan, dan lain-lain.
Mariani Pelly : Analisis Kausalitas Dan Kointegrasi Pertumbuhan Ekonomi Dengan Ekspor Indonesia, 2010.
Dikenakan untuk barnag setengah jadi dan barang-barang lain yang belum cukup diproduksi di dalam negeri.
3. Tarif tinggi diatas 20% :
Dikenakan untuk barang-barang mewah dan barang-barang lain yang sudah cukup diproduksi di dalam negeri dan bukan barang kebutuhan pokok.
b. Kebijakan Non Tariff Barrier
Kebijakan non tariff barrier adalah berbagai kebijakan perdaganagn selain bea masuk yang dapat menimbulkan distorsi, sehingga mengurangi potensi manfaat perdagangan internasional.