BAB III PANDANGAN ISLAM TERHADAP PERWARISAN PEREMPUAN DI
A. Hukum Waris dalam Islam
7. Tertib Para Waris Dalam Menerima Pusaka
Ahli waris ashabul furudl menerima tirkah. Dan golongan ini adalah golongan yang sudah ditentukan bagiannya di dalam al-Quran, As-Sunnah atau ijma’ ulama.35 Para ahli fara’id membedakan ashabul furudl kepada dua yaitu, ashabul furudl issababiyyah, yaitu mereka yang menjadi ahli waris disebabkan oleh ikatan perkawinan dengan si pewaris. Yang kedua adalah ashabul furudl in-nasababiyyah, yaitu mereka yang menjadi ahli waris disebabkan oleh hubungan darah dengan si pewaris.36
b. Ashabah Nasabiyah
Ashabah nasabiyah adalah setiap kerabat yang berhak ke atas sisa harta setelah diambil ashabul furudl. Dan golongan ini berhak menerima seluruh harta peninggalan jikalau dia hanya
33 Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Hukum Waris, (Jakarta Selatan: Senayan Abadi Publishing, Maret 2004), h. 51 – 52.
34 A. Hassan, Al-Fara’id, (Surabaya: Penerbit Pustaka Progressif, 1992), h. 44.
35 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Hukum Waris Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, Cetakan Pertama, 1995), h. 54.
36 Otje Salman, Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, (Bandung: PT Refika Aditama, Cetakan Kedua, 2006), h. 52.
43
sendirian seperti anak laki-laki, anak laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki bapak dan sebagainya.37
c. Radd
Radd atau membagi sisa kepada ashabul furudl menurut besar kecilnya hak mereka kecuali kepada suami atau istri. Oleh karena itu, apabila ada kelebihan harta waris dan tidak ada ashabah, maka harta tersebut akan dibagikan kepada ashabul furudl. Adapun alasan mengapa suami atau istri tidak berhak menerima radd adalah disebabkan mereka memperoleh warisan karena perkawinan dan bukan kekerabatan. 38
d. Dzawul Arham
Dzawul arham adalah kerabat dari orang yang meninggal dan tidak termasuk di dalam golongan ashabul furudl atau ashabah.
Contoh dzawul arham adalah saudara laki-laki ibu, saudara perempuan ibu, saudara perempuan bapak, anak laki-laki dari anak perempuan dan sebagainya. Dzawul arham hanya menerima harta waris apabila si mati tidak meninggalkan ashabul furudl atau ashabah. Adapun memberikan warisan kepada dzawul arham adalah pendapat daripada golongan Hanabilah, Hanafiyah dan Malakiyah.39
e. Radd kepada suami Isteri
Hal ini Cuma dilakukan sekiranya si mati tidak meninggalkan ashabul furudl, ashabah maupun dzawul arham.
Sebagai contoh, apabila seorang suami meninggal dan dirinya hanya
37 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Hukum Waris Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, Cetakan Pertama, 1995), h. 54.
38 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Hukum Waris Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, Cetakan Pertama, 1995), h. 54.
39 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Hukum Waris Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, Cetakan Pertama, 1995), h. 54 .
memiliki istrinya sahaja, maka istrinya berhak menerima 1/4 sebagai furudl dan sisa melalui radd. Dengan demikian, seluruh harta menjadi miliknya.40
f. Ashabat Sababiyah
Ashabat sababiyah adalah budak yang dimerdekakan sama ada laki-laki maupun perempuan.
g. Orang yang mendapat wasiat lebih dari sepertiga harta sekalipun wasiat itu seluruh harta. Dan ini adalah pandangan golongan Hanabilah dan Hanafiyah.
h. Baitul Mal
Baitul mal hanya menerima apabila si mati tidak meninggalkan langsung ashabul furudl, ashabah, dzawul arham, radd suami atau istri, ataupun ashabat sababiyah. Dan adapun sebab baitul mal mendapat harta warisan adalah untuk menjaga kemaslahatan kaum Muslimin.41
8. Hak-Hak Yang Harus Didahulukan
Sebelum para waris memperoleh haknya, ada beberapa hal yang harus didahulukan sebelum memulakan pembagian harta si mati yaitu:
a. Pentajhizan Mayyit
Pentajhizan mayyit yang meninggalkan harta dan pentahjizan mayyit orang yang wajib dinafkahi oleh mayyit yang meninggalkan
40 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Hukum Waris Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, Cetakan Pertama, 1995), h. 54 – 55.
41 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Hukum Waris Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, Cetakan Pertama, 1995), h. 54 – 55.
45
harta tersebut. Dan untuk melakukan semua itu, harta yang diambil adalah daripada harta yang ditinggalkannya.42
Tajhiz adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh seseorang yang meninggal dunia sejak dari wafatnya sehingga kepada menguburkannya seperti belanja untuk memandikannya, mengkafankannya, mengusungnya dan menguburkannya. Adapun perbelanjaan yag diikeluarkan untuk melakukan semua ini hendaklah tidak berlebihan dan tidak juga menyedikitkan.43
b. Membayar Hutang
Seseorang ahli waris harus membayar hutang yang ditinggalkan oleh si mayyit dan untuk melakukan hal itu, uang tersebut diambil daripada tirkah sesudah diambil kepeluan tajhiz.44 c. Menunaikan wasiat
Hak untuk menunaikan wasiat yang diwasiatkan oleh yang meninggal diwaktu dia masih hidup dalam batas yang dibenarkan syara’ tanpa perlu persetujuan oleh ahli waris. Adapun maksud batas yang dibenarkan oleh syara’ adalah wasiat yang tidak melebihi 1/3 daripada harta peninggalannya sesudah diambil keperluan tajhiz dan keperluan untuk membayar hutang.45
9. Bagian-Bagian Yang Telah Ditentukan Dalam Al-Quran
Terdapat 6 bagian yang telah disebutkan di dalam Alquran di mana keenam-enam bagian tersebut dikelompokkan kepada dua macam yang dikenali Macam pertama dan Macam kedua. Bagian di dalam macam pertama adalah 1/2, 1/4, 1/8. Adapun disebut macam pertama adalah karena
42 Hasbi Ash-Shiddieqy, Fiqhul Mawaris Hukum-Hukum Warisan Dalam Syari’at Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 25.
43 Otje Salman, Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, (Bandung: PT Refika Aditama, Cetakan Kedua, 2006), h. 6.
44 Hasbi Ash-Shiddieqy, Fiqhul Mawaris Hukum-Hukum Warisan Dalam Syari’at Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 27 – 28.
45 Hasbi Ash-Shiddieqy, Fiqhul Mawaris Hukum-Hukum Warisan Dalam Syari’at Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 30 – 31.
penyebutnya dapat dimasuki sebagian atas sebagiannya. Adapun macam kedua adalah 2/3, 1/3, 1/6, dan disebut sebagai macam kedua adalah karena penyebutnya dapat dimasuki oleh sebagian atas sebagiannya. Adapun aturan bagian-bagiannya adalah seperti berikut:
a. Yang berhak setengah, 1/2.
Setengah merupakan bagian terhadap lima ahli waris yaitu:
1) Suami
Suami mewarisi 1/2 apabila istrinya tidak meninggalkan keturunan yang mewarisi seperti anak, anak dari anak laki-laki istrinya yang meninggal baik anak itu dari hasil perkawinan dengannya atau dari perkawinannya yang lain.46
2) Anak Perempuan
Dengan syarat dirinya tidak bersama dengan saudara laki-laki yang berhak mewarisi, yakni anak laki-laki-laki-laki pewaris dan dia hanya seorang. Dalam arti kata lain, anak perempuan tunggal.47 3) Anak Perempuan dari anak laki-laki.
Dengan syarat dia tidak bersama saudara laki-laki yang berhak ashabah yaitu anak laki-laki dari anak laki-laki. Anak perempuan itu juga hendaklah seorang diri dan tidak ada anak perempuan sendiri atau anak laki-laki.
4) Saudara perempuan kandung.
Dengan syarat dia tidak bersama saudara laki-laki yang berhak ashabah yaitu saudara laki-laki sekandung. Anak perempuan itu juga hendaklah seorang diri dan si mayit tidak mempunyai keturunan dan ushul laki-laki seperti bapak dan kakek dan keturunan.
5) Saudara perempuan sebapak.
46 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Hukum Waris Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, Cetakan Pertama, 1995), h. 69.
47 Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam Edisi Kedua, (Jakarta: Prenadamedia Group, Cetakan Kelima, 2015), h. 44.
47
Dengan syarat bahwa dirinya tidak bersama saudara laki-laki yang mendapat ashabah yaitu saudara laki-laki-laki-laki sebapak, dirinya bersendirian dan tidak ada saudara perempuan sekandung. Si mayit juga hendaklah tidak meninggalkan ushul dan keturunan.48
b. Yang berhak seperempat, 1/4.
Merupakan bagian dua orang ahli waris yaitu suami dan istri.
1) Suami mendapat 1/4 apabila istri ada anak atau anaknya anak (cucu) baik anak itu hasil daripada perkawinan dengannya atau dengan suami lain.
2) Istri mendapat 1/4 apabila suami tidak meninggalkan anak atau anaknya anak (cucu) dan kebawah baik anak itu hasil dari perkawinannya dengan istri itu atau istri yang lain.49
c. Yang berhak seperdelapan, 1/8.
1) Merupakan bagian seorang saja di antara ahli waris yaitu istri atau beberapa istri. Hal ini berarti seorang istri atau lebih akan memperoleh 1/8 apabila mayit mempunyai anak atau cucu.50
d. Yang berhak dua pertiga 2/3.
Dua pertiga merupakan bagian empat orang wanita di antara ahli waris seperti berikut:
1) Dua anak perempuan sendiri atau lebih akan memperoleh 2/3 apabila mereka tidak bersama dengan saudara laki-lakinya yang ashabah yakni anak laki-laki si mayit.
2) Dua anak perempuan anak laki-laki atau dua anak perempuannya anak laki-lakinya anak laki-laki atau lebih akan memperoleh 2/3 apabila si mayit tidak mempunyai anak sendiri
48 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Hukum Waris Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, Cetakan Pertama, 1995), h. 71 - 73.
49 Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam Edisi Kedua, (Jakarta: Prenadamedia Group, Cetakan Kelima, 2015), h. 48.
50 Otje Salman, Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, (Bandung: PT Refika Aditama, Cetakan Kedua, 2006), h. 54.
seperti anak laki-laki dan anak perempuan. Si mayit juga tidak meninggalkan dua anak perempuan sendiri dan tidak ada saudara laki yang berhak ashabah seperti anak laki-lakinya anak laki-laki dalam derajat mereka.
3) Dua saudara perempuan kandung atau lebih akan memperoleh 2/3 dengan syarat si mati tidak meninggalkan anak laki-laki atau perempuan dan tidak meninggalkan ushhul dan keturunan. Si mati juga tidak meninggalkan saudara laki-laki yang berhak ashabah dan tidak meninggalkan anak perempuan atau anak perempuannya anak laki-laki.
4) Dua saudara perempuan sebapak atau lebih dengan syarat si mati tidak mempunyai anak atau tidak meninggalkan ushul atau keturunan. Si mati juga tidak meninggalkan laki-laki yang berhak ashabah yakni laki-laki sebapak dan tidak meninggalkan anak perempuan atau anak perempuannya anak laki-laki dan tidak ada saudara laki-laki kandung atau saudara perempuan kandung.51
e. Yang berhak sepertiga 1/3.
1/3 adalah bagian dua orang di antara ahli waris yaitu ibu dan saudara laki-laki atau perempuan seibu, dua orang atau lebih.
1) Ibu akan mewarisi 1/3 mewarisi bersama ayah dan pewaris tidak meninggalan anak atau saudara-saudara.52 2) Saudara laki-laki atau perempuan seibu, dua orang atau
lebih dengan syarat bahwa si pewaris tidak meninggalkan ushul dan keturunan dan inilah yang dinamakan sebagai kalalah. Dan apabila jumlah mereka adalah dua orang atau lebih baik mereka laki-laki maupun perempuan.53
51 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Hukum Waris Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, Cetakan Pertama, 1995), h. 76 – 79.
52 Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam Edisi Kedua, (Jakarta: Prenadamedia Group, Cetakan Kelima, 2015), h. 48
53 Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Hukum Waris Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, Cetakan Pertama, 1995), h. 80 – 81.
49
B. Pandangan Islam Terhadap Amalan Pewarisan Perempuan Terhadap