1
UNIVERSITAS INDONESIA
PENINGKATAN PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH MELALUI TERAPI KELOMPOK TERAPEUTIK DENGAN PENDEKATAN MODEL
STRESS ADAPTASI STUART DAN HEALTH PROMOTION MODEL
KARYA ILMIAH AKHIR
Syenshie Virgini Wetik 1306431601
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI NERS SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA UNIVERSITAS INDONESIA
i
UNIVERSITAS INDONESIA
PENINGKATAN PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH MELALUI TERAPI KELOMPOK TERAPEUTIK DENGAN PENDEKATAN MODEL
STRESS ADAPTASI STUART DAN HEALTH PROMOTION MODEL
KARYA ILMIAH AKHIR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Spesialis Keperawatan Jiwa
Syenshie Virgini Wetik 1306431601
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI NERS SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA UNIVERSITAS INDONESIA
PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... ... ... viii
DAFTAR ISI ... ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR SKEMA ... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 13 1.3 Tujuan Penulisan ... 15 1.3.1 Tujuan Umum ... 15 1.3.2 Tujuan Khusus ... 15
1.4 Manfaat Karya Ilmiah Akhir ... 16
1.4.1 Manfaat Aplikatif ... 16
1.4.2 Manfaat Keilmuan ... 16
1.4.3 Manfaat Metodologi ... 17
BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Definisi Anak Usia Sekolah ... 18
2.2 Konseptuan Model Asuhan dan Pelayanan Keperawatan ... 19
2.2.1 Penerapan TKT dan Psikoedukasi dengan Pendekatan Model Stress Adaptasi Stuart dan Health Promotion Model (HPM) ... 24
2.2.2 Karakteristik dan Pengalaman Individu ... 24
2.2.2.1 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Usia Sekolah ... 24
2.2.3.2 Mekanisme Koping dalam Peningkatan Perkembangan Anak Usia Sekolah ... 33
2.2.3.3 Upaya Kesehatan pada Perkembangan Anak Usia Sekolah ... 34
2.2.4 Hasil Perilaku (Outcome ) ... 35
2.2.4.1 Terapi Kelompok Terapeutik (TKT) Anak Usia Sekolah ... 36
BAB III MANAJEMEN PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Profil Lahan Praktek ... 45
3.1.1 Profil Puskesmas Merdeka ... 45
3.1.2 Profil Wilayah Kelurahan Kebon Kalapa ... 46
3.1.3 Profil RW 07 ... 47
3.2 Profil Manajemen Pelayanan Kesehatan Jiwa Masyarakat ... 49
BAB IV PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN 4.1 Pengkajian ... 59
4.1.1 Karakteristik Anak Usia Sekolah ... 60
4.1.2 Karakteristik Caregiver ... 61
4.1.3 Faktor Predisposisi dan Presipitasi ... 61
4.1.4 Penilaian Stressor Perkembangan Anak Usia Sekolah ... 63
4.1.5 Sumber Koping ... 66
4.1.5.1 Kemampuan Individu (Personal Ability) ... 67
4.1.5.2 Kemampuan Keluarga (Social Support) ... 67
4.1.5.3 Material Aset ... 68
4.1.5.4 Keyakinan Positif (Positive Belief) ... 69
4.1.5.5 Mekanisme Koping ... 69
4.1.5.6 Diagnosa Keperawatan ... 70
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Hasil Asuhan Keperawatan Anak Usia Sekolah ... 90
5.1.1 Karakteristik ... 90
5.1.1.1 Anak Usia Sekolah ... 90
5.1.1.2 Karakteristik Caregiver... 94
5.1.2 Faktor Predisposisi dan Presipitasi Anak Usia Sekolah ... 96
5.1.3 Kemampuan Perkembangan Fase Industri ... 98
5.1.4 Penerapan TKT dan Psikoedukasi Keluarga terhadap Fase Industri Anak Usia Sekolah menggunakan pendekatan adaptasi Stuart dan Health Promotion Model ... 104
5.2 Rencana Tindak Lanjut ... 109
5.3 Keterbatasan ... 109
5.4 Implikasi ... 110
BAB VI KESIMPULAN, SARAN 6.1 Kesimpulan ... 111
6.2 Saran ... 112
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
4.2 Karakteristik Caregiver ... 56
4.3 Distribusi Faktor Predisposisi dan Presipitasi Biologis Anak Usia Sekolah ... 57
4.4 Distribusi Faktor Predisposisi dan Presipitasi Psikologis Anak Usia Sekolah ... 58
4.5 Distribusi Faktor Predisposisi dan Presipitasi Sosiokultural Anak Usia Sekolah ... 58
4.6 Penilaian Stressor Sebelum diberikan Intervensi (Motorik, Kogitif, Bahasa) ... 60
4.7 Penilaian Stressor Sebelum diberikan Intervensi (Emosi, Kepribadian, Moral, Spiritual, Psikososial) ... 61
4.8 Kemampuan Industri Anak Usia Sekolah sebelum intervensi ... 63
4.9 Kemampuan Caregiver sebelum intervensi ... 64
4.10 Ketersediaan Finansial dan Pelayanan Kesehatan Sebelum Intervensi ... 64
4.11 Keyakinan Positif Anak Sebelum Intervensi ... 65
4.12 Mekanisme Koping Sebelum Intervensi ... 65
4.13 Jadwal Pelaksanaan TKT... 67
4.14 Jadwal Pelaksanaan Psikoedukasi Keluarga ... 68
4.15 Perbandingan Peningkatan Konsep Industri Anak Usia Sekolah setelah intervensi 75 4.16 Perbandingan Peningkatan Aspek Motorik setelah intervensi ... 76
4.17 Perbandingan Peningkatan Aspek Kognitif dan Bahasa setelah intervensi ... 77
4.18 Perbandingan Peningkatan Aspek Emosi dan Kepribadian setelah intervensi... 79
4.19 Perbandingan Peningkatan Aspek Moral dan Spiritual setelah intervensi ... 80
4.20 Perbandingan Peningkatan Aspek Psikososial setelah intervensi ... 82
4.21 Perbandingan Kemampuan Industri Setelah Intervensi ... 83
diberi kemudahan dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir (KIA) yang berjudul
Peningkatan Perkembangan Anak Usia Sekolah melalui Terapi Kelompok Terapeutik dengan Pendekatan Model Stress Adaptasi Stuart dan Health Promotion Model. KIA ini disusun sebagai syarat untuk memenuhi tugas akhir dalam
rangka memperoleh gelar Ners Spesialis pada program Ilmu Keperawatan Kekhususan Keperawatan Jiwa di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Penyusunan hasil penelitian ini tidak lepas dari saran dan bimbingan serta arahan dari berbagai pihak. Dengan kerendahan hati, saya hendak menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Dra. Junaiti Sahar, S.Kp., M.App.Sc., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
2. Ibu Dr. Mustikasari, SKp., MARS, selaku pembimbing I penyusunan KIA ini yang telah memberikan waktu dan tenaga untuk memberikan arahan dan bimbingan selama proses penyusunan KIA ini.
3. Ibu Yossie Susanti Eka Putri, SKp., MN selaku pembimbing II yang telah memberikan tenaga dan waktu untuk membimbing saya dalam penyusunan KIA ini.
4. Ibu Dr. Novy H. C. Daulima, SKp, M.Sc, selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
5. Seluruh dosen dan staff Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia terlebih khusus Departemen Ilmu Keperawatan Jiwa yang telah sabar membimbing, membagi ilmu dan membantu dengan segala keihklasan selama proses perkuliahan dari awal hingga saat ini, saya dapat menyelesaikan proses penyusunan KIA ini.
7. Bpk. Drs. Jainuddin Damopolii selaku Ketua Yayasan Bulawan Kotamobagu bersama keluarga besar.
8. Direktur dan rekan-rekan sejawat di Akademi Keperawatan Totabuan Kotamobagu.
9. Orangtua (Papa dan Mama) serta adik saya Syenlie Vigilia (Lingling) yang telah sangat sabar memberikan dorongan motivasi, semangat, materi, serta tak henti-hentinya mendoakan keberhasilan saya selama perjuangan menyelesaikan studi di Universitas Indonesia.
10. Keluarga besar di Manado dan Balikpapan yang senantiasa memberikan dukungan moral dan materil kepada saya.
11. Rekan-rekan, angkatan IX Program Studi Magister Keperawatan Jiwa Universitas Indonesia.
12. Handai taulan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Saya menyadari bahwa Karya Ilmiah Akhir ini masih perlu perbaikan, maka saya berharap akan adanya kritik dan saran agar Karya Ilmiah Akhir ini menjadi lebih baik. Akhirnya saya berharap agar Karya Ilmiah Akhir ini dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkup lebih luas lainnya untuk pengembangan keilmuan keperawatan jiwa.
Tuhan memberkati.
Depok, Juni 2016
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2016 Syenshie Virgini Wetik
Peningkatan Perkembangan Anak Usia Sekolah melalui Terapi Kelompok Terapeutik dengan Pendekatan Model Stress Adaptasi Stuart dan Health Promotion Model di RW 07 Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah
xvii + 86 hal + 14 tabel + 1 skema
Abstrak
Anak usia sekolah adalah individu yang berada pada rentang usia 6-12 tahun yang dikenal sebagai perkembangan fase industri. Karakteristik dari fase ini terdiri dari peningkatan 8 (delapan) aspek perkembangan yang meliputi perkembangan motorik, kognitif, emosi, bahasa, kepribadian, moral, spiritual dan psikososial. Apabila aspek perkembangan tersebut tidak tercapai maka akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri pada anak. Untuk mencapai perkembangan yang optimal perlu dilakukan stimulasi perkembangan pada anak usia sekolah seperti Terapi Kelompok Terapeutik. Tujuan karya ilmiah ini adalah menggambarkan hasil pelaksanaan terapi kelompok terapeutik dalam meningkatkan perkembangan anak usia sekolah. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan kemampuan fase industri usia sekolah pada 22 klien kelolaan serta peningkatan kemampuan Ibu dalam menstimulasi perkembangan anak usia sekolah. Rekomendasi laporan ini dilakukan pada pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat untuk mencapai perkembangan fase industri anak usia sekolah yang optimal.
Kata kunci : terapi kelompok terapeutik, anak usia sekolah, psikoedukasi keluarga, model adaptasi stuart, health promotion model Daftar pustaka : 45 (2000-2015)
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2016
Syenshie Virgini Wetik
Application of Therapeutic Group Therapy At School Age Children and Family psychoeducation in Improving Childhood Development School With Stuart Stress Adaptation Model and Health Promotion Model in RW 07 Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah
xvii + 86 page + 14 table + 1 scheme
Abstract
School age children are individuals in the range 6-12 years old. They are in the industry versus inferiority development phase. The characteristic of industrial phase consist of 8 developmental aspect. The developmental aspects are motoric, cognitive, emotions, language, personality, moral, spiritual and psychososial. When those aspects can’t be fulfilled resulted inferiority. To fulfill those aspect children need optimum stimulation such as group therapy. The purpose of this scientific work is to describe the application of therapeutic group therapy in school-aged children to enhanching optimum school-aged development. 22 school-aged children was conducted in this scientific work. The result showed, there were increasing personal ability of the industrial phase in school-age children. This scientific work recommends this therapy to be used in primary health care to achieve optimum school-age development.
Key word : therapeutic group therapy, school-age children, family
psychoeducation, adaptation model stuart, health promotion model
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak adalah aset bangsa yang merupakan cikal bakal lahirnya generasi penerus harapan perjuangan bangsa. Semakin optimalnya pencapaian tugas perkembangan anak maka semakin baik pula kehidupan masa depan bangsa dan begitu pula sebaliknya (Lesmana. A, 2015). Menurut definisi WHO (2013), batasan usia anak adalah sejak anak di dalam kandungan sampai usia 19 tahun, sedangkan menurut Wong (2011) Anak adalah individu yang berada dalam rentang pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara berkesinambungan dimulai dari fase bayi sampai dengan remaja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa anak adalah seseorang yang berusia kurang dari 19 tahun yang wajib dijaga dan dilindungi perkembangannya baik secara fisik, mental dan sosial karena anak adalah tolak ukur keberhasilan masa depan suatu bangsa.
Jumlah anak usia sekolah di Amerika Serikat berjumlah sekitar 24 juta jiwa atau 9% dari total penduduk (WHO, 2013). Di Indonesia pada tahun 2015 rentang usia sekolah berada dalam posisi pertama dari total 10% dari jumlah penduduk Indonesia dengan jumlah anak usia sekolah dasar (7-12) merupakan jumlah terbanyak yaitu 27.804 jiwa atau 18,9% (BPS, 2015) sedangkan menurut Info Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2014 mencatat bahwa struktur populasi kelompok usia anak di Indonesia pada tahun 2013 mencakup 37,66% dari seluruh kelompok usia atau ada 89,5 juta penduduk termasuk dalam kelompok usia anak. Usia 5-9 tahun sebanyak 23,3 juta jiwa (9,79%) dan kelompok usia 10-14 tahun sebanyak 22,7 juta jiwa (9,55%). Hal ini menunjukkan semakin pesatnya peningkatan jumlah anak usia sekolah di Indonesia sehingga diperlukan strategi dalam mengoptimalisasi tumbuh kembang anak.
Pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah berada pada rentang usia 6-12 tahun dan disebut sebagai fase berkarya (industry) vs rasa rendah diri (inferiority) (Wong, 2011). Hal ini sejalan dengan definisi anak usia sekolah dasar sesuai dengan Permenkes nomor 25 tahun 2014 yang menyatakan bahwa anak usia sekolah dasar adalah seorang yang berada dalam rentang pendidikan dasar dan berusia 7-12 tahun (Kemendikbud RI, 2015). Pada fase ini ditandai oleh anak tampak senang berkelompok dengan teman sebaya, memiliki peran dalam kegiatan kelompok , mempunyai rasa bersaing yang tinggi, serta memiliki keinginan untuk menyelesaikan tugas (sekolah atau rumah) yang diberikan sehingga dapat disimpulkan bahwa pada fase ini rasa percaya diri pada anak mulai berkembang dengan optimal (Stuart, 2013; Keliat, Daulima & Farida, 2011; Potter & Perry, 2009; Keliat & Akemat, 2005). Optimalnya pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah pada fase ini tentu saja dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor herediter dan lingkungan. Pada faktor herediter terdiri dari umur dan jenis kelamin. Sedangkan faktor lingkungan terdiri atas faktor keluarga yang berkaitan erat dengan sosial ekonomi serta cara stimulasi dan pengasuhan, faktor lingkungan sekolah serta kelompok teman sebaya atau masyarakat (Stuart, 2013; Yusuf, 2010). Karakteristik dalam tugas perkembangan anak usia sekolah ini meliputi berkembangnya kemampuan kognitif, keterampilan sosial, kemampuan mengenal dan mengendalikan emosi serta memiliki pemahaman yang baik tentang kemampuan menyelesaikan tugas (Crandell, Crandell & Zanden, 2012).
Adanya hambatan dalam kemampuan mencapai tugas perkembangannya dapat menyebabkan anak merasa rendah diri (Stuart, 2013; Nurdin, 2011). Rasa tidak percaya diri pada anak disebabkan karena anak tidak memiliki stategi koping yang positif untuk berinteraksi dengan orang sekitar (Kingsbury, Coplan, & Rose-Krasnor, 2013) sehingga pada masa dewasa, anak dapat mengalami hambatan dalam bersosialisasi (Stuart, 2013; Keliat, Helena & Farida, 2011). Pada fase ini juga anak akan sering mengalami perasaan gagal dan menang karena munculnya rasa kompetitif yang tinggi sehingga jika tugas tumbuh kembang diatas tidak bisa
dicapai dengan maksimal maka anak akan lebih cenderung menjadi lebih agresif, rendah diri dan merasa gagal (Hockenberry & Wilson, 2009; Keliat et al., 2007) karena menjadi korban perilaku negatif di sekolah maupun lingkungan tempat tinggalnya (Bownden & Greenberg, 2010). Hal ini mendukung penjelasan Stuart (2013) bahwa perkembangan gangguan kepribadian antisosial di masa dewasa dapat diakibatkan oleh adanya gangguan pada masa anak-anak. Sehingga lingkungan sebagai tempat anak bersosialisasi memberi dampak yang besar dalam perkembangan anak. Melihat data tersebut maka diperlukan kerjasama dan upaya khusus dari berbagai pihak termasuk keluarga, sekolah serta lingkungan komunitas untuk mencegah dan mengatasi dampak dari penyimpangan perkembangan pada anak usia sekolah sehingga dapat dihasilkan generasi penerus bangsa yang produktif baik secara fisik, mental dan sosial.
Stuart (2013) menyatakan untuk mencapai perkembangan yang optimal, lingkungan memberi pengaruh yang luar biasa bagi anak. Keluarga, sekolah dan komunitas adalah lingkungan yang mempengaruhi optimalnya perkembangan anak usia sekolah (Yusuf, 2010). Orangtua (keluarga) merupakan landasan paling utama dalam membangun karakter anak. Peran orangtua sebagai lingkungan paling dekat dengan anak sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak. Sugihandari (2015) menjelaskan bahwa keterlibatan orangtua yang lebih besar dalam proses belajar berdampak positif pada keberhasilan anak di sekolah. Salah satunya dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di rumah. Keterlibatan orangtua yang baik berdampak pada pencapaian prestasi akademik anak termasuk pada pendidikan yang lebih tinggi dan berpengaruh pada perkembangan emosi dan sosial anak. Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pentingnya partisipasi orangtua dalam proses pendidikan dan perkembangan anak sesuai dengan tahap tumbung kembangnya.
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang dibentuk oleh pemerintah di lingkungan masyarakat dalam rangka untuk menunjang perkembangan kecerdasan anak. Program pendidikan di sekolah disusun lebih terarah dan bersifat sistematis
agar anak mampu mengembangkan potensinya baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial. (Yusuf (2010). Komunitas atau lingkungan masyarakat adalah lingkungan yang pengaruhnya sangat kuat bagi perkembangan anak. Anak dengan mudah dapat menduplikasi perilaku-perilaku yang terjadi di lingkungannya baik perilaku-perilaku yang positif maupun perilaku-perilaku yang negatif melalui teman sebaya ataupun dengan orang lain yang berada di lingkungan tersebut (Stuart, 2013).
Namun pada kenyataannya lingkungan-lingkungan tersebut masih banyak memberikan dampak yang negatif pada anak.
Masalah-masalah di lingkungan yang dapat berpengaruh pada kualitas perkembangan anak usia sekolah yaitu di lingkungan keluarga, status pendidikan orangtua dan sosial ekonomi memberi dampak yang signifikan pada tumbuh kembang anak. Keterampilan orangtua yang lemah dalam pengasuhan anak, ketidakmampuan berkomunikasi yang menyebabkan anak tertutup terhadap orangtua/keluarga, gaya pengasuhan yang tidak tepat (cenderung permisif atau sangat otoriter), suasana rumah yang tidak kondusif atau kurang harmonis serta metode sosialisasi di rumah yang kurang mendukung dalam membentuk karakter pada anak seperti kurangnya teladan, penjelasan dan sanksi pada anak saat melakukan pelanggaran, kurangnya kasih sayang serta perhatian pada anak dapat memberikan dampak negatif pada tumbuh kembang anak (Hastuti, 2016; Papalia & Feldmen, 2014).
Lingkungan sekolah, suasana yang kurang nyaman dan kurang menyenangkan baik dari guru maupun teman sebaya dapat menghambat perkembangan anak. Anak yang disukai dan diterima oleh teman sebaya dan lingkungan sekolah cenderung memiliki presetasi, nilai akademis serta konsep diri yang baik dan begitupun sebaliknya sehingga mengakibatkan anak menjadi pendiam, menyendiri, perilaku bullying serta menganggap lingkungan sekolah sebagai ancaman (Santrock 2014). Di lingkungan komunitas/ lingkungan tempat tinggal, kebiasaan nongkrong di jalan, telinga ditindik, bertato, rokok dan minuman keras
yang beredar bebas di masyarakat serta peredaran narkoba yang bebas adalah beberapa perilaku negatif yang terlihat sangat jelas di masyarakat yang kemudian mudah ditiru dan dijadikan acuan gaya hidup oleh anak-anak (Hastuti, 2016). Hal ini didukung oleh Reinsberg (2016) yang menyatakan bahwa Karena kuatnya pengaruh lingkungan-lingkungan tersebut dalam kualitas tumbuh kembang anak maka perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan perkembangan anak Upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan anak sekolah yaitu adalah memprioritaskan gizi anak, meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (mencuci tangan dengan sabun), penyetaraan gender dalam menikmati pelayanan pendidikan dan kesehatan, penyuluhan kesehatan, membangun lingkungan legal dan kebijakan untuk melindungi anak dari kekerasan, penyalahgunaan, penelantaran, dan eksploitasi (Unicef Indonesia, 2012). Selain beberapa upaya tersebut, pelaksanaan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan program wajib pemerintah bagi puskesmas yang harus dilakukan pada setiap sekolah dalam usaha perbaikan gizi usia sekolah, kesehatan reproduksi dan deteksi dini penyakit tidak menular (Renstra Kemenkes , 2015).
Beberapa upaya pemerintah bagi kesehatan anak tersebut merupakan wadah promosi kesehatan yang penting dan strategis dalam peningkatan kualitas anak. Namun pada kenyataannya, masih banyak anak usia sekolah yang terpapar stress yang berasal dari lingkungan keluarga, sekolah dan komunitas yang beresiko terhadap perkembangannya dan berdampak pada kemampuan belajar serta kemampuan mengontrol perilakunya. Anak dengan masalah tersebut memiliki pencapaian prestasi pendidikan yang rendah, cenderung untuk terlibat dalam tindakan kriminal dan memiliki emosi yang tidak stabil. Hal ini dibuktikan oleh penelitian dari Kessler et al (2009) yang menunjukkan bahwa satu setengah dari seluruh kasus gangguan pada anak dampaknya mulai dirasakan saat anak berusia 12 tahun. Hasil studi Murray dan Lopez (1996) dalam Mental Health America (2011) mengindikasikan bahwa pada tahun 2020 jumlah kasus anak dengan gangguan neuropsikiatri akan meningkat lebih dari 50% secara internasional dan
menjadi salah satu dari lima penyebab angka kesakitan, kematian dan kecacatan pada anak-anak di seluruh dunia.
Fase usia sekolah adalah fase anak mulai membentuk kepribadiannya, mengembangkan rasa individulisme (Bowden & Greenberg, 2010) serta mulai mengembangkan kemandiriannya. Anak yang terlalu dilindungi cenderung berperilaku tergantung terhadap orang lain, hal ini disebabkan oleh adanya perasaan ragu-ragu dan malu yang dialaminya dalam menjalankan aktifitasnya. Dampak lain dari pencapaian perkembangan yang tidak optimal pada fase usia sekolah yaitu anak merasa tidak percaya diri (Stuart, 2013, Hamid, 2010; Wong, 2011), menunjukkan perilaku tidak produktif, merasa tidak adekuat. tida kompeten dan lebih agresif menutupi perasaan tidak adekuatnya (Townsend, 2014; Erikson 1963 dalam Nurdin 2011; Hockenberry & Wilson, 2009). Proses perkembangan yang optimal akan tercapai bila anak diberikan stimulasi/aktivitas tertentu yang akan merangsang perkembangan kemampuan psikososial (Hockenberry & Wilson, 2009). Keperawatan jiwa memegang peranan penting dalam upaya peningkatan perkembangan anak sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya. Asuhan keperawatan di tatanan komunitas dapat diberikan pada klien (anak), kelompok, keluarga maupun lingkungan sekolah agar anak dapat mencapai perkembangan yang optimal dan siap untuk memasuki tahap perkembangan di usia remaja.
Hamid A (2010) menjelaskan tentang berbagai terapi keperawatan jiwa yang dapat diberikan untuk stimulasi perkembangan anak yaitu terapi bermain, terapi kelompok dan terapi lingkungan. Sedangkan untuk keluarga dapat diberikan terapi berupa edukasi kelompok, psikoedukasi, terapi suportif maupun Terapi Kelompok Teraupetik (TKT). Untuk sekolah dapat diberikan stimulasi perkembangan pada anak dan guru melalui program Unit Kesehatan Jiwa Sekolah (UKJS) sedangkan pada unit komunitas dapat melibatkan kader kesehatan jiwa dalam pelaksanaan dan pemantauan kemampuan anak pada kelompok terapeutik yang dibentuk untuk menstimulasi perkembangan anak sesuai usia dan tahap perkembangannya
(Hamid, 2010; Walter, Keliat, Hastono, 2010; Istiana, Keliat, Nuraini, 2010; Sunarto, Keliat, Pujasari, 2011; Gowi, Keliat, Daulima, 2012; Stuart, 2013). Perkembangan yang terjadi pada usia sekolah membutuhkan stimulasi agar tidak terjadi berbagai penyimpangan
Adanya stimulasi perkembangan yang optimal pada anak usia sekolah dapat menghasilkan karakteristik anak yang sehat dan memiliki kemampuan anak usia sekolah yang sudah mencapai fase industri yang optimal meliputi berkembangnya aspek motorik anak (beraktifitas secara fisik dan mengandalkan kekuatan otot), anak memiliki rasa bersaing dan bertanding secara sehat dengan teman sebaya, kemampuan menulis, mebaca dan berhitung meningkat, berpikir realistis, memiliki teman sebaya, percaya diri bertemu orang baru, mampu mengendalikan emosinya, mampu mengenal baik-buruk dan norma-norma yang berlaku di lingkungan sekitarnya (Stuart, 2013; Nurdin, 2011; Hamid, 2010; Yusuf, 2010; Wong, 2010). Selain mengoptimalkan perkembangan fisik dan mental pada tahap ini anak diharapkan mampu mengembangkan diri di lingkungan sosial yang merupakam awal dari fase perkembangan moral seorang anak (Hockenberry & Wilson, 2009). Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa fase ini sangat kritis bagi perkembangan anak karena sangat berpengaruh pada proses pembentukan konsep dirinya.Salah satu terapi yang diterapkan dalam stimulasi perkembangan anak usia sekolah adalah Terapi Kelompok Terapeutik (TKT).
Terapi Kelompok Terapeutik adalah jenis terapi spesialis keperawatan yang diberikan secara berkelompok termasuk pada kelompok anak usia sekolah. Kegiatan yang dilakukan dalam TKT adalah berbagi pengalaman dan bersama-sama menemukan solusi untuk memecahkan masalah yang dirasakan anggota kelompok serta mencari cara yang efektif untuk mengantisipasi masalah yang akan dihadapi (Townsend 2005). Tujuan pemberian terapi ini pada anak usia sekolah adalah berbagi pengalaman dengan anggota kelompok terkait pencapaian tugas tumbuh kembangnya serta membantu anak bersama kelompoknya mengatasi permasalahan yang dihadapi sehingga anak memiliki kemampuan
dalam mencapai perkembangan fase industri yang optimal (Kaplan, 1996; Montgomery, 2002). TKT menjadi sangat penting untuk diberikan pada anak usia sekolah karena dalam kegiatan TKT anak distimulasi secara optimal untuk mencapai perkembangan berdasarkan 8 (delapan) aspek perkembangan (motorik, kognitif, bahasa, emosi, moral, kepribadian, spiritual dan psikososial). Hal ini sejalan dengan Hockenberry & Wilson (2009), Syah (2010), Yusuf (2010) yang menjelaskan tentang tugas perkembangan psikososial anak usia sekolah terdiri dari beberapa aspek yaitu motorik, kognitif, bahasa, emosi, kepribadian, moral, spiritual dan psikososial sehingga keberhasilan perkembangan di tahap sebelumnya berpengaruh sebagai faktor predisposisi dalam menentukan pola perilaku sehat anak usia sekolah di masa datang (Stuart, 2013)
Terapi kelompok terapeutik membantu anggotanya mencegah masalah kesehatan, mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok dan meningkatan kualitas antar anggota kelompok untuk mengatasi masalah dalam kehidupan (Keliat & Akemat, 2004). Terapi ini diberikan pada semua tingkat usia sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya dan dapat dilakukan secara berkelompok maupun individu bertujuan menstimulasi perkembangan secara individu. Terapi Kelompok Terapeutik pada orang tua dan guru yang mempunyai anak usia sekolah dilakukan untuk membantu orang tua dan guru mengatasi masalah yang dialami terkait tumbuh kembang, sharing pengalaman dalam memberikan stimulasi perkembangan anak dan belajar bagaimana stimulasi sesuai perkembangan anak untuk membantu mengoptimalkan perkembangan mental anak usia sekolah.
Penelitian tentang Terapi Kelompok Terapeutik pada usia anak sekolah telah dilakukan oleh Walter, Keliat, Hastono (2010) di panti sosial depok dan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan bermakna pada perkembangan industri anak sekolah. Sedangkan Istiana, Keliat, Nuraini (2011) dan Sunarto, Keliat, Pujasari (2011) melakukan penelitian yang sama dengan melibatkan orangtua dan guru di setting sekolah, menunjukkan hasil yaitu terjadi peningkatan bermakna
pada kemampuan pengetahuan, psikomotor dan kemampuan industri anak serta didapatkan pengaruh yang signifikan terkait peran guru dan orangtua terhadap perkembangan anak usia sekolah. Gowi, Keliat, Daulima (2012) juga melakukan penelitian yang sama di setting lingkungan RW dengan menggabungkan antara pemberian Terapi Kelompok Terapeutik (TKT) dan Psikoedukasi Keluarga terhadap perkembangan anak usia sekolah dengan hasil terjadi peningkatan yang signifikan pada perkembangan anak usia sekolah. Pada KIA ini mahasiswa tidak melakukan variasi lain melainkan hanya mengulang kembali penelitian diatas dan menerapkannya di lahan praktek residensi Perkembangan anak usia sekolah adalah proses perkembangan kemampuan anak untuk mengembangkan kemandirian sehingga perlu adanya dukungan suport system yang merupakan faktor pendukung utama bagi optimalnya perkembangan anak.
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar mengenal kehidupan sosialnya. Suasana lingkungan keluarga yang kondusif akan membantu anak mendapatkan perkembangan keseimbangan mental yang selanjutnya menjadi bekal pada fase selanjutnya di lingkungan yang lebih luas lagi. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial. Sedangkan kelompok teman sebaya mempunyai peranan yang cukup penting begi perkembangan kepribadian anak sebagai lingkungan. Orangtua dan sekolah (guru) memiliki peran untuk pemberian motivasi yang merupakan kewajiban membantu anak mencapai perkembangan optimal. Namun kenyataannya orang tua dan guru tidak selamanya mempunyai kemampuan memadai untuk memberikan pendidikan stimulasi perkembangan kepada anaknya. Hal ini bisa dipengaruhi oleh keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki maupun waktu yang tersedia. Hal ini kemudian menjadi bagian dari tanggung jawab klien Kader Kesehatan Jiwa (KKJ) untuk memberdayakan masyarakat mencapai derajat keshatan yang seinggi-tingginya. KKJ mendampingi, megevaluasi kemampuan serta mebudayakan kemampuan
stimulasi yang sudah dimiliki oleh klien, keluarga dan guru (Keliat, Panjaitan & Riasmini, 2010)
Tempat yang digunakan sebagai lahan praktek Karya Ilmiah Akhir (KIA) ini adalah RW 07 Kelurahan Kebon Kalapa. Kelurahan Kebon Kalapa merupakan salah satu kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Bogor Tengah dengan seluas + 116,5 Ha dengan luas wilayah pemerintahan terdiri atas 10 RW dengan 45 RT. Sejak Septembar 2015, Kelurahan Kebon Kalapa yang adalah bagian dari wilayah Puskesmas Merdeka sudah menjadi Kelurahan Siaga Sehat Jiwa. Jumlah penduduk berdasarkan profil kelurahan Kebon Kalapa bulan November 2015, yaitu sebanyak 10662 jiwa, yang terdiri dari 2998 Kepala Keluarga (KK) dengan mayoritas penduduk Kelurahan Kebon Kalapa adalah usia balita (1159 jiwa), usia produktif (934 jiwa), usia sekolah (2657 jiwa) dan yang paling sedikit adalah usia lanjut > 65 tahun (452 jiwa). Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa usia penduduk paling besar adalah penduduk dengan usia sekolah.
RW 07 adalah bagian dari wilayah pemerintahan Kelurahan Kebon Kalapa yang sudah terintegrasi sebagai RW Siaga Sehat Jiwa dan memiliki jumlah kader terbanyak yaitu 25 orang KKJ dan memiliki jumlah penduduk berusia anak sekolah sebanyak 191 orang. Di RW 07 terdapat sekolah dasar yaitu SDN Sindangsari dengan jumlah siswa terbanyak yaitu 525 siswa yang masing-masing kelas terbagi atas kelas A, B dan C dengan jumlah siswa yang terdaftar sebagai penduduk RW 07 adalah sebanyak 130 siswa. Jumlah guru yang bertugas di SDN Sindangsari sebanyak 20 orang tenaga PNS maupun non-PNS. SDN Sindangsari sudah terintegrasi dengan program Unit Kesehatan Sekolah (UKS) namun masih terbatas pada kesehatan fisik saja seperti dokter kecil, kegiatan imunisasi pada siswa SD, pemeriksaan gigi dan mulut serta penyuluhan pola hidup bersih dan sehat.
Kelompok intervensi yang dipakai dalam KIA ini adalah kelompok anak usia sekolah. Asuhan keperawatan yang diterapkan pada kelompok tersebut
menggunakan pendekatan Stres dan Adaptasi Stuart (2013) dan Health Promotion
Model (2011). Pendekatan Model Stress Adaptasi Stuart meliputi pengkajian,
penegakan diagnosis, perencanaan, penerapan tindakan keperawatan dan evaluasi. Model ini membantu mahasiswa dalam proses pengkajian tentang faktor presdiposisi, faktor presipitasi, penilaian stressor dan mengidentifikasi sumber koping dan sumber koping yang dimiliki oleh anak sekolah. (Stuart, 2013) sedangkan pendekatan Health Promotion Model dipilih mahasiswa karena pada konsep ini menggambarkan interaksi antara manusia dengan lingkungan fisik dan interpersonalnya. Lingkungan, manusia dan perilaku memiliki keterkaitan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain karena individu merupakan makhluk biopsikososial yang secara kompleks akan berinteraksi dengan lingkungannya secara terus menerus (Pender, 2011). Berdasarkan hubungan tersebut, perawat sebagai profesional keperawatan merupakan bagian dari lingkungan interpersonal yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan manusia sepanjang hidupnya. Adanya pengaruh interpersonal ini bagi anak usia sekolah dapat berpengaruh pada pembentukan kembali konsep dirinya dengan lingkungan yang mengarah pada perubahan perilaku yaitu optimalnya perkembangan fase industri.
Health Promotion Model dalam KIA digunakan sebagai panduan dalam
melakukan asuhan keperawatan. Perawat sebagai bagian dari lingkungan interpersonal melakukan pengkajian pada anak usia sekolah dengan cara mengidentifikasi karakteristik dan pengalaman masa lalu anak pada aspek karakteristik dan pengalaman individu. Selanjutnya mengkaji sejauh mana komitmen dan konsistensi klien dalam melaksanakan kegiatan promosi kesehatan pada aspek perilaku spesifik pengetahuan dan sikap. Pada aspek hasil perilaku, dimulai dengan merencanakan tindakan keperawatan baik generalis maupun spesialis yang bertujuan pada tercapainya perkembangan fase industri yang optimal pada anak usia sekolah.
Kegiatan anak usia sekolah yang terdapat di RW 07 sebelum diberikan asuhan oleh mahasiswa adalah kegiatan pengajian dan masih terbatas pada kegiatan
perkembangan fisik saja seperti olahraga, pramuka dan kesenian. Pada saat mahasiswa melakukan pengkajian awal, mahasiwa menemukan data bahwa orangtua belum memahami tentang perkembangan anak usia sekolah yang normal dan cara stimulasi perkembangannya. Begitu juga dengan kegiatan di sekolah, pada pelaksanaan UKSJ, mahasiswa melakukan pretest dan wawancara dengan guru-guru SDN Sindangasari didapatkan data bahwa sebagian besar guru SDN Sindangsari belum memahami dengan baik tentang konsep industri pada anak sekolah dan cara menstimulasinya sehingga belum ada kegiatan yang secara khusus membahas tentang kesehatan jiwa/ mental pada anak usia sekolah. Fenomena lain yang mahasiwa temukan adalah anak-anak sering menunjukkan penyimpangan perilaku sehat anak usia sekolah, misalnya perilaku saling mengejek satu dengan yang lain, saling berteriak untuk menunjukkan ketidaksukaan mereka, memanggil nama anak dengan sebutan negatif tertentu sebagai bentuk cemoohan, anak-anak mudah marah dan tidak mampu mengontrol emosi, belum mampu membedakan perbuatan yang baik dan buruk, sedangkan anak lain yang menjadi bahan olokan ejekan hanya bisa diam saja dan menangis, tidak mampu mengungkapkan perasaan, takut bertemu teman atau orang baru dari fakta tersebut untuk itu perlu dilakukan upaya agar anak mengenal tentang perkembangan sesuai usianya sehingga perilaku tumbuh kembang anak usia sekolah menjadi optimal.
Kegiatan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh mahasiswa sejak praktek residensi di wilayah Kelurahan Kebon Kalapa dengan melibatkan KKJ adalah paling banyak melakukan tindakan generalis untuk anak usia sekolah pada klien dan keluarga (SAK, 2015) Kegiatan TKT anak usia sekolah yang merupakan bagian dari tindakan spesialis termasuk dalam kategori terbanyak yang dilakukan oleh mahasiswa namun hanya terbatas pada stimulasi perkembangan anak di setting RW saja. Tingkat keberhasilan pelaksanaan TKT menunjukan peningkatan hasil yang signifikan pada kemampuan stimulasi perkembangan anak. Berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan TKT dapat meningkatkan kemampuan kognitif, psikomotor dan perkembangan industri dibandingkan dengan yang tidak diberikan
terapi di panti asuhan (Walter, Keliat, Hastono & Susanti, 2010). Sedangkan hasil penelitian Istiana, Keliat dan Nurani (2011) menunjukkan adanya peningkatan kemampuan kognitif, psikomotor dan perkembangan industri anak usia sekolah yang diberikan TKT di sekolahnya.
Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa dengan adanya kegiatan terapi kelompok terapeutik pada anak, orang tua dan guru dapat meningkatkan pengetahuan, psikomotor dan perkembangan anak sekolah dibandingkan TKT yang diberikan pada anak saja (Sunarto, Keliat & Pujasari, 2011). Sehingga dapat disimpulkan bahwa TKT dapat meningkatkan kogntif, psikomotor dan perkembangan anak. Selain itu peranan guru dan orang tua juga sangat penting dalam perkembangan mental anak usia sekolah. Berdasarkan penjelasan tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan studi ilmiah dalam bentuk penulisan Karya Ilmiah Akhir (KIA) tentang Peningkatan Perkembangan Anak Usia Sekolah melalui Terapi Kelompok Terapeutik dengan Pendekatan Model Stress Adaptasi Stuart dan Health Promotion Model di RW 07 Kelurahan Kebon Kalapa Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.
1.2 Rumusan Masalah
Anak usia sekolah adalah seorang yang berusia 7-12 tahun. Bertambahnya jumlah anak usia sekolah dari tahun ke tahun mengakibatkan diperlukannya upaya khusus terkait peningkatan derajat kesehatan anak baik secara fisik maupun mental. Struktur populasi kelompok usia anak di Indonesia pada tahun 2013 mencakup 37,66% dari seluruh kelompok usia atau ada 89,5 juta penduduk. Berdasarkan hasil pengkajian pada wilayah RW 07 Kelurahan Kebon Kalapa didapatkan data terkait jumlah penduduk usia anak sekolah sebanyak 191anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah lebih dikenal sebagai fase industri (berkarya) dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor keluarga dan lingkungan sekitar klien anak. Untuk mencapai perkembangan fase industri yang optimal maka diperlukan berbagai upaya dari berbagai pihak.
Upaya dalam meningkatkan derajat kesehatan dan perkembangan anak usia sekolah telah dilakukan oleh pihak puskesmas Merdeka sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang membawahi wilayah Kebon Kalapa berupa pelaksanaan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) di seluruh sekolah yang berada di wlayah Kebon Kalapa. Pelayanan UKS meliputi pemeriksaan kesehatan fisik, gigi dan mulut, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat berupa gerakan cuci tangan serta upaya meningkatkan gizi anak. Upaya kesehatan tersebut belum optimal meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah karena masih berpusat pada kesehatan fisik anak saja atau belum menyasar pada peningkatan perkembangan fase industri anak. Fenomena yang ditemukan selama mahasiswa praktek di RW 07 yaitu anak-anak berperilaku saling mengejek satu dengan yang lain, saling berteriak untuk menunjukkan ketidaksukaan mereka, memanggil nama anak dengan sebutan negatif tertentu sebagai bentuk cemoohan, anak-anak mudah marah dan tidak mampu mengontrol emosi, belum mampu membedakan perbuatan yang baik dan buruk, sedangkan anak lain yang menjadi bahan olokan ejekan hanya bisa diam saja dan menangis, tidak mampu mengungkapkan perasaan, takut bertemu teman atau orang baru. Data tersebut dapat menunjukkan bahwa terjadi penyimpangan perilaku sehat anak usia sekolah di RW 07 sehingga perlu dilakukan upaya agar anak mengenal tentang perkembangan sesuai usianya sehingga perilaku tumbuh kembang anak usia sekolah menjadi optimal.
Penulisan Karya Akhir Ilmiah (KIA) ini, mahasiswa mengelola anak usia sekolah di RW 07 sebanyak 22 orang untuk dilakukan intervensi dalam rangka mengenalkan dan meningkatkan fase industri anak. Tercapai atau tidaknya perkembangan anak usia sekolah tergantung pada banyaknya stimulus positif yang diterimanya seperti stimulus perkembangan dan kesempatan berkembang yang diberikan oleh lingkungan (keluarga, sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya). Pemberian Terapi Kelompok Terapeutik (TKT) dan psikoedukasi merupakan bentuk stimulus yang diberikan pada anak dan keluarga untuk mengoptimalkan perkembangannya. Hal ini dilakukan agar supaya anak mampu
memiliki kesiapan memasuki perkembangan pada tahap perkembangan selanjutnya. Selain itu, keikutsertaan keluarga dan kader kesehatan jiwa bertujuan untuk memotivasi dan memberikan kesempatan pada anak memiliki perkembangan yang optimal sehingga diperlukan strategi khusus agar tujuan tersebut.
Konsep yang dipakai sebagai strategi dalam mengoptimalkanperkembangan fase industri pada anak usia sekolah yaitu menggunakan pendekatan adaptasi stuart dan health promotion model. Kedua konsep ini dipakai karena mampu membantu mahasiswa dalam mengidentifikasi karakteristik anak usia sekolah, mengidentifikasi sumber koping yang dimilikinya, serta memberdayakan lingkungan sekitarnya karena konsep HPM menggambarkan adanya interaksi antara manusia dan lingkungan interpersonalnya sehingga mampu menghasilkan perilaku sehat yang dalam hal ini berupa optimalnya perkembangan fase industri anak usia sekolah.
Berdasarkan fenomena tersebut maka mahasiswa ingin mengetahui pelaksanaan TKT dan Psikoedukasi Keluarga pada anak usia sekolah terhadap peningkatan perkembangan anak usia sekolah dengan menggunakan pendekatan konsep stress adaptasi Stuart dan health promotion model.
1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya hasil pelaksanaan Terapi Kelompok Terapeutik (TKT) anak usia sekolah terhadap peningkatan perkembangan anak usia sekolah.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Diketahuinya karakteristik anak usia sekolah dan caregiver seperti usia, jenis kelamin,urutan kelahiran dalam keluarga, jumlah saudara kandung, status pendidikan dan status ekonomi keluarga di RW 07 Kelurahan Kebon Kalapa.
1.3.2.2 Diketahuinya faktor predisposisi dan presipitasi anak usia sekolah di RW 07 Kebon Kalapa.
1.3.2.3 Diketahuinya kemampuan dan perkembangan fase industri anak usia sekolah di RW 07 Kelurahan Kebon Kalapa.
1.3.2.4 Diketahuinya hasil penerapan TKT dan Psikoedukasi Keluarga keluarga terhadap kemampuan dan perkembangan fase industri anak usia sekolah di RW 07 Kebon Kalapa.
1.4 Manfaat Karya Ilmiah Akhir 1.4.1 Manfaat Aplikatif
1.4.1.1 Hasil Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat menjadi panduan perawat dalam melaksanakan Terapi Kelompok Terapeutik pada anak usia sekolah dan psikoedukasi keluarga di komunitas.
1.4.1.2 Meningkatkan kualitas asuhan keperawatan jiwa khususnya kesehatan jiwa keluarga dan kesehatan jiwa anak usia sekolah.
1.4.1.3 Meningkatkan dan mengembangkan berbagai strategi intervensi yang efektif dalam pencapaian fase industry anak usia sekolah di komunitas.
1.4.2 Manfaat Keilmuan
1.4.2.1 Hasil Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat digunakan sebagai hasil riset dalam mengatasi kesehatan jiwa anak usia sekolah.
1.4.2.2 Hasil Karya Tulis Ilmiah ini dapat dijadikan sebagai dasar bagi pihak pengelola program kesehatan jiwa masyarakat terkait yaitu Dinas Kesehatan Kota Bogor dalam merencanakan program-program yang lebih efektif dan merumuskan kebijakan dalam menangani kesehatan anak usia sekolah di Kota Bogor.
1.4.2.3 Hasil Karya Tulis Ilmiah ini sebagai evidence based practice dalam praktek keperawatan jiwa serta sebagai bahan dalam pembelajaran di area praktik pendidikan keperawatan khususnya keperawatan jiwa.
1.4.2.4 Hasil penulisan ini dapat bermanfaat sebagai data dasar bagi penelitian lanjutan guna pengembangan terapi spesialis keperawatan jiwa; Terapi Kelompok Terapeutik Anak Usia Sekolah.
1.4.3 Manfaat Metodologi
1.4.3.1 Dapat diterapkan sebagai panduan dalam melaksakan TKT anak usia sekolah untuk mencapai fase industri.
1.4.3.2 Dapat diperoleh gambaran dalam penerapan ilmu dan konsep keperawatan jiwa khususnya penerapan terapi spesialis keperawatan pada kelompok usia sekolah serta diperolehnya pengalaman dalam melakukan koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Bab ini memaparkan tentang teori-teori yang menjadi landasan dan rujukan yang berkaitan dengan perkembangan anak usia sekolah, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak sekolah serta upaya dalam mencapai perkembangan anak sekolah melalui terapi spesialis Terapi Kelompok Teraupetik (TKT) sesuai dengan pendekatan stress adaptasi Stuart dan konsep Health
Promotion Model (HPM).
2.1 Konsep Dasar Anak Usia Sekolah 2.1.1 Definisi Anak Usia Sekolah
Anak usia sekolah adalah seseorang yang berada pada rentang usia 6-12 tahun (Erikson dalam Wong, 2011) dan telah memenuhi syarat untuk menempuh pendidikan di sekolah karena mulai berkembangnya intelektual pada anak. Fase ini juga disebut sebagai fase industri karena pada masa ini mulai terjadi banyak perubahan pada anak dimulai dari perubahan fisik, emosi, kognitif dan psikososial (Yusuf, 2010). Sedangkan menurut Sulivan (2010) anak usia sekolah adalah suatu tahap perkembangan yang dimulai dengan munculnya rasa kebutuhan akan adanya teman sebaya maupun teman bermain yang tujuannya adalah untuk menjalin keakraban tanpa memandang perbedaan jenis kelamin.
Anak mulai mengembangkan fase industrinya dengan cara mulai terlibat dalam kegiatan sosial, belajar memiliki kemampuan dan keterampilan baru, menghasilkan karya, belajar menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya di rumah maupun disekolah, taat pada peraturan, produktif dalam kegiatan belajar, memiliki keinginan kompetisi yang kuat, berprestasi serta mampu membedakan hal yang positif maupun negatif (Keliat, Daulima & Farida, 2011; Asosiasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja Indonesia, 2010; Hamid, 2010; Wong et l, 2009; Yusuf, 2010). Pada tahap ini juga menjadi fase yang paling penting karena terjadi perkembangan kerjasama sosial dan perkembangan moral yang akan
mempengaruhi masa yang akan datang, sehingga Freud mengatakan usia sekolah merupakan fase penting dalam pembentukan konsep diri (Potter & Perry, 2009). Sehingga dapat disimpulkan bahwa anak usia sekolah adalah seseorang yang berusia 6-12 tahun yang perubahan pada fisik, motorik, emosi, kognitif, moral dan psikososialnya mulai terjadi, perkembangan intelektual dan fase industrinya mulai berkembang optimal serta meningkatnya keinginan untuk menjalin persahabatan yang akrab dengan teman sebaya.
Karakteristik penting pada tahap perkembangan ini adalah berkembangnya kemampuan kognitif/intelektual, keterampilan sosial, pemahaman yang baik tentang menyelesaikan tugas, kemampuan mengendalikan emosi. Periode perkembangan anak mulai menjauh dari kelompok keluarga dan berpusat di sekitar dunia yang lebih luas dari hubungan sebaya. Kemampuan kemandirian anak dalam periode ini lebih banyak di luar lingkungan rumah terutama di sekolah. Anak akan belajar dari lingkungan tempat tinggal dan mengadakan adopsi perilaku serta membedakan mana yang baik dan tidak (Crandell, Crandell & Zanden, 2012). Dalam hal ini keluarga (orang tua), lingkungan sekolah maupun masyarakat memberikan kontribusi yang besar untuk perkembangan anak usia sekolah. Perkembangan individu ini akan terus berlanjut, bersifat progresif dan berkesinambungan yang banyak dipengaruhi oleh faktor baik faktor protektif maupun faktor resiko.
2.2 Konseptual Model Asuhan dan Pelayanan Keperawatan
2.2.1 Pedekatan Model Stress Adaptasi Stuart dan Health Promotion Model (HPM)
Health Promotion Model adalah suatu cara yang menggambarkan interaksi antara
manusia dengan lingkungan fisik dan interpersonalnya yang dipandang dari berbagai dimensi. Komponen dari konsep ini adalah teori nilai harapan (expectancy value theory) dan teori kognitif sosial (social cognitive theory). Menurut teori nilai harapan, perilaku sehat bersifat rasional dan ekonomis, yaitu individu akan bertindak dari perilakunya dan menetap apabila memiliki hasil yang
positif dan pengambilan tindakan untuk menyempurnakan hasil yang diinginkan. Sedangkan teori kognitif sosial menjelaskan interaksi lingkungan, manusia dan perilaku yang saling mempengaruhi. Health promotion Models merupakan tindakan yang mempromosikan kesehatan, keyakinan bahwa faktor pengalaman, persepsi/ keyakinan yang berkaitan dengan individu dan faktor diluar individu untuk meningkatkan perilaku sehat.melalui perubahan perilaku yang awalnya tidak sehat menjadi sehat, dengan cara meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor. (Alligood & Tomey, 2014; Pender, 2011).
Pender (2011) menjelaskan bahwa Health Promotion Model ini terdiri dari beberapa aspek yaitu:
1) Karakteristik dan pengalaman individu a. Perilaku sebelumnya
b. Faktor personal terdiri dari faktor biologis, psikologis dan sosial budaya
Secara langsung dan tidak langsung, perilaku sebelumnya sangat mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang saat ini yang akan menjadi suatu pola kebiasaan. Pengaruh tidak langsung dapat dilihat dari persepsi self efficacy, manfaat, hambatan dan pengaruh aktivitas yang muncul dari perilaku tersebut. Sedangkan faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut terkait dengan faktor biologis, psikologis serta sosial budaya.
2) Perilaku Spesifik Pengetahuan dan Sikap (Behaviour-Spesific Cognitionsand
Affect)
a. Manfaat Tindakan (Perceived Benefits of Actions)
Pelaksanaan perilaku tergantung pada besarnya manfaat yang akan diperoleh. Klien dan keluarga akan melaksanakan kegiatan untuk merubah perilaku kearah yang lebih baik jika kegiatan tersebut dianggap dapat memberi manfaat bagi dirinya sendiri. Apabila tidak memberikan dampak yang baik baginya, biasanya klien cenderung tidak memiliki keinginan untuk melaksanakan perilaku tersebut.
b. Hambatan Tindakan yang dirasakan (Perceived Barriers to Actions)
Hambatan ini terdiri atas: ketidaktersediaan sarana, pengalaman tidak menyenangkan, biaya, kurangnya waktu untuk melakukan tindakan-tindakan khusus yang diberikan maupun hilangnya ketertarikan untuk menghindari atau menghilangkan perilaku yang berdampak negatif pada kesehatan. Adanya hambatan ini biasanya berdampak pada motivasi diri menghindari terapi/perilaku yang diberikan. Hambatan ini kemudian dapat mempengaruhi kegiatan promosi kesehatan yang telah diberikan/ direncanakan sehingga mengakibatkan munculnya perilaku negatif seperti penurunan komitmen untuk merencanakan tindakan kesehatan kearah yang lebih baik (Pender, 2011; Alligood, 2014).
c. Kemajuan Diri (Perceived Self Efficacy)
Self efficacy seperti didefinisikan sebagai keputusan dari kapabilitas seseorang
untuk mengorganisasi dan menjalankan tindakan secara nyata. Perceived self
efficacy adalah keputusan dari kemampuan untuk menyelesaikan tindakan yang
pasti, dimana harapan/tujuan sebanding dengan perilaku yang dihasilkan (Pender, 2011; Alligood, 2014)
d. Activity-Related Affect (respon afektif yang berhubungan dengan aktivitas)
Health Promotion Model memiliki tiga komponen emosional yang terjadi, yaitu
emosional terhadap tindakan itu sendiri, individu dan lingkungan (Pender, 2011; Alligood, 2014).
e. Interpersonal influences.
Pengaruh interpersonal adalah kesadaran terhadap perilaku, kepercayaan dan sikap. Sumber utama dari pengaruh interpersonal pada promosi kesehatan adalah keluarga, teman sekelompok dan petugas perawatan/kesehatan. Pengaruh interpersonal meliputi norma/ harapan dari orang-orang disekitar, dukungan sosial secara instrumental dan emosional dan modeling (pembelajaran melalui observasi).
f. Situasi lingkungan, memiliki pengaruh secara langsung dan tidak langsung bagi klien karena dalam health promotion model manusia berinteraksi secara interpersonal dengan klien untuk menghasilkan perilaku kearah yang lebih baik (Pender, 2011; Alligood, 2014).
3) Hasil perilaku (Outcome)
Dimulai dari merencanakan tindakan (menyusun POA) dan adanya perilaku promosi kesehatan yang bertujuan ke arah kehidupan positif klien, khususnya ketika berintegrasi menjadi gaya hidup sehat yang meliputi semua aspek kehidupan, menghasilkan pengalarnan kesehatan yang positif disepanjang proses kehidupan.
Berdasarkan konsep Health Promotion Model (Pender, 2011) keperawatan merupakan suatu satu kesatuan yang utuh dan saling berinteraksi antar satu bagiannya. Proses pelaksanaan yang dilakukan mahasiswa adalah memandang individu merupakan mahkluk biopsikososial yang secara terus menerus berinteraksi secara kompleks dengan lingkungannya sebagai satu kesatuan yang utuh. Hal ini selaras dengan model Health Promotion yang meliputi proses pikir, afektif, faktor individu, perilaku dan lingkungan yang saling berinteraksi satu degan yang lain. Melalui proses keperawatan, data yang didapatkan akan disusun untuk merencanakan hasil perilaku (outcome) berupa rencana asuhan dan implementasi. Dari proses terebut akan didapatkan outcome berupa hasil perilaku dan tujuan yang seperti telah ditetapkan sebelumnya. Perawat diharapkan dapat mengubah orientasi paradigma klien dari kuratif ke promotif.
Model Stress Adaptasi Stuart adalah suatu konsep dalam pelayanan keperawatan jiwa yang memandang perilaku manusia secara perspektif holistic yang mengintegrasikan aspek biologis, psikologis dan sosial budaya dari pelayanan yang diberikan (Stuart, 2013). Keperawatan yang holistik mengkaji semua aspek indibidu dan lingkungannya sehingga digunakan sebagai metode untuk mengumpulkan data karena pada model ini pengkajian dilakukan dengan melihat aspek biologis, psikologis dan sosial. Pengkajian tersebut meliputi faktor
predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan mekanisme koping.
Karya Ilmiah Akhir ini menggabungkan dua model yaitu model stress adaptasi Stuart dan Health Promotion Model dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada anak usia sekolah yang mendapatkan TKT dan Psikoedukasi Keluarga. Mahasiswa menggunakan kedua model ini karena kedua model ini bisa saling melengkapi dalam memberikan asuhan keperawatan sehingga dapat menghasilkan asuhan keperawatan yang berkualitas. Model Stuart digunakan dalam pengkajian faktor terhadap anak usia sekolah sedangkan Health Promotion Model digunakan sebagai alur pikir dalam melaksanakan promosi kesehatan melalui pelaksanaan asuhan keperawatan sesuai dengan fokus sentralnya yaitu karakteristik dan pengalaman individu sebelumnya, perilaku spesifik pengetahuan dan sikap
(Behaviour-Spesific Cognitionsand Affect) dan hasil perilaku (outcome). Semua
tahap tersebut saling melengkapi untuk meyelesaikan masalah. Kerangka konsep dalam karya ilmiah akhir ini dapat dilihat di skema 2.1
2.2.3 Penerapan TKT dan Psikoedukasi Keluarga dengan Pedekatan Model Stress Adaptasi Stuart dan Health Promotion Model (HPM)
Berikut merupakan penjelasan tentang penerapan TKT dan Psikoedukasi Keluarga pada anak usia sekolah degan pendekatan Adaptasi Stress dan Health Promotion
Model seperti pada skema 2.1
2.2.3.1 Karakteristik dan Pengalaman Individu Sebelumnya
Tahap ini merupakan tahap awal dimulainya asuhan keperawatan pada anak usia sekolah. Secara langsung dan tidak langsung, perilaku sebelumnya sangat mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang saat ini yang akan menjadi suatu pola kebiasaan. Pada tahap ini perawat menggali pengalaman klien berupa faktor predisposisi dan presipitasi melalui proses pengkajian dengan pendekatan stress adaptasi stuart yang terdiri dari faktor biologis, psikologis dan sosiokultural. Pada fase ini perawat berupaya mengidentifikasi sikap yang menimbulkan perilaku yang negatif untuk kemudian dapat dimodifikasi menjadi perilaku positif.
2.2.2.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Usia Sekolah
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks pada pola yang teratur dan dapat diperikirakan sebagai hasil dari proses pematangan (Jahja, 2011). Perkembangan anak usia sekolah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor protektif dan faktor resiko (Barankin & Khanlou, 2009, dalam Karina, 2014). Faktor protektif adalah faktor yang meningkatkan ketahanan individu dalam mencapai tugas perkembangan dan kekuatan untuk menghadapi resiko-resiko permasalahan yang terjadi. Sedangkan faktor resiko yaitu faktor yang menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan klien. Kedua faktor tersebut bersumber dari klien (anak usia sekolah), orang tua, keluarga, teman sebaya, sekolah dan masyarakat (Santrock, 2007).
Menurut konsep adaptasi stuart (2013) faktor predisposisi dan presipitasi yang mempengaruhi perkembangan anak usia sekolah meliputi faktor protektif dan predisposisi. Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang dipengaruhi oleh jenis dan
jumlah sumber risiko yang dapat menyebabkan individu mengalami tekanan. Faktor ini meliputi biologis, psikologis, dan sosial budaya. Sedangkan Faktor presipitasi adalah stimulus yang dialami klien saat ini. Faktor predisposisi dan presipitasi akan dijelaskan pada tabel 2.1
Tabel 2.1
Faktor Predisposisi dan Presipitasi yang melatarbelakangi Perkembangan Fase Industri Anak Usia Sekolah Faktor Predisposisi
Biologis Psikologis Sosiokultural
1. Riwayat imunisasi 2. Status nutrisi 3. Riwayat sakit fisik 4. Riwayat trauma kepala 5. Riwayat genetik
gangguan jiwa dalam keluarga
1. Kepribadian 2. Intelegensi
3. Riwayat kehilangan
4. Riwayat kekerasan dalam keluarga
5. Pengalaman masa lalu menyenangkan
6. Konsep diri: mempunyai rasa bersaing Punya rasa bersaing dalam melakukan sesuatu 7. Senang beraktifitas atau
mengikuti perlombaan 8. Ideal diri yang tidak realistis 9. Punya cita-cita
10. Pola asuh keluarga
1. Kemampuan bergaul di rumah / luar rumah
2. Punya hobi yang sama dengan teman
3. Membina hubungan dengan teman sebaya 4. Memiliki kelompok usia
sebaya
5. Patuh terhadap norma / aturan yang berlaku di rumah/sekolah
6. Kondisi ekonomi keluarga
Faktor Presipitasi
1.Memiliki tubuh ideal 2.Status nutrisi baik 3.Sakit fisik
4.Aktif secara motorik 5.Latihan fisik yang cukup
1.Kreatifitas tinggi
2.Memiliki rasa percaya diri tinggi
3.Perasaan bersaing
4.Diberi kesempatan bercerita 5.Diberi kesempatan mengikuti
lomba untuk melatih rasa bersaing
6.Dilatih kedisiplinan dan tata tertib di sekolah dan di rumah 7.Diberikan kesempatan
menjalankan hobi tertentu 8.Diberikan dukungan, motivasi
maupun penghargaan
1. Diberi kesempatan bermain dengan teman sebaya
2. Diberikan kesempatan menjalankan tanggung jawab
3. Keluarga dan masyarakat menerima dan mendukung keberadaannya
Keadaan biologis, psikologi dan kemampuan sosial yang baik akan menjadi dasar kesiapan perkembangan anak menuju perkembangan berikutnya yaitu masa remaja. Konsep diri yang baik pada masa usia sekolah akan menentukan keberhasilannya secara sosial. Sehingga sangat penting bagi anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang dialami sehingga tidak melakukan perilaku yang menyimpang dari tugas perkembangannya Dukungan dan peran serta aktif dari berbagai pihak seperti keluarga, teman, guru dan lingkungan sangat penting dalam pencapaian tugas fase industri anak usia sekolah.
2.2.2.2 Aspek Perkembangan Usia Sekolah
Perkembangan memiliki beberapa ciri yaitu berkesinambungan, kumulatif, bergerak ke arah yang lebih kompleks dan holistik. Sistem perkembangan yang mempengaruhi perkembangan anak usia sekolah meliputi perkembangan motorik, kognitif, bahasa, emosi, moral, kepribadian, spiritual dan psikososial (Santrock, 2007).
1) Motorik
Pada aspek motorik ini anak usia sekolah mampu berdiri, berlari, naik turun tangga, bermain kejar-kejaran dan lompat tali, bermain meggunakan alat olahraga ringan, menggambar menggunakan objek, melukis, menulis huruf sambung, melempar, menangkap bola (Hamid, 2010; Papalia, Old & Feldmean, 2010; Hurlock, 2008). Syah (2010) menyatakan bahwa gerakan motorik anak pada usia ini akan terus menerus berkembangan seiring bertambahnya usia, meningkatnya kemampuan otot serta keseimbangannya sampai pada usia SMP dan SMA sehingga hal ini menjadi sangat penting untuk dioptimalkan bagi perkembangan anak usia sekolah.
2) Kognitif
Pada tahap ini, anak usia sekolah mulai memasuki tahap berpikir yang konkrit, rasional dan sesuai kenyataan, daya ingat menjadi sangat kuat, mampu untuk menalar dan memecahkan masalah nyata yang sederhana misalnya mencari barang yang hilang serta anak mulai berpikir secara logis dan mulai peduli dengan lingkungan
sekitar (Syah, 2010). Yusuf (2010) menyatakan bahwa kemampuan membaca dan berhitung yang meliputi menambah, mengurangi, mengalikan dan membagi angka mulai mengalami peningkatan. Selain itu anak mulai mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan sehingga perlu dioptimalkannya kemampuan kognitif anak dengan cara anak dilatih untuk mengungkapkan pendapat, gagasan, maupun cara pandangan terhadap berbagai hal yang terjadi pada dirinya maupun dilingkungan sekitarnya.
3) Bahasa
Perkembangan dan penguasaan bahasa merupakan tugas perkembangan anak utama (Hamid, 2010) karena bahasa adalah saran komunikasi dengan orang lain (Yusuf, 2010). Pada tahap ini struktur linguistik dan kognitif mulai berkembang secara paralel dengan perkembangan anak dalam berbahasa yang memungkinkan anak untuk dapat bersosialisasi dengan cara menceritakan pengalaman menggunakan bahasa baik terhadap teman sebaya maupun lingkungan sekitarnya. Anak usia sekolah mampu menguasai banyak kosakata, menggunakan kata kerja yang benar serta mampu menggambarkan tindakannya dengan kalimat/ bahasa. Kemampuan bahasa dipengaruhi oleh umur, kondisi fisik dan kesehatan anak, sosial ekonomi keluarga dan lingkungan masyarakat tempat tinggalnya (Santrock, 2007).
4) Emosi
Perkembangan emosi pada anak usia sekolah akan meningkat dengan signifikan seiring bertambahnya berbagai keterampilan baru melalui pengalamannya bersama lingkungannya. Khaliq A (2011) yang menyatakan bahwa adanya proses transformasi melalui perubahan fisik, intelektual dan sosial pada anak yang berdampak terhadap perkembangan emosionalnya sehingga pada tahap ini anak sudah mampu memahami penyebab emosi, mampu mengungkapkan secara verbal tentang emosi yang dirasakan misalnya perasaan senang, marah, kecewa, takut maupun ekspresi perasaan lainnya serta mampu mengendalikan emosi tersebut (Cluff 2011; Yusuf, 2010). Hal ini
sejalan dengan Cole at al dalam Papalia & Feldman (2014); Dhivya (2016) yang menyatakan bahwa pada periode anak usia sekolah ini, anak lebih peka terhadap perasaannya, belajar memahami konflik emosinya serta mulai menyadari tentang aturan budaya terhadap emosi yang dirasakannya. Dengan memahami proses perkembangan anak, orangtua dan guru diharapkan mampu memahami, memberi perhatian serta membantu anak menyalurkan perasaan emosi yang dialaminya sehingga anak tetap memiliki nilai positif terhadap hubungan sosialnya dan dapat tumbuh menjadi anak yang memiliki percaya diri dan menikmati setiap pengalaman hidupnya, sukses di sekolah serta mampu menjalin relasi yang baik dengan lingkungannya.
5) Kepribadian
Wong (2011), Stuart (2013) menjelaskan bahwa kepribadian erat kaitannnya dengan konsep diri yaitu gambaran diri dan harga diri. Harlock (1986) dalam Yusuf (2010) menjelaskan bahwa karakteristik dari kepribadian yang sehat adalah memiliki pandangan yang realistis terhadap dirinya sendiri, prestasi yang dicapainya, bertanggung jawab, mandiri, mampu mengendalikan emosi yang dirasakan, memiliki perasaan bahagia serta mampu beradaptasi sosial. Faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian meliputi herediter maupun lingkungan (fisik, sosial, kebudayaan dan spiritual). Dalam tahap tumbuh kembang bisa saja terjadi kelainan yang disebabkan oleh faktor lingkungan misalnya lingkungan sekolah maupun keluarga yang kurang harmonis, maka sebagai upaya pencegahan sebaiknya keluarga dan sekolah (guru) perlu senantiasa bekerjasama menciptakan iklim lingkungan yang memfasilitasi anak mengembangkan potensi atau tugas perkembangannya secara optimal. Hal ini didukung oleh penelitian Ajilchia, Borjaib & Janbozorgic (2011); Soufi et al, (2014) yang menjelaskan bahwa siswa dengan konsep diri yang baik memiliki kepribadian yang baik, mampu menempatkan diri di lingkungan teman, orangtua dan guru serta tidak terlibat dengan perilaku negatif.
6) Moral
Berkembangannya aspek moral pada fase ini dapat terlihat dari kemampuan anak mengenal konsep benar-salah yang didapatnya melalui pengalaman hidupnya sehari-hari di lingkungan sehingga anak mampu memahami tentang aturan, norma serta etika yang diterapkan di lingkungan tempat tinggalnya yaitu masyarakat (Yusuf, 2010; Santrock, 2007). Anak memperoleh pelajaran nilai moral dari lingkungan terutama dipengaruhi oleh keluarga dan teman sebaya (Yusuf, 2010). Hal ini di dukung oleh penelitian Loudova & Jasek (2015) yang menyatakan bahwa konsep moral yaitu mengenal konsep benar-salah dapat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan sekolah.
7) Spiritual
Pembentukan aspek spiritual pada fase ini akan berdampak pada perkembangan aspek spiritual pada fase tumbuh kembang selanjutnya sehingga diharapkan kualitas aspek spiritual pada fase ini dapat terbentuk dengan optimal. Yusuf (2010) menjelaskan bahwa nilai spiritual pada anak dapat dikembangkan melalui berbagai cara misalnya membiasakan anak menjalankan rutinitas keagamaan yang diyakini, baik secara individu maupun secara bersama-sama dengan kelompok sosial. Hal ini bertujuan agar anak memiliki akhlak yang baik pada sesama manusia. Selain menjalankan ritual keagamaan, pada fase ini juga penting diajarkan tentang pentingnya bersikap hormat dan menghargai orang lain apalagi terhadap orangtua, guru maupun orang lain yang lebih tua, menyanyangi fakir miskin, memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan bantuan, bersikap jujur dan adil baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain sekalipun memiliki perbedaan nilai dalam aspek spiritual (Taylor et all, 1999).
Keberhasilan perkembangan aspek spiritual ini dapat dipengaruhi oleh faktor keluarga, budaya serta latar belakang pengalaman spiritual. Sehingga diperlukan peran aktif dari orangtua dalam pengembangan aspek ini yang meliputi pemberian