BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Teori Tunjangan Kinerja
2.2.1. Pengertian Tunjangan Kinerja
Pengertian Tunjangan Kinerja PermenPAN-RB No. 63 Tahun 2011 tentang Pedoman Penataan Sistem Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri, menjelaskan bahwa tunjangan kinerja adalah fungsi dari keberhasilan pelaksanaan reformasi birokrasi atas dasar kinerja yang telah dicapai oleh seorang individu pegawai. Kinerja individu pegawai harus sejalan dengan kinerja yang dicapai oleh instansinya.
Sesuai dengan namanya, pemberikan Tunjangan Kinerja didasarkan pada pertmbangan kinerja pegawai setiap bulannya. Jika seorang pegawai mampu bekerjadengan baik, target kerja bisa tercapai, maka tunjangan kinerjanya bisa diterima secara maksimal. Namun, jika kinerjanya kurang memuaskan terjadi pelanggaran, maka nominal tunjangan kinerja tentu tidak bisa maksimal, dan akan menyesuaikan penilaian kinerjanya.
Tunjangan kinerja adalah penghasilan selain gaji yang diberikan kepada pegawai aktif berdasarkan kompetensi dan kinerjanya. Selain penilaian kinerja, besaran tunjangan kinerja yang diterima pegawai juga disesuaikan dengan peraturan Kelas Jabatan dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 34 Tahun 2011 (Warta SDM, 2014).
Pemberian tunjangan kinerja bukanlah tambahan atas insentif yang selama ini telah diberikan. Oleh karena itu, tunjangan kinerja akan diberikan dengan menghitung berbagai insentif yang selama ini telah diberikan.
Pegawai yang telah menerima tunjangan kinerja tidak berhak lagi menerima insentif lain, apa pun namanya (uang lembur, honor panitia, dan lain – lain), karena sudah dinilai sebagai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dan imbalannya sudah diberikan dalam bentuk tunjangan kinerja.
Menurut Sujatmoko (2007), tunjangan kinerja merupakan sarana motivasi, dapat berupa perangsang atau pendorong yang diberikan dengan sengaja kepada pekerja agar dalam diri mereka timbul semangat yang lebih besar untuk berprestasi bagi organisasi.
Menurut Sujatmoko (2007) pada dasarnya tunjangan kinerja terdiri dari dua jenis, yaitu:
1. Tunjangan Kinerja Finansial
Tunjangan kinerja finansial merupakan tunjangan kinerja yang diberikan kepada karyawan atas hasil kerja mereka dan biasanya diberikan dalam bentuk uang berupa bonus, komisi, pembagian laba, dan kompensasi yang ditangguhkan serta dalam bentuk jaminan sosial berupa pemberian rumah dinas, tunjangan lebur, tunjangan kesehatan dan tunjangan lainnya.
2. Tunjangan kinerja non finansial
Tunjangan kinerja non finansial dapat diberikan dalam berbagai bentuk, antara lain:
a. Pemberian piagam penghargaan
b. Pemberian pujian lisan ataupun tertulis, secara resmi atau pribadi c. Ucapan terima kasih secara formal ataupun informal
d. Promosi jabatan kepada karyawan yang baik selama waktu tertentu serta dianggap mampu.
e. Pemberian tanda jasa/medali kepada karyawan yang telah mencapai masa kerja yang cukup lama dan mempunyai loyalitas tinggi
f. Pemberian hak untuk menggunakan sesuatu atribut jabatan (misalnya mobil atau motor)
g. Pemberian perlengkapan khusus pada ruang kerja
Menurut Simamora (2002) program tunjangan kinerja yang baik harus memenuhi beberapa aturan sebagai berikut:
1. Sederhana 2. Spesifik 3. Dapat dicapai 4. Dapat Diukur
Tunjangan kinerja pegawai dapat meningkat atau menurun sejalan dengan peningkatan atau penurunan kinerjanya. Adanya hubungan erat antara tunjangan kinerja dan kinerja pegawai, maka dapat dikatakan juga jika tunjangan kinerja adalah suatu proses pemberian imbalan yang diberikan kepada pegawai sesuai dengan hasil kerja yang dicapai pegawai.
Pemberian tunjangan kinerja pegawai dilaksanakan secara adil dan layak
yang sesuai dengan bobot pekerjaan dan tanggung jawabnya untuk memacu produktivitas serta menjamin kesejahteraan pegawai. K/L yang telah menerima tunjangan kinerja harus memiliki kinerja yang terukur, melalui penerapan Sasaran Kerja Pegawai (SKP).
2.2.2. Pemberian Tunjangan Kinerja
Hasil rekapitulasi kehadiran pegawai pada setiap bulan, hal ini didukung dengan telah dilakukannya rekapitulasi kehadiran tersebut pada setiap seminggu sekali, tentunya akan membantu mempermudah dan mengetahui tingkat kedisiplinan, baik itu keterlambatan pada saat masuk/pulang kantor, tidak berada /meninggalkan kantor tanpa izin pada saat jam kerja. Pemberian dilakukan berdasarkan klasifikasi Pemangku Jabatan masing-masing pegawai sesuai kompetensi/tugas dan fungsinya.
Bagi pegawai yang telah melanggar ketentuan terhadap jam kerja tentunya akan dilakukan pengurangan (persentase) besaran tunjangan yang diterima pada setiap bulannya dan tidak menutup kemungkinan apabila pelanggarannya melebihi batas kewajaran tentunya akan ditindaklanjuti dengan penegakkan disiplin sesuai dengan PP Nomor 53 Tahun 2010.
Pemberian tunjangan kinerja diberikan berdasarkan hasil rekapitulasi kehadiran pegawai pada setiap bulan, tentunya akan berdampak sekali terhadap kedisiplinan pegawai (motivasi/kesejahteraan) secara keseluruhan.
Dalam Peraturan Menteri Pertanian ini juga dijelaskan pengurangan besaran tunjangan kinerja diberlakukan kepada pegawai:
1. Yang tidak masuk kerja dalam sehari.
2. Yang tidak berada di tempat tugas selama jam kerja tanpa alasan kedinasan.
3. Yang terlambat masuk kerja.
4. Yang pulangkerja sebelumnya waktunya
5. Yang tidak mengisi daftar hadil (baik datang maupun pulang) 6. Yang dijatuhi hukuman disiplin
7. Yang melaksanakan cuti besar, cuti alasan penting dan cuti sakit 8. Yang tidak mengikuti upacara bendera sesuai ketentuan unit kerjanya.
9. Yang tidak menggunakan seragam kerja
Selain itu pengurangan tunjangan kinerja juga diatur berdasarkan pegawai yang melaksanakan tugas pendidikan dan pelatihan serta pengurangan terhadap pejabat fungsional tertentu yang tidak dapat mengumpulkan angka kreditnya sesuai ketentuan waktu yang diberikan.
Besaran tunjangan kinerja diberikan terhitung mulai tanggal ditetapkannya Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas oleh pejabat yang berwenang.
Besaran ini dapat berubah (naik atau turun) sesuai kelas jabatan yang diberikan kepada pegawai.
2.2.3. Indikator Tunjangan Kinerja
Indikator yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan pada Peraturan MENPAN & RB Nomor 34 Tahun 2011 dan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2014, karena peratuan ini lebih dapat menggambarkan kondisi pemberian tunjangan kinerja apakah akan efisien atau tidak.
Dalam Peraturan ini menetapkan besaran dasar (basic quantities) tunjangan serta berapa jumlah yang dapat diterima pegawai sesuai kinerjanya, maka penelitian ini menggunakan indikator:
1. Kehadiran
Tingkat kehadiran ini dimaksudkan meningkatkan disiplin kehadiran pegawai.
2. Pelaksanaan Tupoksi
Pelaksanaan tupoksi ini dimaksudkan menilai kinerja pegawai dalam bekerja.
3. Perilaku
Perilaku ini dimaksudkan agar dalam bekerja pegawai juga harus memperhatikan etika dan prilakunya, mind-set dan culture-set ini mendapatkan perhatian yang cukup banyak dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN, Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 Tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS.