HASIL PENELITIAN
5.5. Tindakan Responden Terhadap Pencarian Pelayanan Pengobatan
Berdasarkan tabel 4.9. didapat 44 orang (54,3%) bahwa kategori kurang tindakan responden dalam pencarian pelayanan pengobatan dan hanya sebanyak 2 orang (2,5%) responden yang masuk ke dalam kategori tinggi dalam pencarian pelayanan pengobatan.
Berdasarkan hasil penelitian kebanyakan responden akan membeli obat di warung ketika mereka merasakan gejala sakit, hal yang mendorong mereka untuk melakukan pengobatan sendiri karena obatnya mudah didapatkan, tidak memerlukan
biaya yang mahal, tidak perlu mengantre lama, dan bisa dibuat sendiri di rumah. Selain itu faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam mencari pelayanan pengobatan juga karena pemberi pengobatan sering bersikap tidak ramah, kebiasaan anggota keluarga yang tidak langsung berobat ketika sakit, dan pengobatan modern yang membutuhkan cukup banyak biaya.
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan kebanyakan responden cenderung berobat sendiri yaitu dengan membeli obat sendiri dari apotek atau dari warung apabila timbul gejala-gejala seperti demam, dengan alasan karena demam itu adalah sakit yang biasa saja. Berdasarkan asumsi penulis hal ini juga diperkuat karena faktor-faktor pendorong seperti obatnya mudah didapatkan , tidak memerlukan biaya yang mahal untuk mengobatinya , tidak harus mengantre lama untuk mendapat obatnya, dan bisa dibuat sendiri di rumah. Mereka tidak begitu peduli dengan efek obat yang ditimbulkan seperti timbulnya reaksi obat yang tidak diinginkan, pengobatan yang tidak terkontrol dan pemilihan obat lama kelamaan dapat membahayakan apabila tidak sesuai dengan aturan. Ada juga yang menyatakan mereka berobat sendiri karena mereka percaya kepada diri sendiri karena pengalaman yang lalu dimana pengobatan sendiri menghasilkan kesembuhan. Kalau sakit sudah semakin parah hingga mengganggu aktivitas / pekerjaan maka mereka akan memutuskan untuk pergi mencari pelayanan pengobatan modern. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilaporkan oleh Depkes RI (2009) yang menyatakan bahwa 62.65% penduduk Indonesia yang sakit melakukan pengobatan sendiri dan sisanya ke pengobatan tradisional, pengobatan modern, dan tidak berobat.
Berdasarkan hasil penelitian kebanyakan responden akan menggunakan pengobatan modern setelah gejala sakit sudah dirasakan menganggu aktivitas atau juga dalam keadaan sudah parah. Biasanya ketika kondisi tubuh sudah buruk sekalipun, responden tetap melakukan aktivitas seperti biasa atau mengabaikannya dengan asumsi bahwa penyakitnya bukan suatu kondisi yang bisa semakin parah. Responden mempunyai persepsi keparahan yang sangat subjektif.
Hal ini sejalan dengan penelitian Zulkiflan (2004) tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh pemulung di TPA Namo Bintang, keseriusan penyakit berpengaruh dalam pemanfaatan pelayanan pengobatan. Sebagian besar pemulung merasakan gejala penyakitnya atau sakit yang dideritanya sebagai sesuatu yang dapat mengganggu aktivitasnya dan menganggapnya sebagai hal yang serius sehingga perlu mendapatkan penanganan dari tenaga medis.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Health Belief Model bahwa persepsi keparahan cenderung berkaitan dengan pencarian pengobatan seseorang. Menurut Tori Health Belief Model dalam Edberg (2009) yang menyatakan bahwa secara teori, tindakan seseorang dalam pencarian pengobatan dan pencegahan penyakit dapat disebabkan karena keseriusan dari suatu penyakit yang dirasakan misalnya dapat menimbulakan kecacatan, kematian atau kelumpuhan, dan juga dampak sosial seperti dampak terhadap pekerjaan, kehidupan keluarga, dan hubungan sosial.
Mayoritas responden memberi jawaban akan mencari pengobatan lain setelah pengobatan awal tidak berhasil dan kebanyakan responden juga akan mencari pengobatan lain apabila pengobatan yang dijalani memerlukan biaya yaang tinggi. Ini dilihat dari kasus-kasus yang tidak dapat diobati oleh pengobatan modern.
Masyarakat akan beralih arah untuk menggunakan obat-obat tradisional selain efektif biaya yang dikeluarkan lebih murah dan terjangkau. Hal ini didukung oleh data Susenas (2001) yang menyatakan penggunaan obat tradisional dan cara tradisional meningkat di kalangan warga.
Setiap individu mempunyai cara yang berbeda dalam pencarian pengobatan, meskipun gangguan kesehatannya sama. Pada umumnya keputusan yang diambil berdasarkan penilaian individu atau mungkin dibantu oleh orang lain atau keluarga yang mempunyai kepercayaan yang turun temurun untuk mengatasi gangguan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Young (1980) dalam 4 unsur utama dalam pilihan berobat, yaitu:
1) Daya tarik (gravity), tingkat keparahan yang dirasakan oleh kelompok individu ( kesamaan pendapat dalam kelompok tentang berat ringannya tingkat keparahan dari berbagai jenis penyakitnya).
2) Pengetahuan tentang cara-cara penyembuhan popular yang bersumber pada rujukan awam.
3) Kepercayaan (faith) atau tingkat kepercayaan terhadap keberhasilan dari berbagai pilihan berobat ( terutama dari penyembuhan alternatif).
4) Kemudahan (accessibility), meliputi biaya dan tersedianya fasilitas pelayanan pengobatan.
Penulis berasumsi bahwa masyarakat Dusun VI Desa Patumbak Kampung mempertimbangkan manfaat dari jenis pengobatan yang mereka pilih yaitu baik secara finansial maupun dari tingkat kesembuhan yang akan didapatkan. Mereka menimbang antara manfaat dan sakit yang dialaminya. Ketika penyakit yang
dideritanya bisa disembuhkan dengan pengobatan yang berkhasiat namun hemat waktu dan biaya, maka mereka akan mendahulukan jenis pengobatan seperti ini. Mereka cenderung memilih pengobatan yang mereka yakini bisa menyembuhkan penyakit yang tengah mereka derita dengan biaya yang serendahnya dan manfaat yang secepatnya.
Hasil penelitian ini sesuai dengan (Notoatmodjo,2003), respon seseorang saat sakit adalah:
1) Tidak bertindak atau tidak melakukan apa-apa dengan alasan antara lain: (a) bahwa kondisi yang demikian tidak mengganggu kegiatan atau kerja mereka sehari-hari. (b) bahwa tanpa bertindak apapun simpton atau gejala yang dirasakannya akan lenyap dengan sendirinya. Hal ini menunjukkan kalau kesehatan belum prioritas di dalam kehidupannya. (c) fasilitas pengobatan yang dibutuhkan tempatnya sangat jauh, petugasnya tidak simpatik dan tidak ramah. (d) takut bertemu dengan dokter, takut disuntik jarum dan karena biaya yang mahal.
2) Tindakan mengobati diri sendiri (self treatment), dengan alasan yang sama seperti telah diuraikan. Alasan tambahan dari tindakan ini adalah karena orang atau masyarakat tersebut sudah percaya dengan diri sendiri, dan merasakan bahwa dengan pengalaman yang lalu usaha pengobatan sendiri sudah mendatangkan kesembuhan. Hal ini mengakibatkan pencarian pelayanan ke luar tidak diperlukan.
3) Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan tradisional (traditional remedy) misalnya ke dukun.
4) Mencari pengobatan dengan membeli obat di warung-warung obat (chemist shop) dan sejenisnya termasuk juga membeli jamu-jamuan. 5) Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan modern yang
diadakan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga kesehatan swasta, yang dikategorikan ke dalam balai pengobatan, puskesmas, dan rumah sakit.
6) Mencari pengobatan ke fasilitas pengobatan modern yang diselenggarakan oleh dokter praktek.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN