BAB II : KAJIAN PUSTAKA
1. Terapi Bermain
13
3. Definisi Konsep
1. Terapi Bermain Lompat Jingkat Angka
Terapi menurut kamus Bahasa Indonesia adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit, atau perawatan penyakit.21
Bermain merupakan setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir.22 Bermain dilakukan secara suka rela dan tidak ada paksaan. Kegiatan ini tidak memiliki peraturan lain kecuali yang ditetapkan oleh pemainnya sendiri.
Menurut Joan Freeman dan Utami Munandar, bermain merupakan suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik secara fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional.23
Sedangkan menurut Hughes bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Menurutnya suatu kegiatan dapat dikatakan bermain, apabila telah memenuhi lima unsur, yaitu:
a. Memiliki tujuan, artinya permainan tersebut dapat menghasilkan kepuasan bagi pemainnya.
b. Memilih dengan bebas dan atas kehendak sendiri, tidak ada paksaan dalam melakukan aktivitas bermain.
c. Menyenangkan.
21
Desy Anwar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Terbaru (Surabaya: Almalia, 2003), halaman 516.
22
Hurlock, Elizabeth B. Perkembangan Anak ( Jakarta: Erlangga, 1978) , halaman 320.
23
14
d. Mengkhayal untuk mengembangkan daya imajinatif dan kreativitas.
e. Melakukan secara aktif dan sadar.24
Berdasarkan keterangan yang telah didapat, maka dapat disimpulkan bahwa terapi bermain yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses penyembuhan atau pemberian bantuan yang memiliki fungsi pengembangan potensi anak melalui aktivitas menyenangkan berupa permainan untuk mencapai perkembangan yang optimal dalam bidang fisik, intelektual, emosi, dan moral.
Lompat jingkat atau lebih dikenal dengan permainan taplak,
engklek, atau gedrik merupakan permaian yang memiliki tujuan dalam
versi asli untuk melempar sebuah spidol (batu gepeng, kantung pasir, dan lain-lain) ke dalam kotak yang masing-masing bernomor teratur, melompat ke atas segiempat kecil dengan salah satu kaki dan melampaui kotak dimana spidol mendarat.25
Permainan lompat jingkat memiliki beragam manfaat dalam meningkatkan kemampuan kognitif dan fisik bagi anak. Manfaat- manfaat tersebut adalah:
a. Perkembangan kognitif 1) Mengenal angka 2) Berhitung 3) Menyusun angka 24
Andang Ismail, Education Games (Yogyakarta: Pilar Media, 2006), halaman 14.
25
Rae Pica, Permainan- Permainan Pengembangan Karakter Anak- Anak (Jakarta: PT. Indeks, 2012), halaman 139.
15
b. Perkembangan fisik 1) Melompat
2) Meningkatkan keseimbangan
3) Meningkatkan kekuatan dan kelenturan otot26
Lompat jingkat angka yang dimaksud dalam Penelitian ini, yaitu suatu permainan dengan arena bermain berbentuk persegi panjang yang tersusun dari 10 buah persegi, masing-masing persegi menyertakan nomor urut dari angka 0-9, dalam permainan ini juga diiringi nyanyian ‘mengenal angka dan bentuknya’. Saat permainan berlangsung anak akan meloncati papan angka dan mendarat sesuai dengan syair lagu tersebut, ketika ia berhenti pada tiap papan angka, ia harus mengucapkan angka yang diinjak disertai acungan jari tangan sesuai dengan angka yang diinjaknya. Permainan ini melatih ingatan anak pada bentuk angka, melatih konsentrasi penglihatan dan pendengaran anak, serta melatih anak untuk mengeluarkan suara yang bermakna.
2. Mengembangkan Kognitif
Pengertian mengembangkan menurut kamus Bahasa Indonesia berarti membuka lebar- lebar, menjadikan besar, dan usaha menjadikan maju.27
26
Rica Pae, Permainan- Permainan Pengembangan Karakter Anak- Anak (Jakarta: PT. Indeks, 2012), halaman 139.
27
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kamaus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2010), halaman 224.
16
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kognitif mengandung pengertian kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Kognitif merupakan kegiatan mental dalam memperoleh, mengolah, mengorganisasi , dan menggunakan pengetahuan.28
Pengertian kognitif meliputi aspek- aspek struktur intelek yang dipergunakan untuk mengetahui sesuatu.29 Kognitif memiliki pengertian sebagai kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa.
Witherington, mengemukakan bahwa kognitif adalah pikiran. Pikiran dapat digunakan dengan cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi untuk memecahkan masalah. Perkembangan kognitif adalah perkembangan pikiran. Pikiran adalah proses berpikir dari otak, pikiran yang digunakan untuk mengenali, mengetahui, dan memahami.30
Pengembangan kognitif dimaksudkan agar anak dapat melakukan eksplorasi terhadap dunia sekitar melalui panca inderanya, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki, anak dapat melangsungkan hidup dan menjadi manusia utuh sebagai makhluk Tuhan yang memberdayakan segala karunia di dunia ini untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
28
Paul Henry Mussen,dkk. Perkembangan dan Kepribadian Anak (Jakarta: Erlangga, 1984), halaman 194.
29
Singgih D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), halaman 136.
30
Ahmad, Susanto. Perkembangan Anak Usia Dini (Jakarta: Kencana Prenada Media Grroup, 2011), halaman 53.
17
Adapun proses kognitif meliputi persepsi, ingatan, pikiran, simbol, dan pemecahan masalah.31
Selain dipengaruhi oleh fungsi otak dan proses hormonal yang terjadi pada manusia, kemampuan berpikir seseorang juga dipengaruhi oleh kuat lemahnya memori yang terekam dalam ingatan. Ingatan terbagi menjadi dua yaitu ingatan sadar dan ingatan bawah sadar. Ingatan sadar salah satunya dapat diperoleh melalui jalur pendidikan formal, misalnya ingatan dalam mempelajari matematika di sekolah. Sedangkan, ingatan bawah sadar diperoleh dari pengalaman yang telah dilalui manusia, biasanya ingatan ini terekam tanpa disadari dan dapat tersimpan dalam waktu yang lama. Namun, tidak semua pengalaman dapat menjadi ingatan bawah sadar, hanya pengalaman yang meninggalkan kesan atau pengalaman yang biasa saja tapi dilakukan berulang-ulanglah yang biasanya menjadi materi dalam ingatan bawah sadar manusia.32 Maka, berdasar pernyataan di atas, Peneliti berusaha menciptakan pengalaman yang meninggalkan kesan indah bagi Annisa Fushilat dalam mengenal angka melalui permainan lompat jingkat angka agar ingatannya terhadap angka tertanam kuat.
Perkembangan kemampuan berpikir dapat dipengaruhi oleh pola interaksinya dengan orang lain, yang mana dalam bahasa psikologi sering disebut stimulus/ impuls. Pemikiran manusia terbentuk melalui proses
31
Ahmad, Susanto. Perkembangan Anak Usia Dini (Jakarta: Kencana Prenada Media Grroup, 2011), halaman 48.
32
https://hdmessa.wordpress.com/2013/11/28/paradox-antara-pikiran-perasaan/ diakses tanggal 7 November 2016.
18
rangkaian stimulus - kognisi - respon, yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak manusia, di mana proses kognitif akan menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa, dan bertindak33.
Jadi, mengembangkan kognitif dalam Penelitian ini berarti usaha seorang konselor dan konseli dalam memajukan kemampuan berpikir konseli untuk mengenal angka sehingga seorang konseli dapat mengetahui simbol-simbol berupa angka untuk merepresentasikan gagasannya, yang selanjutnya dapat berimbas dalam kemajuan berbicara konseli.
3. Down Syndrom
Down Syndrom adalah kelainan kromosom, yakni kelebihan
kromosom pada nomor 21. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom yang saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.34 Gunarhadi menyatakan bahwa Down Syndrom merupakan kumpulan gejala akibat abnormalitas kromosom. Biasanya kromosom 21 yang tidak dapat memisahkan diri selama meiosis sehingga terjadi individu dengan 47 kromosom. Abnormalitas jumlah kromosom inilah yang mengakibatkan keterbelakangan mental dan fisik pada anak.
Menurut Blackman dan Gunarhadi, secara fisik anak Down Syndrom memiliki tubuh yang relatif pendek, kepala mengecil, hidung datar menyerupai orang mongolia, posisi mata miring ke atas, tangan pendek
33
Kasandra Oemarjoedi, Pendekatan Cognitive Behavior dalam Psikoterapi ( Jakarta: Kreativ Media, 2003), halaman 6.
34
19
tapi lebar dengan lipatan tunggal pada telapak tangan, memiliki penyakit jantung bawaan, gangguan mental, tubuh kecil, kekuatan otot lemah, kelenturan yang tinggi pada persendian, bercak pada iris mata, adanya lipatan ekstra pada sudut mata, dan lubang mulut kecil.35
Anak dengan Down Syndrom dalam Penelitian ini cukup mampu melakukan kegiatan menolong diri walau terkadang membutuhkan bantuan orang lain, lincah, suka menari, dan mampu bersosialisasi dengan teman- temannya. Hal ini dapat terjadi karena konseli mengikuti terapi semenjak usia 3 tahun. Walaupun banyak hal yang telah dikuasai, akan tetapi konseli masih memiliki salah satu hambatan berupa kesulitan menghafal/mengingat suatu kegiatan/keterampilan yang telah diberikan (membutuhkan waktu yang cukup lama bila dibandingkan teman-teman yang lain), serta mengalami kesulitan dalam mereperesentasikan gagasan yang dimilikinya khususnya ketika mengatakan tentang jumlah bilangan. Hambatan ini menjadi masalah karena melafalkan bilangan dan memaknai bilangan adalah tugas perkembangan kognitif anak pada usia 3-4 sampai 5-6 tahun. Sedangkan konseli kini telah berusia 9 tahun.
4. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian kualitatif, yakni penelitian yang bersifat naturalistik (alamiah), apa adanya, dalam situasi normal, dan tidak dimanipulasi situasi dan kondisinya.
35 Anita Kusuma Wati, “Penanganan Kognitif Anak Down Syndrom Melalui Metode
Kartu Warna di TK Permata Bunda Surakarta Tahun Ajara 2013/2014” (Skripsi, Fakultas
20
Sebagaimana yang telah diungkapkan Bogdan dan Taylor, metode penelitian kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif berusaha memahami persoalan secara keseluruhan dan dapat mengungkapkan rahasia dan makna tertentu.36
Penelitian kualitatif adalah metode Penelitian yang berlandaskan pada filsafat post positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan data dengan triangulasi, analisis data bersifat kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi.37
Penelitian kualitatif dipilih untuk memahami fenomena yang dialami konseli secara menyeluruh yang dideskripsikan berupa kata- kata dan bahasa untuk kemudian dirumuskan menjadi model, konsep, teori, prinsip, dan definisi secara umum.
Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah studi kasus yaitu uraian dan penjelasan komperehensif mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi, suatu program, atau suatu situasi sosial. Jenis penelitian ini dipilih karena peneliti
36
Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2012) halaman 14.
37
21
ingin menelaah data sebanyak mungkin secara rinci dan mendalam selama waktu tertentu mengenai subyek yang diteliti sehingga dapat membantunya keluar dari permasalahannya dan memperoleh penyelesaian.
2. Sasaran dan Lokasi Penelitian
Sasaran Penelitian ini bernama Annisa Fushilat berusia 9 tahun, ia merupakan seorang siswi PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo yang menderita down syndrom. Annisa mengalami hambatan dalam perkembangan kognitif yang salah satunya ditandai dengan ketidak mampuan dalam mengenali simbol-simbol sehingga ia kesulitan dalam merepresentasikan gagasan yang dimiliki, salah satu kesulitannya ialah menyebutkan dan memaknai bilangan 0-9.
Lokasi Penelitian di PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo jalan Yos Sudarso No. 63 Sidoarjo. Peneliti memilih lokasi ini karena PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo memiliki siswi dengan down
syndrom, selain itu dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus
PAUD Melati menekankan kebebasan dalam mengexplore dunia di sekitarnya, sehingga anak- anak dapat mencapai posisi santai dan terbebas dari tekanan. Namun, ketegasan juga tetap diberlakukan ketika anak berkebutuhan khusus memunculkan perilaku yang tidak diharapkan. Singkat kata metode pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus di PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo seimbang antara ketegasan dan kebebasan. Sehingga metode yang
22
telah diterapkan di PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo sangat mendukung intervensi yang akan dilakukan Peneliti yaitu terapi bermain.
Peneliti dalam penelitian ini berperan sebagai pendamping dan terapis bagi anak dengan Down Syndrom, dapat dikatakan pula Peneliti melakukan observasi partisipatif karena selain melakukan pengamatan, peneliti juga ikut melakukan apa yang dikerjakan sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Di samping itu, peneliti juga memberi tahu kepada sumber data bahwa kedatangannya ke PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo untuk melakukan Penelitian.
3. Tahap- Tahap Penelitian
Ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh peneliti dalam melakukan penelitian, hal tersebut terangkum dalam penjelasan di bawah ini:
a. Tahap persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini berupa:
1) Meminta izin kepada kepala PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo untuk melakukan Penelitian di sekolah tersebut
2) Membuat kesepakatan mengenai waktu pelaksanaan intervensi berupa terapi bermain lompat jingkat angka dengan guru kelas dan guru pendamping PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarja. 3) Menyiapkan instrumen Penelitian yang meliputi:
23
a) Kartu angka sebagai salah satu alat untuk mengetahui kemampuan mengenal angka yang dimiliki Konseli
b) Karpet puzzle berupa persegi panjang yang tersusun atas persegi sama sisi sebanyak 10 buah sebagai sarana intervensi permainan lompat jingkat angka.
c) Pedoman wawancara b. Tahap Pelaksanaan
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan Penelitian ini adalah:
1) Melakukan tes sesuai dengan jadwal yang telah disepakati 2) Melaksanakan intervensi berupa terapi bermain lompat jingkat
angkabersama guru kelas dan guru pendamping PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo.
3) Melakukan wawancara kepada orang tua konseli, guru kelas, dan guru pendamping PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo. c. Tahap analisis
Pada tahap ini dilakukan analisis data yang diperoleh dari tahap pelaksanaan Penelitian, yaitu menjawab segala pertanyaan yang telah tertulis dalam lembar rumusan masalah. Data tersebut meliputi hasil tes konseli sebelum diberlakukan terapi bermain lompat jingkat angka, proses pelaksanaan terapi bermain lompat jingkat angka, hasil atau perkembangan setelah dilakukan terapi
24
bermain lompat jingkat angka, dan hasil wawancara. Data tersebut akan dianalisis dengan menggunakan deskriptif komparatif.
d. Tahap penulisan laporan
Pada tahap ini peneliti menulis dan menyusun laporan penelitian atau skripsi.
4. Jenis dan Sumber Data
a. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat non statistik, hal itu dapat mengindikasikan bahwa data yang diperoleh nantinya berbentuk verbal atau deskriptif bukan dalam bentuk angka. Ada dua jenis data dalam Penelitian ini, yaitu:
1) Data primer
Data yang diambil dari sumber pertama di lapangan, dan menjadi data utama bagi keberhasilan penelitian.38
Data primer dalam penelitian ini berupa hambatan dan potensi yang dimiliki konseli, proses terapi bermain lompat jingkat angka, dan hasil terapi bermain lompat jingkat angka untuk mengembangkan kognitif dalam mengenal angka pada anak down syndrom di PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo.
38
Burhan Bungin, Metode Penelitian Sosial: Format- Format Kuantitaif dan Kualitatif (Surabaya: Universitas Airlangga, 2001), halaman 126.
25
2) Data skunder
Data yang diperoleh dari sumber kedua atau berbagai sumber guna melengkapi data primer.39
Data skunder dalam Penelitian ini berupa keterangan kondisi sekolah Konseli, dan gambaran lingkungan Konseli.
b. Sumber Data
Sumber data adalah subyek dari mana data diperoleh.40
1) Sumber data primer, yaitu sumber data yang langsung memberikan data kepada peneliti.41 Dalam hal ini, informasi yang didapat dari orang tua Konseli, kepala PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo, guru kelas Konseli, guru pendamping PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo dan Observasi perilaku Konseli.
2) Sumber Data Skunder, yaitu sumber yang tidak langsung memberikan data kepada Peneliti.42 Misalnya dalam Penelitian ini, informasi yang didapat dari dokumen-dokumen Sekolah.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam Penelitian, karena tujuan utama dari Penelitian adalah
39
Burhan Bungin, Metode Penelitian Sosial: Format- Format Kuantitaif dan Kualitatif (Surabaya: Universitas Airlangga, 2001), halaman 128.
40
Suharsimi Arikunto, prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: PT , Rieneka Cipta, 2006), halaman 129.
41
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2012), halaman 308.
42
26
mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka Peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standard data yang ditetapkan.
Dalam Penelitian kualitatif, pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.
a. Observasi
Yaitu melakukan pengamatan secara sistematis dan terencana untuk memperoleh data yang valid. Dalam Penelitian ini Peneliti mengamati tingkah laku konseli saat diminta melambangkan angka yang menunjukkan tanggal atau jumlah temannya oleh guru di PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo, mengamati pola interaksinya dengan orang lain, dan mengamati konseli dalam menyelesaikan kegiatan menolong diri.
b. Wawancara
Merupakan suatu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian melalui tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang memberikan informasi, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.43
43
Burhan Bungin, Penelitian Kualitaif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya( Jakarta: Kencana, 2010), halaman 108.
27
Peneliti melakukan wawancara kepada beberapa informan, diantaranya kepada konseli untuk mengetahui kemampuan aritmatika khususnya dalam membilang, orang tua konseli untuk mengulas kondisi lingkungan konseli serta potensi dan hambatan yang dialami Konseli, guru kelas untuk mengulik kemampuan aritmatika yang dimiliki konseli dan metode pengajaran yang diterapkan selama ini kepada konseli, melakukan wawancara kepada Kepala PAUD untuk mengetahui kondisi sekolah Konseli dan kepada Guru pendamping PAUD untuk mendapatkan informasi mengenai tugas-tugas perkembangan yang harus dilalui oleh Konseli.
c. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan, kebijakan dan lain- lain. Sedangkan dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain- lain.44
Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara akan lebih kredibel jika didukung oleh sejarah pribadi. Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data dari
44
28
buku tugas konseli, buku hasil evaluasi belajar konseli, dan data-data tentang sekolah Konseli.
Keterangan lebih jelas tentang jenis data, sumber data, dan teknik pengumpulan data dalam Penelitian ini dijelaskan dalam tabel 1.1 di bawah ini
Tabel 1.1
Jenis Data, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan Data
No Jenis Data Sumber Data TPD
1. Deskripsi tentang biografi Konseli, potensi dan hambatan yang dimiliki.
Konseli, Orangtua Konseli, guru kelas, dan guru pendamping PAUD. W + O 2. Deskripsi tentang keadaan lingkungan sekolah. Kepala PAUD Inklusi Melati Sidoarjo, Dokumentasi, dan orang tua Konseli
W+ D + O 3. Deskripsi tentang Kemampuan mengenal angka Konseli, Konselor, dan guru pendamping PAUD. W + O 4. Melakukan terapi bermain lompat jingkat angka Konselor, Konseli, dan Guru pendamping PAUD W + O + D 5. Hasil proses terapi Konselor dan
Konseli
W + O Keterangan :
TPD : Teknik Pengumpulan Data W : Wawancara
O : Observasi D : Dokumentasi
6. Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Bogdan adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan- bahan lain, sehingga dapat mudah difahami,
29
dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya dalam unit- unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.45
Analisis data dalam Penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Namun, analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data.
Teknik analisis data ini dilakukan setelah proses pengumpulan data yang telah diperoleh. Penelitian ini bersifat studi kasus, untuk itu teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif komparatif, yaitu setelah data terkumpul dan diolah selanjutnya dianalisis. Membandingkan pelaksanaan terapi bermain lompat jingkat angka di lapangan dan di dalam teori serta membandingkan kondisi awal Konseli sebelum bersinggungan dengan terapi bermain lompat jingkat angka dengan kondisi setelah pelaksanaan terapi bermain lompat jingkat angka.
7. Teknik Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya ditekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Keabsahan data merupakan tingkat ketepatan antara data yang diperoleh pada obyek penelitian dengan data yang
45
30
dilaporkan oleh peneliti. Data yang valid adalah data yang tidak terdapat perbedaan antara data yang dilaporkan peneliti dengan kenyataan yang terjadi pada obyek di lapangan. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa kebenaran realitas data menurut penelitian kualitatif tidak bersifat tunggal, tetapi bersifat jamak dan tergantung pada konstruksi masalah.46
Dalam hal ini peneliti sebagai instrumen yang menganalisa data- data langsung di lapangan untuk menghindari kesalahan pada data-data tersebut, maka dari itu untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam Penelitian ini, Peneliti harus mengetahui cara- cara memperoleh tingkat keabsahan data. Cara- cara tersebut antara lain:
a. Keikutsertaan
Keikutsertaan Peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tidak dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan pada latar penelitian. Penelitian tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan tercapai.47
Peneliti ikut serta dalam mendampingi konseli di PAUD Inklusi Melati Trisula Sidoarjo selama empat bulan, berakhir hingga data yang terhimpun dirasa telah jenuh.
b. Meningkatkan ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka
46
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2014), halaman 119. 47
Tohirin, Metode Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan dan Bimbingan Konseling (Jakarta: Rajawali Press, 2013), halaman 72 .
31
kepastian data dan urutan peristiwa dapat direkam secara pasti dan sitematis.48
Ketekunan pengamatan diharapkan agar memahami pokok perilaku, situasi, kondisi serta proses tertentu sebagai pokok Penelitian. Dengan kata lain, jika perpanjangan penelitian menyediakan data yang lengkap, maka ketekunan pengamatan menyediakan pendalaman data. Oleh karena itu ketekunan