BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Penatalaksanaan Hipertensi
2.4.2 Terapi Farmakologis
Penganan hipertensi bertujuan untuk mengendalikan angka kesakitan, kompikasi dan kematian akibat hipertensi. Terapi farmakologis hipertensi dapat dilakukan di pelayanan strata primer atau puskesmas, sebagai penangan awal.
Berbagai penelitian klinik membuktikan, bahwa obat anti hipertensi yang diberikan tepat waktu, dapat menurunkan kejadian stroke hingga 35-40%, infark miokard 20-25%, dan gagal jantung lebih dari 50%.
Pengobatan hipertensi dimulai dengan obat tunggal yang mempunyai masa kerja panjang sehingga dapat diberikan sekali sehari dan dosisnya dititrasi. Obat berikutnya mungkin dapat ditambahkan selama beberapa bulan pertama perjalanan terapi.
Pemilihan atau kombinasi obat anti hipertensi yang cocok bergantung pada keparahan hipertensi dan respon penderita terhadap obat. Beberapa prinsip pemberian obat anti hipertensi perlu diingat, yaitu:
1. Pengobatan hipertensi sekunder lebih mengutamakan pengobatan penyebabnya.
2. Pengobatan hipertensi essensial ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komplikasi.
3. Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat antihipertensi.
4. Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang, bahkan pengobatan seumur hidup.
5. Jika tekanan darah terkontrol maka pemberian obat hipertensi di puskesmas dapat diberikan disaat kontrol dengan catatan obat yang diberikan untuk pemakaian selama 30 hari bila tanpa keluhan baru.
6. Untuk penderita hipertensi yang baru didiagnosis (kunjungan pertama) maka diperlukan kontrol ulang disarankan 4 kali dalam sebulan atau seminggu sekali, apabila tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau diastolik > 100 mmHg sebaiknya diberikan terapi kombinasi setelah kunjungan kedua (dalam dua minggu) tekanan darah tidak dapat dikontrol.
7. Pada kasus hipertensi emergensi atau urgensi tekanan darah tidak dapat terkontrol setelah pemberian obat pertama langsung diberikan terapi farmakologis kombinasi, bila tidak dapat dilakukan rujukan.
2.5 Landasan Teori
Model PRECEDE dikembangkan pada tahun 1970 oleh Green dan rekannya (Green, Kreuter, Deeds, and Partridge, 1980). Akronimnya adalah singkatan dari Predisposing, Reinforcing, dan Enabling Constructs in Educational/Environmental Diagnosis and Evaluation. PRECEDE didasarkan
pada premis bahwa, sama seperti diagnosis medis mendahului rencana perawatan, Jadi sebaiknya diagnosa pendidikan mendahului rencana intervensi. Pendekatan ini ditujukan pada kekhawatiran di antara beberapa profesional bahwa pendidikan kesehatan difokuskan terlalu banyak pada pelaksanaan program dan terlalu sedikit dalam merancang intervensi yang direncanakan secara strategis untuk memenuhi kebutuhan yang ditunjukkan.
Pada tahun 1991, PROCEED (Policy, Regulatory, and Organizational Constructs in Educational and Environmental Development) ditambahkan ke
dalam kerangka untuk mengenali pentingnya faktor lingkungan sebagai penentu perilaku kesehatan dan kesehatan. Sebagai penghargaan atas dampak "lifestyle"
(yaitu, pola perilaku terkait kesehatan) pada kesehatan tumbuh, demikian juga pengakuan bahwa perilaku ini, seperti merokok dan minum, dipengaruhi oleh kekuatan kuat di luar individu, seperti industri, media, politik, dan ketidaksetaraan sosial.
Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2012) bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung dan faktor penguat.
a. Faktor Predisposisi (predisposing factors)
Faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan sebagainya. Contohnya seorang ibu mau membawa anaknya ke posyandu, karena tahu bahwa di posyandu akan dilakukan penimbangan anak
untuk mengetahui pertumbuhannya. Tanpa adanya pengetahuan-pengetahuan ini ibu tersebut mungkin tidak akan membawa anaknya ke posyandu.
b. Faktor Pendukung (enabling factors)
Faktor-faktor yang mendukung atau memfasilitasi perilaku atau tindakan.
Yang dimaksud dengan faktor pendukung adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan, misalnya: puskesmas, posyandu, rumah sakit, tempat pembuangan air, tempat pembuangan sampah, tempat olah raga, makanan bergizi, uang dan sebagainya. Contohnya sebuah keluarga yang sudah tahu masalah kesehatan, mengupayakan keluarganya untuk menggunakan air bersih, buang air di WC, makan makanan yang bergizi, dan sebagainya. Tetapi apakah keluarga tersebut tidak mampu untuk mengadakan fasilitas itu semua, maka dengan terpaksa buang air besar di kali/kebun menggunakan air kali untuk keperluan seharihari, dan sebagainya.
c. Faktor Penguat (reinforcing factors)
Faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Faktor penguat ini terwujud dalam sikap dan perilaku keluarga atau petugas kesehatan yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. Karenanya, petugas kesehatan harus memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Selain itu perilaku keluarga dan tokoh masyarakat juga dapat menjadi panutan orang lain untuk berperilaku sehat. Kadang-kadang meskipun orang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi mereka tidak melakukannya. Contohnya seorang ibu hamil tahu manfaat periksa hamil dan di dekat rumahnya ada polindes, dekat dengan bidan, tetapi ia tidak mau melakukan
periksa hamil karena ibu lurah dan ibu tokoh-tokoh lain tidak pernah periksa hamil namun anaknya tetap sehat. Hal ini berarti bahwa untuk berperilaku sehat memerlukan contoh dari para tokoh masyarakat.
Gambar 2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku (Lawrence W. Green)
Faktor Pendukung : 1. Adanya Puskesmas 2. Adanya Obat-obatan 3. Keterjangkauan Sumber
Faktor Penguat : 1. Keluarga
2. Petugas Kesehatan 3. Masyarakat
Perilaku Faktor Predisposisi :
1.Pengetahuan 2.Sikap
3.Kepercayaan 4.Keyakinan 5.Nilai-nilai
2.6 Kerangka Konsep
Berdasarkan beberapa kajian teori yang telah dibahas, maka kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.2 Kerangka Konsep Keterangan
: Area yang di teliti : Area yang tidak diteliti Faktor Predisposisi
Karakteristik umum pasien hipertensi :
- Umur
- Jenis kelamin - Pendidikan - Pekerjaan
Tingkat pengetahuan Sikap pasien hipertensi
Upaya
pengendalian hipertensi
Faktor Penguat
Dukungan Keluarga dan Petugas kesehatan Faktor Pendukung Sarana dan Prasarana
Penelitian ini bermaksud untuk melihat hubungan tingkat pengetahuan dan sikap hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi. Dari skema diatas dapat dilihat berdasarkan teori Green, yaitu perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Dalam penelitian ini akan dilihat karakteristik umum pasien hipertensi yang meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan serta tingkat pengetahuan dan sikap pasien hipertensi yang merupakan faktor predisposisi. Untuk faktor penguat yang akan diteliti yaitu bagaimana dukungan keluarga dan petugas kesehatan terhadap pasien hipertensi dalam upaya pengendalian hipertensi yang dilakukannya. Untuk faktor pendukung yang meliputi sarana dan prasarana menjadi batasan penelitian atau tidak diteliti oleh peneliti. Peneliti merasa faktor pendukung yang merupakan sarana dan prasarana seperti jarak ke puskesmas mampu dijangkau oleh pasien hipertensi dan ketersediaan obat di puskesmas tetap diperhatikan sehingga tidak ada pasien yang tidak mendapatkan obat.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif bersifat analitik melalui pendekatan cross-sectional untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi di UPTD Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Selatan.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian