• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT KEBERLANJUTAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN PELAGIS BESAR

Analisis Status Keberlanjutan Perikanan Pelagis Besar di Kota Ambon Keberlanjutan perikanan merupakan tantangan dimana hasil perikanan menjadi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang (intertemporal). Peningkatan jumlah penduduk di Kota Ambon akan mengakibatkan tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan akan terus meningkat seiring dengan tingkat kebutuhan konsumsi lokal dan global. Jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan kegagalan dalam pemanfaatan sumberdaya. Pemanfaatannya melampaui jumlah atau kapasitas ketersediaan sumberdaya. Akibatnya terjadi

overfishing dan mengancam aspek ekologi dan keberlanjutan sumberdaya perikanan bagi generasi yang akan datang.

Keberlanjutan sumberdaya perikanan pelagis besar tidak hanya ditentukan oleh aspek ekologi. Karena karakteristik pengelolaan sumberdaya perikanan yang dinamis banyak ditentukan oleh aspek-aspek lainya. Oleh karena itu status

keberlanjutan perikanan tangkap harus dikaji secara komprehensif yang mencakup berbagai aspek atau dimensi yaitu ekologi, ekonomi, teknologi, sosial, hukum dan kelembagaan (Alder et al. 2000).

Pada penelitian ini menemukan 38 atribut untuk 5 dimensi dalam analisis MDS menggunakan teknik Rapfish. Ke-38 atribut tersebut terbagi menjadi 6 atribut ekologi, 8 atribut ekonomi, 8 atribut sosial, 8 atribut teknologi, dan 8 atribut hukum dan kelembagaan. Masing-masing dimensi diuraikan lebih lanjut. Dimensi Ekologi

Salah satu faktor yang mendukung keberlanjutan perikanan tangkap adalah aspek ekologi. Penggunaan alat tangkap berpengaruh terhadap aspek keberlanjutan ekologi sumberdaya ikan. Dimensi ekologi merupakan cermin dari kualitas lingkungan dan sumberdaya perikanan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon yang diterjemahkan dalam 6 atribut, yaitu tingkat atau status eksploitasi, perubahan daerah fishing ground, pengurangan lokasi area tangkap, perubahan ukuran ikan tangkapan dalam 10 tahun terakhir, perubahan jenis ikan yang tertangkap dalam 10 tahun terakhir, perubahan jenis ikan, dan perubahan terhadap hasil tangkapan (CPUE).

a. Atribut tingkat atau status eksploitasi

Hasil analisis bioekonomi menunjukkan bahwa tingkat atau status eksploitasi aktual rata-rata perikanan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon belum melewati kondisi lestari, meskipun pada 4 tahun (2002, 2003, 2008 dan 2012) produksi aktual yang sudah melewati produksi lestari. Rata-rata produksi aktual mencapai 1.813 ton per tahun juta diperoleh dengan effort 3.221 trip. Jumlah produksi dan effort tersebut masih rendah dibawah MSY (2.491 ton per dan 4.589 trip). Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir tingkat pemanfaatan terhadap ikan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon sedikit mengalami peningkatan. Untuk mendapat hasil tangkapan, kadang-kadang nelayan menambah area tangkapan. Berdasarkan perhitungan bioekonomi, pengelolaan sumberdaya perikanan pelagis besar mendekati overfishing. Dari hasil tersebut, maka skor yang diberikan untuk atribut ini adalah 2, berarti tingkat atau status eksploitasinya fully-exploited. b. Atributtingkat pengurangan lokasi area tangkap

Pengurangan alat tangkap terhadap lokasi area tangkap dilakukan agar terjadi pengurangan terhadap tingkat eksploitasi sumberdaya perikanan pelagis besar mencegah terjadinya overfishing. Pada dasarnya perairan laut di sekitar Kota Ambon tidak mengalami perubahan fungsi untuk tujuan daerah penangkapan. Dari data tersebut maka skor yang diberikan untuk atribut ini adalah 0, berarti tidak ada pengurangan lokasi area tangkap untuk sumberdaya perikanan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon.

c. Atributtingkat perubahan daerah fishing ground

Maraknya pengembangan rumpon lebih jauh dari Teluk Ambon, Laut Banda dan sekitarnya berdampak terhadap perubahan daerah fishing ground nelayan. Umumnya nelayan huhate dan pancing tonda menggunakan umpan hidup yang biasa ditangkap di sekitar rumpon untuk menangkap tuna besar. Begitu pula untuk menangkap baby tuna dan cakalang, nelayan memanfaatkan rumpon- rumpon tersebut. Rumpon yang berada semakin jauh dari pantai menghadang migrasi ikan pelagis ke dalam Teluk Ambon. Menghilangnya migrasi pelagis

besar kedalam Teluk Ambon juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan perairan dalam Teluk Ambon sudah tercemar dengan sampah rumah tangga. Nilai diberikan untuk atribut ini adalah 1, berarti terjadi sedikit perubahan daerah

fishing ground.

d. Atribut perubahan ukuran ikan yang tertangkap

Hasil wawancara terhadap nelayan huhate di Kota Ambon, ukuran ikan yang tertangkap pada 7 sampai 10 tahun terakhir telah terjadi sedikit penurunan ukuran ikan. Penilaian terhadap atribut ini didasarkan nilai modus dari data primer berupa wawancara. Selanjutnya skor yang diberikan untuk atribut ini adalah 1, artinya ikan yang tertangkap pada 10 tahun terakhir ukurannya sedikit menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

e. Atribut perubahan jenis ikan yang tertangkap

Penilaian terhadap atribut ini berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari BPS Kota Ambon dan data primer hasil wawancara dengan nelayan yang terlibat dalam operasi penangkapan ikan menggunakan huhate dan pancing tonda. Dari data tersebut maka skor yang diberikan untuk atribut ini adalah 0, berarti tidak ada perubahan terhadap jenis ikan pelagis besar yang tertangkap untuk 10 tahun terakhir dengan menggunakan huhate dan pancing tonda. f. Perubahan hasil tangkapan CPUE

Perubahan hasil tangkapan dapat dilihat berdasarkan nilai CPUE dan pendapat nelayan. Dari analisis bioekonomi terhadap pemanfaatan sumberdaya pelagis besar di Pesisir Kota Ambon menggunakan data statistik, nilai CPUE pada tahun 2003 adalah 1,08 ton per trip dan pada tahun 2012 menurun menjadi 0,36 ton per trip yang berarti dalam sepuluh tahun telah terjadi peningkatan 67%. Namun terjadi perubahan yang fluktuatif sesuai dengan nilai CPUE yang naik turun selama sepuluh tahun tersebut. Jika dibuat rata-rata perubahan CPUE selama sepuluh tahun, diperoleh perubahan penurunan CPUE 35% per tahun. Nilai regresi menunjukkan setiap peningkatan 1 trip berdampak terhadap penurunan CPUE 0,0001 per trip. Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan pelagis besar, perubahan hasil tangkapan mengalami perubahan. Dari data tersebut maka skor yang diberikan untuk atribut ini adalah 2, berarti tingkat hasil tangkapan banyak mengalami perubahan yang signifikan (CPUE rendah).

Hasil penilaian terhadap 6 atribut dimensi ekologi disajikan dalam Tabel 41. Nilai skor pada dimensi ekologi seperti tercantum pada Tabel 41 kemudian dianalisis menggunakan metode MDS dan teknik Rapfish (Lampiran 16). Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai indeks keberlanjutan perikanan tangkap secara ekologi (Gambar 18).

Tabel 41 Hasil penilaian atribut dalam dimensi ekologi

No Atribut Pilihan Skor Baik (Good) Buruk (Bad) Nilai Skor Keterangan 1 Tingkat/status eksploitasi perikanan 0;1;2;3 0 3 2 Analisis bionomi 2 Tingkatan pengurangan lokasi

area tangkap 0;1;2 0 2 0 Nilai modus

3 Tingkat perubahan fishing

Tabel 41 Hasil penilaian atribut dalam dimensi ekologi (lanjutan) No Atribut Pilihan Skor Baik (Good) Buruk (Bad) Nilai Skor Keterangan 1 Tingkat/status eksploitasi perikanan 0;1;2;3 0 3 2 Analisis bionomi 2 Tingkatan pengurangan lokasi

area tangkap 0;1;2 0 2 0 Nilai modus

3 Tingkat perubahan fishing

ground 0;1;2 0 2 1 Nilai modus

4

Perubahan ukuran ikan tertangkap dalam 10 tahun terakhir

0;1;2 0 2 1 Nilai modus

5

Perubahan jenis ikan yang tertangkap dalam 10 tahun terakhir

0;1;2 0 2 0 Nilai modus

6 Perubahan hasil tangkapan

(CPUE) 0;1;2 2 0 1

BPS Kota Ambon

Sumber : Hasil Analisis Data (2014)

Nilai stress yang diperoleh untuk dimensi ekologi adalah 14,62%. Menurut prosedur multidimensional scaling-MDS (Fauzi dan Anna 2004), jika nilai stress

yang dilambangkan dengan S semakin rendah menunjukkan good fit, sementara nilai S yang tinggi menunjukkan sebaliknya. Nilai yang diperoleh sudah memenuhi kondisi fit atau goodness of fit, karena lebih kecil dari 25%.

Gambar 18 Hasil analisis MDS untuk dimensi ekologi sumberdaya perikanan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon

Beberapa nilai statistik yang diperoleh dari MDS dalam Rapfish pada dimensi ekologi dapat dilihat pada Tabel 42 sebagai berikut.

Tabel 42 Nilai statistik hasil analisis Rapfish pada dimensi ekologi

No Atribut Statistik Nilai Statistik Persentase (%)

1 Stress 0,1462 14,62

2 R2 0,9444 94,44

Jumlah IIiterasi 2

Sumber : Hasil Analisis Data (2014)

64,31; -12,27 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 O th er D istin g ish in g Fe a tu re s Fisheries Sustainability RAPFISH Ordination Real Fisheries References Anchors

Tabel 38 menunjukkan nilai koefisien determinasi (selang kepercayaan) atau R2 sebesar 94,44%. Hasil simulasi Monte Carlo untuk dimensi ekologi menunjukkan bahwa kegiatan perikanan tangkap ikan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon tidak banyak mengalami gangguan (perturbation). Hal ini ditunjukkan oleh plot yang memusat atau kurang menyebar (Gambar 19).

Gambar 19 Kestabilan nilai ordinasi hasil Rapfish dengan Monte Carlo pada dimensi ekologi sumberdaya perikanan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon

Analisis sensitivitas pada dimensi ekologi dengan metode analisis leverage

pada Rapfish dapat dilihat pada Gambar 20 sebagai berikut.

Gambar 20 Analisis distribusi sensitivitas atribut pada dimensi ekologi sumberdaya perikanan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon

Hasil analisis memperlihatkan atribut perubahan daerah fishing ground

merupakan atribut yang sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan perikanan skala kecil diikuti perubahan ukuran ikan yang ditangkap. Apabila terjadi perubahan pada atribut ini akan berdampak besar terhadap status keberlanjutan pada dimensi ekologi. Hal ini dapat dilihat dari nilai root mean square change

untuk kedua atribut tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan atribut-atribut lainnya, dan disebut atribut sensitif dengan nilai mendekati 8.

-100 -50 0 50 100 0 20 40 60 80 100 120 O th er Distin g ish in g Fea tu re s Fisheries Sustainability

RAPFISH Ordination - Monte Carlo Scatter Plot

5,267814566 4,868225085 7,298004128 7,014724776 6,448555056 4,50646212 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Tingkat / status eksploitasi

Pengurangan lokasi area tangkap Perubahan daerah fishing ground Perubahan ukuran ikan yang ditangkap Perubahan jenis ikan Perubahan terhadap hasil tangkap

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Attr ib u te Leverage of Attributes

Dimensi Ekonomi

Dalam keberlanjutan perikanan tangkap khususnya perikanan pelagis besar perlu diperhatikan dimensi ekonomi yang merupakan salah satu faktor penting dalam penentuan keberlanjutan perikanan tangkap ikan pelagis besar menggunakan huhate dan pancing tonda di Pesisir Kota Ambon. Dimensi ekonomi sangat penting mengingat berbagai interaksi dalam kegiatan perikanan tangkap seperti interaksi teknologi dan sosial selalu ada kaitannya dengan alasan dan tujuan ekonomi. Dimensi ekonomi diterjemahkan dalam delapan atribut, yaitu keuntungan, rata-rata penghasilan nelayan per bulan terhadap UMR, kepemilikan dan pembagian hasil, alternatif pekerjaan dan pendapatan selain nelayan, lokasi tujuan atau orientasi pemasaran perikanan, harga ikan, kontribusi perikanan terhadap PDRB, serta penyerapan tenaga kerja

Keberlanjutan dari suatu sumberdaya khususnya perikanan tangkap ikan pelagis besar, perlu mengutamakan pemanfaatan optimal. Selain itu juga perlu memperhatikan tingkat kesejahteraan yang diperoleh nelayan, terutama keuntungan dan dampaknya bagi keluarga dan masyarakat agar usaha tetap berkelanjutan.

a. Atribut keuntungan

Pada analisis ini atribut keuntungan merupakan atribut yang sangat penting dalam dimensi ekonomi, sesuai dengan analisis bioekonomi, alat tangkap yang digunakan adalah huhate. Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis finansial usaha perikanan tangkap dengan menggunakan huhate, diperoleh investasi awal usaha penangkapan ikan menggunakan huhate adalah sebesar Rp.737.00.000, terdiri atas investasi kapal, mesin, jaring umpan, mesin genset, lampu dan lain-lain. Biaya tetap terdiri atas depresiasi atau penyusutan dari investasi yang lebih dari satu tahun mencapai Rp.206.000.000. Sedangkan biaya variable terdiri atas BBM, perbekalan, perawatan dan bagi hasil untuk ABK total penerimaan kotor rata-rata setiap bulannya adalah Rp.246.072.233 dan setahun Rp.2.952.866.800. Total penjualan selama setahun 3.384.000.000. Total penerimaan usaha perikanan tangkap sebelum dipotong pajak dan kewajiban kredit dengan menggunakan huhate selama satu tahun adalah Rp.215.833.200. Laba bersih selama setahun mencapai Rp.186.149.880. Nilai NPV Rp.752.476.347, artinya nilai saat ini dari keseluruhan penerimaan yang akan diperoleh selama umur proyek 5 tahun dimasa yang akan datang adalah Rp.752.476.347. Nilai ratio B/C 2,02 artinya setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan/manfaat sebesar 2,02 kali dari biaya yang dikeluarkan selama umur usaha 5 tahun dengan suku bunga 18%. IRR 44,16%, artinya usaha tersebut mampu memberikan tingkat pengembalian atau keuntungan sebesar 44,16% per tahun dari seluruh investasi yang ditanamkan selama umur usaha 5 tahun. Nilai atribut ini adalah 0 yang berarti investasi tersebut menguntungkan.

b. Atribut rata rata penghasilan per bulan terhadap UMR

Pendapatan menjadi aspek yang sangat penting dari setiap bentuk usaha. pendapatan adalah hasil pencaharian berupa uang atau materi lainnya yang didapat dari suatu usaha yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jadi, pendapatan memegang peranan penting dalam kehidupan seorang manusia, dengan pendapatan yang berupa materi manusia dapat membuat peramalan, perencanaan, dan pengaplikasian yang lebih baik dalam

kehidupannya, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya. Nelayan khususnya ABK huhate di Pesisir Kota Ambon memiliki pendapatan setiap bulannya adalah Rp.3.056.000. Apabila dibandingkan dengan UMR berdasarkan data statistik di Maluku pada tahun 2012 yaitu sebesar Rp.975.000, maka pendapatan ABK setiap bulannya di atas UMR. Maka penilaian terhadap atribut ini diberi skor 2, berarti jumlah pendapatan yang diperoleh ABK huhate di Pesisir Kota Ambon setiap bulan di atas UMR.

c. Atribut kepemilikan

Berdasarkan data primer dan nilai modus, status kepemilikan dan peneriman keuntungan aset perikanan tangkap huhate di Pesisir Kota Ambon adalah oleh pemilik lokal atau yang berinvestasi pada umumnya adalah pemilik lokal dan beberapa juga pendatang. Nelayan ABK yang bekerjapun adalah masyarakat lokal yang kadang-kadang menggunakan kerabat/keluarga terdekat. Begitupulan dengan aset perikanan tangkap pancing tonda umumnya adalah milik nelayan sendiri atau kerabatan dekat. Maka skor yang diberikan 1, berarti

profit perikanan terutama untuk pemilik lokal/sendiri dan nelayan lokal.

d. Atribut alternatif pekerjaan dan pendapatan

Berdasarkan kalender musim tangkap ikan di Kota Ambon, dalam setahun terdapat lima bulan yang efektif penangkap ikan dalam jumlah yang banyak. Tujuh bulan lainnya tidak efektif karena musim gelombang dan hasil tangkapan yang tidak memadai, jika terpaksa nelayan mengalami kerugian karena minimnya hasil tangkapan yang tidak seimbang dengan keuntungan yang diperoleh. Pilihan terbaik mereka adalah tidak melakukan aktivitas penangkapan (menganggur). Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, sebagian nelayan melakukan kegiatan sampingan seperti bertani, tukang bangunan, dan kegiatan lainnya. Namun tidak banyak pilihan alternatif pekerjaan sampingan. Sehingga dalam penilaian terhadap atribut ini adalah 1, berarti sebagian besar nelayan sedikit memiliki pekerjaan sampingan.

Tabel 43 Musim kalender penangkapan di Pesisir Kota Ambon

No Jenis Ikan

Bulan

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

1 Tuna + + + + ++ + ++ ++ ++ ++

2 Cakalang + + + + ++ + ++ ++ ++ ++

Keterangan Tabel + = Jumlah hasil tangkapan sedikit ++ = Jumlah hasil tangkapan banyak ≈ = Musim gelombang

e. Atribut lokasi tujuan atau orientasi pemasaran perikanan.

Pemasaran hasil tangkapan perikanan pelagis besar di Kota Ambon memiliki rantai pemasaran yang cukup jelas yaitu ikan yang ditangkap, dijual kepada perusahaan perikanan, ke pasar dan para jibu-jibu. Tidak ada tempat pelelang ikan di pesisir Kota Ambon yang dapat digunakan untuk menjual ikan pelagis besar, hanya pasar arumbai di pusat Kota Ambon yang merupakan pasar yang sering digunakan untuk lelang. Berdasarkan modus dari hasil wawancara dengan responden, hasil tangkapan lebih dominan dijual ke perusahaan perikanan. Penilaian terhadap atribut ini berdasarkan skala yang telah ditetapkan adalah 2 yang artinya hasil tangkapan yang diperoleh dijual ke perusahaan.

f. Harga ikan

Harga ikan sangat menentukan usaha nelayan untuk memperoleh rente ekonomi yang baik. Semakin tinggi harga ikan dapat memberi pendapatan yang tinggi bagi mereka. Berdasarkan data statistik perikanan Kota Ambon selama sepuluh tahun terakhir (2003-2012) menunjukkan harga ikan pelagis besar di Perairan Kota Ambon meningkat. Nilai modus yang diperoleh dari wawancara dengan nelayan menunjukkan harga ikan meningkat dalam sepuluh tahun ini. Berdasarkan nilai statistik dan nilai modus maka skor atribut ini adalah 2, berarti harga sumberdaya ikan di Kota Ambon meningkat/tinggi.

g. Atribut kontribusi perikanan terhadap PDRB

Kota Ambon memiliki sektor ekonomi yang menjadi pendorong atau penggerak perekonomian, salah satunya adalah sektor pertanian yang di dalamnya terdiri atas sub sektor perikanan. Kontribusi terbesar untuk PDRB Kota Ambon disumbang oleh tiga sektor yakni sektor jasa (29,16%), sektor perdagangan, hotel dan restoran (27,38%), serta pertanian (16,05%). Sektor pertanian yang di dalamnya termasuk sub sektor perikanan berada diurutan berikutnya dengan nilai PDRB Rp.812.320.210.000. Nilai kontribusi ini mengalami penurunan dalam sepuluh tahun terakhir. Pada tahun 2003 kontribusi sektor pertanian hanya 19,41% dan menurun terus hingga tahun 2013 menjadi 16,05%. Rata-rata kontribusi sektor pertanian selama sepuluh terakhir mencapai 17,85%. Dalam pengkategorian peran kontribusi sektor pertanian berada pada kisaran 10-20% yang berarti masuk ketegori cukup/sedang. Dengan demikian skor yang diberikan adalah 1, berarti kontribusi perikanan terhadap PDRB bernilai cukup.

h. Atribut penyerapan tenaga kerja

Usaha penangkapan ikan pelagis besar dengan menggunakan huhate mampu menyerap tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat pada data statistik Kota Ambon tentang kependudukan dan ketenagakerjaan yang tertera pada Tabel 44.

Tabel 44 Banyaknya pencari kerja di Kota Ambon yang terdaftar dalam Kandep Tenaga Kerja

Tahun Belum bekerja (jiwa) Total (jiwa) Jumlah tenaga kerja yang diserap

(jiwa) Penyerapan tenaga kerja (%) 2003 8.770 8.770 544 6.20 2004 9.221 9.221 644 6.98 2005 10.950 10.950 648 5.92 2006 6.636 6.636 696 10.49 2007 10.163 10.167 838 8.24 2008 9.926 9.926 838 8.44 2009 15.963 15.963 838 5.25 2010 22.738 22.738 850 3.74 2011 15.963 15.963 884 5.54 2012 13.835 13.835 914 6.61

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Ambon (2004-2013)

Berdasarkan kenyataan di lapangan, usaha perikanan tangkap dengan menggunakan huhate menyerap tenaga kerja antara 15-23 orang per unit tangkapan. Sedangkan armada pancing tonda menyerap tenaga 1-2 orang. Dari

data statistik, jumlah nelayan yang terlibat dalam penangkapan ikan pelagis besar di Perairan Kota Ambon rata-rata 6,74% setiap tahunnya. Jika kondisi ini dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja yang tidak bekerja di Kota Ambon maka total penyerapan tenaga kerja masih sangat rendah, berada di kisaran 0- 10%. Penilaian terhadap atribut ini adalah 0 yang berarti penyerapan tenaga kerja pada usaha perikanan tangkap pelagis besar masih rendah.

Hasil penilaian terhadap 6 atribut dimensi ekonomi disajikan dalam Tabel 45. Nilai skor pada dimensi ekonomi seperti tercantum pada Tabel 45 kemudian dianalisis menggunakan metode MDS dan teknik Rapfish (Lampiran 17). Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai indeks keberlanjutan perikanan tangkap secara ekonomi (Gambar 23).

Tabel 45 Hasil penilaian atribut dalam dimensi ekonomi

No Atribut Pilihan Skor Baik (Good) Buruk (Bad) Nilai Skor Keterangan

1 Keuntungan 0;1;2 0 2 0 Analisisi investasi

dan nilai modus

2 Rata rata penghasilan ABK

per bulan terhadap UMR 0;1;2 2 0 2

Analisis investasi data tatistik dan nilai modus 3 Kepemilikan (penerima

keuntungan dari kepemilikan) 0;1;2 2 0 1 Nilai modus

4

Alternatif pekerjaan dan pendapatan selain dari kegiatan menangkap ikan

0;1;2 2 0 1 Nilai modus

5 Lokasi tujuan atau orientasi

pemasaran Perikanan 0;1;2 2 0 2 Nilai modus

6 Harga ikan 0;1;2 2 0 2 Nilai modus

7 Kontribusi perikanan terhadap

PDRB 0;1;2 2 0 1 BPS Kota Ambon

8 Penyerapan tenaga kerja 0;1;2 2 0 0 Data statistik dan

nilai modus

Sumber : Hasil Analisis Data (2014)

Nilai skor pada dimensi ekonomi (Tabel 45) kemudian dianalisis menggunakan analisis MDS dan teknik Rapfish. Nilai stress yang diperoleh untuk dimensi ekonomi ini adalah 12,22 %. Hal ini menurut prosedur multidimensional scaling (MDS) diacu dalam Fauzi dan Anna (2004) adalah jika nilai stress atau yang dilambangkan dengan S semakin rendah menunjukkan good fit, sementara nilai S yang tinggi menunjukkan sebaliknya. Nilai stress (S) sudah memenuhi kondisi fit (goodness of fit) karena S < 25% (Fauzi dan Anna, 2004). Hasil analisis MDS dengan teknik Rapfish dapat dilihat pada Gambar 21.

Gambar 21 Hasil analisis MDS untuk dimensi ekonomi sumberdaya perikanan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon

Beberapa nilai statistik yang diperoleh dari MDS dalam Rapfish pada dimensi ekonomi dapat dilihat pada Tabel 46 sebagai berikut.

Tabel 46 Nilai statistik hasil analisis Rapfish pada dimensi ekonomi

No Atribut Statistik Nilai Statistik Persentase (%)

1 Stress 0,1222 12,22

2 R2 0,9481 91,81

3 Jumlah IIiterasi 3

Sumber : Hasil Analisis Data (2014)

Tabel 46 menunjukkan nilai koefisien determinasi (selang kepercayaan) atau R2 sebesar 91,81%. Hasil simulasi Monte Carlo untuk dimensi ekonomi (Gambar 22) menunjukkan bahwa kegiatan perikanan tangkap ikan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon tidak banyak mengalami gangguan (perturbation). Hal ini ditunjukkan oleh plot yang memusat atau kurang menyebar.

Gambar 22 Kestabilan nilai ordinasi hasil Rapfish dengan Monte Carlo pada dimensi ekonomi sumberdaya perikanan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon

Analisis sensitivitas pada dimensi ekonomi dapat dilihat pada Gambar 23 sebagai berikut. 55,11; 30,94 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 O th er D istin g ish in g Fe a tu re s Fisheries Sustainability RAPFISH Ordination Real Fisheries References Anchors -100 -50 0 50 100 0 20 40 60 80 100 120 O th er D istin g ish in g Fea tu re s Fisheries Sustainability

Gambar 23 Analisis distribusi sensitivitas atribut pada dimensi ekonomi sumberdaya perikanan pelagis besar di Pesisir Kota Ambon

Hasil analisis sensitivitas pada dimensi ekonomi dengan metode analisis

leverage pada Rapfish memperlihatkan bahwa atributkepemilikan dan pembagian hasil merupakan atribut yang sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan perikanan di Pesisir Kota Ambon. Perubahan sedikit saja pada atribut ini akan berdampak besar terhadap status keberlanjutan pada dimensi ekonomi. Hal ini terlihat dari grafik root mean square change (Gambar 23) ketiga atribut tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan atribut-atribut lainnya.

Dimensi Sosial

Masyarakat pesisir adalah sekumpulan masyarakat yang hidup bersama- sama mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas yang terkait dengan ketergantungannya pada sumberdaya pesisir (Satria 2004). Selain itu Indonesia memiliki keragaman kebudayaan yang berdampak pada keragaman lingkungan sosial. Keragaman lingkungan sosial di Indonesia dapat dilihat berdasarkan lokalitas/geografis, berdasarkan bentuk mata pencaharian serta berdasarkan administratif.

Terkait keberlanjutan perikanan tangkap, khususnya perikanan pelagis besar, perlu diperhatikan dimensi sosial. Dimensi ini mampu mengatur tatanan kehidupan masyarakat pesisir, khususnya para nelayan yang hidupnya di daratan yang dekat dengan laut dan yang paling sering memanfaatkan sumberdaya di daerah pesisir maupun lautan. Terkait kondisi itu masyarakat nelayan dianggap sebagai masyarakat yang paling banyak memanfaatkan hasil laut, potensi lingkungan Pesisir dan pesisir untuk kelangsungan hidupnya.

Kajian dimensi sosial difokuskan pada hal-hal yang terkait dengan