• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terapi Kelompok Terapeutik (TKT) Anak Usia Sekolah

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 52-56)

TINJAUAN TEORITIS

2.2 Konseptual Model Asuhan dan Pelayanan Keperawatan

2.2.4 Hasil Perilaku (Outcome)

2.2.4.1 Terapi Kelompok Terapeutik (TKT) Anak Usia Sekolah

Terapi Kelompok Terapeutik (TKT) pada anak usia sekolah berfokus pada interaksi yang terjadi antar anggota kelompok. Kegiatan yang dilakukan dalam TKT ini meliputi sharring pengalaman, dan bersama-sama menemukan solusi untuk memecahkan masalah yang dirasakan anggota kelompok serta mencari cara yang efektif untuk mengantisipasi masalah yang akan dihadapi (Townsend 2005). Tujuan pemberian terapi ini pada anak usia sekolah adalah berbagi pengalaman dengan anggota kelompok terkait pencapaian tugas tumbuh kembangnya serta membantu anak bersama kelompoknya mengatasi permasalahan yang dihadapi sehingga anak memiliki kemampuan dalam mencapai perkembangan fase industri yang optimal (Kaplan, 1996; Montgomery, 2002).

TKT menjadi sangat penting untuk diberikan pada anak usia sekolah karena dalam kegiatan TKT anak distimulasi secara optimal untuk mencapai perkembangan berdasarkan 8 (delapan) aspek perkembangan (motorik, kognitif, bahasa, emosi, moral, kepribadian, spiritual dan psikososial). Hal ini sejalan dengan Hockenberry & Wilson (2009), Syah (2010), Hal ini sejalan dengan penjelasan Yusuf (2010) yang menjelaskan tentang tugas perkembangan psikososial anak usia sekolah terdiri dari beberapa aspek yaitu motorik, kognitif, bahasa, emosi, kepribadian, moral, spiritual dan psikososial sehingga keberhasilan perkembangan di tahap sebelumnya berpengaruh sebagai faktor predisposisi dalam menentukan pola perilaku sehat anak usia sekolah di masa datang (Stuart, 2013). Terapi kelompok terapeutik pada anak usia sekolah merupakan terapi kelompok yang secara penuh membantu anak untuk

menemukan hal-hal positif, mencari makna dan mencapai optimalnya fase indutri anak bersama peer group (Stuart, 2013). Para anggota kelompok memiliki tujuan yang sama dan terjadi hubungan saling membantu satu sama lain (Videbeck, 2009). Keanggotaan terapi kelompok terapeutik remaja secara umum terdiri dari usia 6-12 tahun (Stuart, 2013).

Strategi pelaksanaan Terapi Kelompok Terapeutik (TKT) anak sekolah dibagi menjadi 7 (tujuh) sesi, yang merupakan modifikasi dari tahapan TKT oleh Mackenzie, (1997) Townsend, (2000) dan Stuart (2013). Secara keseluruhan sesi-sesi stimulasinya dalam TKT, terdiri atas:

Sesi konsep Stimulasi Industri Anak. Kegiatan pada sesi ini berfokus pada

kemampuan anak bersama-sama mendiskusikan pengalaman tentang pencapaian tugas tumbuh kembang yang dialaminya, perilaku nomal dan menyimpang yang terjadi serta bagaimana pendapat anak terkait perkembangan yang dialaminya selama ini. Hasil yang diharapkan dari sesi ini adalah orangtua dan guru mengetahui tentang pencapaian tugas perkembangan yang dialami anaknya serta adanya hambatan, masalah maupun penyimpangan pada anak selama anak menjalankan proses tumbuh kembangnya.

Sesi aspek motorik. Stimulasi aspek motorik dilakukan dengan maksimal pada sesi

ini. Kegiatan pada sesi ini meliputi motorik kasar dan halus. Kegiatan pada motorik kasar meliputi baris-berbaris, berlari lompat tali, berjingkrak, dan melakukan berbagai kegiatan olahraga lainnya sedangkan pada kegiatan motorik halus meliputi berlatih menulis huruf sambung, menggambar sesuai dengan pola atau objek yang ditentukan, menggunting bagian kertas sesuai dengan pola, mlempar-menangkap bola dan memainkan benda/ alat mainan.

Sesi stimulasi aspek kognitif dan bahasa. Kegiatan pada sesi ini meliputi kegiatan

belajar membedakan yang nyata dan tidak nyata (khayalan), mengajarkan semua kegiatan berhitung, kegiatan membangun strategi dan pengkodean, pemahaman sebab-akibat, belajar memecahkan masalah dan memahaminya dari berbagai sudut pandang, membacakan cerita dan belajar untuk memahaminya, mengungkapkan apa yang dirasakannya, belajar mengungkapkan idennya, memahami dan mengolah segala informasi, mampu mengembangkan kepribadian serta menyatakan sikap.

Sesi stimulasi aspek emosi dan kepribadian. Kegiatan stimulasi aspek emosi yang

dilakukan pada sesi ini adalah melatih anak mengenal jenis dan penyebab yang dirasakannya, melatih anak untuk mampu mengutarakan dan mengendalikan emosinya dengan cara tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, mampu mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya, serta berpikiran positif terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, bertanggung jawab serta mampu menerima gagasan orang lain, memiliki sikap bersahabat dan mampu mengatasi permasalahan dengan orang lain. Sedangkan pada aspek kepribadian, anak di stimulasi tentang kemampuan anak mengenal dan membedakan terkait jenis kelamin, mengenal kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, mampu menanggapi dengan realistis terkait penghargaan dan prestasi yang dicapai, melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan secara realistis.

Sesi stimulasi aspek moral dan spiritual. Kegiatan stimulasi pada aspek moral

meliputi anak mampu mengenal konsep benar-salah, menjalankan norma dan aturan yang berlaku di rumah, sekolah dan lingkungan. Sedangkan pada aspek spiritual meliputi kegiatan menjalankan rutinitas keagamaan secara individu dan bersama lingkungannya, menghormati orangtua, guru, teman maupun orang yang lebih tua, memiliki sikap mau memberikan bantuan pada fakir miskin dan pada orang lain yang membutuhkan bantuan, mampu menjaga kebersihan diri, memiliki sikap jujur dan bertanggung jawab.

Sesi stimulasi aspek psikososial. Pada sesi ini anggota berbagi pengalaman tentang

manfaat kegiatan selama tujuh sesi, perubahan-perubahan apa yang telah dirasakan dan kegiatan positif apa yang telah dilakukan di rumah, sekolah, dan masyarakat. Selanjutnya anggota diberi tindak lanjut untuk mengeksplorasi semua potensi yang dimiliki, nilai-nilai, keyakinan dan membuat komitmen terhadap pilihan yang positif dan disenangi, permainan mengerjakan tugas kelompok bersama, mengajarkan permainan tolong menolong dan gotong royong, bermain kegiatan bercerita dengan sahabat dan bagaimana melakukan tanggung jawab dalam kelompok

Sesi berbagi pengalaman. Kegiatan pada sesi berbagi pengalaman ini menyangkut

menceritakan bagaimana pengalaman yang anak rasakan selama mengikuti kegiatan stimulasi tumbuh kembang ini, memberi kesempatan pada anak untuk mencontohkan lagi seluruh kegiatan stimulasi yang telah diajarkan dan dilatih bersama-sama serta menggali persepsi anak terkait manfaat kegiatan TKT ini.

Terapi Kelompok Terapeutik (TKT) anak usia sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap optimalnya tugas perkembangan anak usia sekolah. Penelitian terkait hubungan perkembangan fase industri dengan peningkatan tugas perkembangan anak sekolah antara lain oleh Istiana, Keliat, Nuraini (2011) dan Sunarto, Keliat, Pujasari (2011) melakukan penelitian yang sama dengan melibatkan orangtua dan guru di setting sekolah, menunjukkan hasil yaitu terjadi peningkatan bermakna pada kemampuan pengetahuan, psikomotor dan kemampuan industri anak serta didapatkan pengaruh yang signifikan terkait peran guru dan orangtua terhadap perkembangan anak usia sekolah.

Menurut Stuart (2013), Hamid (2010), Yusuf (2010), Wong (2011) optimalnya karakteristik perkembangan fase industri pada anak usia sekolah meliputi antara lain 1) Anak sangat menyukai kegiatan secara fisik atau kekuatan badan seperti berlari, kejar-kejaran, 2) Mempunyai keinginan untuk bersaing dengan teman-teman dan memiliki keinginan untuk bertanding dengan teman sebaya, 3) Mampu membaca,

menulis dan berhitung, mampu melaksanakan pekerjaan rumah dan sekolah dengan perasaan senang, 4) realistis dan senang berkhayal dan berfantasi, 5) menjalankan aturan dalam permainan, 6) memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan orang baru, 7) Senang berkelompok dengan kelompok sebaya dan menceritakan pengalamannya dengan teman sebaya serta mempunyai sahabat akrab.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 52-56)