BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Tokoh dan Penokohan
4.2.1 Tokoh Utama
Ada dua tokoh utama yang terdapat dalam novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari yaitu Sasana dan Jaka. Mereka dikatakan sebagai tokoh sentral karena keduanya hadir begitu dominan dalam setiap cerita.
a. Sasana
Sasana digambarkan sebagai tokoh “aku”. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik langsung atau ekspositori malalui kutipan sebagai berikut
(1) “Mau jadi apa kamu ikut-ikutan seperti itu?” Hanya itu saja kalimat yang aku dengar. Selebihnya suara Ibu hanya seperti dengungan lebah yang berputar-putar di atas kepalaku. (Madasari, 2013: 20)
Tokoh Sasana digambarkan sebagai seorang anak laki-laki dari keluarga yang cukup berpendidikan dan terpandang di Jakarta. Ayahnya seorang pengacara dan ibunya seorang dokter ahli bedah. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik langsung atau ekspositori melalui kutipan berikut
(2) Aku laki-laki kecil tak berdaya, yang hanya bisa melakukan setiap hal yang orangtuaku tunjukkan. (Madasari, 2013: 14)
(3) “Percuma punya suami pengacara kalau ngurus anak SMA saja nggak becus!” serunya. Ayah diam saja. Ia sama sekali tak membantah. (Madasari, 2013: 40)
(4) Sampai-sampai ia merasa perlu mendatangkan banyak banyak dokter untuk memeriksa kondisiku. Padahal ia sendiri juga dokter, bahkan dokter ahli bedah. (Madasari, 2013: 41)
Sedari dalam kandungan ibunya, Sasana sudah dikenalkan dengan karya-karya piano klasik dan setelah ia bersekolah pun ia dimasukkan orangtuanya untuk kursus piano. Prestasinya membanggakan. Selain lancar bermain piano, ia meraih prestasi akademis di sekolahnya. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik langsung atau ekspositori melalui kutipan berikut
(5) Saat masuk sekolah dasar, aku sudah mahir memainkan komposisi-komposisi klasik dunia. Beethoven, Chopin, Mozart, Bach, Brahms.. Sebutkan saja! Aku bisa memainkan semuanya dengan indah. (Madasari, 2013: 15)
(6) Pada usia yang sangat muda, baru naik kelas 4 SD, aku sudah puluhan kali memainkan piano di depan banyak orang. Di sekolah sampai di pusat-pusat perbelanjaan. Untuk hanya sekedar latihan hingga untuk lomba. Piala-pialaku berjajar, foto-fotoku dipamerkan. Di sekolah, aku selalu termasuk sepuluh murid yang paling pintar. (Madasari, 2013: 15)
Saat memasuki SMA, ia menjadi korban pemerasan oleh kelompok gang di sekolah, dimana ia harus menyetor uang jajannya ke gang tersebut. Hingga suatu hari ia dipukuli sehingga menyebabkan badannya remuk dan mengenakan tongkat ke sekolah. Bagi Sasana, ke sekolah seperti neraka. Selalu dibayang-bayangi ketakutan akan pemukulan dan penghinaan oleh kelompok gang tersebut. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik langsung atau ekspositori melalui kutipan sebagai berikut
(7) Setiap hari, lima anggota Dark Gang menghampiriku saat aku baru keluar dari kelas. Mereka minta jatah lima ribu rupiah. Kadang mereka menggeledah tasku, mengambil apa saja yang bisa diambil. Aku menurut. Apa pun yang mereka minta aku berikan. Asalkan aku tak dipukul hingga ketika pulang penuh lebam dan membuat ibuku kembali menangis. (Madasari, 2013: 34).
Tokoh Sasana juga digambarkan sebagai tokoh yang pantang menyerah ketika ia mendapatkan kesempatan hidupnya ketiga setelah keluar dari Rumah Sakit Jiwa. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik langsung atau ekspositori melalui kutipan sebagai berikut
(8) Aku tidak mau menyerah. Aku harus bisa menjadi Sasa yang dulu. Bahkan harus lebih! Hidup baruku dimulai. Hidupku yang ketiga. Hidup pertama dimulai saat aku dilahirkan, lalu aku mati di sekolah laki-laki. Hidup keduaku dimulai saat aku bertemu Cak Jek hingga aku dikubur di rumah sakit jiwa. Sekarang aku dapat kesempatan ketiga. Tak akan aku sia-siakan. (Madasari, 2013: 228-229)
Setelah dipukuli oleh kelompok gang di sekolahnya, Sasana juga tidak mendapatkan pembelaan yang cukup, terutama dari orangtuanya. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut
(9) “Ada satu anak jenderal, satu anak pejabat. Kasusnya tidak bisa diproses,” jawab Ayah datar. “Hah? Anak kita disiksa seperti anjing
lalu pelakunya tidak bisa diproses?!” Ibu berteriak. Kini ia bukan hanya marah pada orang-orang yang menganiayaku dan pada polisi yang tak memproses perkaraku. Ia marah pada ayahku. “Apa tidak bisa kamu lakukan sesuatu? Ini anak kita! Anak kandung kita sendiri disiksa orang kaya gitu dan kamu hanya diam saja?!” (Madasari, 2013: 36)
Jalan hidupnya berubah, ketika ia melanjutkan pendidikan tingginya di Malang. Di sana, Sasana menemukan dirinya sendiri dengan melahirkan sosok Sasa. Memakai daster, berbedak, dan bergincu. Sisi feminin yang bersembunyi dalam dirinya selama ini. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut
(10) Aku pake BH itu. Berenda, berwarna merah muda. Agak gelid an gatal ketika benda seperti itu tiba-tiba menempel di dada. (Madasari, 2013: 54)
(11) “Ini, sekarang coba pakai ini”, katanya. Ia memberikan lipstik, bedak, pemerah pipi, dan benda-benda lainnya yang tak kuketahui namanya. (Madasari, 2013: 55)
Di rumah orang tuanya, Sasa berusaha untuk menjadi Sasana. Sayangnya hal ini membuatnya tertekan hingga mengalami gangguan jiwa. Rumah Sakit Jiwa pun menjadi rumah baru bagi Sasana. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut
(12) Kenapa mereka semua di sini? Karena tak waras? Sama seperti aku? Aku tak waras. Aku sinting. Haha! Aku tertawa. Kini aku menyadari sesuatu. Tempat ini akan menyelamatkanku dari ketidakwarasan. Ini tempat pembebasan. (Madasari, 2013: 116)
Sasana juga merupakan anak yang pemberani, patuh terhadap orang tuanya, suka menolong, pemberontak, dan mempunyai bakat dalam bergoyang dan menyanyi dangdut. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai.
(13) Tapi kemudian ketika tangan itu kembali meremas tonjolan dadaku, tangan-tangan ku tak lagi bisa dikendalikan. Dengan cepat pukulanku mengenai wajah laki-laki itu. Lalu berlanjut dengan kaki-kakiku yang menendang dada dan kemaluannya. (Madasari, 2013: 62)
(14) Demi Ibu, aku bertekad mengendalikan diri. Aku mengurung jiwa dan pikiran ku. Aku membangun tembok-tembok tinggi, aku mengikat tangan dan kakiku sendiri. Aku tak akan melakukan satu hal pun yang di luar kebiasaan. Aku akan patuh dalam garis batas yang telah dibuat Ayah dan Ibu. (Madasari, 2013: 30)
(15) Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja aku merasa ada semangat yang menyala dalam diriku. Semngat untuk mencari Marsini. Semangat untuk menyelamatkannya. Juga semangat untuk membalas siapa saja yang sudah melakukan kejahatan pada Marsini. (Madasari, 2013: 85)
(16) Pada satu titik, aku tak mau hanya jadi penonton dan pengekor. Aku naik ke tempat yang biasa dipakai orang untuk pidato. Aku menyanyi, aku bergoyang. Itulah suaraku, itulah teriakanku. Air mataku berdesakan saat gemuruh tepuk tangan terdengar. Aku merasa begitu berarti. Harga diriku membulat dan mengeras. Inilah wujud pelampiasan dendam ku pada orang-orang yang telah merobek harga diriku. (Madasari, 2013: 243)
(17) Lagu-lagu yang aku sudah hafal luar kepala. Awalnya aku hanya bersenandung, kemudian menyanyi lepas. Habis satu lagu langsung disambung lagu lain. Setelah panas menyanyikan tiga lagu, aku pun berdiri. Menyanyi sambal bergoyang. (Madasari, 2013: 47)
Sasana juga digambarkan sebagai anak yang kurang bersyukur karena diciptakan sebagai seorang laki-laki dan iri dengan adik perempuannya yang bernama Melati. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut
(18) Kini ada sesuatu yang bisa kuingat selain piano dan nada-nada itu: Melati. Nama yang indah, bukan? Melati. Aku suka mengucapkannya berulang kali. Berbeda sekali dengan namaku: Sasana. Sama sekali tak indah. Terlalu garang, terlalu keras. Selalu mengingatkanku pada perkelahian dan darah. Seperti tempat orang bertinju. (Madasari, 2013: 16)
Teknik pelukisan tokoh yang digunakan dalam novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari adalah teknik langsung atau ekspositori dan tidak langsung atau dramatik. Dalam pelukisan tokoh Sasana teknik langsung atau ekspositori dapat dilihat melalui kutipan (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), dan (8). Teknik tidak langsung atau dramatik dapat dilihat melalui kutipan (9), (10), (11), (12), (13), (14), (15), (16), (17), dan (18).
Berdasarkan kutipan (1) sampai (18) dapat disimpulkan bahwa pengarang menggambarkan Sasana dengan menggunakan sudut pandang “aku”. Kutipan (2), (3), (4) menjelaskan bagaimana kehidupan keluarga Sasana, dimana sang Ayah bekerja sebagai pengacara dan Ibunya yang bekerja sebagai dokter bedah. Dalam kutipan tersebut juga dijelaskan ciri fisik Sasana, yaitu seorang laki-laki. Kutipan (5) dan (6) menjelaskan kalau Sasana adalah seorang anak yang cerdas dan pintar bermain piano dari kecil. Kutipan (7) menjelaskan Sasana berkali-kali mengalami pemukulan dan penghinaan yang dilakukan oleh kelompok gang di sekolahnya. Kutipan (8) menjelaskan sikap Sasana yang pantang menyerah. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan hidupnya lagi, setelah sebelumnya pernah terpuruk. Kutipan (9) menjelaskan bagaimana Sasana tidak mendapatkan pembelaan yang cukup dari orangtuanya dan hukum. Kutipan (10) dan (11) menjelaskan perubahan fisik Sasana yang menjadi feminin dan merubah nama menjadi Sasa. Disitulah dia menemukan dirinya sendiri.
Kutipan (12) menjelaskan saat Sasa berusaha menjadi Sasana. Dia tertekan dan kemudian gila. Kutipan (13) menjelaskan sikap Sasana yang pemberani. Dia berani memukul seseorang yang berusaha melecehkannya.
Kutipan (14) menjelaskan sikap Sasana yang patuh terhadap orang tuanya. Dia rela memasung pikiran dan tangannya agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki orangtuanya. Kutipan (15) menjelaskan sikapnya yang mau turun tangan membantu temannya Cak Man yang sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri. Dia membantu berdemo agar anaknya Cak Man yang hilang bisa kembali lagi. Kutipan (16) menjelaskan bagaimana Sasana memiliki jiwa pemberontak. Itu terlihat ketika dia melawan rasa takutnya untuk melampiaskan dendamnya kepada orang-orang yang dulu melecehkannya dengan cara berdemo bersama beberapa mahasiswa. Kutipan (17) menjelaskan bakat Sasana yaitu menyanyi dangdut dan berjoget. Kutipan (18) menjelaskan kekurangan Sasana yang tidak menerima dilahirkan sebagai seorang laki-laki. Dia iri dengan adik perempuannya yang bernama Melati
b. Jaka
Jaka atau Cak Jek atau Jaka Wani adalah teman Sasana ketika mereka mengamen di kota Malang. Di sini dia juga digambarkan sebagai tokoh “aku”. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik langsung atau ekspositori melalui kutipan sebagai berikut
(19) Karena itu pula sejak pindah ke pulau ini, aku tak lagi mengenalkan diri sebagai Jek. Itu nama panggung. Itu nama masa lalu. Aku di sini adalah Jaka. Si Jaka Wani. Si Jaka yang sebenarnya tak butuh nama. (Madasari, 2013: 163)
Di tengah novel ini, Jaka menceritakan dirinya menjadi buruh pabrik di Batam. Kehidupan buruh pabrik yang sangat membosankan. Setiap hari mereka harus bekerja dari pagi sampai sore. Hidup seperti robot, sementara keinginan terdalamnya sebagai seniman tertimbun dalam-dalam. Hal ini ditunjukkan
pengarang dengan teknik langsung atau ekspositori melalui kutipan sebagai berikut
(20) Tiap pagi seluruh penghuni mes berjalan bersama-sama menuju pintu gerbang pabrik. Saat seperti ini kami sudah tidak ada bedanya lagi dengan kawanan kerbau yang sedang digiring ke sawah. (Madasari, 2013: 162)
(21) Bukannya memegang gitar, ketipung, atau kecrekan, eee… malah mengusap-usap kaca untuk dijadikan layar televisi. Setiap hari dari jam delapan pagi sampai jam empat sore, aku berdiri di hadapan meja besar ini, mengusap dan memasang ratusan bahkan bisa sampai ribuan kaca setiap hari. Pikiranku sudah mati. (Madasari, 2013: 159)
Untuk menghemat biaya kontrakan, Jaka tinggal di mes pabrik. Setiap hari sabtu para buruh pabrik menerima upah mingguannya. Pada saat itulah mereka bersenang-senang. Ada yang berbelanja, ada yang menyisihkan sebagian upahnya untuk ditabung, ada yang mabuk-mabukan, dan ada yang pergi ke tempat pelacuran. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik langsung atau ekspositori melalui kutipan sebagai berikut
(22) Sama seperti kakangku saat sebelum menikah, aku juga tinggal di mes pabrik yang memang dibangun untuk buruh-buruh. Satu ksmsr diisi empat orang. (Madasari, 2013: 162)
(23) Ketika Sabtu sore tiba, semua penghuni mes jalan-jalan ke pusat kota. Sabtu adalah hari kami menerima upah setelah enam hari bekerja. (Madasari, 2013: 164)
(24) Kami menyusuri toko-toko itu, melihat-lihat, membeli kalau memang ada yang dimaui. Kami tak terlalu banyak membeli barang. Lebih suka menghabiskan uang untuk cari makanan enak dan minum bir atau tuak. (Madasari, 2013: 165)
(25) Sejak hari itu, aku selalu mendatangi Elis setiap Sabtu. Kerap aku sampai kehabisan uang, karena terlalu lama berada di dalam kamar. Dasar Lonte, walaupun sudah jadi langganan tetap, masih aja dia hitung-hitungan sama aku. Selalu mau dapat bonus tambahan, tapi tidak pernah mau aku bayar kurang sedikit saja. (Madasari, 2013: 176)
Namun, situasi itu tidak berlangsung lama, Jaka dipecat dari pabrik karena dianggap melawan mandor pabrik. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik langsung atau ekspositori melalui kutipan sebagai berikut
(26) “Terserah. Itu artinya kamu dipecat dari perusahaan ini”, katanya. “Tanpa pesangon karena kamu sendiri yang melakukan kesalahan dan tidak mau mengikuti aturan. (Madasari, 2013: 199)
Dalam perjalanan selanjutnya, Jaka jatuh cinta dengan Elis, perempuan di lokalisasi yang menjadi ‘langganannya’. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut
(27) Tak lama kemudian Elis datang. Aku pun bertanya, “Dari mana?” “Kerja, Mas. Lumayan, sudah ada yang mau jadi langganan “, jawabnya. Kepalaku seperti dipukul dengan palu mendengar jawaban itu. “Kamu ngelonte lagi?!” aku tak bisa menahan diri. Aku marah. Aku seperti suami yang baru menangkap basah istrinya tidur dengan laki-laki lain. (Madasari, 2013: 185)
(28) “Masa aku Cuma kamu anggap pelanggan to, Lis”. Suaraku tidak lagi segarang sebelumnya. Kemarahan itu tenggelam digantikan oleh kekecewaan. (Madasari, 2013: 186)
Kemudian ia kabur ke Jakarta, meninggalkan Elis dan bergabung dengan Laskar keagamaan. Jaka yang semula merasa tertekan akan dirinya sendiri yang pengecut dan miskin mulai menemukan jati dirinya pada Laskar. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut
(29) “Ini ada yang mau gabung”, kata Jali saat sang pemimpin masuk rumah. Aku menyalami seorang laki-laki berbaju serba putih dan berjenggot tebal itu. Orang itu tersenyum lalu berkata, “Intinya, di sini kita berjuang demi kebaikan. Demi agama kita. Demi Allah. Itu yang harus jadi niat kalau mau berjuang bersama di sini.” Kata-kata seperti orang ini sungguh adem sekali didengar. Pekerjaan seperti apa yang sebenarnya harus kulakukan? (Madasari, 2013: 251)
(30) Jangan-jamgan ini memang jalanku untuk bisa berbuat kebaikan. Lihat saja, baru sekedar niat saja jalanku sudah dipermudah. Aku bisa tenang tanpa kurang makan dan tempat tinggal. (Madasari, 2013: 253)
Jaka yang sempat belajar pada Laskar di Jakarta, dielu-elukan ketika dia pulang ke Malang. Orang-orang Laskar Malang menjadikannya pemimpin karena dia dianggap paling berpengalaman. Jaka yang semula bukan siapa-siapa, kini memiliki dukungan massa, uang, dan pengaruh politik. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut
(31) Di Malang aku bisa jadi pemimpin. Bahkan Amat dan kawan-kawan dengan rela hati memberiku tempat sebagai pemimpin mereka. Mereka sangat percaya, pengalamanku di Jakarta berguru langsung adalah kekuatan besar. (Madasari, 2013: 264)
(32) Pertemuan hari itu diakhiri dengan perjanjian: Kami adalah sahabat polisi. Kami adalah laskar keamanan yang lahir dari inisiatif masyarakat untuk membantu kerja polisi. Kami dan polisi akan selalu berkoordinasi. Kami beroperasi dengan petunjuk polisi. Polisi bergerak menegakkan hukum atas setiap hal yang merisaukan laskar. Kami berjuang bersama demi agama, demi Negara. Atas setiap kegiatan keamanan yang kami lakukan atas perintah polisi, kami akan mendapat upah yang layak. (Madasari, 2013: 272)
Tokoh Jaka juga digambarkan sebagai provokator atau ahli persuasi, pengecut, sombong, kejam, dan egois. Jaka juga mencari arti hidupnya sendiri, merasa terpenjara karena keadaan. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut
(33) “Rabu besok kita mogok kerja. Semuanya bareng-bareng. Biar pabrik rugi. Bayangkan kalau sehari saja pabrik tidak beroperasi. Mereka akan kebingungan. Buruh-buruh seperti kita dapat perhatian. Kita semua bisa minta apa saja pada mereka.”
“Kalau kita dipecat?” Tanya Rustam. “Bagaimana mau dipecat kalau semuanya ikut mogok? Mau mereka memecat semua buruh? Mau mereka rugi lebih banyak?”
“Bah! Mudah sekali kau ngomong, Jak! Bagaimana bisa kita ajak semua orang buat mogok?” Tanya Tumpak. (Madasari, 2013: 215) (34) Siapa pun yang kenal aku sejak dulu tahu, aku ahli dalam berbicara.
Jagoan dalam memengaruhi orang. Maka ketika kesempatan seperti sekarang datang, dengan mudah aku bisa pidato berapi-api, membuat siapa pun di hadapanku tak sabar segera berangkat dan menggunakan senjata untuk berjuang. (Madasari, 2013: 266)
(35) Aku menelan ludah. Kakiku gemetar. Aku ketakutan. Ketakutan yang sama dengan yang dulu kurasakan saat disekap di penjara tentara. (Madasari, 2013: 189)
(36) Ingatan itu kini mematikan seluruh keberanianku. Aku hanya diam mematung saat orang-orang itu memaksa masuk ke rumah dan membuka pintu kamar Elis. Aku tak melakukan apa-apa, bahkan bersuara pun aku tak bisa. Aku hanya jadi penonton saat Elis terus meronta dan menangis karena orang-orang itu memaksanya keluar kamar. (Madasari, 2013: 189)
(37) Kini aku Jaka Baru, pejuang untuk agama dan Tuhanku. Orang bersih yang dihormati. Orang berani yang ditakuti. Kata-kataku adalah perintah, kemarahanku adalah ancaman besar. Aku bisa berbuat apa saja. Aku punya kekuatan, aku punya kekuasaan. (Madasari, 2013: 265)
(38) Aku ayunkan parang yang kugenggam. Kuhancurkan drum, keyboard, gitar, mik, dan salon. (Madasari, 2013: 268)
(39) Aku tak menjawab, tapi masih terus memandang ke arah mereka. Lalu aku buru-buru memalingkan wajah dan naik ke dalam truk. Masih bisa aku dengar teriakan mereka, “Cak Jek… kenapa sekarang jadi begini? Itu kafe tempat kami cari duit!” “Cak Jek...Cak Jek... iki Memed karo Lenan!” (Madasari, 2013: 267)
Dalam pelukisan tokoh Jaka teknik langsung atau ekspositori dapat dilihat melalui kutipan (19), (20), (21), (22), (23), (24), (25), dan (26). Teknik tidak langsung atau dramatik dapat dilihat melalui kutipan (27), (28), (29), (30), (31), (32), (33), (34), (35), (36), (37), (38), dan (39). Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa kutipan (19) menjelaskan bagaimana pengarang juga menggambarkan Jaka sebagai tokoh “aku” karena dalam novel Pasung Jiwa
terdapat dua tokoh utama. Kutipan (20) dan (21) menjelaskan keterpaksaan Jaka bekerja di pabrik. Dia merasa bosan dan hanya dianggap sebagai robot. Impiannya menjadi seniman tidak terwujud, dia terpaksa bekerja mengusap kaca televisi di pabrik elektronik.
Kutipan (22), (23), (24), (25) menjelaskan bagaimana Jaka menggunakan upahnya yang dia terima saat bekerja di pabrik tersebut. Dia menggunakan upah untuk berbelanja, membeli minum-minuman keras, ditabung, atau pergi ke tempat pelacuran. Kutipan (26) menjelaskan saat Jaka dipecat dari pabrik tempat dia bekerja. Dia dipecat karena memecahkan kaca televisi yang menurutnya tidak disengaja. Kutipan (27) dan (28) menjelaskan bagaimana Jaka jatuh cinta dengan Elis, wanita yang dia temui di tempat lokalisasi. Namun, sayangnya Elis tidak menyadari kalau Jaka mencintainya. Kutipan (29) dan (30) menjelaskan ketika Jaka meninggalkan Batam dan bergabung dengan Laskar keagamaan di Jakarta. Dia merasa menemukan jati dirinya ketika bergabung dengan lascar tersebut. Kutipan (31) menjelaskan saat Jaka pindah ke Malang dan menjadi pemimpin Laskar di daerah Malang. Kutipan (32) menjelaskan Jaka yang dulu miskin dan pengecut, setelah bergabung dengan Lakar, dia merasa punya segalanya.
Kutipan (33) dan (34) menjelaskan sikap Jaka yang pandai mempengaruhi dan membujuk temannya dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kutipan (35) dan (36) menjelaskan sikap Jaka yang pengecut. Itu terbukti ketika Elis akan diarak keliling kampung, Jaka hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa. Kutipan (37) menjelaskan sikap Jaka yang sombong setelah bergabung di Laskar. Dia merasa sudah mempunyai kekuasaan, kekuatan, dan semua orang tunduk padanya.
Kutipan (38) menjelaskan sikap Jaka yang kejam. Dia gunakan parangnya untuk mengahancurkan barang-barang yang menurutnya melanggar kaidah di Laskar keagamaan yang dia anut. Kutipan (39) menjelaskan sikap Jaka yang egois. Dia tidak memperdulikan kepentingan orang lain, dia menghancurkan lahan pekerjaan Leman dan Memed yang dulu mereka juga pernah mengamen bersama.