• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1441 H/2020 M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1441 H/2020 M"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

PEMEGANGAN ADAT BAB 215 NEGERI SEMBILAN (STUDI TERHADAP ADAT PERPATIH DI NEGERI SEMBILAN)

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H.)

Oleh:

RAJA MUHAMMAD MANSOR BIN RAJA IDERAS BADIUZZAMAN NIM: 11160440000101

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1441 H/2020 M

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

(5)

v

SEMBILAN (Studi Terhadap Adat Perpatih Di Negeri Sembilan). Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441H/2020 M.

Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis hak-hak perempuan terhadap tanah adat menurut Adat Perpatih di dalam Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 di samping menjelaskan tentang bagaimana undang-undang adat ini melindungi hak-hak tersebut.

Skripsi ini juga akan menjelaskan alasan di sebalik ketidakbolehan laki-laki mewarisi tanah adat. Selain itu, skripsi ini juga akan menjelaskan tentang pandangan Islam terhadap undang-undang adat ini.

Di Malaysia, terdapat dua jenis adat yang digunakan yaitu adat perpatih dan adat temenggung. Adapun adat perpatih adalah sebuah adat yang diamalkan di Negeri Sembilan. Adat perpatih adalah suatu struktur sosial yang melibatkan perhubungan dan proses-proses sosial dan ekonomi dan merupakan sebuah adat yang menjadikan nasab ibu atau matrilineal sebagai dasar utamanya.

Penulisan ini dilakukan dengan menggunakan jenis penulisan kualitatif dengan cara library research atau dengan melakukan pengkajian terhadap peraturan perundang- undangan, buku-buku dan bahan bacaan lainnya yang berkaitan dengan skripsi ini.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menurut hak perempuan terhadap tanah adat menurut Adat Perpatih di dalam Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 adalah suatu tanah adat akan diwarisi oleh perempuan manakala laki-laki hanya diberikan hak guna ke atas tanah adat tersebut. Dan sistem matrilineal juga membantu perempuan untuk melindungi hak perwarisannya terhadap tanah adat tersebut. Dan hukum perwarisan tanah melalui adat ini adalah dibenarkan oleh mufti Negeri Sembilan dan fatwa ini dikeluarkan pada tahun 2016.

Kata Kunci : Adat Perpatih, Sistem Matrilineal, Tanah Adat Pembimbing : Dr. H. Abdul Halim, M.Ag.

Daftar Pustaka : 1975 s.d. 2018

(6)

vi

PEDOMAN TRANSLITERASI

Hal yang dimaksud dengan transliterasi adalah alih aksara dari tulisan asing (terutama Arab) ke dalam tulisan Latin. Pedoman ini digunakan untuk beberapa istilah Arab yang belum dapat diakui sebagai kata dalam bahasa Indonesia atau lingkup penggunaannya masih terbatas.

a. Padanan Aksara

Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin:

Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

ا tidak dilambangkan

ب B be

ت T te

ث Ts te dan es

ج J je

ح H ha dengan garis bawah

خ Kh ka dan ha

د D de

ذ Dz de dan zet

ر R er

ز Z zet

س S es

ش Sy es dan ye

ص S es dengan garis bawah

ض D de dengan garis bawah

ط T te dengan garis bawah

(7)

vii

غ Gh ge dan ha

ف F ef

ق Q qo

ك K ka

ل L ef

م M em

ن N en

و W we

ه H ha

ء ` apostrof

ي Y ya

b. Vokal

Dalam bahasa Arab, vokal sama seperti dalam bahasa Indonesia, memiliki vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal atau monoftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

َ

A fathah

َ

I kasrah

َ

U dammah

(8)

viii

Sementara itu, untuk vokal rangkap atau diftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ي َ ai a dan i

و َ au a dan u

c. Vokal Panjang

Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ا َ Â a dengan topi di atas

ي َ Î i dengan topi di atas

و َ Û u dengan topi di atas

d. Kata Sandang

Kata sandang, dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf alif dan lam (لا), dialihaksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah atau huruf qamariyyah, misalnya:

داهتجلاا = al-ijtihâd

ةصخرلا = al-rukhsah, bukan ar-rukhsah

e. Tasydîd (Syaddah)

Dalam alih aksara, tasydîd atau syaddah dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah. Tetapi hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya:

ةعفشلا = al-syuf’ah, tidak ditulis asy-syuf’ah

(9)

ix

dengan kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “t”

(te) (lihat contoh 3).

No Kata Arab Alih Aksara

1 ةعيرش syarî’ah

2 ةيملاسلإا ةعيرشلا Al-syarî’ah al-islâmiyyah

3 بهاذملا ةنراقم Muqaranat al-madzâhib

g. Ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan

Huruf kapital tidak dikenal dalam tulisan Arab. Tetapi dalam transliterasi huruf ini tetap digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Perlu diketahui bahwa jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka huruf yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Contoh: يراخبلا = al-Bukhâri, tidak ditulis Al-Bukhâri.

Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal. Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meski akar kata nama tersebut berasal dari bahasa Arab. Misalnya: Nuruddin al-Raniri, tidak ditulis Nûr al-Din al-Rânîri.

h. Cara Penulisan Kata

Setiap kata, baik kata kerja (fi’il), kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas:

(10)

x

No Kata Arab Alih Aksara

1 تاروظحملا حيبت ةرورضلا al-darûrah tubîhu al-mahzûrat

2 يملاسلإا داصتقلاا al-iqtisad al-islâmî

3 هقفلا لوصأ usûl al-fiqh

4 ةحابلإا ءايشلأا يف لصلأا al-asl fî al-asyyâ` al-ibâhah

5 ةلسرملا ةحلصملا al-maslahah al-mursalah

(11)

xi

memberikan banyak karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini, baik secara moril maupun materil. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang besar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag, S.H, M.H, M.A., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Dr. Mesraini, M.Ag, selaku Ketua Program Studi Hukum Keluarga dan Bapak Ahmad Chairul Hadi, M.A. selaku Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga.

3. Bapak Dr. H. Abdul Halim, M.Ag., selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu serta memberikan arahan dan ilmunya selama penulis mengerjakan skripsi ini.

4. Ibu Dra. Maskufa, M.A., selaku dosen Penasihat Akademik yang sentiasa sedia menjawab segala masalah yang dihadapi penulis sepanjang penulis berada di sini.

5. Seluruh Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatulah Jakarta yang telah memberikan ilmunya beserta pengalaman kepada penulis sepanjang penulis berada di sini.

6. Bapak Ahmad Afian Abdul Kadir yang telah memberi buku dan membantu penulis dengan cara memberikan ide kepada penulis tentang apa yang harus dibahas dan dikaji tentang Adat Perpatih ini.

7. Keluarga penulis, ayahanda Raja Ideras Badiuzzaman bin Raja Mansor dan ibunda Norfadzillah binti Rambli yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melanjutkan kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan

(12)

xii

karena sentiasa mendoakan penulis dan menyemangati penulis sepanjang penulis berada di sini.

8. Adik beradik penulis karena telah membantu memberikan ide dan cara kepada penulis untuk mengerjakan kajian ini.

9. Tunang penulis yaitu Siti Nasuha binti Jefri karena sentiasa menyemangati penulis tanpa mengira lelah sepanjang penulis berada di sini dan karena sentiasa memberi solusi terhadap semua masalah yang dihadapi penulis.

Diharapkan dengan lulusan penulis dari sini akan mendekatkan lagi tempoh pernikahan kita.

10. Auntie J dan Uncle Wan karena telah memberikan bantuan keuangan kepada penulis sepanjang penulis berada di sini. Tanpa mereka, perjalanan kuliah penulis di sini akan menjadi lebih sulit.

11. Megat Ahmad Najeeb Bin Amir Sharifuddin dan keluarga karena sentiasa memfasilitas kepada penulis serta membantu penulis mencari bahan kajian sepanjang penulis melakukan kajian ini.

12. Mohammad Ali Haidar yang telah membantu penulis di dalam semua aspek dari proses konversi nilai sehingga penyusunan skripsi ini. Segala bantuannya amat penulis hargai.

13. Terima kasih juga kepada semua sahabat Malaysia penulis yang berada di sini. Keberadaan mereka menjadikan suasana belajar di sini menjadi lebih enak dan nyaman. Perjalanan, kenangan dan pengalaman bersama mereka sepanjang penulis di sini tidak akan penulis lupakan.

14. Akhir kata, terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat penulis nyatakan satu persatu di sini. Terima kasih karena telah membantu penulis sepanjang penulis berada di sini.

Jakarta, 17 Januari 2020

Penulis

(13)

xiii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... iv

ABSTRAK ... v

PEDOMAN TRANSLITERASI ... vi

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi, Pembatasan, Perumusan Masalah... 2

1. Identifikasi Masalah ... 2

2. Pembatasan Masalah ... 2

3. Perumusan Masalah ... 3

C. Tujuan dan Manfaat Penelitan ... 3

1. Tujuan Penulisan... 3

2. Manfaat Penulisan... 3

D. Kajian Terdahulu ... 4

E. Kerangka Teori dan Konseptual ... 5

F. Metode Penulisan ... 7

1. Jenis Penulisan ... 7

2. Pendekatan Penulisan ... 7

3. Sumber dan Jenis Data ... 7

4. Teknik Pengumpulan Data... 7

(14)

xiv

5. Analisis Data ... 8

G. Sistematika Penulisan ... 8

BAB II SEJARAH ENAKMEN PEMEGANGAN ADAT BAB 215 DI NEGERI SEMBILAN ... 9

A. Sistem Torrens di Malaysia ... 9

1. Negeri-Negeri Selat ... 10

2. Negeri-Negeri Melayu Bersekutu ... 12

3. Negeri-Negeri Melayu Tidak Bersekutu... 15

B. Sejarah Pembentukan Undang-Undang Tanah di Negeri Sembilan ... ... 16

C. Revolusi Enakmen Pemegangan Tanah Adat Bab 215 di Negeri Sembilan ... 18

BAB III PANDANGAN ISLAM TERHADAP PERWARISAN PEREMPUAN DI DALAM TANAH ADAT MENURUT ENAKMEN PEMEGANGAN ADAT BAB 215 ... 27

A. Hukum Waris dalam Islam ... 27

1. Pengertian ... 27

2. Dasar Hukum Waris... 29

3. Rukun Waris ... 34

4. Syarat Waris ... 35

5. Sebab-Sebab Mewarisi ... 37

6. Sebab-Sebab Menghalangi Mewarisi ... 39

7. Tertib Para Waris Dalam Menerima Pusaka ... 42

B. Pandangan Islam Terhadap Amalan Pewarisan Perempuan Terhadap Tanah Adat (Pusaka Tinggi) Menurut Enakmen Pemegangan Adat Bab 215. ... 49

(15)

xv

Tanah Adat (Pusaka Tinggi) ... 51

3. Golongan Yang Menerima Amalan Pewarisan Tanah Adat (Pusaka Tinggi) ... 53

BAB IV HAK-HAK PEREMPUAN TERHADAP TANAH ADAT MENURUT ADAT PERPATIH DI DALAM ENAKMEN PEMEGANGAN ADAT BAB 215 NEGERI SEMBILAN ... 58

A. Penjelasan Mengenai Adat Perpatih ... 58

B. Hak Perempuan Terhadap Tanah Adat Menurut Adat Perpatih di Dalam Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 Negeri Sembilan ... 61

C. Peran Adat Perpatih dalam Melindungi Hak Perempuan Terhadap Tanah Adat Di Dalam Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 ... 66

D. Kedudukan Laki-laki dalam Pewarisan Tanah Adat Mengikut Adat Perpatih ... 71

BAB V PENUTUP ... 74

A. Kesimpulan ... 74

B. Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 77

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di dalam pewarisan harta, dikenali dua jenis harta yaitu harta pusaka benar dan harta pusaka sendiri. Harta pusaka benar adalah harta pusaka yang menjadi milik suku yang lazimnya terdiri daripada tanah-tanah desa, sawah, kebun, dan rumah yang diwarisi dari ibu yang terletak di atas tanah pusaka.

Dan harta pusaka sendiri adalah harta warisan perempuan daripada emak atau bapa baik berupa pakaian atau barang-barang kemas. Harta pusaka sendiri ini dapat dibagikan kepada anak laki-laki dan anak perempuan menurut jenis barang-barang kemas dan seumpamanya.1 Harta pusaka sendiri juga turut dikenali sebagai pusaka waris.2Jenis harta yang ingin dibahas oleh penulis di sini adalah daripada jenis harta pusaka benar.

Harus diketahui bahwa adat ini mengamalkan sistem matrilineal dan sistem ini turut digunapakai di dalam menentukan hak pemilikan harta warisan terutama di dalam hal yang berkaitan dengan tanah Adat. Adapun yang ingin dibahas oleh penulis adalah terkait pembagian tanah adat menurut Adat Perpatih ini di dalam Enakmen Pemegangan Adat Bab 215. Hal ini karena, harta selain daripada tanah tidak dibagikan melalui sistem matrilineal tetapi sesuai dengan aturan pembagian secara islam di dalam ilmu faraidl.3 Pada Pasal 24 di dalam Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 dinyatakan bahwa tanah adat itu akan diwariskan kepada waris sesuai menurut Adat Perpatih.4 Maka penulis di sini akan membahas tentang hak perempuan menurut Adat

1 Abdullah Siddik, Pengantar Undang-Undang Adat di Malaysia, (Kuala Lumpur:

Universiti Malaya, 1975) h. 116.

2 Nor Hasiah binti Harun, Nilai Etika Dalam Perbilangan Adat Perpatih Menurut Pandangan Islam, (Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia, 1990), h. 53

3 Amir Husin Mohd Nor dkk., Cadangan Pembangunan Model Adat Perpatih Patuh Syariah di Malaysia: Satu Tinjauan Awal, h. 6

4 Customary Tenure Enactment Chapter 215.

(17)

Perpatih sesuai dengan apa yang diperuntukkan oleh Enakmen Pemegangan Adat Bab 215.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis memilih juduh “Perlindungan Hak Perempuan di Dalam Keluarga (Studi Terhadap Adat Perpatih di Negeri Sembilan)” karena untuk melihat apakah hak perempuan menurut Adat ini beserta sejauh manakah pelaksanaan adat ini untuk memastikan hak perempuan tersebut dijaga dan bagaimana bagaimana pandangan Islam menurut adat itu sendiri.

B. Identifikasi, Pembatasan, Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang sebagaimana diungkapkan di atas, terdapat sejumlah permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut:

a. Apakah pandangan kaum laki-laki terhadap Adat Perpatih?

b. Apakah kepentingan Adat Perpatih terhadap perempuan?

c. Apakah terdapat permasalahan di dalam melaksanakan adat ini?

d. Apakah ada pertentangan dari pihak laki-laki ketika pelaksanaan adat ini?

e. Apa yang menjadi faktor adat ini dalam mengutamakan hak perempuan?

f. Apakah pelaksanaan adat ini sama dengan teorinya?

g. Apakah pelaksanaan adat ini berpotensi untuk melanggar syara’?

h. Sejauh manakah pemberlakuan adat ini dalam menjamin hak perempuan?

2. Pembatasan Masalah

Memandangkan ruang lingkup perbahasan Adat adalah luas, maka penulis hanya membatasi penulisan mengenai Adat Perpatih di Negeri Sembilan di dalam Undang-Undang Adat Tanah yang melibatkan hak perempuan. Harus diketahui bahawa adat ini hanya digunakan di Negeri Sembilan dan Naning di Melaka. Maka penulis memilih Negeri Sembilan karena penggunaan adat ini yang lebih meluas di sana dan lebih

(18)

3

memudahkan penulis untuk memperoleh bahan penelitian di Negeri Sembilan tersebut.

3. Perumusan Masalah

Adapun antara rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

a. Apa saja hak perempuan menurut Adat Perpatih yang terdapat di dalam Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 dan bagaimana Adat ini melindungi hak perempuan tersebut?

b. Mengapa laki-laki tidak memperoleh perwarisan terhadap tanah adat?

c. Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap hak laki-laki dan perempuan dalam hal kepemilikan tanah menurut Enakmen Pemegangan Adat Bab 215?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitan 1. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk:

a. Untuk mengetahui apa saja hak perempuan menurut Adat Perpatih yang terdapat di dalam Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 dan kaidah yang digunakan oleh Adat ini untuk melindungi hak tersebut.

b. Untuk mengetahui alasan laki-laki tidak memperoleh warisan terhadap tanah adat.

c. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam terhadap hak laki-laki dan perempuan dalam hal kepemilikan tanah menurut Enakmen Pemegangan Adat Bab 215?

2. Manfaat Penulisan

Hasil Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis yaitu:

a. Secara teoritis diharapkan dapat diketahui hak perempuan terhadap tanah adat seperti yang terdapat di dalam Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 dan bagaimana Adat Perpatih dalam mengekalkan hak perempuan tersebut.

(19)

b. Secara praktis, penulisan ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran atau masukan bagi pengembangan ilmu hukum khususnya yang terkait dengan Adat Perpatih di Negeri Sembilan.

D. Kajian Terdahulu

1. Jurnal - Journal of Islamic Law Review, Vol. 10, No. 1 entitled “ Codification of Customary practice for promoting Muslim Women’s Right to Land and Property: A Case Study of The Harta Sepencarian Rule in Malaysia” di mana jurnal ini membahas tentang undang-undang adat sebagai suatu cara bagi perempuan memperoleh tanah dan harta. Selain itu, jurnal ini juga membahas tentang keberkesanan adat di dalam masyarakat adalah tergantung kepada kesadaran masing-masing individu.

Jurnal ini juga membahas tentang perubahan hukum adat dalam memberi perlidungan kepada hak harta perempuan di Malaysia dengan cara penggabungan hukum adat dengan undang-undang syariah. Sedangkan apa yang ingin dibahas oleh penulis adalah hak perempuan itu sendiri menurut Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 beserta pandangan hukum Islam terhadap pemakaian adat itu sendiri.

2. Skripsi berjudul “Kajian Terhadap Pembangunan Tanah Adat Perpatih di Negeri Sembilan” di mana skripsi ini menceritakan tentang kebolehan untuk membina pembangunan di atas tanah adat yang menjadi hak perempuan dan seterusnya mengkaji tentang nilai tanah adat itu sendiri.

Apakah status kedudukan tanah adat itu serta perbedaan tanah adat dengan tanah rizab? Selain itu, skripsi ini juga mengkaji tentang apakah sikap sosial masyarakat melayu Negeri Sembilan yang masih berpegang teguh dengan Adat Perpatih yang mengakibatkan Tanah Adat tersebut menjadi terbiar. Akan tetapi, perkara yang akan dibahas oleh penulis di dalam kajian ini adalah terkait peran, alasan beserta situasi di mana lelaki diharuskan membina rumah di atas tanah adat tersebut

3. Jurnal – Malaysian Journal of Society and Space XI Issue 2 entitled “ Perempuan Perpatih dan Keusahawanan di Negeri Sembilan: Suatu

(20)

5

Tinjauan Geografi Sejarah” di mana jurnal ini menceritakan tentang keberhasilan para perempuan dalam mengembangkan ekonomi dan keusahawanan dengan menggunakan tanah adat pada masa lalu yaitu sebelum penjajahan Inggris. Kajian ini menunjukkan bahwa Adat Perpatih memberikan impak yang besar terhadap perempuan pada masa dahulu dalam menjadikan mereka mandiri sehingga mereka menjadi usahawan yang berjaya. Sedangkan perkara yang akan dibahas oleh penulis di dalam kajian ini adalah terkait kedudukan perempuan terhadap tanah adat itu sendiri dan bagaimana adat ini mampu memelihara hak perempuan tersebut.

E. Kerangka Teori dan Konseptual 1. Pengertian Gender

Gender merupakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan di dalam hal yang menyangkut peran, fungsi, hak, tanggung jawab dan perilaku yang mana kesemuanya dibentuk oleh nilai sosial, budaya dan adat yang berbeda serta dapat berubah berdasarkan kondisi. Hasilnya,tuntutan peran, tugas, kewajiban di antara laki-laki dan perempuan dibedakan dari masyarakat ke masyarakat lainnya.5

2. Konsep kesetaraan dan keadilan gender di dalam keluarga

Akses yang diartikan sebagai kapasitas di dalam menggunakan sumberdaya supaya dapat berpartisipasi di dalam massyarakat secara sosial, ekonomi dan politik.

Partisipasi di antara suami istri di dalam proses pengambilan keputusan atas penggunaan sumberdaya keluarga secara demokratis.

Kontrol yaitu kedua laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan penguasaan yang sama di dalam sumberdaya keluarga.

5 Herien Puspitawati, Konsep, Teori, dan Analisis Gender, (Bogor: PT IPB Press, 2012), h., 1.

(21)

Manfaat yaitu semua aktivitas keluarga harus mempunyai manfaat yang sama bagi seluruh anggota keluarganya.6

3. Teknik Analisis Gender Model Moser

Teknik yang didasarkan kepada pendekatan pembangunan dan gender yang berdasarkan pada pendekatan perempuan dalam pembangunan ini dikembangkan oleh Caroline Moser.

Tujuannya adalah untuk memengaruhi kemampuan perempuan untuk melibatkan diri dalam intervensi yang telah direncanakan serta membantu perencanaan untuk memahami perbedaan kebutuhan di antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, ianya juga bertujuan untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan melalui kebutuhan praktis setiap laki-laki dan perempuan.

Terdapat beberapa alat di dalam teknik ini yaitu, alat 1 yang dilakukan dengan mengidentifikasi peranan gender yang mencakup peran produktif, reproduktif dan kemasyarakatan. Alat 2 yang dilakukan dengan menilai kebutuhan gender secara praktis (kebutuhan kehidupan sehari- hari) maupun secara stategis (keadaaan yang dibutukan untuk mengubah posisi subordinat perempuan seperti penyusunan jaminan hukum terhadap hak-hak legal, penghapusan tindak kekerasan, upah yang sama, kesetaraan dalam memiliki properti dan sebagainya).

Alat 3 yaitu peran diantara suami istri dalam pengambilan keputusan dalam rumahtangga. Alat 4 yang dilakukan dengan cara menyeimbangkan peran gender di dalam tugas produktif, reproduktif dan kemasyarakatan antara laki-laki dan perempuan.. Adapun pelaksanaan alat 4 ini adalah dilakukan dengan cara menyeimbangkan peran di dalam gender. 7

6 Herien Puspitawati, Konsep, Teori, dan Analisis Gender, (Bogor: PT IPB Press, 2012), h., 6.

7 Herien Puspitawati, Konsep, Teori, dan Analisis Gender, (Bogor: PT IPB Press, 2012), h., 12-13.

(22)

7

F. Metode Penulisan 1. Jenis Penulisan

Jenis penulisan yang akan digunakan di dalam penulisan ini adalah penulisan kualitatif yaitu sebuah penulisan yang akan menghasilkan data- data deskriptif dan data yang berupa narasi.

2. Pendekatan Penulisan

Pendekatan pendekatan yang digunakan di dalam penulisan hukum adalah pendekatan undang-undang (statute approach). Pendekatan undang- undang (statute approach) dilakukan dengan mengkaji semua undang- undang dan pengaturan yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.

Statue Approch dalam penulisan ini ialah Adat perpatih, Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 dan Perlembagaan Persekutuan.

3. Sumber dan Jenis Data

Pengumpulan data dalam penulisan ini akan dilakukan bersesuaian dengan fokus dan tujuan penulisan. Adapun sumber data yang akan digunakan dalam penulisan ini terbagi kepada dua yaitu:

a. Data Hukum Primer: Yaitu Adat Perpatih, Enakmen Pemegangan Adat Bab 215, dan Perlembagaan Persekutuan.

b. Data Hukum Sekunder: Yaitu data yang diperoleh dengan cara penulisan kepustakaan yang dilakukan dengan cara penelusuran literatur, hasil-hasil penulisan dan peraturan perundang-undangan.

4. Teknik Pengumpulan Data

Adapun metode yang akan digunakan dalam pegumpulan data adalah dokumen primer dan dokumen sekunder beserta kajian pustaka.

(23)

5. Analisis Data

Berdasarkan data-data tersebut, penulis kemudiannya akan membuat kesimpulan yang bertujuan untuk menjawab semua rumusan masalah yang ada di mana analisisnya dilakukan secara kualitatif yaitu penguraian data yang dilakukan secara deskriptif dan narasi.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembahasan dalam penulisan, skripsi ini dibagi atas lima bab yang saling berkaitan satu sama lain.

Bab pertama dalam penulisan ini berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode penulisan, review studi terdahulu dan sistematika penulisan.

Kemudian pada bab kedua, membahas tentang sejarah kemasukan serta perkembangan Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 di Negeri Sembilan.

Selanjutnya pada bab ketiga, penulis akan membahas tentang pewarisan menurut Islam dan pandangan Islam terhadap perwarisan adat menurut Enakmen Pemegangan Adat Baab 215.

Selanjutnya di bab 4, penulis akan membahas mengenai hak perempuan di dalam adat ini sesuai dengan peruntukan di Enakmen Pemegangan Adat Bab 215 beserta bagaimana adat tersebut dalam mengekalkan hak perempuan.

Penulis juga akan membahas mengenai alasan kenapa laki-laki tidak di benarkan mewarisi tanah adat.

Adapun pada bab lima, penulis akan menjelaskan mengenai hasil dari kajian, penutup dan saran.

(24)

9

BAB II

SEJARAH ENAKMEN PEMEGANGAN ADAT BAB 215 DI NEGERI SEMBILAN

A. Sistem Torrens di Malaysia

Sistem Torrens merupakan suatu sistem yang diperkenalkan oleh Inggris yang bertujuan untuk mewujudkan suatu sistem pendaftaran yang lengkap dengan maksud untuk mewujudkan satu pegangan hak milik yang tidak boleh dinafikan.1 Dalam arti kata lain, Sistem Torrens mementingkan pendaftaran hak milik tanah demi mengelakkan unsur penipuan atau pemalsuan hak milik tanah seseorang.2

Untuk memahami sejarah perkembangan undang-undang tanah di Malaysia, pertama sekali harus memahami tentang sejarah penjajahan Inggris ke atas tanah Melayu. Hal ini karena sistem Torrens ini dibawa ke tanah Melayu pada zaman penjajahan Inggris. Di dalam penjajahan Ingris di Tanah Melayu, Inggris telah membagikan Tanah Melayu kepada tiga bagian yaitu Negeri- Negeri Selat yang terdiri daripada Pulau Pinang, Melaka dan Singapura, Negeri Melayu Bersekutu yang terdiri daripada Pahang, Perak, Selangor dan Negeri Sembilan, dan Negeri Melayu tidak Bersekutu yang terdiri daripada Perlis, Kedah, Kelantan, Terengganu dan Johor. 3

1 Ridzuan Awang, Undang-Undang Tanah Islam Pendekatan Perbandingan, ( Selangor:

Perpustakaan Negara Malaysia, Cetakan Pertama, 1994 ), h. 70.

2 Hendun Abdul Rahman Shah, dkk, “Dinamika Undang-Undang Tanah Adat di Negeri Sembilan: Kajian Perkembangan dan Isu Undang-Undang”, Malaysian Journal of Syariah and Law, Vol. V, 2017, h. 6

3 Rabi’ah Binti Muhammad Serji, “Application of Islam And Malay Customs In Torrens Sistem In Malaysia”, Al-Irsyad: Journal of Islamic And Contemporary Issues, Vol. I, 2016, h. 14.

(25)

1. Negeri-Negeri Selat

Penggunaan undang-undang Inggris di Negeri Selat bermula apabila Pulau Pinang dipajak oleh Syarikat Hindia Timur Inggris daripada Sultan Kedah. Pulau Pinang pada waktu itu merupakan bagian daripada provinsi Kedah yang diperintah oleh sultan. Adapun cara penyerahan Pulau Pinang kepada Inggris adalah dengan cara sewaan dan bukannya sebagai suatu wilayah yang diduduki. Dan penyerahan itu dilakukan pada tahun 1791.

Berdasarkan norma undang-undang antarabangsa, undang-undang yang harus digunakan di Pulau Pinang adalah undang- undang tempatan yaitu Undang-undang Islam beserta adat Melayu yang bersesuaian dengan undang-undang yang dipakai oleh Negeri Kedah. Akan tetapi, undang- undang yang dipakai di Pulau Pinang pada waktu itu adalah undang-undang yang dibawa oleh Inggris. Hal ini adalah rentetan daripada kasus Ong Cheng Neo melawan Cheah Neo pada tahun 1872 di mana Majelis Privi telah menyatakan bahwa Pulau Pinang “tidak didiami orang” pada waktu kedatangan Inggris. Antara inti daripada kasus tersebut adalah:4

“Disebabkan Pulau Pinang dikira sebagai sebuah kawasan yang tidak mempunyai undang-undang sendiri sebelum kedatangan Syarikat Hindia Timur, maka tidak perlu lagi untuk mempertimbangkan bahwa Pulau itu sebagai satu wilayah yang diserah atau diduduki. Oleh itu, Undang- undang Inggris hendaklah dianggap sebagai undang-undang yang digunapakai di kawasan itu setelah undang tersebut telah disesuaikan dengan keadaan setempat.”

Adapun justifikasi Inggris untuk menggunakan undang-undang yang dibawa oleh mereka di Pulau Pinang adalah karena pulau tersebut dinggap tidak berpenghuni sedangkan pada asalnya, Pulau tersebut disewa oleh

4 Rabiah Muhammad Serji, “Application of Islam and Malay Customs in Torrens Sistem in malaysia”, Al-Irsyad: Journal of Islamic and Contemporary Issues, Vol I, 2016, h. 14.

(26)

11

Inggris daripada Sultan Kedah. Perbuatan Inggris ini seperti menidakkan hak Sultan Kedah dan undang-undang Kedah ke atas Pulau Pinang.5

Adapun situasi yang terjadi di Melaka adalah berbeza dengan apa yang terjadi di Pulau Pinang. Sebelum penjajahan Portugis dan Belanda pada abad ke-16 dan 17, Melaka merupakan sebuah provinsi yang dikuasi oleh Sultannya sendiri. Pada waktu Inggris mengambil alih Melaka daripada Pihak Belanda, Melaka telah mempunyai undang-undang tempatannya yang tersendiri. Adapun pengambil alihan yang terjadi adalah berdasarkan perjanjian Inggris-Belanda yang berlaku pada tahun 1824.6

Dan berdasarkan keputusan mahkamah di dalam kasus Sahrip menetang Mitchell dan Anor pada tahun 1870, jelas menunjukkkan bahwa undang-undang tanah yang dipakai merupakan campuran antar adat Melayu dan undang-undang Islam. Akan tetapi, penggunaan undang-undang tesebut di Melaka telah berakhir pada tahun 1861. Peggunaan undang-undang itu berakhir apabila suatu undang-undang baru telah diluluskan oleh penadbir Inggris yang memerintah Melaka pada waktu itu. Berdasarkan undang- undang baru tersebut, semua tanah yang belum dihapuskan di negeri Melaka telah dinyatakan menjadi milik pemerintah sesuai dengan undang-undang tanah Inggris yang diguna pakai di England pada masa itu. 7

Pada tahapan awal, Pulau Pinang dan Melaka menggunakan undang- undang tanah yang dikenali sebagai Sistem Surat Ikatan Inggris. Undang- undang tanah di Pulau Pinang dan Melaka kemudiannya telah berubah kepada sistem Torrens dan hal ini dilakukan atas dasar penyeragaman undang-undang tanah di antara dua provinsi itu.8

5 Rabiah Muhammad Serji, “Application of Islam and Malay Customs in Torrens Sistem in malaysia”, Al-Irsyad: Journal of Islamic and Contemporary Issues, Vol I, 2016, h. 14.

6 Rabiah Muhammad Serji, “Application of Islam and Malay Customs in Torrens Sistem in malaysia”, Al-Irsyad: Journal of Islamic and Contemporary Issues, Vol I, 2016, h. 14.

7 Rabiah Muhammad Serji, “Application of Islam and Malay Customs in Torrens Sistem in malaysia”, Al-Irsyad: Journal of Islamic and Contemporary Issues, Vol I, 2016, h. 15.

8 Rabiah Muhammad Serji, “Application of Islam and Malay Customs in Torrens Sistem in malaysia”, Al-Irsyad: Journal of Islamic and Contemporary Issues, Vol I, 2016, h. 14-15.

(27)

2. Negeri-Negeri Melayu Bersekutu

Kesemua sebelas buah provinsi di Malaysia telah mengamalkan sistem undang-undang tanah yang sama mulai Januari 1966, yang dikenali sebagai Sistem Torrens atau Sistem Pendaftaran Hak Milik. Sistem Torens telah diperkenalkan buat pertama kali di Negeri-negeri Melayu bersekutu sewaktu kemasukan Inggris di negeri tersebut.9 Sistem ini didasarkan pada Real Property Act 1857 yang berasal dari Australia Selatan dan ianya mempunyai ciri-ciri Sistem Torrens yang di New Zealand dan Fiji. Sistem Torrens mula diperkenalkan di semenanjung tanah Melayu pada tahun 1864.10

Sebelum penggunaan sistem Torrens di Negeri Melayu Bersekutu, undang-undang yang digunakan di Provinsi Selangor, Perak dan Pahang adalah undang-undang Islam dan undang-undang yang digunakan di Negeri Sembilan adalah undang-undang adat. Akan tetapi, penggunaan undang- undang Islam dan Adat ini mula dihapuskan dan diganti oleh sistem Torrens selepas kedatangan penadbir Inggris di Negeri Melayu Bersekutu.11 Dan kemasukan pengaruh british ke Negeri Sembilan adalah secara bertahap disebabkan tumpuan British pada waktu itu adalah lebih tertumpu di kawasan yang kaya dengan sumber galian.12

Sistem Torrens yang diamalkan di keempat-empat Negeri Melayu Bersekutu sebelum tahun 1911 adalah tidak seragam dan mempunyai ciri yang berlainan. Walau bagaimanapun, peraturan ini kemudiannya dibentuk menjadi sebuah undang-undang yang digunakan oleh Negeri-negeri Melayu

9 Salleh Buang , Malaysian Torrens Sistem, ( Selangor: Perpustakaan Negara Malaysia, 2001), h. 9

10 Ridzuan Awang, Undang-Undang Tanah Islam Pendekatan Perbandingan, ( Selangor:

Perpustakaan Negara Malaysia, Cetakan Pertama, 1994 ), h. 59-60

11 Rabiah Muhammad Serji, “Application of Islam and Malay Customs in Torrens Sistem in malaysia”, Al-Irsyad: Journal of Islamic and Contemporary Issues, Vol I, 2016, h. 16.

12 Ishak Yussof dkk. “The Implementation of Customary Tenure Enactment (CTE) in Colonial Time and Effects on The Administration of Customary Land in Negeri Sembilan”, Kajian Malaysia, Vol. 33, No. 1, 2015, h. 71.

(28)

13

Bersekutu dan diperluaskan penggunaannya kepada Negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu secara bertahap.13

Antara Peraturan yang terdapat di Negeri-negeri Melayu Bersekutu adalah:

1. Peraturan-peraturan Pelupusan Tanah Selangor Tahun 1877, yang mempunyai ciri berikut:

a. Tanah negeri boleh diberi milik bagi tempoh waktu maksimum selama 99 tahun dengan bayaran premium dan cukai tanah tahunan.

b. Tanah itu boleh diberi milik bagi tujuan pertanian, pembangunan atau tujuan tertentu.

c. Adapun tanah yang diberi milik bagi tujuan pertanian haruslah diusahakan di dalam tempoh waktu yang diberikan oleh undang- undang.

2. Peraturan-peraturan Khusus Pajakan Tanah Terbiar, tahun 1879 di Perak dan Selangor. Peraturan ini mempunyai ciri berikut:

a. Tanah pertanian diberi milik selama 99 tahun.

b. Bayaran premium dan cukai tanah tahunan hendaklah dibayar terhadap pemberian milik itu.

3. Peraturan-peraturan Tanah Am tahun 1879 dan 1885 bagi Negeri Perak dan tahun 1882 bagi Negeri Selangor serta tahun 1887 bagi Negeri Sembilan (Sungai Ujong). Antara ciri yang terdapat dalam peraturan ini adalah:

a. Pemberian milik boleh berlaku terhadap empat jenis tanah yaitu tanah pertanian, bandar, kampung dan tanah lombong.

b. Pemberian milik tanah pertanian adalah melalui sewaan selama 99 tahun atau sertifikat pemilikan tanah untuk selama-lamanya yang terikat kepada bayaran cukai tahunan dan tanaman yang dibenarkan atau yang ditetapkan oleh undang-undang.

13 Salleh Buang , Malaysian Torrens Sistem, ( Selangor: Perpustakaan Negara Malaysia, 2001), h. 9

(29)

4. Kanun Tanah (Land Code) tahun 1891 di Selangor mengenai kepentingan sewaan dan mempunyai bagian yang khusus bagi pegangan bumiputera. 14

5. Enakmen Pendaftaran Hak Milik (Registration of Titles Regulatios) tahun 1891 di Selangor, 1897 di Pahang dan Perak, 1898 di Negeri Sembilan. Antara ciri utama enakmen ini adalah:

a. Semua tanah terletak pada sultan yang berkuasa memberi hak kepemilikan sama ada untuk selamanya atau untuk suatu jangka waktu yang tidak melebihi 99 tahun.

b. Kewujudan hak milik yang tidak boleh diragukan yang mana ianya pertama kali diperkenalkan di Malaysia.

c. Segala kesepakatan bisnis terkait tanah hendaklah dilakukan menurut ketentuan undang-undang sehingga urusan yang dilakukan tanpa mengikut undang-undang dianggap batal.

d. Kesepakatan bisnis tanpa pendaftaran seperti sewaan, dan cagaran hanya dianggap sah sekiranya tidak melebihi tiga tahun.15

Enakmen Pendaftaran Hak Milik (Registration of Titles Enactment) ini telah diamendemen sebanyak dua kali yaitu pada tahun 1903 dan 1909.16

Kemudian, pada tahun 1911 telah diluluskan dua undang-undang tanah yang sama di seluruh Negeri-negeri Melayu Bersekutu yaitu Enakmen Tanah tahun 1911 yang berdasarkan Ordinan tanah Melaka 1886 dan Enakmen Pendaftaran Hak Milik tahun 1911. Enakmen Tanah tahun 1911 pada asanya adalah untuk pendaftaran tanah desa yang kurang dari 100 hektar manakala Enakmen Pendaftaran Hak Milik adalah tentang pendaftaran tanah yang melebihi 100 hektar. Kedua-dua undang-undang ini

14 Ridzuan Awang, Undang-Undang Tanah Islam Pendekatan Perbandingan, ( Selangor:

Perpustakaan Negara Malaysia, Cetakan Pertama, 1994 ), h. 60-62.

15 Salleh Buang , Malaysian Torrens Sistem, ( Selangor: Perpustakaan Negara Malaysia, 2001), h. 9-10

16 Ridzuan Awang, Undang-Undang Tanah Islam Pendekatan Perbandingan, ( Selangor:

Perpustakaan Negara Malaysia, Cetakan Pertama, 1994 ), h. 62-63

(30)

15

masih kekal dan digunakan sehinggalah undang-undang tersebut diamendemen oleh Kanun Tanah 1926 yang mula digunakan pada Januari 1928 dan dinamakan sebagai Kanun Tanah 1928.17

Kanun Tanah 1928 kemudiannya mengalami perubahan sambil mengekalkan dua kategori tanah di dalam undang-undang tersebut. Adapun antara perubahan yang dilakukan terhadap Kanun Tanah 1928 tersebut adalah pengekalan Undang-undang tanah adat di dalam Adat Pepatih.18

Kanun Tanah 1928 tersebut kemudiannya menjadi asas di dalam pembentukan Kanun Tanah Negara yang kemudiannya menjadi undang- undang yang diamalkan di seluruh Semenanjung Malaysia yang mulai digunakan pada 1 Januari 1966.19

3. Negeri-Negeri Melayu Tidak Bersekutu

Pengaruh British di dalam 5 Negeri-Negeri Melayu Tidak Bersekutu adalah lebih telat dibandingkan dengan 4 Negeri-Negeri Melayu Bersekutu.

Ini disebabkan oleh bagian utara Kedah dan Perlis pada waktu itu masih berada di bawah pengaruh Raja Siam dan hal ini adalah sama terhadap Kelantan dan Terengganu. Cuma di Kelantan dan Terengganu, pengaruh Raja Siam adalah tidak sekuat seperti di Kedah dan Perlis. Dan pada tahun 1909, telah berlaku suatu perjanjian di antara Inggris dan Kerajaan siam yang dinamakan Perjanjian Bangkok.20 Akibat daripada perjanjian ini, Inggris dibenarkan untuk meletakkan seorang Penasehat atau Residen Inggris di Setiap Negeri Melayu Tidak Bersekutu.21 Inggris akhirnya berjaya menguasai keempat-empat negeri tersebut daripada Siam. Johor

17 Salleh Buang, Malaysian Torrens Sistem, ( Selangor: Perpustakaan Negara Malaysia, 2001), h. 10

18 Salleh Buang, Malaysian Torrens Sistem, ( Selangor: Perpustakaan Negara Malaysia, 2001), h. 10

19 Ridzuan Awang, Undang-Undang Tanah Islam Pendekatan Perbandingan, ( Selangor:

Perpustakaan Negara Malaysia, Cetakan Pertama, 1994 ), h. 63-64

20 Salleh Buang, Malaysian Torrens Sistem, ( Selangor: Perpustakaan Negara Malaysia, 2001), h. 8-9.

21 Rabiah Muhammad Serji, “Application of Islam and Malay Customs in Torrens Sistem in malaysia”, Al-Irsyad: Journal of Islamic and Contemporary Issues, Vol I, 2016, h. 16.

(31)

adalah negeri terakhir yang berada di bawah pengaruh British, meskipun begitu, Sultan Johor masih mengekalkan hubungan baik dengan Raja British. Pada akhirnya, Sistem Torrens dapat diperkenalkan dan dilaksanakan di Negeri-Negeri Melayu Bersekutu22

B. Sejarah Pembentukan Undang-Undang Tanah di Negeri Sembilan

Pengaruh British yang berkembang di Negeri Sembilan adalah secara bertahap dan hal ini dikarenakan minat Inggris yang hanya tertumpu kepada hasil galian bijih. Sebagai contoh, kemasukan British di Negeri Sembilan adalah bermula daripada Sungai Ujong yaitu pada 10 Oktober 1874. Dan hal ini dikarenakan hasil bijih yang terbanyak di negeri Sembilan adalah di Sungai Ujong. Kemudian pengaruh British meluas ke Jelebu pada tahun 1883, juga disebakan jumlah bijih yang terdapat di Kawasan itu. Dan selepas daripada itu, British meluaskan pengaruhnya di Kuala Pilah yaitu suatu wilayah adat yang mempunyai jumlah bijih yang banyak. Tidak lama selepas itu, British juga telah menawan Rembau. Dan pada tahun 1889, Rembau dan Kuala Pilah berada di bawah pemerintahan Inggris dan diperintah oleh seorang Pegawai Tadbir yang digelar sebagai Residen Negeri Sembilan. Sedangkan Sungai Ujong dan Jelebu berada di bawah pengaturan yang bebeda. Pada tahun 1891, daerah pengaturan ini telah disatukan di bawah satu persekutuan yaitu Negeri Sembilan. Negeri Sembilan ini pula kemudiannya ditadbir oleh seorang Residen British yang bertanggungjawab ke atas semua urusan kecuali urusan yang terkait agama dan adat istiadat orang Melayu.23

Suatu sistem birokrasi telah diwujudkan oleh Inggris setelah perjanjian penyerahan kuasa dibuat. Dan untuk tujuan memudahkan lagi sistem pengaturan, Pihak Inggris telah memisahkan daerah pengaturan kepada beberapa mukim yang mana di setiap mukim tersebut, telah diwujudkan jawatan Penghulu Mukim dan di setiap desa diwujudkan jawatan Kepala Desa. Adapun

22 Salleh Buang, Malaysian Torrens Sistem, ( Selangor: Perpustakaan Negara Malaysia, 2001), h. 9.

23 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 42.

(32)

17

kedua jawatan tersebt adalah dikhaskan buat bumiputra karena dasar yang dibawa oleh British adalah “Bumiputra sebaiknya ditadbir oleh bumiputra sendiri.” Adapun tujuan utama pihak Inggris menyusun sistem pengaturan tersebut adalah untuk mewujudkan suatu pengaturan yang lebih jelas, teratur, cekap dan berkesan. Bagi pengaturan tanah, Penadbir Inggris telah menyusun ulang sistem pengaturan tanah dengan mengadakan penyesuaian undang- undang tanah dari semasa ke semasa. Hal ini bertujuan bagi mewujudkan suatu undang-undang tanah yang lengkap sekaligus menjaga kepentingan ekonomi mereka dan melaksanakan tanggungjawab sebagai pelindung pada soal agama dan adat orang Melayu.24

Sistem pengaturan tanah yang dibentuk oleh British adalah dengan cara penguasaan penuh terhadap tanah melalui ketentuan dalam perjanjian yang dibuat bersama pembesar-pembesar tempatan. Dengan itu, semua undang- undang tanah yang dimaksudkan untuk pengaturan tanah di Kuala Pilah adalah undang-undang yang dibentuk oleh pegawai Tadbir British yang telah berkhidmat di daerah tersebut. Disebabkan itu, semua undang-undang yang terkait dengan pengaturan tanah adalah sentiasa berubah. Perubahan ini dilakukan bertujuan untuk menjaga kepentingan ekonomi British berserta melindungi hak orang Melayu di dalam hal terkait agama dan adat istiadat orang Melayu. Frank Swettenham ketika menjadi Resident-General pernah mengeluarkan surat yang memerintahkan kepada pegawai tadbir yang menyelaraskan undang-undang tanah supaya tidak mencampuri soal pengaturan tanah mengikut adat tempatan.25

Ketika melaksanakan sesuatu perubahan, pegawai tadbir Inggris diarahkan untuk berhati-hati agar tidak bertentangan dengan agama dan adat istiadat orang Melayu.26 Segala aspek yang terkait dengan agama dan adat orang

24 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 43-44.

25 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 44-45.

26 Hendun Abdul Rahman Shah, dkk, “Dinamika Undang-Undang Tanah Adat di Negeri Sembilan: Kajian Perkembangan dan Isu Undang-Undang”, Malaysian Journal of Syariah and Law, Vol. V, 2017, h. 6.

(33)

Melayu hendaklah diberi perhatian. Sebagai contoh, bagi tanah kepunyaan masyarakat bukan Adat Perpatih, pewarisan dilakukan dengan dua cara yaitu berdasarkan hukum faraidl atau adat masyarakat tersebut. Sehingga tahun 1909, pembagian dan pewarisan terhadap tanah adat dan tanah bukan pusaka adat adalah mengikut ketentuan yang telah ditetapkan oleh Adat Perpatih. Setelah dari tahun itu, pengaturan tanah yang telah dicatatkan Customary Land pada sertifikat tanahnya, hendaklah mengikuti peraturan adat.27 Antara kepentingan status sebuah tanah dicatatkan sebagai Customary Land adalah bagi mengelakkan perpindahan tanah adat suatu suku kepada suatu suku lainnya.28

Menurut E.N Taylor, adalah menjadi dasar British di dalam sistem pengaturan yang mereka perkenalkan untuk mengekalkan segala sistem pewarisan dan pembagian tanah sesuatu masyarakat itu. Hal ini dilakukan berdasarkan prinsip Undang-Undang Am atau The General Principle of Law yang mengatakan bahwa harta seseorang itu hendaklah ditentukan pembagian beserta pewarisannya mengikut adat dan agama yang dianuti oleh individu yang berkaitan. Hal ini bersesuaian dengan adagium The Law Follows the Person.29 C. Revolusi Enakmen Pemegangan Tanah Adat Bab 215 di Negeri Sembilan

Undang-undang dan bentuk pengaturan tanah bagi Negeri Sembilan adalah merupakan sambungan dari kanun-kanun tanah dan bentuk pengaturan tanah yang telah diamalkan di Negeri-negeri selat dan di negeri-negeri Melayu lain. Perkembangan pengaturan tanah adat Negeri Sembilan adalah terkait rapat dengan pengaturan undang-undang di Negeri-Negeri Selat (Pulau Pinang, Melaka dan Singapura), Selangor dan Perak yang mana adalah hasil usaha Maxwell, seorang pegawai Britsh. Maxwell telah melakukan penyusunan semula undang-undang tanah yang terdapat di Negeri-Negeri Selat, Selangor

27 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 45.

28 Hendun Abdul Rahman Shah, dkk, “Dinamika Undang-Undang Tanah Adat di Negeri Sembilan: Kajian Perkembangan dan Isu Undang-Undang”, Malaysian Journal of Syariah and Law, Vol. V, 2017, h. 6

29 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 46.

(34)

19

dan Perak yang dibuat oleh pegawai British di negeri tersebut. Penyusunan semula ini adalah disebabkan ketidaksesuaian di samping mempunyai kelemahan di dalam pelaksanaannya.30

Pada tahun 1881, Maxwell telah dihantar ke Australia, Ceylon, dan Burma oleh Pejabat Tanah Jajahan untuk melakukan lawatan sambil belajar ke pejabat tanah di sana. Setelah kembali dari sana, Maxwel telah melakukan penyusunan semula ke atas sistem pengaturan tanah di Negeri-Negeri Selat dan telah menambah beberapa pembaruan. Adapun pembaruan yang dilakukan adalah meliputi sistem permohonan untuk memperoleh hak milik, status pemegangan hak milik, pengiktirafan hak milik orang Melayu, Pembagian Kawasan pengaturan kepada mukim dan lain-lain lagi.31 Maxwell telah menyarankan supaya pendaftaran hak milik dilaksanakan mengikut sistem torrens yaitu suatu sistem di mana hak kepemilikan tanah yang dimiliki oleh seseorang yang tidak dapat diganggu gugat akan hak kepemilikannya.32 Matlamat sistem ini adalah untuk memudahkan urusan yang terkait dengan tanah dan untuk menjamin hak kepemilikan tanah seseorang yang telah didaftarkan namanya. Dan setiap pendaftaran tanah yang dilakukan mengikut sistem ini akan dikeluarkan suatu dokumen hak milik yang diperakui sah dan dilindung oleh undang-undang.33

Maxwell kemudiannya telah dilantik sebagai Residen Selangor pada tahun 1889 dan dua tahun setelah pelantikannya, Maxwell telah memperkenalkan suatu kanun tanah baru yang telah diluluskan oleh Majlis Negri Selangor. Perkembangan tanah yang berlaku di Negeri-Negri Selat dan Selangor telah memengaruhi perkembangan pengaturan tanah di Negeri Sembilan. Sistem pendaftaran tanah yang diperkenalkan adalah mengikut

30 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 46-47

31 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 46-47

32 Salleh Buang , Malaysian Torrens Sistem, ( Selangor: Perpustakaan Negara Malaysia, 2001), h. 1

33Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 47-48.

(35)

Sistem Torrens yang telah diperkenalkan oleh Maxwell di Negeri-Negeri Selat.

Ide pembuatan undang-undang Customary Tenure Enactment yang dibuat adalah berdasarkan pada ketetapan yang terdapat pada Part III dalam Selangor Land Code 1891. Sedangkan ide pembuatan undang-undang bagi Customary Land adalah berdasarkan pada ketetapan yang terdapat pada Customary Land di Melaka. Objektik undang-undang bagi Customary Land di Melaka dan Selangor adalah untuk menyelamatkan tanah kepunyaan orang Melayu dan sekaligus beberapa aspek sistem pengaturan tradisional. Hal ini adalah sama dengan objektif pembuatan Customary Tenure Enactment yaitu untuk mengekalkan hak kepemilikan tanah adat kepada orang Melayu sekaligus mengekalkan beberapa aspek sistem pengaturan adat di dalam undang-undang modern.34

Undang-undang tanah yang pertama digunakan untuk administrasi tanah masyarakat adat ialah Land Regulation 1887 yang dimuat di dalam Order 9 April 1887. Undang-undang yang bersifat sementara ini telah dikeluarkan oleh Pegawai Pentadbir British Sungai Ujung yang digunakan sementara menunggu undang-undang tanah yang lengkap.35 Menurut undang-undang ini, tanah dibagikan kepada 4 jenis yaitu tanah pertanian, tanah yang diduduki oleh warganegara, tanah untuk tapak bangunan di Kawasan bandar, kampung atau simpanan kerajaan, dan tanah untuk lombong. Peraturan khusus bagi tanah adat masih belum wujud, oleh karena itu tanah adat berada di bawah peraturan tanah kelas II yaitu tanah yang diduduki oleh bumiputera.36 Kewajiban pendaftaran tanah serta pembayaran cukai telah mula dilaksanakan dengan terlaksananya undang-undang ini.37

34 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 48-49.

35 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 46.

36 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 49

37 Raja Raziff Raja Shaharuddin, dkk, “Customary Land Development in Negeri Sembilan:

Its Way Forward and Challenges”, Malaysian Journal of Syariah and Law, Vol. VI, 2017, h.7.

(36)

21

Pada tahun 1889, suatu undang-undang baru bagi menggantikan Land Regulation 1887 telah dikeluarkan yang dinamakan General Land Regulation 1889. Undang-undang ini telah ditulis oleh Martin Lister, seorang pengadil dan pemungut hasil tanah pertama yang berkhidmat di daerah Kuala Pilah. Adapun perbedaan di dalam kedua undang-undang ini adalah di dalam General Land Regulation 1889, telah mengiktiraf bahwa semua pemillikan tanah oleh bumiputra dianggap sebagai pemilikan yang sah menurut adat tempatan. Di samping itu, administrasi tanah masyarakat adat juga diatur dengan lebih jelas di dalam General Land Regulation 1889.38

Kemudian, pada tahun 1897, suatu undang-undang baru telah diluluskan dan dikeluarkan oleh Majelis Negeri Sembilan yang bertujuan untuk memberi panduan kepada Pemungut Hasil Tanah mengenai kuasa-kuasa yang ada padanya dalam hal penyelesaian tanah. Undang undang ini diberi nama sebagai Succession to Land Enactment 1897. Undang-undang ini dikeluarkan bagi mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada undang-undang yang terdahulu. Undang-undang ini turut memuat tentang administrasi dan penyelesaian pusaka si mati sehingga ianya dapat dinamakan sebagai undang- undang bagi penyelesaian harta pusaka kecil.39

Seterusnya, pada tahun yang sama yaitu 1897, telah dimansuhkan General Land Regulation 1889 dan diganti dengan undang-undang yang baru yaitu Land Enactment 1897. Adapun pelaksanaan Land Enactment 1897 ini adalah untuk menyelaraskan undang-undang tanah di seluruh negeri Sembilan sekaligus menyeragamkan dengan undang-undang tanah di Provinsi Perak, Selangor dan Pahang.40

Adapun begitu, Land Enactment 1987 masih dianggap tidak dapat memenuhi kehendak administrasi tanah adat di Negeri Sembilan. Melihat kepada keadaan ini, suatu undang-undang khas telah dibentuk bagi mengatasi

38 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 51.

39 Raja Raziff Raja Shaharuddin, dkk, “Customary Land Development in Negeri Sembilan:

Its Way Forward and Challenges”, Malaysian Journal of Syariah and Law, Vol. VI, 2017, h.7.

40 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 53.

(37)

masalah tersebut. Maka, pada tahun 1909 telah lahir suatu undang-undang khusus terkait administrasi tanah adat yang diberi nama Customary Tenure Enactment 1909. Undang-undang ini adalah merupakan undang-undang pertama yang digubal khusus untuk administrasi tanah adat. Pemungut hasil tanah diberi kuasa untuk mencatat perkataan “Customary Land” ke atas surat tanah dan rekod pendaftaran semua tanah kepunyaan masyarakat adat dengan syarat tanah tersebut telah didaftarkan di dalam Daftar Mukim dan telah dikelola mengikut peraturan tanah adat semenjak tanah itu dimiliki. Dan sekiranya tanah adat tersebut tidak mengikut peraturan tanah adat, status

“Customary Land” suatu tanah bisa dihapus oleh Pemungut Hasil Tanah tersebut.41

Di dalam pelaksanaan Customary Tenure Enactment 1909, masih tidak dapat memenuhi tujuan pembuatan undang-undang tersebut secara optimal berikutan kelemahan daripada pihak administrasi sendiri. Justru, pada tahun 1913 telah dikeluarkan suatu undang-undang baru bagi menggantikan Customary Tenure Enactment 1909 yang diberi nama The Malay Reservation Enactment. Adapun pembentukan undang-undang ini bertujuan untuk melindungi semua tanah milik Melayu dalam provinsi jajahan British serta memberi kuasa kepada Residen untuk meletakkan status mana-mana tanah sebagai tanah negeri atau “state land” di mana tanah tersebut akan menjadi sebagai sebuah tanah simpanan Melayu.42 Kesemua tanah yang dicatakan dengan Customary Land telah diktiraf sebagai tanah simpanan Melayu.43

Kemudian, pada tahun 1926, sebuah undang-undang baru telah diluluskan dan dikeluarkan oleh “Majlis Negeri Sembilan” yang bertujuan untuk mengatasi kelemahan Customary Tenure Enactment 1909. Undang- undang baru tersebut diberi nama sebagai Customary Tenure Enactment 1926.

41 Raja Raziff Raja Shaharuddin, dkk, “Customary Land Development in Negeri Sembilan:

Its Way Forward and Challenges”, Malaysian Journal of Syariah and Law, Vol. VI, 2017, h.7-8.

42 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 61.

43 Hendun Abdul Rahman Shah, dkk, “Dinamika Undang-Undang Tanah Adat di Negeri Sembilan: Kajian Perkembangan dan Isu Undang-Undang”, Malaysian Journal of Syariah and Law, Vol. V, 2017, h. 6

(38)

23

Undang-undang baru ini memuat perkara terkait pengekalan konsep hakmilik terhad, tatacara pemindahan hak milik, pewarisan dan pembagian adat. Dapat dikatakan bahwa undang-undang baru tersebut dapat memenuhi kehendak hukum adat yang yang disesuaikan ke dalam administrasi moderen.44

Pada tahun 1930, telah dilakukan sebuah perubahan pertama yang disebut sebagai Negeri Sembilan Enactment No. 1 of 1930. Perubahan ini dilakukan bagi mengatasi masalah yang terdapat di dalam Customary Tenure Enactment 1926.45 Berdasarkan perubahan ini, peraturan adat perpatih mengenai waris menjadi bagian lengkap dari undang-undang tanah Negeri.

Undang-Undang tersebut juga telah memberi kuasa kepada pegawai Kerajaan di Pejabat Daerah tempatan dalam peranannya sebagai Collector of Land Revenue dan harus menjaga di dalam hal pemindahan atau penjualan tanah adat adalah mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh undang-undang.

Menurut undang-undang ini, jenis harta dibagi kepada dua, pertama adalah tanah pusaka adat yang diistilahkan sebagai Customary land. Harta yang kedua adalah Harta carian yang diistilahkan sebagai Acquired Property. Adapun terhadap kedua-dua jenis harta ini harus didaftarkan di Pejabat Tanah Daerah dan terhadap kedua jenis harta ini berlaku Adat Perpatih.46

Berdasarkan pindaaan 1930 tersebut juga, catatan ‘customary land’

bagi tanah-tanah yang terdaftar dalam administrasi boleh dibuat dalam dua jalan, yang pertama adalah dengan bukti bahwa tanah itu dimiliki melalui peraturan adat dan nama pemiliknya adalah anggota adat yang perempuan.

Kedua, di dalam kasus di mana tanah yang diperoleh dengan cara pemberian oleh kerajaan kepada seorang perempuan pada mana-mana suku, sertifikat tanah tersebut boleh dicatatkan dengan perkataan ‘customary land’ dengan persetujuan oleh pemilik tanah tersebut kepada Pemungut hasil tanah untuk

44 Raja Raziff Raja Shaharuddin, dkk, “Customary Land Development in Negeri Sembilan:

Its Way Forward and Challenges”, Malaysian Journal of Syariah and Law, Vol. VI, 2017, h. 8

45 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 69.

46 Abdullah Siddik, Pengantar Undang-Undang Adat di Malaysia, ( Kuala Lumpur:

Universiti Malaya, 1975 ) h. 148

(39)

berbuat sedemikian.47 Hal ini disebut di dalam Customary Tenure Enactment 1926 yang berbunyi:

“No customary land or any interest therein shall be transferred or leased to any person other than a female member of one of the tribes included in schedule B”

“No customary land or any interest therein shall be transferred, charged or leased except with the assent of the Lembaga of the tribe of the registered owner thereby and unless such notice in writing or otherwise of the intention to transfer, charge or lease as the collector may deem sufficient shall have been published for a period of not less than one month immediately proceeding the execution of such transfer or charge or lease.”

Perubahan kedua telah dibuat pada tahun 1932 yaitu pada Pasal 2 dan Pasal 15 di dalam undang-undang tersebut dan pada tahun 1935, telah dilakukan perubahan ketiga terhadap Pasal 5.48

Bagi mewujudkan suatu undang-undang tanah yang lengkap, Kanun Tanah dan Customary Tenure Enactment telah dikaji semula sehingga lahirnya Land Code 1936 Cap 138 dan Customary Tenure Enactment Cap 215. Semua peruntukan di dalam Customary Tenure Enactment 1926 bersama perubahan 1930, 1932 dan 1934 dikekalkan ke dalam suatu statut yang dikenali sebagai Customary Tenure Enactment Chapter 215 of The Revised Laws of the FMS 1936. Undang-undang ini diberlakukan ke atas administrasi tanah. Dan pada Ogos 1949, Customary Tenure Enactment Cap 215 terpaksa diamendemen susulan Pembentukan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1948. Dalam bentuk politik yang baru institusi perundangan juga terpaksa diubahsuai, Sebagai contoh, Majlis perundangan Persekutuan bertanggungjawab ke atas pentadbiran di peringkat Persekutuan dan Majlis Perundangan Negeri bertanggungjawab ke atas membentuk dan merancang undang-undang terkait dengan provinsi. Oleh karena penadbiran tanah masyarakat adat merupakan

47 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 69.

48 Raja Raziff Raja Shaharuddin, dkk, “Customary Land Development in Negeri Sembilan:

Its Way Forward and Challenges”, Malaysian Journal of Syariah and Law, Vol. VI, 2017, h. 8

(40)

25

penadbiran di peringkat provinsi, maka Majlis Perundangan Persekutuan telah membentuk Customary Tenure (State of Negeri Sembilan) Ordinance.49

Customary Tenure (State of Negeri Sembilan) Ordinance ini telah diluluskan pada 21 Ogos 1952. Akan tetapi, Ordinan ini tidak membawa sebarang perubahan terhadap Customary Tenure Enactment Cap 215. Ordinan ini merupakan suatu pengagihan kuasa undang-undang dari Majlis Perundangan Persekutuan kepada Majlis Negeri Sembilan berhubung dengan undang-undang pentadbiran tanah adat di Negeri Sembilan. Di dalam praktek Customary Tenure (State of Negeri Sembilan) Ordinance, terdapat banyak masalah yang timbul terutama di dalam penyelesaian harta pusaka masyarakat adat. Oleh yang demikian, suatu undang-undang baru telah dikeluarkan pada tahun 1955. Undang-undang yang bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut diberi nama Small Estates (Distribution) Ordinance No. 34 of 1955. Undang- undang ini merupakan undang-undang yang terakhir dibentuk oleh pegawai Ingris dan kekal sehingga kini.50

Dalam perubahan pentadbiran tanah adat di bawah pentadbiran British, undang-undang yang digubal untuk pentadbiran tanah adat akan sentiasa mengalami kekurangan dan hal ini dikarenakan kurangnya orang Melayu dalam membentuk undang-undang yang terkait dengan pentadbiran tanah adat tersebut.51

Perlembagaan Persekutuan melalui Perkara 90 telah mengiktiraf kedudukan Tanah Adat. Adapun Perkara 90 tersebut telah menggariskan peruntukan khusus berkenaan pengiktirafan terhadap Perundangan Tanah Adat yang mengatasi peruntukan perundangan yang lain terutamanya yang terkait

49 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 71.

50 Raja Raziff Raja Shaharuddin, dkk, “Customary Land Development in Negeri Sembilan:

Its Way Forward and Challenges”, Malaysian Journal of Syariah and Law, Vol. VI, 2017, h. 9

51 Nadzan Harun, Pemilikan dan Administrasi Tanah Adat 1800-1960, ( Negeri Sembilan:

Jawatankuasa Penyelidikan Budaya Muzium Negeri Sembilan, 1997 ) h. 77.

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan yang terjadi yaitu pengawasan terhadap profesi hakim terbentur dengan regulasi “kekuasaan hakim yang merdeka dan bebas dari campur tangan penguasa dan

Oleh karena itu, penulis menilai sangat relavan untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Faktor Sosial, Budaya, Pribadi dan Psikologis terhadap Keputusan

42 tahun 2007 tentang waralaba, waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha

Melihat fenomena yang terjadi di Yayasan itu sendiri dan merujuk pada penelitian sebelumnya yang hasilnya ada yang berpengaruh dan tidak menjadi menarik untuk

Kalo ke adik-adik sebenarnya dari awal biasaya pengenalan dulu ya bagaimana program kader suraunya, kemudian peran ama nilainya sih, peran sama nilainya ngga yang

Berdasarkan analisis di atas, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas

Pengaturan lain mengenai penyadapan terdapat dalam Pasal 12 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang

Di beberapa aspek keluarga yang ekonominya menengah dan ke-atas pun juga ikut turut berkecimpung dalam pasar ekonomi sebagai refleksi kondisi social-ekonomi bisa