• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Tokoh dan Penokohan

4.2.2 Tokoh Tambahan

Tokoh-tokoh lain yang ada dalam novel Pasung Jiwa ini adalah Ibu, Ayah, Cak Man, Marsita, Banua, Elis, dan Kalina. Tokoh tambahan merupakan tokoh yang tidak sentral kedudukannya dalam cerita tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk mendukung tokoh utama (Wahyuningtyas & Santoso, 2011:3).

a. Ibu

Tokoh Ibu di sini yang dimaksud adalah Ibu dari Sasana. Dia digambarkan sebagai seorang Ibu yang penuh kasih sayang dan mencintai anaknya dalam keadaan apa pun. Meskipun pada awalnya dia otoriter dengan memaksa Sasana berlatih piano dan marah apabila Sasana mendengarkan musik dangdut tetapi pada akhirnya Ibu bisa mengerti keadaan anaknya yang transeksual. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(40) Ibu memelukku. Ia mendekap kepalaku, menempelkan ke dadanya. Hal yang sudah lama sekali tak pernah ia lakukan. “Sas.. Sasana, apa pun yang kamu takutkan, ada ibu di sini. Ada Ayah juga yang akan menjagamu,” bisiknya. (Madasari, 2013: 115)

(41) Aku tetaplah bagian dalam hidupnya. Ibu tetap ingin bersamaku. Kata Ibu, di saat seperti inilah cinta sebagai orang tua diuji. (halaman 283)

(42) Mereka suka sekali mendudukkan aku di depan piano, menuntun tanganku untuk memencet-mencet tiap tutsnya. Aku tak menyukainya. Tapi orangtuaku sebaliknya. (Madasari, 2013: 14)

(43) Ibu marah besar. Tak pernah aku melihatnya marah seperti ini. Dalam ingatanku, inilah kali pertama ia memarahiku. Sepanjang jalan di dalam mobil Ibu hanya diam. Tapi begitu sampai di rumah, ia langsung menarik tanganku., membawaku ke ruang tengah menyuruhku duduk, lalu ia bicara lama dengan suara tinggi. “Kamu mau jadi berandalan?” Kata-kata itu terus diucapkannya berulang. “Kamu mabuk ya, sampai goyang-goyang kayak gitu? Mau jadi apa kamu ikut-ikutan seperti itu?” (Madasari, 2013: 20)

Saat Sasana dipukuli oleh kelompok gang di sekolah, Ibu juga tidak percaya dengan penjelasan yang diberikan oleh Sasana. Ibu menuduh anaknya berkelahi. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(44) “Jadi kenapa kamu berkelahi?” Tanya ibu lagi. “Sasana nggak berkelahi, Bu”, jawabku.

“Sasana! Kamu sudah jadi pembohong sekarang ya?”

Mata Ibu tiba-tiba memerah. Sebentar lagi ia pasti menangis. Aku tak tahan dan merasa sangat bersalah. “Sasana tidak berkelahi, Bu… Sasana dikeroyok…” Jawabanku tak berhasil menahan tangis Ibu. “Dengar Sasana, apa pu alasannya, berkelahi itu tidak baik,” kata Ibu sambal menatapku tajam. (Madasari, 2013: 34)

Ibu juga rela berpisah dengan suaminya dan Melati lalu memilih tinggal bersama Sasana. Ibu yang awalnya otoriter, di akhir cerita dia digambarkan sebagai Ibu yang percaya kepada anaknya dan tidak menuntut apa pun dari Sasana. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(45) “Melati tinggal dengan Ayah di rumah. Ibu akan menemanimu mulai sekarang.” Katanya. (Madasari, 2013: 281)

(46) Mereka bertengkar hebat saat itu. Hingga akhirnya Ibu tegas memutuskan: ia akan tinggal bersamaku. (Madasari, 2013: 283)

(47) Setelah beberapa minggu hidup bersama, aku dan Ibu sudah seperti dua sahabat yang saling percaya dan mau membuka rahasia. Dia bukan lagi Ibu yang menuntut kesempurnaan dari anak-anaknya, yang kecewa dan marah ketika anaknya tak memenuhi harapannya. (Madasari, 2013: 282)

Ibu menjadi manajer pribadi Sasana. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik langsung atau ekspositori melalui kutipan sebagai berikut

(48) Ibu sudah membuat jadwal manggungku sampai enam bulan ke depan. Ibu mempelajari bisnis hiburan dengan cepat. Ambisinya untuk menjadikanku bintang paling top melebihi cita-cita Cak Jek untuk jadi professional. (Madasari, 2013: 287)

Dalam pelukisan tokoh Ibu, teknik tidak langsung atau dramatik dapat dilihat melalui kutipan (40), (41), (42), (43), (44), (45), (46), dan (47). Teknik langsung atau ekspositori dapat dilihat melalui kutipan (48). Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa kutipan-kutipan (40) dan (41) menjelaskan sikap kasih sayang seorang Ibu kepada Sasana. Ibu ingin selalu bersama Sasana dalam keadaan apa pun. Kutipan (42) menjelaskan sikap Ibu yang awalnya memaksa Sasana untuk bermain piano, padahal Sasana tidak menyukainya. Kutipan (43) menjelaskan bagaimana Ibu tidak menyukai dangdut dan melarang Sasana untuk menonton dangdut.

Kutipan (44) menjelaskan sikap Ibu yang tidak mempercayai Sasana dipukuli dan dibully oleh kelompok gang di sekolahnya. Dia menuduh Sasana berkelahi. Kutipan (45) dan (46) menjelaskan bagaimana Ibu pada akhirnya memilih berpisah dengan suami dan Melati, agar bisa tinggal bersama Sasana. Kutipan (47) menjelaskan bagaimana Ibu pada akhirnya tidak lagi menjadi Ibu

yang otoriter dan menuntut kesempurnaan anaknya, dia menjadi Ibu yang selalu ada saat anaknya membutuhkan, dan menjadi sahabat bagi anaknya. Kutipan (48) menjelaskan ketika Ibu memilih menjadi manajer Sasana daripada profesinya sebagai dokter bedah. Dia menemani Sasana ketika ada kerjaan manggung di berbagai acara.

b. Ayah

Tokoh Ayah yang dimaksud di sini adalah Ayah dari Sasana. Ayah digambarkan sebagai sosok yang otoriter dan pemarah. Ayah juga selalu memaksa Sasana untuk bermain piano klasik dan melarang Sasana untuk menonton dangdut. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(49) Piano memang benda istimewa di rumah ini. Bagi Ayah dan Ibuku, memainkan piano adalah sebuah tradisi yang harus dijunjung tinggi. Aku sendiri heran kenapa mereka sampai bersikap seperti itu. (Madasari, 2013: 16)

(50) “Musik seperti itu tidak baik, Sasana,” kata Ayah. “Musik nya orang mabuk, orang tidak pernah sekolah. Kamu lihat sendiri kan, semalam banyak orang mabuk?” Aku menggeleng. Memang tak kulihat orang mabuk tadi malam. Yang aku lihat semua orang bergoyang dengan senang. “Jangan pernah lagi nonton-nonton yang seperti itu. Tidak baik.” Ayah mengakhiri pembicaraan. (Madasari, 2013: 23)

Ayah juga tidak mempercayai Sasana saat dia dipukuli oleh kelompok gang di sekolahnya. Ayah justru memukulnya dan memakinya. Pergolakan batin sang Ayah terjadi saat dia merasa tidak mampu membela anaknya yang dipukuli mendapatkan keadilannya karena salah satu dari anggota gang tersebut merupakan anak pejabat. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(51) Begitu datang Ayah langsung menampar wajahku. Aku terkejut. Ayahku selalu lembut dan sabar kenapa tiba-tiba bisa main tangan. “Kamu kalau mau jadi jagoan sini berkelahi sama Ayah!” Wajah Ayah merah. Ia sangat marah. Ibu terus menangis terisak-isak. “Dulu juga sudah berkelahi. Ibu bilang ke Ayah, tapi Ayah diam. Karena Ayah percaya kamu anak baik, tidak mungkin berkelahi lagi. Tapi ini apa? Apa?” Ayah bicara sambal berdiri. Tangannya terus menunjuk-nunjuk ke arahku. (Madasari, 2013: 36)

(52) “Mereka mengancam ke kantor Ayah…” kata Ayah sambal terisak. Ayah kemudian berdiri mendekatiku. Ia memelukku lalu berkata, “Maafkan Ayah ya, Sasana… Ayah tidak mampu membelamu…” (Madasari, 2013: 43)

Pada akhirnya Ayah berpisah dengan Istrinya dan putus hubungan dengan Sasana karena Ayah malu memiliki anak seperti Sasana. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(53) Ayah malu sekali malam itu. Meski tetangga-tetangga masih belum percaya aku anaknya, tapi Ayah merasa kini semua orang menertawakannya. (Madasari, 2013: 283)

(54) Tapi ketika ia pulang untuk mengambil barang. Ayah marah besar. Ayah tak mau Ibu mengunjungiku. Ayah mau kami putus hubungan. Ayah tak mau ada lagi ruang untukku dalam hidupnya. (Madasari, 2013: 283)

Dalam pelukisan tokoh Ayah, pengarang hanya menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik. Teknik tersebut dapat dilihat melalui kutipan (49), (50), (51), (52), (53), dan (54). Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa kutipan (49) dan (50) menjelaskan sikap Ayah yang juga menuntut Sasana untuk pandai bermain piano. Dia juga melarang Sasana untuk menonton konser dangdut. Kutipan (51) menjelaskan sifat Ayah yang pemarah dan tidak percaya. Dia memukul dan memarahi Sasana yang babak belur ketika pulang sekolah, Ayah mengira Sasana berkelahi, padahal Sasana dipukul dan dirampas uanganya

oleh kelompok gang di sekolahnya. Kutipan (52) menjelaskan kekecewaan seorang Ayah yang tidak mampu membela anaknya yang menjadi korban pemukulan oleh kelompok gang di sekolahnya. Kutipan (53) dan (54) menjelaskan sikap Ayah yang malu mempunyai anak transgender seperti Sasana. Dia juga memutus hubungannya dengan Sasana, dan tidak ingin tinggal bersama anaknya.

c. Cak Man

Cak Man merupakan teman Cak Jek di Malang. Dia pemilik warung tempat Cak Jek dan Sasa bertemu, anaknya yang bernama Marsini menghilang setelah menuntut kenaikan gaji di tempatnya bekerja. Marsini merupakan tumpuan ekonomi keluarga Cak Man. Pada akhirnya dia mendapat kabar kalau Marsini sudah meninggal. Cak Man digambarkan sebagai sosok yang mudah menyerah dengan keadaan dan hanya pasrah. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(55) Cak Man sudah jadi seperti keluarga. Warung kopinya sudah seperti rumah kami juga. Cak Man senang, sejak aku dan Cak Jek bikin hiburan di warungnya, semakin banyak orang yang datang untuk ngopi dan nongkrong sampai pagi. Aku dan Cak Jek sudah tak perlu membayar lagi kalau minum dan makan di warung milik Cak Man itu. Kata dia, “Ini bagian bisnis. Kita sama-sama untung.” (Madasari, 2013: 49)

(56) Cak Man punya empat anak. Anak pertamanya perempuan, Marsini. Kerja di pabrik sepatu di Sidoarjo. Kiriman uang Marsini datang setiap bulan. “Ini aku baru pulang dari tempat Marsini,” kata Cak Man “Niatnya mau ambil jatah bulanan. Sudah seminggu kok belum dikirim-kirim.” (Madasari, 2013: 81)

(57) Cak Man yang tadi sudah lebih tenang kini kembali terisak-isak. “Aku sakjane wis pasrah..” katanya. (Madasari, 2013: 84)

(58) “Yok opo carane?” Cak Man tak terlalu bersemangat menanggapi kami. Ia sudah putus asa. Seperti yang tadi ia katakana sendiri, ia sudah pasrah, apa pun yang terjadi pada Marsini. Sama sekali tak ada harapan yang ia simpan. (Madasari, 2013: 85)

Dalam pelukisan tokoh Cak Man, pengarang hanya menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik. Teknik tersebut dapat dilihat melalui kutipan (55), (56), (57), dan (58). Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa kutipan (55) menjelaskan sikap Cak Man yang ramah, dia mengijinkan sua temannya Cak Jek dan Sasana untuk mengamen di warung kopinya. Kutipan (56) menjelaskan bagaimana Cak Man kehilangan seorang anak bernama Marsini yang menjadi tumpuan ekonomi Cak Man dan istrinya. Kutipan (57) dan (58) menjelaskan sikap Cak Man yang pasrah dan menyerah dengan keadaan ketika dia mendapat cobaan, bahwa anaknya yang bernama Marsini menghilang.

d. Masita

Masita adalah seorang dokter yang sedang mengadakan penelitian di Rumah Sakit Jiwa dimana Sasana dirawat. Masita digambarkan sebagai wanita ramah dengan pemikiran yang kritis dan memiliki jiwa pemberontak. Setelah berdiskusi panjang tentang arti kebebasan, Masita mengajak Sasana melarikan diri dari Rumah Sakit Jiwa. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(59) Masita dokter. Ia sedang mengambil pendidikan psikiatri sebagai spesialisasinya. Ia berada di sini untuk penelitiannya. (Madasari, 2013: 146)

(60) Perawat ini masih muda. Baju putihnya yang membuatnya tampak menyeramkan dan lebih tua dari usianya. (Madasari, 2013: 130)

(61) Aku menatap matanya. Lembut dan hangat. Tak seperti perawat lain yang kala menatap kami seperti hendak menelan bulat-bulat. (Madasari, 2013: 131)

(62) “Masita” Ia mengulurkan tangan sambal menyebutkan namanya. Senyumnya manis sekali. Aku menerima ulurang tangan itu. Kami berjabat tangan. Tanda kesetaraan. Simbol kesederajatan. Yang waras dan tak waras kini tak lgi dipisahkan dalam dua lapisan kasta. Aku merasa akrab tanpa sedikitpun rasa curiga atau tak aman. (Madasari, 2013: 131)

(63) “Kamu sepertinya sudah jadi tak waras gara-gara terlalu lama di sini,” kataku. Masita tertawa. Lalu aku juga tertawa. Tak apalah menjadi tak waras jika selamanya bisa tertawa bersama Masita seperti ini. (Madasari, 2013: 146)

(64) “Setidaknya di luar sana kehendak bebas kalian bisa terus dihidupkan,” jawabnya. “Di sini kehendak itu sengaja dimatikan. Agar kalian patuh, agar kalian tak berontak. Akhirnya, lihat yang dilakukan Banua dan Gembul. Mereka memk percaya. Ia bunuh diri mereka sendiri. Sebab itu satu-satunya kehendak bebas yang masih bisa mereka ikuti.” Kata-kata Masita seperti membangunkanku dari khayalan panjang. (Madasari, 2013: 151)

(65) “Kalian harus berontak.” Aku menatapnya tak percaya. Ia menyuruh kami berontak. Apakah itu artinya aku akan kembali ditangkap tentara, disiksa, dan dihina? “Kalau aku jadi kalian, aku akan lebih memilih mati di luar daripada mati di sini.” Benar sekali kata-katanya. (Madasari, 2013: 152)

Dia juga akrab dengan Sasana, Masita mengingatkan Sasana dengan adiknya yang bernama Melati, itulah yang membuat Sasana nyaman berteman dengan Masita. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik langsung atau ekspositori melalui kutipan sebagai berikut

(66) Masita, sekarang aku tahu kenapa aku merasa nyaman dan senang bersamanya. Karena ada banyak hal dalam diri Melati yang ada dalam diri Masita. Termasuk ketika dia sedang bingung, takut, sekaligus kesal seperti ini. (Madasari, 2013: 149)

Dalam pelukisan tokoh Masita teknik tidak langsung atau dramatik dapat dilihat melalui kutipan (59), (60), (61), (62), (63), (64), dan (65). Sedangkan

teknik langsung atau ekspositori dapat dilihat melalui kutipan (66). Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa kutipan (59) dan (60) menjelaskan ciri-ciri Masita meskipun tidak terlalu lengkap. Di situ dia dijelaskan sebagai dokter muda yang sedang mengadakan penelitian di Rumah Sakit Jiwa di mana Sasana dirawat. Kutipan (61), (62), dan (63) menjelaskan sikap Masita yang ramah dan tulus berteman dengan Sasana. Kutipan (64) dan (65) menjelaskan pemikiran-pemikiran Masita yang luas dan kritis. Dia juga memiliki jiwa pemberontak, dia membantu Sasana untuk keluar dari Rumah Sakit Jiwa, karena dia tahu kalau Sasana tidaklah sakit jiwa seperti orang-orang katakana. Kutipan (66) menjelaskan alasan kenapa Sasana nyaman berteman dengan Masita, itu karena sikap Masita yang mirip dengan adiknya.

e. Banua

Banua merupakan seorang pasien Rumah Sakit Jiwa di mana Sasana dirawat. Banua digambarkan sebagai seorang teman yang lebih tua dari Sasana, dia memiliki sifat yang humoris dan periang. Dia juga sedang memperjuangkan kebebasannya, sama dengan Sasana. Dulu Banua juga dipaksa masuk ke pesantren oleh orangtuanya, ia menolaknya tetapi orangtuanya tetap memaksa. Pada akhirnya, Banua memutuskan bunuh diri untuk menemukan kebebasannya. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(67) Salah satu laki-laki yang ikut bergoyang langsung dekat denganku. Usianya sepertinya sekitar lima tahun lebih tua daripada usiaku. Banua, begitu dia mengenalkan dirinya. (Madasari, 2013: 118)

(68) Banua mengingatkanku pada Cak Jek. Gaya bicara mereka mirip: sok tahu, sok yakin, sok benar. Tapi dalam setiap perkataannya terselip

kelucuan-kelucuan yang menghibur semua orang. Kesoktahuan Banua adalah kesoktahuan yang jujur dan tulus.( Madasari, 2013: 119)

(69) Banua memulai ceritanya ketika ia dipaksa masuk ke pesantren setelah lulus SMP. Ia menolak, tapi orangtuanya tetap memaksa. Aku bisa paham ketidakberdayaannya. (Madasari, 2013: 140)

(70) Banua telentang di lantai. Tubuhnya telanjang. Pisau menghujam di dadanya. Itu pisau yang sering kami lihat di ruang makan. Ada ceceran darah di sekitar tubuhnya. Tak ada yang menyentuh tubuh Banua. (Madasari, 2013: 142)

Dalam pelukisan tokoh Banua, pengarang hanya menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik. Teknik tersebut dapat dilihat melalui kutipan (67), (68), (69), dan (70). Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa kutipan (67) dan (68) menjelaskan sikap Banua yang humoris dan pintar. Kesoktahuannya yang jujur ini membuat Sasana bangga dengan Banua. Kutipan (69) menjelaskan bagaimana Banua dipaksa masuk ke pesantren oleh orang tuanya dan dia tidak bisa menolaknya, itulah yang membuat Banua masuk ke Rumah Sakit Jiwa. Kutipan (700 menjelaskan bagaimana pada akhirnya Banua bunuh diri untuk mendapatkan kebebasannya.

f. Elis

Elis adalah sosok pelacur yang melayani para buruh pabrik dengan bayaran rendah. Menurutnya menjadi pelacur bukan karena paksaan, melainkan suatu pilihan, dia harus mengirimkan uang untuk kebutuhan anaknya. Elis digambarkan sebagai wanita yang tegar dan pemberani. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(71) “Tidak buat saya semua, Mas. Bosnya kan juga mesti disetori”, katanya. “Makanya kalau ditambahi juga boleh. Biar bagian saya jadi tambah

banyak,” bisiknya tepat di telingaku. “Berapa yang mesti disetor?” tanyaku. Mukanya kini tampak masam. “Tiap terima tamu satu jam saya Cuma dapat lima ribu, Mas.” (Madasari, 2013: 175)

(72) “Ah, ngaco! Saya tidak percaya mereka terpaksa. Saya percaya semua hal tergantung pada kita. Mau menerima atau melawan. Mau dikurung atau mau bebas merdeka.” (Madasari, 2013: 173)

(73) Cuh! Ludah Elis meloncat ke wajah tamunya dan ke wajah bos tempat ini. Ia lari cepat-cepat kea rah pintu. Kemarahan dua laki-laki yang kena ludahnya tak bisa menyamai kecepatan langkah Elis. (Madasari, 2013: 180)

Dalam pelukisan tokoh Elis, pengarang hanya menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik. Teknik tersebut dapat dilihat melalui kutipan (71), (72), dan (73). Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa kutipan (71) menjelaskan kehidupan Elis sebagai seorang pelacur yang hanya dibayar murah setiap kali melayani pelanggannya. Kutipan (72) menjelaskan sikap Elis yang tegar dengan segala pilihannya. Kutipan (73) menjelaskan sikap Elis yang pemberani. Dia mau melawan pelanggannya yang sudah kurang ajar terhadap dirinya.

g. Kalina

Kalina adalah teman Jaka saat bekerja di pabrik elektronik. Kalina protes dipecat karena dia hamil, sementara yang menghamilinya adalah mandor sendiri. Kalina digambarkan sebagai sosok wanita yang pemberani dan mau melawan, dia berontak dan meronta di hadapan buruh pabrik. Nasibnya hampir sama dengan buruh perempuan lain yang dipaksa melayani permintaan para mandor tanpa bisa mengelak. Hal ini ditunjukkan pengarang dengan menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik melalui kutipan sebagai berikut

(74) “Mandor itu… Mandor itu sudah memperkosa saya!” Perempuan itu bicara sambil menuding ke arah si mandor. Si mandor bergerak, menarik tangan perempuan itu agar turun dari meja. Tapi suara perempuan itu tak bisa dibendung lagi. “Sekarang saya bunting, saya malah dipecat! Dasar binatang! Dia perkosa saya juga seperti binatang!” Mandor itu kini benar-benar liar seperti binatang. Ditariknya perempuan itu dengan kasar sehingga jatuh tersungkur ke lantai. Perempuan itu tak menyerah. Ia berdiri dan berteriak-terika. (Madasari, 2013: 195)

Dalam pelukisan tokoh Kalina, pengarang hanya menggunakan teknik tidak langsung atau dramatik. Teknik tersebut dapat dilihat melalui kutipan (74). Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa kutipan (74) menjelaskan sikap Kalina yang mau melawan dan memberontak dengan segala ketidakadilan terhadap dirinya. Dia dipecat dari tempatnya bekerja setelah diperkosa oleh mandornya sendiri.

Dokumen terkait