• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KERANGKA PENELITIAN

4.9 Teknik Analisis Data

4.9.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)

Ghazali (2012) menyatakan bahwa uji ini bertujuan untuk mengetahui serta mengukur seberapa kuat kemampuan model mampu menerangkan variasi variabel dependennya. Nilai koefisien determinasi terletak antara nol dan satu.

Apabila nilai R2 mendekati satu, maka variabel bebas yang diteliti secara garis besarnya mampu memberikan keseluruhan informasi dalam memprediksi variasi variabel terikatnya. Namun, apabila R2 jauh mendekati 1 maka kemampuan variabel bebas yang diteliti sangat terbatas untuk menjelaskan variasi variabel terikatnya.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Gambaran Umum KPP yang Terdaftar di Kanwil DJP Sumut I

Untuk memudahkan pelayanan pembayaran pajak dan masyarakat dan dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat, maka dijadikanlah Kantor Inspeksi Pajak (sekarang Kantor Pelayanan Pajak). PMK No.132/PMK.01/2006 tentang Organisasi Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Modern diseluruh jajaran Direktorat Jenderal Pajak terdiri dari 3 jenis, yaitu: Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, Kantor Pelayanan Pajak Madya, Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Dengan dibentuknya KPP Madya dan KPP Pratama di bawah kantor wilayah DJP Sumatera Utara I, yaitu:

1. Kantor Pelayanan Pajak Madya Medan, dengan ruang lingkup meliputi wilayah sebagian Provinsi Sumatera Utara.

2. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur, dengan ruang lingkup meliputi wilayah Kecamatan Medan Timur, Kecamatan Medan Tembung, Kecamatan Medan Perjuangan

3. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Barat, dengan ruang lingkup meliputi wilayah Kecamatan Medan Barat.

4. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah, dengan ruang lingkup meliputi wilayah: Kecamatan Medan Sunggal, Kecamatan Medan Petisah, Kecamatan Medan Helvetia

5. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota, dengan ruang lingkup meliputi wilayah: Kecamatan Medan Kota, Kecamatan Medan Denai, Kecamatan Medan Area, Kecamatan Medan Amplas

6. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia, dengan ruang lingkup meliputi wilayah: Kecamatan Medan Polonia, Kecamatan Medan Maimun, Kecamatan Medan Baru, Kecamatan Medan Tuntungan, Kecamatan Medan Selayang, Kecamatan Medan Johor

7. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan, dengan ruang lingkup meliputi wilayah: Kecamatan Medan Belawan, Kecamatan Medan Marelan, Kecamatan Medan Labuhan, Kecamatan Medan Deli

8. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Binjai, dengan ruang lingkup meliputi wilayah: Kota Binjai, Kabupaten Langkat

9. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Lubuk Pakam, dengan ruang lingkup meliputi wilayah Kabupaten Deli Serdang.

5.2. Deskripsi Responden

Sebelum melakukan pembahasan mengenai data secara statistik, peneliti terlebih dahulu mendeskripsikan data responden yang telah ditentukan sebagai sampel dalam penelitian ini. Adapun objek yang menjadi sampel adalah 100 Wajib Pajak Badan yang terdaftar sebagai wajib SPT.

5.2.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan

Karakteristik Wajib Pajak Badan yang terdaftar pada KPP di Kanwil DJP Sumut I berdasarkan Jabatan yang mengisi Kuesioner dapat dilihat pada penjelasan Tabel 5.1 berikut:

Tabel 5.1

Responden Menurut Jabatan

No Jabatan Jumlah Proporsi (%)

1 Direktur Keuangan & Tax 5 5

2 Manager Keunagan & Tax 1 1

3 Staff Accounting & Tax 32 32

4 Staff Keuangan 62 62

Jumlah 100 100

Sumber : data primer diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 5.1 terlihat bahwa responden pada penelitian ini berdasarkan jabatannya yaitu Direktur keuangan sebayank 5 orang atau 5%, Manager Keuangan & Tax sebanyak 1 orang atau 1%, Staff Accounting & Tax sebanyak 32 orang atau 32% dan Staff Keuangan sebanyak 62 Orang atau 62 %.

5.2.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Karakteristik Wajib Pajak Badan yang terdaftar pada KPP di Kanwil DJP Sumut I berdasarkan jenis kelamin yang mengisi Kuesioner dapat dilihat pada penjelasan Tabel 5.2 berikut:

Tabel 5.2

Responden Menurut Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah Responden Proporsi (%)

1 Pria 36 36

2 Wanita 45 45

Jumlah 100 100

Sumber : data primer diolah, 2019

Dari Tabel 5.2 terlihat bahwa responden pada penelitian ini berdasarkan jenis kelamin pria berjumlah 36 orang atau 36%, sedangkan yang berjenis kelamin wanita ada 45 orang atau 45,00%. Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas yang sering mengunjungi Kantor Pelayanan di 9 KPP Pratama yaitu berjenis kelamin wanita.

5.2.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Karakteristik Wajib Pajak Badan yang terdaftar pada KPP di Kanwil DJP Sumut I berdasarkan Pendidikan Terakhir yang mengisi Kuesioner dapat dilihat pada penjelasan Tabel 5.3 berikut:

Tabel 5.3

Responden Berdasarkan Pendidikan

No Pendidikan Jumlah Proporsi (%)

1 D3 27 27

2 S1 68 68

3 S2 5 5

Total 100 100

Sumber : data primer diolah, 2019

Dari Tabel 5.3 terlihat bahwa responden pada penelitian ini berdasarkan Pendidikan D3 berjumlah 27 orang atau 27%, Pendidikan S1 berjumlah 68 orang atau 68%, dan Pendidikan S2 berjumlah 5 Orang atau 5% Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas yang sering mengunjungi Kantor Pelayanan di 9 KPP Pratama yaitu berpendidikan S1.

5.2.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Kerja

Karakteristik Wajib Pajak Badan yang terdaftar pada KPP di Kanwil DJP Sumut I berdasarkan Lama kerja yang mengisi Kuesioner dapat dilihat pada penjelasan Tabel 5.4 berikut:

Tabel 5.4

Responden Berdasarkan Lama Kerja

No Lama Bekerja Jumlah Proporsi (%)

1 1 Tahun – 5 Tahun 59 59

2 6 Tahun – 10 Tahun 30 30

3 11 Tahun – 15 Tahun 6 6

4 16 Tahun – 20 Tahun 4 4

5 > 20 Tahun 1 1

Total 100 100

Sumber : data primer diolah, 2019

Dari Tabel 5.4 terlihat bahwa responden pada penelitian ini berdasarkan lama kerja rentang 1-5 Tahun berjumlah 59 orang atau 59%, 6-10 Tahun berjumlah 30 orang atau 30%, 11-15 Tahun berjumlah 6 Orang atau 6%, 16-20 Tahun berjumlah 4 Orang atau 4%, dan 21-25 Tahun berjumlah 1 Orang atau 1%

Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas yang sering mengunjungi Kantor Pelayanan di 9 KPP Pratama yaitu dengan lama bekerja 1 sampai dengan 5 Tahun.

5.3. Hasil Penelitian

5.3.1. Analisis Statistik Deskriptif Penelitian

Statistik deskriptif dalam penelitian ini merangkum serta memberikan gambaran secara keseluruhan atas jawaban responden pada setiap butir pernyataan yang digunakan dalam mengukur setiap variabel penelitian. Setiap butir pernyataan diukur dengan menggunakan lima kategori jawaban yang berhubungan dengan kesetujuan reponden pada pernyataan yang diberikan.

Variabel dalam penelitian ini adalah Pemahaman Akuntansi, Reformasi Administrasi Perpajakan, Sosialisasi Perpajakan, dan Sanksi Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan pada KPP yang terdaftar di Kanwil DJP Sumut I.

Statistik deskriptif penelitian hanya bertujuan untuk menjelaskan jawaban dari responden penelitian dan tidak untuk digeneralisasi. Statistik deskriptif penelitian ditabulasi berdasarkan jawaban dari seluruh responden terhadap setiap butir pernyataan dalam kuesioner dan diperoleh rangkuman jawaban yang selanjutnya dikategorikan dalam kelompok kesimpulan berdasarkan nilai rata-rata (mean) dari jawaban responden.

Tabel 5.5

Pengkategorian Nilai Rata-rata Jawaban Responden Nilai Rata-rata

5.3.2. Deskripsi Jawaban Responden atas Variabel Pemahaman Akuntansi Variabel Pemahaman Akuntansi diukur melalui item-item pernyataan yang ada pada kuesioner berjumlah 10 pernyataan. Pada setiap item pernyataan, terdapat 5 poin skala likert yang digunakan (sangat tidak setuju s/d sangat setuju).

Berikut adalah distribusi frekuensi variabel Pemahaman Akuntansi : Tabel 5.6

Jawaban Responden Variabel Pemahaman Akuntansi Item

Sumber : Hasil penelitian, 2019 (data diolah)

Berdasarkan Tabel 5.6 dapat dilihat bahwa pada pernyataan 1,pernyataan 2, pernyataan 3, pernyataan 4,pernyataan 5, pernyataan 6, pernyataan 7, pernyataan 8, pernyataan 9, dan pernyataan 10 memiliki mean 3,41 – 4,20 yang

dapat diartikan bahwa di masing-masing pertanyaan, responden lebih banyak menjawab setuju dan kualitas dari masing-masing pertanyaannya baik.

5.3.3. Deskripsi Jawaban Responden atas Variabel Reformasi Administrasi Perpajakan

Variabel Reformasi Administrasi Perpajakan diukur melalui item-item pernyataan yang ada pada kuesioner berjumlah 7 pernyataan. Pada setiap item pernyataan, terdapat 5 poin skala likert yang digunakan (sangat tidak setuju s/d sangat setuju). Berikut adalah distribusi frekuensi variabel Reformasi Administrasi Perpajakan :

Tabel 5.7

Jawaban Responden Variabel Reformasi Administrasi Perpajakan Item

Pernyataan

Skor Jawaban Responden

Mean

STS TS KS S SS

F (%) F(%) F(%) F(%) F(%))

1 0 7 9 68 16 3,93

2 0 0 13 73 14 4,01

3 0 9 5 73 13 3,93

4 0 3 5 82 10 3,99

5 0 1 12 73 14 4,00

6 0 1 19 66 14 3,93

7 0 2 9 74 15 4,02

Sumber : Hasil penelitian, 2019 (data diolah)

Berdasarkan Tabel 5.7 dapat dilihat bahwa pada pernyataan 1,pernyataan 2, pernyataan 3, pernyataan 4,pernyataan 5, pernyataan 6, dan pernyataan 7, memiliki mean 3,41 – 4,20 yang dapat diartikan bahwa di masing-masing pertanyaan, responden lebih banyak menjawab setuju dan kualitas dari masing-masing pertanyaannya baik.

5.3.4. Deskripsi Jawaban Responden atas Variabel Sosialisasi Perpajakan Variabel Sosialisasi Perpajakan diukur melalui item-item pernyataan yang ada pada kuesioner berjumlah 5 pernyataan. Pada setiap item pernyataan, terdapat

5 poin skala likert yang digunakan (sangat tidak setuju s/d sangat setuju). Berikut adalah distribusi frekuensi variabel Sosialisasi Perpajakan :

Tabel 5.8

Jawaban Responden Variabel Sosialisasi Perpajakan Item

Sumber : Hasil penelitian, 2019 (data diolah)

Berdasarkan Tabel 5.8 dapat dilihat bahwa pada pernyataan 1,pernyataan 2, pernyataan 3, pernyataan 4,dan pernyataan 5 memiliki mean 3,41 – 4,20 yang dapat diartikan bahwa di masing-masing pertanyaan, responden lebih banyak menjawab setuju dan kualitas dari masing-masing pertanyaannya baik.

5.3.5. Deskripsi Jawaban Responden atas Variabel Sanksi Perpajakan Variabel Sanksi Perpajakan diukur melalui item-item pernyataan yang ada pada kuesioner berjumlah 7 pernyataan. Pada setiap item pernyataan, terdapat 5 poin skala likert yang digunakan (sangat tidak setuju s/d sangat setuju). Berikut adalah distribusi frekuensi variabel Sanksi Perpajakan :

Tabel 5.9

Jawaban Responden Variabel Sanksi Perpajakan Item

Sumber : Hasil penelitian, 2019 (data diolah)

Berdasarkan Tabel 5.9 dapat dilihat bahwa pada pernyataan 1,pernyataan 2, pernyataan 3, pernyataan 4,pernyataan 5, pernyataan 6, dan pernyataan 7, memiliki mean 3,41 – 4,20 yang dapat diartikan bahwa di masing-masing pertanyaan, responden lebih banyak menjawab setuju dan kualitas dari masing-masing pertanyaannya baik.

5.3.6. Deskripsi Jawaban Responden atas Variabel Kepatuhan Perpajakan Variabel Kepatuhan Perpajakan diukur melalui item-item pernyataan yang ada pada kuesioner berjumlah 8 pernyataan. Pada setiap item pernyataan, terdapat 5 poin skala likert yang digunakan (sangat tidak setuju s/d sangat setuju). Berikut adalah distribusi frekuensi variabel Kepatuhan Perpajakan :

Tabel 5.10

Jawaban Responden Variabel Kepatuhan Perpajakan Item

Pernyataan

Skor Jawaban Responden

Mean

STS TS KS S SS

F(%) F(%) F(%) F(%) F(%)

1 0 2 9 80 9 3,96

2 0 0 11 83 6 3,95

3 0 0 13 77 10 3,97

4 0 1 10 82 7 3,95

5 0 2 14 78 6 3,88

6 0 0 9 82 9 4,00

7 0 0 5 85 10 4,05

8 0 0 5 85 10 4,05

Sumber : Hasil penelitian, 2019 (data diolah)

Berdasarkan Tabel 5.10 dapat dilihat bahwa pada pernyataan 1,pernyataan 2, pernyataan 3, pernyataan 4,pernyataan 5, pernyataan 6,pernyataan 7, dan pernyataan 8 memiliki mean 3,41 – 4,20 yang dapat diartikan bahwa di masing-masing pertanyaan, responden lebih banyak menjawab setuju dan kualitas dari masing-masing pertanyaannya baik.

5.4. Uji Kualitas Data 5.4.1. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghazali, 2013). Uji validitas dalam penelitian ini digunakan untuk menguji kevalidan kuesioner. Validitas menunjukkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan kecermatan fungsi alat ukurnya.

Pengujian menggunakan 2 sisi dengan taraf signifikan 0,05 jika rhitung ≥ rtable maka instrument atau item-item pernyataan berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid), dan sebaliknya jika rhitung ≤ rtable Dinyatakan tidak valid.

Nilai rtabel untuk uji dua sisi pada taraf signifikansi 5% (p = 0,05) dengan jumlah N = 100 adalah 0,1654. Berikut ini ditampilkan hasil pengujian validitas:

Tabel 5.11

Uji Validitas Variabel Pemahaman Akuntansi

rhitung rtabel Keterangan

pernyataan 1 0,535 0,1654 Valid

pernyataan 2 0,372 0,1654 Valid

pernyataan 3 0,536 0,1654 Valid

pernyataan 4 0,387 0,1654 Valid

pernyataan 5 0,484 0,1654 Valid

pernyataan 6 0,439 0,1654 Valid

pernyataan 7 0,546 0,1654 Valid

pernyataan 8 0,409 0,1654 Valid

pernyataan 9 0,369 0,1654 Valid

pernyataan 10 0,397 0,1654 Valid

Sumber: data primer diolah, 2019

Dari Tabel 5.11 di atas dapat diketahui bahwa seluruh butir pertanyaan variabel Pemahaman Akuntansi memiliki nilai rhitung > rtabel sehingga dapat

disimpulkan bahwa seluruh butir kuisioner dinyatakan valid dan layak untuk di analisis lebih lanjut.

Tabel 5.12

Uji Validitas Variabel Sosialisasi Perpajakan

rhitung rtabel Keterangan

pernyataan 1 0,509 0,1654 Valid

pernyataan 2 0,507 0,1654 Valid

pernyataan 3 0,517 0,1654 Valid

pernyataan 4 0,466 0,1654 Valid

pernyataan 5 0,447 0,1654 Valid

Sumber: data primer diolah, 2019

Dari Tabel 5.12 di atas dapat diketahui bahwa seluruh butir pertanyaan variabel Sosialisasi Perpajakan memiliki nilai rhitung > rtabel sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh butir kuisioner dinyatakan valid dan layak untuk di analisis lebih lanjut.

Tabel 5.13

Uji Validitas Variabel Reformasi Administrasi Perpajakan

rhitung rtabel Keterangan

pernyataan 1 0,542 0,1654 Valid

pernyataan 2 0,532 0,1654 Valid

pernyataan 3 0,635 0,1654 Valid

pernyataan 4 0,554 0,1654 Valid

pernyataan 5 0,379 0,1654 Valid

pernyataan 6 0,586 0,1654 Valid

pernyataan 7 0,485 0,1654 Valid

Sumber: data primer diolah, 2019

Dari Tabel 5.13 di atas dapat diketahui bahwa seluruh butir pertanyaan variabel Reformasi Administrasi Perpajakan memiliki nilai rhitung > rtabel sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh butir kuisioner dinyatakan valid dan layak untuk di analisis lebih lanjut.

Tabel 5.14

Uji Validitas Variabel Sanksi Perpajakan

rhitung rtabel Keterangan

pernyataan 1 0,418 0,1654 Valid disimpulkan bahwa seluruh butir kuisioner dinyatakan valid dan layak untuk di analisis lebih lanjut.

Tabel 5.15

Uji Validitas Variabel Kepatuhan Perpajakan

rhitung rtabel Keterangan

pernyataan 1 0,361 0,1654 Valid

Sumber: data primer diolah, 2019

Dari Tabel 5.15 di atas dapat diketahui bahwa seluruh butir pertanyaan variabel Kepatuhan Perpajakan memiliki nilai rhitung > rtabel sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh butir kuisioner dinyatakan valid dan layak untuk di analisis lebih lanjut.

5.4.2. Hasil Uji Reliabilitas

Keandalan (reliability) pengukuran dibuktikan dengan menguji konsistensi dan stabilitas. Konsistensi menunjukkan seberapa baik item-item yang mengukur

sebuah konsep bersatu menjadi sebuah kumpulan. Alfa cronbach adalah koefisien keandalan yang menunjukkan seberapa baik item dalam suatu kumpulan secara positif berkorelasi satu sama lain. Alfa cronbach dihitung dalam hal rata-rata interkorelasi antar-item yang mengukur konsep. Semakin dekat alfa Cronbach dengan 1, semakin tinggi keandalan konsistensi internal (Sekaran, 2007).

Kriteria pengujian uji reabilitas menurut Ghozali (2013) adalah :

1) Apabila hasil koefisien alpha lebih besar dari taraf signifikan 60% atau 0,6 maka kuesioner tersebut reliable.

2) Apabila hasil koefisien Alpha lebih kecil dari taraf signifikan 60% atau 0,6 maka kuesioner tersebut tidak reliable.

Tabel 5.16 Uji Reliabilitas

Variabel Cronbach’s

Alpha Nilai Kritis Keterangan

Pemahaman Akuntansi 0,775 0,60 Reliabel

Reformasi Administrasi Perpajakan 0,797 0,60 Reliabel

Sosialisasi Perpajakan 0,726 0,60 Reliabel

Sanksi Perpajakan 0,761 0,60 Reliabel

Kepatuhan Perpajakan 0,707 0,60 Reliabel

Sumber: data primer diolah, 2019

Berdasarkan uji reliabilitas pada semua variabel diketahui nilai Alpha pada kolom Cronbach’s Alpha > 0,60 sehingga dinyatakan reliabel.

5.5. Uji Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik digunakan agar hasil data yang diolah memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). Uji ini terdiri dari uji normalitas data, uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas dan uji multikolineritas. Namun

karena data ini menggunakan data cross section maka uji autokorelasi tidak dilakukan.

5.5.1. Hasil Uji Normalitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali:2013). Model regresi yang baik adalah data yang terdistribusi normal atau mendekati normal.

Metode yang digunakan adalah dengan statistik Kolmogorov Smirnov. Alat uji ini biasa disebut dengan K-S yang tersedia dalam program SPSS for windows.

Kriteria yang digunakan dalam tes ini adalah dengan membandingkan antara tingkat signifikansi yang di dapat dalam tingkat alpha yang digunakan, dimana data tersebut di katakan berdistribusi normal bila sig > alpha.

Dasar pengambilan keputusan adalah dengan melihat angka probabilitas Jika sig atau value < 0,05, maka asumsi normal terpenuhi. Jika sig atau p-value> 0,05, maka asumsi normal tidak terpenuhi.

Tabel 5.17

Uji Normalitas dengan

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 100

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c

c. Lilliefors Significance Correction.

Sumber: data diolah, SPSS

Dari hasil pengolahan data pada tabel 5.17 diatas dilihat bahwa nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov (K-S) adalah 0,200 maka dapat disimpulkan bahwa data variabel terdistribusi normal karena signifikansi > 0,05. Pengujian normalitas data juga dapat diketahui dengan melihat gambar grafik dan kurva

distribusi normal. Data akan terdistribusi secara normal jika nilai probabilitas yang diharapkan adalah sama dengan nilai probabilitas harapan dan probabilitas pengamatan ditunjukan dengan garis diagonal yang merupakan perpotongan antara garis probabilitas harapan dan probabilitas pengamatan. Berikut ini merupakan pengujian hasil normalitas data dalam bentuk grafik histogram dan kurva P-P Plots seperti yang terlihat pada Lampiran 4.

Berdasarkan gambar grafik histogram pada Lampiran 4 dapat disimpulkan bahwa data telah berdistribusi secara normal. Hal ini dapat dilihat pada data yang mengikuti garis diagonal membentuk lonceng berada di tengah-tengah.

Berdasarkan gambar kurva PP-Plots pada Lampiran 4 dapat disimpulkan bahwa kurva telah berdistribusi secara normal. Hal ini dapat dilihat pada kurva normal PP-Plots terlihat titik-titik menyebar mendekati garis diagonal.

5.5.2. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan kepengamatan yang lain. Pengujian ini di lakukan dengan uji Glejser yakni dengan cara mengregresi nilai absolute residual dari model yang diestimasi terhadap variable independen. Jika tidak ada satu pun variable bebas yang berpengaruh signifikan terhadap nilai absolute residual atau nilai signifikansinya di atas 5% maka tidak terjadi heterokedastisitas.

Tabel 5.18 Uji Heteroskedastisitas dengan Uji Glejser

Sosialisasi Perpajakan ,000 ,077 ,000 1,000

Sanksi Perpajakan ,000 ,056 ,000 1,000

Sumber: data primer diolah, 2019

Dari tabel 5.18 menunjukkan bahwa ke empat variabel di atas lebih besar dari 0,05, maka sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam uji Glejser, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi sehingga model regresi layak dipakai.

5.5.3. Hasil Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance atau variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance lebih dari 10% atauVIF kurang dari 10, maka di katakan model regresi bebas dari gejala multikolinearitas.

Sosialisasi Perpajakan ,617 1,621

Sanksi Perpajakan ,589 1,699

a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak Badan

Berdasarkan hasil uji tersebut dapat dilihat bahwa nilai VIF dari variabel Pemahaman Akuntansi sebesar 1,261, Sosialisasi Perpajakan sebesar 1,621, Reformasi Administrasi Perpajakan sebesar 1,213, Sanksi Perpajakan sebesar 1,699, dimana masing- masing memilliki nilai VIF < 10. Pada nilai tolerance dari Pemahaman Akuntansi sebesar 0,793, Sosialisasi Perpajakan sebesar 0,617, Reformasi Administrasi Perpajakan sebesar 0,824, Sanksi Perpajakan sebesar 0,589 dimana masing- masing memilliki nilai tolerance > 0.10 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terdapat multikolinieritas.

5.6. Hasil Uji Hipotesis Penelitian

Pengujian hipotesis dilakukan setelah pengujian asumsi klasik. Pengujian hipotesis pertama menggunakan analisis regresi berganda yang dilakukan untuk menganalisis pengaruh Pemahaman Akuntansi, Sosialisasi Perpajakan, Reformasi Administrasi Perpajakan, dan Sanksi Perpajakan terhadap Kepatuhan perpajakan.

Untuk melihat pengaruh secara simultan yaitu dengan menggunakan uji statistik F, sedangkan untuk melihat pengaruh secara parsial digunakan uji statistik t.

5.6.1. Hasil Uji Parsial (Uji t)

Uji parsial (uji t) pada dasarnya menunjukkan seberapa besar hubungan antara variabel-variabel independen secara parsial mempengaruhi variabel dependen nya. Hasil Uji t dapat dilihat pada tabel 5.20

Tabel 5.20 Hasil Uji t

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 8,557 1,787 4,788 ,000

Pemahaman Akuntansi ,104 ,042 ,162 2,459 ,016

Reformasi Administrasi

Perpajakan ,279 ,047 ,386 5,984 ,000

Sosialisasi Perpajakan ,274 ,077 ,264 3,540 ,001

Sanksi Perpajakan ,216 ,056 ,297 3,882 ,000

a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak Badan

Sumber: data primer diolah, 2019

Dari hasil regresi linear berganda, maka dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut:

Y =8,557 + 0,104X1 + 0,279X2 + 0,274X3 +0,216X4 + e Berdasarkan persamaan Regresi Linier Berganda di atas dapat dijelaskan : 1. Konstanta

Konstanta bernilai positif pada pemahaman akuntansi, reformasi administrasi perpajaka, sosialisasi perpajakan, dan sanksi perpajakan, ini menandakan bahwa persamaan regresi berganda tersebut memiliki hubungan yang searah, artinya kepatuhan wajib pajak badan akan meningkat seiring dengan meningkatkan pemahaman akuntansi, reformasi administrasi perpajakan, sosialisasi perpajakan, dan sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak badan.

2. Pemahaman Akuntansi (X1)

Berdasarkan nilai signifikan dengan α = 0,05 variabel pemahaman akuntansi memiliki nilai signifikan 0,016 lebih kecil dari α = 0,05 sehingga secara parsial variabel pemahaman akuntansi berpengaruh positif dan signifikan

terhadap kepatuhan wajib pajak badan. Pengaruh positif menunjukkan bahwa semakin meningkatnya pemahaman akuntansi sebesar 1% maka semakin meningkatnya pemahaman akuntansi sebesar 0,104. Demikian juga sebaliknya semakin menurunnya pemahaman akuntansi 1% maka akan semakin menurunkan kepatuhan wajib pajak badan sebesar 0,104

3. Reformasi Administrasi Perpajakan (X2)

Berdasarkan nilai signifikan dengan α = 0,05 variabel Reformasi administrasi perpajakan memiliki nilai signifikan 0,000 lebih kecil dari α = 0,05 sehingga secara parsial variabel reformasi administrasi perpajakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan. Pengaruh positif menunjukkan bahwa semakin meningkatnya reformasi administrasi perpajakan sebesar 1% maka semakin meningkatnya reformasi administrasi perpajakan sebesar 0,279. Demikian juga sebaliknya semakin menurunnya reformasi administrasi perpajakan 1% maka akan semakin menurunkan kepatuhan wajib pajak badan sebesar 0,279.

4. Sosialisasi Perpajakan (X3)

Berdasarkan nilai signifikan dengan α = 0,05 variabel sosialisasi perpajakan memiliki nilai signifikan 0,001 lebih kecil dari α = 0,05 sehingga secara parsial variabel sosialisasi perpajakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan. Pengaruh positif menunjukkan bahwa semakin meningkatnya sosialisasi perpajakan sebesar 1% maka semakin meningkatnya sosialisasi perpajakan sebesar 0,274. Demikian juga sebaliknya semakin menurunnya sosialisasi perpajakan 1% maka akan semakin menurunkan kepatuhan wajib pajak badan sebesar 0,274.

5. Sanksi Perpajakan

Berdasarkan nilai signifikan dengan α = 0,05 variabel sanksi perpajakan memiliki nilai signifikan 0,000 lebih kecil dari α = 0,05 sehingga secara parsial variabel sanksi perpajakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan. Pengaruh positif menunjukkan bahwa semakin meningkatnya sanksi perpajakan sebesar 1% maka semakin meningkatkan sanksi perpajakan sebesar 0,216. Demikian juga sebaliknya semakin menurunnya sanksi perpajakan 1% maka akan semakin menurunkan kepatuhan wajib pajak badan sebesar 0,216.

5.6.2. Hasil Uji Simultan (F)

Uji Statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhahap variabel dependen. Hasil uji F dapat dilihat pada Tabel 5.21 berikut :

Tabel 5.21 Uji Simultan (F)

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 285,156 4 71,289 48,992 ,000b

Residual 138,234 95 1,455

Total 423,390 99

a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak Badan

b. Predictors: (Constant), Sanksi Perpajakan, Reformasi Administrasi Perpajakan, Pemahaman Akuntansi, Sosialisasi Perpajakan

Sumber: data primer diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 5.21 diketahui bahwa nilai signifikan 0,000 lebih kecil dari 0,05 (Sig = 0,000 < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa secara simultan variabel Pemahaman Akuntansi, Sosialisasi Perpajakan, Reformasi Administrasi Perpajakan, dan Sanksi Perpajakan berpengaruh sigmifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan yang terdaftar pada KPP di Kanwil DJP Sumut I.

5.6.3. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Hasil uji koefisien determinasi (R2) dapat dilihat pada tabel 5.22

Tabel 5.22

Uji Koefisien Determinasi (R2)

Model Summary

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 ,821a ,674 ,660 1,20627

a. Predictors: (Constant), Sanksi Perpajakan, Reformasi Administrasi Perpajakan, Pemahaman Akuntansi, Sosialisasi Perpajakan

Sumber: data primer diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 5.22 nilai Koefisien (R) sebesar 0,821 yang menunjukkan besarnya hubungan antara variabel, dengan koefisien determinasi (R square) sebesar 0,674 atau 67,4%. Hal ini berarti variabel Pemahaman Akuntansi, Sosialisasi Perpajakan, Reformasi Administrasi Perpajakan, dan

Berdasarkan Tabel 5.22 nilai Koefisien (R) sebesar 0,821 yang menunjukkan besarnya hubungan antara variabel, dengan koefisien determinasi (R square) sebesar 0,674 atau 67,4%. Hal ini berarti variabel Pemahaman Akuntansi, Sosialisasi Perpajakan, Reformasi Administrasi Perpajakan, dan