• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Teori Tentang Prestasi kerja

2.3.1. Pengertian dan pengukuran prestasi kerja

Prestasi kerja adalah tindakan-tindakan atau pelaksanaan tugas yang telah

diselesaikan oleh seseorang dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur. Hal ini

dapat berkaitan dengan jumlah, kuantitas dan kualitas pekerjaan yang dapat

diselesaikan oleh individu dalam kurun waktu tertentu (Swasto, 1996).

Hasibuan (1997 ) menyatakan bahwa: prestasi kerja adalah “Suatu hasil

kerja yang dimiliki oleh seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan

kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta

waktu”.

Menurut Handoko (1997) bahwa: prestasi kerja adalah “ Merupakan suatu

proses melalui mana yang penting dalam suatu perusahaan dalam rangka membangun

dalam rangka mengembangkan karyawan. Kegiatan tersebut dapat memperbaiki

keputusan personalia dan memberikan umpan balik kepada para karyawan tentang

pelaksanaan kerja mereka.

Menurut Martoyo (2000) bahwa: prestasi kerja seseorang juga dipengaruhi

oleh berbagai macam faktor, baik faktor internal kecakapan orang itu sendiri, maupun

faktor eksternal lingkungan kerja dimana seseorang itu sedang bekerja. Yang

dimaksud dengan faktor internal disini adalah tingkat pengetahuan dan

keterampilannya dalam bidang yang sedang dikerjakan serta kondisi emosi dan

kejiwaannya saat bekerja, sedangkan faktor eksternal lingkungan adalah kondisi

lingkungan kerja seperti luasan ruang kerja dan hubungan manusiawi antar pekerja.

Secara lebih spesifik lagi dikatakan oleh Martoyo (2000) bahwa: faktor-

faktor prestasi kerja sebagai berikut: 1) Kecakapan kerja; 2) Kualitas Kerja;

3) Pengembangan; 4) Tanggung Jawab; 5) Prakarsa; 6) Ketabahan; 7) kejujuran;

8) Tingkat Kehadiran; 9) Kerja Sama; dan 10) Tingkah Laku.

Bernadin dan Russel (1994) mendefinisikan kinerja sebagai berikut: “the

record of outcomes produced on a specified job function or activity during a specified time period“ (Catatan outcome yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu

atau kegiatan selama suatu periode waktu tertentu).

Pengertian kinerja menurut Mangkunegara (2002) adalah: “hasil kerja

secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan

tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.

bahwa: prestasi kerja dihasilkan dari gabungan usaha individu dan kemampuan,

keterampilan dan pengalaman yang bersangkutan. Pengukuran prestasi kerja

dilakukan berdasarkan instrumen yang dikembangkan dari indikator yang telah

ditetapkan melalui suatu kriteria tertentu.

Swasto (1996) menyatakan bahwa: prestasi kerja dapat diukur melalui

kuantitas kerja, kualitas kerja, pengetahuan tentang pekerjaan, pendapat atau

pernyataan yang disampaikan, keputusan yang diambil, perencanaan kerja dan

daerah organisasi kerja.

Mathiew dan Jackson (2002) menyatakan bahwa:“Performance operasional

(PA) is the process evaluating how well employees perform their jobs when compared to a set of standars, and then communicating that information to those employees”

(Penilaian prestasi kerja merupakan proses evaluasi seberapa baik para pekerja

melaksanakan pekerjaannya ketika dikomfirmasikan terhadap standar kemudian

mengkomunikasikan informasi tersebut pada para pekerja).

Menurut Bernadin dan Rusell (1994) bahwa: terdapat 6 (enam) kriteria primer

yang dapat digunakan untuk mengukur prestasi kerja yaitu: 1) Quality (kualitas),

merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati

kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan; 2) Quantity (kuantitas),

merupakan jumlah yang dihasilkan, misalnya jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah

siklus kegiatan yang diselesaikan; 3) Timeliness (ketepatan waktu), adalah tingkat

sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki, dengan

4) Cost effective (efektifitas biaya) adalah tingkat sejauh mana penggunaan daya

organisasi (manusia, keuangan, teknologi, materiil) dimaksimalkan untuk mencapai

hasil tertinggi atau pengurangan kerugian dari setiap inti penggunaan sumber daya; 5)

Need for supervision (kebutuhan terhadap pengawasan), merupakan tingkat sejauh

mana seorang pegawai dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa pengawasan

seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan; 6)

Interpersonal Impact (dampak interpersonal) merupakan tingkat sejauh mana seorang

pegawai menjaga harga diri, nama baik dan kerja sama diantara rekan kerja dan

bawahan.

Lopez (dalam Swasto, 1996 ) menyatakan bahwa: prestasi kerja diukur

dengan instrumen yang dikembangkan dalam studi yang tergabung dalam beberapa

ukuran kinerja secara umum, yang kemudian diterjemahkan dalam penelitian perilaku

secara mendasar meliputi: 1) Kuantitas hasil kerja; 2) Kualitas hasil kerja; 3)

Pengetahuan tentang pekerjaan; 4) Pendapat atau pernyataan yang disampaikan; 5)

Keputusan yang diambil; 6) Perencanaan kerja dan; 7) Daerah organisasi kerja.

Pengukuran prestasi kerja mempertimbangkan kuantitas, kualitas dan

ketepatan waktu (Dharma, 1996): 1) Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan;

2) Kualitas, yaitu mutu yang dihasilkan; 3) Ketepatan waktu, yaitu kesesuaian

dengan waktu yang telah direncanakan.

Menurut Steers (1985) bahwa: terdapat 6 (enam) tahapan dalam proses

prestasi kerja, yaitu: 1) Persepsi dan penilaian. Setiap organisasi mempunyai tujuan

tuntutan obyektif organisasi dipenuhi oleh individu berdasarkan sudut pandang

kebutuhan, tujuan, serta nilai-nilai pribadi; 2) Perumusan kembali tugas-tugas,

Berdasarkan tuntutan yang diterima akan nilai, maka individu akan merumuskan

kembali tugas-tugas yang diserahkan kepadanya sebelum mereka menerima tanggung

jawab pribadi atas pencapaian tugas-tugas tersebut; 3) Mengembalikan rencana

penilaian. Setelah redefinisi tugas, maka individu harus memilih strategi atau cara

untuk menyelesaikan tugas-tugasnya; 4) Perilaku pekerja. Rencana tindakan akan

mempengaruhi perilaku kerja. Hal ini banyak dipengaruhi oleh kemampuan dalam

menjalankan aktivitasnya. Jadi jika individu menjalankan tugasnya yang baik bagi

dirinya dan berprestasi maka ia akan meningkatkan prestasinya yang lebih baik dari

pada mereka yang rencananya tidak baik; 5) Pencapaian hasil. Pada dasarnya bila kita

lihat lebih jauh, maka perilaku individu mengarah pada suatu hasil kerja atau prestasi

kerja; 6) Umpan balik. Hasil dari prestasi kerja merupakan hasil umpan balik dari

perilaku kerja individu dan organisasi.

Penilaian prestasi kerja (human apprasial) adalah proses melalui bagaimana

organisasi - organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan

(Handoko, 1997).

Menurut Sentono (1999) bahwa: Penilaian dapat dicapai oleh seseorang

atau kelompok dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab

masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara

legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.

adalah: 1) Penilaian kinerja memberikan informasi tentang dapat dilakukannya

promosi dan penetapan gaji; 2) Penilaian kinerja untuk meninjau perilaku individu

yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Handoko (1997) menyatakan bahwa: “Elemen - elemen pokok sistem

penilaian mencakup kriteria yang ada hubungannya dengan pelaksanaan kerja,

ukuran-ukuran prestasi kerja, dan kemudian pemberian umpan balik kepada para

karyawan dan departemen personalia”.

Elemen-elemen pokok sistem penilaian tersebut dapat dilihat pada gambar

berikut ini :

Gambar 2.1. Skema Elemen-Elemen Pokok Sistem Penilaian Prestasi Kerja

Penilaian prestasi kerja perlu dilakukan secara formal berdasarkan serangkaian Catatan-catatan Tentang karyawan Keputusan-keputusan personalia Kriteria yang Ada Hubungannya dengan pelaksanaan kerja Ukuran-Ukuran Prestasi Kerja Umpan Balik Bagi Karyawan Penilaian Prestasi Kerja Prestasi Kerja Karyawan

kriteria yang ditetapkan secara rasional dan diterapkan secara obyektif serta di

dokumentasikan secara sistematik. Dengan demikian jelas bahwa dalam melakukan

penilaian atas prestasi kerja para karyawan terdapat interaktif positif dan kontinyu

antara pimpinan dan bagian kepegawaian (Handoko, 1997).

Dalam praktek interaktif positif yang dimaksud melibatkan tiga pihak, yaitu

bagian kepegawaian, atasan langsung dan pegawai yang dinilai, bentuknya adalah

ketiga belah pihak yang terlibat harus memahami bahwa penilaian prestasi kerja

merupakan suatu sistem yang bukan saja efektif, melainkan juga diterima oleh

pihak-pihak yang berkepentingan (Siagian, 2000).

Penilaian prestasi kerja akan sangat bermanfaat bagi organisasi dalam rangka

pengembangan personel untuk peningkatan kinerja kerja pegawai. Menurut Handoko

(1997) bahwa: terdapat 10 (sepuluh) manfaat yang dapat dipetik dari penilaian

prestasi kerja yang baik, sebagai berikut: 1) Perbaikan Prestasi Kerja. Umpan balik

pelaksanaan kerja memungkinkan pegawai, pimpinan dan bagian personalia untuk

dapat memperbaiki kegiatan-kegiatan mereka demi perbaikan prestasi kerja pegawai;

2) Penyesuaian-Penyesuaian Kompensasi. Evaluasi prestasi kerja membantu para

pengambil keputusan dalam menentukan kenaikan upah, pemberian bonus dan bentuk

kompensasi lainnya; 3) Keputusan-Keputusan Penempatan. Promosi, transfer dan

demosi (penurunan jabatan) biasanya didasarkan pada prestasi kerja masa lalu atau

antisipasinya. Promosi sering merupakan bentuk penghargaan terhadap prestasi

kerja masa lalu; 4) Kebutuhan-Kebutuhan Latihan dan Pengembangan. Prestasi kerja

baik mungkin mencerminkan potensi yang harus dikembangkan; 5) Perencanaan dan

Pengembangan Karier. Umpan balik prestasi kerja seorang pegawai dapat

mengarahkan keputusan-keputusan karier, yaitu tentang jalur karier tertentu yang

harus diteliti; 6) Penyimpangan-Penyimpangan Proses Staffing. Prestasi karja yang

baik atau jelek mencermikan kekuatan atau kelemahan prosedur staffing departemen

personalia; 7) Ketidakakuratan Informasional. Prestasi kerja yang jelek mungkin

menunjukan kesalahan-kesalahan dalam informasi analisis jabatan, rencana-rencana

sumber daya manusia, atau komponen-komponen sistem informasi manajemen

personalia lainya. Menggantungkan diri pada informasi yang tidak akurat dapat

mengakibatkan keputusan-keputusan personalia yang diambil menjadi tidak tepat; 8)

Kesalahan-kesalahan desain Pekerjaan. Prestasi kerja yang jelek mungkin merupakan

suatu tanda kesalahan dalam desain pekerjaan. Penilaian prestasi membantu diagnosa

kesalahan-kesalahan tersebut; 9) Kesempatan Kerja yang adil. Penilaian prestasi kerja

secara akurat akan menjamin keputusankeputusan penempatan internal diambil tanpa

diskriminasi; 10) Tantangan-Tantangan Eksternal. Kadang-kadang prestasi kerja

dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar lingkungan kerja, seperti: keluarga, kesehatan,

kondisi finansial atau masalah-masalah pribadi lainnya. Dengan penilaian prestasi

kerja tersebut, bagian personalia dimungkinkan untuk dapat menawarkan bantuan

kepada semua karyawan yang membutuhkan atau yang diperkirakan diperlukan.

2.3.2. Metode penilaian prestasi kerja

kerja ke dalam dua kelompok yaitu metode yang berorientasi ke masa yang lalu dan

metode yang berorientasi ke masa depan.

1) Metode yang berorientasi ke masa lalu

Hasil penilaian prestasi kerja pegawai di masa lalu dapat dijadikan sebagai

informasi umpan balik untuk membina dan mengarahkan mereka untuk perbaikan

dan peningkatan prestasi kerja. Metode ini mempunyai kelemahan yaitu bahwa

prestasi kerja di masa lalu tidak dapat diubah bahkan mungkin telah menimbulkan

kerugian bagi organisasi. Teknik-teknik yang umum digunakan yaitu:

a) Rating scale (skala peringkat), penilai memberikan evaluasi subyektif

terhadap prestasi kerja pegawai dengan skala tertentu, seperti “amat baik” (nilai

90 – 100), “baik” (nilai 80 – 89), “cukup” (nilai 70 – 79), “kurang” (nilai 60 –

69), dan “sangat kurang” (nilai 0 – 59).

Penilaian hanya atas dasar pendapat penilai sendiri yang membandingkan

prestrasi pegawai dengan kriteria-kriteria yang dianggap penting bagi pelaksanaan

pekerjaan. Keunggulannya ialah hasil penilaian mudah dihubungkan dengan

tujuan kenaikan gaji, mudah diadministrasikan, waktu pelatihan bagi penilai perlu

waktu sedikit, biaya pengembangan sistem ini murah, dapat diterapkan

diorganisasi yang memiliki jumlah pegawai yang besar. Sedangkan kelemahannya

ialah kesulitan untuk menentukan kriteria yang berhubungan dengan pelaksanaan

kerja, sehingga penilai sering melakukan penilaian berdasarkan pendapat pribadi

dan memaksakan suatu kriteria yang sebetulnya tidak berhubungan dengan

b) Checklist, berupa formulir isian dimana penilai memberikan bobot penilaian

tertentu yang berbeda untuk pekerjaan yang satu dengan yang lainnya sehingga

penilaian akan terkait dengan tugas pekerjaan seseorang. Misalnya bobot bagi

faktor kepemimpinan akan tinggi bagi seseorang yang menjabat suatu jabatan

manajerial. Sebaliknya bobot kepemimpinan akan rendah atau bahkan tidak

dinilai bagi pegawai yang melaksanakan kegiatan operasional dan tidak punya

bawahan sama sekali. Keunggulannya, murah, terstandarisasi, mudah untuk

dilaksanakan dan diadministrasikan, sedikit kebutuhan pelatihan bagi penilai.

Sedangkan kelemahannya ialah adanya kecenderungan penilai bertindak

subyektif, interprestasi yang tidak tepat tentang faktor yang dinilai dan cara

pembobotan yang tidak tepat.

c) Critical incident method (metode insiden kritikal), teknik yang berdasarkan pada

catatan-catatan penilai tentang perilaku pegawai baik yang sifatnya positif

maupun yang negatif dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugasnya. Teknik ini

berguna untuk memberikan feedback bagi pegawai dan dapat mengurangi recency

effect bias. Akan tetapi akan menjadi tidak berguna bila penilai tidak mencatat

peristiwa-peristiwa kritis tersebut atau mengada–ada tentang pelaksanaan kerja

pegawai bersangkutan.

d) Behaviorally anchored rating scale/BARS (skala peringkat yang dikaitkan dengan

perilaku),teknik yang mengkaitkan skala peringkat prestasi kerja dengan perilaku

tertentu kelebihannya ialah berkurangnya tingkat subyektivitas dalam penilaian.

pegawai sendiri, rekan kerja dan atasan langsung masing-masing. Deskripsi

demikian memungkinkan bagian kepegawaian menyusun berbagai kategori

perilaku pegawai dikaitkan dengan prestasi kerja.

e) Field review method (metode evaluasi lapangan), merupakan teknik penilaian

dengan cara ikut melibatkan staf ahli penilaian dari bagian kepegawaian untuk

menilai prestasi kerja pegawai. Hasil dari penilaian akan disampaikan kepada

atasan langsung pegawai untuk diteliti dan kepada pegawai yang dinilai.

Kelebihannya, obyektivitas dapat terjamin karena penilaian dilakukan oleh para

ahli penilaian dan tidak terpengaruh halo effect. Kelemahannya, mahal, tidak

praktis, dan terdapat perbedaan persepsi antara penilai dengan wakil

kepegawaian tersebut apabila ukuran standar yang digunakan penilaian bersifat

subyektif.

f) Test and observation (tes dan observasi), artinya pegawai yang dinilai diuji

kemampuan dan keterampilannya baik secara tertulis maupun presentasi, yang

langsung diamati oleh penilai. Kelebihannya ialah adanya keterkaitan langsung

antara prestasi kerja dengan tugas pekerjaan pegawai, adanya standarisasi.

Kelemahannya, biaya besar untuk alat tes (simulator) dan untuk mendatangkan

penilai dari luar organisasi.

g) Comparative approach (pendekatan komparatif), dengan cara membandingkan

prestasi kerja seseorang dengan orang lain yang memiliki pekerjaan sejenis, lalu

ditentukan peringkat prestasi dari yang terbaik sampai yang terburuk.

tunjangan, dan promosi, serta terstandarisasi. Sedangkan kelemahannya, sulit

digunakan apabila jumlah pegawai besar, lebih menekankan pada peringkat

pegawai sehingga bisa menimbulkan persaingan yang tidak sehat, selain itu juga

dapat menimbulkan halo effect dan recency effect.

2) Metode yang berorientasi ke masa depan

a) Self appraisal (penilaian diri sendiri), setiap pegawai akan dapat mencapai

tingkat kedewasaan mental, intelektual dan psikologisnya, berarti ia akan

mampu untuk menilai dirinya sendiri termasuk potensinya baik hal-hal yang

bersifat positif (kebaikannya) maupun yang bersifat kelemahannya.

b) Management by objectives / MBO (manajemen berdasarkan asaran), dengan

cara melibatkan pegawai dalam menentukan berbagai sasaran prestasi kerja

yang ingin dicapai dan ukuran-ukuran obyektif yang digunakan dalam kurun

waktu tertentu di masa depan. Sehingga ia akan memiliki rasa tanggung jawab

yang lebih besar dalam pencapaian sasaran tersebut dibandingakan bila

sasaran dan ukuran tersebut hanya ditentukan oleh atasannya.

c) Psychological appraisal (penilaian psikologis), dilakukan dengan cara

wawancara yang mendalam, tes psikologi, diskusi dengan supervisor. Cara

tersebut dapat memperkirakan prestasi kerja pegawai bersangkutan dimasa

depan dengan melakukan penilaian intelektualnya, emosi dan motivasinya

yang berhubungan dengan pekerjaannya. Keterandalan metode ini akan

tergantung dari tingkat pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman

pengembangan karier pegawai. Akan tetapi pelaksanaannya butuh waktu yang

lama dan dana yang besar.

d) Assesment centers (pusat-pusat penilaian),teknik ini digunakan untuk menilai

para manager tingkat menengah yang diperkirakan memiliki potensi untuk

menduduki jabatan manajerial yang lebih tinggi. Bentuk dari penilaian ini

seperti tes psikologi, tes toleransi terhadap tekanan dan ketidakjelasan,

kreativitas, wawancara yang mendalam, dan simulasi. Keunggulannya, baik

untuk digunakan dalam menentukan program pengembangan karier

pegawainya, penempatan pegawai, promosi dan mutasi. Kelemahannya, biaya

yang besar dan waktu yang lama.

Dokumen terkait