LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Teori-teori yang relevan .1 Metode Inkuiri .1 Metode Inkuiri
2.1.1.1.1 Pengertian Metode Inkuiri
Suryosubroto dalam Trianto (2009:166) menjelaskan bahwa inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang berarti pertanyaan, pemeriksaan, atau penyelidikan. Menurut Sanjaya (2006:194) dijelaskan bahwa metode inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri dari suatu masalah yang dipertanyakan. Dalam hal ini proses berpikir kritis dapat dilakukan melalui tanya jawab antara guru dengan siswa. Adapun dasar dari pembelajaran ini adalah heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani yaitu heuriskein yang artinya saya menemukan.
8 2.1.1.1.2 Ciri-ciri Pembelajaran Berbasis Metode Inkuiri
Sanjaya (2006, 194-195) menjelaskan beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri, antara lain:
1) Strategi inkuiri menekankan aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Dalam strategi ini, siswa sebagai subjek belajar. Siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran, tetapi siswa dapat menemukan sendiri inti dari materi pelajaran.
2) Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri siswa.
3) Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual siswa.
Sanjaya juga menjelaskan bahwa metode pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan yang berorientasi kepada siswa. Hal ini dikarenakan dalam metode ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran inkuiri akan efektif jika:
1. Siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
9 2. Bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta
atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
3. Pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
4. Guru mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir.
5. Jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan guru.
6. Guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
2.1.1.1.3 Prinsip-prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Sanjaya (2006:197) menjelaskan ada lima prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru saat melakukan metode pembelajaran inkuiri, yakni:
1. Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari metode inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, metode pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai
10 materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.
2. Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran merupakan proses interaksi baik antar siswa, antara guru dengan siswa, bahkan antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, melainkan sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
3. Prinsip Bertanya
Peran guru dalam metode pembelajaran inkuiri adalah sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh karena itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan.
4. Prinsip Belajar untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.
11 5. Prinsip Keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Oleh karena itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Tugas guru adalah menyediakan ruang dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
2.1.1.1.4 Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Inkuiri
Menurut Sanjaya (2006:199-203), secara umum langkah-langkah proses pembelajaran dengan menggunakan metode inkuri sebagai berikut:
a. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah.
b. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah adalah langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang
12 sangat penting dalam metode inkuiri. Oleh sebab itu, melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka-teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan.
c. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis harus memiliki landasan berpikir kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis.
d. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Pembelajaran dengan menggunakan inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam
13 pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
e. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Hal terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional artinya kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
f. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan puncak proses pembelajaran. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yan relevan.
14 Gulo (2002) dalam Trianto (2009:168-169) menyatakan, dalam pembelajaran inkuiri diperlukan kemampuan sebagai berikut:
a. Mengajukan pertanyaan atau permasalahan
Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan diajukan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk meyakinkan bahwa pertanyaan sudah jelas, pertanyaan tersebut dituliskan di papan tulis, kemudian siswa diminta untuk merumuskan hipotesis.
b. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data. Untuk memudahkan proses ini, guru menanyakan kepada siswa gagasan mengenai hipotesis yang mungkin. Dari semua gagasan yang ada, dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan permasalahan yang diberikan.
c. Mengumpulkan data
Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dapat berupa tabel, matrik, atau grafik.
d. Analisis data
Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh. Faktor penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran ‘benar’ atau ‘salah’. Setelah memperoleh kesimpulan dari data
15 percobaan, siswa dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
e. Membuat kesimpulan
Langkah penutup dari pembelajaran inkuiri adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang diperoleh siswa.
Penulis mengambil tujuh langkah untuk keperluan penelitian ini. Langkah-langkah pelaksanaan metode inkuiri tersebut adalah sebagai berikut:
1) Orientasi
Beberapa hal yang dapat dilakukan pada tahap orientasi adalah:
a) Membagi siswa dalam beberapa kelompok.
b) Menyampaikan beberapa masalah aktual yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan.
c) Membagikan LKS tentang materi yang akan diajarkan. d) Menjelaskan media dan alat-alat yang akan digunakan
dalam pembelajaran.
e) Memberikan motivasi kepada siswa agar terlibat aktif dalam pembelajaran.
2) Merumuskan Masalah
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah adalah sebagai berikut:
16 b) Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung
teka-teki yang jawabannya pasti yaitu “Ya” dan “Tidak”. c) Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep
yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa.
Beberapa hal yang dapat dilakukan pada tahap merumuskan masalah adalah:
a) Membimbing siswa agar dapat merumuskan permasalahan sendiri.
b) Memberikan dorongan kepada siswa untuk menemukan jawaban sendiri.
c) Membantu siswa dalam mengkaji teori, konsep, atau prinsip.
3) Merumuskan Hipotesis
Beberapa hal yang dapat dilakukan pada tahap merumuskan hipotesis adalah:
a) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan berbagai jawaban yang mungkin.
b) Membimbing siswa untuk dapat menentukan jawaban-jawaban yang relevan saja.
c) Membimbing siswa untuk memilih jawaban terbaik sebagai hipotesis.
4) Melakukan Eskperimen
Beberapa hal yang dapat dilakukan pada tahap melakukan eksperimen adalah:
17 a) Membimbing siswa untuk melakukan langkah-langkah
dalam melakukan percobaan.
b) Membimbing siswa untuk mengurutkan langkah-langkah percobaan.
c) Membimbing siswa untuk mendapatkan data-data melalui percobaan.
d) Memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk menganalisis data.
e) Menarik Kesimpulan. 5) Menarik Kesimpulan
Beberapa hal yang dapat dilakukan pada tahap menarik kesimpulan adalah:
a) Membimbing siswa untuk menarik kesimpulan.
b) Merancang solusi atas permasalahan yang mereka hadapi.
c) Mendiskusikan alasan memilih solusi tersebut. 6) Mempresentasikan Hasil
Beberapa hal yang dapat dilakukan pada tahap mempresentasikan hasil adalah:
a) Membimbing siswa untuk menyiapkan laporan kelompok dengan langkah-langkah yang urut.
b) Memberikan kesempatan kepada kelompok untuk mempresentasikan hasil di depan kelas.
18 7) Mengevaluasi
Beberapa hal yang dapat dilakukan pada tahap mengevaluasi adalah:
a) Mengevaluasi seluruh proses inkuiri kelompok.
b) Mengevaluasi apakah kesimpulan sudah sesuai dengan alasan.
c) Mengevaluasi apakah solusi sudah tepat sesuai rumusan masalah.
d) Mendiskusikan apa saja yang perlu diperbaiki.
2.1.1.1.5 Keunggulan Metode Inkuiri
Sanjaya (2006:206) menjelaskan keunggulan metode inkuiri adalah sebagai berikut:
1) Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
2) Strategi pembelajaran inkuiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
3) Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
4) Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas
19 rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
2.1.1.1.6 Jenis Metode Inkuiri
Ada berbagai jenis metode inkuiri (Amien, 1988:137), yaitu: - Guided Discovery-Inquiry
Guru memberikan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada siswa. Sebagian perencanaan dilaksanakan oleh guru. Siswa tidak merumuskan problem. Petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat diberikan oleh guru. - Modified Inquiry
Guru hanya memberikan problem saja dan siswa diberikan kemerdekaan untuk memecahkan problem tersebut melalui pengamatan, eksplorasi atau prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya. Guru merupakan nara sumber yang memberikan bantuan yang diperlukan supaya siswa dapat berpikir dan menemukan cara-cara penelitian yang tepat. Guru dapat memberikan pertanyaan yang dapat membantu siswa mengerti arah dari suatu problem.
- Free Inquiry
Siswa mengidentifikasi dan merumuskan problem yang dipelajari. Pertanyaan yang dapat mengarahkan siswa ke free inquiry adalah:
20 Anda telah mempelajari mengenai eksperimen ini, dari eksperimen tersebut, apakah yang dapat anda pikirkan?
- Invitation into Inquiry
Melibatkan siswa dalam proses pemecahan problem yang caranya serupa dengan cara-cara yang umum diikuti oleh para ilmuwan yaitu meliputi merancang eksperimen, merumuskan hipotesis, menetapkan kontrol, menentukan sebab akibat, menginterpretasi data, menentukan kesimpulan dalam merencanakan percobaan dan mengenal bagaimana kesalahan eksperimen dapat diperkecil. - Inquiry Role Approach
Merupakan kegiatan proses belajar yang melibatkan siswa dalam tim-im yang masing-masing terdiri dari 4 anggota untuk memecahkan Invitation Into Inquiry. Anggota tim bekerjasama untuk memecahkan problem yang berkaitan dengan topik yang dipelajari. Masing-masing anggota tim mempunyai peranan sebagai: team coordinator, technical advisor. Data recorder dan process valuator.
Jenis metode inkuiri yang lebih cocok untuk siswa pendidikan dasar dan menengah adalah inkuiri terbimbing sehingga model inkuiri yang digunakan dalam penelitian ini (yang diperuntukkan untuk siswa SD) adalah Guided Discovery–Inquiry atau Metode Inkuiri Terbimbing.
21 2.1.1.2 Metode Inkuiri Terbimbing
Menurut Herdian (2010) metode inkuiri terbimbing adalah metode di mana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan siswa pada suatu diskusi. Dalam pembelajarannya siswa dituntut untuk menemukan konsep melalui petunjuk dari guru. Petunjuk tersebut pada umumnya berupa pertanyaan yang membimbing. Dengan metode ini siswa belajar lebih berorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep materi pembelajaran.
Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan, lembar kerja siswa yang terstruktur dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar memahami konsep pelajaran. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk yang diperlukan oleh siswa.
Pada metode inkuiri terbimbing siswa dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar siswa mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri. Siswa memerlukan bantuan dari guru untuk mengembangkan kemampuannya memahami pengetahuan baru. Dalam hal ini siswa harus berusaha mengatasi sendiri kesulitan-kesulitan yang dihadapi tetapi pertolongan guru tetap diperlukan.
22 1.1.1.3 Ilmu Pengetahuan Alam
1.1.1.3.1 Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam
Darmodjo dan Kaligis (1992/1993:3) menjelaskan bahwa, dilihat dari segi istilah yang digunakan IPA berarti “ Ilmu” tentang “Pengetahuan Alam”. “ Ilmu” artinya suatu pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang benar artinya pengetahuan yang dibenarkan menurut tolok ukur kebenaran ilmu, yaitu rasional dan objektif. Sedangkan pengetahuan alam adalah pengetahuan tentang alam semesta dengan segala isinya. Jadi secara singkat IPA adalah “Pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya”.
2.1.1.3.2 Alasan Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam
Menurut pakar-pakar IPA dari UNESCO tahun 1983 dalam Darmodjo dan Kaligis (1992/1993:6) dijelaskan pentingnya mengajarkan IPA adalah sebagai berikut:
1. Menolong anak didik untuk dapat berpikir logis terhadap kejadian sehari-hari dan memecahkan masalah sederhana yang dihadapinya.
2. Menolong dan meningkatkan kualitas hidup manusia karena banyak aplikasinya dalam teknologi.
3. Membantu secara positif pada anak-anak untuk dapat memahami mata pelajaran lain terutama bahasa dan matematika.
23 4. Di banyak negara, Sekolah Dasar merupakan pendidikan yang terminal untuk anak-anak, ini berarti hanya selama di SD itulah mereka mendapat kesempatan mengenal lingkungannya secara logis dan sistematis.
5. IPA, di SD dapat benar-benar menyenangkan.
2.1.1.3.3 Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam
Dalam proses pembelajaran IPA haruslah terkandung tiga dimensi, yakni dimensi proses, produk, dan pengembangan sikap.
a. IPA sebagai Proses
Yang dimaksud dengan “Proses” adalah proses mendapatkan IPA yakni melalui metode ilmiah. Jadi proses IPA itu tidak lain adalah metode ilmiah. Untuk anak usia SD, metode ilmiah dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan dengan harapan pada akhirnya akan terbentuk suatu paduan yang utuh sehingga anak SD dapat melakukan penelitian sederhana. b. IPA sebagai Produk
Bentuk ilmu pengetahuan alam sebagai produk adalah fakta, konsep, prinsip, dan teori IPA.
c. IPA sebagai Pengembangan Sikap
Sikap di sini dibatasi pada sikap ilmiah terhadap alam sekitar. Menurut Harlen (1987) dalam Darmodjo dan Kaligis setidaknya ada 9 aspek sikap ilmiah yang dapat dikembangkan pada anak usia SD, yaitu sikap ingin tahu, sikap ingin
24 mendapatkan sesuatu yang baru, sikap kerja sama, sikap tidak putus asa, sikap tidak berprasangka, sikap mawas diri, sikap bertanggung jawab, sikap berpikir bebas, dan sikap kedisiplinan diri.
2.1.1.3.4 Cara Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
Mengajar dan belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dipisahkan. Suatu pengajaran akan berhasil apabila terjadi proses mengajar dan belajar yang harmonis. Menurut Richardson (1957) dalam Darmodjo dan Kaligis (1992/1993:12) menjelaskan bahwa ada tujuh prinsip dalam proses belajar mengajar agar pengajaran IPA dapat berhasil yakni prinsip keterlibatan secara aktif, prinsip belajar berkesinambungan, prinsip motivasi, prinsip multi saluran, prinsip penemuan, prinsip totalitas, dan prinsip perbedaan individual.
2.1.1.4 Pesawat Sederhana
2.1.1.4.1 Pengertian Pesawat Sederhana
Hermana (2009:121) menjelaskan bahwa pesawat sederhana merupakan alat yang dapat membantu dan memudahkan pekerjaan manusia.
2.1.1.4.2 Tujuan Pesawat Sederhana
Hermana (2009:122) menjelaskan pula tujuan menggunakan pesawat sederhana adalah:
25 1. Mengubah energi
2. Mengubah arah gaya 3. Memindahkan energi 4. Menghemat energi 5. Menghemat waktu
6. Memudahkan pekerjaan manusia
2.1.1.4.3 Jenis Pesawat Sederhana
Damayanti (2010:26-36) menjelaskan bahwa berdasarkan prinsip kerjanya, pesawat sederhana dibagi menjadi lima jenis, yaitu:
1. Pengungkit atau tuas
Ada tiga jenis pengungkit yang dibedakan berdasarkan letak titik tumpu, titik beban dan titik kuasa, yaitu
a. Pengungkit Jenis Pertama (I)
Pada pengungkit jenis pertama, titik tumpu terletak antara titik beban dan titik kuasa. Contoh alat yang menerapkan prinsip kerja pengungkit jenis pertama antara lain gunting, pencabut paku, jungkat jungkit dan pemotong kuku.
TB TT TK
Gambar 1. Prinsip Kerja Pengungkit Jenis I
Azmiyawati, 2008:99
26 b. Pengungkit Jenis Kedua (II)
Pada pengungkit jenis kedua, titik beban terletak antara titik kuasa dan titik tumpu. Contoh alat yang menerapkan prinsip kerja pengungkit jenis kedua antara lain gerobak roda satu, mesin pemotong kertas, pemecah biji-bijian dan alat pembuka tutup botol.
TK TB TT
Gambar 3. Prinsip Kerja Pengungkit Jenis II
Azmiyawati, 2008:100
Gambar 4. Alat-alat Pengungkit Jenis II
c. Pengungkit Jenis Ketiga (III)
Pada pengungkit jenis ketiga, titik kuasa terletak antara titik tumpu dan titik beban. Contoh alat yang menerapkan prinsip kerja pengungkit jenis ketiga antara lain pinset, dan sekop.
TT TK TB
Gambar 5. Prinsip Kerja Pengungkit Jenis III
27 Azmiyawati, 2008:100
Gambar 6. Alat-alat Pengungkit Jenis III
Bagian – bagian pengungkit atau tuas antara lain: a) Beban
Beban adalah gaya yang terdapat pada benda. b) Kuasa
Kuasa adalah gaya yang terdapat pada pengungkit. c) Titik Beban (TB)
Titik beban (TB) adalah titik tempat beban bekerja. d) Titik Kuasa
Titik kuasa (TK) adalah titik tempat kuasa bekerja. e) Titik Tumpu
Titik Tumpu (TP) adalah titik tempat batang menumpu. f) Lengan Beban
Lengan beban adalah jarak antara titik tumpu dan titik beban. g) Lengan Kuasa
Lengan kuasa adalah jarak antara titik tumpu dengan titik kuasa
28 2. Bidang miring
Bidang miring adalah alat bantu yang permukaannya dibuat miring. Tujuan penggunaan bidang miring adalah untuk mempermudah seseorang memindahkan suatu benda. Beberapa alat yang menggunakan prinsip kerja bidang miring di antaranya tangga, sekrup, alat bor, pisau, kapak dan alat yang dimiringkan.
Azmiyawati, 2008:102
Gambar 7. Alat-alat Bidang Miring
3. Katrol
Katrol adalah roda yang berputar pada porosnya dengan bagian berongga di sepanjang sisinya untuk tempat tali atau rantai. Prinsip kerja katrol sama dengan pengungkit, yaitu memiliki tiga titik, titik tumpu, titik beban, dan titik kuasa. Berdasarkan jenisnya ada empat macam katrol, yaitu:
a. Katrol Tetap
Katrol tetap adalah katrol yang dipasang pada tempat tertentu dengan posisi tetap. Penggunaan katrol tetap akan mengubah arah gaya, yaitu gaya ke atas diubah menjadi arah ke bawah. Contoh alat yang menerapkan prinsip kerja katrol tetap antara lain pada tiang bendera, sangkar burung, dan sumur timba.
b. Kat Kat beb dile lang arah dipe c. Kat Kat beb men A Ga trol Bebas at trol bebas a bas dan dap
etakkan pada gsung digan h kuasa sela erkecil seten Gam trol Bergand trol bergand bas. Katrol ngangkut be Azmiyawati, 20 ambar 8. Katr tau Lepas atau lepas a pat dipindah a tali atau r ntungkan pa alu menuju ngahnya. Azmiyawati, 2 bar 9. Katrol da da adalah g l berganda enda-benda y 008:102 rol Tetap dalah katrol h-pindahkan rantai. Beba ada katrolny ke atas dan 2008:102 Bebas atau L gabungan ka a biasanya yang cukup b l yang dapa n. Katrol be an yang aka ya. Pada kat
gaya yang epas atrol tetap a digunaka berat di pabr 29 at bergerak ebas biasa an diangkat trol bebas, digunakan dan katrol an untuk rik.
d. Kat Kat disu berg bera 4. Rod Rod dihu bers pad berp rod bara Ga trol Blok Be trol blok ber usun secara ganda digun at, misalnya S Gam da berporos da berporo ubungkan de sama-sama. da roda sepe poros tergan a dan poros ang. Hal te Azmiyawati, 2 ambar 10. Ka rganda rganda tersus berdamping nakan untuk a barang-bara