Terumbu karang ini berada jauh dari daratan yang dapat berjarak lebih dari 100 km dari daratan, bergantung dari pengaruh gelombangnya. Goba yang luas di antara terumbu karang dengan daratan ini dapat mencapai kedalaman 40 – 70 m dan mengandung bahan sedimen berkapur yang bersumber dari terumbu karang (Veron, 2000).
3. Atol
Merupakan diding-dinding terumbu karang berbentuk cincin yang mengelilingi goba di tengahnya. Atol memiliki banyak bentuk dan ukuran, umumnya berupa pulau-pulau sempit yang dapat saja bervegetasi. Terumbu karang ini muncul dari perairan yang dalam, jauh dari daratan, sehingga terumbu karang ini dapat terpengaruh oleh arus pasut (Bakus, 1982).
Darwin mengemukakan bahwa formasi awal merupakan fringing reefs
yang terbentuk di sekitar pulau. Jika pulau tersebut mengalami penurunan permukaan secara tektonik, fringing reefs akan berubah menjadi barrier reefs. Apabila proses terus berlanjut, maka atolls akan terbentuk (Veron, 2000).
Manfaat Ekosistem Terumbu Karang
Manfaat ekosistem terumbu karang tidak hanya berasal dari hewan karang, tetapi juga dari berbagai macam penyusun ekositem tersebut yang berkaitan erat dengan hewan karang ini dalam hubungan fungsional dan harmonis (Nontji, 1987). Moberg dan Folk (1999) dalam Caesar (2000) membagi manfaat ekosistem terumbu karang berdasarkan manfaat barang dan jasa yang dihasilkannya. Barang di kategorikan dalam manfaat sumberdaya yang dapat pulih (karang, ikan dll.) dan manfaat penambangan karang (pasir, karang dll.). Jasa di kategorikan kedalam manfaat struktur fisik, biotik, biogeochemical, informasi dan manfaat sosial budaya, seperti disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Manfaat ekosistem terumbu karang (Moberg dan Folk, 1999 dalam Caesar, 2000)
Barang Jasa Biotik Abiotik Struktur fisik Biotik dalam
ekosistem
Biotik antar
ekosistem Biogeokimia Informasi Sosial budaya Makanan Bahan
bangunan
Perlindungan
garis pantai Habitat
Mendukung proses keterkaitan ekosistem Mengikat nitrogen Memonitor dan merekam polusi Pariwisata Obat- obatan Campuran bahan bangunan Membangun daratan Keanekaragaman Memberi nutrisi dan produk organik Mengontrol keberadaan CO/Ca Mengontrol iklim Nilai inspirasi estetik dan artistik Perhiasan Minyak dan gas Membantu pertumbuhan mangrove dan lamun Mengatur proses dan fungsi ekosistem Mengasimilasi limbah Mata pencaharian masyarakat Dagangan Pembentukan pasir Ketahanan biologis Nilai budaya, religi dan spiritual
Beberapa dari manfaat terumbu karang tersebut seperti pemanfaatan karang untuk perdagangan, bahan bangunan dan pariwisata, bila tidak dikontrol dengan baik akan menyebabkan kerusakan ekosistem terumbu karang dan akan menurunkan manfaat lainnya. Khusus pada pemanfaatan untuk perdagangan, pada dekade terakhir, Indonesia mencatat peningkatan perdagangan karang baik hidup atau mati untuk di ekspor sebagai dekorasi ke luar negeri. Sampai tahun 1990-an Indonesia tercatat memasok 36% – 41% pasar karang dunia dengan nilai sebesar 1,2 juta spesimen pertahunnya (Suhartono dan Mardiastuti, 2003).
Dari data yang diperoleh dari Asosiasi Pengusaha Karang dan Ikan Karang Indoenesia (AKKI), perdagangan karang hampir meliputi seluruh jenis karang yang ada termasuk pasir dan batu karang dan jenis scleractinia yang tidak teridentifikasi. Dari data perdagangan tersebut, diketahui sepuluh genus karang yang paling banyak diperjualbelikan sebagai karang hias baik kondisi hidup atau mati dari Indonesia (Suhartono dan Mardiastuti, 2003). Sedangkan di Australia dari data yang diperoleh bahwa karang yang paling banyak diambil untuk akuarium (ornamental reef) umumnya adalah karang yang berbentuk bercabang dan bentuk mendaun/tabulate (leafy). Khusus yang berbentuk bercabang yang umumnya dari genus Acropora dapat mencapai lebih dari 50% dari total ornamental reef (Harriot, 2005). Data karang yang paling banyak diperjualbelikan dari Indonesia seperti disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Besaran nilai ekspor sepuluh genus karang Indonesia yang paling diminati pasar internasional data CITES tahun 1986 – 1999 (Suhartono dan Mardiastuti, 2003)
No. Nama Genus Nama Komersial Persentase
1. Acropora Karang Tanduk Rusa 9,80 2. Euphyllia Karang Obor 9,04 3. Goniopora Karang Bunga Plot 5,64 4. Pochillopora Karang Bunga Kol 5,55 5. Fungia Karang Jamur 4,68 6. Catalaphyllia Karang Elegan 4,34 7. Trachyphyllia Karang Otak 3,71 8. Heliofungia Karang Cakram pipih 3,22 9. Heliopora Karang Biru 2,92 10. Tubastrea Karang Gurita 2,10
Pengelolaan Kawasan Taman Nasional
Pembangunan sistem kawasan konservasi di Indonesia pada dasarnya mengacu pada sistem yang dikembangkan oleh IUCN (International Union Conservation of Nature and Natural Resource) dimana tujuan pengelolaan yang dilakukan untuk menghindari terjadinya kepunahan biota yaitu “save it, study it,
dan use it” yang dalam arti luas untuk menyelamatkan suatu spesies atau ekosistem sebelum hilang/rusak, mengkaji/mempelajari manfaatnya untuk peningkatan kesejahteraan hidup manusia secara berkelanjutan (Alikodra 1996).
Pemanfaatan sumber daya alam di taman nasional sebagai salah satu kawasan konservasi dilaksanakan sejalan dengan Strategi Konservasi Dunia yang dikeluarkan oleh IUCN pada tahun 1980, yang kemudian melahirkan Strategi Konservasi Indonesia. Strategi Konservasi Indonesia yang merupakan dasar dari terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang kemudian disebut “misi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya”, adalah sebagai berikut:
1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan.
2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. 3. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Implementasi misi tersebut diwujudkan dalam pengalokasian wilayah- wilayah ekosistem tertentu menjadi kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Taman nasional yang merupakan salah satu bentuk kawasan pelestarian alam didefinisikan sebagai “kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistim asli, dikelola dengan sistim zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budi daya, pariwisata dan rekreasi”, diarahkan untuk:
• Menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi sistem penyangga kehidupan.
• Melindungi keanekaragaman jenis dan menjadi sumber plasma nutfah;
• Menunjang kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan latihan.
Dalam penyusunan kawasan konservasi termasuk taman nasional, secara umum IUCN memberikan beberapa kriteria sebagai dasar pertimbangan penunjukan dan pengelolaan kawasan konservasi yaitu kriteria sosial, ekologi, ekonomi, regional dan kriteria pragmatik, dengan beberapa parameter di dalamnya sebagai berikut:
Kriteria Sosial
- Kesepakatan sosial untuk mendapatkan dukungan masyarakat sekitar. - Mendukung ke arah peningkatan kualitas lingkungan dan kesehatan
masyarakat sekitar.
- Kawasan tersebut juga dapat digunakan sebagai wahana rekreasi masyarakat sekitar.
- Pengelolaan kawasan dapat melingkupi nilai agama, budaya dan sejarah setempat.
- Mengandung unsur keindahan alam.
- Menghindari konflik dengan kebutuhan atau aktifitas masyarakat. - Merupakan wilayah yang aman dan tidak berbahaya.
- Kawasan yang mudah dicapai.
- Kawasan dapat bermanfaat bagi penelitian dan pendidikan.
- Dalam pengelolaanya dapat mendukung peningkatan kesadaran masyarakat.
Kriteria Ekonomi
- Merupakan wilayah penting untuk spesies komersial.
- Nelayan banyak bergantung terhadap hasil perikanan di kawasan ini. - Tingkat ancaman terhadap kawasan ini dapat diketahui.
- Dapat mendukung pengingkatan ekonomi masyrakat sekitar dalam jangka panjang.
- Kawasan berpotensi untuk pengembangan pariwisata.
Kriteria Ekologi
- Kawasan kaya dalam ragam ekosistem, habitat, komunitas dan spesies - Kawasan belum terganggu atau rusak.
- Adanya hubungan saling ketergantungan dalam ekosistem atau proses ekologi di dalam kawasan.
- Kawasan mewakili tipe habitat, proses ekologi atau geologi tertentu. - Kawasan merupakan habitat suatu spesies endemik atau yang langka.
- Terdapatnya kesatuan fungsi unit ekologi yang utuh atau mandiri dan lestari. - Terdapat proses produktif yang bermanfaat bagi manusia dan biota lain. - Kawasan mudah terdegradasi akibat peristiwa alam atau manusia.
Kriteria Regional
- Kawasan dapat mewakili karakter region wilayahnya baik dari bentang alam, proses ekologi atau situs budaya.
- Kawasan dapat menyangga perbedaan pengelolaan yang ada di luar kawasan.
Kriteria Pragmatik
- Dapat dilakukan tindakan cepat bila perlu diperlukan dalam pengelolaan kawasan.
- Memiliki luasan cukup dapat mencakup kebutuhan proses ekologi yang diperlukan.
- Aman dari potensi ancaman eksploitasi atau dampak dari pembangunan. - Cukup sesuai untuk dapat melaksanakan program pengelolaan secara efektif. - Telah berjalannya walau secara tidak langsung suatu embrio model
pengelolaannya.
- Dapat berlangsungnya proses pemulihan secara alami dari kerusakan mengarah ke kondisi semula.
Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 yang telah memuat definisi taman nasional, pada tahun1998 dibuat statu Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 yang memuat arahan penetapan dan pengelolaan taman nasional dimana kawasan ini dalam pengelolaannya menggunakan sistem zonasi kawasan yaitu Zona Inti, Zona Perlindungan, Zona Pemanfaatan dan Zona lainnya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi tiap lokasi taman nasional (Departemen Kehutanan, 2002). Arahan pengelolaan zona tersebut adalah sebagai berikut: