BAB II LANDASAN TEORI DAN TELAAH LITERATUR
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Theory Of Planned Behavior
Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori yang diadopsi dari hasil penelitian Icek Ajzen. TPB merupakan hasil pengembangan dari teori sebelumnya yaitu Theory of Reasoned Action (TRA) yang dicetuskan oleh Ajzen dan Fishbein. Asumsi dasar yang digunakan dalam penyusunan TRA ialah bahwa manusia berprilaku dengan sadar dan mempertimbangkan segala informasi yang tersedia. Menurut Ajzen (2002) “Theory of Planned Behavior (TPB) menjelaskan bahwa perilaku yang ditentukan oleh individu timbul karena ada minat untuk berperilaku. Ada tiga faktor penentu dari niat untuk berperilaku.
1) Behavioral beliefs
merupakan keyakinan individu akan hasil dari suatu perilaku dan evaluasi atas hasil tersebut. Kaitannya dengan penelitian ini yaitu keyakinan Wajib Pajak atas perhitungan yang telah dilakukan dalam menentukan pajak terutangnya yang sesuai dengan pemahaman akuntansi yang mereka ketahui dan menimbulkan keyakinan Wajib Pajak untuk melakukan kewajiban perpajakannya.
2) Normative beliefs
yaitu keyakinan tentang harapan normatif orang lain dan motivasi untuk memenuhi harapan tersebut. Kaitannya dengan pajak yaitu jika layanan
otoritas pajak memuaskan dan sistem pajak yang efektif dan efisien maka hal tersebut akan memotivasi seorang wajib pajak untuk membayar pajaknya sehingga menimbulkan rasa percaya diri pada wajib pajak tersebut.
3) Control beliefs
merupakan keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang mendukung atau menghambat perilaku yang akan ditampilkan dan persepsinya tentang seberapa kuat hal–hal yang mendukung dan menghambat perilakunya tersebut (perceived power)”. Kaitannya dalam penelitian ini yaitu, seberapa kuat dan beratnya sanksi pajak yang diterapkan dalam mendukung wajib pajak untuk taat pajak dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
2.1.2. Attribution Theory
Teori atribusi pertama kali dikemukakan oleh Fritz Heider (1958) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Harold Kelley (1967). Teori atribusi oleh Heider (1958), melalui tulisannya yang berjudul “Native Theory of Action”, yaitu kerangka kerja konseptual yang digunakan orang untuk menafsirkan, menjelaskan, dan meramalkan tingkah laku seseorang. Heider (1958) menyatakan bahwa teori atribusi mempelajari proses bagaimana seseorang menginterpretasikan suatu peristiwa dan mempelajari bagaimana seseorang menginterpretasikan alasan atau sebab perilakunya. Teori atribusi menyatakan bahwa bila individu-individu mengamati perilaku seseorang, mereka mencoba untuk menentukan apakah itu ditimbulkan secara internal atau eksternal (Robbins, 2008).
Kelley (1967) yang merupakan salah satu ahli yang mengembangkan teori atribusi lebih lanjut yang dikenal dengan model kovarians Kelley. Model ini merupakan teori atribusi dimana orang membuat kesimpulan sebab akibat untuk menjelaskan mengapa orang lain dan diri kita berprilaku dengan cara tertentu.
Oleh karena itu, Harold Kelley melanjutkan dengan mengidentifikasi hubungan sebab-akibat atribusi yang menunjukkan adanya penyebab tindakan apakah daya internal maupun daya eksternal kedalam tiga hal yaitu :
1. Kekhususan. Kekhususan mengacu pada tindakan yang dilakukan seseorang apakah sama pada situasi lain atau pada saat itu saja. Apabila tindakan itu biasa dilakukan pada situasi lainnya, berarti perilaku tersebut dipengaruhi dari internal. Namun, apabila tindakan itu hanya dilakukan pada saat itu, berarti perilaku tersebut dipengaruhi dari eksternal.
2. Konsensus. Konsensus mengacu pada apakah tindakan yang dilakukan seseorang dalam merespon sesuatu, juga akan dilakukan oleh orang lain.
Bila tidak semua orang merespon dengan cara yang sama, perilaku tersebut dipengaruhi dari internal. Tetapi, apabila orang lain juga merespon dengan cara yang sama, maka perilaku tersebut dipengaruhi dari eksternal.
3. Konsistensi. Konsistensi mengacu pada tindakan seseorang yang selalu merespon suatu hal dengan cara yang sama. Apabila seseorang itu konsisten, tentu berasal dari internal. Sebaliknya, apabila tidak konsisten dapat disimpulkan bahwa eksternal yang berpengaruh.
Teori atribusi menjadi relevan untuk digunakan dalam penelitian ini karena mampu menjelaskan faktor sosialisasi perpajakan mempengaruhi peningkatan kepatuhan wajib pajak. sosialisasi yang dilakukan oleh instansi perpajakan dapat
memberikan Persepsi dari dalam diri Wajib Pajak maupun kesan yang terbentuk dari lingkungan sekitar kepada instansi perpajakan yang tentunya akan mempengaruhi penilaian pribadi terhadap pajak itu sendiri. Yang kemudian kesan tersebut akan diwujudkan seseorang melalui tindakan apakah menjadi patuh atau tidak.
2.2. Telaah Literatur
2.2.1. Kepatuhan Wajib Pajak
Kepatuhan perpajakan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya. Dimana hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan No.
544/KMK.04/2000 menyatakan bahwa Kepatuhan perpajakan adalah tindakan Wajib Pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan pelaksanaan perpajakan yang berlaku dalam suatu Negara.
Dalam Keputusan Menteri Keuangan No.544/KMK.04/2000, wajib pajak dikatakan patuh jika : 1. Tepat waktu dalam penyampaian SPT untuk semua jenis pajak dalam dua tahun terakhir. 2. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak. 3. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir.
Menurut Cahya (2013) “Kepatuhan wajib pajak diidentifikasikan dari: (1).
Kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri, (2). Kepatuhan Wajib Pajak untuk menyetorkan Kembali SPT, (3). Kepatuhan dalam perhitungan dan pembayaran pajak terutang,(4). Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan”.
“Kepatuhan wajib pajak adalah rasa bersalah dan rasa malu, persepsi wajib pajak atas kewajaran dan keadilan beban pajak yang mereka tanggung, dan pengaruh kepuasan terhadap pelayanan pemerintah”.
Suatu iklim kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan, tercermin dalam situasi dimana menurut cahya (2013) yaitu:
a. Wajib Pajak Paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan perundang-undangan perpajakan.
b. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas.
c. Menghitung pajak yang terhitung dengan benar.
d. Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya
Adapun beberapa peneliti telah melakukan penelitian mengenai Faktor – fakor yang mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak :
Angkoso (2010) melakukan penelitian mengenai factor yang mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak, yang mana variabel yang diteliti yaitu, Reformasi Administrasi Perpajakan, pengetahuan dasar wajib pajak tentang perpajakan, dan kesadaran perpajakan. Objek Penelitian studi empiris pada kantor pelayanan pajak pratama di wilayah Jakarta selatan. Dimana hasil penelitiannya menunjukkan reformasi administrasi berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, pengetahuan dasar wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, kesadaran perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.
Sinambela (2013) melakukan penelitian dengan Objek Penelitiannya di KPP Pratama Waingapu Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa secara simultan reformasi administrasi perpajakan (tindakan yang sopan, pendidikan khusus,
fasilitas, dan unit khusus pelayanan) berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak di KPP Pratama Waingapu). secara parsial variabel yang berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak, sedangkan variabel tindakan yang sopan, dan fasilitas tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak.
Penyuluhan pajak sebagai variabel moderating mempengaruhi hubungan antara reformasi administrasi perpajakan (tindakan yang sopan, pendidikan khusus, fasilitas, dan unit khusus pelayanan) dengan tingkat kepatuhan pajak.
Fatma (2013) Melakukan penelitian dengan Objek penelitiannya yaitu Orang Pribadi Di kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur. Hasil Penelitiannya menunjukkan bahwa Sosialisasi perpajakan secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel kepatuhan wajib pajak. Kualitas Pelayanan Fiskus secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel kepatuhan wajib pajak. Sanksi Perpajakan berpengaruh signifikan terhadap variabel kepatuhan wajib.
Arsyad (2013) melakukan penelitian dengan Objek penelitian yaitu Wajib Pajak badan di KPP Pratama medan Timur. Hasil peneitiannya yaitu, Penagihan Aktif dan pemeriksaan pajak berpengaruh signifikan terhadap kesadaran pajak, sedangkan Sosialisasi Pajak berpengaruh tidak signifikan terhadap kesadaran Pajak. Penagihan Aktif dan pemeriksaan pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan pajak, sedangkan Sosialisasi Pajak berpengaruh tidak signifikan terhadap kepatuhan Pajak. Penagihan Aktif dan pemeriksaan pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan pajak melalui kesadaran pajak, sedangkan Sosialisasi Pajak berpengaruh tidak signifikan terhadap kepatuhan pajak melalui kesadaran Pajak.
Fernando, dan Anton (2017) penelitian dengan objek penelitiannya Wajib Pajak Orang Pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Palembang Seberang Ulu).
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Sosialisasi berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Pengetahuan Perpajakan tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Sanksi Perpajakan tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak.
Dewi dan Wati (2018) Melakukan penelitian dengan Objek penelitian Wajib Pajak Orang Pribadi di KPP Pratama Kebumen. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Sosialisasi perpajakan berpengaruh positif terhadap pengetahuan perpajakan, Pengetahuan perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak, Sosialisasi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak, Sosialisasi perpajakaan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak melalui pengetahuan perpajakan.
Lianty (2017) melakukan Penelitian dengan Objek penelitian Wajib Pajak OP (Non Karyawan) di KPP Pratama Bandung Bojonagara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara simultan Pengetahuan Perpajakan, Sosialisasi Perpajakan, dan Pelayanan Fiskus berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. Sedangkan secara parsial, Pengetahuan Perpajakan, dan Pelayanan Fiskus berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. sedangkan sosialisasi perpajakan secara parsial tidak berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.
Safitri (2018) melakukan penelitian dengan Objek penelitian wajib pajak usahawan di KPP Pratama Tuban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak,
pemahaman perpajakan berepengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. demografi tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak.
Rahayu (2009) melakukan penelitian dengan Objek penelitian Wajib Pajak Badan pada KPP Pratama Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem administrasi perpajakan modern tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak
Eriyanti (2015) melakukan penelitian dengan variabel independen Pemahaman Akuntansi, Pemahaman Ketentuan Perpajakan, Dan Transparansi Dalam Pajak. Objek penelitian pad Wajib Pajak Badan KPP Madya Pekanbaru.
Hasil penelitian Menyatakan bahwa pemahaman akuntansi berpengaruh terhdap kepatuhan wajib pajak badan, pemahaman ketentuan perpajakan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak badan dan transparansi dalam pajak bepengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak badan.
Setyabudi (2017) melakukan penelitian dengan Objek penelitian Wajib Pajak Orang Pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Surakarta. Hasil Penelitiannya menunjukkan bahwa sosialisasi perpajakan berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Pribadi, pengetahuan perpajakan berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Pribadi. sanksi pajak berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Pribadi. PPh Final (Implementasi PP 46 th 2013) tidak berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Pribadi
Satria (2017) melakukan penelitian dengan Objek penelitian pada Wajib Pajak Badan Perusahaan Jasa Konsultan Konstruksi Di Kota Tanjungpinang.
Hasil Penelitiannya menunjukkan bahwa pemahaman Pajak berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak, Ketentuan Perpajakan berpengaruh terhadap Kepatuhan
Wajib Pajak, dan Transparansi dalam Pajak berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak Badan.
Derini (2016) Melakukan penelitian dengan Objek penelitian wajib pajak badan di kpp pratama bandung cibeunying. Hasil Penelitiannya menunjukkan Pemahaman Wajib Pajak tentang Akuntansi Pajak berpengaruh positif secara parsial terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan, Norma Subjektif berpengaruh positif secara parsial terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan. Pemahaman Wajib Pajak tentang Akuntansi Pajak dan Norma Subjektif berpengaruh positif secara simultan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan.
Dartini dan Ketut (2016) Melakukan penelitian dengan Objek penelitian wajib pajak badan di KPP Pratama Denpasar Timur. Hasil Penelitiannya yaitu : pemahaman akuntansi berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak badan.
Transparansi tidak berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak badan.
Adiasa (2013) melakukan penelitian dengan Objek penelitian Wajib pajak Orang Pribadi di wilayah Semarang Barat. Hasil Peneltiannya menunjukkan pemahaman peraturan perpajakan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak dan preferensi risiko tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Selain itu preferensi risiko tidak dapat memoderasi hubungan antara variabel pemahaman peraturan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak 2.2.2. Pemahaman Akuntansi
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2009 tentang ketentuan umum dan cara perpajakan pasal 28 disebutkan bahwa wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerja bebas dan wajib pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan.
Mursyidi (2010) mendefinisikan Akuntansi adalah proses pengidentifikasian data keuangan, memproses pengolahan dan penganalisaan data yang relevan untuk diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pembuatan keputusan.
Tingkat pemahaman akuntansi ini dapat diukur dari paham seseorang terhadap proses mencatat transaksi keuangan, pengelompokkan, pengikhtisaran, pelaporan dan penafsiran data keuangan. Pembukuan memiliki peranan penting dalam bidang perpajakan, yaitu:
1. Informasi pembukuan diperlukan untuk menghitung pajak terutang dan verifikasi, serta pemeriksaan dan investigasi terhadap kebenaran penghitungan jumlah utang pajak tersebut. Pembukuan tersebut akan mempermudah wajib pajak dalam mengisi SPT dan menghitung penghasilan kena pajak.
2. Informasi yang disajikan tentang posisi finansial dan hasil usaha untuk bahan analisis atau pengambilan keputusan ekonomi perusahaan.
Perusahaan sebagai wajib pajak badan mempunyai kewajiban dalam menghitung dan melaporkan kewajiban perpajakannya sendiri atau bisa dinamakan self assesment. Dalam penyampaian dan pelaporannya, terdapat perbedaan dalam penghitungan pengakuan penghasilan perusahaan, yaitu pengakuan beban menurut standar akuntansi keuangan dan beban yang dapat mengurangi pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan perpajakan. Penentuan laba akuntansi dan penghasilan kena pajak atau laba fiskal juga sering kali menghasilkan perbedaan. Laba akuntansi merupakan terminology yang dipakai menurut SAK yang berarti laba atau rugi bersih dalam satu periode sebelum
dikurangi dengan beban pajak, sedangkan Penghasilan kena pajak atau laba fiskal merupakan terminology pajak yang berarti laba atau rugi dalam satu periode dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan menjadi dasar penghitungan PPh.
Hal tersebut menjadi fokus diterapkannya PSAK 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan.
Penelitian yang dilakukan oleh Duc (2011) menyatakan bahwa adanya manfaat utama yang dirasakan dari kepatuhan dengan penerapan standar akuntansi yaitu untuk mendukung deklarasi pajak dan untuk memenuhi persyaratan hukum pajak. Sebagaimana juga yang dikatakan oleh Haraldsson (2014) Kepatuhan terhadap peraturan akuntansi menjadi perhatian utama bagi banyak pihak yang berkepentingan (pemerintah, pembayar pajak, badan pengawas, dan lainnya).
Smulders et al. (2012) menyatakan bahwa berbagai fungsi akuntansi dan pencatatan dilakukan untuk menghasilkan tujuan yang sama antara akuntansi dan pajak (misalnya dalam menghasilkan informasi manajerial dan juga informasi yang diperlukan untuk mematuhi undang-undang perpajakan)
Darmawati dan Ayu (2018) dalam penelitiannya bahwa mengemukakan bahwa penerapan akuntansi pada UMKM memiliki banyak keuntungan, diantaranya yaitu menjadikan pembukuan yang baik dan rapi. Dengan pembukuan yang baik dan rapi, maka akan meningkatkan keakuratan dan ketepatan laporan keuangan yang akan digunakan sebagai dasar dalam perhitungan pajak.
Disamping itu dinyatakan juga bahwa terdapat manfaat lain dari penerapan akuntansi yaitu memberikan kemudahan kerjasama terkait dengan keuangan,seperti pendanaan dengan pihak ketiga seperti halnya Bank dan untuk melihat efektifitas dan efisiensi suatu usaha.
Sharon, et al (2016) menyatakan dalam penelitiannya secara keseluruhan hasil menunjukkan bahwa memiliki pengetahuan akuntansi lebih meningkatkan waktu kepatuhan pajak, mungkin karena orang-orang ini dapat mengambil lebih banyak isu pajak yang terlibat dalam bisnis, sedangkan mereka yang kurang pengetahuan mungkin tidak menyadari bahwa ada kemungkinan masalah pajak.
Ini mungkin juga merupakan Indikasi perencanaan pajak yang lebih banyak dilakukan oleh individu dengan pengetahuan akuntansi yang lebih baik.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Eriyanti (2015), Dartini dan Ketut (2016), Saepudin (2013) yang menyatakan bahwa pemahaman akuntansi berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib Pajak badan, juga penelitian Sumianto (2015) menyatakan bahwa pemahaman akuntansi berpengaruh positif dalam meningkatkan kepatuhan membayar pajak. Namun lain halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2018) yang menyatakan bahwa pemahaman akuntansi tidak berpengaruh terhadap wajib pajak. Perbedaan hasil penelitian ini disebabkan adanya perbedaan persepsi wajib pajak terhadap pemahaman akuntansi. Khususnya dalam pengenaan norma omset kurang dari 4,8 miliar sehingga hal tersebut yang dapat menyebabkan wajib pajak tidak perlu memahami mengenai akuntansi.
2.2.3. Reformasi Administrasi Perpajakan
Abdel-Mowla (2012) mengungkapkan bahwa Reformasi pajak masih tinggi pada agenda pemerintah di seluruh dunia. Namun, ini lebih penting untuk ekonomi berkembang. Ini bukan hanya karena pajak sebagai sumber pendapatan publik jauh lebih penting di negara berkembang. Perlu disebutkan bahwa
reformasi pajak lebih dibutuhkan di negara berkembang juga karena distorsi dalam sistem pajak lebih parah di negara-negara ini.
Menurut Rufaedah (2015) Reformasi administrasi perpajakan adalah penyempurnaan atau perbaikan kinerja administrasi, baik secara individu, kelompok, maupun kelembagaan agar lebih efisien, ekonomis, dan cepat. Konsep reformasi administrasi perpajakan pada prinsipnya merupakan perubahan pada sistem administrasi perpajakan yang dapat mengubah pola pikir dan perilaku aparat serta tata nilai organisasi sehingga Direktorat Jenderal Pajak (DJP) diharapkan menjadi suatu institusi yang profesional dengan citra yang baik di masyarakat. Untuk mencapainya, diperlukan beberapa persyaratan, yaitu:
a) Struktur pajak yang disederhanakan untuk suatu kemudahan, kepatuhan, dan administrasi
b) Strategi reformasi yang sesuai harus dikembangkan
c) Komitmen politik yang kuat terhadap peningkatan administrasi perpajakan.
Dhingra (2006) menyatakan bahwa Reformasi perpajakan dan peningkatan administrasi perpajakan adalah tugas yang sulit tetapi rutin bagi Pemerintah Serikat Pekerja yang mencakup pajak langsung dan tidak langsung. Administrasi pajak telah menganggap jauh lebih penting dalam konteks saat ini karena sejumlah besar wajib pajak yang dicakup (setiap tahun) dalam golongan pajak, ekonomi telah dibuka dan masuknya beberapa perusahaan multinasional dapat diamati. Estimasi rasio pajak-PDB secara keseluruhan, tingkat pertumbuhan, daya apung pajak, faktor-faktor penentu rasio pajak, dan konstruksi indeks kinerja pajak membuat analisis struktur pajak menjadi lebih ketat dan empiris. Penyajian
RUU Keuangan adalah latihan rutin mencoba membawa reformasi pajak dan meningkatkan administrasi pajak.
Tujuan utama reformasi administrasi perpajakan (tax administration reform) adalah untuk mencapai efektivitas yang tinggi (kemampuan untuk mencapai tingkat kepatuhan yang tinggi); dan efisien (kemampuan untuk membuat biaya administrasi per unit penerimaan pajak sekecil-kecilnya. Untuk itu, menurut Rufaedah (2015) reformasi harus :
1) memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
2) mengadministrasikan penerimaan pajak sehingga transparansi dan akuntabilitas penerimaan sekaligus pengeluaran dana dari pajak setiap saat bisa diketahui,
3) memberikan pengawasan terhadap pelaksanaan pemungutan pajak, terutama kepada aparat pengumpul pajak, wajib pajak, atau masyarakat pembayar pajak,
4) memperbaiki efektivitas dan efisiensi administrasi perpajakan .
Pantemee dan Muzainah (2016) meyakini bahwa administrasi perpajakan dapat menghasilkan lebih banyak pendapatan dari sistem perpajakan tempat model modernisasi administrasi perpajakan yang diadopsi. Agar pemerintah tertentu dapat menghasilkan pendapatan yang memadai dari sistem perpajakan, administrasi perpajakan diharapkan bekerja dengan cara yang paling efektif dan efisien.
Toye (2000) berpendapat bahwa kurangnya penerimaan pajak merupakan kendala yang mengikat dalam reformasi fiskal. Meningkatkan pendapatan dapat
dicapai dengan mengubah kebijakan pajak (mis. Menaikkan tarif pajak) atau dengan meningkatkan pengumpulan pajak. Membentuk Unit Pembayar Pajak Besar (LTU) dipandang sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pengumpulan pajak karena sebagian kecil perusahaan besar di sebagian besar negara pada umumnya bertanggung jawab atas bagian besar dari pendapatan pajak.
Tanzi dan Anthony (1995) menyatakan bahwa Pengalaman beberapa negara dalam beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa administrasi pajak dapat direformasi dan dibuat lebih efisien. Jika seluruh perekonomian tidak direformasi dan jika sikap tentang peran sektor publik dan pasar tidak berubah, akan sulit untuk merealokasi sumber daya dalam administrasi atau untuk menciptakan insentif bagi pembayar pajak dan administrasi pajak untuk meningkatkan kepatuhan.
Brondolo and Zhiyong (2016) melakukan penelitian mengenai reformasi Administrasi Pajak di tiongkok menyatakan bahwa Kapasitas Administrasi Perpajakan Negara untuk memobilisasi penerimaan pajak dalam menghadapi tantangan yang semakin besar. Perlambatan dan perubahan struktural dalam ekonomi mengurangi pertumbuhan basis pajak China dan menciptakan insentif (dan peluang baru) untuk penghindaran dan penggelapan pajak. Selanjutnya Tekanan pendapatan dapat diperkirakan karena bisnis dan individu Tiongkok yang meningkatkan investasi mereka di luar negeri, sehingga menciptakan ruang tambahan untuk ketidakpatuhan.
Bird (2014) menyimpulkan bahwa perlu waktu bertahun-tahun sebelum negara-negara tersebut memiliki administrasi pajak yang beroperasi penuh yang mampu menjalankan "sistem pajak modern penuh" pada tingkat yang memuaskan.
Tidak peduli seberapa bagus kebijakan pajak dalam teori, atau praktik administrasi pajak, keduanya membutuhkan lingkungan yang sesuai untuk menghasilkan hasil yang baik.
Dragojlovic (2008) menyatakan bahwa Kebijakan perpajakan dan Administrasi Pajak adalah bagian terpenting dari setiap reformasi sistem perpajakan. Keduanya harus direformasi dalam waktu yang bersamaan untuk meningkatkan tingkat pengumpulan pajak. Reformasi kebijakan perpajakan adalah proses jangka pendek yang diperlukan, sementara reformasi Administrasi Perpajakan adalah proses jangka panjang yang diperlukan. Bahkan manfaat dari mengadopsi kebijakan pajak modern dan efektif, tanpa reformasi Administrasi Pajak, dimungkinkan secara jangka pendek, dalam jangka panjang manfaat ini akan dinetralkan. Selanjutnya, output dari keseluruhan proses akan menjadi negatif. Alih-alih meningkatkan tingkat kepatuhan, negara akan menghadapi peningkatan tingkat penggelapan pajak dan kurangnya uang dalam anggaran negara. Untuk menghindari situasi ini, proses paralel reformasi kebijakan pajak dan Administrasi Pajak diperlukan.
Apabila sistem administrasi perpajakan telah dikelola dengan baik dan dapat memberikan kemudahan bagi wajib pajak dalam melaporakan pajaknya, maka hal tersebut merupakan kunci dari keberhasilan pelaksanaan kebijakan perpajakan. Serta hal ini akan mendorong Wajib pajak untuk patuh dalam memenuhi kewajiban perpajakannya dan tercapainya realisasi penerimaan pajak yang sesuai dengan kebutuhan.
Apabila sistem administrasi perpajakan telah dikelola dengan baik dan dapat memberikan kemudahan bagi wajib pajak dalam melaporakan pajaknya, maka hal tersebut merupakan kunci dari keberhasilan pelaksanaan kebijakan perpajakan. Serta hal ini akan mendorong Wajib pajak untuk patuh dalam memenuhi kewajiban perpajakannya dan tercapainya realisasi penerimaan pajak yang sesuai dengan kebutuhan.