BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Tinggi Badan Anak Baru Masuk Sekolah (TBABS)
Salah satu indikator gizi untuk menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah ukuran pertumbuhan fisik yang dapat dilakukan melalui pengukuran Tinggi Badan Anak Baru Sekolah (TBABS). Dengan penilaian pencapaian tinggi badan secara periodik khususnya pada anak baru masuk sekolah, akan memberikan informasi yang sangat penting bagi para penentu kebijakan setempat, dalam perencanaan dan intervensi upaya peningkatan status gizi, juga sebagai indikator pembangunan (Depkes, 1999).
Manfaat pengukuran TBABS menurut Abunain (1988) antara lain : 1) cukup teliti digunakan sebagai suatu alat untuk memperoleh gambaran status gizi pada tingkat kabupaten /kota dan tingkat kecamatan; 2) Data TBABS dapat digunakan sebagai dasar untuk pemetaan daerah menurut status gizi dan sekaligus juga memberi gambaran perbedaan sosial ekonomi antar wilayah; 3) Pengukuran TBABS dapat merupakan alternatif alat pemantau status gizi masyarakat dengan biaya relatif murah dan sederhana, sehingga dapat dikembangkan secara luas (nasional, atau regional).
TBABS dapat memberi gambaran tentang pertumbuhan yang diderita anak bersangkutan pada umur-umur sebelumnya. Keadaan tinggi badan anak pada usia sekolah 7 tahun dapat menggambarkan status gizi pada masa balita mereka (Atmarita, 2004). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada penderita kurang kalori protein (KKP) terutama KKP berat yang bersifat menahun selalu terlihat gangguan pertumbuhan, yang dapat diamati pada tinggi badan. Anak-anak tersebut sulit untuk
mengejar ketinggalan pertumbuhannya dalam waktu singkat guna mencapai tinggi normal sesuai dengan umurnya (Desmita, 2005).
TBABS di suatu wilayah yang ada di bawah baku pada tingkat tertentu dapat memberi petunjuk adanya gangguan pertumbuhan pada anak sebagai gambaran taraf kesehatan dan gizi penduduk di wilayah bersangkutan. Ada korelasi yang baik antara tinggi badan anak sekolah dengan keadaan sosial ekonomi masyarakat daerah yang bersangkutan. TBABS tersebut merupakan refleksi pertumbuhan anak pada umur di bawah lima tahun dan sekaligus menjadi petunjuk bagi perbaikan kesehatan dan gizi dalam masa tersebut (Abunain, 1988).
TBABS dapat merupakan salah satu indikator status gizi dan kesehatan masyarakat suatu daerah, yang erat pula hubungannya dengan tingkat sosial ekonomi masyarakat di daerah yang bersangkutan. Hal ini disebabkan perubahan dalam status gizi dan kesehatan berkaitan erat dengan perubahan dalam tingkat sosial ekonomi penduduk. Oleh karena itu pengukuran TBABS sebaiknya dilakukan secara berkala, misalnya setiap 3 – 5 tahun sekali, sehingga perubahan-perubahan kualitas fisik dan keadaan sosial ekonomi masyarakat di berbagai daerah dapat dipantau secara berkesinambungan (Jahari, 1999).
2.2.2. Alasan Pengukuran TBABS
Abunain (1988) menyebutkan beberapa alasan digunakannya pengukuran tinggi badan anak baru sekolah (TBABS) adalah atas dasar :
1. Tinggi badan merupakan indikator yang paling baik untuk pertumbuhan tubuh dan juga tidak terbatas hanya pada golongan masa kanak-kanak saja.
2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penderita KKP, terutama KKP berat dan yang bersifat menahun, selalu ditandai oleh gangguan pertumbuhan.
3. Tinggi badan pada umur tertentu merupakan hasil kumulatif pertumbuhan semenjak lahir, sehingga menggambarkan riwayat status gizi di masa lalu.
4. Tinggi badan tidak mudah dipengaruhi oleh perubahan keadaan-keadaan yang terjadi dalam waktu singkat seperti halnya ukuran-ukuran yang berhubungan dengan massa jaringan.
5. Tinggi badan pada umur masuk sekolah dasar dapat merupakan refleksi status gizi pada umur-umur sebelumnya atau pada masa balita. Anak-anak dengan riwayat KKP berat dan menahun sukar mengejar ketinggalan pertumbuhan guna mencapai tinggi normal sesuai dengan umur mereka. Karena itu TBABS di suatu daerah dapat memberi gambaran prevalensi gangguan pertumbuhan yang dialami anak- anak di daerah tersebut.
6. Anak baru masuk Sekolah Dasar relatif mudah dicapai dibandingkan dengan anak balita atau golongan rawan gizi lain. Dengan demikian pengukuran dalam skala luas dapat dilakukan serentak di semua tempat.
7. Anak sekolah merupakan sasaran penduduk, yang dapat memberi gambaran status kesehatan dan gizi penduduk, yang secara operasional dapat dicapai dengan mudah dalam jumlah besar dan dapat mencakup wilayah luas dalam waktu relatif singkat.
8. Pengukuran tinggi badan di sekolah-sekolah bukanlah merupakan hal baru di Indonesia, sudah banyak dilakukan baik melalui UKS atau kegiatan lain.
9. Alat ukur tinggi badan relatif cukup teliti, dapat diperoleh dengan mudah dalam jumlah banyak dengan harga relatif murah dibanding harga timbangan berat badan.
10.Pengukuran dapat dilakukan oleh guru dan dapat dilakukan dengan menggunakan buku petunjuk yang sudah diuji tanpa melakukan pelatihan secara khusus.
11.Penelitian menunjukkan adanya korelasi yang baik antara tinggi badan anak sekolah dengan keadaan sosial ekonomi penduduk daerah yang bersangkutan. 12.Jika pengukuran tinggi badan anak baru masuk SD dilakukan secara periodik,
akan dapat diamati perubahan-perubahan dalam tinggi badan anak pada umur yang sama dan perbaikan pertumbuhan anak juga merupakan petunjuk peningkatan status kesehatan dan gizi serta sekaligus memberi gambaran perbaikan dalam bidang sosial ekonomi masyarakat setempat.
2.2.3. Survei Nasional TBABS
Di Indonesia pengukuran TBABS pertama kali dilakukan pada tahun 1986/1987 oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor bekerja sama dengan Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Jakarta di tiga Propinsi : Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat, meliputi 3450 sekolah dasar (652 kecamatan). Pengukuran tinggi badan dilakukan guru sekolah yang bersangkutan berdasarkan buku pedoman. Hasil penelitian menunjukkan
pengukuran TBABS dengan cara tersebut memberi harapan untuk dilaksanakan secara luas, dapat digunakan untuk pemetaan gangguan pertumbuhan anak, status gizi, dan pencapaian tinggi pada umur tertentu. Dari penelitian ini berdasarkan analisis data potensi desa bahwa TBABS dapat digunakan sebagai indikator tingkat sosial ekonomi penduduk antar wilayah (Abunain, 1988).
Pada tahun 1994, untuk pertama kalinya dilaksanakan pemantauan TBABS di seluruh Indonesia, yang memberikan gambaran rata-rata tinggi badan dan prevalensi gangguan pertumbuhan anak usia sekolah. Secara nasional rata-rata TBABS adalah 114,9 cm (91,0% terhadap standar WHO – NCHS) untuk laki-laki, sementara untuk anak perempuan 114,0 cm (90,6 % terhadap standar WHO-NCHS). Adapun n prevalensi gangguan pertumbuhan adalah 32% untuk wilayah pedesaan, dan 18% untuk wilayah perkotaan. Prevalensi gizi kurang menurut tinggi badan anak usia 6 – 9 tahun anak pendek adalah 38,8 %. Informasi ini dapat dijadikan sebagai data dasar evaluasi kecenderungan pertumbuhan berikutnya (Depkes, 1999).
Pada tahun 1999 pengukuran TBABS secara nasional kedua dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan tidak terlihat perubahan perbaikan gizi yang bermakna dari hasil pengukuran tersebut. Prevalensi hasil pengukuran TBABS menjadi 36,1 % Rata-rata TBABS hasil survey tahun 1999 adalah :
1. umur 6 tahun, laki-laki 108,9 cm; perempuan 107,8cm 2. umur 7 tahun, laki-laki 111,0 cm; perempuan 110,0 cm 3. umur 8 tahun, laki-laki 113,2; perempuan 112,1 cm
Hasil penelitian TBABS tahun 1999 menyimpulkan bahwa anak Indonesia yang baru masuk sekolah keadaan gizinya masih jauh dibandingkan dengan rujukan. Masih sekitar 30 – 40 % anak dikategorikan pendek, dan masih dijumpai sekitar 9 – 10 % anak dikategorikan sangat pendek. Hanya sedikit sekali peningkatan status gizi yang terjadi (Atmarita, 2004)
Rata-rata tinggi badan anak baru masuk sekolah (umur 7 – 9 tahun) hasil perhitungan 2003 yang dilakukan Abbas Basuni Jahari dan Idrus Jus’at dari berbagai literatur dan hasil penelitian TBABS untuk penentuan AKG 2004 adalah perempuan 118,1 cm (SD : 4,86); laki-laki 119,2 cm (SD : 3,95) (Jahari, 2004).
Dalam menginterpretasikan hasil pengukuran TBABS,dipakai baku rujukan WHO-NCHS yang membedakan jenis kelamin. Cutt off point (ambang batas) untuk klasifikasi status gizi berdasarkan TB/U adalah:Baku rujukan WHO-NCHS , dengan cara % dari median. Klasifikasi : Normal jika ≥ 90 % median; Stunted/malnutrisi kronis jika ≤ 90 % median. Dengan cara Standar Deviasi (SD) : Klasifikasi : Normal jika ≥-2 SD TB/U; Stunted/pendek jika < -2 SD TB/U.
2.2.5. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Anak Baru Masuk Sekolah
Di seluruh dunia, penyebab tersering dari postur tubuh pendek adalah kemiskinan dan efek-efeknya. Jadi nutrisi yang buruk, higiene yang buruk dan kesehatan yang buruk berefek pada pertumbuhan, baik sebelum maupun sesudah dilahirkan. Sering terdapat perbedaan postur tubuh antara kelas-kelas sosial dari kelompok etnis yang sama di area geografi yang sama akibat pengaruh-pengaruh
tersebut. Prinsip-prinsip ini telah dibuktikan pada tinggi badan orang-orang Jepang di Amerika yang bertinggi badan lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi badan orang- orang Jepang yang lahir di Jepang. Sebaliknya, jika keadaan sosial ekonomi sama, perbedaan tinggi rata-rata antara bermacam-macam kelompok etnik hanya disebabkan genetik (Styne, 2000).
Faktor sosial ekonomi yang memengaruhi pertumbuhan antara lain pendapatan atau penghasilan, pendidikan, dan pekerjaan orang tua.Ada hubungan yang erat antara pendapatan dan gizi. Tingkat pendapatan menentukan pola makan dan apa yang dibeli baik kualitas maupun kuantitasnya. Pendapatan yang meningkat mendorong pengaruh yang menguntungkan bagi perbaikan gizi keluarga.Martorell et al.cit dalam Soekirman (2000),Sosial ekonomi ini berpengaruh langsung terhadap kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan akan makanan, sehingga memengaruhi pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh serta mencegah penyakit infeksi (Sediaoetama, 2004).
Penyebab utama GAKI adalah kekurangan yodium. Yodium merupakan unsur zat gizi mikro yang sangat dibutuhkan manusia, walaupun relatif sedikit (normal 100-150
μ
g/h) untuk mensintesis hormon tiroksin (WHO,2001). Hormon tiroksin berfungsi mengatur proses kimiawi yang terjadi pada sel-sel organ tubuh; berperan pada metabolisme umum (metabolisme: energi,lemak, protein, kalsium, vitamin A, kolesterol); sistem kardiovaskular; sistem pencernaan; sistem otot; susunan saraf pusat dan hormon pertumbuhan (Granner, 2003)Asupan iodium dalam makanan sehari-hari kurang dari 50 µg/hari dan berlangsung lama, akan menyebabkan kandungan iodium dalam intratiroid rendah, akibatnya hipotalamus merangsang pituari anterior mensekresi TSH, sehingga terjadi peningkatan TSH untuk merangsang kelenjar tiroid mensekresi T4 , akibatnya timbul hipertrofi pada kelenjar tiroid, kelenjar gondok membesar (gondoken/goiter) dan hipotiroidisme. Dampak dari penurunan fungsi tiroid, bila terjadi pada ibu hamil maka akan melahirkan anak kretin, ditandai dengan gangguan pertumbuhan fisik, bayi lahir dengan panjang dan berat badan lahir rendah, anak cebol (Hetzel, 1996).
Di sisi lain, kekurangan iodium tersebut menyebabkan gangguan fungsi hormon tiroksin dalam metabolisme zat-zat gizi, menyebabkan pembentukan organ dan fungsi organ-organ penting terganggu, akibatnya proses tumbuh kembang terganggu, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan fisik dan kretin (Grannspan, 2000). Pada bayi melahirkan BBLR dan PB Lahir rendah, pada balita anak menjadi cebol, dan pada anak ditandai dengan anak pendek/stunted pada usia masuk sekolah (Almatsier, 2004). Mekanisme hubungan defisiensi iodium dengan pertumbuhan seperti pada gambar 1.
Daerah Defisiensi Yodium ( < 50
μ
g/hari ) EndemisGAKY
Produksi hormon thyroid kurang
Kandungan Iodium intratiroid rendah
Meningkatkan TSH Serum Menurunkan sekresi T4
Fungsi Thyroid menurun Terjadi gondok
Metabolisme zat terganggu
Terjadi Hipotiroidisme Pembentukan Fungsi organ-organ
Organ terganggu penting terganggu
Proses tumbuh kembang terganggu Hambatan Pertumbuhan Fisik dan kretin
Bayi : BBLR, PB lahir- Anak Baru Sekolah : Rendah : Balita : Cebol TBABS Pendek/ Stunted Sumber : Hetzel (1996), Greenspan, (2000); Almatsier, (2004).
2.3. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)