diskusi dipimpin oleh Ir. Haryadi Tirtomihardjo, Dipl.H., sebagai moderator. Sesi kedua terdiri dari dua paparan dan ditutup dengan diskusi dipimpin oleh Dr. Ir. Suharyanto, M.Sc., selaku moderator. Paparan 1: CAT Sebagai Dasar Pendayagunaan Air Tanah Berwawasan Lingkungan oleh Ir. Danaryanto, M.Sc., Kepala Pusat Lingkungan Geologi, Badan Geologi, Dep. ESDM. Dalam paparannya beliau menyampaikan bahwa setiap kegiatan penggunaan air tanah harus diarahkan pada penggunaan yang saling menunjang antara air tanah dan air permukaan. Dalam penggunaan air perlu dirancang dengan mendahulukan penggunaan air permukaan. Penggunaan air tanah untuk air baku berbagai keperluan merupakan pilihan setelah air permukaan sudah tidak mencukupi dengan tetap memperhatikan upaya konservasi mencakup pencegahan kerusakan lingkungan.
Paparan 2: Strategi Pengelolaan Air Tanah Berbasis Cekungan Air Tanah oleh Dr. Ir. Robert J. Kodoatie, M.Sc., Teknik Sipil Undip. Pengelolaan air tanah diselengarakan berlandaskan pada strategi pelaksanaan pengelolaan air tanah dengan prinsip keseimbangan antara upaya konservasi dan pendayagunaan air tanah. Strategi pengelolaan tersebut dilaksankan secara menyeluruh, seimbang antara upaya konservasi dan pendayaguanaan air tanah, terpadu dalam penggunaan air tanah yang saling menunjang, serta melibatkan peran masyarakat, begitu ungkap beliau.
Paparan 3: Pengaruh Pengambilan Air Tanah Terhadap Amblesan Tanah oleh Ir. Dwiyanto, MT., Teknik Geologi Undip. Beliau memaparkan bahwa penurunan tanah (Land subsidence) disebabkan oleh pengendapan yang terkait dengan konsolidasi pada lapisan tanah dangkal dan lapisan tanah lunak seperti lempung yang diakibatkan oleh
penurunan tekanan air tanah pada sistem akuifer di bawahnya. Selain permasalahan amblesan tanah dampak lain dari penurunan air tanah diantaranya banjir dan masuknya air laut ke arah darat pada saat pasang naik, menyusutnya ruang lintas pada kolong jembatan, sehingga mengganggu lalu lintas, serta kerusakan pada bangunan dan struktur seperti retak-retak.
Paparan 4: Inventarisasi Air Tanah di Provinsi Jawa Tengah Untuk Perencanaan Pendayagunaan Air Tanah oleh Ir. Teguh DwiParyano, MT., Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah. Beliau menegaskan bahwa data dan informasi air tanah yang dihasilkan dari kegiatan inventarisasi air tanah ini merupakan hal penting dalam menunjang perencanaan pendayagunaan air tanah dan upaya konservasi air tanah guna mewujudkan pemanfaatan sumber daya air tanah yang berkelanjutan.
Paparan 5: Pengelolaan Air Tanah yang Berwawasan Lingkungan Oleh Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) oleh T. Yan W. M. Iskandarsyah, PT. Aqua Golden Mississipi Tbk. Beliau mengungkapkan bahwa keberlanjutan kegiatan produksi air minum dalam kemasan (AMDK) sangat tergantung dan dipengaruhi oleh kondisi daerah resapan (recharge zone). Dengan demikian pengetahuan dan pemahaman kondisi daerah resapan dan perilaku air tanah yang sampai ke mata air sangat diperlukan. Untuk mendapatkan sumber air yang layak diproduksi dan meminimalisaasi dampak negatif yang dapat ditimbulkan, maka PT. Tirta Investama menerapkan beberapa tahapan seperti studi literatur, identifikasi area, survei pendahuluan, survey idetail, studi AMDAL, produksi (konstruksi dan instalasi), dan studi daerah resapan minimal 1 tahun. Studi daerah resapan menjadi faktor yang sangat penting dalam pengelolaan air tanah, masukan alami atau natural input merupakan salah satu faktor berhubungan dengan proses resapan. Dari studi inilah dapat diberikan gambaran sebaran asal air tanah (recharge) untuk air yang keluar (discharge) dan bagian lapisan yang cenderung rawan terhadap kontaminasi air tanah.
Dari paparan-paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pendayagunaan air tanah berbasis cekungan air tanah harus dilaksanakan secara seimbang antara eksploitasi air tanah dengan upaya konservasi sehingga kerusakan lingkungan akibat eksploitasi air tanah dapat diperkecil.n
W a r t a G e o l o g i . J u n i 0 0 9 Acara ini terselenggara atas kerja sama Badan Geologi dengan Coordinating Committee for Geo-Science Programs in East and Southeast Asia (CCOP), dan Norwegian Geotechnical Institute/ Norwegian Seismic Array (NGI/NORSAR) yang dibuka oleh Kepala Badan Geologi, R.Sukhyar pada 1-3 Juni 2009 di Bandung.
Kegiatan berupa workshop ini adalah sebagai ajang bertukar ilmu dan pengalaman mengenai upaya mitigasi bencana tsunami di Indonesia khususnya di Asia Tenggara dan Asia Selatan umumnya, agar penanganan serta manajemen bencana tsunami lebih sistematis dan terkoordinasi serta lebih mudah diaplikasikan untuk pemerintah provinsi di daerah Indonesia bagian timur.
Peserta yang hadir berjumlah 100 orang merupakan perwakilan dari dalam dan luar negeri, yaitu:
PEMDA Propinsi di bagian timur Indonesia, seperti Maluku, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Papua, NTT, dan Papua Barat. Badan penelitian yang berhubungan dengan Tsunami seperti: BPPT/RISTEK, BMKG dan DKP Bakosurtanal
Departemen Kelautan dan Perikanan, dan BAPETEN.
Profesional dari Lembaga Kebumian (IAGI) Perwakilan dari perguruan tinggi, seperti ITB, UNPAD, dan UNSYIAH
Perwakilan pegawai dari unit-unit yang berada di lingkungan Badan Geologi
Siswa dari program magister geologi dan kebencanaan
LSM, seperti UNOCHA, UNDP, NGOs, dan INWEN
Ahli geologi kelautan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
CCOP NGI/NORSAR USGS • • • • • • • • • • • • •
Universitas Kiel Jerman
Universitas Chulalongkorn Thailand
Gede Suantika, sebagai ketua panitia, menyatakan dalam laporannya bahwa pada kesempatan Workshop ini akan dipresentasikan sebanyak 24 makalah mitigasi bencana Tsunami di Asia Tenggara dan Asia Selatan yang terdiri dari:
7 makalah dari Badan Geologi
6 makalah dari BMG, BNPB, BPPT, Bakosurtanal, ITB dan DKP.
11 makalah dari CCOP, NGI/NORSAR, USGS, University of Kiel dan Thailand Chulalongkorn University.
Dilanjutkan dengan diskusi umum mitigasi bencana tsunami dan kesimpulan workshop.
Kemudian dilanjutkan oleh sambutan Kepala Badan Geologi, R.Sukhyar, yaitu:
Wilayah Indonesia merupakan daerah bencana Tsunami
Korban manusia dan materi paling banyak dan kondisi tsb memaksa para ahli dan pemerintah untuk berusaha mencari solusi di dalam mengurangi dampak bencana tsunami
Strategi mitigasi bencana tsunami yang dibutuhkan adalah:
Pemetaan sumber pemicu tsunami
Simulasi penjalaran gelombang tsunami ke pantai dan tinggi gelombang Tsunami Membuat peta Kawasan Rawan Bencana tsunami
Pembuatan sistem peringatan dini tsunami Sosialisasi bencana tsunami ke masyarakat yang bermukim di tepi pantai.
Pemaparan pertama disampaikan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, sebagai keynote speaker. Beliau menguraikan tentang pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Geologi di bidang strategi mitigasi • • 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. • • • • •