• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tindakan Main Hakim Sendiri ( Eigenrechting ) 1. Pengertian Tindak Pidana

Dalam dokumen SKRIPSI penegakan hukum pidana. docx (Halaman 47-54)

TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAKAN MAIN HAKIM SENDIRI DAN PENEGAKAN HUKUM

2.1. Tindakan Main Hakim Sendiri ( Eigenrechting ) 1. Pengertian Tindak Pidana

Menurut Moeljatno meyatakan bahwa Pengertian Tindak Pidana berarti perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, terhadap siapa saja yg melanggar larangan tersebut. Perbuatan tersebut harus juga dirasakan oleh masyarakat sebagai suatu hambatan tata pergaulan yang dicita-citakan oleh masyarakat.42

Kanter dan Sianturi, Pengertian Tindak Pidana didefinisikan suatu tindakan pada tempat, waktu dan keadaan tertentu, yang dilarang/ diharuskan dan diancam dengan pidana oleh undang-undang hukum pidana, bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang mampu bertanggung jawab). Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpukan bahwa Pengertian tindak pidana adalah suatu perbuatan yang dilakukan manusia yang dapat bertanggung jawab yang mana perbuatan tersebut dilarang atau diperintahkan atau dibolehkan oleh undang-undang hukum pidana yang diberi sanksi berupa sanksi pidana.

Untuk membedakan suatu perbuatan sebagai tindak pidana atau bukan tindak pidana ialah apakah perbuatan tersebut diberi sanksi pidana atau tidak diberi sanksi pidana. Pengertian Tindak Pidana menurut istilah adalah terjemahan

paling umum untuk istilah "strafbaar feit" dalam bahasa Belanda walaupun secara resmi tidak ada terjemahan resmi strafbaar feit.

Lebih lanjut Prof. Moeljatno S.H., Tindak Pidana (strafbaar feit). adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut. Terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan :

1. Perbuatan pidana adalah perbuatan oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana.

2. Larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang), sedangkan ancaman pidana ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu.

3. Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat, oleh karena antara kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu ada hubungan erat pula. “ Kejadian tidak dapat dilarang jika yang menimbulkan bukan orang, dan orang tidak dapat diancam pidana jika tidak karena kejadian yang ditimbulkan olehnya”. 43

Beliau membedakan membedakan dengan tegas dapat dipidananya perbuatan (die strafbaarheid an het feit) dan dapat dipidananya orang (strafbaarheid van den person). Sejalan dengan itu memisahkan pengertian perbuatan pidana (criminal act) dan pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility). Pandangan ini disebut pandangan dualistis yang sering dihadapkan dengan pandangan monistis yang tidak membedakan keduanya.

Dalam hukum pidana Belanda yaitu stafbaar feit. Walaupun istilah ini terdapat dalam WvS Belanda atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, tetapi tidak ada penjelasan resmi tentang apa yang dimaksud dengan tindak pidana tersebut. Karena itu para ahli hukum berusaha untuk memberikan arti dan isi dari istilah itu.

Perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan dengan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut. Pengertian straafbaarfeit menurut Simons dalam rumusannya adalah Tindakan yang melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh Undang-Undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum.

Rumusan pengertian tindak pidana (straafbaarfeit) yang dinyatakan oleh Simons juga diatur dalam asas hukum pidana Indonesia, yaitu asas legalitas (principle of legality) atau dalam bahasa latin biasanya dikenal dengan Nullum Delictum Noella Poena Sine Praevia Lege Poenali. maksudnya bahwa Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jika tidak ditentukan terlebih dahulu dalam perundang-undangan, ketentuan yang senada dengan asas tersebut juga diatur dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yaitu : Tiada suatu perbuatan dapat dipidana, kecuali atas kekuatan peraturan pidana dalam perundang-undangan Pasal tersebut.44

Tindak pidana akan melahirkan pertanggungjawaban pidana yang hanya dapat terjadi setelah sebelumnya seseorang melakukan tindak pidana, dimana pertanggungjawaban pidana dilakukan dengan asas yang berbeda yaitu dengan asas yang tidak tertulis Tiada pidana tanpa kesalahan. Tindak pidana merupakan suatu pengertian dasar dalam Hukum Pidana. Tindak Pidana adalah pengertian yuridis, lain halnya dengan istilah perbuatan jahat atau kejahatan ( crime atu

44 Wirjono Prodjo, SH, 1976, Perbuatan Melawan Hukum, Cetakan ke VI, Sumur Bandung, hal. 90.

verbrechen atau misdaad) yang biasa diartikan seeara yuridis (hukum) atau secara kriminologis.

2.1.2. Pengertian tindakan main hakim sendiri (eigenrechting).

Tindakan atau tindak pidana adalah istilah yang dipakai dalam hukum pidana terhadap perbuatan yang dilakukan yang dilarang dan diancam dengan pidana bagi barangsiapa yang melanggarnya.

Main hakim sendiri dalam pengertian umum sinonim dengan menghukum sendiri. Menghukum merupakan suatu perbuatan atau tindakan memberikan nestapa. Dalam konteks hukum pidana menghukum sendiri adalah perbuatan memberikan nestapa yang dilakukan sendiri tanpa melalaui alat-alat negara seperti hakim. hal mana perbuatan tersebut dilarang dan diancam dengan pidana.45

Menghakimi sendiri (eigenrechting) ini memiliki hubungan erat dengan sifat melanggar hukum dari setiap tindak pidana. Biasanya dengan suatu tindak pidana seseorang menderita kerugian dan untuk meniadakan kerugian itu orang tersebut melakukan suatu perbuatan tanpa menunggu tindakan alat-alat negara. Perbuatan mana dilakukan dengan menggunakan kekerasan yang dapat masuk dalam perumusan tindak pidana.46

Dengan demikian menghakimi sendiri itu adalah sebagai perbuatan melawan hukum, karena untuk meniadakan kerugian itu seseorang melakukan kekerasan yang dapat diancam pidana.

45 Roeslan Saleh, 1983, Sifat Melawan Hukum Dari Perbuatan Pidana, Cet.IV, Aksara Baru, Yogyakarta, September, hal. 10.

46 Ny. Soemarni, Diktat Kuliah Hukum Acara Pidana, 1965/1966, Yayasan Universitas Djanabadra Djogyakarta, hal. 62.

Secara normatif tidak ada ketentuan yang dapat memberikan pengertian apa yang dimaksud dengan main hakim sendiri. Untuk meniadakan kebekuan terhadap istilah dan pengertian tersebut kiranya penjelasan diatas dapat memberikan suatu pengertian secara umum dari tindakan main hakim sendiri.

Yang dimaksud dengan tindakan main hakim sendiri adalah suatu perbuatan dengan maksud untuk meniadakan kerugian yang diderita yang dilakukan dengan kekerasan terhadap orang atau barang, perbuatan mana dilakukan secara melawan hukum.47

2.1.3. Unsur-unsur tindakan main hakim sendiri ( eigenrechting ).

Dari pengertian tindakan main hakim sendiri tersebut diatas dapat ditarik unsur-unsur sebagai berikut :

1) Unsur subyektif (strict liability) a) Adanya orang yang berbuat.

Pada hakekatnya tiap-tiap perbuatan pidana harus terdiri dari unsur-unsur lahir. Untuk adanya perbuatan pidana diperlukan orang yang yang melakukan perbuatan.48

Yang dihukum sebagai orang yang melakukan disini dapat dibagi 4 macam yaitu :

i) Orang yang melakukan (plegen).

ii) Orang yang menyuruh melakukan (doen plegen). iii) Orang yang turut melakukan (medeplegen).

47 Bambang Purnomo,1982, Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Yogyakarta, hal. 126.

48 Adami Chazawi, 2002, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal.79.

iv) Orang yang membujuk melakukan (uitlokking).49

b) Adanya maksud atau kehendak.

Kehendak disini maksudnya adalah niat dari keadaan si pelaku. Niat ini telah keluar dan diarahkan pada terwujudnya perbuatan seperti dirumuskan oleh undang-undang. Pidana pada umumnya dijatuhkan hanya pada Barangsiapa melakukan perbuatan yang dilarang, dengan dikehendaki dan diketahui.

2) Unsur obyektif (criminal act). a) Dilakukan dengan kekerasan.

Melakukan kekerasan artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani tidak kecil secara tidak sah. Misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang dan sebagainya.

b) Ditujukan terhadap orang atau barang.

Kekerasan itu harus ditujukan kepada orang atau barang. Hewan atau binatang masuk pula dalam pengertian barang.

c) Bersifat melawan hukum

Hal ini berkaitan dengan azas legalitas (pasal 1 ayat 1 KUHP) yang menyatakan tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melainkan atas kekuatan pidana dalam undang-undang, yang ada terdahulu dari pada perbuatan itu. Sifat melawan hukum adalah unsur mutlak dari tiap-tiap tindak pidana. Hal ini harus dibuktikan unsur kemampuan bertanggung jawab dari perbuatan yang dilakukan. 50

2.1.4. Jenis-jenis tindakan main hakim sendiri (eigenrechting).

49 Sudarto, 1977, Hukum dan Hukum Pidana, Penerbit : Alimni Bandung, hal. 231.

Penggolongan tindakan main hakim sendiri ini, didalam ketentuan Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak ada disebutkan. Begitu pula di dalam literature atau penelaahan kepustakaan tidak ditemukan jenis-jenis tindakan main hakim sendiri.

Tindak pidana yang dikwalifikasikan sebagai tindakan main hakim sendiri (eigenrechting) adalah :

1) Tindak pidana penganiayaan berat dari pasal 354 KUHP. Ayat (1), menyatakan :

Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, dihukum karena menganiaya berat, dengan hukuman penjara selama-lamanya delapan tahun. Ayat (2), menyatakan :

Jika perbuatan itu menjadikan kematian orangnya, sitersalah dihukum penjara selama-lamanya sepuluh tahun.51

2) Tindak pidana penganiayaan ringan dari pasal 352 KUHP. Ayat (1), menyatakan :

Selain dari pada apa yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menjadikan sakit atau halangan untuk melakukan jabatan atau pekerjaan sebagai penganiayaan ringan, dihukum penjara selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4500,-. Hukuman ini boleh ditambah sepertiganya, bila kejahatan itu dilakukan terhadap orang yang bekerja padanya atau yang ada dibawah perintahnya.

Ayat (2), menyatakan :

Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat dihukum. c) Tindak pidana pengeroyokan dari pasal 358 KUHP.

51 P.A.F. Lamintang & C. Djisman Samosir, 1979, Hukum Pidana Indonesia, Sinar Baru Bandung, hal. 54.

Pasal 358 KUHP, menyatakan :

Barangsiapa dengan sengaja turut campur dalam penyerangan atau perkelahian yang dilakukan oleh beberapa orang, maka selain dari pada tanggungannya masing-masing bagi perbuatan yang khusus, dihukum :

1e. Penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan, jika penyerangan atau perkelahian itu hanya menjadikan ada orang mendapat luka berat saja. 2e. Penjara selama-lamanya empat tahun, jika penyerangan atau perkelahian

itu menjadikan ada orang mati.

Dalam dokumen SKRIPSI penegakan hukum pidana. docx (Halaman 47-54)

Dokumen terkait