• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Partisipasi Angkatan

Dalam dokumen Potensi Wilayah Kota Yogyakarta 2018 (Halaman 135-0)

Bab 5 Ekonomi

5.3 Tenaga Kerja

5.3.2 Tingkat Partisipasi Angkatan

terhadap jumlah penduduk usia kerja. TPAK dapat digunakan untuk melihat potensi penduduk usia kerja (15 tahun keatas) yang aktif secara ekonomi di suatu wilayah. Indikator ini menunjukkan besaran relatif dari persediaan tenaga kerja (labor supply) untuk memproduksi barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Semakin tinggi TPAK menunjukkan semakin besar jumlah penduduk yang berpotensi memproduksi barang dan jasa.

Gambar 5.3 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut Jenis Kelamin di Kota Yogyakarta Tahun 2014-2018 (dalam persen)

Sumber: Kota Yogyakarta Dalam Angka 2015–2019

116

Tabel 5.13 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Seminggu yang Lalu menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Kota Yogyakarta, 2018

Lapangan Pekerjaan Utama Jenis Kelamin

Laki-Laki Perempuan Jumlah Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan

Perikanan 371 0 371

Pertambangan dan Penggalian 0 0 0

Industri Pengolahan 15.553 14.742 30.295

Listrik, Gas dan Air 1.308 525 1.833

Bangunan 7.605 565 8.170

Perdagangan Besar, Eceran, Rumah

Makan dan Hotel 45.579 56.491 102.070

Angkutan, Pergudangan dan

Komunikasi 15.142 2.625 17.767

Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan

Bangunan, Tanah dan Jasa Perusahaan 2.419 3.266 5.685 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan

Perorangan 29.864 28.586 58.450

Jumlah 117.841 106.800 224.641

Sumber: Kota Yogyakarta Dalam Angka 2019

Secara umum TPAK di Kota Yogyakarta pada periode 2015 hingga 2018 menunjukkan angka yang fluktuatif. Sementara bila TPAK dibedakan menurut jenis kelami terdapat kecenderungan TPAK laki-laki lebih tinggi daripada TPAK perempuan. Pola perkembangan TPAK menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa TPAK laki-laki lebih dominan (berfluktuasi pada kisaran 71-77 persen) dibandingkan TPAK perempuan (berada pada kisaran 58-64 persen). Fenomena ini

117

menunjukkan keterlibatan penduduk laki-laki dalam aktivitas perekonomian di Kota Yogyakarta lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Hal ini disebabkan karen asebagian besar aktivitas mengurus Rumah tangga di Kota Yogyakarta dilakukan oleh perempuan dan adanya pandangan bahwa kewajiban mencari nafkah adalah tanggungjawab laki-laki.

TPAK laki-laki pada tahun 2018 mencapai sekitar 75,6 persen, sementara TPAK perempuan sebesar 64,49 persen.

Tabel 5.14 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu menurut Jumlah Jam Kerja pada Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Kota Yogyakarta, 2018

Jam Kerja Jenis Kelamin Jumlah

Laki-Laki Perempuan

01 2.301 1.759 4.060

1-14 4.667 11.757 16.424

15-24 9.702 8.777 18.479

25-34 13.176 11.206 24.382

35-40 18.047 18.142 36.189

41+ 69.948 55.159 125.107

Jumlah 117.841 106.800 224.641

1 Sementara Tidak Bekerja

Sumber: Kota Yogyakarta Dalam Angka 2019

Jika dilihat dari jenis lapangan pekerjaan utamanya, penduduk Kota Yogyakarta pada tahun 2018 lebih banyak bekerja di lapangan pekerjaan perdaganan besar, eceran, rumah makan dan hotel, sebanyak 102.070 jiwa, kemudian pada jasa

118

kemasyarakatan, sosial dan perorangan sebanyak 58.450 jiwa, dan ketiga pada industry pengolahan sebanyak 30.295 jiwa.

Tabel 5.15 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Bekerja Selama Seminggu Yang Lalu menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Kota Yogyakarta, 2018

Status Pekerjaan Utama Jenis Kelamin

Jumlah Laki-Laki Perempuan

Berusaha sendiri 21.051 16.603 37.654

Berusaha dibantu buruh tidak

tetap/buruh tak dibayar 10.079 13.705 23.784

berusaha dibantu buruh tetap/buruh

dibayar 10.931 6.163 17.094

Buruh/Karyawan/Pegawai 64.517 54.744 119.261

Pekerja bebas 4.980 264 5.244

Pekerja keluarga/tak dibayar 6.283 15.321 21.604

Jumlah 117.841 106.800 224.641

Sumber: Kota Yogyakarta Dalam Angka 2019

Penduduk yang bekerja dapat dibedakan berdasarkan jam kerja. Penduduk dengan jam kerja berlebih jika bekerja dalam satu minggu lebih dari 44 jam. Jika jam kerja per minggu kurang dari 35 jam, maka pekerja tersebut masuk dalam kategori setengah penganggur. Namun jika pekerja tersebut bekerja di bawah 15 jam per minggu, maka ia termasuk setengah penganggur kritis. Jam kerja normal adalah penduduk yang bekerja 35 jam atau lebih per minggu. Pada tahun 2018, penduduk dengan jam kerja lebih dari 41 jam dalam satu minggu memiliki jumlah terbanyak yaitu 125.107, kemudian yang kedua untuk jam kerja diantara 35–40 jam

119

dalam seminggu sebanyak 36.189 jiwa, dan ketiga untuk jam kerja antara 25-34 jam dalam seminggu sebanyak 24.382 jiwa.

Jumlah penduduk usia kerja (berumur 15 tahun ke atas) di Kota Yogyakarta pada tahun 2018 jika dilihat dari status pekerjaan utamanya, paling banyak adalah penduduk dengan status buruh/karyawan/pegawai, yaitu sebanyak 119.261 jiwa, dengan penduduk laki-laki sebanyak 64.517 jiwa dan perempuan sebanyak 54.744 jiwa. Status pekerjaan terbanyak kedua yaitu penduduk yang berusaha sendiri, sebanyak 37.654 jiwa, dengan rincian laki-laki sebanyak 21.051 dan perempuan sebanyak 16.603 jiwa.

Status pekerjaan terbanyak ketiga yaitu penduduk yang berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar, yang tercatat sebanyak 23.784, dengan rincian laki-laki 10.079 jiwa dan perempuan 13.705 jiwa.

Dan penduduk dengan status pekerjaan paling sedikit adalah penduduk dengan status pekerjaan pekerja bebas, sebanyak 5.244 jiwa, dengan rincian laki-laki 4.980 jiwa dan

Tabel 5.16 Penganggur Terbuka menurut Sumber: Data Primer, 2018

(Dinkop UKM Nakertrans Kota Yogyakarta)

120

mempersiapkan usaha atau mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dan mereka sudah memperoleh pekerjaan tetapi belum mulai bekerja, dan pada waktu yang bersamaan mereka tak bekerja (BPS, 2019). TPT bisa digunakan untuk memantau serta mengevaluasi perkembangan angka pengangguran karena merepresentasikan bagian dari angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja.

Dapat dilihat dari Tabel 5.16 bahwa jumlah pengangguran terbuka di Kota Yogyakarta pada tahun 2018 adalah 4.278 jiwa, dengan jumlah terbanyak pada rentang usia 36-50 tahun yaitu sejumlah 1.832 jiwa atau sebanyak 42,82 persen. Jumlah penganggur terbuka kedua terbanyak adalah pada rentang umur 26-35 tahun yaitu 1.114 jiwa atau 26,04 persen, dan diikuti penganggur terbuka pada umur 15-25 tahun sejumlah 1.015 jiwa atau 23,73 persen.

Gambar 5.4 Presentase Penganggur menurut Tingkat Pendidikan di Kota Yogyakarta tahun 2018 Sumber: Data Primer, 2018 (Dinkop UKM Nakertrans Kota

Yogyakarta)

121

Jika dilihat dari status pendidikan terakhir yang ditempuh, sebagian besar pengangguran terbuka di Kota Yogyakarta merupakan pengangguran terdidik karena didominasi oleh lulusan SMA/SMK dan SMP/sederajat, dengan TPT tertinggi pada Tahun 2018 terjadi pada angkatan kerja dengan tingkat pendidikan SMA/SMK (59,6 persen). Pengangguran terdidik akan berusaha mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijazah ataupun keahlian yang mereka miliki dengan harapan gaji yang akan diterima juga sesuai. Sedangkan TPT terendah terjadi pada angkatan kerja dengan tingkat pendidikan tertingginya Diploma (4,2 persen) diikuti tingkat pendidikan SD sebesar 9,1 persen.

Gambar 5.5 Presentase Penganggur menurut Jenis Kelamin di Kota Yogyakarta tahun 2018

Sumber: Data Primer, 2018 (Dinkop UKM Nakertrans Kota Yogyakarta)

Jika dilihat dari jenis kelaminnya, penganggur perempuan di Kota Yogyakarta tahun 2018 lebih banyak dibanding

122

penganggur laki-laki. Penganggur perempuan tercatat 2.807 jiwa atau 65,6 persen dan penganggur laki-laki sebanyak 1.471 jiwa atau 34,4 persen.

Tabel 5.17 Jumlah Pencari Kerja yang Terdaftar menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin di Kota Yogyakarta, 2018

Jenis Pendidikan Jenis Kelamin

Laki-Laki Perempuan Jumlah

Tidak Tamat SD 0 3 3

SD/Sederajat 1 7 8

SMP/Sederajat 7 26 33

SMU/Sederajat 428 448 876

D1/D2/D3 66 131 197

S1/Sederajat 273 401 674

S2/Sederajat 6 35 41

Jumlah 781 1.051 1.832

Sumber: Kota Yogyakarta Dalam Angka 2019

Tabel 5.17 menunjukkan jumlah pencari kerja yang terdaftar menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin di Kota Yogyakarta pada tahun 2018. Pencari kerja dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak daripada pencari kerja laki-laki. Pencari kerja total yang terdaftar di Kota Yogyakarta pada tahun 2018 sebanyak 1.832, dengan rincian laki-laki sebanyak 781 jiwa dan perempuan sebanyak 1.051 jiwa. Pencari kerja terbanyak adalah dengan tingkat pendidikan SMU/sederajat, yaitu sebanyak 876 jiwa dengan rincian laki-laki 428 jiwa dan

123

perempuan 448 jiwa, dan setelah itu diikuti oleh pencari kerja dengan tingkat pendidikan S1/sederajat sebanyak 674 jiwa dengan rincian laki-laki 273 jiwa dan perempuan 401 jiwa.

Pencari kerja ketiga setelah tingkat pendidikan S1 adalah pencari kerja dengan tingkat pendidikan D1/D2/D3 sebanyak 197 jiwa, yaitu untuk laki-laki sebanyak 66 jiwa dan perempuan sebanyak 131 jiwa. Dan pencari kerja yang paling sedikit untuk pencari kerja yang tidak tamat SD yang hanya 3 orang.

Tabel 5.18 Jumlah Pencari Kerja menurut Jenis Kelamin di Kota Yogyakarta, 2014–2018

Tahun Jenis Kelamin

Laki-Laki Perempuan Jumlah

2018 781 1.051 1.832

2017 1.577 1.852 3.429

2016 693 870 1.563

2015 866 1.000 1.866

2014 951 1.037 1.988

Sumber: Kota Yogyakarta Dalam Angka 2017–2019

Jumlah pencari kerja dari tahun 2014 sampai 2018 menunjukkan bahwa pencari kerja perempuan lebih banyak dari pencari kerja laki-laki. Untuk pencari kerja laki-laki pada tahun 2014 sebanyak 951 jiwa, jumlahnya mengalami penurunan pada tahun 2015 menjadi 866 jowa, dan kembali mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 693 jiwa, kemudian mengalami kenaikan yang drastis pada tahun 2017 menjadi 1.577 jiwa dan kembali turun lagi pada tahun 2018 menjadi 781 jiwa. Pola tersebut sama dengan pencari kerja

124

perempuan, tahun 2014 pencari kerja perempuan sebanyak 1.037, tahun 2015 mengalami penurunan menjadi 1.000 jiwa, kembali mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 870 jiwa, dan naik drastis pada tahun 2017 menjadi 1.852 jiwa dan turun kembali pada tahun 2018 menjadi 1.051 jiwa.

Tabel 5.19 Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan di Kota Yogyakarta, 2015-2018

Tahun

Sumber: Kota Yogyakarta Dalam Angka 2016–2019

Jumlah pencari kerja menurut tingakat pendidikan di kota Yogyakarta, dari tahun 2015 sampai tahun 2018 jumlahnya bervariasi. Untuk pencari kerja tidak tamat SD, jumlahnya dari tahun ke tahun paling sedikit dibanding pencari kerja dengan tingkat pendidikan lain. Sedangkan pencari kerja terbanyak pada tingkat pendidikan SMU/sederajat. Jumlah pencari kerja tidak tamat SD tertinggi pada tahun 2015 sejumlah 14 jiwa, namun mengalami penurunan drastis menjadi 7 jiwa pada tahun 2016, dan menjadi hanya 1 jiwa di tahun 2017, dan naik menjadi 3 jiwa di tahun 2018. Untuk pencari kerja dengan tingkat pendidikan SD/Sederajat, dari tahun ke tahun selalu mengalami penurunan, tahun 2015 sejumlah 48 jiwa, kemudian turun 20 jiwa pada tahun 2016, 16 jiwa pada tahun

125

2017 dan kembali mengalami penurunan pada tahun 2018 menjadi 8 jiwa. Pencari kerja dengan tingkat pendidikan SMP/sederajat pada tahun 2015 sejumlah 110 jiwa, kemudian mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 67 jiwa, kembali meningkat pada tahun 2017 menjadi 133 jiwa dan turun drastis pada tahun 2018 menjadi 33 jiwa. Pencari kerja dengan tingkat pendidikan SMU/sederajat pada tahun 2015 sejumlah 940 jiwa, turun menjadi 689 jiwa pada tahun 2016, dan mengalami kenaikan secara drastic di tahun 2017 menjadi 2.226 jiwa, dan mengalami penurunan pada tahun 2018 menjadi sejumlah 876 jiwa. Untuk pencari kerja tingkat D1/D2/D3 jumlahnya tidak begitu berbeda, sedangkan untuk tingkat S1 sederajat, jumlah tertinggi pada tahun 2017 yaitu sejumlah 828 jiwa. Demikian pula pencari kerja untuk S2/sederajat tertinggi pula pada tahun 2017 yaitu sejumlah 52 jiwa.

126

127

6 Penutup

6.1 Arahan Penataan Ruang Tiap Kecamatan

A Kecamatan Danurejan

Kecamatan Danurejan dalam struktur ruang Kota Yogyakarta termasuk ke dalam pusat Kota Yogyakarta bersama Kecamatan Gedongtengen dan Kecamatan Gondomanan. Ketiga kawasan ini dibatasi dan dibelah oleh Jalan Malioboro dan Ahmad Yani yang menjadi sumbu utama Kota Yogyakarta. Dalam wilayah ini terdapat pusatpemerintahan Provinsi DIY yaitu Kompleks Kepatihan sebagai kompleks perkantoran Provinsi DIY dan Kantor DPRD Provinsi DIY. Rencana pola ruang adalah sebagian kawasan lindung setempat arkeologi budaya sebagai bagian dari citra kota serta sebagian besar sebagai kawasan budidaya dengan model pengembangan lebih fleksibel karena berfungsi sebagai kawasan penyangga dimana pengembangan harus mendukung keberadaan kawasan inti. Pola pemanfaatan ruang didominasi peruntukan lahan sebagai perdagangan dan permukiman, dengan intensitas pemanfaatan agak tinggi (dapat dikembangkan secara

128

maksimal dengan tetap memperhatikan kawasan inti lindung). Di kawasan ini terdapat stasiun KA penumpang Lempuyangan dan sebagian wilayah dilewati oleh Sungai Code.

B Kecamatan Gedongtengen

Kecamatan Gedongtengen dalam struktur ruang Kota Yogyakarta sebagian sebagai pusat pelayanan kota dan sebagian sub pusat kota yang mendukung pariwisata.

Rencana pola ruang adalah sebagai kawasan budidaya dengan pengembangan lebih fleksibel dan penyangga alam dan budaya. Kecamatan Gedongtengen dilewati oleh Sungai Winongo dan terdapat stasiun KA penumpang Tugu. Pola pemanfaatan ruang didominasi sebagai perdagangan dan permukiman dengan pola pengembangan sebagai penyangga budaya dan intensitas agak tinggi namun tetap mendukung keberadaan kawasan inti lindung.

C Kecamatan Gondomanan

Struktur ruang kota pada Kecamatan Gondomanan adalah adalah sebagai pusat pelayanan kota yang diharapkan sebagai kawasan pendukung pariwisata.

Rencana pola ruang sebagian kecil sebagai kawasan lindung setempat arkeologi/budaya/sejarah dan sebagian besar sebagai penyangga alam dan budaya (pendukung kawasan inti). Di Kecamatan Gondomanan ini terletak kawasan nol kilometer dari Kota Yogyakarta sehingga tepat berada di tengah-tengah kota. Kawasan ini merupakan kawasan strategis yang memiliki berbagai Citra Kota berupa-gedung bersejarah yaitu antara lain Gedung Agung, Benteng Vrederburg, Gedung

129

BI, Kantor Pos dan BNI serta Pasar Beringharjo yang ditetapkan sebagai inti pelestarian yang merupakan kawasan menyiratkan citra perjuangan dan religio kultural. Pola pemanfaatan ruang didominasi perdagangan dan jasa skala regional dan pariwisata.

Intensitas pengembangan kawasan agak tinggi, yaitu pengembangan secara optimal dengan memperhatikan karakter lingkungan

D Kecamatan Kraton

Kawasan Kraton dalam struktur ruang kota adalah sebagai sub pusat pelayanan yang mendukung pusat pelayanan kota yang diarahkan untuk kawasan wisata budaya. Pola ruang adalah Kawasan Inti Lindung Setempat Arkeologis Budaya dimana kawasan ini memiliki nilai budaya sejarah dan pemanfaatannya harus sejiwa dengan kehidupan kawasan. Kecamatan Kraton secara umum meliputi kompleks Kraton Yogyakarta sehingga menyimpan berbagai artefak arkeologis disamping juga masih melestarikan berbagai warisan budaya non ragawi dalam kehidupan masyarakatnya. Pemanfaatan pola ruang dominansi pariwisata yang mendukung budaya. Pengembangan kawasan diarahkan dengan intensitas rendah dan memperhatikan karakter lingkungan. Kecamatan ini adalah satu-satunya kecamatan di KotaYogyakarta.

E Kecamatan Pakualaman

Struktur ruang Kecamatan Pakualaman adalah sub pusat pelayanan, sebagai pendukung pusat pelayanan kota yang diarahkan sebagai kawasan wisata budaya. Pola ruang kawasan inti lindung setempat arkeologi budaya

130

dimana kawasan ini memiliki nilai budaya sejarah dan pemanfaatannya harus sejiwa dengan kehidupan kawasan. Hal ini disebabkan karena terdapat kompleks Pakualaman. Pemanfaatan pola ruang dominansi perdagangan dan jasa dengan intensitas pengembangan rendah yang memperhatikan karakter lingkungan.

Selain itu pada Kecamatan ini dialiri Sungai Code dan memiliki faktor kerentanan bencana dengan padatnya permukiman di tepiannya.

F Kecamatan Kotagede

Kecamatan Kotagede dalam struktur ruang Kota Yogyakarta adalah sebagai sub pusat pelayanan yaitu mendukung pusat pelayanan yang diarahkan sebagai kawasan wisata budaya. Pola ruang adalah sebagian sebagai kawasan inti lindung setempat arkeologi budaya yaitu kawasan yang mempunyai budaya sejarah dan pemanfaatannya harus sejiwa dengan kehidupan kawasan dan sebagian kawasan penyangga alam dan budaya. Di Kecamatan Kotagede terdapat beberapa situs arkeologis dan sebagian Kebun Binatang Gembira Loka yang merupakan kawasan inti lindung hutan kota/lindung alami. Pemanfaatan pola ruang didominansi perumahan dan industri skalakecil dan menengah dengan intensitas pengembangan sedang yang memperhatikan karakter lingkungan.

G Kecamatan Umbulharjo

Kawasan Umbulharjo dalam struktur ruang Kota Yogyakarta adalah sub pusat pelayanan yaitu mendukung pusat pelayanan kota yang diarahkan kawasan yang diprioritaskan untuk dikembangkan

131

sebagai kawasan tumbuh cepat ekonomi. Pola ruang adalah sebagai kawasan budidaya dengan pola pengembangan lebih fleksibel dan intentasi yang tinggi maupun agak tinggi (dapat dikembangkan secara maksimal). Pemanfaatan pola ruang didominansi permukiman dan perdagangan yang dapat dikembangkan pada skala regional. Kecamatan ini terlewati dua sungai dari tiga sungai utama yaitu Code dan Gajah Wong, terdapat sebagian Kebun Binatang Gembira Loka, terletak Stadion Mandala Krida, beberapa lapangan kecil serta beberapa persawahan sehingga merupakan kecamatan dengan dukungan kawasan lindung alami dan RTH yang cukup berarti.

H Kecamatan Gondokusuman

Struktur ruang pada Kecamatan Gondokusuman yaitu sub pusat pelayanan sebagai pendukung pusat pelayanan kota yang memiliki perpaduan beberapa karakter unik. Karakter tersebut yaitu perdagangan dan jasa (pada koridor Jalan Jenderal Sudirman, C.

Simanjuntak, Cik Di Tiro, Urip Sumoharjo, Prof Herman Yohanes) serta pendidikan dan pariwisata (Kotabaru dan Terban) dimana terdapat konsentrasi fasilitas pendidikan yang cukup masif dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Terdapat pula beberapa rumah sakit besar yang meliputi RS. Panti Rapih, RS. Bethesda, RS. DKT dan RS Mata Dr. Yap. Kawasan ini dilewati pula oleh Sungai Code yang memiliki kelandaian cukup rata sehingga rawan bencana banjir maupun luapan erupsi Merapi. Pola ruang sebagian kecil adalah kawasan inti lindung alami dan sungai serta inti lindung budaya.

Sedangkan sebaian besar adalah sebagai kawasan budidaya dengan didominansi kawasan perdagangan.

132

Pola pengembangan dapat dikembangkan secara maksimal dengan intensitas agak tinggi.

I Kecamatan Jetis

Kecamatan Jetis dalam struktur ruang Kota Yogyakarta adalah sebagai sub pusat pelayanan yang pendukung pusat pelayanan kota. Rencana pola ruang untuk kawasan ini adalah kawasan budidaya dengan pengembangan lebih fleksibel, intensitas agak tinggi pengembangan skala regional. Meskipun demikian, terdapat kawasan inti lindung budaya yang menyiratkan filosofi (Tugu Kota Yogyakarta) dan peninggalan budaya pada wilayah Kelurahan Cokrodiningratan. Pola pemanfaatan ruang dengan dominansi perdagangan dan jasa yang dapat dikembangkan pada skala regional dengan intensitas agak tinggi.

J Kecamatan Tegalrejo

Struktur ruang pada Kecamatan Tegalrejo adalah sebagai sub pusat pelayanan sebagai pendukung pusat pelayanan kota berperan sebagai hub penghubung Kota Yogyakarta dengan Kabupaten maupun provinsi lain dan gerbang masuk strategis dari utara dan barat. Rencana pola ruang adalah kawasan budidaya yang pengembangannya lebih fleksibel namun pada titik tertentu mencitrakan perjuangan. Pola pemanfaatan ruang dengan dominansi permukiman, perdagangan dan industri kecil. Intensitas pengembangan adalah sedang dan skala lokal. Kecamatan Tegalrejo termasuk kawasan pilot proyek untuk penanganan kemiskinan dan permukiman kumuh terutama penanganan di kawasan tepian Sungai Winongo.

133 K Kecamatan Wirobrajan

Kecamatan Wirobrajan dalam struktur ruang adalah sub pusat pelayanan kota sebagai pendukung pusat pelayanan kota dengan karakter seabgai pembatas citra pariwisata. Rencana pola ruang adalah kawasan budidaya dengan pengembangan lebih fleksibel. Pola pemanfaatan ruang yaitu dominansi permukiman dan industri kecil dengan intensitas pengembangan sedang pada skala lokal.

L Kecamatan Mantrijeron

Kecamatan Mantrijeron dalam struktur ruang adalah sub pusat pelayanan kota yang diarahkan sebagai pendukung kawasan pariwisata. Pola ruang adalah kawasan budidaya dan sebagian kawasan inti lindung setempat arkeologi budaya berupa sumbu imajiner kota.

Pola pemanfaatan ruang dominansi permukiman dan industri kecil yang merupakan pengembangan kawasan batik. Terdapat PASTHY (Pasar Aneka Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta) sebagai gerbang kota dari sisi selatan dan banyak fasilitas perhotelan pada kawasan Prawirotaman. Intensitas pengembangan adalah sedang dengan memperhatikan karakter lingkungan.

M Kecamatan Mergangsan

Kecamatan Mergangsan dalam struktur ruang kota adalah sub pusat pelayanan kota diarahkan sebagai pendukung kawasan wisata budaya yang pengembangannya lebih fleksibel. Rencana pola ruang adalah intipelestarian sebagai bangunan tetenger kota

134

yang menyiratkan citra peninggalan sejarah perjuangan dan citra pendidikan. Pola pemanfaatan ruang yaitu dominansi permukiman dengan intensitas pengembangan sedang dan memperhatikan karakter lingkungan. Kecamatan ini dilewati oleh Sungai Code sehingga memiliki potensi kerawanan bencana di beberapa titik.

N Kecamatan Ngampilan

Kecamatan Ngampilan dalam struktur kota merupakan sub pusat pelayanan kota yang diarahkan untuk mendukung pariwisata. Pola ruang adalah kawasan budidaya dengan pengembangan lebih fleksibel dan penyangga alam budaya. Dominansi permukiman dan industri kecil merupakan penyangga budaya dengan intensitas pengembangan agak tinggi dan dapat dikembangkan secara maksimal. Kawasan ini termasuk daerah dengan kepadatan tinggi dan memiliki permasalahan permukiman di tepian Sungai Winongo.

6.2 Kesimpulan

1 Derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut dapat dilihat dari usia harapan hidup yang semakin meningkat yaitu di atas 73 tahun. Namun, di sisi lain berkaitan dengan angka kematian bayi dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan, sehingga ke depan perlu mendapat perhatian yang lebih serius termasuk penanganan gizi.

135

2 Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan, kelompok atau masyarakat yang sesuaidengan norma-norma kesehatan, menolong dirinya sendiri dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Banyak penyakit dapat dihindari dengan PHBS, mulai dari Diare, DBD, flu burung, atau pun flu babi yang akhir-akhir ini marak. Salah satu faktor yang mendukung PHBS adalah kesehatan lingkungan. Kesehatan lingkungan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pelaksanaan perawatan komunitas. Maka guna tercapainya keberhasilan intervensi perawatan komunitas perlu adanya pembahasan khusus mengenai PHBS kesehatan lingkungan.

3 Dilhat dari pendidikan masyarakat Kota Yogyakarta sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari angka melek huruf yang mendekati 100 % dan rata-rata lama sekolah sudah di atas wajib belajar 9 tahun. Selain itu dilihatdari Angka Partisipasi Kasar menunjukkan bahwa seluruh penduduk usia sekolah sudah menikmati pendidikan dari tingkat SD dan yang sederajat sampai dengan SMAdan yang sederajat.

4 Kualitas pendidikan baik SD, SMP maupun SMA di Kota Yogyakarta belum merata, hal ini menyebabkan tingginya permintaan untuk masuk ke sekolah yang memiliki kualitas bagus semakin tinggi, sedangkan disisi lain masih banyak sekolah yang mengalami kekurangan siswa dikarenakan kurangnya minat siswa untuk masuk ke sekolah tersebut. Pemerataan kualitas sekolah diperlukan untuk menyamakan kualitas masing-masing

136

sekolah sehingga tidak menyebabkan kurang meratanya distribusi siswa ke masing-masing sekolah.

5 Terkait dengan minat baca dan tulis dalam meningkatkan pengetahuan di lingkungan masyarakat masih perlu ditingkatkan. Salah satu contoh untuk meningkatkan minat baca dan tulis masyarakat adalah dengan program koran masuk wilayah. Program yang sudah berlangsung ini harus terus dilangsungkan agar dapat menarik minat baca dan tulis masyarakat Kota Yogyakarta.

6 Jumlah penduduk kota dari tahun ke tahun meningkat, tetapi jumlah angkatan kerja dan angka pengangguran

6 Jumlah penduduk kota dari tahun ke tahun meningkat, tetapi jumlah angkatan kerja dan angka pengangguran

Dalam dokumen Potensi Wilayah Kota Yogyakarta 2018 (Halaman 135-0)

Dokumen terkait