BAB IV SUBROGASI DENGAN PENGALIHAN KREDIT YANG
A. Subrogasi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
2. Cara Terjadinya Subrogasi
Pasal 1400 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa subrogasi terjadi baik karena persetujuan maupun dengan undang-undang. Adapun maksud terjadi karena persetujuan adalah subrogasi terjadi karena memang dikehendaki oleh para pihak, atau dengan kata lain para pihak dengan sengaja memang memperjanjikan terjadinya subrogasi. Pada subrogasi yang terjadi karena undang-undang, kehendak para pihak untuk itu tidak relevan. Dengan kata lain kalau terjadi peristiwa hukum yang memenuhi syarat-syarat seperti yang ditetapkan oleh undang-undang untuk terjadinya subrogasi, maka demi hukum, otomatis tanpa para pihak harus berbuat lain, akan terjadi subrogasi, bahkan seandainya mereka sendiri semula tidak tahu bahwa tindakannya mengakibatkan adanya subrogasi.213
a. Subrogasi yang Terjadi karena Persetujuan/Perjanjian 1) Subrogasi atas Inisiatif Kreditur
213 Ibid., hlm. 189-190.
Subrogasi yang terjadi karena perjanjian diatur dalam Pasal 1401 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Kemungkinan yang pertama adalah apabila kreditur dengan menerima pembayaran itu dari seorang pihak ketiga, menetapkan bahwa pihak ketiga akan menggantikan hak-haknya, gugatan-gugatannya, hak-hak istimewanya dan hipotek-hipotek yang dipunyainya terhadap debitur.214 Adanya subrogasi di sini dapat disimpulkan bahwa terjadi atas inisiatif dari kreditur. Debitur tidak ada disinggung dan karenanya para sarjana berpendapat bahwa untuk peristiwa-peristiwa seperti ini tidak diperlukan persetujuan dari debitur.215
Subrogasi juga harus dinyatakan dengan tegas dan dilakukan tepat pada saat pembayaran. Kata-kata “dengan tegas” dimaksudkan dalam arti bahwa pernyataan kreditur, bahwa penempatan pihak ketiga dalam kedudukan dan hak-haknya terhadap debitur harus dinyatakan secara tegas dan tidak boleh disimpulkan dari kata-kata maupun tindakan-tindakan saja. Kata-kata “tepat pada saat pembayaran”
dimaksudkan dalam arti bahwa pernyataan subrogasi harus dilakukan pada saat pihak ketiga membayar utang debitur kepada kreditur.216
Contoh seandainya A, yang membayar utang-utang B kepada C, lalai untuk memperjanjikan subrogasi dan di kemudian hari tuntutannya agar B membayar kembali kepada A ditolak oleh B, maka A tidak dapat datang lagi kepada C, agar C mensubrogeer hak-haknya terhadap B kepada A. Prinsipnya undang-undang tidak mensyaratkan adanya bentuk tertentu, tetapi demi untuk kepentingan pembuktian di
214 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Buku ketiga, Bab IV, Pasal 1401 sub 1.
215J. Satrio, Cessie, Subrogatie, Novatie, Kompensatie & Pencampuran Hutang, Op.Cit., hlm. 65.
216 Ibid., hlm. 65-66.
kemudian hari, kiranya lebih baik kalau perjanjian antara kreditur dengan pihak ketiga dituangkan dalam suatu akta atau perjanjian tertulis.217
Pernyataan di dalam tanda penerimaan uang atau kuitansi yang diberikan oleh kreditur sudah cukup. Ada yang mensyaratkan adanya pemberitahuan subrogasi kepada debitur, tetapi para sarjana umumnya tidak setuju dengan pendapat tersebut di atas, namun demikian bukan berarti bahwa pemberitahuan (betekening) tidak ada manfaatnya sama sekali. Pemberitahuan dengan didasarkan Pasal 1386 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dapat mencegah debitur untuk membayar dengan itikad baik kepada kreditur, dengan akibat bahwa pelunasan tersebut membebaskan dirinya dari utang-utangnya. Adanya pemberitahuan tersebut, maka debitur tidak dapat lagi dikatakan bahwa ia membayar kepada kreditur dengan itikad baik.218
2) Subrogasi atas Inisiatif Debitur
Kemungkinan yang kedua adalah debitur yang meminjam sejumlah uang untuk melunasi utangnya dan menetapkan bahwa orang yang meminjami uang itu akan menggantikan hak-hak kreditur.219 Inisiatif untuk adanya subrogasi di sini dapat disimpulkan bahwa datangnya dari debitur, kreditur sama sekali tidak disebutkan bahkan dalam pasal tersebut dikatakan bahwa subrogasi seperti ini tidak memerlukan persetujuan dari kreditur. Semuanya dapat terlaksana dengan tanpa persetujuan dari kreditur dan juga tanpa persetujuan daripada para borg dan pemberi jaminan (dalam
217 Ibid., hlm. 66.
218 Ibid., hlm. 66-67.
219 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Buku ketiga, Bab IV, Pasal 1401 sub 2.
hal ada jaminan pihak ketiga), karena undang-undang memungkinkan hal seperti itu.220
Tidak memerlukan persetujuan bukan berarti tidak memerlukan kerja sama dengan kreditur, karena nantinya subrogasi yang diperjanjikan tersebut memerlukan tanda penerimaan uang atau kuitansi dari kreditur.221 Pasal 1401 sub 2 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa subrogasi macam ini tidak memerlukan kerja sama dengan kreditur, tetapi para sarjana umumnya menafsirkan
“tak perlu mendapat izin/persetujuan dari kreditur lebih dahulu” asal ia kemudian bersedia memberikan tanda penerimaan uangnya yang mengandung pernyataan bahwa uang yang dipakai untuk melunasi datang dari pihak ketiga.222
Baik perjanjian pinjam-meminjam uang antara pihak ketiga dan debitur harus dibuat dengan akta autentik agar subrogasi ini sah, demikian pula tanda pelunasannya. Perjanjian pinjam-meminjam uang antara pihak ketiga dengan debitur di dalamnya harus ditegaskan bahwa uang tersebut digunakan untuk melunasi utang debitur kepada kreditur. Debitur selanjutnya setelah membayar kepada kreditur, maka dalam tanda pelunasannya harus diterangkan bahwa pembayaran dilakukan dengan menggunakan uang yang dipinjam dari pihak ketiga sebagai kreditur baru.223
Keseluruhan proses tersebut adalah untuk menjamin kepentingan pihak ketiga yang akan menggantikan kedudukan kreditur, karena ketika debitur meminjam uang
220 J. Satrio, Cessie, Subrogatie, Novatie, Kompensatie & Pencampuran Hutang, Op.Cit., hlm.
68-69.
221 Ibid., hlm. 68.
222 Ibid., hlm. 71.
223 Suharnoko dan Endah Hartati, Op.Cit., hlm. 9-10.
dari pihak ketiga, pihak kreditur tidak dilibatkan, maka daripada itu diperlukan akta autentik yang menerangkan bahwa debitur meminjam uang dari pihak ketiga untuk melunasi utangnya kepada kreditur. Suatu hal yang penting dari akta autentik sebagai alat bukti adalah bahwa suatu akta autentik mempunyai kekuatan pembuktian baik bagi para pihak yang membuat dan menandatanganinya, yaitu dalam hal ini pihak ketiga dan debitur, dan juga mempunyai kekuatan pembuktian keluar, yaitu dalam hal ini terhadap kreditur, dengan demikian tidak ada keragu-raguan lagi bahwa tujuan pembayaran yang dilakukan oleh pihak ketiga kepada debitur adalah untuk menggantikan kedudukan kreditur dan bukan membebaskan debitur dari kewajiban membayar utang kepada kreditur.224
Hal yang sama juga dinyatakan, dalam hal kreditur tidak menyaksikan penyerahan uang pinjaman dari pihak ketiga kepada debitur, maka menurut Rutten
“Sudah cukup, kalau kreditur menyatakan dalam surat pelunasannya, bahwa debitur telah menyatakan kepadanya, bahwa uang yang dipakai untuk membayar adalah uang yang dipinjam olehnya dari pihak ketiga.”225
Subrogasi yang diperjanjikan dalam Pasal 1401 sub 2 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ini terlihat adanya 2 (dua) hubungan hukum yang walaupun berkaitan tetapi dengan nyata dapat dipisahkan. Pertama adalah pinjam-meminjam uang/utang-piutang antara debitur dengan pihak ketiga dengan janji-janjinya dan yang kedua adalah tindakan pelunasan oleh dan atas utang-utang debitur kepada kreditur, yang
224 Ibid., hlm. 10.
225 J. Satrio, Hukum Perikatan Tentang Hapusnya Perikatan Bagian I, Op.Cit., hlm. 199-200, dimuat dalam Rutten, hlm. 360.
menyebutkan bahwa uang yang dipakai untuk melunasi adalah uang yang dipinjam debitur dari pihak ketiga. Kedua hubungan hukum tersebut dapat dituangkan dalam dua akta yang berlainan, tetapi biasanya dituangkan dalam satu akta saja. Subrogasi seperti ini mulai berlaku sejak uang yang dipinjamkan oleh pihak ketiga dibayarkan kepada kreditur.226
b. Subrogasi yang Terjadi karena Undang-Undang
Subrogasi yang terjadi karena undang-undang diatur dalam Pasal 1402 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Subrogasi menurut undang-undang artinya subrogasi terjadi tanpa perlu persetujuan antara pihak ketiga dengan kreditur, maupun antara pihak ketiga dengan debitur. Subrogasi ini sama sekali terlepas dari kehendak para pihak, tetapi ditentukan oleh undang-undang pada peristiwa-peristiwa tertentu.
Pertama, bahwa untuk seorang yang, sedang ia sendiri orang berpiutang, melunasi seorang berpiutang lain, yang berdasarkan hak-hak istimewanya atau hipotek, mempunyai suatu hak yang lebih tinggi.227 Maksud ketentuan ini adalah bahwa seorang kreditur baik yang bersifat konkuren maupun yang bersifat preferent, menggantikan kedudukan kreditur lain beserta hak istimewa dan hak hipotek dari kreditur lain tersebut apabila terhadapnya dilakukan pembayaran. Misalnya A dan B adalah para kreditur terhadap C. A disamping merupakan kreditur juga mempunyai hak hipotek atas benda milik C, apabila B melakukan pembayaran kepada A, maka B menggantikan kedudukan A beserta hak hipotik yang ada pada A.228
226 J. Satrio, Cessie, Subrogatie, Novatie, Kompensatie & Pencampuran Hutang, Op.Cit., hlm. 69.
227 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Buku ketiga, Bab IV, Pasal 1402 sub 1.
228 Mariam Darus Badrulzaman, Azas-Azas Hukum Perikatan II, (1970), hlm. 36.
Kedua, demikian pula untuk seorang pembeli sesuatu benda tidak bergerak, yang telah memakai uang harga benda tersebut untuk melunasi orang-orang berpiutang, kepada siapa benda itu diperikatkan dalam hipotek.229 Hal ini berakibat bahwa dengan pelunasan tersebut, pengganti kedudukan kreditur ini sekaligus menjadi pemilik atas benda yang bersangkutan.230
Ketiga, bahwa untuk seorang yang bersama-sama dengan orang lain, atau untuk orang-orang lain, diwajibkan membayar suatu utang, berkepentingan untuk membayar suatu utang, berkepentingan untuk melunasi utang itu.231 Ketentuan ini menunjukkan kepada perikatan yang berupa utang uang yang harus dipikul bersama-sama, maka pembayaran/pelunasan yang dilakukan oleh salah seorang diantara mereka mengakibatkan bahwa ia yang melakukan pembayaran itu menggantikan kedudukan kreditur terhadap debitur-debitur lainnya.232
Keempat, bahwa untuk seorang ahli waris yang, sedang ia menerima suatu warisan dengan hak istimewa untuk mengadakan pencatatan tentang keadaan harta peninggalan, telah membayar utang-utang warisan dengan uangnya sendiri.233