• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.5 Analisis Konflik Batin Menggunakan Teori Psikologi

4.5.2 Tidak Terpenuhinya Kebutuhan akan Rasa Aman

Sasana dan Jaka dalam novel Pasung Jiwa membutuhkan akan rasa aman, rasa aman dari teman-temannya SMA, tentara, maupun preman. Kebutuhan akan hukum, ketentraman, dan keteraturan juga merupakan bagian dari kebutuhan akan rasa aman. Sejak kecil, Sasana selalu dipaksa orang tuanya untuk menyukai piano, ia selalu tersiksa dan tertekan dengan aturan-aturan yang dibuat oleh orang tuanya. Berikut kutipan yang menggambarkan hal tersebut

(163) Memainkan piano hanya soal menggunakan alat, pikirku saat itu. Kalau sekedar mengikuti apa yang diajarkan guru, aku dengan mudah melakukannya. Meski sebenarnya aku tak suka dan selalu tersiksa. (Madasari, 2013: 15)

Ketika Sasana SMA, ia juga mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok anggota geng di sekolahnya. Setiap hari uang sakunya diambil dan ia dipukuli sampai babak belur. Sampai pada akhirnya kasusnya tersebut tidak dapat diproses karena salah satu anggota geng tersebut merupakan anak jendral. Berikut kutipan yang menggambarkan hal tersebut

(164) Wajah-wajah yang asing, jelas mereka bukan teman sekelasku. Dua orang merapat ke tubuhku, kiri dan kanan. Satu orang berjalan di depanku, dua orang di belakangku. Kedua tanganku kini dipegang dua orang yang berjalan di sampingku. “Ikut kami,” kata salah satu di antara mereka. Aku kebingungan sekaligus ketakutan. Orang-orang ini sejak awal sudah menunjukkan sikap bermusuhan. (Madasari, 2013: 31)

(165) Salah satu dari mereka menarik tubuhku, lalu kembali menekanku ke dinding. “Jadi mulai sekarang kamu anggota Dark Gang. Siaaap?!” “Si..ap..,” jawabku. Lemah dan pelan. Dia masih belum puas. “Jawab yang kears!” serunya. “Siaaap!” teriakku. Sekeras-kerasnya. Bukan karena aku benar-benar siap ikut geng itu, tapi

karena aku takut. Takut dipukuli dan ditendang lagi. (Madasari, 2013: 32)

(166) “Ada satu anak jenderal, satu anak pejabat. Kasusnya tidak bisa diproses,” jawab Ayah datar. “Hah? Anak kita disiksa seperti anjing lalu pelakunya tidak bisa diproses?!” Ibu berteriak. Kini ia bukan hanya marah pada orang-orang yang menganiayaku dan pada polisi yang tak memproses perkaraku. Ia marah pada ayahku. (Madasari, 2013: 42)

Kebutuhan rasa aman juga tidak terpenuhi ketika Sasana dipenjara setelah membantu Cak Man demo di pabrik tempat anaknya bekerja agar anaknya yang diculik dipulangkan. Selama dipenjara, Sasana mendapat perlakuan yang tidak senonoh, ia diperkosa dan dipukuli oleh beberapa tentara yang ada tahanan tersebut. Berikut kutipan yang menggambarkan hal tersebut

(167) Aku bangun sambal meringis kesakitan. Pipiku terasa bengkak dan panas. Belum sempurna aku berdiri, sebuah tendangan bersarang di perutku. Aku terhuyung ke belakang sampai membentur dinding. Orang yang lain kini menarik rambutku. Aku berteriak. Ia terus menarik, memaksaku mengikuti ke mana langkahnya. Kami berhenti di ruangan tanpa jendela. “Duduk!” seru mereka sambal mendorong tubuhku ke kursi itu. Mereka keluar. Pintu ditutup. Aku sendirian di dalam ruang yang gelap. Kepalaku semakin berat, tubuhku lemas, aku sangat haus dan lapar. Apa yang terjadi denganku? Apa yang terjadi dengan kawan-kawanku? Cemas dan takut memenuhi pikiran dan perasaanku. (Madasari, 2013: 96-97) (168) Sepanjang malam aku terus menggigil. Antara kesakitan, ketakutan,

dan kedinginan. Aku masih tetap memakai celana dalam dan BH. Sedikit pun mereka tak tersentuh untuk memberiku kain penutup apa saja. Dasar bajingan! (Madasari, 2013: 99)

Setelah keluar dari penjara, Sasana mengalami ketakutan dan kecemasan yang selalu membayanginya ia merasa dirinya tidak aman dan dihantui oleh orang-orang yang dulu telah menyiksanya. Hal itu membuat Sasana harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Berikut kutipan yang menggambarkan hal tersebut

(169) Semakin aku berpapasan dengan banyak orang, semakin kalut perasaanku. Orang-orang itu menatapku penuh heran. Apakah mereka sudah menemukan kejanggalan pada diriku? Mereka seperti curiga, aku adalah orang di luar golongan mereka yang bisa menimbulkan bahaya. Kini tatapan mereka jadi penuh kebencian. Aku merasa terancam. Aku merasa tak lama lagi mereka akan mengerubungiku, meneriakiku, lalu mengarakku tanpa baju. Aku ketakutan. Aku sedang tidak aman. Segala hal bisa mereka lakukan. (Madasari, 2013: 109)

Beberapa bulan di Rumah Sakit Jiwa kemudian Sasana memutuskan untuk kabur bersama teman-temannya. Keluar dari Rumah Sakit bukan serta-merta Sasana aman, dia dipukuli oleh preman-preman pasar ketika dia tak mau membayar setoran. Berikut kutipan yang menggambarkan hal tersebut

(170) Mereka pergi membawa semua barangku. Tape, mik, dan uang yang kubawa dari rumah. Aku masih tersungkur di tanah. Banyak orang di sekitarku yang melihat kejadian itu. Kenapa tak satu pun menolongku? Kenapa taka da yang berani melawan preman-preman itu? (Madasari, 2013: 237)

Dari kutipan-kutipan di atas maka dapat diambil kesimpulan Sasana mengalami konflik batin yang sangat mendalam, rasa cemas, sedih, takut, malu akibat tidak terpenuhinya kebutuhan akan rasa aman.

Kebutuhan rasa aman Jaka tidak terpenuhi ketika rumah kontrakan yang ia tinggali bersama Elis di Batam didatangi oleh sejumlah massa dan menyuruh Elis untuk pergi dari rumah tersebut karena rumah itu sudah dijadikan tempat pelacuran oleh Jaka. Berikut kutipan yang menggambarkan hal tersebut

(171) Aku menelan ludah. Kakiku gemetar. Aku ketakutan. Ketakutan yang sama dengan yang dulu kurasakan saat disekap di penjara tentara. Ingatan tentang masa itu kembali datang. Kembali kurasakan siksaan mereka. Rasa sakit yang luar biasa disekujur tubuhku, rasa terhina dan malu yang mengeras dalam hatiku. Ingatan itu kini mematikan seluruh keberanianku. Aku hanya diam mematung saat orang-orang itu memaksa masuk rumah dan membuka pintu kamar Elis. Aku tak melakukan apa-apa, bahkan bersuara pun aku tidak. (Madasari, 2013: 189)

Ketakutan dan merasa bersalah selalu membayangi Jaka, setelah keluar dari rumah kontrakan itu Jaka kembali ke mes yang dulu sudah disediakan oleh pabrik tempatnya bekerja. Tak berapa lama bekerja, dia dipecat karena memecahkan salah satu kaca. Jaka kemudian menjadi buronan satpam pabrik karena telah membuat kerusuhan mengajak para buruh untuk berdemo besar-besaran. Berikut kutipan yang menggambarkan hal tersebut

(172) Aku ikut berjalan bersama mereka ke dalam kapal. Sepuluh hari di laut tak jadi soal. Bahkan lebih lama juga lebih baik. Berada di laut bersama mereka jauh lebih aman untukku daripada tetap berada di daratan. Aku bisa bekerja tanpa dibayar. Asal bisa sembunyi dengan aman dan bisa tetap makan. (Madasari, 2013: 221)

Jaka juga mengalami rasa tidak aman ketika dia bersama teman-teman Laskarnya sedang menggrebek kos-kosan di sekitar kampus yang dipakai untuk tempat maksiat. Bayangan tentang Elis kembali muncul berupa tatapan pelacur-pelacur yang sedang ia razia. Berikut kutipan yang menggambarkan hal tersebut

(173) Bertahun-tahun aku dikejar oleh tatapan Elis yang terakhir kali kulihat. Tatapan penuh gugatan karena aku tak melawan orang-orang yang membawanya. Bertahun-tahun aku berusaha melepaskan diri dari tatapan itu. Kini, tatapan itu kembali hadir melalui mata perempuan lain. Aku gemetar. Aku ketakutan. Jiwaku terbelah, masing-masing berebutan saling menenggelamkan. (Madasari, 2013: 303)

Ketakutan Jaka berlanjut ketika Ibunya yang sduah meninggal masuk dalam mimpinya dan menuduhnya sebagai binatang. Ketakutan itu bermula ketika Jaka memasukkan Sasana ke dalam penjara karena goyangan Sasana yang bertentangan dengan Laskar yang ia pimpin. Rasa tidak aman akan hukuman orang tuanya itu terlihat dari kutipan beriku

(174) Ibu datang dalam mimpiku malam ini. Ia menangis di kamarnya. Waktu aku dekati ia malah marah. Mendorongku menjauhinya. Aku bertanya kenapa. Ibu melotot dan menuding mukaku, ‘Kamu bukan anakku. Kamu binatang.” Aku terbangun seketika. Tubuhku penuh peluh. Aku gemetar. Lalu aku menangis. (Madasari, 2013: 316)

Dokumen terkait