Bab V. Bagian terakhir dari karya ini merupakan penegasan dari intisari skripsi yang meliputi kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan katekese
SEBAGAI USAHA UNTUK MENINGKATKAN PENGHAYATAN KEBAHAGIAAN SEJATI FRANSISKAN SUSTER YUNIOR FSE
2. Tiga Komponen Pokok dalam Katekese Model Shared Christian Praxis
Adapun komponen-komponen yang dimaksudkan dalam katekese Model
Shared Christian Praxis adalah sebagai berikut. a. Shared
Istilah shared merupakan pengertian komunikasi yang timbal balik, sikap partisipasif, aktif dan kritis serta keterbukaan terhadap kehadiran sesama maupun terhadap rahmat Tuhan dari semua peserta. Dalam komunikasi timbal balik atau sharing, peserta saling terbuka baik saat mensharingkan pengalaman maupun saat mendengarkan. Setiap peserta dan pendamping saling menghormati pengalaman masing-masing dan mengakui eksistensinya sebagai subyek yang unik. Maka sangat diharapkan dalam bertukar pengalaman ini para peserta dapat berkomunikasi dengan hati (Groome, 1997:4).
Dalam sharing ini ada dua unsur, yaitu membicarakan dan mendengarkan. Membicarakan berarti mengungkapkan apa yang sungguh dialami yaitu menyampaikan kebenaran dari apa yang dialami sebagaimana adanya, bukan sekedar apa yang didengar apalagi yang dipikirkan oleh orang lain. Mendengarkan berarti melibatkan seluruh diri, sehingga dapat menemukan diri sendiri dan menemukan kehendak Tuhan (Sumarno Ds, 2011:17).
b. Christian
Model Shared Christian Praxis mengusahakan supaya kekayaan iman Kristiani dan visinya semakin terjangkau, dekat, dan relevan sesuai dengan situasi peserta. Ada dua unsur pokok dalam model ini yaitu pengalaman hidup iman Kristiani sepanjang sejarah (tradisi) dan visinya. Tradisi yang dimaksudkan di sini
meliputi Kitab Suci, spiritualitas, refleksi teologis, sakramen, liturgi, seni dan nyanyian rohani, kepemimpinan, kehidupan jemaat (Groome, 1997:2-3). Sementara Visi “merupakan manifestasi konkret dari jawaban manusia terhadap janji Allah yang terwujudkan dalam sejarah atau Tradisi”(Sumarno Ds, 2011:17). Dalam model ini bagaimana menjadikan Tradisi dan Visi menjadi milik peseta yang sekaligus menjadi kritik dan ukuran keberimanannya.
c. Praxis
Pengertian Praxis dalam model katekese ini tidak hanya sekedar praktek yang merupakan lawan dari teori melainkan suatu tindakan yang sudah direfleksikan yang meliputi seluruh keterlibatan manusia dalam dunia dan mempunyai tujuan tertentu (Sumarno DS, 2011:15). Dalam unsur praxis
terkandung kesatuan dialektis antara praktek dengan teori yaitu kreativitas, antara kesadaran historis dengan refleksi kritis yaitu keterlibatan baru yang dapat dipertanggungjawabkan (Heryatno, 2012:6-7).
3. Langkah-langkah Katekese Model SCP
Adapun langkah-langkah Katekese Model Shared Christian Praxis adalah sebagai berikut.
a. Langkah Pendahuluan
Tujuan pada langkah ini adalah untuk mendorong peserta untuk bertolak dari pengalaman konkret mereka, sekaligus menjadi sumber utama untuk menemukan topik berkatekese. Maksud dari langkah pendahuluan ini adalah untuk menemukan tema seturut kebutuhan peserta. Langkah pendahuluan
merupakan langkah awal sebelum pelaksanaan katekese. Jika dimulai dari langkah pendahuluan, maka peserta ikut terlibat dalam menentukan tema (Sumarno Ds, 2011:18-19).
b. Langkah Pertama: Pengungkapan Praksis Faktual.
Langkah pertama bermaksud untuk mengajak peserta mengungkapkan pengalaman hidup dan keterlibatan mereka. Pengalaman mereka dapat diungkapakan dalam bentuk lambang, cerita, puisi, drama singkat, lukisan atau bentuk lain yang dapat dimengerti oleh peserta lain. Selain mengungkapkan pengalaman pribadinya, peserta juga dapat mengungkapkan pengalaman orang lain atau keadaan masyarakat di sekitarnya. Hal ini dapat membantu peserta menyadari apa yang sedang terjadi, serta keprihatinan-keprihatinan dalam Gereja, masyarakat atau orang-orang tertentu di lingkungannya (Groome, 1997:11; bdk. Sumarno Ds, 2011:19).
Dalam proses ini, pendamping sebagai fasilitator perlu memperhatikan kondisi peserta dari segi jumlah, profesi, dan tempat agar prosesnya dapat berjalan dengan baik dan tidak sampai menyinggung privacy peserta. Di samping itu pendamping harus mampu menyadari tujuan dan pokok pikiran dasar dari langkah pertama. Pertanyaan yang diajukan harus tepat, menyentuh dan membantu peserta untuk terlibat (Groome, 1997:5 ;11-13) .
Peserta hendaknya tidak mempertentangkan antara praksis pribadi dengan praksis kelompok atau masyarakat, karena keduanya saling berkaitan. Di samping itu peserta diharapkan mampu mengungkapkan kesadarannya sendiri, sekalipun bukan seperti yang diharapkan secara pribadi maupun kelompok. Maka dalam hal
ini perlu keyakinan iman, sehingga pengungkapan akan kesadaran itu semakin mendalam (Groome, 1997:5 -11).
c. Langkah Kedua: Refleksi Kritis terhadap Komunikasi Praksis Faktual.
Pada langkah kedua peserta merefleksikan pengalaman yang telah diungkapkan pada langkah pertama, untuk menghantar pada kesadaran kritis terhadap pengalaman hidup pribadi dan hidup bermasyarakat. Melalui refleksi tersebut fasilitator mendorong peserta, untuk sampai pada nilai dan visi yang akan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman Gereja sepanjang sejarah dan visi Kristiani. (Sumarno Ds, 2011:20).
d. Langkah Ketiga: Mengusahakan Tradisi dan Visi Kristiani Menjadi Terjangkau
Pada langkah ketiga, peserta mendialogkan “tradisi” dan “visi” mereka dengan tradisi dan visi Gereja sepanjang sejarah. Maksudnya adalah supaya perbendaharaan iman Kristiani dapat terjangkau, dan peserta terdorong secara kritis dan kreatif mempribadikan makna dan warta gembiranya (Heryatno, 2012:22).
Dapat dikatakan bahwa pada langkah ini diusahakan agar tradisi dan visi Kristiani dapat lebih terjangkau, mengena dan relevan bagi peserta. Fasilitator membantu peserta dengan memberikan informasi, bukan mendikte atau memberi pengajaran, tetapi sebagai partner peserta dalam mencari dan menegaskan kehendak Allah yang diwujudkan dalam kehidupan mereka. Sehingga Visi Kristiani yang merupakan pewahyuan Allah dapat terwujud. Visi utama tradisi
iman Kristiani adalah mewujudkan nilai-nilai kerjaan Allah di tengah-tengah kehidupan manusia (Groome, 1997:19-20).
e. Langkah Keempat : Hermeneutik Dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani Dengan Tradisi dan Visi Peserta
Pada langkah keempat, ditekankan interpretasi yang dialektis antara tradisi dan visi peserta dengan nilai tradisi dan visi Kristiani. Hal ini dimaksudkan untuk melahirkan kesadaran dan sikap-sikap baru yang hendak diwujudkan demi penegakan Kerajaan Allah. Proses ini merupakan langkah yang cukup menantang karena peserta tidak hanya menerima atau menolak interpretasi pendamping, melainkan peserta sudah mulai berpikir, merasa, dan membayangkan apa yang akan dilakukan (Heryatno, 2012:32-33). Peserta sungguh berusaha memahami, menilai serta memutuskan pokok-pokok kebenaran Kristiani yang hendak diwujudkan (Groome, 1997:30). Hal ini sekaligus menjadi pertanyaan bagi peserta, bagaimana tradisi dan visi Kristiani dapat meneguhkan, mengkritik dan mengembangkan hidup peserta demi terwujudnya Kerajaan Allah (Sumarno Ds, 2011:22).
f. Langkah Kelima : Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah
Langkah kelima ini mengajak peserta supaya mengusahakan metanoia yang terus-menerus. Maka keputusan yang diambil pada langkah ini merupakan bagian dari metanoia tersebut. Keputusan yang terjadi beranekaragam, baik dari segi bentuk dan sifatnya, subjek dan arahnya. Keputusan secara pribadi menghantar seseorang ke dalam pemahaman diri yang lebih dalam serta identitasnya sebagai
orang beriman. Pada akhirnya hal ini bersangkutan dengan segi interpersonal dan sosial peserta (Groome, 1997:36).
B. Usulan Program Katekese Model Shared Christian Praxis dalam
Meningkatan Penghayatan Kebahagiaan Sejati Fransiskan Bagi Para Suster Yunior FSE
1. Usulan Program
Untuk mengetahui situasi serta keprihatinan yang dialami para suster yunior FSE, maka diperlukan keterbukaan diantara mereka. Dengan demikian setiap pribadi mendapat peneguhan serta menemukan sikap untuk menanggapi situasi yang dialami oleh setiap pribadi maupun bersama. Tujuan ini dapat dicapai melalui katekese sebagai komunikasi iman.
Katekese model shared christian praxis merupakan salah satu model katekese yang membantu suster yunior untuk saling bertukar pengalaman. Dalam proses katekese ini setiap pengalaman peserta sungguh dihargai, dan setiap pribadi mendapat kesempatan untuk mengungkapkan pengalamannnya. Peserta diharapkan tidak tergantung kepada pendamping atau orang lain, tetapi peserta menjadi subyek yang aktif dalam seluruh proses katekese.
2. Alasan Pemilihan Program
Adapun kegiatan yang telah dilakukan selama ini dalam pembinaan yunior antara lain retret, triduum, seminar, weekend dan rekoleksi. Penulis memilih katekese model SCP dalam bentuk rekoleksi. Meskipun katekese model SCP belum pernah dilaksanakan, tetapi diharapkan kegiatan ini dapat membantu para
suster yunior FSE agar semakin mampu menghidupi kebahagiaan sejati Fransiskan.
Dalam rangka pendalaman kebahagiaan sejati Fransiskan, melalui program katekese akan dipilih tema-tema berdasarkan kebahagiaan sejati Fransiskan. Kebahagiaan sejati Fransiskan yang dimaksudkan adalah sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab II dan hasil penelitian yang diperoleh pada bab III. Hasil penelitian yang diperoleh pada bab III mengungkapkan bahwa masih sebagian kecil suster yunior FSE yang sungguh memahami dan menghayati kebahagiaan sejati Fransiskan. Untuk membantu para suster yunior mendalami kebahagiaan sejati Fransiskan tersebut, dibutuhkan suatu model dan sarana tertentu. SCP merupakan suatu model yang dapat dimanfaakan untuk menggali pengalaman para suster yunior, yang nantinya diharapkan dapat membantu dalam penghayatan kebahagiaan sejati Fransiskan. Model ini sekaligus untuk menghilangkan budaya bisu yang sering terjadi dalam pertemuan yunior.
3. Alasan Pemilihan Tema dan Tujuan
Alasan pemilihan tema untuk pembinaan para suster yunior adalah untuk menanggapi keprihatinan dari tujuan pembinaan yunior yang belum tercapai dalam menghayati kebahagiaan sejati Fransiskan. Pemahaman kebahagiaan para suster yunior masih berhenti pada suasana senang serta mendambakan kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia. Kesuksesan atau kehormatan dijadikan sebagai ukuran kebahagiaan. Hal tersebut menimbulkan kurangnya kesadaran bahwa Allah adalah sumber utama kegembiraan, sehingga hal-hal rohani
terlupakan. Kesederhanaan dan kerendahan hati tidak lagi menjadi hal yang menarik, sehingga setiap pribadi berusaha untuk selalu lebih dari orang lain. Kenyataan tersebut membuat kebahagiaan yang diperjuangkan tidak sesuai dengan semangat hidup Fransiskan.
Program pembinaan katekese model SCP ini akan dilaksanakan dalam kegiatan rekoleksi setiap tiga bulan sekali pada akhir bulan. Alasan untuk melaksanakan katekese model SCP dalam bentuk rekoleksi tiga bulan sekali adalah karena para suster tinggal di komunitas yang jaraknya berjauhan. Alasan yang lain adalah karena jadwal kunjungan pembimbing yunior untuk melaksanakan bimbingan kepada yunior diadakan setiap tiga bulan sekali ke tiap komunitas. Pelaksanaan rekoleksi dimulai dari Sabtu sore dan diakhiri pada Minggu siang. Usulan program ini tidak bersifat kaku, tetapi disesuaikan dengan situasi para suster dan tetap fokus pada tujuan yang dimaksud.
4. Perumusan Tema dan Tujuan
Menurut pembahasan sebelumnya, adapun tema umum dan tema-tema khusus dirumuskan sebagai berikut:
Tema Umum: Mewujudkan Kebahagiaan Sejati Fransiskan Suster Yunior FSE Tujuan Umum: Agar para suster yunior FSE menjadi seorang religius yang
memperjuangkan kebahagiaan sejati Fransiskan, sehingga semakin mengalami kebahagiaan sejati dalam panggilannya seturut nasehat Injil.
Tujuan: Agar para peserta semakin menyadari kebahagiaan sejati tidak dapat dicapai hanya dengan usaha manusia sehingga semakin berani mengandalkan rahmat Allah dalam seluruh perjuangannya.
Tema II: Tantangan Menuju Kebahagiaan Sejati
Tujuan: Agar para peserta semakin menyadari bahwa untuk sampai kepada kebahagiaan sejati akan mengalami berbagai tantangan, sehingga kesulitan dan tantangan yang dihadapi bukan sebagai penghalang tetapi melihatnya sebagai kesempatan untuk mengalami kebahagiaan sejati.
Tema III: Sikap Lepas Bebas Sebagai Konsekuensi untuk Mengalami Kebahagiaan Sejati
Tujuan : Agar peserta semakin menyadari pentingnya untuk tidak terikat terhadap hal-hal materi dan jabatan serta hal-hal duniawi lainnya, melainkan menjadi orang yang merdeka dalam pelayanan mapun dalam persaudaraan.
Tema IV: Kesetiaan dalam persaudaraan sebagai Ungkapan Kebahagiaan Sejati
Tujuan: Agar peserta semakin menyadari pentingnya membangun kesetiaan dalam persaudaraan baik dalam suka maupun dalam duka, sehingga keharmonisan persaudaraan tetap terpelihara dan setiap saudari dapat mengalami kebahagiaan sejati.