• Tidak ada hasil yang ditemukan

 

Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan semua inisiatif pembangun. Pembangunan yang partisipatif adalah proses yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam seluruh keputusan yang berkenaan dengan kehidupan mereka. Sisi positif yang diharapkan dari partisipasi adalah program pembangunan yang dijalankan akan lebih responsif terhadap kebutuhan dasar yang sesungguhnya. Hal tersebut merupakan suatu cara penting untuk menjamin keberlanjutan dari suatu program. Dengan demikian, tinggi rendahnya partisipasi dapat dilihat dari kemampuan pelaksana program yang telah terpilih untuk ikut menentukan arah dan tujuan program, atau ada tidaknya kemauan peserta program untuk secara mandiri melestarikan dan mengembangkan hasil kegiatan demi keberlanjutan program yang telah dijalankannya.

Partisipasi yang dimaksud dalam penelitian adalah keikutsertaan (derajat keterlibatan langsung) semua peserta program Podaya Mandiri Terpadu yang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk ikut serta berperan aktif dalam kegiatan kelompoknya. Pengukuran tingkat partisipasi dilakukan dengan merujuk pada konsep Delapan Tangga Partisipasi Arnstein (1969). Konsep ini membagi derajat partisipasi ke dalam tiga golongan besar. Pertama adalah derajat terbawah, yaitu derajat non-partisipasi (manipulasi dan terapi), dimana pada tahapan ini partisipasi peserta program berada pada tingkatan rendah. Kedua adalah derajat tokenisme atau partisipasi semu (informasi, konsultasi, dan placation), dimana pada tahapan ini partisipasi peserta program berada pada tingkatan sedang. Ketiga derajat citizen power (kemitraan, delegasi kewenangan, dan citizen control), dimana pada tahapan ini partisipasi peserta program berada pada tingkatan tinggi. Contoh dari derajat non-partisipasi ( manipulasi dan terapi ) dalam bentuk program pengembangan masyarakat adalah masyarakat diikutsertakan dalam program pengembangan masyarakat yang dilaksanakan oleh pemerintah/lembaga sekedar untuk menghindari terjadinya kemarahan dari masyarakat, akan tetapi masyarakat tidak dapat memberikan saran dan masukkan kepada pemerintah/lembaga pelaksana program, mengenai jenis program pengembangan masyarakat yang akan dilaksanakan. Masyarakat tidak dapat menentukkan siapa saja individu/masyarakat yang dapat berpartisipasi dalam program dan siapa saja yang dapat menjadi pengurus/ pelaksana program. Contoh derajat tokenisme atau partisipasi semu (informasi, konsultasi, dan placation) adalah masyarakat diikutsertakan pada program pengembangan masyarakat yang dilaksanakan oleh pemerintah/lembaga, masyarakat dapat memberikan saran, sarannya didengar tapi tidak selalu dilaksanakan. Contoh derajat partisipasi citizen power (kemitraan, delegasi kewenangan, dan citizen control) adalah masyarakat diberikan kekuasaan (sebagian/seluruh program) untuk menentukan dan memutuskan program apa yang akan dilaksanakan secara mandiri tanpa campur tangan dari pemerintah/lembaga (pihak luar). Penjelasan mengenai partisipasi diatas menjadi pengantar untuk melihat tingkat partisipasi peserta program Posdaya mandiri Terpadu. Penjelasan secara detail tingkat partisipasi pada peserta program Posdaya Mandiri Terpadu dapat dilihat pada tabel 7.

   

Tabel 7. Jumlah dan Persentase Derajat Tingkat Partisipasi Peserta Program Posdaya Mandiri Terpadu 2013

No Tingkat Partisipasi Jumlah Persentase

1 Rendah 23 46.0

2 Sedang 24 48.0

3 Tinggi 3 6.0

Total 50 100.0

Sumber: Analisis data primer 2013

Tabel 7 memperlihatkan bahwa tingkat partisipasi peserta program sebagian besar 48,0 persen sudah sampai pada tingkat sedang ( tokenisme ). Berdasarkan tingkat partisipasi peserta program, peseta program Posdaya Mandiri Terpadu sudah menunjukkan eksistensinya dalam program, namun pengambilan keputusan masih berada pada pemegang kekuasaan, yaitu pelaksana program.

Eksistensi peserta program dalam program dapat dilihat dari tingkat kehadiran dan kemampuan mengutarakan pendapat pada saat mengikuti pertemuan yang diadakan pelaksana dan lembaga pembuat program, serta penetapan tujuan kelompok. Dari sini muncul berbagai pendapat dari peserta untuk menunjuk siapa yang pantas menjadi ketua yang dianggap mampu memegang dengan baik dan bertanggungjawab. Dengan kegiatan pertemuan kelompok inilah interaksi dan komunikasi terbangun serta setiap peserta program memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan masukan (ide/pikiran/gagasan/pendapat) dalam pembahasan rencana kegiatan kelompok selanjutnya.

Eksistensi peserta program tidak hanya sampai disitu saja. Setelah mengadakan pertemun dan sudah terbentuk kelompok, maka peserta program mempunyai kesempatan untuk mengajukan usulan atau pendapat mengenai besarnya modal untuk usaha (bagi peserta program ekonomi) maupun usulan untuk membuat program-program lainnya dari peserta di luar bidang ekonomi (pendidikan, lingkungan, kesehatan) yang sebelumnya sudah dikonsultasikan dengan pelaksana program oleh peserta program. Disinilah eksistensi peserta program berakhir. Peserta hanya mampu mengusulkan besarnya modal yang dibutuhkan untuk usaha atau program-program yang akan dilaksanakan, tapi keputusan mutlak ada pada pelaksana program dan lembaga pembuat program. Berikut pengungkapan salah satu responden:

“ pada saat kumpul kelompok di awal terbentuknya posdaya, masyarakat hadir pada kegiatan tersebut dan masyarakat memberikan usulan terhadap program-program yang ingin dilaksanakan, akan tetapi tindak lanjut dan keputusan akhir ada di pelaksana program, masyarakat hanya menjalankan saja program yang diputuskan oleh pelaksana...” (Ibu ATK, 35 tahun).

Tingkat partisipasi peserta program berada pada tingkatan rendah ( non partisipasi) sebesar 46,0 persen yang menjadi faktor penyebabnya adalah adanya rasa kurang adil yang muncul dalam perasaan sebagian peserta program terutama

dalam proses menentukan siapa yang menjadi pelaksana program inti, dimasa awal terbentuknya posdaya, dimana mereka merasa pendapat mereka diabaikan sehingga muncul prasangka bahwa mereka diacuhkan dan seringkali tidak diikutsertakan pada kegiatan-kegiatan selanjutnya pasca terbentuknya posdaya. Hal ini seperti penuturan responden berikut:

Pada dasarnya masyarakat memiliki kepercayaan yang baik kepada pelaksana program, terutama pada masa awal terbentuknya posdaya, tapi seiring dengan waktu ada sebagian masyarakat yang merasa dirinya tidak dilibatkan pada tahap-tahap selanjutnya setelah terbentuknya posdaya tersebut, sehingga berdampak pada rendahnya tingkat partisipasi pada sebagian peserta program.” (Bapak NPI, 58 Tahun) Pelaksana program sendiri menyikapi hal tersebut dengan memberikan keterangan seperti berikut:

“…Sebetulnya bukan tidak diikutsertakan, mungkin ada kesalahpahaman dan kurangnya informasi yang diterima oleh sebagian masyarakat peserta program, semisal ada kunjungan dari pihak luar yang ingin datang ke Posdaya Mandiri Terpadu dan menyaksikan secara langsung tentang program-program yang berjalan, kami dari pelaksana program tidak melibatkan seluruh peserta program akan tetapi hanya sebagian kecilnya saja yang dijadikan tempat kunjungan sebagai contoh.” (Bapak N, 45 Tahun) Tingkat partisipasi peserta program mencapai tingkat tinggi sebesar 6,0 persen. Faktor penyebab tingginya partisipasi peserta program adalah peserta program merupakan tokoh yang memiliki pengaruh di lokasi penelitian, memiliki pengalaman dan keterampilan yang luas dari sebelum terbentuknya Posdaya Mandiri Terpadu, memiliki jaringan ke luar yang baik, memilki kedekatan secara pribadi kepada pemangku jabatan, sehingga suaranya di dengar oleh sebagian besar masyarakat. Hal ini seperti penuturan responden berikut:

“…Biasanya kalau yang tingkat partisipasinya tinggi itu ya, orang- orang yang di tokohkan istilahnya, seperti ustad, ketua kelompok tani, sehingga setiap hendak memutuskan sesuatu orang-orang tersebut dimintakan pendapatnya tentang keputusan apa yang sebaiknya diambil yang baik bagi manfaat bersama…”. (Bapak NPI, 58 Tahun).

Penuturan beberapa peserta program dan responden di atas secara tidak langsung dapat menunjukkan perbedaan yang nyata antara peserta yang mempunyai tingkat partisipasi yang lemah, sedang, serta dengan peserta yang mempunyai tingkat partisipasi tinggi menurut pengakuan responden yang menjadi peserta program posdaya. Tingkat partisipasi yang tinggi dapat menjadi pintu keberhasilan tercapainya tujuan program yang dilaksanakan.

   

Ikhtisar

Partisipasi peserta dalam Program Posdaya Mandiri Terpadu mayoritas masih kurang baik, yaitu tingkat partisipasi peserta program masih berada pada tahap non partisipasi dan derajat tokenism. Derajat partisipasi tokenisme menggambarkan suatu kondisi dimana peserta dilibatkan dalam agar mereka merasa mempunyai andil dalam Program Posdaya Mandiri, meskipun tidak sepenuhnya berpengaruh besar terhadap penentuan kebijakan dan pengambilan keputusan. Derajat ini memungkinkan peserta untuk memberikan masukan- masukan yang berarti untuk keberlanjutan program serta merupakan bentuk justifikasi agar peserta mengakui eksistensinya dalam program tersebut.

KONDISI SOSIAL EKONOMI PESERTA PROGRAM