• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Perilaku

2.1.1 Teori Perilaku Kesehatan

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menurut Lawrence W. Green dalam Notoatmodjo (2010), perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu:

a. Faktor Predisposisi ( predisposing factors)

Faktor predisposisi adalah faktor yang mempermudah dan mendasari untuk terjadinya perilau tertentu, yang termasuk dalam kelompok ini adalah ilmu pengetahuan, sikap, nilai-nilai budaya, kepercayaan diri orang tersebut tentang dan terhadap perilaku tertentu, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan status ekonomi.

b. Faktor Pendukung (enabling factor)

Faktor pendukung adalah faktor yang mendukung untuk terjadinya perilaku tertentu, yang termasuk dalam kelompok ini adalah ketersediaan sumber daya kesehatan, keterjangkauaan sumber daya kesehatan, prioritas dan komitmen pemerintah terhadap kesehatan dan keterampilan yang berkaitan dengan kesehatan.

c. Faktor Pendorong (reinforcing factors)

Faktor Pendorong ata penguuat adalah faktor yanng memperkuat atau kadang memperlunak untuk terjadinya perilaku tertentu, yang termasuk faktor ini adalah pendapat, dukungan pasangan dan keluarga. Kritik baik dari teman sekerja, tokoh masyarakat, tokoh agama dan petugas kesehatan sendiri juga berpengaruh meskipun tidak sebesar pengaruh dari kelarga.

2.2 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

2.2.1 Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Menurut Sugeng Budiono (2003) dalam Mufarokhah (2006) secara filosofis, keselamatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan manusia baik jasmani maupun rohani serta karya dan budayanya yang tertuju pada kesejahteraan manusia pada umumnya dan tenaga kerja pada khususnya. Secara keilmuan, keselamatan kerja adalah ilmu pengetahuan dan penerapannya yang mempelajari tentang tata cara penanggulangan kecelakaan kerja di tempat kerja.

Keselamatan kerja adalah sarana utama untuk pencegahan kecelakaan, cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja. Keselamatan kerja yang baik

adalah pintu gerbang bagi keamanan tenaga kerja. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Keselamatan kerja ini menyangkut segenap proses produksi dan distribusi serta memfokuskan pada tempat kerja (Suma’mur, 1989).

Keselamatan (safety) adalah keadaan terbebas dari celaka (accident) ataupun hampir celaka (near miss acccident). Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun pekerja lain di sekelilingnya, sehingga diperoleh produktivitas kerja yang optimal.

Kesehatan kerja merupakan hubungan dua arah antara pekerjaan dan kesehatan. Kesehatan kerja tidak hanya menyangkut hubungan antara efek lingkungan kerja misalnya panas, bising debu, zat-zat kimia dan lain-lain, tetapi hubungan antara status kesehatan pekerja dengan kemampuannya untuk melakukan tugas yang harus dikerjakannya. Tujuan utama kesehatan kerja adalah mencegah timbulnya gangguan kesehatan daripada mengobatinya (Suma’mur, 2009).

Menurut Depnaker RI seperti yang dikutip oleh Sirait G (2011), Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala daya dan upaya dan pemikiran yang dilakukan dalam rangka mencegah, mengurangi , dan menanggulangi terjadinya kecelakaan dan dampaknya melalui langkah-langkah identifikasi, analisa, dan pengendalian bahaya dengan menerapkan sistem

pengendalian bahaya secara tepat dan melaksanakan perundang-undangan tentang keselamatan dan kesehatan kerja.

Tujuan K3 adalah mewujudkan lingkungan kerja yang aman, sehat, sejahtera sehingga akan tercapai suasana lingkungan kerja yang aman, sehat dan nyaman, mencapai tenaga kerja yang sehat fisik, sosial, dan bebas kecelakaan, peningkatan produktivitas dan efisien perusahaan, peningkatan kesejahteraan masyarakat tenaga kerja. Usaha-usaha K3 meliputi perlindungan terhadap tenaga kerja, perlindungan terhadap bahan dan peralatan produksi agar selalu terjamin keamanannya dan efisien, perlindungan terhadap oran lain yang berada di tempat kerja agar selamat dan sehat (Suma’mur, 1989).

2.2.2 Persyaratan Keselamatan Kerja

Persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja menurut Undang-undang No.

1 tahun 1970 seperti yang dikutip dalam Suma’mur (2009) adalah sebagai berikut:

1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan, hal ini berkaitan dengan upaya pencegahan kecelakaan dan setiap pekerjaan atau kegiatan berbahaya.

2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, berkaitan dengan sistem proteksi dan pencegahan kebakaran (fire protection system) dalam rancangan bangun, operasi, dan penggunaan sarana, pabrik, banguna dan fasilitas lainnya.

3. Mencegah dan mengurangi bahaya kebakaran, meliputi upaya pencegahan bahaya kebakaran (fire prevention) dalam kegiatan yang dapat mengandung bahaya kebakaran, menggunakan api atau kegiatan lainnya.

4. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri dalam kejadian kebakaran atau kejadian lainnya. Berkaitan dengan sistem tanggap darurat (emergency response) serta fasilitas penyelamat di dalam bangunan atau tempat kerja (means of escape).

5. Memberikan pertolongan dalam kecelakaan. Menyangkut aspek P3K atau pertolongan jika terjadi kecelakaan termasuk resque dan pertolongan korban.

6. Memberikan alat pelindung diri bagi pekerja. Berkaitan dengan penyediaan alat keselamatan yang sesuai untuk setiap pekerjaan yang berbahaya.

7. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara atau getaran. Berkaitan dengan keselamatan lingkungan kerja, pencemaran atau buangan industri serta kesehatan kerja.

8. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik, psikis, peracunan, infeksi, dan penularan.

9. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.

10. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik.

11. Menyelenggarakan penyegaran udara yang baik.

12. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.

13. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan dan proses kerja berkaitan dengan aspek ergonomi di tempat kerja.

14. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan. Berkaitan dengan keselamatan konstruksi dan bangunan mulai dari pembangunan sampai penempatannya.

15. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan, dan penyimpanan barang. Syarat ini berkaitan dengan kegiatan pelabuhan dan pergudangan.

16. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya, berkaitan dengan keselamatan ketenagalistrikan.

17. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahayanya menjadi bertambah tinggi .

2.3 Pengetahuan tentang K3

2.3.1 Pengertian Pengetahuan tentang K3

Pengetahuan merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan, pengalaman orang lain, media massa maupun lingkungan. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan tentang K3 adalah hasil dari tahu yang terjadi setelah seseoraang melakukan pengindraan terhadap segala daya dan upaya dan pemikiran yang dilakukan dalam rangka mencegah, mengurangi , dan menanggulangi terjadinya kecelakaan dan dampaknya melalui langkah-langkah identifikasi, analisa, dan pengendalian bahaya dengan menerapkan sistem pengendalian bahaya secara tepat dan melaksanakan perundang-undangan tentang keselamatan dan kesehatan kerja.

2.3.2 Tingkatan Pengetahuan

Notoatmodjo (2003) mengemukakan bahwa domain kognitif mempunyai enam tingkatan. Pengetahuan mempunyai tingkatan sebagai berikut :

a. Tahu (Know)

Kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari, dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Cara kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasikan dan mengatakan.

b. Memahami (Comprehention)

Kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (Aplication)

Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai pengguna hokum-hukum, rumus, metode, prinsip-prinsip dan sebagainya.

d. Analisis (Analysis)

Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam suatu komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti kata kerja mengelompokkan, menggambarkan, memisahkan.

e. Sintesis (Synthesis)

Kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek tersebut berdasarkan suatu cerita yang sudah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada.

2.4 Tindakan Tidak Aman

2.4.1 Pengertian Tindakan Tidak Aman

Tindakan tidak aman (unsafe action) adalah kegagalan (human failure) dalam mengikuti persyaratan dan prosedur-prosedur kerja yang benar sehingga menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja, seperti : tindakan tanpa kualifikasi dan otoritas, kurang atau tidak menggunakan perlengkapan perlindungan diri, kegagalan dalam menyelamatkan peralatan, bekerja dengan kecepatan yang berbahaya, kegagalan pada peringatan, menghindari atau memindahkan peralatan keselamatan kerja, menggunakan peralatan yang tidak layak, menggunakan peralatan tertentu untuk tujuan lain yang menyimpang, bekerja di tempat yang

berbahaya tanpa perlindungan dan peringatan yang tepat, memperbaiki peralatan secara salah, bekerja dengan kasar, menggunakan pakaian yang tidak aman ketika bekerja, dan mengambil posisi kerja yang tidak selamat (Winarsunu, 2008).

Menurut Heinrich (1980) tindakan tidak aman adalah tindakan atau perbuatan dari seseorang atau beberapa orang pekerja yang memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan terhadap pekerja.

Tindakan tidak aman yang sering dijumpai, diantaranya adalah : a. Menjalankan yang bukan tugasnya, gagal memberikan peringatan b. Menjalankan pesawat lebih dari kecepatan

c. Melepaskan alat pengaman atau membuat alat pengaman tidak berfungsi d. Menggunakan alat yang rusak

e. Tidak memakai APD

f. Memuat sesuatu secara berlebihan

g. Menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya h. Mengangkat berlebihan

i. Posisi kerja yang tidak tepat

j. Melakukan perbaikan pada waktu mesin sedang berjalan k. Bersenda gurau

l. Bertengkar

m. Berada dalam pengaruh obat-obatan ataupun alkohol

Menurut Heinrich (1980) dalam Manurung (2013), tindakan tidak aman adalah tindakan atau perbuatan dari seseorang atau beberapa orang pekerja yang memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan terhadap pekerja.

Heinrich (1980), kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan : 1. Kondisi kerja

2. Kelalaian manusia 3. Tindakan tidak aman 4. Kecelakaan

5. Cedera

Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. Jika salah satu jatuh, maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama. Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya, jika satu bangunan roboh maka kejadian ini akan memicu kejadian beruntun yang menyebabkan runtuhnya bangunan lainnya. Menurut Henrich, kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman ( poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan ).

Menurut penelitian yang dilakukannya, tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan. Kemudian, bagaimana penjelasan dengan menghilangkan tindakan tidak aman ini dapat mencegah kecelakaan kerja ? kembali lagi ke analogi tindakan tidak aman sebelumnya, jika kartu nomor 3 tidak ada lagi, seandainya kartu nomor 1 dan 2 pun jatuh, ini tidak akan menyebabkan jatuhnya semua kartu. Dengan adanya jarak antara kartu kedua dan keempat, dan jika pun kartu kedua terjatuh, ini tidak akan sampai menimpa kartu nomor 4.

Akhirnya kecelakaan nomor 4 dan cidera nomor 5 dapat dicegah. Dengan penjelasan Teori Domino ini, maka kecelakaan kerja dapat dijelaskan dengan

logis dan bukan menganggap bahwa kecelakaan kerja akibat bernasib sial ataupun keberuntungan.

2.4.2 Jenis – jenis Tindakan Tidak Aman

Menurut Pratiwi (2012), yang mengutip pendapat Bird and Germain (1990) bahwa jenis-jenis tindakan tidak aman (unsafe action) terdiri dari :

1. Mengoperasikan peralatan tanpa otoritas 2. Gagal untuk mengingatkan

3. Gagal untuk mengamankan

4. Pengoperasian dengan kecepatan yang tidak sesuai

5. Membuat peralatan safety menjadi menjadi tidak beroperasi 6. Memindahkan peralatan safety

7. Menggunakan peralatan yang rusak

8. Menggunakan peralatan secara tidak benar 9. Tidak menggunakan alat pelindung diri 10. Loading barang yang salah

11. Penempatan barang yang salah 12. Pengangkatan yang salah

13. Memperbaiki peralatan pada saat beroperasi

2.4.3 Tindakan Tidak Aman di PT. SISIRAU Aceh Tamiang

Pabrik kelapa sawit PT. SISIRAU mengolah bahan baku berupa Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit CPO (Crude Palm Oil) dan inti sawit (Kernel). Proses pengolahan kelapa kelapa sawit sampai menjadi minyak sawit (CPO) terdiri dari beberapa stasiun pengolahan yaitu:

1. Stasiun Penerimaan dan Sortasi TBS

Mencakup proses penerimaan TBS kebun sendiri dan kebun pihak ketiga, penampungan sementara TBS, sortasi TBS untuk melihat mutu buah, sampai dengan persiapan pengolahan.

2. Stasiun Perebusan

Proses perebusan sampai dengan proses pemisahan brondolan untuk mendapatkan minyak dan inti sawit.

3. Stasiun Pemisahan Brondolan

Proses pemisahan brondolan yaitu mulai dari proses penuangan TBS yang telah direbus sampai dengan proses pembantingan dengan tujuan untuk mendapatkan brondolan dan mengurangi kehilangan brondolan dalam janjangan.

4. Stasiun Pengempaan

Proses untuk memperoleh minyak dari daging buah secara maksimal dengan oil losses serendah mungkin dan broken nut yang minimum, efektif dan efisien untuk mendapatkan minyak.

5. Stasiun Pemurnian

Proses untuk mendapatkan produksi CPO yang berkualitas baik dan kehilangan minyak yang minimal. Proses pemurnian yang dilakukan di lingkungan kerja meliputi:

a. Penjernihan dengan cara pengendapan minyak kasar hasil pressan yang masih mengandung air dan kotoran lainnya.

b. Pemisahan minyak dengan air dan zat padat yang ada pada sludge dengan bantuan decanter atau sentrifuge.

c. Menurunkan kandungan kotoran dan air yang ada di CPO melalui proses di purifier dan vacuum dryer.

d. Mendapatkan minyak CPO yang memenuhi standard mutu yang disyaratkan secara maksimal.

6. Stasiun Pengolahan Nut (biji)

Pada stasiun ini mencakup proses pemecahan biji, pemisahan kernel dari cangkang, pengeringan serta penyimpanan kernel pada stasiun kernel recovery. Proses di stasiun kernel yang dilakukan di lingkungan kerja meliputi:

a. Melalui proses pemecahan biji diharapkan diperoleh effisiensi pemecahan yang tinggi dan broken kernel yang rendah

b Pemisahan kernel dengan cangkang diharapkan diperoleh kernel dengan kualitas sesuai stanard dan kehilangan kernel minimal.

c. Melalui pengeringan diharapkan kadar air kernel produksi sesuai standard sehingga lebih tahan disimpan.

7. Stasiun Pengolahan Air

Proses pengelolaan air yang dilakukan di lingkungan kerja meliputi:

1. Penjernihan air

2. Pelunakan air dengan cara pertukaran ion 3. Boiler internal treatment.

8. Stasiun Ketel Uap

Mecakup proses pengoperasian ketel uap dimana uap yang dihasilkan digunakan sebagai penggerak utama steam turbin untuk pembangkit tenaga

listrik, perebusan buah disteriliser dan pemanasan crude oil, air, kernel, minyak di storage tank. Proses pengoperasian Boiler yang dilakukan di lingkungan kerja meliputi:

1. Persiapan pengoperasian 2. Pengapian ( fire up) 3. Pengoperasian 4. Pengawasan

5. Penghentian operasi

Beberapa jenis tindakan tidak aman yang sering terjadi pada pabrik kelapa sawit PT. SISIRAU antara lain :

1. Tidak mamakai APD (alat pelindung diri) 2. Bercanda dengan rekan kerja saat bekerja 3. Penempatan barang yang salah, dan

4. Tidak menjalankan prosedur kerja yang ditetapkan oleh manajemen atau perusahaan

2.5 Risiko Kecelakaan Kerja

2.5.1 Pengertian Risiko Kecelakaan Kerja

Menurut Kasidi (2010), risiko memiliki beberapa pengertian yaitu kemungkinan yang tidak diharapkan, ketidakpastian atau uncertainty yang mungkin melahirkan kerugian, kejadian yang merugikan. Jadi, risiko adalah kemungkinan terjadinya penyimpangan dari harapan yang dapat menimbulkan kerugian.

Risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Dengan kata lain

“kemungkinan” itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian. Ketidakpastian itu merupakan kondisi yang menyebabkan tumbuhnya risiko. Dan jika kita kaji lebih lanjut “kondisi yang tidak pasti” itu timbul karena berbagai sebab (Darmawi, 2010)

Menurut Depnaker RI (1999) dalam Silaban (2015), risiko adalah kemungkinan seseorang untuk mengalami luka atau cedera karena bahaya tertentu. Risiko adalah besarnya kecenderungan atau kemungkinan untuk terjadinya kecelakaan/kerugian pada periode waktu tertentu atau siklus operasi tertentu dimana peluang terjadinya keadaan yang tidak diharapkan tersebut. Dapat dideskripsikan dengan frekuensi kejadian atau besarnya kemungkinan kejadian tersebut.

Menurut Suma’mur (1981) dalam Pratiwi (2012), kecelakaan kerja adalah kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubungan dengan hubungan kerja pada perusahaan. Hubungan kerja yang dimaksud adalah kecelakaan yang terjadi karena pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Sementara menurut Rachman (1990), kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga, tidak dikehendaki dan dapat menyebabkan kerugian baik jiwa maupun harta benda. Sedangkan menurut Anizar (2012) kecelakaan bukan hanya disebabkan oleh alat-alat kerja tetapi juga disebabkan oleh kecenderungan pekerja untuk celaka.

Dari penjelasan di atas maka disimpulkan bahwa risiko kecelakaan kerja adalah kemungkinan seseorang untuk mengalami luka atau cedera karena kejadian yang tidak diduga, tidak dikehendaki, yang dapat menyebabkan kerugian baik jiwa maupun harta benda, yang terjadi pada waktu melaksanakan pekerjaan.

2.5.2 Penilaian Risiko

Istilah penilaian risiko berasal dari industri asuransi yang merupakan satu tahap proses dalam menentukan dan memperluas pertanggungan yang ditawarkan.

Istilah ini diadopsi ke dalam kesehatan dan keselamatan kerja. Pengertiannya diperluas untuk mengikutsertakan spektrum kegiatan yang lebih luas dari pengidentifikasian awal bahaya hingga pembentukan kondisi kerja yang aman (Ridley, 2008).

Sasaran penilaian risiko adalah mengidentifikasi bahaya sehingga tindakan dapat diambil untuk menghilangkan, mengurangi, atau mengendalikannya sebelum terjadi kecelakaan yang dapat menyebabkan cedera atau kerusakan.

Untuk mencapai sasaran tersebut dan untuk mengefektifkan serta dapat menjalankan penilaian risiko, kita perlu melakukan pendekatan yang sistematis.

Langkah-langkah berikut merupakan pendekatan yang logis dan sistematis:

1. Mendefinisikan tugas atau proses yang akan dinilai 2. Mengidentifikasi bahaya

3. Menghilangkan atau mengurangi bahaya hingga minimum 4. Mengevaluasi risiko dari bahaya residual

5. Mengembangkan strategi-strategi pencegahan

6. Menjalankan pelatihan metode-metode kerja yang baru

7. Mengimplementasikan upaya-upaya pencegahan 8. Memonitor kinerja

9. Melakukan kajian ulang secara berkala dan membuat revisi jika perlu

Penilaian risiko bertujuan untuk memberikan makna terhadap suatu bahaya yang terindentifikasi untuk memberikan gambaran seberapa besar risiko tersebut. Sehingga dapat diambil tindakan lanjutan terhadap bahaya yang teridentifikasi, apakah bahaya itu dapat diterima atau tidak.

Dalam menilai suatu risiko berbagai standart dapat kita gunakan sebagai acuan, salah satu diantaranya adalah standart AS/NZS 4360 yang membuat matrik atau peringkat risiko sebagai berikut :

1. E : Extreme Risk (kegiatan tidak boleh dilaksanakan atau dilanjutkan dan pengendalian)

2. H : High Risk (kegiatan tidak boleh dilaksanakan atau dilanjutkan dan pengendalian)

3. M : Moderat Risk (perlu tindakan untuk mengurangi risiko) 4. L : Low Risk (risiko masih dapat ditoleransi oleh perusahaan).

Matrik atau peringkat risiko sebaiknya dikembangkan sendiri oleh perusahaan sesuai dengan kondisi masing-masing. Hal ini dikarenakan setiap perusahaan memiliki berbagai potensi bahaya dan risiko kecelakaan kerja yang sangat beragam (Ramli, 2010).

Analisa ini dilakukan berdasarkan konteks yang telah ditentukan oleh perusahaan, seperti nilai tingkat kemungkinan, nilai tingkat keparahan, dan nilai tingkat risiko . Cara melakukan analisa adalah :

1. Lakukan analisa dari setiap langkah kerja yang telah diidentifikasi pada tahapan identifikasi bahaya

2. Mengukur tingkat kemungkinan terjadinya incident dari setiap tahapan kegiatan yang dilakukan berdasarkan acuan konteks yang telah ditentukan

3. Mengukur tingkat keparahan yang dapat ditimbulkan dari setiap potensi bahaya pada setiap tahapan kerja yang telah diidentifikasi. Ukuran tingkat keparahan ditentukan berdasarkan acuan konteks yang telah dibuat

4. Setelah tingkatan kemungkinan dan keparahan diketahui, lakukan perhitungan menggunakan rumus berikut untuk mengetahui nilai risikonya :

Tingkat Risiko = Kemungkinan x Keparahan 5. Membuat matriks risiko.

Tabel 2.1 Matriks risiko

Sumber : Andani (2015)

6. Tentukan tingkatan risiko pada setiap tahapan kerjanya berdasarkan nilai risiko yang telah didapat dari perhitungan. Ukuran tingkat risiko dinilai berdasarkan acuan konteks yang telah dibuat pada tabel matriks risiko.

2.6 Kerangka Konsep

Adapun kerangka konsep dari penelitian adalah sebagai berikut : Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan tentang K3

Tindakan Tidak Aman

Risiko Kecelakaan Kerja

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan survei analitik yang diarahkan untuk menjelaskan suatu keadaan atau situasi yang disebut explanatory study.

Rancangan penelitian ini dilakukan dengan cross sectional, yaitu untuk mempelajari dinamika korelasi antara variabel independen dengan variabel dependen dengan cara pendekatan, pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2010).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di bagian pengolahan pabrik kelapa sawit PT.

SISIRAU Aceh Tamiang.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2016 s/d selesai.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh pekerja yang bekerja di bagian pengolahan PT. SISIRAU Aceh Tamiang dengan total jumlah sebanyak 33 orang.

3.3.2 Sampel

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, artinya sampel yang digunakan adalah total populasi yang berjumlah 33 orang.

3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer

Data primer diperoleh melalui wawancara dengan cara membagikan kuesioner kepada pekerja bagian pengolaan di PT. SISIRAU Aceh Tamiang dan lembar observasi langsung dengan estimasi waktu untuk per sampel ±15 menit.

Kuesioner dan lembar observasi yang digunakan merupakan kuesioner yang telah digunakan pada penelitian-penelitian sebelumnya dan telah dimodifikasi.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari PT. SISIRAU Aceh Tamiang yaitu data gambaran umum perusahaan, laporan rekomendasi, SOP (standar operasional prosedur) K3 dan Produksi, dan jumlah kecelakaan satu tahun terakhir hingga Mei 2016.

3.5 Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen), yaitu :

1. Variabel bebas (independen) adalah variabel yang keberadaannya mempengaruhi variabel terikat (dependen). Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah faktor pengetahuan tentang K3 dan tindakan tidak aman.

2. Variabel terikat (dependen) adalah variabel yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel bebas (independen). Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah risiko kejadian kecelakaan kerja.

3.5.2 Definisi Operasional

1. Pengetahuan adalah fakta yang mendukung tindakan pekerja bagian pengolahan dimana hal ini merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah pekerja melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala daya dan upaya dan pemikiran yang dilakukan dalam rangka mencegah, mengurangi , dan menanggulangi terjadinya kecelakaan dan dampaknya melalui langkah-langkah identifikasi, analisa, dan pengendalian bahaya dengan menerapkan sistem pengendalian bahaya secara tepat dan melaksanakan perundang-undangan tentang keselamatan dan kesehatan kerja.

2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala daya dan upaya dan pemikiran yang dilakukan dalam rangka mencegah, mengurangi , dan menanggulangi terjadinya kecelakaan dan dampaknya melalui langkah-langkah identifikasi, analisa, dan pengendalian bahaya dengan menerapkan sistem pengendalian bahaya secara tepat dan melaksanakan perundang-undangan tentang keselamatan dan kesehatan kerja.

Dokumen terkait