TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Teori Tentang Karakteristik Individu
2.2.1. Pengertian dan faktor karakteristik individu
Setiap individu membawa kedalam tatanan organisasi kemampuan,
kepercayaan pribadi, kebutuhan, pengalaman masalalunya. Ini semuanya adalah
karakteristik yang dipunyai individu, dan karakteristik individu tersebut akan dibawa
memasuki suatu lingkungan baru, yakni organisasinya (Thoha, 1995).
Perbedaan individual yang ada pada diri orang-orang dalam organisasi
merupakan faktor yang penting yang ikut menentukan respon mereka terhadap
sesuatu maupun perilakunya, hal ini perlu sekali dipahami (Nimran, 1999).
Menurut Gibson et. al (1996) bahwa: variabel yang ada pada diri individu
dikelompokkan menjadi tiga yaitu :1) Kemampuan mental maupun fisik, 2)
Demografis, misalnya jenis kelamin, usia, ras dan 3) Latar belakang, yaitu kelas
sosial dan pengalaman serta variable, psikologis individu yang meliputi persepsi,
sikap dan kepribadian.
Gibson et al (1996) menyatakan bahwa: prestasi kerja individu adalah
dasar prestasi kerja organisasi sehingga pihak manajemen dituntut untuk memahami
perilaku individu. Perilaku individu sangat dipengaruhi oleh bagaimana karakteristik
individu yang bersangkutan. Karakteristik individu yang mencirikan antara satu
orang dengan orang lain berbeda adalah karena masing-masing memiliki potensi dan
kebutuhan yang berbeda. Perbedaan individu yang tercermin pada tujuan individu
harus diperhatikan oleh setiap organisasi untuk dipenuhi selaras dengan tujuan
belakang keluarga, kepribadian, prestasi, sikap, ciri (atribusi), kapasitas belajar,
umur, ras, jenis kelamin dan pengalaman.
Robbins (1996) menyatakan bahwa: variabel di tingkat individu meliputi
karakteristik biografis, kemampuan, kepribadian dan pembelajaran. Karakteristik
biografis meliputi usia, jenis kelamin, status perkawinan, banyaknya tanggungan dan
masa kerja dalam organisasi. Sedangkan kemampuan meliputi kemampuan fisik dan
mental.
Faktor individu dalam penelitian ini menekankan pada kemampuan,
keterampilan, pengalaman, kebutuhan dan sikap. Hal ini didasarkan oleh adanya
pemikiran bahwa perbedaan dalam hal kemampuan, ketrampilan, pengalaman,
kebutuhan dan sikap dalam melaksanakan pekerjaan akan berpengaruh terhadap
kinerja individu (Gibson et al, 1996).
Kemampuan mengacu pada kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai
tugas dalam suatu pekerjaan (Robbins,1996).
Gibson et al (1996) menyatakan bahwa: kemampuan merupakan sifat
(melekat pada manusia atau yang dipelajari) yang memungkinkan seseorang
melaksanakan suatu tindakan atau pekerjaan mental ataupun fisik.
Werther and Davis (1996) menyatakan bahwa:“ ability is the capacity to
perform the various task needed for given job “ (kemampuan merupakan kapasitas
untuk melaksanakan berbagai tugas yang dibutuhkan untuk pekerjaan yang
diberikan). Dengan demikian, secara umum kemampuan dapat diartikan sebagai
dengan pekerjaannya.
Suprihanto (2003) menyatakan bahwa: kemampuan merupakan kapasitas
orang individu untuk melaksanakan berbagai tugas dan pekerjaannya atau penilaian
terhadap apa yang dapat dilakukan oleh seorang individu sekarang. Kemampuan
seorang individu secara keseluruhan terdiri dari dua kemampuan, yaitu kemampuan
intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah kemampuan
seorang individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas mental tertentu yang berkaitan
dengan penalaran (induktif/deduktif), kefasihan berekspresi, pemahaman lisan dan
sebagainya.
Menurut Suprihanto (2003) bahwa: keterampilan adalah kompetensi yang
berhubungan dengan tugas, seperti ketrampilan mengoperasikan alat atau ketrampilan
berkomunikasi dengan jelas untuk tujuan dan misi kelompok. Dalam hal ini
karakteristik individu ikut dapat menentukan keberhasilan optimal suatu prestasi kerja
karyawan dalam suatu organisasi.
Keahlian adalah kompensasi yang berkaitan dengan pelaksanaan suatu tugas,
umpamanya kearsipan dalam surat-surat dokumen, keahlian yang berhubungan
dengan fisik meliputi koordinasi tubuh, stamina, kelenturan tubuh dan sebagainya
(Suprihanto, 2003).
Untuk mencocokkan kemampuan seseorang atau keahlian seseorang dengan
persyaratan pekerjaan seringkali dipergunakan oleh metode analisis pekerjaan (job
analysis), karena setiap pekerjaan memerlukan kemampuan–kemampuan yang
kemampuan fisik dan kemampuan mental yang berbeda-beda. Seseorang yang
mempunyai kemampuan fisik yang tidak cukup akan gagal dalam melaksanakan
tugasnya walaupun termotivasi dan bersikap positif terhadap pekerjaannya.
Begitu juga sebaliknya, sikap karyawan melebihi apa yang disyaratkan
berkemampuan untuk suatu pekerjaan, maka kinerja dapat dipenuhi tetapi akan
terdapat inefisiensi organisasi dan kinerja karyawan tersebut kurang.
Menurut Siagian (1992) menyatakan bahwa: pengalaman kerja menunjukkan
berapa lama ia bekerja. Disamping itu pengalaman meliputi banyaknya jenis
pekerjaan atau jabatan yang pernah diduduki oleh seseorang dan lamanaya mereka
bekerja pada masing-masing pekerjaan atau jabatan tersebut.
Pengalaman (senioritas) yaitu promosi yang didasarkan pada lamanya
pengalaman kerja karyawan. Dengan pengalaman, seseorang akan dapat
mengembangkan kemampuannya sehingga karyawan tetap betah bekerja pada
perusahaan (Hasibuan, 2000).
Berdasarkan definisi diatas pengalaman kerja adalah menunjukkan lamanya
dalam melaksanakan, mengatasi suatu pekerjaan dari beragam pekerjaan bahkan
berulang-ulang dalam perjalanan hidup.
Gibson et al (1996) menyatakan bahwa: kebutuhan adalah defisiensi atau
kekurangan yang dialami individu pada suatu waktu tertentu. Kekurangan tersebut
dapat bersifat fisik (misalnya kebutuhan akan makan) bersifat psikologis (misalnya
kebutuhan untuk beraktualisasi diri) atau bersifat sosiologis (misalnya kebutuhan
Implikasinya adalah bila kebutuhan ada, individu menjadi lebih mudah terpengaruh
kepada upaya memotivasi dari para manajer. Proses motivasi mengarah pada tujuan
atau hasil yang menariknya untuk melakukan ingin dicapai oleh setiap karyawan dan
dipandang sebagai kekuatan yang pekerjaan.
Sikap adalah pernyataan yang bersifat menilai (evaluatif), menunjukkan rasa
suka-tidak suka seseorang terhadap suatu obyek atau kejadian. Sikap seseorang
sangat dipengaruhi oleh kriteria penilaiannya, sementara kriteria tersebut berbentuk
melalui suatu proses interaksi sosial (Suprihanto, 2003).
Menurut Nimran (1999) menjelaskan bahwa: sikap dapat dipandang sebagai
predisposisi untuk bereaksi dengan cara yang menyenangkan atau tidak terhadap
obyek, orang, konsep, atau apa saja.
Menurut Robbins (1996) bahwa: sikap merupakan pernyataan evaluatif baik
yang menguntungkan atau tidak menguntungkan mengenai obyek, orang, atau
peristiwa.
Gibson et al (1996) menjelaskan bahwa: sikap sebagai perasaan positif dan
negatif atau keadaan mental yang selalu disiapkan, dipelajari dan diatur melalui
pengalaman yang memberikan pengaruh khusus pada respon seseorang terhadap
orang, obyek atau keadaan.
Sikap seseorang juga dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk
merespon terhadap seseorang atau sesuatu yang ada di dalam lingkungannya
dengan cara yang positif maupun negatif, dengan kata lain sikap seseorang akan
berhubungan, seperti orang lain, bawahan, atasan atau lingkungan (Sudarmo dkk,
1997).
Dalam dunia kerja, biasanya sikap seseorang berkaitan dengan pekerjaannya.
Keterkaitan sikap dengan pekerjaan ini akan membuka jalan evaluatif positif atau
negatif yang dipegang karyawan mengenai aspek-aspek dari lingkungan kerja
mereka. Artinya sikap setiap orang terhadap pekerjaannya mencerminkan
pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam pekerjaannya serta
harapan-harapan terhadap masa depan (Wexley dan Yulk, 1992).