• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tindak Tutur Mengkritik Kekerasan dan Kriminalitas

BAB III TINDAK TUTUR MENGKRITIK DALAM LIRIK-LIRIK LAGU GRUP

3.1.1 Tindak Tutur Mengkritik Kekerasan dan Kriminalitas

3.1.1 Tindak Tutur Mengkritik Kekerasan dan Kriminalitas secara Langsung Literal

Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik kekerasan dan kriminalitas langsung literal.

(51) Banyak Cina melarat Apes kena disikat

(52) Lakukan penjarahan, bahkan perkosaan (53) Cuma bikin hancur, bikin orang sedih (54) Ada yang lempar-lemparan batu

Sambil saling getok-getokan (55) Pelajar ribut di jalan

(56) Ada yang bikin kerusuhan Sambil teriak-teriak nggak puas (57) Buruh ngamuk di jalan

(58) Kumpul-kumpul emosi nggak tertahan (59) Massa histeris di lapangan

(60) Ada suara jerit-jeritan

Sia-sia banyak yang jadi korban (61) Petugas bentrok sama demonstran (62) Ngerusakin bar.. orang ditampar-tampar (63) Cara kekerasan ‘gak welcome di sini

(64) Dia buron karena ulahnya, tiga peluru di tubuhnya (65) Jerry tewas di tangan petugas

Contoh (51) sampai dengan (65) di atas merupakan tindak tutur mengkritik kekerasan dan kriminalitas secara langsung literal. Dikatakan langsung karena contoh (51) sampai dengan (65) menggunakan modus deklaratif untuk mengkritik kekerasan dan kriminalitas.

Contoh (51) sampai dengan (65) memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik kekerasan dan kriminalitas. Secara berturut-turut, contoh (51) menggunakan kata disikat yang memiliki makna ‘dirampas’ (Sugono, dkk., 2008: 1303) untuk mengungkapkan kritik atas kekerasan dan kriminalitas. Pada contoh (52) digunakan kata penjarahan yang bermakna ‘perebutan dan perampasan milik orang’ (Sugono, dkk., 2008: 567) dan perkosaan yang bermakna ‘pemaksaan dengan kekerasan’ (Sugono, dkk., 2008: 1059), contoh (53) menggunakan frasa bikin hancur yang bermakna ‘membuat remuk’ (Sugono, dkk., 2008: 479), contoh (54) menggunakan frasa lempar-lemparan batu yang bermakna ‘berlempar-lemparan batu’ (Sugono, dkk., 2008: 811) dan saling getok-getokkan yang bermakna ‘saling pukul-pukulan’ (Sugono, dkk., 2008: 450), contoh (55) menggunakan kata ribut yang bermakna ‘ramai (rusuh)’ (Sugono, dkk., 2008: 1174), contoh (56) menggunakan kata kerusuhan yang bermakna ‘huru-hara’ (Sugono, dkk., 2008: 1194 )dan frasa teriak-teriak nggak puas yang bermakna ‘berseru dng suara keras berkali-kali’ (Sugono, dkk., 2008: 1451), contoh (57) menggunakan kata ngamuk yang bermakna ‘menyerang dng membabi buta’ (Sugono, dkk., 2008: 55), contoh (58) menggunakan frasa emosi nggak tertahan yang bermakna ‘penuh emosi’ (Sugono, dkk., 2008: 368), contoh (59) menggunakan kata histeris yang bermakna ‘bersifat histeria’ (Sugono, dkk., 2008: 503), contoh (60) menggunakan kata korban yang bermakna ‘orang yang menjadi menderita akibat suatu kejadian’ (Sugono, dkk., 2008: 733), contoh (61) menggunakan kata bentrok yang bermakna ‘berselisih’ (Sugono, dkk., 2008: 173), contoh (62) menggunakan kata ngerusakin yang bermakna ‘menjadikan rusak’

(Sugono, dkk., 2008: 1193) dan ditampar-tampar yang bermakna ‘dipukul-pukul dng telapak tangan’ (Sugono, dkk., 2008: 1389), contoh (63) menggunakan kata kekerasan yang bermakna ‘perbuatan seseorang atau kelompok orang yg menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain’ (Sugono, dkk., 2008: 677), contoh (64) menggunakan kata buron yang bermakna ‘orang yang diburu polisi’ (Sugono, dkk., 2008: 227) dan frasa tiga peluru di tubuhnya yang bermakna ‘ditembak’ , dan contoh (65) menggunakan frasa tewas di tangan petugas yang bermakna ‘mati ditembak polisi’.

3.1.2 Tindak Tutur Mengkritik Kekerasan dan Kriminalitas secara Langsung Tidak Literal

Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik kekerasan dan kriminalitas langsung tidak literal.

(66) Pake peci.. tapi kelakuan bar-bar

(67) Ternyata Jakarta kota yang penuh srigala (68) Jakarta juga banyak ular-ular

(69) Ternyata Jakarta kota yang penuh curiga (70) Jakarta juga bukan kota yang ramah (71) Dia terpaksa turun ke jalan...

(72) Dia jalani dunia hitam

Contoh (66) sampai dengan (72) di atas merupakan tindak tutur mengkritik kekerasan dan kriminalitas secara langsung tidak literal. Dikatakan langsung karena contoh (66) sampai dengan (72) menggunakan kalimat deklaratif untuk mengkritik kekerasan dan kriminalitas.

Contoh (66) sampai dengan (72) tidak memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik kekerasan dan kriminalitas, maka disebut tidak

literal. Secara berturut-turut, contoh (66) menggunakan kata bar-bar yang bermakna ‘tidak beradab’ (Sugono, dkk., 2008: 140) untuk menerangkan kritik kekerasan dan kriminalitas, contoh (67) menggunakan kata srigala yang bermakna ‘pb orang yg kelihatannya bodoh dan penurut, tetapi sebenarnya kejam, jahat, dan curang’ (Sugono, dkk., 2008: 1287), contoh (68) menggunakan kata ular-ular yang menggambarkan ‘penipu’, contoh (69) menggunakan kata curiga yang bermakna ‘kewaspadaan’ (Sugono, dkk., 2008: 281), contoh (70) menggunakan frasa bukan kota yang ramah yang bermakna ‘penuh kekerasan’, contoh (71) menggunakan frasa turun ke jalan yang bermakna ‘melakukan tindakan kriminal’, dan contoh (72) menggunakan frasa dunia hitam yang bermakna ‘kehidupan tt orang-orang yang yg melakukan kejahatan’ (Sugono, dkk., 2008: 347).

3.1.3 Tindak Tutur Mengkritik Kekerasan dan Kriminalitas secara Tidak Langsung Literal

Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik kekerasan dan kriminalitas tidak langsung literal.

(73) Segitu jahatnya bangsaku? (74) Segitu dendamnya rakyatku?

Contoh (73) dan (74) di atas merupakan tindak tutur mengkritik kekerasan dan kriminalitas secara tidak langsung literal. Dikatakan tidak langsung karena contoh (73) dan (74) menggunakan kalimat interogatif untuk mengkritik kekerasan dan kriminalitas, sehingga modus berbeda dengan maksud tuturannya.

Contoh (73) dan (74) memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik kekerasan dan kriminalitas. Contoh (73) menggunakan kata jahatnya yang bermakna ‘buruknya’ (Sugono, dkk., 2008: 556) untuk menerangkan kritik kekerasan dan kriminalitas dan contoh (74) menggunakan kata dendamnya yang bermakna ‘berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dsb)’ (Sugono, dkk., 2008: 311).

3.1.4 Tindak Tutur Mengkritik Kekerasan dan Kriminalitas secara Tidak Langsung Tidak Literal

Berikut ini disajikan contoh tindak tutur mengkritik kekerasan dan kriminalitas tidak langsung tidak literal.

(75) Liat apa yang kau lakukan?

Contoh (75) merupakan tindak tutur mengkritik secara tidak langsung tidak literal. Dikatakan tidak langsung karena contoh (75) menggunakan kalimat interogatif untuk menyatakan kritik kekerasan dan kriminalitas, sehingga modus berbeda dengan maksud pengutaraannya.

Contoh (75) tidak memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik kekerasan dan kriminalitas, maka disebut tidak literal. Dalam contoh (75) digunakan kalimat Liat apa yang kau lakukan? yang mengacu pada ‘kekerasan yang telah diperbuat yang mengakibatkan kesedihan’.

3.1.5 Tabel Daftar Jenis-jenis Tindak Tutur Mengkritik Kekerasan dan Kriminalitas

Berikut ini disajikan tabel daftar jenis-jenis tindak tutur mengkritik kekerasan dan kriminalitas.

Tabel 8: Jenis-jenis Tindak Tutur Mengkritik Kekerasan dan Kriminalitas No.

Data

Tindak Tutur Mengkritik Kekerasan dan

Kriminalitas

Jenis Tindak Tutur Judul Lagu (51) Banyak Cina melarat

Apes kena disikat Langsung literal Aktor Intelektual (52) Lakukan penjarahan

Bahkan perkosaan Langsung literal Aktor Intelektual (53) Cuma bikin hancur

Bikin orang sedih Langsung literal Amrozy Gitting (54)

Ada yang lempar-lemparan batu

Sambil saling getok-getokan

Langsung literal Anarki di RI (55) Pelajar ribut di jalan Langsung literal Anarki di RI (56)

Ada yang bikin kerusuhan Sambil teriak-teriak nggak puas

Langsung literal Anarki di RI (57) Buruh ngamuk di jalan Langsung literal Anarki di RI (58) Kumpul-kumpul emosi

nggak tertahan Langsung literal Anarki di RI (59) Massa histeris di lapangan Langsung literal Anarki di RI (60)

Ada suara jerit-jeritan Sia-sia banyak yang jadi korban

Langsung literal Anarki di RI (61) Petugas bentrok sama

demonstran Langsung literal Anarki di RI

(62) Ngerusakin bar.. orang

ditampar-tampar Langsung literal Gossip Jalanan (63) Cara kekerasan ‘gak

welcome di sini Langsung literal

Jakarta Meledak Lagi (64) Dia buron karena ulahnya,

tiga peluru di tubuhnya Langsung literal

Jerry (Preman Urban) (65) Jerry tewas di tangan

petugas Langsung literal

Jerry (Preman Urban)

(66) Pake peci.. tapi kelakuan bar-bar

Langsung tidak

literal Gossip Jalanan

(67) Ternyata Jakarta kota yang penuh srigala

Langsung tidak literal

Jerry (Preman Urban) (68) Jakarta juga banyak

ular-ular

Langsung tidak literal

Jerry (Preman Urban) (69) Ternyata Jakarta kota yang

penuh curiga

Langsung tidak literal

Jerry (Preman Urban) (70) Jakarta juga bukan kota

yang ramah

Langsung tidak literal

Jerry (Preman Urban) (71) Dia terpaksa turun ke

jalan...

Langsung tidak literal

Jerry (Preman Urban) (72) Dia jalani dunia hitam Langsung tidak

literal

Jerry (Preman Urban) (73) Segitu jahatnya bangsaku? Tidak langsung

literal Aktor Intelektual (74) Segitu dendamnya

rakyatku?

Tidak langsung

literal Aktor Intelektual (75) Liat apa yang kau lakukan? Tidak langsung tidak

literal Amrozy Gitting

3.2 Tindak Tutur Mengkritik Kerusakan Lingkungan

Dalam mengkritik kerusakan lingkungan, SLANK menggunakan tindak tutur langsung literal, tindak tutur langsung tidak literal, dan tindak tutur tidak langsung literal.

3.2.1 Tindak Tutur Mengkritik Kerusakan Lingkungan secara Langsung Literal

Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik kerusakan lingkungan secara langsung literal.

(76) Putih embun pun kini telah terkontaminasi

(77) Hanya orang bodoh yang membuang sampah ke dalam sungai (78) Hanya orang bego yang membuang kotoran ke dalam kali

(80) Hanya orang stupid yang membuang-buang comberan ke selokan (81) Jangan membuang sampah sembarangan

Contoh (76) sampai dengan (81) merupakan tindak tutur mengkritik kerusakan lingkungan secara langsung literal. Dikatakan langsung karena contoh (76) sampai dengan (81) menggunakan modus deklaratif untuk mengkritik kerusakan lingkungan.

Contoh (76) sampai dengan (81) memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik atas kerusakan lingkungan. Secara berturut-turut, contoh (76) menggunakan kata terkontaminasi yang bermakna ’terkena kotoran; tercemar’ (Sugono, dkk., 2008: 728) untuk mengungkapkan kritik atas kerusakan lingkungan, contoh (77) menggunakan kata sampah yang bermakna ‘kotoran’ (Sugono, dkk., 2008: 1215), contoh (78) menggunakan kata kotoran yang bermakna ‘sesuatu yang menyebabkan kotor’ (Sugono, dkk., 2008: 738), contoh (79) menggunakan kata limbah yang bermakna ‘sisa proses produksi’ (Sugono, dkk., 2008: 828), contoh (80) menggunakan kata comberan yang bermakna ‘selokan (lubang) pembuangan air kotor’ (Sugono, dkk., 2008: 273), dan contoh (81) menggunakan kata sampah yang bermakna ‘kotoran’ (Sugono, dkk., 2008: 1215).

3.2.2 Tindak Tutur Mengkritik Kerusakan Lingkungan secara Langsung Tidak Literal

Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik kerusakan lingkungan secara langsung tidak literal.

(83) Memandang ramainya Jakarta

Contoh (82) dan (83) merupakan tindak tutur mengkritik kerusakan lingkungan secara langsung tidak literal. Dikatakan langsung karena kedua contoh tersebut menggunakan kalimat deklaratif untuk mengkritik kerusakan lingkungan.

Contoh (82) dan (83) disebut tidak literal karena tidak memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik atas kerusakan lingkungan. Contoh (82) menggunakan frasa ‘gak ada sinar mentari yang bermakna ‘udara yang tertutup oleh asap polusi’ untuk mengungkapkan kritik atas kerusakan lingkungan. Sementara itu, contoh (83) menggunakan kata ramainya yang bermakna ‘banyak kendaraan yang berlalu-lalang’ (Sugono, dkk., 2008: 1136), hal tersebut menyebabkan polusi udara karena banyaknya asap kendaraan bermotor.

3.2.3 Tindak Tutur Mengkritik Kerusakan Lingkungan secara Tidak Langsung Literal

Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik kerusakan lingkungan secara tidak langsung literal.

(84) Jangan cuma diam dan menunggu Berbuatlah untuk air!

(85) Jangan cuma diam dan menunggu Berhematlah untuk air!

(86) Jangan cuma diam dan menunggu Berlarilah untuk air!

Contoh (84) sampai dengan (86) di atas merupakan tindak tutur mengkritik kerusakan lingkungan secara tidak langsung literal. Dikatakan tidak langsung karena contoh (84) dan (86) menggunakan kalimat imperatif untuk mengkritik kerusakan lingkungan, sehingga modusnya berbeda dengan maksud tuturan.

Contoh (84) sampai dengan contoh (86) disebut literal karena memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik atas kerusakan lingkungan. Secara berturut-turut, contoh (84) menggunakan frasa berbuatlah untuk air; kata berbuat bermakna ‘mengerjakan sesuatu’ (Sugono, dkk., 2008: 213) agar air tidak tercemar, contoh (85) menggunakan frasa berhematlah untuk air; kata berhematlah bermakna ‘berdikit-dikit atau berhati-hati’ (Sugono, dkk., 2008: 490) agar air tidak cepat habis, dan contoh (86) menggunakan frasa berlarilah untuk air.

3.2.4 Tabel Daftar Jenis-jenis Tindak Tutur Mengkritik Kerusakan Lingkungan

Berikut ini disajikan tabel daftar jenis-jenis tindak tutur mengkritik kerusakan lingkungan.

Tabel 9: Jenis-jenis Tindak Tutur Mengkritik Kerusakan Lingkungan No.

Data

Tindak Tutur Mengkritik

Kerusakan Lingkungan Jenis Tindak Tutur Judul Lagu (76) Putih embun pun kini telah

terkontaminasi Langsung Literal Jakarta Pagi Ini (77)

Hanya orang bodoh yang membuang sampah ke dalam sungai

Langsung Literal L.A.P.I.N.D.O. (78)

Hanya orang bego yang membuang kotoran ke dalam kali

Langsung Literal L.A.P.I.N.D.O. (79)

Hanya orang yang ‘gak berpendidikan membuang limbah ke dalam laut

Langsung Literal L.A.P.I.N.D.O. (80)

Hanya orang stupid yang membuang-buang

comberan ke selokan

(81) Jangan membuang sampah

sembarangan Langsung Literal L.A.P.I.N.D.O. (82) Pagi dingin ‘gak ada sinar

mentari

Langsung Tidak

Literal Jakarta Pagi Ini (83) Memandang ramainya

Jakarta

Langsung Tidak

Literal Jakarta Pagi Ini (84)

Jangan cuma diam dan menunggu

Berbuatlah untuk air!

Tidak Langsung

Literal Krisis Air

(85)

Jangan cuma diam dan menunggu

Berhematlah untuk air!

Tidak Langsung

Literal Krisis Air

(86)

Jangan cuma diam dan menunggu

Berlarilah untuk air!

Tidak Langsung

Literal Krisis Air

3.3 Tindak Tutur Mengkritik Korupsi

Untuk mengkritik korupsi, SLANK menggunakan tindak tutur langsung literal, tindak tutur langsung tidak literal, tindak tutur tidak langsung literal, dan tindak tutur tidak langsung tidak literal.

3.3.1 Tindak Tutur Mengkritik Korupsi secara Langsung Literal

Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik korupsi secara langsung literal.

(87) Katanya banyak uang suap polisi (88) Para pejabat foya-foya

Contoh (87) dan (88) merupakan tindak tutur mengkritik korupsi secara langsung literal. Dikatakan langsung karena kedua contoh tersebut menggunakan kalimat deklaratif untuk mengkritik korupsi.

Contoh (87) dan (88) disebut literal karena memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik atas korupsi. Contoh (87) menggunakan kata suap yang bermakna ‘uang sogok’ (Sugono, dkk., 2008: 1343) untuk mengungkapkan kritik tentang korupsi. Contoh (88) menggunakan kata foya-foya yang bermakna ‘menghamburkan uang untuk tujuan bersenang-senang’ (Sugono, dkk., 2008: 399) dengan menggunakan uang hasil korupsi.

3.3.2 Tindak Tutur Mengkritik Korupsi secara Langsung Tidak Literal Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik korupsi secara langsung tidak literal.

(89) Untuk kepentingan pribadi dan memperkaya diri (90) Yang sering banyak nyunat duit haram punya rakyat (91) Sogok sini, sogok sana

(92) Minta disuap, doyan disogok (93) Cari yang basah, yang banyak air (94) Terhukum mati, tapi bisa ditunda (95) Dikasih uang, habis perkara (96) Bikin UUD, ujung-ujungnya duit

Contoh (89) sampai dengan (96) merupakan tindak tutur mengkritik korupsi secara langsung tidak literal. Dikatakan langsung karena contoh (89) sampai dengan (96) tersebut menggunakan kalimat deklaratif untuk mengkritik korupsi.

Contoh (89) sampai dengan (96) disebut tidak literal karena tidak memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik atas korupsi. Secara berturut-turut, contoh (89) mengunakan frasa untuk kepentingan pribadi dan memperkaya diri; kata memperkaya bermakna ‘menjadikan lebih kaya’ (Sugono, dkk., 2008: 640) untuk mengungkapkan kritik atas korupsi, contoh (90) menggunakan kata nyunat yang bermakna ‘memotong secara tidak sah’ (Sugono,

dkk., 2008: 1355), contoh (91) menggunakan kata sogok yang bermakna ‘sesuatu yg digunakan untuk menyogok: uang’ (Sugono, dkk., 2008: 1327), contoh (92) menggunakan kata disuap yang bermakna ‘diberi uang sogok’ (Sugono, dkk., 2008: 1343) dan disogok yang bermakna ‘disuap’ (Sugono, dkk., 2008: 1327), contoh (93) menggunakan frasa yang banyak air yang bermakna ‘licin atau banyak komisi (uang suap)’, contoh (94) menggunakan frasa tapi bisa ditunda yang bermakna ‘bisa ditunda jika ada uang suap’, contoh (95) menggunakan frasa dikasih uang, habis perkara yang bermakna ‘tidak diperkarakan kembali jika diberi uang suap’, dan contoh (96) menggunakan frasa ujung-ujungnya duit yang bermakna ‘berujung dengan membayar’.

3.3.3 Tindak Tutur Mengkritik Korupsi secara Tidak Langsung Literal Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik korupsi secara tidak langsung literal.

(97) Mengapa harus gratis kalo bisa dapet duit?

(98) Kenapa pula pusing cari bisnis kalo banyak dapet komisi? (99) Kenapa mesti murah kalo bisa dimark-up-in?

Contoh (97) sampai dengan (99) di atas merupakan tindak tutur mengkritik korupsi secara tidak langsung literal. Dikatakan tidak langsung karena contoh (97) dan (99) menggunakan kalimat interogatif untuk mengkritik korupsi, sehingga modusnya berbeda dengan maksud tuturan.

Contoh (97) sampai dengan (99) disebut literal karena memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik atas korupsi. Secara berturut-turut, contoh (97) menggunakan frasa bisa dapet duit yang bermakna ‘bisa mendapat

uang’ untuk mengungkapkan kritik atas korupsi, contoh (98) menggunakan frasa banyak dapet komisi; kata komisi bermakna ‘imbalan’ (Sugono, dkk., 2008: 718), dan contoh (99) menggunakan kata dimark-up-in yang bermakna ‘dilebihkan’.

3.3.4 Tindak Tutur Mengkritik Korupsi secara Tidak Langsung Tidak Literal

Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik korupsi secara tidak langsung tidak literal.

(100) Kelebihan dananya kemana?

(101) Kenapa juga pilih yang susah kalo ada yang minta disuapi? (102) Kenapa ditenderin kalo bisa dikongkalikongin?

(103) Kenapa juga harus dikasusin kalo bisa di86-in?

(104) Kenapa pula terang-terangan kalo bisa dikasak-kusukkin?

Contoh (100) sampai dengan (104) di atas merupakan tindak tutur mengkritik korupsi secara tidak langsung tidak literal. Dikatakan tidak langsung karena contoh (100) dan (104) menggunakan kalimat interogatif untuk mengkritik korupsi, sehingga modusnya berbeda dengan maksud tuturan.

Contoh (100) sampai dengan (104) disebut tidak literal karena tidak memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik atas korupsi. Secara berturut-turut, contoh (100) mengunakan kalimat kelebihan dananya kemana? yang bermakna ‘dana (uang) yang hilang karena dikorupsi’ untuk mengungkapkan kritik atas korupsi, contoh (101) menggunakan kata disuapi yang bermakna ‘diberi uang sogok’ (Sugono, dkk., 2008: 1343), contoh (102) menggunakan kata dikongkalikongin yang bermakna ‘tidak terang-terangan’ (Sugono, dkk., 2008: 723), contoh (103) menggunakan kata di86-in yang

bermakna ‘diterima’, dan contoh (104) menggunakan kata dikasak-kusukkin yang bermakna ‘memengaruhi orang lain secara sembunyi-sembunyi (tidak terang-terangan) dengan tujuan tertentu’ (Sugono, dkk., 2008: 630).

3.3.5 Tabel Daftar Jenis-jenis Tindak Tutur Mengkritik Korupsi

Berikut ini disajikan tabel daftar jenis-jenis tindak tutur mengkritik korupsi.

Tabel 10: Jenis-jenis Tindak Tutur Mengkritik Korupsi No.

Data

Tindak Tutur Mengkritik

Korupsi Jenis Tindak Tutur Judul Lagu (87) Katanya banyak uang suap

polisi Langsung Literal Gossip Jalanan

(88) Para pejabat foya-foya Langsung Literal Kritis BBM (89) Untuk kepentingan pribadi

dan memperkaya diri

Langsung Tidak

Literal Aktor Intelektual (90) Yang sering banyak nyunat

duit haram punya rakyat

Langsung Tidak

Literal Aktor Intelektual (91) Sogok sini, sogok sana Langsung Tidak

Literal

Birokrasi Kompleks (92) Minta disuap, doyan

disogok

Langsung Tidak Literal

Bobrokisasi Borokisme (93) Cari yang basah, yang

banyak air

Langsung Tidak Literal

Bobrokisasi Borokisme (94) Terhukum mati, tapi bisa

ditunda

Langsung Tidak

Literal Gossip Jalanan

(95) Dikasih uang, habis perkara Langsung Tidak

Literal Gossip Jalanan

(96) Bikin UUD, ujung-ujungnya duit

Langsung Tidak

Literal Gossip Jalanan

(97) Mengapa harus gratis kalo bisa dapet duit?

Tidak Langsung

Literal Merdeka

(98)

Kenapa pula pusing cari bisnis kalo banyak dapet komisi?

Tidak Langsung

Literal Merdeka

(99) Kenapa mesti murah kalo bisa dimark-up-in?

Tidak Langsung

(100) Kelebihan dananya kemana?

Tidak Langsung

Tidak Literal Kritis BBM (101)

Kenapa juga pilih yang susah kalo ada yang minta disuapi?

Tidak Langsung

Tidak Literal Merdeka (102) Kenapa ditenderin kalo bisa

dikongkalikongin?

Tidak Langsung

Tidak Literal Merdeka (103) Kenapa juga harus

dikasusin kalo bisa di86-in?

Tidak Langsung

Tidak Literal Merdeka (104)

Kenapa pula terang-terangan kalo bisa dikasak-kusukkin?

Tidak Langsung

Tidak Literal Merdeka

3.4 Tindak Tutur Mengkritik Prostitusi dan Pergaulan Bebas

Untuk mengkritik masalah prostitusi dan pergaulan bebas, SLANK menggunakan tindak tutur langsung tidak literal dan tindak tutur tidak langsung tidak literal.

3.4.1 Tindak Tutur Mengkritik Prostitusi dan Pergaulan Bebas secara Langsung Tidak Literal

Berikut ini disajikan contoh-contoh tindak tutur mengkritik prostitusi dan pergaulan bebas secara langsung tidak literal.

(105) Belum dewasa main cinta (106) Dua remaja berpeluk mesra (107) Korban cinta lelaki dewasa (108) Satu gadis lagi benih di tubuhnya (109) Perawan kini nggak ada artinya

Contoh (105) sampai dengan (109) merupakan tindak tutur mengkritik prostitusi dan pergaulan bebas secara langsung tidak literal. Dikatakan langsung karena

contoh (105) sampai dengan (109) tersebut menggunakan kalimat deklaratif untuk mengkritik prostitusi dan pergaulan bebas.

Contoh (105) sampai dengan (109) disebut tidak literal karena tidak memiliki makna yang sama dengan maksud pengutaraan kritik atas prostitusi dan pergaulan bebas. Secara berturut-turut, contoh (105) mengunakan frasa main cinta atau bercinta yang bermakna ‘bersenggama’ (Sugono, dkk., 2008: 268) untuk mengungkapkan kritik tentang prostitusi dan pergaulan bebas, contoh (106) menggunakan frasa berpeluk mesra atau bermesraan yang bermakna ‘bercumbu’ (Sugono, dkk., 2008: 908), contoh (107) menggunakan frasa korban cinta yang bermakna ‘korban nafsu birahi’, contoh (108) menggunakan kata benih atau hamil yang bermakna ‘mengandung janin dl rahim krn sel telur dibuahi oleh spermatozoa’ (Sugono, dkk., 2008: 478), dan contoh (109) menggunakan kalimat perawan kini nggak ada artinya yang bermakna ‘banyaknya remaja wanita yang sudah melakukan hubungan seks’.

3.4.2 Tindak Tutur Mengkritik Prostitusi dan Pergaulan Bebas secara Tidak Langsung Tidak Literal

Berikut ini disajikan contoh tindak tutur mengkritik prostitusi dan pergaulan bebas secara tidak langsung tidak literal.

(110) Siapa yang tahu mafia s’langkangan?

Contoh (110) di atas merupakan tindak tutur mengkritik prostitusi dan pergaulan bebas secara tidak langsung tidak literal. Dikatakan tidak langsung karena pada

contoh (110) menggunakan kalimat interogatif untuk mengkritik prostitusi dan

Dokumen terkait