BAB I PENDAHULUAN
C. Tindak Pidana Terorsime
3. Tindak Pidana Terorisme
Sebagian besar para ahli berpendapat bahwa terorisme merupakan “Extra
Ordinary Crime” (Kejahatan Luar Biasa) sehingga tata cara penanganannya
pun harus berbeda dengan kejahatan biasa. Ada juga yang berpendapat baha terorisme merupakan kejahatan yang hanya dapat dilakukan oleh negara (disponsori negara), karena terorisme itu berskala global, sehingga tidak mungkin dilakukan dan direncanakan hanya seorang diri.
Namun akhir-akhir ini berkembang pendapat bahwa terorisme termasuk dalam kategori “Kejahatan terhadap Kemanusiaan” (Crime Against
Humanity), karena akibat-akibat dari aksi terorisme menimbulkan
pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia. Hal itu terkait pula dengan ancaman terhadap hak-hak koletif, seperti rasa takut yang bersifat luas,
142
Ari Wibowo, Hukum Pidana Terorisme, hlm. 71. 143 Ibid, hlm. 72.
bahaya terhadap kehidupan demokrasi, integritas teritorial, keamanan nasional, stabilitas pemerintahan yang sah, pembangunan sosial ekonomi, ketentraman masyarakat madani yang pluralistik, harmoni dalam perdamaian internasional, dan lain sebagainya.145
Dari bebagai definisi yang telah disampaikan pada pembahasan sebelumnya, terorisme memiliki ciri dasar yaitu:
1) Penggunaan kekerasan;
2) Unsur pendadakan atau kejutan;
3) Direncanakan dan dipersiapkan secara cermat dan matang;
4) Menimbulkan ketakutan yang meluas atau membuat kehancuran material atau perekonomian;
5)
Mempunyai tujuan politik yang jauh lebih luas dari sasaran atau korban langsungnya.146Menurut Wilson sebagaimana dikutip oleh permadi, secara umum terdapat tiga bentuk terorisme:
1) Terorisme revolusioner, yaitu penggunaan kekerasan secara sistematis dengan tujuan akhir untuk mewujudkan perubahan radikal dalam tatanan politik.
2) Terorime subrevolusioner, yaitu penggunaan kekerasan teroristik untuk menimbulkan perubahan dalam kebijakan publik tanpa mengubah tatanan politik.
3) Terorisme represif, yaitu penggunaan kekerasan teroristik untuk menekan atau membelenggu individu atau kelompok dari bentukbentuk perilaku yang dianggap tidak berkenan oleh Negara.147
Dengan mengutip National Advisory Committee dalam the Report of The
Task Force on Disorder and Terrorism, muladi membagi terorisme kedalam
lima bentuk, yaitu:
1) Terorisme politik, yaitu tindakan kriminal yang dilakukan dengan
145
Muhammad Nur Islami, Terorisme Sebuah Upaya Perlawanan, hlm. 194.
146
Mahrus Ali, Hukum Pidana Terosime Teori dan Praktik, (Jakarta: Gramata Publishing, 2012), hlm. 5-6.
kekerasan yang didesain terutama untuk menimbulkan ketakutan dilingkungan masyarakat dengan tujuan politis.
2) Terorisme non-politik yaitu terorisme yang dilakukan dengan tujuan keuntungan pribadi, termasuk aktifitas-aktifitas kejahatan terorganisasi. 3) Quasi terorisme, yaitu tindakan yang menggambarkan aktifitas yang
bersifat incidental untuk melakukan kejahatan kejahatan kekerasan yang bentuk dan caranya menyerupai terorisme, tetapi tidak memiliki unsur esensialnya.
4) Terorisme politik terbatas, yaitu tindakan yang menunjuk pada perbuatan terorisme yang dilakukan untuk tujuan atau motif politik, tetapi tidak merupakan bagian dari suatu kampanye bersama untuk menguasai pengendalian Negara.
5) Terorisme pejabat atau Negara, yaitu suatu tindakan terorisme yang terjadi disuatu bangsa yang tatanannya berdasakan atas penindasan.148 Terorisme merupakan Extra Ordinary Crime yang menjadi musuh bagi setiap negara di dunia. Maraknya aksi terorisme menyebabkan negara-negara di berbagai belahan bumi lainnya saling berupaya untuk memberantas aksi terorisme. Perang melawan teroris menjadi komitmen bersama yang telah disepakati berbagai negara di dunia. Sebagai negara dengan tingkat aksi terorisme yang tinggi, Indonesia senantiasa berbenah dalam menciptakan hukum yang dapat melindungi kedaulatan negara, hak asasi manusia dan stabilitas nasional.
Di Indonesia, tindak pidana terorisme merupakan tindak pidana khusus yang awalnya diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, kemudian menjadi Undang-Undang Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
148
Indonesia baru memiliki Undang-Undang khusus yang mengatur terorisme pada tahun 2002, yaitu melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Hal itu dikarenakan adanya peristiwa peledakan bom di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 (Bom Bali I). Peristiwa Bom Bali I disebutkan telah menimbulkan korban sipil terbesar di dunia, yaitu menewaskan 184 orang dan melukai lebih dari 300 orang.149
Pemerintah atas desakan berbagai pihak akhirnya menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Perpu Nomor 2 Tahun 2002 tentang pemberlakuan Pepu Nomor 1 Tahun 2002. Perpu ini kemudian disetujui oleh DPR dan ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi undang-undang.
Setelah 13 tahun ditetapkannya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003, Indonesia kembali merevisi Undang-Undang Tindak Pidana Terorisme. Merespons dari peristiwa bom dan serangan di kawasan Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016, pemerintah melalui Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan akan melakukan langkah-langkah kebijakan terkait politik hukum nasional. Luhut, mewacanakan revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dengan kebijakan baru yang lebih menitikberatkan pada upaya preventif.150 Dengan melalui proses legislasi dan perdebatan yang panjang, Undang-Undang Tindak Pidana resmi ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang
149
Indriyanto Seno Adji, Terorisme, Perpu Nomor 1 Tahun 2002 dalam Perspektif Hukum Pidana
dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia, (Jakarta: O.C. Kaligis & Associates, 2001), hlm. 51. 150
Supriyadi Widodo Eddyono, Erasmus A. T. Napitupulu, Ajeng Gandini Kamilah, Catatan Kritis
Atas RUU Pemberantasan Terorisme Tahun 2016 ( Jakarta: Institute for Criminal Justice Reform, 2016) hlm.
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Pada awalnya definisi terorisme dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yang dimaksud dengan Terorisme adalah:
“Perbuatan melawan hukum secara sistematis dengan maksud untuk
menghancurkan kedaulatan bangsa dan Negara dengan membahayakan bagi badan, nyawa, moral, harta benda dan kemerdekaan orang atau menimbulkan kerusakan umum atau suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, sehingga terjadi kehancuran terhadap objekobjek vital yang strategis, kebutuhan pokok rakyat, lingkungan hidup, moral, peradaban, rahasia Negara, kebudayaan, pendidikan, perekonomian, teknologi, perindustrian, fasilitas umum, atau fasilitas nasional.”
Setelah mengalami perubahan pada tahun 2018, definisi terorisme mengalami sedikit perubahan dengan adanya motif ideologi, politik dan gangguan keamanan dalam tindak pidana terorisme. Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018, yang dimaksud dengan Terorisme adalah:
“Perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, Iingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.”
Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme merupakan kebijakan formulatif hukum pidana dalam penanggulangan tindak pidana terorisme. Kebijakan formulatif merupakan bagian dari politik hukum pidana atau kebijakan hukum pidana. Kebijakan formulatif diawali melalui kriminalisasi, yaitu penetapan suatu perbuatan yang awalnya bukan merupakan tindak pidana menjadi tindak pidana, yang mana proses ini diakhiri dengan terbentuknya undang-undang yang mengancam perbuatan tersebut dengan sanksi pidana.151
Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme telah melakukan kriminalisasi terhadap terorisme yang diancam dengan sanksi pidana tertentu. Selain tindak pidana dan sanksi pidana, Undang-Undang
151
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme juga menetapkan beberapa aturan mengenai mekanisme prosedural penegakan hukum (hukum acara) terhadap tindak pidana terorisme.152
4. Tindak Pidana Terorisme Menurut Hukum Pidana Islam