• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TINDAK PIDANA PENCEMARAN DAN PERUSAKAN

A. Tindak Pidana Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup

Sebelum membahas lebih jauh mengenai sanksi terhadap pelaku pencemaran dan perusakan lingkungan hidup menurut hukum Islam, terlebih dahulu akan dipaparkan mengapa pencemaran dan perusakan lingkungan hidup dapat dikategorikan sebagai perbuatan pidana.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-A’raf (7):56

=ƒ %

!# MΗq‘ β) $èϑÛρ $ùθz νθãŠ#ρ $γ ≈=s

¹) ‰è/ Ú‘{# †û #ρ‰¡? ωρ

( :

/ اﻷ

ﺮﺎ ) ∩∈∉∪ ⎦⎫Ζ¡sϑ9# ∅Β

Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

⎯Βρ $è‹ϑ_ ¨$Ζ9# ≅F% $ϑΡ'6ù Ú‘{# ’û Š$¡ù ρ& §Ρ  ó/ $¡Ρ ≅F% ⎯Β

( :

/ ا

ﺋﺎةﺪ)

$è‹ϑ_ ¨$Ψ9# $Šm& $ΚΡ'6ù $δ$Šm&

Artinya: ‘‘Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, Maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang

67

memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.

Dalam ayat di atas terlihat jelas bahwa Allah SWT melarang hambanya melakukan kerusakan di muka bumi. Tindakan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup dapat dikategorikan sebagai tindak pidana (jinayah) apabila perbuatan tersebut memenuhi unsur-unsur tindak pidana. Sebagaimana telah dibahas di atas, dalam hukum Islam terdapat 3 unsur yang harus dipenuhi apabila perbuatan seseorang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana.

Yang pertama adalah adanya nash yang melarang perbuatan-perbuatan tertentu dan ada

ancaman hukuman bagi pelakunya. Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa banyak nash yang terdapat di dalam al-Qur’an maupun Hadits yang melarang manusia untuk merusak lingkungan hidup.

Yang kedua adanya perbuatan yang berbentuk jarimah, yang dalam hal ini adalah perbuatan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.

Ketiga adalah adanya pelaku tindak pidana tersebut, yakni orang yang mukallaf (cakap hukum), yaitu orang yang dimintai pertanggungan jawabnya. Dalam hal ini, apabila pelaku perusakan lingkungan hidup adalah orang yang memiliki status mukallaf, maka orang tersebut dapat dituntut atas kejahatan yang telah diperbuatnya.

Perbuatan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup dapat dikategorikan sebagai tindak pidana (jinayah) karena telah mengandung ketiga unsur yang

disebutkan di atas. Tanpa ketiga unsur tersebut, maka perbuatan pencemaran dan perusakan lingkunan hidup tidak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana (jinayah).

68

Mengenai sanksi, ketentuan sanksi atau hukuman bagi pelaku perusakan lingkungan hidup dalam syari’at Islam tidak disebutkan secara jelas atau tidak terdapat ketentuan hadnya. Dengan demikian penulis melihat bahwa tindak pidana perusakan lingkungan hidup termasuk dalam kategori tindak pidana (jarimah) takzir, karena perbuatan tersebut sangat jelas dilarang oleh syara’, akan tetapi tidak ditentukan sanksinya dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Syara’ tidak menentukan macam-macamnya hukuman utuk tiap-tiap jarimah takzir, akan tetapi hanya menyebutkan sekumpulan hukuman, dari yang seringan- ringannya seperti nasihat, ancaman sampai yang seberat-beratnya.1 Adapun

selanjutnya, penerapan dan penentuan sanksi untuk tindak pidana perusakan lingkungan hidup diserahkan sepenuhnya kepada penguasa (ulil amri), dalam hal ini adalah hakim dengan ijtihadnya diberi kebebasan untuk menentukan hukuman yang sesuai dengan macam jarimah takzir serta keadaan si pelakunya juga.

Namun, pelimpahan wewenang kepada penguasa tersebut tidaklah mutlak, melainkan dibatasi oleh kewajiban penguasa untuk memperhatikan ketentuan- ketentuan dalam menetapkan hukuman tersebut, ketentuan-ketentuan tersebut adalah:

1.Tujuan penetapan hukum itu adalah menjaga dan memelihara kepentingan umat Islam, bukan menurut kehendak hawa nafsunya;

2.Hukuman yang ditetapkan itu benar-benar efektif dalam menghadapi tindakan maksiat serta merendahkan martabat manusia;

1

69

3.Hukuman tersebut sesuai dengan jarimahnya sehingga hukuman tersebut dirasakan adil;

4. Hukuman tersebut berlaku umum tanpa mebeda-bedakan orang, sesuai dengan prinsip persamaan antara sesama manusia.2

Dari beberapa hal yang telah dijelaskan di atas, penulis melihat bahwa sanksi takzir terhadap tindak pidana perusakan lingkungan hidup diserahkan kepada hakim. Dan hakim harus jeli dalam menentukan hukuman yang akan diberikan sesuai dengan akibat yang telah ditimbulkan oleh pelaku perusakan lingkungan tersebut. Apabila perbuatan tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, maka kiranya hukuman yang pantas diberikan adalah hukuman mati, jika perbuatan tersebut mengakibatkan seseorang luka, maka hukumannya adalah jarimah pelukaan.

B. Tindak Pidana Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009

Hukum pidana di Indonesia secara pokok dan umum bersumber dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya penulis singkat menjadi KUHP) yang sudah diberlakukan ratusan tahun sejak zaman kolonial hingga kini. Beberapa pasal KUHP mengatur mengenai hal-hal yang dikaitkan dengan lingkungan hidup. Tetapi, dengan perkembangan zaman, jika hanya mengandalkan KUHP sebagai instrument penegakan hukum pidana bagi lingkungan tentu tidak akan memadai dan efektif.

2

70

Salah satu bidang pengaturan yang harus dikembangkan dari KUHP dan berbagai pengaturan pidana tersebar adalah pengaturan mengenai pidana di bidang lingkungan hidup (environmenal criminal regulation). Pengaturan pidana mengenai aspek lingkungan ditandai dengan lahirnya undang-undang yang dinilai sebagai sifat komprehensif dan terpada atas lingkungan, yakni Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pola hukum pidana lingkungan kemudian berkembang setelah diundangkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang mengakomodasikan berbagai perkembangan sistem pidana di dalam lingkungan hidup. Akan tetapi, sebagaimana sudah dijelaskan di atas, UU RI No. 23 Tahun 1997 diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Sistem pemidanaan dalam lingkungan pada dasarnya bertujuan untuk mempertahankan eksistensi lingkungan kepada fungsi keberlanjutannya. Pada esensinya hukum pidana merupaka sarana represif, yakni serangkaian pengaturan yang ditujukan untuk mengendalikan peristiwa-peristiwa negatif supaya pada berikutnya kembali kepada keadaan semula.3

Fungsi hukum pidana dinilai oleh para pakar sebagai perangkat pamungkas (ultitum remendium), karena instrumen-instrumen yang lain dinilai dapat sebagai sarana yang melindungi lingkungan. Penyelesaian sengketa lingkungan selain dapat didekati dari sudut pandang instrumen hukum adiministrasi dan instrumen hukum

3

71

perdata, juga dapat didekati dari instrumen hukum pidana. Penerapan hukum pidana lingkungan ini tetap dikaitkan dengan dengan perbuatan pidana seseorang atau badan hukum.4

Di Amerika Serikat, tuntutan pidana merupakan mata rantai terakhir mata rantai panjang, yaitu bertujuan untuk menghapuskan atau mengurangi akibat-akibat yang merugikan terhadap lingkungan hidup. Mata rantai dimaksud dikelompokkan sebagai berikut:

1.Penetapan kebijaksanaan, desain, dan perencanaan, pernyataan dapak lingkungan

2.Peraturan tentang standar atau pedoman minimum prosedur perizinan;

3.Keputusan administrasi terhadap pelanggaran, penentuan tenggang waktu dan hari terakhir agar peraturan ditaati;

4.Gugatan perdata untuk mencegah atau menghambat pelanggaran, penilalian denda atau ganti rugi;

5.Gugatan masyarakat untum memaksa atau mendesak pemerintah mengambil tindakan, gugatan ganti rugi;

6. Tuntutan pidana.5

4

Supriadi, Hukum Lingkungan di Indonesia: Sebuah Pengantar, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), cet.

Ke-2, h. 300

5

Osman Simanjuntak, Teknik Penuntutan Tindak Pidanan Lingkungan Hidup, (Jakarta: Sumber

72

Hal demikian didasari pula oleh UU RI No. 32 Tahun 2009 dengan perlu menerapkan asas Subsidairitas sebagaimana dalam Penjelasan Umum UndangUndang ini mengatakan bahwa “sebagai penunjang hukum administrasi, berlakunya ketentuan hukum pidana tetap memperhatikan atas subsidairitas, yaitu bahwa hukum pidana hendaknya didayagunakan apabila sanksi bidang hukum lain seperti sanksi administrasi dan sanksi perdata, dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak efektif dan/atau tingkat kesalahan pelaku relatif berat dan/atau akibat perbuatannya menimbulkan keresahan masyarakat.”

Dengan demikian pada prinsipnya status fungsi pidana dalam hukum pidana lingkungan tidak lebih sebagai sarana lapis terakhir (alternatif) di mana berbagai perangkat dan sarana-sarana perlindungan lingkungan yang lain lebih didahulukan secara fungsional sementara bila sarana-sarana tersebut dirasakan belum mencapai hasil efektif, maka hukum pidana kemudian difungsikan.6

Prinsip-prinsip hukum pidana yang terkandung dalam hukum lingkungan, sebagaimana menurut UU RI No. 32 Tahun 2009 adalah sebagai berikut:

1.Prinsip pemidanaan secara delik formal dan delik materil; 2.Prinsip pemidanaan terhadap individu;

3.Prinsip pemidanaan terhadap korporasi (delik korporasi); 4.Prinsip pembedaan atas perbuatan kesengajaan dan kelalaian; 5.Prinsip penyidikan dengan tenaga khusus di bidang lingkungan;

6

73

6.Prinsip pengenaan sanksi pidana secara khusus.

Pola penegakan hukum pidana lingkungan meliputi beberapa proses dan setiap proses akan tetap mengacu kepada ketentuan-ketentuan hukum, baik yang diatur dengan hukum pidana formil (hukum acara pidana) maupun hukum pidana meterial. Seperti diketahui penegakan hukum lingkungan dapat dibagi ke dalam 3 tahapan pokok, yakni:7

Tindakan pre-emtive, yakni tindakan antisipasi yang bersifat mendeteksi secara lebih awal berbagai faktor korelasi, kriminogen, yakni faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya kerusakan atau pencemaran lingkungan.

Tindakan preventif, adalah serangkaian tindakan nyata yang bertujuan mencegah perusakan atau pencemaran lingkungan, misalnya pengawasan berkelanjutan terhadap pabrik-pabrik, para polisi kehutanan mengawasi pencurian kayu dan penebangan liar.

Tindakan represif, adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh petugas hukum melalui proses hukum pidana, karena perbuatan yang dilakukan oleh pelaku telah merusak atau mencemari lingkungan.

Dalam UU RI No. 23 Tahun 2009 terdapat pasal yang mengatur tentang delik materil (generic crime), delik Formil (specific crime) dan kejahatan perusahaan (corporate crime). Berikut akan dipaparkan pengertian dan sanksi yang diberikan terhadap delik tersebut.

7

74

1. Delik Materil

Delik materil merupakan perbuatan melawan hukum yang menyebabkan pencemaran atau perusakan lingkungan hidup.8 Artinya untuk dapat disebut delik, harus lebih dahulu dibuktikan akibat-akibat sebagai dari suatu perbuatan berupa kerusakan, pencemaran atau penyakit sebagai dampak dari perbuatan yang dituduhkan kepada si tersangka.

Di bawah ini akan dikutipkan beberapa Pasal dalam UU RI No. 32 Tahun 2009 yang termasuk ke dalam ketentuan delik materil:

Pasal 98

1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka dan/atau bahaya kesehatan manusia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp 12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).

3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mangakibatkan orang luka berat atau mati, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan dendan paling sedikit Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp

15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

8

Sukanda Husin, Penegakan Hukum Llingkungan Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h.

75

Pasal 99

1) Setiap orang karena kelalaiannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka dan/atau bahaya kesehatan manusia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp 6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).

3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mangakibatkan orang luka berat atau mati, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 9 (sembilan) tahun dan dendan paling sedikit Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp 9.000.000.000,00 (sembilan miliar rupiah).

Unsur-unsur yang membuat pasal-pasal di atas sebagai delik materil adalah: 1) Adanya perbuatan atau serangkaian perbuatan, misalnya membuang limbah

ke badan air, melepaskan emisi pencemar ke udara;

2) Ada suatu akibat atau dampak tertentu, yakni result atau hasil dari perbuatan itu;

3) Hasil (result) dari perbuatan itu adalah negatif terhadap lingkungan, yakni pencemaran atau perusakan.9

2. Delik Formil

Delik formil (specific crimes) diartikan sebagai perbuatan melanggar aturan- aturan hukum administrasi. Oleh karena itu, delik formil dikenal juga sebagai 9

76

Administrative Dependent Crimes.10 Atau dengan kata lain delik formal adalah rumusan ketentuan pidana di mana bila seorang telah melanggar ketentuan secara formal telah dapat dinyatakan sebagai pelaku delik.

Berbeda dengan delik materil, delik formal tidak mendasarkan kepada suatu akibat perbuatan (result), tetapi hanya melihat dari sudut formal dari perbuatan yang dilakukan. Seorang terdakwa dapat dinyatakan bersalah jika sudah memenuhi salah satu unsur delik formal yang didakwakan sekalipun akibat dari perbuatannya sama sekali tidak ada atau terbukti.

Berikut akan dipaparkan beberapa contoh delik formal dalam UU RI no. 32 Tahun 2009:

Pasal 113

Setiap orang memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi, merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar yang diperlukan dalam kaitannya dengan pengawasan dan penegakan hukum yang berkaitan dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud Pasal 69 ayat (1) huruf j dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah

Pasal 115

Setiap orang yang sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau menggagalkan pelaksanaan tugas pejabat pengawas lingkungan hidup dan/atau pejabat penyidik pegawai negeri sipil dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000, 00 (lima ratus juta rupiah).

10 

77

3. Delik Korporasi

Dalam kamus hukum, korporasi adalah suatu perkumpulan atau organisasi yang oleh hukum diperlakukan seperti seorang manusia (personal) ialah sebagai pengemban hak dan kewajiban; memiliki hak menggugat atau digugat di muka Pengadilan.11 Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 3 tahun 1982 Tentang Wajib daftar Perusahaan, di dalam Pasal 1 butir b mengartikan perusahaan sebagai setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dan atau laba.

Korporasi dikualifikasikan sebagai subjek tindak pidana dan dapat dipertanggungjawabkan di samping orang (pengurus). Dengan demikian, crimial lability dapat dibebankan baik kepada direksi, pengurus atau pimpinan suatu perusahaan, maupun juga terhadap person pemberi perintah dari perusahaan itu.12

Pertanggungjawaban pidana oleh korporasi diatur dalam Pasal 116, 117, 118, 119 UU RI No. 32 Tahun 2009:

Pasal 116

1) Apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha, tuntutan pidana dan sanksi pidana dijatuhkan kepada: a. Badan usaha; dan atau

11

Sudarsono, Kamus Hukum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), cet. Ke-5, h. 231 12

78

b. Orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau orang yang bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut.

2) Apabila tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang, yang berdasarkan hubungan kerja atau bedasarkan hubungan lain yang bertindak dalam lingkup kerja badan usaha, sanksi pidana dijatuhkan terhadap pemberi perintah atau pemimpin dalam tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan tindak pidana tersebut dilakukan secara sendiri atau bersama-sama.

Pasal 117

Jika tuntutan pidana diajukan kepada pemberi perintah atau pemimpin tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat (1) huruf b, ancaman pidana yang dijatuhkan berupa pidana penjara dan pidana diperberat dengan sepertiga.

Pasal 118

Terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat (1) huruf a, sanksi pidana dijatuhkan kepada badan usaha atau yang diwakili oleh pengurus yang berwenang mewakili di dalam dan di luar pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan selaku pelaku fungsional.

Pasal 119

Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini, terhadap badan usaha dapat dikenakan pidana tambahan atau tindakan tata tertib berupa:

a.Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; b.Penutupan seluruh atau sebagian tempat usana dan/atau kegiatan; c.Perbaikan akibat tindak pidana;

d.Pewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/atau

e.Penempatan perusahaan di bawah pengampuan paling lama 3 (tiga) tahun.

C. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Pencemaran dan Perusakan

Dokumen terkait