bagian yang ada di Badan Geologi. Tetapi yang harus kita ingat bahwa tiap unit kerja mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing. Keinginan untuk membentuk Badan Geologi Nasional atau lepasnya Badan Geologi dari Departemen ESDM bukan hanya datang dari kita. Banyak juga lem- baga lainnya yang ada lingkungan Departemen ESDM yang berpendapat bahwa sebaiknya Badan Geologi keluar dari departemen. Ia tetap berada di bawah koordinasi Departemen tetapi bertang- gung jawab langsung kepada Presiden. Itu sebab- nya nama yang tepat untuk Badan ini nantinya adalah Badan Geologi Nasional.
Tim WG:
Seberapa penting keberadaan sebuah badan ge- ologi nasional di suatu negara?
Sukhyar:
Badan Geologi yang ada di Indonesia sama den- gan badan geologi di beberapa negara lain, dan tidak ada satu negara yang tidak memiliki institusi geologi pemerintah. Contohnya di Amerika Serikat ada United State of Geological Survey (USGS), di Jepang ada Geological Survey of Japan (GSJ), di Inggris ada British Geological Survey (BGS) yang memiliki fungsi memberikan pelayanan informasi cuma-cuma (public goods) kepada masyarakat, apakah itu mengenai kekayaan bumi, apakah itu mengenai potensi bencana, atau pun informasi yang lainnya untuk penanganan dan pengelolaan lingkungan. Tetapi biasanya unit-unit kerja yang lain juga juga memiliki bidang yang menangani urusan geologi misalnya saja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Indonesia, yang dibangun sebagai pusat pengembangan ilmu. Jadi, kalaupun ada bidang geologinya, maka itu dalam konteks untuk pengembangan ilmu kebu- mian. Ilmu-ilmu baru kebumian yang dikembang- kan oleh LIPI, melalui koordinasi sebenarnya dapat kita terapkan untuk kepentingan publik. Institut Teknologi Bandung (ITB) juga memiliki jurusan geologi, yang mengarah kepada fungsi pendidi-
kan. Kemudian ada BPPT yang merupakan Badan yang tugasnya melakukan pengkajian dan penera- pan teknologi dan mengkaji teknologi tepat guna. Hasil kajian teknologi BPPT misalkan bagaimana mengidentifikasi fenomena kebumian dan bagaimana mengeksplorasinya. Jadi lewat BPPT bisa kita mengumpulkan informasi kegeologian.
Tim WG:
Apakah pimpinan Departemen ESDM mendukung rencana berdirinya Badan Geologi Nasional ini?
Sukhyar:
Pimpinan departemen melalui Menteri ESDM dan Sekjen Departemen ESDM sangat mengharapkan terbentuknya Badan Geologi Nasional. Menteri ESDM telah menugaskan Kepala Badan Geolo- gi untuk menyiapkan langkah-langkah konkret dalam upaya berdirinya Badan Geologi Nasional. Saya bersama-sama manajemen Badan Geologi tengah merumuskan dan menyiapkan kerangka organisasinya dan perencanaan ke depan. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut harus disiapkan tahapan dan mekanisme yang baik. Di samping itu kita juga harus melakukan pendekatan untuk meyakinkan para pengambil kebijakan tentang pentingnya keberadaan Badan Geologi Nasional. Sebenarnya ide rencana berdirinya Badan Geolo- gi Nasional bukanlah hal yang baru. Ketika saya masih menjabat sebagai Sekretaris DJGSM sudah disusun konsepnya tetapi sempat terputus dan sekarang akan dihidupkan kembali. Langkah awal yang telah ditempuh adalah melakukan presen- tasi di Bappenas dan meminta kepada Bappenas untuk mengalokasikan program tersendiri yakni Program Pembangunan Geologi yang konsepnya secara tertulis sudah disampaikan kepada Bappe- nas. Selama ini program yang dilakukan di Badan Geologi selalu mengekor kepada program pertam- bangan, apakah pertambangan mineral ataupun pertambangan migas.
Tim WG:
Jadi, kapan kira-kira Badan Geologi Nasional akan terwujud nyata?
Sukhyar:
Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mewu- judkan keinginan tersebut. Pada rapat-rapat kerja departemen masalah ini akan terus diung- kap dan diharapkan pembahasan tersebut dapat disepakati sebelum kabinet baru terbentuk. Hal ini penting karena pembentukan Badan Geologi Nasional akan melibatkan kesepakatan di level pemerintahan dari beberapa kementerian
Tim WG:
Berbicara mengenai kekuatan sumber daya manusia yang kini dimiliki, apakah Badan Geologi sudah siap untuk menjadi Badan Geologi Nasional?
W a r t a G e o l o g i . J u n i 0 0 9
P R O F I L
Sukhyar:
Kita harus akui bahwa yang berpendidikan pasca sarjana di Badan Geologi adalah yang terbanyak di lingkungan Departemen ESDM. Para pegawai yang berpendidikan S2, S3 yang ada di Badan Ge- ologi jumlahnya paling banyak. Tetapi dari popu- lasi pegawai, jumlah pegawai Badan Geologi juga merupakan yang paling banyak dibandingkan unit-unit lainnya di departemen. Saat ini komposisi pegawai teknis dan pegawai penunjang dirasakan masih kurang ideal. Jumlah pegawai penunjang masih terlalu besar. Selain meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dalam dan luar negeri, upaya lainnya yang akan dilakukan adalah merekrut pegawai baru yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan inti Badan Geologi. Pembinaan kepegawaian dari aspek fungsional dan manajerial juga harus terus dilakukan dan ditingkatkan.
Tim WG:
Apa saja bentuk sosialisasi yang telah dilakukan dalam rangka pembentukan Badan Geologi Nasi- onal?
Sukhyar:
Pertama, saya ingin bahwa yang maju itu nama Badan Geologi bukan nama unit kerjanya. Kemana-mana yang keluar itu nama induknya. Hal seperti ini sudah dilakukan oleh unit eselon 1
yang lain seperti BMKG, BPPT, dan LIPI yang keluar selalu membawa nama besarnya. Mengapa ha- rus dilakukan, karena hal ini akan menggerakkan atau membangkitkan kebanggaan seluruh pega- wai Badan Geologi. Contohnya jika satu unit mendapatkan prestasi maka unit lain dan pegawai unit lain akan turut merasakan kebanggaan terse- but. Dengan demikian akan terbentuk kebang- gaan terhadap institusinya, yakni kebanggaan bersama.
Saya melihat unit-unit yang ada di lingkungan Badan Geologi telah melakukan sosialisasi dengan para pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah. Hal lainnya yang telah dilakukan adalah kegiatan seperti pameran dan promosi, serta so- sialisasi yang juga diselenggarakan di beberapa provinsi. Selain itu Badan Geologi juga telah memiliki Jurnal Geologi Indonesia (JGI) dan jur- nal lainnya yang diterbitkan unit-unit yang men- jadi produk kebanggaan Badan Geologi. Melalui kegiatan Dewan Redaksi JGI dengan melibatkan beberapa pengelola jurnal kebumian lainnya, hal ini tentu menambah promosi Badan Geologi. Situs web Badan Geologi sebagai media informasi elek- tronik dan Warta Geologi sebagai media cetak juga turut mempublikasikan dan mempromosikan kegiatan Badan Geologi. Hal itu hendaknya terus ditingkatkan dalam upaya membesarkan nama Badan Geologi.
Tim WG:
Apa pengalaman penting sebagai Sekretaris DJGSM dan Staf Ahli Menteri?
Sukhyar:
Ketika pindah ke Jakarta, tugas yang saya emban sama sekali tidak ada hubungan dengan ilmu yang dipelajari. Saya masuk ke wilayah orang yang lebih banyak bekerja pada sub sektor pertambangan. Namun saya merasa sangat berbahagia karena banyak terlibat dalam perumusan kebijakan dan regulasi. Salah satu contohnya adalah Undang- Undang Panas Bumi. Walau UU ini adalah inisi- atif DPR, namun pemerintah membuat rancangan undang-undang tandingannya dimana saya yang ditunjuk sebagai ketua tim. Contoh lainnya adalah UU Pertambangan yang sekarang sudah terbit, dimana saya juga ditunjuk sebagai ketua tim penyusunan rancangannya. Mengapa itu terjadi dan bisa saya lakukan, kuncinya adalah mau ber- tanya kepada orang yang lebih dulu tahu, mau tu- run ke bawah dan membaca. Bukan hanya acuan yang ada di Indonesia tapi juga acuan internasi- onal harus dibaca. Bahkan kita harus berdiskusi dengan ahli ekonomi, ahli sosial. Intinya adalah keingintahuan dan mendengar pendapat orang dan berpikir kritis. Saya iri kepada Bapak Suharyo Sigit, seorang geolog yang juga mantan Sekjen Departemen Pertambangan dan Energi, yang me- nyusun UU Pertambangan No. 11 Tahun 1967
pada usia tiga puluhan tahun. Undang-undang yang dihasilkannya itu sangat fenomenal pada masanya.
Yang sangat mengesankan dan tidak terlu- pakan adalah menyelesaikan naskah akademis Rancangan UU Pertambangan Mineral dan Ba- tubara (Minerba) hanya dalam waktu satu ming- gu. Esensi yang penting dalam RUU yang satu ini adalah pengendalian terhadap praktek desentral- isasi pertambangan, transparansi pengusahaan pertambangan, pencadangan wilayah negara, peningkatan nilai tambah mineral dan batubara dalam negeri dan merubah bentuk perizinan usaha atau menyeragamkan perizinan serta penekanan pada manajemen sumer daya mineral dan batubara.
Puluhan kali rapat saya pimpin, baik di lingkungan internal Departemen ESDM maupun dengan pihak luar. Di sinilah saya mengenal teman-teman dari berbagai pemangku kepentingan pertambangan dan panas bumi. Saya menjadi salah satu pelaku sejarah penyusunan UU Pertambangan dan UU Panas Bumi.
Hal lain yang ingin saya ungkapkan adalah saya juga terlibat secara aktif di dalam dua kali reorganisasi Departemen ESDM, yaitu tahun 2000 dan 2005. Pelajaran yang dipetik dari berbagai pengalaman
W a r t a G e o l o g i . J u n i 0 0 9 tersebut adalah apabila kita memiliki ide yang ba- gus dan dirasakan bermanfaat bagi kepentingan bangsa, dibutuhkan kesabaran, pengorbanan mental, dan waktu untuk meyakinkan orang lain atau pimpinan kita akan ide tersebut.
Saya bersyukur sempat menjadi Staf Ahli Men- teri Bidang Informasi dan Komunikasi. Bukan hanya masalah geologi yang masuk namun juga masalah migas, listrik. Semua itu masuk dalam pertimbangan, untuk dianalisis lalu diberikan sebagai masukan kepada Menteri. Hal ini menam- bah wawasan dan pengalaman saya bekerja di De- partemen ESDM. Dan saya harus berterima kasih kepada Bapak Menteri atas kesempatan tersebut.
Tim WG:
Menurut pengamatan kami, salah satu pekerjaan lain yang juga Anda cintai adalah pekerjaan ke- gunungapian. Dapatkan diceritakan pengalaman Anda di bidang ini?
Sukhyar:
Bekerja di bidang kegunungapian atau vulkanolo- gi hampir tak pernah memikirkan uang. Ini yang mengesankan. Hal itu sangat beralasan, karena seringkali harus tinggal lama di Pos Gunung Api untuk memantau aktivitas gunung api yang se- dang “sakit” sampai benar-benar kembali normal. Hal itulah yang hingga kini membudaya pada diri rekan-rekan di Vulkanologi. Saya punya satu pen- galaman. Karena Gunung Ijen aktif, saya harus bolak-balik ke Banyuwangi dan tinggal di Pos Gu- nung Ijen, serta sesekali naik ke Kawah Ijen untuk memantau aktivitasnya. Perjalanan dari Bandung menuju Banyuwangi saya tempuh naik bis beran- tai melalui Tasikmalaya, Yogyakarta, dan Surabaya. Karena saaat itu kekurangan uang, di perjalanan
saya hanya bisa makan salak. Jadi ketika naik Gunung Ijen perut malah terasa mulas-mulas. Selama bekerja di vulkanologi, saya juga mendapat pengalaman pahit yang tak pernah terlupakan dalam hidup saya. Saat itu saya menjabat sebagai Kepala Subdit Analisis Gunung Api. Hari Selasa tanggal 22 November 1994 saya melakukan survei ke puncak Gunung Merapi bersama beberapa staf Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) untuk memantau aktivi- tas Gunung Merapi yang saat itu statusnya dalam keadaan “waspada”. Namun saat berada di pun- cak, tiba-tiba terjadi longsor yang diikuti awan pa- nas. Terus terang saya tak dapat menyembunyikan kesedihan dan kepedihan hati ketika mendapat kabar bahwa di Plawangan dan sekitarnya ada 66 orang meninggal. Satu tahun setelah peristiwa itu, diselenggarakan sebuah lokakarya untuk mendis- kusikan fenomena letusan Merapi 22 November tersebut. Beberapa pembicara mengungkapkan bahwa tidak satu pun peralatan yang menangkap gejala awal fenomena tersebut. Di sekitar gunung saat itu terdapat beberapa peralatan yang dipa- sang oleh pemerintah Jerman, hasil kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ada juga alat yang dipasang oleh BPPTK namun tak satu pun menangkap gejala tersebut.
Dari pengalaman tersebut, saya mengakui bahwa ilmu manusia itu sangat kecil dibandingkan kekua- saan Tuhan. “Banyak hal-hal yang tidak diketahui tentang fenomena alam, sehingga ilmu itu harus terus diperdalam”.
Tim WG:
Kami pernah menyaksikan, saat Anda melaku- kan tugas kunjungan ke Pos Gunung Slamet, di
Pak Sukhyar Kunjungan Ke Gunung Krakatau Tahun 2005.
Guci (daerah sekitar Gunung Slamet-red), Anda menyempatkan waktu untuk membeli tempe mendoan. Kelihatannya itu salah satu makanan kesukaan Anda?
Sukhyar:
Saya melihat dagangannya bersih dan saya me- mang menggemari penganan tempe. Sebenarnya saya sekaligus ingin menghargai inisiatif mereka untuk berusaha. Jika saja, semua masyarakat Indo- nesia berpikir sama seperti seorang penjual men- doan tersebut, maka di negeri kita ini tidak perlu terjadi pengangguran. Dengan membeli barang dagangannya berarti kita memberikan apresiasi terhadap usaha orang tersebut dan semoga pen- jual mendoan tersebut terdorong untuk menekuni bidang pekerjaannya dengan lebih baik. Satu lagi yang menarik waktu turun dari kereta api di Te- gal di sebuah warung ternyata masih ada orang yang menjual minuman teh dengan harga sangat murah. Bayangkan jika dibandingkan dengan di Jakarta mungkin harganya bisa mencapai lima kali lipat. Pelajaran yang dapat diperoleh dari si penjual teh tersebut adalah dalam berusaha tidak perlu terlalu ngoyo mencari keuntungan tetapi yang penting ekonominya bergulir dan dapat mencukupi kebutuhan.
Tim WG:
Untuk dapat menjadi seorang pemimpin di sebuah lembaga, tentu dibutuhkan pengalaman berorgan- isasi yang matang. Dapatkah Anda menceritakan pengalaman berorganisasi yang pernah dilalui?
Sukhyar:
Dalam berorganisasi, yang saya lakukan adalah bagaimana menghimpun kelebihan orang-orang dan memperkecil kekurangan orang-orang. Menghimpun kekuatan resources yang ada, mengoptimalkan kapabilitas individu dan mem- bangun kerjasama tim yang kuat, sehingga semua pekerjaan dapat dilakukan dengan baik. Jadi tugas kita sebagai pimpinan adalah menghimpun kele- bihan individu, mempercayai, dan memberikan apresiasi terhadap kelebihannya. Hal itu yang ha- rus menjadi acuan para manajer organisasi.
Tim WG:
Apa pesan Anda untuk para pegawai di lingkungan Badan Geologi?
Sukhyar:
Pertama-tama saya menghimbau untuk menyatu- kan dan terus meningkatkan potensi keahlian kita dalam menyelesaikan tugas-tugas kita. Sebagai pegawai yang bekerja di lingkungan geologi tan- tangan kita ke depan semakin berat. Kita dituntut untuk terus melakukan penelitian potensi sumber daya mineral yang ada di tanah air kita. Tugas beri- kutnya adalah yang paling penting, yakni bagaima- na data geologi tersebut dikemas dalam berbagai informasi yang menarik dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan serta memberikan perlindungan bagi masyarakat. Saya berpesan khusus kepada ahli kebencanaan termasuk para pengamat gunung api untuk be- rani menyampaikan informasi kepada masyarakat
Pak Sukhyar dalam kunjungan kerjanya ke Pos Gunung Slamet (Pak Sukedi Kepala Pos Gunung Slamet, sedang menjelaskan perkembangan aktivitas Gunung Slamet April 2009)
W a r t a G e o l o g i . J u n i 0 0 9 karena mereka ada di garis depan dan berhada- pan langsung dengan masyarakat dan media. Isu nasional terpenting dan menonjol saat ini adalah penurunan produksi miyak sehingga kita harus terus mencari sumber-sumber lain, isu pemenuhan air untuk kebutuhan hidup dan isu lingkungan. Demikianlah bincang-bincang dengan Sukhyar, terutama yang berkaitan dengan hal ihwal di sep- utar Badan Geologi. Dan berikut ini adalah sekilas sisi pribadi Sukhyar yang berhasil diliput oleh tim WG.
Masa Menuntut Ilmu
Sukhyar yang dilahirkan di Jakarta 54 tahun lalu tepatnya pada tanggal 11 April 1955, adalah buah hati kedua dari sembilan bersaudara pasangan Ruchiyat (seorang tentara) dan Sukainten (seorang guru). Karena kepindahan tugas ayahnya ke Pe- kanbaru, Riau, maka Sukhyar yang saat itu berusia empat tahun bersama keluarga harus meninggal- kan Jakarta.
Di Pekanbaru, Sukhyar memulai pendidikan dasar di SD 16, kemudian melanjutkan ke SMP IV, dan pendidikan tingkat atas tahun 1972 di SMA 1. Se- tamat pendidikan Sekolah Menengah Atas, pada tahun 1973 Sukhyar hijrah ke Bandung untuk ku- liah di Jurusan Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung. Terasa ada babakan baru ketika mema- suki bangku kuliah, selain dituntut untuk meneku- ni bidang geologi yang telah dipilihnya, Sukhyar juga harus berada jauh dari keluarganya. Sebelum menamatkan kuliah dia sempat bekerja sebagai
geolog yunior dalam eksplorasi emas di Cikotok Jabar dan eksplorasi batubara di Muara Enim, Su- matera Selatan.
Pendidikan di ITB diselesaikannya pada tahun 1980. Teman seangkatan yang kini sama-sama bekerja di Badan Geologi diantaranya adalah Dr. Ir. Achmad Djumarma Wirakusumah yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Survei Geologi, dan Ir. Suhari, M.Sc, Kepala Bagian Tata Usaha Pu- sat Lingkungan Geologi.
Setelah meraih gelar sarjana di ITB, Sukhyar beker- ja di Direktorat Vulkanologi. Di awal karirnya, dia mendapat kesempatan menambah ilmu ge- ologi di Monash University, Melbourne, Austra- lia mengambil Jurusan Earth Sciences. Studi di Monash University diselesaikannya tahun 1989.
Masa Awal Karir
Setelah kembali dari menuntut ilmu di Melbourne, Sukhyar mengawali karirnya sebagai Kepala Seksi Pengamatan Gunung Api Wilayah Jawa Bagian Timur pada Direktorat Vulkanologi, tepatnya tang- gal 26 Februari 1991.
Setelah menjabat sebagai Kepala Seksi Pengamatan Gunung Api Wilayah Jawa Bagian Timur selama tiga tahun, tanggal 2 Juni 1994 diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat Analisis Gunung Api. Saat tengah memegang posisi Kasubdit inilah, Sukhyar dipercaya menjadi koordinator kerja sama dengan beberapa negara seperti Belanda, Jepang, Jerman, Perancis, Australia, dan Amerika Serikat. Selain
Sukhyar diwawancara menyampaikan berbagai informasi geologi.
menangani kerja sama luar negeri Sukhyar juga aktif menjadi nara sumber berbagai seminar dalam dan luar negeri. Pada 1997 sempat menjadi acting
Direktur Vulkanologi selama sembilan bulan pada saat Direktur Vulkanologi, Dr. Wimpy S. Tjetjep, mengikuti pendidikan Lemhanas di Jakarta. Pada tanggal 4 Mei 1998, Sukhyar dipercaya me- mimpin Direktorat Vulkanologi, sebuah jabatan tertinggi untuk mengurus dan mengambil kepu- tusan yang berkaitan dengan berbagai kebijakan pengelolaan gunung api. Jabatan sebagai Direktur Vulkanologi hanya berlangsung satu tahun, kare- na pada tanggal 30 Maret 1999, Sukhyar harus pindah ke Jakarta dengan tugas barunya, yakni menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral.
Menjadi Kepala Badan Geologi
Ketika menjabat Sekretaris DJGSM Sukhyar harus menekuni bidang pekerjaannya yang baru yang lebih banyak bergelut dengan berbagai kebijakan dan regulasi terutama yang menyangkut pertam- bangan. Pekerjaan ini dilaluinya dengan sungguh- sungguh. Pada periode ini, dia tercatat dipercaya menjadi Ketua Tim Penyusun RUU Pertambangan dan RUU Panas Bumi versi pemerintah. Walau disi- bukkan dengan pekerjaan barunya Sukhyar tetap konsisten dengan bidang ilmu kebumian. Tampil menjadi presenter pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Geologi pada tahun 1991 , dia berha- sil menerima Penghargaan Piagam LASUT, sebuah penghargaan untuk presenter dan makalah ter- baik. Sukhyar juga gemar membaca dan menulis . Pada Rubrik Geo Populer edisi Juni 2009, Sukhyar menyuguhkan sebuah artikel berjudul Alokasi Tata Ruang Untuk Sektor Pertambangan.
Setelah tujuh tahun menjabat sebagai Sekretaris DJGSM, Sukhyar diangkat menjadi Staf Ahli Men- teri Bidang Informasi dan Komunikasi pada 11 November 2005. Empat tahun menjadi Staf Ahli Menteri, Sukhyar diangkat menjadi Kepala Badan Geologi pada tanggal 18 Juli 2008 menggantikan Bambang Dwiyanto yang diangkat menjadi Kepala Balitbang ESDM.
Sisi Lain Kehidupan Sehari-hari
Ketika kuliah di ITB, memasak menjadi salah satu hobi Sukhyar. Dia mengakui statusnya sebagai anak koslah yang membuatnya memiliki hobi me- masak. “Agar kita dengan bebas dapat menikmati makanan yang diinginkan,” begitu alasannya. “Selain itu, memasak juga dapat dijadikan media untuk meningkatkan keharmonisan keluarga”, tambahnya. Menurutnya pula, hobi memasak ini ternyata sangat bermanfaat terutama ketika ten- gah berada di negeri orang, yakni saat dia menun- tut ilmu di Australia.
Selain memasak Sukhyar juga gemar berbelanja kebutuhan rumah tangga. Tidaklah mengher- ankan kalau dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah, sang istri tercinta, Nurlina Hakim, tak segan untuk memesan berbagai keperluan rumah tangga. Menurut pengakuan Sukhyar, belanja dan melihat orang-orang merupakan bagian dari re- freshing setelah seharian disibukkan dengan ru- tinitas pekerjaan. Sukhyar juga suka membawa oleh-oleh (buah tangan atau cindera mata) ke- tika pulang bepergian. Dalam perjalanan pulang dari kunjungannya ke Gunung Slamet, misalnya, Sukhyar menyempatkan untuk membeli bawang merah dan telur asin Brebes, serta tahu Sumed- ang.
Ketika tinggal di Melbourne bersama istri dan anak, Sukhyar sering bermain tennis, menerus- kan hobi yang digelutinya sejak mulai bekerja di Direktorat Vulkanologi. “Melihat ada lapangan tenis di kompleks kantor Vulkanologi di Jalan Di- ponegoro, saya pun tertarik untuk mencoba ber- main,” ujarnya. Bukan sekadar bermain, Sukhyar adalah anggota Tim Tenis Direktorat Vulkanologi, dan juga anggota Tim Tennis DJGSM yang sering tampil di setiap pertandingan memperingati HUT Kemerdekaan RI.
Ayah dari Nadya Amalia, M. Ashari, dan Aliya Adi- nari ini ternyata senang mengikuti perkembangan informasi di TV termasuk infotainment. Suatu hari Sukhyar terlibat dalam sebuah diskusi mengenai infotainment dengan anak-anaknya. Sukhyar hafal nama-nama penyanyi baru seperti Afghan, Bunga Citra Lestari dan sejumlah nama lainnya. Eh, anak- anaknya malah kemudian “menuding” bahwa sang Ayah di kantor tidak bekerja, melainkan