Habiburrachman
Filsafat Agama-UIN Sunan Kalijaga
1. Suaeb : Kau masih lapar? Aku punya duit.
2. Marko : (MARKO BERHENTI TIBA-TIBA) Berapa duitmu? Kenapa tidak ngomong dari tadi kalau punya duit? Kau mau lihat seseorang kembali mati?
3. Suaeb : (SEMBARI MENGAMBIL DUIT DI DOM- PETNYA) Tak salah ingat Allah saat lapar. 4. Marko : Cukup Fahruddin mati dengan cara itu di
antara kita!
5. Suaeb : Kenapa? Kau marah padaku?
6. Marko : Kau telah membuat aku melakukan hal tolol seperti kakak tua.
7. Suaeb : Berdzikir itu? 8. Marko : Iya.
9. Suaeb : Mengingat Allah itu? 10. Marko : Iya.
11. Suaeb : Kau akan mudah masuk neraka, Marko, bila terus begitu.
12. Marko : Kau pernah baca Alquran? Ingat ayat ini:
dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkan- lah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat...?
13. Suaeb : Iya.
14. Marko : Dan ayat ini: dan apabila nama Allah disebut, hati mereka bergetar...?
15. Suaeb : Tak perlu ajari aku, Marko. Aku hafal. 16. Marko : Aku juga. Tapi, andai aku jadi kau, mesti-
nya kau tanya kenapa aku menanyakan itu kepadamu. Mau kau kuceritakan satu hal? 17. Suaeb : Cukup, Marko. Cukup. Aku tak mau men- dengar omong kosongmu. Mendengarmu hanya melapangkan jalan ke neraka, Marko. 18. Marko : (TERTAWA) Ada burung kakak tua hafal Alquran. Kau tak bisa memungkiri itu. Bah- wa di satu sisi aku ternyata sama dengan
burung kakak tua gara-gara percaya omonganmu!
19. Suaeb : Kau pasti ditembak mati kalau Soeharto masih mangap di zaman ini.
20. Marko : Hubungannya dengan Soeharto?
21. Suaeb : Tidak ada. Kecuali kakek itu benci kepada orang-orang keras kepala macam kau. (SUAEB MENINGGALKAN MARKO. KEMUDIAN TER- DENGAR TERIAKAN ALLAHU AKBAR, DAN SUAEB MUN- DUR WASPADA).
22. Suaeb : Hati-hati, Marko, anak ini mulai tidak wa- ras. Hati-hati, Marko!
23. Muhammad : (MENODONGKAN SENJATA KE ARAH MARKO) Kamu dengar bahwa kamu harus hati-hati atau mau kulubangi tengkorakmu, Bung? Hendak kabur ke mana, Bung? Se- luruh gedung ini telah terkepung. Ber- gerak, dan kamu mati. Angkat tangan! Mau menyogok hanya dengan uang dua puluh ribu? Kau pikir kami hanya butuh uang segitu? (MUHAMMAD MENGAYUN PEN- TUNGANNYA KE SEMBARANG ARAH). Kamu berencana kabur? Diam di situ! 24. Marko : Ayolah jangan ganggu jalanku! 25. Suaeb : Marko!
26. Marko : Diam, Suaeb!
27. Muhammad : (KEPADA MARKO) Diam!
28. Marko : Ayolah, Muhammad. Bisa menghancurkan kepalaku pentungan itu.
29. Muhammad : Muhammad? Kamu mau memperdayaiku dengan panggilan Muhammad? Aku bukan nabimu, Bung! Aku bukan Nabi Muhammad yang punya rasa welas kepada orang-orang
lemah sepertimu. Lagipula Nabi Muhammad itu hanyalah sosok khayalan kepalamu, diciptakan sendiri oleh orang-orang lemah agar mereka senang karena merasa punya penolong. Dia tidak pernah ada.
30. Suaeb : Marko, awas!
31. Muhammad : Kamu juga diam, brengsek! Kalian sungguh makhluk tak berdaya. Itu bagus sekali. Da- tang ke bumi, mau menguasainya. Tapi ba- gaimanapun, kalian tetap makhluk lemah. Sekarang aku beri kalian dua pilihan. Kem- bali ke luar angkasa secara baik-baik atau pulang dengan caraku? Kalau kalian mau tahu, aku bukan Nabi Muhammad meski namaku Muhammad. Apa artinya? Aku kasihan kepada siapa pun, apalagi kepada monster luar angkasa buruk rupa seperti kalian.
32. Marko :Bajingan juga kau, memanggilku makhluk luar angkasa.
33. Muhammad : Diam!
34. Marko : Suaeb, panggil Jamal! 35. Suaeb : Jamal! Urus adikmu ini! 36. Muhammad : Diam!
37. Suaeb : Kau dengar aku, Jamal? Jamal! (JAMAL MUNCUL).
38. Jamal : Muhammad! (TENANG SEKETIKA). 39. Marko : Kurang ajar orang tuamu tidak memberi
dia nama lain. (MARKO KELUAR). 40. Jamal : Duduklah, Muhammad. (MUHAMMAD
DUDUK DI KURSI DEKAT LEMARI. JA- MAL MENDEKATINYA). Kakak tahu, kau sedang memikirkan Fahruddin. Namun, bukan begitu caranya. Itu tidak sopan dan
mengganggu. Yang mati pun tak baik kau pikirkan terus. Tak bisa tenang ia dikubur. (KEPADA SUAEB) Sejak Fahruddin me- ninggal dia berubah jadi begini, Suaeb. Lihat dia, semakin buruk.
41. Suaeb : Aku tidak bisa omong banyak soal ini. 42. Jamal : Dirimu menyesal?
43. Suaeb : Jika harus menyesal, aku menyesal kenapa aku setuju pada ajakan Fahruddin, Marko, dan Fuad. Namun, yang mereka katakan itu benar adanya.
44. Jamal : Lihatlah adikku. Dia jadi pendiam. 45. Suaeb : Dari tadi sudah banyak bicara.
46. Jamal : Kau harus bedakan mana yang benar-benar bicara dan yang enggak.
47. Suaeb : Dia berteriak-teriak, Jamal. Bukan hanya bicara.
48. Jamal : (KEPADA MUHAMMAD) Kamu tidak ber- teriak-teriak, kan? Aku percaya bahwa kamu tidak seperti itu.
49. Suaeb : Berhentilah membela adikmu.
50. Jamal : Semua orang membela Muhammad, lalu kenapa aku tidak?
51. Suaeb : Berhentilah membela adikmu! (HENING). 52. Jamal : Kamu lapar, Muhammad? (KEPADA SUAEB) Pinjamkan aku duit. Buat adikku. Biar dia makan dulu.
53. Suaeb : Belikan aku rokok dua batang. (MUHAM- MAD KELUAR).
54. Suaeb : Dia tidak dekat dengan Fahruddin. Bahkan di antara kita yang akrab dengan Fahrud- din hanya Marko. Jadi, aku sangsi dia jadi seperti itu apakah memang lantaran ke- matian Fahruddin.
55. Jamal : Sebab apa?
56. Suaeb : Aku tidak tahu. Yang jelas bukan karena dia dekat dengan Fahruddin.
57. Jamal : Tetapi karena kematian Fahruddin, Suaeb. 58. Suaeb : Tapi bukan karena memikirkan Fahruddin. 59. Jamal : Maksudmu?
60. Suaeb : Karena dia kehilangan pekerjaannya di toko ini dan ia tidak tahu harus kerja apa. Atau karena dia takut ada yang tahu kalau kitalah yang membakar toko, kemudian melapor ke polisi, dan dia dipenjara ber- sama kita. Atau karena dia khawatir masa depannya tidak jelas. Intinya bukan karena dia memikirkan Fahruddin.
61. Jamal : Yakin kau?
62. Suaeb : Lalu apa yang membuatmu ragu? Demi Allah, Jamal. Muhammad sama sekali tidak memikirkan Fahruddin.
63. Jamal : Masalahnya, aku memikirkan Fahruddin.... 64. Suaeb : Sehingga kau anggap orang lain juga me- mikirkan Fahruddin? (TERTAWA) Maklum pikiranmu begitu. Kau tidak membaca Alquran. Perhatikanlah isi kitab itu. Allah sudah bilang, kalau Dia mau tentu cukup diciptakan satu umat. Hei Jamal, apa arti satu kecuali itu berarti sebenarnya cukup satu manusia saja? Dan bayangkan apa yang terjadi jika isi dunia ini hanya satu? (TER- TAWA) Baiklah, mungkin kau tidak akan berpikir sejauh itu. Heh, intinya aku tidak suka karena kau menganggap semua orang akan memikirkan Fahruddin. Semua yang di sini. Kau pegawai baru, kau tahu apa tentang Fahruddin!
65. Jamal : Lalu karena kau lebih dulu ketimbang diri- ku, kau merasa lebih tahu tentang dia? Ka- sihan sekali dirimu. Pantas saja kau harus selalu membawa Alquran kemana-mana. 66. Suaeb : Kau mau kuusir dari tempat ini?
67. Jamal : Picik kau.
68. Suaeb : Aku yang berkuasa di tempat ini, dan kau telah bikin sakit hati penguasa tempat ini. Ingat itu! (TERDENGAR DERAK PINTU TERBUKA).
69. Jamal : Tidak ada orang di luar. Tiga malam ter- akhir selalu begini.
70. Suaeb : Hei, ada orang kah di luar? (KEMBALI DUDUK. AKAN TETAPI PINTU MEN- DADAK TERBANTING KERAS).
71. Suaeb : Hei, siapa di luar? Jangan main-main! (KE- PADA JAMAL) Sepertinya memang tidak ada siapa-siapa.
72. Jamal : Aku khawatir Fahruddin bangkit dari ku- bur.
73. Suaeb : Itu mustahil.
74. Jamal : Fahruddin karyawan paling cerdas di antara kita. Jangan lupa itu. Pikirannya sangat dalam.
75. Suaeb : Kuburan itu lebih dalam dari pikiran, kalau kau ingin tahu! (TERDENGAR TERIAKAN ALLAHU AKBAR, DISUSUL DOBRAK- AN PINTU).
76. Jamal : Muhammad!
77. Muhammad : Ada yang mengejarku, Kak. Aku ngerasa ada yang mengejarku. Aku tidak tahu siapa dia. Dia berteriak-teriak Allahu Akbar. 78. Suaeb : Jadi, bukan kau yang main-main dengan
79. Muhammad : Aku tidak tahu, Bang. Habis makan, aku mau beli rokok, tapi aku ngerasa dari belakang ada yang terus menguntitku. Dan aku lari ke sini. Aku takut itu makhluk luar angkasa. Aku harus mengusir mereka dari bumi. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.
80. Jamal : Muhammad! (MUHAMMAD DIAM). 81. Suaeb : Sialan adikmu.
(LAMPU RUANGAN ITU PADAM TIBA-TIBA, LALU MENYALA LAGI, DAN PADAM LAGI. MUHAMMAD BER- TERIAK ALLAHU AKBAR).
82. Jamal : Muhammad! 83. Muhammad : Aku takut.
84. Suaeb : Tenang, Muhammad. PLN tidak punya urusan dengan makhluk luar angkasa, dan ini hanya problem PLN.
85. Muhammad : Di luar listrik tidak padam, Bang. 86. Jamal : Diam, Muhammad!
87. Suaeb : Dengarkan aku Muhammad. Ini yang harus kita terima jika diperlakukan secara ber- beda oleh PLN. Allah akan selalu melin- dungi kita. Kau baca saja ayat kursi, mung- kin akan membantu kita sedikit tenang. 88. Muhammad : Apa gunanya dilindungi Allah kalau PLN
tidak kasihan pada kita, Bang.
89. Suaeb : Kau masih terlalu polos untuk mengerti urusan ini, Muhammad. Ayolah, jangan nangis. Muhammad, diam!
(ANGIN BERTIUP KENCANG, SUARANYA DERAS, DAN PINTU TERBANTING LAGI. LAMPU BERKEDIP-KEDIP, KEMUDIAN MENYALA).
90. Jamal : Apa yang kau pikirkan?
91. Suaeb : Kenapa mereka juga belum pulang. Fuad dari tadi siang. Marko, katanya, cuma mau makan.
92. Jamal : Sebentar lagi mungkin pulang.
93. Suaeb : Aku tidak tahu apa mereka perlu tahu pe- ristiwa ini. Atau mungkin mereka sudah tahu, aku juga tidak tahu.
94. Jamal : Apa kau merasa ini ruang hampa, Suaeb? 95. Suaeb : Ruang hampa?
96. Jamal : Iya.
97. Suaeb : Dari mana kau dapat pikiran itu?
98. Jamal : Ketika tadi gelap dan sunyi, kemudian hanya suara kita bertiga. Takut. Aku tidak ingin membayangkan dunia ini hanya terisi oleh kita bertiga. Sangat mengerikan.
99. Suaeb : Bawa adikmu ke sini, Mal. Aku kasihan padanya.
100. Jamal : Kau tak jadi mengusirku, kan? 101. Suaeb : Lupakan itu.
102. Jamal : Aku tidak bisa. Jika kau mengusirku, aku akan terlempar ke ruang hampa macam apa lagi. Ini sudah cukup mengerikan buatku. 103. Suaeb : Tidaklah mudah menghadapi perubahan ini. Bawa Muhammad ke sini dulu. (MAR- KO DATANG).
104. Marko : Kalian sudah tahu kalau aku punya kabar buruk? (MENYELIDIK CURIGA) Oi, kena- pa kalian diam. Bilang saja kalau kalian sudah tahu agar aku tidak perlu berpura- pura begini.
105. Suaeb : Kami tidak tahu apa-apa, Marko.
106. Marko : Lalu kenapa diam? Rumah ini sudah ber- hantu, he?
(TIDAK ADA YANG MENJAWAB. AGAK LAMA KE- HENINGAN MENCIPTA JEDA DI ANTARA MEREKA. SAMAR-SAMAR TERIAKAN KEBAKARAN MENYUSUP KE RUANGAN ITU. MUHAMMAD BERTERIAK KEBAKARAN SAMBIL LARI KE KAMAR MANDI, KEMUDIAN MASUK LAGI KE RUANGAN MENGGUYUR TEMBOK DENGAN AIR. MUHAMMAD KEMBALI EMPAT KALI SAMPAI JAMAL MEMBENTAK MUHAMMMAD YANG TERUS BERTERIAK KEBAKARAN).
107. Jamal : Muhammad!
108. Muhammad : Kak, di dalam ada Fahruddin, dia bisa mati kalau toko ini terbakar.
109. Jamal : Kita sudah terlambat. Fahruddin telah me- ninggal.
110. Muhammad : Kita masih bisa menyelamatkannya, Kak! 111. Marko : Diam kau, Muhammad, atau mau kukirim
kau ke penjara?
112. Marko : Kenapa tidak ada yang menjawab perta- nyaanku? Rumah ini benar sudah berhantu, heh?
113. Suaeb : Tidak terjadi apa-apa di sini. 114. Marko : Aku tidak percaya omonganmu.
115. Suaeb : Benar, Marko. Ini hanya karena Muham- mad sulit ditenangkan saja. Demi Allah. 116. Marko : Aku tidak tahu harus menyampaikan berita
ini atau tidak kepada kalian. Namun, aku sudah terlanjur bilang bahwa aku mem- bawa berita buruk. Kawan-kawan, Fuad telah ditangkap polisi.
117. Suaeb : Aku tidak salah dengar?
118. Marko : Tadi pun aku berharap salah dengar. 119. Suaeb : Ini semua gara-gara Fahruddin dan kau,
kan maksudmu? Ternyata aku salah besar percaya pada orang-orang yang tidak baca Alquran.
120. Marko : Kau menyesal, Suaeb? Kau Jamal, kau Muhammad?
121. Jamal : Adikku jadi begini. Aku hanya ingin me- nemukan kata lain selain menyesal. 122. Suaeb : Lebih dari sekadar menyesal, kau telah
membuat kami tolol, Marko! 123. Marko : Membakar toko ini?
124. Suaeb : Iya. Apalagi kalau bukan tolol. Aku bisa mengembangkan toko ini sesuai kehen- dakku. Tapi kau bilang, nasibku tidak akan berubah jika masih bekerja pada orang lain meskipun aku hidup nyaman. Karena aku tidak bebas, itu alasanmu. Aku tidak bisa menentukan jam kerjaku sendiri, aku masih diatur oleh Pak Heri. Demi Allah, ketika kau bilang, kita bisa bebas, bisa menentukan hidup kita tanpa harus tunduk pada orang lain, aku setuju karena aku benar-benar ca- pek bekerja. Dan nyatanya apa yang ku- dapatkan setelah membakar toko ini? Kehampaan, Marko! Aku berada di ruang kosong. Mengambang. Ini yang kau sebut menjadi bebas? Menyakitkan sekali ke- bebasan yang ingin kau tunjukkan kepada teman-temanmu. Kenapa kita tidak mogok kerja saja waktu itu?
125. Marko : Pak Heri akan dengan cepat mengganti dengan pegawai lain. Di belakang kita ratusan orang antre mau kerja. Dan mogok kerja tidak akan mengubah apa-apa.
126. Suaeb : Tapi membakar toko kau anggap juga bisa mengubah nasib kita?
127. Marko : Persetan dengan kata nasib itu. Kutendang mulutmu. Aku tidak senang kalau kau bi- cara nasib. Kau kira ini nasib? Tunggu aku mati, baru bilang beginilah nasib. Selama aku masih hidup, sekali-kali jangan kau bilang nasibku begini. Tidak ada nasib dalam perkara ini, Suaeb. Baca lagi Alquran, apa kau menemukan kata nasib di sana, heh?
128. Jamal : Apa kalau bukan nasib? Fahruddin me- ninggal. Kalau tidak menyalahkan nasib, kita harus menyalahkan siapa?
129. Marko : Maksudmu aku yang salah dengan ke- matian Fahruddin?
130. Jamal : Aku tidak bilang begitu. Kita tidak tahu Fahruddin masih tidur di kamar saat kita berlima membakar toko. Itu pun ide mem- bakar toko usul Fahruddin. Sebagai se- orang teman, kenapa kau menjanjikan se- suatu yang tidak konkret justru ketika kon- disi kita sedang melarat begini?
131. Marko : Lebih baik jadi gelandangan seperti ini dari pada bekerja pada Pak Heri.
132. Suaeb : Meski kau harus berdzikir demi menahan lapar?
133. Marko : Tutup mulutmu, Suaeb.
(PINTU TERBANTING KERAS. ANGIN BEREMBUS KENCANG, MEMPERDENGARKAN SUARA-SUARA YANG MENAKUTKAN. GEMPA, GEDUNG ITU TERGUNCANG).
134. Suaeb : Jangan diam, ayo tahan tembok ini! kita tidak punya tempat tinggal kalau gedung ini ambruk.
135. Muhammad : Allahu Akbar. Allahu Akbar.
136. Jamal : Marko, panggil bantuan. Kita bisa mati di sini.
137. Marko : Tidak akan ada yang mau menolong kita, Mal.
138. Jamal : Jangan putus asa, Marko.
139. Marko : Kau pikir ada yang mau menolong pen- jahat?
140. Jamal : Aku tidak kuat. 141. Marko : Aku juga.
(DINDING AMBRUK. SUAEB TERTIMPA RUNTUHAN DINDING, TIDAK BISA BERGERAK, MATI).
142. Jamal : Apa yang harus kita lakukan? 143. Marko : Tunggu gempa reda.
144. Jamal : Ini bukan gempa, Marko! Ini kutukan! 145. Marko : Tunggu kutukan reda.
146. Muhammad : Kita harus pergi ke luar angkasa. (MENG- AMBIL TANGGA DAN MELUBANGI ASBES) Kita tidak bisa tinggal diam jika diserang terus-menerus seperti ini. 147. Marko : Apa yang kau lakukan, Muhammad? 148. Muhammad : Aku mau pergi ke luar angkasa.
149. Marko : Tidak ada jalan ke luar angkasa, Muhammad. 150. Muhammad : Aku tidak bisa hanya diam di hadapan
kenyataan ini.
151. Marko : Bukan berarti kau harus pergi ke luar ang- kasa!
152. Muhammad : Aku butuh dunia lain, Bang. Aku butuh dunia lain, di mana saja asal jangan dunia ini.
153. Marko : Aku tidak yakin adakah dunia lain yang mungkin untuk orang-orang macam kita. Tetapi.... (PONSEL BERDERING).
154. Jamal : Pak Heri.
155. Marko : Angkat dan keraskan. 156. Suara Telepon : Suaeb?
157. Jamal : Iya, saya, Pak.
158. Suara Telepon : Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku be- lum bisa ke situ, kau urus dulu, biaya aku tanggung.
159. Jamal : Saya baik-baik saja, Pak. Tapi Fahruddin meninggal, terjebak di dalam toko. 160. Suara Telepon : Aku sudah tahu dua hari yang lalu. 161. Jamal : Iya, Pak.
162. Suara Telepon : Kalau kamu mau, urus toko itu sampai seperti sediakala. Kalau tidak, kamu bisa kupindahkan ke tokoku yang lain.
163. Jamal : Kawan-kawan yang lain, Pak?
164. Suara Telepon : Terserah mereka. Itu urusan mereka. Aku menawarkan ini hanya padamu. Kalau kamu mau, itu lebih baik dari pada kamu nganggur.
165. Jamal : Bagaimana, ya, Pak.
166. Suara Telepon : Aku mengerti. Kalian sering bersama-sama, bahkan sudah seperti saudara. Tetapi, ingat, meski kalian sering tidur bareng atau apa pun, kalian akan tetap mati sendiri- sendiri. Maksudku, hidup kalian diurus masing-masing. Untuk apa kamu mengurus
hidup mereka. Aku memberi tawaran ini, karena kamu karyawanku yang paling lama. Bukan berarti aku tidak suka mereka. Ini wujud balas budiku padamu, Suaeb. 167. Jamal : Iya, Pak. Nanti saya pikirkan dulu. Saya
juga lagi pingin pulang kampung, Pak. 168. Suara Telepon : Tumben benar kamu bilang ingin pulang
kampung.
169. Jamal : Ibu saya sakit-sakitan.
170. Suara Telepon : Ibumu? Bukannya ibumu sudah bertahun- tahun yang lalu meninggal? Hei, ini siapa, ini pasti bukan Suaeb. Hei, kepara... (HUBUNGAN DIPUTUS OLEH JAMAL. TAK LAMA KEMUDIAN PONSEL SUAEB BERDERING LAGI. OLEH MARKO DIREBUT DAN DILEMPAR SAMPAI HANCUR). 171. Marko : Mungkin kita akan dipenjara, menyusul
Fuad. Tapi aku tidak mau. 172. Muhammad : Aku takut dipenjara, Bang.
173. Marko : Kita semua juga takut, Muhammad. Jamal, apa yang harus kita lakukan?
174. Jamal : (MENGGELENG). 175. Muhammad : Bang, ayo pergi.
176. Marko : Kita tidak bisa pergi dari dunia ini. 177. Jamal : Tapi kita bisa pergi dari tempat ini, Marko. 178. Marko : Kita bisa pergi dari sini kalau kita tahu mau pergi ke mana. Dan aku tidak tahu harus pergi ke mana.
179. Muhammad : Bang Marko pengecut! Kita pergi ke mana saja, Bang.
Habiburrachman. Lahir di Sumenep pada 5 Mei 1994. Kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Filsafat Agama. Alamat rumah di Perum Polri, Gowok, Blok A3/11, Yogyakarta. Nomor HP 083867070421.
(MUHAMMMAD TIDAK MEMPERHATIKAN MARKO. DIA TERUS MELUBANGI ASBES. KEMUDIAN TERDENGAR SUARA SIRINE MENDEKAT).
Pelaku:
Ratna, usia 40 tahun, pemilik usaha batik tulis. Farasita, usia 17 tahun, anak Ratna.
Mbok Iyem, usia 45 tahun, pekerja Ratna. Siti, usia 23 tahun, pekerja Ratna.
Nur, usia 16 tahun, pekerja Ratna.
ADEGAN I
RUANG PEMBUATAN BATIK TULIS. TIGA ORANG PEKERJA SEDANG MEMBATIK. SEBUAH KOMPOR ME- NYALA DENGAN WAJAN BERISI MALAM DI DEPAN MA- SING-MASING PEKERJA. BEBERAPA KOMPOR MATI TER- GELETAK DI SUDUT RUANGAN. KAIN-KAIN BATIK TER- LIHAT DITUMPUK DI SISI RUANGAN. BEBERAPA ORNA- MEN KHAS JAWA TERGANTUNG DI TEMBOK BERWARNA KREM DAN SEDIKIT KOTOR. DI BAGIAN BELAKANG TERDAPAT LEMARI TEMPAT PENYIMPANAN WAJAN,
MALAM, NAPTOL, DAN CANTING. SEBUAH FOTO SEORANG LAKI-LAKI TERTATA DI MEJA.
1. Iyem :(BERSENANDUNG)
Bener luput ala becik lawan begja cilaka Mapan saking badan priyangga