• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Struktur modal

Dalam dokumen Pengaruh Likuiditas Profitabilitas Struk . (Halaman 35-42)

TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teori

2.2.3. Struktur Modal

2.2.3.4. Teori Struktur modal

Harmono (2011:137) teori struktur modal berkenaan dengan bagaimana modal dialokasikan dalam aktivitas investasi rill perusahaan, dengan cara

menentukan struktur modal antara modal utang dan modal sendiri”. 2.2.3.4.1. Teori MM

Sartono (2010:230) menyatakan bahwa selama ini teori struktur modal didasarkan atas perilaku investor dan bukannya studi formal secara matematis. Franco Modogliani dan Merton Miller (MM) memperkenalkan model teori struktur modal secara sistematis, scientific dan atas dasar penelitian yang terus-menerus. Perlu diperhatikan bahwa MM memperkenalkan teori struktur modal dengan beberapa asumsi sebagai berikut:

a. Risiko bisnis perusahaan dapat diukur dengan standar deviasi laba sebelum bunga dan pajak dan perusahaan yang memiliki risiko bisnis sama dikatakan berada dalam klas yang sama.

b. Semua investor dan investor potensial memiliki estimasi sama terhadap EBIT perusahaan dimasa datang, dengan demikian semua investor memiliki harapan yang sama atau homogeneous expectations tentang laba perusahaan dan tingkat risiko perusahaan.

c. Saham dan obligasi diperdagangkan dalam pasar modal yang sempurna atau perfect capital market.

Menurut Brealey, dkk (2006:18) ini disebut teori trade-off struktur modal optimal. Teori ini menyatakan bahwa manajer akan berusaha meningkatkan tingkat utang sampai pada satu titik dimana nilai perlindungan pajak bunga tambahan benar-benar terimbangi oleh tambahan biaya masalah keuangan.”

Brigham and Houston (2013:183) mengemukakan bahwa teori Pertukaran (Trade off theory) merupakan teori struktur modal yang menyatakan bahwa perusahaan menukar manfaat pajak dari penggunaaan utang dengan masalah yang ditimbulkan oleh potensi kebangkrutan.

Teori trade off menjelaskan, sebuah perusahaan yang struktur modalnya tanpa menggunakan hutang dan dengan keseluruhan menggunakan hutang adalah perusahaan yang dalam keadaan buruk. Perusahaan tanpa menggunakan hutang dalam modalnya, akan membayar pajak yang lebih besar daripada perusahaan yang menggunakan hutang. Kondisi ini akan mempengaruhi nilai perusahaan tersebut. Perusahaan dengan modal keseluruhan hutang dikatakan buruk karena dalam setiap hutang terdapat bunga hutang yang wajib dibayarnya. Perusahaan yang menggunakan hutang sebagai sumber modalnya, berarti dalam setiap keuntungannya perusahaan tersebut akan menggunakan labanya untuk membayar bunga. Keadaan ini tentu tidak menguntungkan bagi sebuah perusahaan.

Sudana (2011 : 153) menyatakan bahwa berdasarkan teori trade off, keputusan perusahaan menggunakan utang didasarkan pada keseimbangan antara pada penghematan pajak dan biaya kesulitan keuangan.

Teori trade off optimal menggambarkan masalah keseimbangan biaya dengan nilai perlindungan pajak bunga yang dihasilkan oleh pinjaman. Untuk itu, perusahaan hendaknya menyeimbangkan antara besarnya hutang dengan modal

sendiri. Hal ini dikarenakan masing kebijakan memiliki kelebihan masing-masing.

2.2.3.4.3. Pecking Order

Teori ini dikemukakan oleh Myers dan Majluf (1984) dan Brealey dan Myers (1984). Tidak ada suatu target debt to equity ratio, karena ada 2 jenis modal sendiri yaitu, eksternal dan internal. Perusahaan cenderung lebih menyukai modal sendiri yang berasal dari dalam perusahaan, daripada modal sendiri yang berasal dari luar perusahaan (Hadianto :2008).

Menurut Sudana (2011:154) Teori pecking order memberikan dua aturan bagi dunia praktik, yaitu:

a. Mengunakan pendanaan internal

Manajer tidak dapat menggunakan pengetahuan khusus tentang perusahaan untuk menentukan jika utang yang kurang beresiko mengalami mispriced (terjadi perbedaan harga pasar dengan harga teoritis), karena harga utang ditentukan semata-mata oleh suku bunga pasar.

b. Menerbitkan sekuritas yang resikonya kecil

Walaupun investor khawatir salah menentukan harga utang dan saham, kekhawatiran investor lebih besar dalam menentukan harga saham. Brealey, dkk (2006:25) menyatakan ada teori alternatif yang dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang menguntungkan meminjam jumlah uang yang lebih sedikit. Teori ini berdasarkan asumsi asimetris, manajer tahu lebih banyak dari pada investor luar tentang profitabilitas dan prospek perusahaan.

Observasi ini mencetuskan teori pecking order struktur modal. Teori ini berbunyi sebagai berikut:

1. Perusahaan menyukai pendanaan internal, karena dana ini terkumpul tanpa mengirimkan sinyal sebaliknya yang dapat menurunkan harga saham. 2. Jika dana eksternal dibutuhkan, perusahaan menerbitkan utang lebih

dahulu dan hanya menerbitkan ekuitas sebagai pilihan terakhir. Pecking order ini muncul karena penerbitan utang tidak terlalu diterjemahkan sebagai petanda buruk oleh investor bila dibandingkan dengan penerbitan ekuitas.

Secara ringkas, teori pecking order menyatakan sebagai berikut: 1. Perusahaan lebih menyukai pendanaan internal

2. Perusahaan akan berusaha menyesuaikan rasio pembagian deviden dengan kesempatan investasi yang dihadapi , dan berupaya untuk tidak melakukan perubahan pembayaran deviden yang terlalu besar.

3. Pembayaran deviden yang cenderung konstan dan fluktuasi laba yang diperoleh mengakibatkan dana internal kadang-kadang berlebih atau kurang untuk investasi.

4. Apabila pendanaan eksternal diperlukan, maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dahulu. Penerbitan sekuritas akan memulai dari penerbitan obligasi, kemudian obligasi yang dapat dikonversikan menjadi modal sendiri, baru akhirnya menerbitkan sahambaru.

Menurut teori ini, perusahaan yang memiliki profitabilitas yang besar cenderung memiliki hutang atau pinjaman dalam jumlah kecil. Hal tersebut bukan disebabkan karenan memiliki target debt of equity ratio yang rendah, akan tetapi

perusahaan mampu untuk membiayai operasionalnya dari dana internal perusahaan, sehingga tidak membutuhkan hutang atau aliran dana ekstern yang besar.

2.2.4. Likuiditas

Likuiditas merupakan kemampuan sebuah perusahaan untuk memenuhi kewajibannya. Semakin likuid sebuah perusahaan, semakin mudah bagi perusahaan tersebut untuk memperoleh hutang dari kreditur untuk meningkatkan operasionalnya, karena semakin likuid perusahaan, semakin mendapat kepercayaan dari para kreditur atau investor untuk mengalirkan dananya ke perusahaan tersebut.

Menurut Sartono (2010:116) “Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan

untuk membayar kewajiban finansial jangka pendek tepat pada waktunya.”

J. Fred Weston dalam Kasmir (2012:106), rasio likuiditas dibagi menjadi dua yaitu:

1. Rasio Lancar (Current Ratio);

Rasio ini digunakan dengan membagi aktiva lancar dan hutang lancar. Ini mengidentifikasikan bahwa dari setiap hutang lancar dapat ditutupi oleh aktiva-aktiva yang diperkiran dapat diubah menjadi uang tunai dalam waktu singkat. Secara matematis adalah sebagai berikut:

Current ratio =

Aktiva lancar Hutang Lancar

...(1) 2. Rasio Cepat (Quick Ratio atau Acid Test Ratio).

Rasio ini digunakan dengan mengeluarkan persediaan dalam persediaan dari aktiva lancar kemuadian dibagi dengan hutang lancar. Secara matematis dituliskan sebagai berikut:

Quick ratio =

Aktiva lancar – Persediaan Hutang Lancar

...(2)

Dalam penelitian ini, rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan adalah rasio lancar (1) yang juga digunakan dalam beberapa penelitian sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Masnoon and Saeed (2014), Verena Sari dan Haryanto (2013), Alamsyah (2013), Md-Yusuf et al (2013), Putra dan Kesuma (2014) Sheikh and Wang (2011) dan Ahmad et al (2011).

2.2.5. Profitabilitas

Setiap operasional perusahaan, yang menjadi tujuan utama dari usahanya yaitu mencari keuntungan atau profitabilitas. Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan memperoleh keuntungan dari operasionalnya. Kemampulabaan perusahaan ini pastinya akan mempengaruhi besaran struktur modal perusahaan.

Menurut Sartono (2010:122) “profitabilitas adalah kemampuan perusahaan

memperoleh laba dengan hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri.”

Sudana (2011:22) menyatakan bahwa terdapat beberapa cara untuk mengukur besar kecilnya profitabilitas, antara lain:

1. Return On Asset (ROA),

ROA =

Earning After Tax Total Assets

... (1) 2. Return On Equity (ROE),

ROE =

Earning After Tax Total Equity ... (2) 3. Profit Margin Ratio

a. Net Profit Margin

NPM =

Earning After Tax Sales

... (3) b. Operating Profit Margin

OPM =

Earning Before Interest and Tax Sales

... (4) c. Gross Profit Margin

GPM =

Gross Profit Sales

d. Basic Earning Power

BEP =

Earning Before Interest and Tax Total Assets

... (6)

Rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas dalam penelitian ini adalah Return On Asset (ROA) (1) yang juga digunakan oleh Masnoon and Saeed (2014), Khalled et al (2012), Alamsyah (2013), dan Dwi Putri (2012) .

Return on Asset (ROA) memberikan informasi seberapa efisien suatu perusahaan dalam melakukan kegiatan usahanya, karena rasio ini mengindikasikan seberapa besar keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan setiap rupiah asetnya.

Dalam dokumen Pengaruh Likuiditas Profitabilitas Struk . (Halaman 35-42)

Dokumen terkait