Pada saat melakukan penutupan buku mudah didapatkan jumlah yang seimbang antara Total Jumlah Penerimaan dan Total Jumlah Pengeluaran
BAB 6 PENGADAAN BARANG DAN JASA
6.5 Aspek Hukum Yang Terkait Dengan Pengadaan
6.5.3 Tindak Penipuan dan Korupsi (Fraud and Corruption)
Peserta Pengadaan tidak diperkenankan untuk mengikuti proses pengadaan apabila terlibat dalam tindak penipuan dan korupsi. Adapun tindakan yang dilarang untuk dilakukan selama proses pengadaan adalah tindakan-tindakan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), sbb:
memberikan, menerima atau meminta/memohon sesuatu barang ataupun jasa sehingga dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dari pejabat yang ditugaskan menangani proses pengadaan atau di dalam pengawasan pelaksanaan kontrak.
b). "Fraudulent Practice" (tindak penipuan) adalah berarti menyajikan/ mengemukakan fakta yang tidak benar sehingga dapat mempengaruhi proses pengadaan atau pelaksanaan kontrak yang mengakibatkan kerugian negara peminjam (Pernerintah Indonesia), dan termasuk praktek-praktek kolusi antara peserta lelang (sebelum atau sesudah pemasukan penawaran) antara lain merencanakan untuk membuat haarga satuan tertentu, tidak kornpetitif dan merugikan Pernerintah dari keuntungan yang dapat diperoleh apabila kompetisi pengadaan dilakukan secara terbuka dan bebas. Karena kondisi "conflid of interest", ini dapat menimbulkan konsekwensi biaya ataupun sanksi administrasi lainnya, maka harus tertulis dengan jelas pada Kontrak Perjanjian Hibah
c). “Collusive Practices" (tindak kolusi) adalah suatu pengaturan antara 2 (dua) atau lebih penawar, dengan atau tanpa sepengetahuan pengguna barang/jasa yang ditujukan untuk rnenetapkan harga penawaran pada tingkat yang artifisial, dan non-kompetitif.
d). “Coercive Practices" (tindak koersif/pemaksaan) adalah tindakan membahayakan atau mengancarn untuk membahayakan secara langsung atau tidak langsung individu dan atau aset miliknya, dalam rangka mempengaruhi partisipasinya dalam proses pengadaan atau mempengaruhi pelaksanaan kontrak.
Indikasi adanya pelanggaran tersebut bisa diperoleh dari berbagai sumber, yaitu:
a). Pengaduan baik dari internal institusi ybs, pihak yang dirugikan, dan atau masyarakat;
b). Hasil audit BPKP, ataupun audit independen lainnya;
c). Temuan Itjen / supervisi / M&E internal Instansi Pelaksana Kegiatan; dan
d). Temuan dari Bank Dunia, misalnya pada saat melaksanakan missi
supervisi, post review, ataupun audit independen.
Instansi Pelaksana Kegiatan berkewajiban menindak lanjuti indikasi KKN tersebut, sesuai dengan informasi yang diterima. Sebagai bagian dari internal control system, di tingkat pelaksana Kegiatan, Penanggung Jawab Kegiatan , dan petugas Monitoring dan Evaluasi berkewajiban untuk membuat laporan
kasus yang terjadi dengan dilengkapi dokumen pendukung untuk dilaporkan kepada KPA, serta rekomendasi tindak lanjutnya.
KPA kemudian menentukan penyidikan yang akan dilaksanakan, apakah akan dilimpahkan ke Itjen atau BPKP Penyidik, ataupun audit independen lainnya, tergantung dari kasus yang terjadi dan independensi dari institusi yang akan ditugaskan untuk mendapatkan opini yang benar sesuai kondisi di lapangan. KPA akan menetapkan langkah selanjutnya berdasarkan rekomendasi investigator. apakah menutup kasus bila tidak terbukti atau jika ada indikasi kuat atau terbukti terjadinya KKN maka dapat dilakukan hal-hal berikut ini:
(a) Dilanjutkan dengan tindakan hukum untuk tindak pidana korupsi;
(b) Dikenakan tindakan administratif;
(c) Rekanan yang bersangkutan diberikan sanksi sesuai ketentuan di kontrak .
(d) Rekanan yang bersangkutan dimasukkan dalam daftar hitam (blacklist) dari Bank Dunia maupun Instansi Pelaksana Kegiatan dan disebarluaskan melalui website http://www.pu.go.id.
(e) Tembusan laporan tindak lanjut yang merespon terhadap temuan adanya indikasi KKN, juga disampaikan ke Bank Dunia lengkap dengan data pendukung. Langkah langkah yang dianggap baik, cepat dalam merespon dan dampaknya terhadap pelaksanaan kegiatan dapat dipublikasikan di
website http://www.pu.go.id sebagai sarana pertukaran pengalaman, sebaiknya diberikan juga fasilitas agar para pembaca bila berminat dapat merespon langsung di website http://www.pu.go.id perihal kasus tsb ataupun berbagi pengalamannya dalam menangani kasus KKN.
Dalam hal adanya indikasi KKN sebagaimana tersebut di atas Bank Dunia dapat melakukan penyidikan tersendiri berdasarkan keputusan Management
di Bank Dunia yang memiliki keluasaan/kebebasan dalam mencari informasi baik di tingkat Institusi Pelaksana Kegiatan PAMSIMAS maupun di tingkat Rekanan sesuai dengan ketentuan hukum yang mendasarinya.
6.5.4 Misprocurement
Misprocurement adalah terminologi khusus yang digunakan oleh Bank Dunia untuk menyatakan bahwa Bank Dunia tidak dapat membiayai pembayaran/pengeluaran-pengeluaran untuk belanja barang, pekerjaan konstruksi dan jasa lainnya, serta jasa konsuItan yang dilaksanakan tidak sesuai dgn
prosedur pengadaan yang telah ditetapkan di dalam PMM/PIM termasuk dasar peraturan yang melandasinya; dan tidak sesuai dengan Procurement Plan yang telah disetujui oleh Bank Dunia pada setiap tahun anggaran. Contoh: Penyimpangan prosedur, misalnya : (i) Pemasangan advertensi tidak dilakukan dengan benar (misalnya: informasi tidak jelas/mengarah pada rekanan terbatas/iklan tersebut hanya ada pada koran dengan jumlah eksemplar terbatas saja yang tidak sesuai dengan peraturan koran nasional dengan jangkauan dan oplah yang dikeluarkan Bank Dunia); (ii) Pengadaan dengan metode yang berbeda yang telah tercantum dalam Procurement Plan, (iii) Pengadaan yang dilaksanakan tidak tercantum dalam Procurement Plan.
Apabila kasus ini terjadi di satuan kerja di luar CPMU, walaupun penyaluran dana melalui mekanisme kontrak, kasus yang terjadi harus dilaporkan kepada ketua satker karena kemungkinannya ada konsekwensi terhadap dana/ pembiayaan pengganti.
Walaupun kontrak pengadaan barang, pekerjaan konstruksi/ jasa lainnya, dan jasa konsultansi pemenangnya diumumkan dan kontraknya ditandatangani setelah menerima NOL dari Bank Dunia; dalam hal ini Bank Dunia tetap berhak untuk menyatakan "misprocurement" apabila terbukti bahwa dasar penetapan NOL yang telah disampaikan oleh proyek berdasarkan informasi yang tidak benar; ataupun bila persyaratan dan ketentuan ("term and condition") pada kontrak telah dilakukan perubahan tanpa adanya persetujuan dari Bank Dunia
Dasar bagi Bank Dunia untuk menilai apakah kontrak tertentu baik untuk pengadaan barang/jasa konstruksi dan jasa lainnya, serta jasa konsultansi, dinyatakan misprocurement adalah atas dasar review pada saat missi supervisi Bank Dunia, ataupun hasil SOE post review/audit/penyelidikan yang dilakukan
Bank Dunia, tanpa dipengaruhi oleh hasil review siapapun. Apabila
kontrak/pekerjaan yang diinvestigasi tersebut terbukti masuk dalam katagori "misprocurement", maka surat perihal "Declaration of Misprocurement" akan diterbitkan dan ditujukan Menteri Keuangan dan ditembuskan kepada Dirjen Cipta Karya, serta instansi yang terkait lainnya: Dirjen Perbendaharaan, KPPN, Bappenas, dan Unit Pelaksana Kegiatan terkait. Dan surat tsb akan ditindak lanjuti dengan mengirimkan surat kepada Menteri Keuangan perihal keharusan "Refunds due to Misprocurement", sehingga Depkeu harus mengembalikan pendanaan tersebut kepada Bank Dunia apabila sudah di-replenish-kan ke Bank Dunia, sebesar total keseluruhan nilai kontrak yang dinyatakan "misprocured". Serta nilai
alokasi Loan untuk komponen/kategori tersebut akan dikurangi dengan jumlah nilai kontrak yang dinyatakan misprocured.
Akibat yang ditimbulkan dari kasus misprocurement terhadap instansi pelaksana kegiatan adalah: Instansi Pelaksana Kegiatan terkait harus mengembalikan dana, sejumlah nilai kontrak yang dinyatakan "misprocured", dengan menganggarkan pada tahun berikutnya, apabila mungkin menganggarkan pada tahun anggaran berjalan, melalui mekanisme perubahan anggaran (revisi DIPA). Instansi Pelaksana Kegiatan harus menindak lanjuti hal tersebut dengan rekanan yang bersangkutan, yang tindak lanjutnya akan tergantung sekali dari penyebab
misprocurement, status kontrak, progress pelaksanaan pada tingkat Pelaksana Kegiatan kemungkinannya ada beberapa alternatif, yaitu:
a). Rekanan telah terseleksi dan kontrak sudah ditanda tangani; tetapi belum dilakukan pembayaran;
b). Rekanan sudah dibayar, tetapi belum 100% dari nilai Kontrak;
c). Rekanan sudah dibayar 100% dari nilai Kontrak
(1). Tindak Lanjut penyelesaian akibat misprocurement:
Pengalokasian dana pengganti nilai kontrak yang misprocurernent apabila
misprocurement terjadi di CPMU:
a. Penanggung jawab kegiatan terlebih dahulu rnengajukan permohonan kepada Kuasa Pengguna Anggaran/Pengguna Anggaran (KPA/PA) untuk mengalokasikan dana pengganti tsb dengan sumber pendanaan rupiah murni,
dengan melampirkan kronologis misprocurement/data pendukung yang
diperlukan; dan apakah akan dianggarkan pada tahun anggaran berjalan atau pada tahun anggaran berikutnya; sebagai anggaran untuk melanjutkan/menyelesaikan pekerjaan.
b. Berdasarkan persetujuan KPA/PA; pengalokasian dana pengganti
dianggarkan berdasarkan "Tata cara perubahan/pergeseran anggaran" untuk pengalokasian di TA berjalan atau untuk pengalokasian pada TA berikutnya. Klasifikasi jenis belanja untuk dana pengganti termasuk jenis belanja "Pembiayaan" dengan "MAK 712321 Pengembalian penarikan pinjaman program Credit " dengan sumber pendanaan rupiah murni;
dilaksanakan agar objektivitas kegiatan dapat dicapai, maka selain mengalokasikan dana pengganti RK; juga harus mengalokasikan dana RM untuk sub-kegiatan/jenis belanja tsb, agar tetap dapat dilaksanakan.
d. SPM-LS utk penggantian dana tersebut merupakan tanda bukti instansi
pelaksana kegiatan sudah melaksanakan penggantian dana. Sedangkan penggantian dana ke Bank Dunia ditransfer oleh Dep.Keu melalui DJPB. e. Bila diperlukan proses hukum bagi pihak yang terlibat (terutama bila
penyebabnya KKN), maka KPA terlebih dahulu akan meminta penyidikan kasus kepada Itjen Dep PU/BPKP untuk mengambil keputusan selanjutnya.
(2). Penyelesaian dengan rekanan:
Penyelesaian dengan rekanan didasarkan pada dokumen kontrak; progress
kegiatan dan pembayaran, serta penyebab misprocurement, dilakukan melalui hal-hal berikut: (i) Instansi pelaksana kegiatan mengirimkan surat kepada rekanan dan memberitahukan perihal kasus misprocurement, serta konsekwensi yang harus ditanggung oleh instansi pelaksana kegiatan, dan akibatnya terhadap Kontrak kerja dgn rekanan yang bersangkutan; (ii) Mengundang rekanan untuk: menjelaskan kasus tsb apakah Rekanan ikut terlibat (KKN) atau tidak. Untuk kasus KKN sanksi yang diterapkan adalah sesuai dengan ketentuan pada kontrak; (iii) Apabila rekanan tidak terlibat maka kontrak tetap diamandemen untuk mengamandemen sumber dana.