BAB I PENDAHULUAN
1.6 Landasan Teori
1.6.5 Tindak Tutur dan Jenis-jenis Tindak Tutur
Menurut The Concise Oxford Dictionary of Linguistics, tindak tutur (speech act) adalah ucapan yang dipahami sebagai tindakan yang dilakukan oleh penutur. Teori tentang tindak tutur awalnya diperkenalkan oleh J. L. Austin. Kemudian teori itu diperkenalkan kembali setelah Searle menerbitkan sebuah buku yang berjudul Speech Act: An Eassy in The Philosophy of Language pada tahun 1969.
Leech (1993: 5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari tentang maksud ujaran, yaitu untuk apa ujaran tersebut dilakukan, menanyakan apa yang dimaksud oleh sesorang dengan suatu tindak tutur, dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, dan bagaimana. Tindak tutur merupakan sentral dari pragmatik, dan merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini, seperti pra-anggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerja sama, serta prinsip kesantunan.
Menurut Austin (dalam Leech, 1993: 280), semua tuturan adalah sebuah bentuk tindakan dan tidak sekedar sesuatu tentang dunia tindak ujar atau tutur
(Speech Act) adalah fungsi bahasa sebagai sarana penindak. Semua kalimat atau ujaran yang diucapkan oleh penutur sebenarnya mengandung fungsi komunikatif tertentu. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa mengujarkan sesuatu dapat disebut sebagai aktivitas atau tindakan. Hal tersebut dikarenakan dalam setiap tuturan memiliki maksud tertentu untuk mempengaruhi orang lain.
Sementara itu, Chaer dan Leonie (2010: 50) menyatakan bahwa tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna tindakan dalam tuturannya.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur adalah aktivitas dengan menuturkan sesuatu. Tindak tutur yang memiliki maksud tertentu tersebut tidak dapat dipisahkan dari konsep situasi tutur. Konsep tersebut memperjelas pengertian tindak tutur sebagai suatu tindakan yang menghasilkan tuturan sebagai produk tindak tutur.
1.6.5.2Jenis-jenis Tindak Tutur (Wijana, 1996: 30-36)
Tindak tutur dapat dibedakan menjadi tindak tutur langsung dan tidak langsung serta tindak tutur literal dan tindak tutur tidak literal. Berikut ini didefinisikan kedua jenis tindak tutur tersebut.
1.6.5.2.1 Tindak Tutur Langsung dan Tindak Tutur Tidak Langsung
Secara formal, berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberitakan sesuatu
(informasi), kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan, atau permohonan. Bila kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengatakan sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, dan sebagainya, tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur langsung (direct speech act), seperti contoh (5) sampai dengan (7) berikut ini:
(5) Sidin memiliki lima ekor kucing (6) Di manakah letak pulau Bali? (7) Ambilkan baju saya!
Sementara itu, untuk berbicara sopan, perintah dapat diutarakan dengan kalimat berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa dirinya diperintah. Bila hal ini yang terjadi, terbentuk tindak tutur tidak langsung (indirect speech act), seperti contoh kalimat (8) dan (9) berikut ini:
(8) Ada makanan di almari (9) Di mana sapunya?
Kalimat (8), bila diucapkan kepada seorang teman yang membutuhkan makanan, dimaksudkan untuk memerintah lawan tuturnya mengambil makanan yang ada di almari yang dimaksud, bukan sekedar untuk menginformasikan bahwa di almari ada makanan. Demikian pula tuturan (9) bila diutarakan oleh seorang ibu kepada seorang anak, tidak semata-mata berfungsi untuk menanyakan di mana letak sapu itu, tetapi juga secara tidak langsung memerintah sang anak untuk mengambil sapu itu.
Dari uraian di atas, penggunaan modus kalimat dalam kaitannya dengan kelangsungan tindak tutur dapat ditabelkan sebagai berikut:
Tabel 1: Skema Penggunaan Modus
Modus
Tindak Tutur
Langsung Tidak Langsung
Berita Memberitakan Menyuruh
Tanya Bertanya Menyuruh
Perintah Menyuruh -
Tabel di atas menjelaskan bahwa kalimat berita dapat digunakan untuk memberitakan maupun untuk menyuruh, demikian pula kalimat tanya yang dapat digunakan untuk bertanya maupun menyuruh, sedangkan kalimat perintah hanya dapat digunakan untuk menyuruh.
1.6.5.2.2 Tindak Tutur Literal dan Tindak Tutur Tidak Literal
Tindak tutur literal (literal speech act) adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya, sedangkan tindak tutur tidak literal (nonliteral speech act) adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan kata-kata yang menyusunnya. Untuk lebih jelas perhatikan contoh kalimat (10) sampai dengan (13) berikut:
(10) Penyanyi itu suaranya bagus.
(11) Suaramu bagus, tapi tak usah nyanyi saja.
(12) Radionya keraskan! Aku ingin mencatat lagu itu.
(13) Radionya kurang keras. Tolong keraskan lagi. Aku mau belajar.
Kalimat (10), bila diutarakan untuk maksud memuji atau mengagumi kemerduan suara penyanyi yang dibicarakan, merupakan tindak tutur literal, sedangkan (11), karena penutur memaksudkan bahwa suara lawan tuturnya tidak bagus dengan
mengatakan „tak usah nyanyi saja’, merupakan tindak tutur tidak literal. Demikian pula karena penutur benar-benar menginginkan lawan tutur untuk mengeraskan (membesarkan) volume radio untuk dapat secara lebih mudah mencatat lagu yang didengarkannya, tindak tutur kalimat (12) adalah tindak tutur literal. Sebaliknya, karena penutur sebenarnya menginginkan lawan tutur mematikan radionya, tindak tutur dalam (13) adalah tindak tutur tidak literal dengan mengatakan ‘aku mau belajar’.
1.6.5.3Interseksi Berbagai Jenis Tindak Tutur
Bila tindak tutur langsung dan tidak langsung disinggungkan (diinterseksikan) dengan tindak tutur literal dan tidak literal, akan didapatkan berbagai macam tindak tutur berikut ini:
1.6.5.3.1 Tindak Tutur Langsung Literal
Tindak tutur langsung literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengutaraannya.
1.6.5.3.2 Tindak Tutur Tidak Langsung Literal
Tindak tutur tidak langsung literal adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi makna kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan penutur.
1.6.5.3.3 Tindak Tutur Langsung Tidak Literal
Tindak tutur langsung tidak literal adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi makna kata-kata yang menyusunnya tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan penutur. 1.6.5.3.4 Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal
Tindak tutur tidak langsung tidak literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat dan makna kalimat yang tidak sesuai dengan dengan maksud yang hendak diutarakan.